Penulis: Sorban Santri

  • PRA KONFERANCAB IPNU-IPPNU KECAMATAN NGORO GELAR FESBAN SE KABUPATEN MOJOKERTO

    PRA KONFERANCAB IPNU-IPPNU KECAMATAN NGORO GELAR FESBAN SE KABUPATEN MOJOKERTO

    Ngoro, wp.sorbansantri.com – Jelang konferancab IPNU-IPPNU PAC NGORO mengadakan Gebyar Festifal Banjari pada sabtu (13-11) yang bertempat di halaman gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro, acara konferancab yang rencananya akan di gelar pada tanggal 28 November mendatang.

    Para peserta yang didominasi oleh kalangan pelajar yang ada di kabupaten mojokerto, mereka rata rata sangat antusias dan bersemangat untuk mengikuti acara fesban ini karena mereka sudah merasakan rindu dan kangen akan bersholawat bersama sama semenjak adanya pembatasan pemberlakuan PPKM yang di berlakukan oleh pemerintah kemarin, akan tetapi penerapan protokol kesehatan pun tetap di berlakukan kepada setiap peserta, walau suasana yang mendung di selimuti rintik rintik hujan tak menyurutkan niat mereka untuk bersholawat.

    Menurut rekan Ahmad Novian Ardiansyah yang selaku ketua pelaksana mengatakan bahwasanya acara fesban ini kita selenggarakan dengan maksud dan tujuan untuk mencetak generasi pecinta sholawat kususnya di PAC NGORO ini yang baru saja terbentuk jadi sangat penting sekali dalam taraf pengkaderan, tujuan yang selanjudnya ialah ini kegiatan dalam rangka pra acara konferancab untuk meregenerasi kepemimpinan kedepannya supaya lebih maju lagi.

    Mengenai jumlah peserta masih kata fian sapaan akrabnya beliau mengatakan ada 20 peserta yang ikut dalam acara ini terdiri dari para pelajar se kabupaten mojokerto, ketua pelaksana berharap mudah mudahan kedepannya para generasi muda agar bisa ikut bergabung di organisasi IPNU-IPPNU terutama di kecamatan ngoro ini, mari kita bersama sama melangkah untuk mengembangkan bakat kususnya di bidang sholawat al banjari, tandasnya.

    Hal senada yang di sampaikan oleh ketua IPNU PAC NGORO rekan Mohamad Ainur Rohim yang kami temui di lokasi fesban, beliau mengatakan bahwasanya sangat mendukung dan mensuport sekali acara fesban ini karena selain bisa menjalin silaturrahmi antar pelajar se kabupaten mojokerto juga bisa mencetak generasi pecinta aholawat terutama di lingkungan pelajar kususnya yang ada di kecamatan ngoro ini.

    Rekan Ainur juga berpesan kepada para peserta yang mengikuti acara fesban ini, beliau berpesan agar kita jangan di niati menjadi sang juara atau pemenang akan tetapi mari kita niati untuk berhidmad melantunkan sholawat kepada baginda nabi muhammad agar kelak kita mendapatkan syafa’at beliau kelak di ahirat imbuhnya.

    Semoga generasi mendatang agar bisa menjadi generasi yang gemar bersholawat baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan pendidikan formal. (Hasan-Ngoro)

  • Menyikapi Munculnya Perbedaan Afiliasi Ideologi Web Islam di Indonesia

    Menyikapi Munculnya Perbedaan Afiliasi Ideologi Web Islam di Indonesia

    SORBANSANTRI.COM
    Atlas Aswaja An-Nahdliyyah (832)

    Ponorogo, wp.sorbansantri.com – Pergeseran ruang publik Muslim dari offline ke virtual tak bisa dihindari. Ruang ini digunakan oleh para pegiat website untuk menyebarkan pemikiran keagamaan dan politik di dunia maya sesuai dengan corak ideologi mereka. Hal ini tak pelak memicu perbedaan afiliasi ideologi di beberapa website keislaman di Indonesia.
    Inilah yang menjadi fokus penelitian Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan pada Kementerian Agama (Balitbang Diklat Kemenag) tahun 2020 oleh M. Mujibbudin dan M. Fakhru Riza dalam sebuah penelitian berjudul Kontestasi Ideologi Web Keislaman Populer di Indonesia: Antara Moderatisme, Salafisme, dan Islamisme.
    Peneliti menyebut bahwa diskursus keagamaan (Islam) yang selama ini telah jamak dijumpai di ruang publik fisik telah melibatkan banyak ormas Islam di Indonesia. Diskursus tersebut kemudian beralih ke internet mengingat bahwa internet merupakan media baru yang bisa mewujud menjadi ruang publik.
    “Ruang ini digunakan oleh para pegiat website untuk menyebarkan pemikiran keagamaan dan politik di dunia maya sesuai dengan corak ideologinya. Ada banyak website Muslim yang bermunculan dan masing-masing memiliki ideologi dan corak keberislaman sendiri,” tulis peneliti.
    Peneliti juga menyebut bahwa ruang publik baru muslim yang berupa media baru memiliki karakteristik yang sama yaitu bersifat egaliter dan menjadi ruang diskursif untuk mendiskusikan persoalan Islam.
    “Masing-masing media baru memberikan warna sendiri-sendiri tergantung ideologinya. Apabila setiap kelompok umat Islam mengkontestasikan setiap ideologinya dalam media baru maka akan terbentuk sebuah ruang diskursif,” tulis peneliti.
    Hal ini bisa terjadi mengingat terdapat beragam pendapat dan sekte dalam Islam itu sendiri, sehingga antar kelompok bisa saling merebut otoritas agama dalam media baru.
    Lantas bagaimana cara menyikapi fenomena ini? Ada beberapa rekomendasi dari penelitian ini kepada pegiat website, pemerintah, dan peneliti selanjutnya.
    Pertama, untuk pegiat website. Perlu mendorong untuk selalu memberikan informasi dan konten yang konstruktif baik secara politik maupun keagamaan kepada umat Islam khususnya, dan umumnya kepada warga negara Indonesia.
    Kedua, untuk pemerintah atau negara, harus mau menjaga netralitasnya dan tidak mengontrol lebih ruang publik terutama di internet.
    Ketiga, untuk para peneliti diharapkan bisa mengkaji dan menganalisis dengan melibatkan lebih banyak website Islam, sehingga akan didapatkan sebuah gambaran yang lebih komprehensif.(Media Ansor Babadan) 
  • Apel pembukaan PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) PC GP ANSOR Kabupaten Mojokerto 2021

    Apel pembukaan PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) PC GP ANSOR Kabupaten Mojokerto 2021

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – 11 Nopember 2021. Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan ( PKL ) PC. GP. Ansor Kabupaten Mojokerto difungsikan untuk mempersiapkan kader berkualitas yang nantinya dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan organisasi.
    “tanpa kaderisasi rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis“. kata Gus Ali Mohammad Nasih ( Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto)

    Kegiatan yang diadakan di SMP Teknologi Informasi Al Hidayah, Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini diikuti oleh 42 peserta yang telah lolos seleksi serta pilihan dari perwakilan seluruh PAC Ansor.

    SORBANSANTRI.COM
    Penyematan Tanda Peserta PKL PC Ansor Kab. Mojokerto 2021

    Untuk itu Ketua panitia PKL PC GP Ansor 2021 sahabat Ahnu Afandi, sangat optimis akan sukses dan tercapainya maksud dan tujuan pengkaderan ini.

    Melalui koordinasi yang baik antara panitia, pemateri dan peserta, diharapkan semua agenda kegiatan yang dilakukan selama 4 hari mulai tanggal 11-14 Nopember 2021, bisa dilaksanakan dengan maksimal. Pelaksaan PKL ini sudah dipersiapkan beberapa bulan sebelum kegiatan dan merupakan agenda yang wajib dilaksanakan oleh PC GP Ansor setiap 1 kali masa kepemimpinan.

    Ada yang special pada pelaksanaan PKL ditahun 2021 ini, yaitu ikutnya H. Muhammad Albarra, L.C., M. Hum (Gus Bara) Wakil Bupati kabupaten Mojokerto periode 2021-2025.

    Dan kebetulan di Tanggal 11 Nopember adalah Hari Ulang Tahun beliau sehingga menambah semarak acara pada waktu apel pembukaan PKL PC GP Ansor Kab. Mojokerto 2021.(abi sorban)

  • UNDANG ULAMA TIMUR TENGAH : IKA SMA N 1 PULOKULON BERSAMA KELUARGA BESAR SMA N 1 PULOKULON ADAKAN PENGAJIAN AKBAR

    UNDANG ULAMA TIMUR TENGAH : IKA SMA N 1 PULOKULON BERSAMA KELUARGA BESAR SMA N 1 PULOKULON ADAKAN PENGAJIAN AKBAR

    wp.sorbansantri.com – Selasa, 9 November 2021 Keluarga Besar SMA N 1 Pulokulon menggandeng yang terdiri dari IKA Alumni SMA N 1 Pulokulon, OSIS, ROHIS dan segenap organsiasi sekolah mengadakan Pengajian Akbar dan Santunan Anak Yatim dalam rangka peringatan MAULID NABI MUHAMMAD SAW, HARI SANTRI NASIONAL dan HARI PAHLAWAN NASIONAL, acara yang dilakukan secara virtual ini dihadiri 1200 peserta dari unsur Nahdlatul Ulama, Keluarga Besar SMA N 1 Pulokulon dan Alumni SMA N 1 Pulokulon baik yang ada didalam negeri maupun sedang melanjutkan pendidikan serta bekerja di luar negeri melalui Zoom dan Youtube SMA N 1 Pulokulon. Acara ini juga mengundang beberapa instansi baik sesama SMA, maupun unsur ilmuan atau dosen di Perguruan Tinggi negeri maupun swasta di Jawa Tengah.

    Pengajian Akbar yang diinisiasi oleh IKA Alumni SMA N 1 Pulokulon ini dimulai dengan Pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Rebana Nurul Iman SMA N 1 Pulokulon bersama Ansor NU Pulokulon, dilanjutkan dengan Dzikir Tahlil dan menyanyikan lagu Ya Alal Wathon yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Basyir Lutfi yang merupakan Ketua GP Ansor NU Pulokulon, Grobogan. Acara selanjutnya adalah pembacaan Al Qur’an dengan Qiro’ah Sab’ah oleh Sdri. Puput Asta Dina Lestari ( siswi kelas XII MIPA 1 SMA N 1 Pulokulon ).

    Acara berikutnya adalah Sambutan Ketua Panitia oleh Bapak Nur Sodiqin, dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa Pada dasarnya panitia menginginkan kegiatan ini secara luring ( langsung ) akan tetapi karena situasi pandemi yang ada didaerah Pulokulon, maka kali ini belum bisa dilaksanakan secara langsung. Kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Umum IKA Alumni SMA N 1 Pulokulon yaitu  KH. R. AM. Mustain Nasoha, S.H., M.H., MA. Dalam sambutannya dia mengatakan, “ Saya harap acara seperti ini mampu menjadi refleksi semangat kita meneruskan pahlawan membela bangsa, memperjuangkan syariat Nabi Muhammad SAW dan menghargai jasa para pendahulu terutama perjuangan santri di Indonesia. Meneladani semangat Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dan para penjuang adalah wajib bagi kita semua.”

    Pemuda yang akrab dipanggil Gus Mustain ini mengapresiasi dan merasa bangga, bahwa SMA N 1 Pulokulon telah mampu mengembangkan kajian Al-Quran dan Tafsir bahwa Qiro’ah Sab’ah.

    “Mungkin, ini SMA Negeri pertama di Indonesia yang memiliki kajian Al-Quran dengan 7 Qiro’ah ini. Tingkatkan bacaan dan kuwalitas kalian” Pungkasnya.

    Acara berikutnya adalah Sambutan Pembina Rohis SMA N 1 Pulokulon, beliau mengapresiasi atas terlaksananya acara ini. Beliau berharap semoga acara seperti ini istiqomah dilaksanakan setiap tahunnya. Dan berharap kerjasama dari masyarakat dan umat islam didalam menyebarkan nilai-nilai islam baik didalam sekolah maupun dimasyarakat yang ada di Grobogan.

    Sambutan terakhir adalah dari Kepala SMA N 1 Pulokulon sekaligus membuka acara. Kepala sekolah dengan segudang prestasi di Kabupaten Grobogan ini, mengharapkan agar para generasi muda terbiasa dengan literasi dalam berargumentasi, memiliki semangat belajar tinggi dan berusaha mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Pedulu kepada kaum lemah dan santunan anak yatim sebagaimana kegiatan ini hendaknya menjadi budaya baik bagi kita semua.

    Acara puncak adalah Pengajian Akbar oleh 2 Ulama 

    Prof. Dr. Syekh Mahir Hasan Al Munajid, beliau adalah Guru Besar Fiqih – Usul Fiqih yang berasal dari Universitas Kaftaro, Damaskus, Suriyah, Pemilik Sanad Qiroah Asyaroh. Bertindak sebagai penerjemah bahasa adalah KH. R. AM. Mustain Nasoha, S.H., M.H., MA. beliau memberikan 5 nasehat utama :

    1. Pastikan seluruh anak bangsa di Indonesia menjadi pecinta ilmu dan ulama. Dengan sering-sering membaca sejarah Nabi Muhammad SAW
    2. Jadilah manusia yang senantiasa mencintai makhluk lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri
    3. Tidak ada yang patut paling kita teladani akhlak dan kita ikuti uswahnya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara lebih baik daripada Nabi Muhammad SAW
    4. Jadilah manusia yang ada digarda terdepan membela tanah airnya. Karena itulah perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW. Jangan percaya dengan golongan yang mengatasnamakan islam tapi dia tidak mencintai negara.
    5. Biasakan bermusyawarah dalam setiap mengambil keputusan, merasa benar sendiri adalah sebab utama hancurnya bangsa dan negara

    Pembicara Kedua adalah Kyai Kholilurrahman, S.Ip, M.Ap Al Hafidz, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al Faqih dan Ulama Muda NU Kabupaten Grobogan ini menyampaikan 4 nasehat pentingnya :

    1. Jadilah orang yang selalu detail dalam belajar, jangan sekali-kali membaca Al-Qur’an dan AL Hadist kemudian dipahami sendiri, hal ini sangat berbahaya dan dilarang oleh Nabi Muhammad SAW, Belajarnya Nahwu, Sorof, Siroh, Fiqih secara mendalam agar benar dalam berislam
    2. Hormati guru, karena dengan menghormari guru akan menjadikan sebab ilmu diberi manfaat dan barokah oleh Allah
    3. Jauhkan diri kita dari maksiat, sebab utama adanya banyak musibah dan bala’ adalah banyaknya kemaksiatan yang ada dimuka bumi ini.
    4. Perbanyak membaca solawat apapun, karena itu kunci kita menjadi ahli surga, boleh solawat Fatih, Solawat Munjiyat, Solawat Nariyah dan lain sebagainya

    Acara ditutup dengan doa oleh beliau Kyai Kholilurrahman, S.Ip, M.Ap Al Hafidz, ada harapan besar dari beliau semoga acara seperti ini senantiasa berlanjut.(Bagus Purwo Negoro, SM.)

  • Dituduh Kafir 2 Sisi, Moderasi Islam Melalui Literasi Kitab Kuning

    Dituduh Kafir 2 Sisi, Moderasi Islam Melalui Literasi Kitab Kuning

    Oleh : KH. Ma’ruf Khozin

    wp.sorbansantri.com – Agak grogi juga berbicara di depan para pengasuh dan pengajar Madrasah Diniyah Formal (bertempat di STAI Al Fitrah, Kedinding Surabaya). Sebab intensitas memegang kitab lebih banyak beliau-beliau. Tapi karena saya sudah terbiasa baca perdebatan soal amalan-amalan yang dituduh syirik dan kafir jadinya malah bisa share pengalaman saja.

    Sesuai tema yang diamanatkan kepada saya ternyata cara memahami Islam dengan metode bermazhab dalam literasi kitab kuning sangat moderat. Sebab dari kitab-kitab bermazhab inilah kita mampu menjawab tuduhan kafir dan syirik kepada kita.

    Dua tema yang selalu menghunus tuduhan kafir. Pertama soal Amaliah seperti Tabarruk, Tawassul dan berdoa di kuburan.

    Padahal andaikan ini sebuah dosa menuduh kafir saja tidak boleh berdasarkan hadis berikut yang diperkuat banyak riwayat dari Sahabat:

    ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” «ﻛﻔﻮا ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻻ ﺗﻜﻔﺮﻭﻫﻢ ﺑﺬﻧﺐ، ﻓﻤﻦ ﻛﻔﺮ ﺃﻫﻞ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺇﻟﻰ اﻟﻜﻔﺮ ﺃﻗﺮﺏ» “. ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ
    Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Jagalah dirimu terhadap orang yang membaca kalimat Tauhid, jangan kafirkan mereka karena sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan orang yang membaca kalimat Tauhid maka dia sendiri yang lebih dekat dengan kekufuran” (HR Thabrani)

    Kedua soal sistem negara yang dianggap Thaghut, sistem kafir dan sebagainya. Kita sampaikan riwayat hadis berikut:

    قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم « يَأْتِى فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ

    Rasulullah Saw bersabda: “Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang usianya masih muda-muda, bodoh-bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baik firman Allah, mereka lepas dari Islam seperti panah lepas dari busurnya, dan iman mereka tidak melewati tenggorokannya” (HR al-Bukhari)

    Dari hadis ini dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar:

    قَوْله ( يَقُولُونَ مِنْ قَوْل خَيْر الْبَرِيَّة ) أَيْ مِنْ الْقُرْآن … وَكَانَ أَوَّل كَلِمَة خَرَجُوا بِهَا قَوْلهمْ : لَا حَكَم إِلَّا اللَّه ، وَانْتَزَعُوهَا مِنْ الْقُرْآن وَحَمَلُوهَا عَلَى غَيْر مَحْمَلهَا .

    “Maksud Sabda Nabi Saw: ‘mereka berkata dengan sebaik-baik firman Allah’, yakni al-Quran. Dan kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah ‘Tidak ada pembuat hukum kecuali Allah’. Mereka mengambilnya dari al-Quran dan meletakkannya tidak pada tempatnya” (Fath al-Bari 10/412)

    Sayangnya (masukan saja) para guru Diniyah hanya membuka kitab yang menjadi tugas mengajarnya saja. Andaikan ditambah dengan tema kitab lain akan semakin dahsyat.( abi sorban )

  • Peringatan Hari Santri Nasional, MWCNU gedeg Gelar khotmil Qur’an serentak

    Peringatan Hari Santri Nasional, MWCNU gedeg Gelar khotmil Qur’an serentak

     

    Sorbansantri.com – mwcnu gedeg menggelar khotmil qur’an peringatan hari santri nasional 2021 di setiap musholla, dan masjid yang ada di wilayah gedeg, jum’at pagi (22/10)

    Di dalam surat edaran MWCNU gedeg mengajak semua pihak untuk menggelar Khotmil qur’an di masing – masing musholla, masjid, pondok, Tpq, madin, majelis ta’lim yang dilaksanakan oleh PRNU, PARNU sesuai intruksi dari PCNU kab Mojokerto mengaji (khotmil qur’an).

    MWCNU gedeg H sholikhan mengatakan, momentum peringatan HSN ini merupakan pelajaran sekaligus dalam rangka memperingati resolusi jihad pendiri Nahdlatul Ulama ( NU ) . Kegiatan ini sebagai sarana untuk mengaplikasikan Al Qur’an dalam bacaan tafsir, tajwid, makna setiap ayat, dan amalan dalam kehidupan sehari-hari, serta dengan adanya khotmil Qur’an agar masyarakat nahdliyin bersatu, kompak sehingga NU di kecamatan gedeg lebih baik dan sebagai percontohan dari MWCNU yang lain.

    “kami berharap, momen peringatan HSN di gelar rutin setiap tahun, dan semoga dengan di kumandangkan ayat-ayat suci al Qur’an tersebut dapat menambah keberkahan di kecamatan gedeg. (Rifin sorban)

  • Kirab panji bendera NU tiba di Gedeg Mojokerto

    Kirab panji bendera NU tiba di Gedeg Mojokerto

     

    Sorbansantri.com — Kirab bendera merah putih dan panji-panji Nahdlatul Ulama (NU) Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mojokerto, yang dilaksanakan hari Rabu, (06/11).

    Berawal dari ujung Utara Mojokerto yaitu Kecamatan Dawarblandong dan akan berakhir di Kantor PC NU Mojokerto.

    Setelah Perjalanan secara estafet dawarblandong, kemlagi, jetis, sekitar pukul 15.20 WIB rombongan Kirab bendera merah putih dan panji-panji NU dari PAC ANSOR Jetis telah sampai di PAC GP Ansor Gedeg. Sesampainya di lokasi Kantor MWCNU Kecamatan Gedeg dilaksanakan upacara penyambutan, yang dihadiri seluruh organisasi yang di bawah naungan NU di Kecamatan Gedeg.

    Upacara tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yalalwathon, mars ansor, mars Banser, Serah Terima bendera Panji – panji NU sekaligus tanda tangan. Selanjutnya sambutan-sambutan.

    Sambutan pertama dari Ketua PAC GP Ansor Gedeg, Kuswanto menyebutkan, Kirab yang di laksanakan oleh PC GP Ansor Kab mojokerto, semoga di wilayah gedeg mengetahui bahwasannya Kirab panji NU ini adalah sakral bukan seperti konvoi pada umumnya karena membawa simbol simbol warisan para kyai dan ulama pendiri NU

    Kemudian dari Ketua MWCNU Gedeg, H Moh sholikhan. Ia menuturkan, MWCNU gedeg sangat mendukung kegiatan ini, sangat mengapresiasi, sangat kami dukung dalam melancarkan kegiatan kirab.

    Sehingga kegiatan mulai dari awal sampai akhir dapat berjalan lancar sesuai yang direncanakan.

    Kita berdoa bersama agar sahabat sahabat yang tergabung dalam kirab panji panji NU, Senantiasa diberikan kekuatan dan semangat yang berkobar untuk menegakkan negara Kesatuan Republik indonesia. Dan perlu kita ketahui bahwa rangkaian kegiatan ini untuk menyongsong pra konfercab gp ansor kab mojokerto, yang bertepatan hari santri nasional dan hari Pahlawan. Kemudian dilanjutkan ditutup dengan Do’a dan sholawat.

    Acara ini juga dihadiri oleh MWCNU, Muslimat, GP Ansor, Banser, Rijalul Ansor, Fatayat, Pagar Nusa, IPNU, IPPNU dan banom banom nya

    Arifin infokom gedeg

  • Pelantikan PAC FATAYAT Gedeg di acara diba’ kubro

    Pelantikan PAC FATAYAT Gedeg di acara diba’ kubro

     

    Sorbansantri.com — Diba’ Kubro merupakan acara rutinan yang biasa diselenggarakan oleh warga Nahdlatul Ulama sebagai bentuk nyata menjaga tradisi amaliyah Nahdliyin. Hal tersebut tercermin pada diri Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) yang menyelenggarakan Diba’ Kubro sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Gedeg pada hari Minggu (7/11). Kegiatan ini berlokasi di Yayasan Muslimat Nahdlatul Ulama Al Ikhlas Desa Kemantren Gedeg Mojokerto.

    Dihadiri oleh perwakilan dari setiap PAC Fatayat NU yang ada di Kab. Mojokerto sehingga acara berlangsung khidmat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Kab. Mojokerto KH adhim alawy, Ketua PC Fatayat Kab. Mojokerto Nur Syamsiyah, SH. I, serta Ketua MWCNU Gedeg H Sholikhan.

    Dalam sesi sambutan di Pembukaan acara, Ketua PAC Fatayat NU Gedeg menyampaikan terimakasih kepada semua elemen yang membantu dalam usaha menyelenggarakan acara ini.
    “Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Jamiyyah Fatayat NU yang telah hadir di acara ini. Serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung demi terselenggaranya acara ini.” Tutur Irkhatus Sholikhah.

    Bukan hanya itu saja, beliau juga berharap dengan adanya kegiatan ini komunikasi serta kerjasama antar anggota Fatayat bisa terjalin dengan baik.
    “Semoga dengan diselenggarakannya acara ini bisa menjadi momen bagi Fatayat NU khususnya di Gedeg untuk membangun kerjasama dan komunikasi yang lebih baik lagi agar terwujud Fatayat NU Gedeg yang berkembang ke arah Progresif” lanjutnya dalam sambutan yang ia sampaikan.

    Menyambung pernyataan tersebut, Ketua PC Fatayat Kab. Mojokerto, Nur Syamsiyah SH.I mengapresiasi pengurus dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini sehingga dapat terselenggara dengan baik
    “Apresiasi sebesar-besarnya kepada pengurus dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini. Meskipun dalam cuaca yang terik dan menyengat seperti ini kegiatan ini masih berjalan dengan sangat baik” tuturnya
    Beliau juga menyampaikan kabar gembira kepada seluruh Sahabat Fatayat NU yang hadir dengan adanya bantuan 1000 seragam.
    “Kami dari PC Fatayat Mojokerto mendapat bantuan 1000 seragam yang akan dialokasikan kepada sahabat sahabat Fatayat di seluruh Mojokerto. Semoga dengan adanya bantuan dan berita bagus ini menjadi pemicu semangat sahabat sahabat sekalian dalam menjalankan program Fatayat NU kedepannya” imbuhnya pada pesan terakhir dalam sambutannya.

    Selanjutnya mauidhoh Hasanah sekaligus di tutup dengan do’a yang di pimpin langsung oleh KH. adhim Alwy selaku ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Mojokerto (rifin sorban)

  • CIRI UTAMA KADER NU: Tidak Kenal Musim, Tidak Bergantung SK

    CIRI UTAMA KADER NU: Tidak Kenal Musim, Tidak Bergantung SK

    Jateng, wp.sorbansantri.com – Orang NU yang punya kapasitas mengurus NU sebaiknya jadi pengurus NU. Menjadi pengurus di pusat , di wilayah , di cabang, MWC atau di ranting. Bisa di NU nya di lembaga atau banom NU. NU punya banyak lembaga dan Banom. Artinya banyak ruang pengabdian. InsyaAllah berkah. Hadlratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dawuh:
    “Siapa yang mau ngurus NU saya anggap jadi santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khatimah sekeluarganya.”
    Pengurus NU itu yang benar-benar ngurus NU, bukan sekadar numpang nama. Dulu di masa orang-orang tua, termasuk orang tua saya, ngurus NU itu ya bikin undangan sendiri, diantarkan sendiri (pakai sepeda jengki), nyiapin ‘ubo rampe’ sendiri kalau ada kegiatan. Juga menginisiasi pengajian, ngontel, tanpa harapan bisyarah. Paling banter pulang dibawain berkat. Era sekarang organisasi sudah lebih maju, tetapi polanya hampir sama.
    NU itu organisasi (jam’iyah), bukan sekadar komunitas (jama’ah). Tugas pengurus itu men-jam’iyah-kan jama’ah. Ber-NU itu bukan sekadar beribadah cara NU, tetapi juga berpikir dan bergerak cara NU. Yang beribadah cara NU bukan hanya NU. Banyak organisasi lain yang ubudiyah-nya sama dengan NU, tetapi bukan NU.
    Men-jamiyah-kan jama’ah NU artinya menyatukan amaliah, fikrah, dan harakah dalam satu tarikan nafas. Dan itu hanya bisa melalui kaderisasi. Ada lima jenis kaderisasi di lingkungan NU: kaderisasi struktural (MKNU), kaderisasi penggerak (PKPNU), kaderisasi calon syuriah (PPWK), kaderisasi fungsional, dan kaderisasi profesional. Sebelum ada jenjang kaderisasi resmi ini, kaderisasi telah dilakukan oleh banom-banom NU dengan banyak nama. Intinya kaderisasi.
    Cara berpikir kader adalah cara berpikir jam’iyah, bukan sekadar jama’ah. Cara berpikir jam’iyah itu terprogram, terstruktur, institusional, sistematis. Ini jadi basis harakah. Semua pengurus NU dan banomnya harus mengikuti kaderisasi. Ini berlaku efektif tiga tahun sejak diputuskan di Muktamar ke-33 di Jombang 2015. Artinya, sejak tahun lalu (2018), hanya kader yang boleh menjadi pengurus NU, lembaga, dan banomnya. Sebelumnya, pengurus NU boleh diisi oleh ‘orang NU’, bukan kader NU.
    Sekarang PR NU masih banyak. Banyak orang merasa ber-kultur NU, tetapi tidak pernah mengikuti kaderisasi di lingkungan NU. Belum pernah ikut kaderisasi atau ikut kaderisasinya di tempat lain. NU-nya sekadar amaliah.
    Biasanya yang begini sulit diajak ber-fikrah dan ber-harakah NU. NU-nya fakultatif. Pas butuh mengaku NU.
    Selebihnya, tidak ikut NU. Jumlahnya lumayan banyak. Mereka sibuk mengaku dan minta rekom NU untuk suatu urusan. Setelah urusan selesai, tidak mau urus NU. Ada juga yang bahkan ikut ‘nimpukin’ pengurus NU ketika NU-nya kesandung masalah. Sedikitnya netral. Inilah penyakitnya orang NU: mengaku NU ketika mau menjabat dan diaku-aku NU ketika sedang menjabat. Umumnya mereka tidak punya loyalitas terhadap organisasi dan pimpinan. Loyalnya terhadap kepentingan.
    Kalau kader mestinya lain. Ada atau tidak ada jabatan loyal kepada organisasi dan pimpinan. Bukan NU kambuhan atau musiman. Mau jadi pengurus yang mengurus, bukan malah jadi urusan. NU tidak butuh orang yang mengaku-aku NU atau diaku-aku NU. NU butuh kader. Dalam kondisi apa pun tetap kader, loyal kepada organisasi dan pimpinan.
    Ber-jam’iyah adalah menjadikan semua orang NU sebagai kader NU. Ini yang sedang intensif dilakukan. Saya berharap, dalam seabad usia NU di tahun 2026, paling tidak separo orang NU sudah jadi kader NU, yang siap mengurus NU dalam kondisi lapang dan sempit, tidak kenal musim, tidak bergantung SK. (Soleh M. Khalid Saerozy)