Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    Oleh: Kiai Dasuki As

    Laziznu Tuban – JUJUR saya senang melihat orang-orang kelojotan atas pernyataan Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Warga NU yang “agak” normatif mungkin mengerutkan dahi merasa bahwa pernyataan “menguasai masjid-masjid, KUA- KUA dan lainnya” tidak elok untuk didengar ormas lain.

    Namun seandainya sedikit saja kita menengok ke belakang dan melihat serangan bertubi-tubi terhadap NU, kita akan sadar bahwa pemimpin NU memang sudah waktunya memberi peringatan keras.

    Tahun 2009 dilaporkan penelitian Wahid & Maarif Institute bahwa; ribuan mesjid NU dan Muhammadiyah telah berhasil dikuasai oleh kelompok “asing”. Mengambil alih mesjid, mengganti imam dan yang paling mengerikan mengatur tema ceramah. Menyalahkan bacaan dzikir yang sudah ada dan membid’ahkan semuanya. Mereka sudah masuk dalam rohis sekolah, mushola-mushola kampus, keagamaan lembaga pemerintah bahkan mensosialisasikan tahlilan sebagai bid’ah ke kampung-kampung. Masif dan terencana. Penyusupan ini sudah dilakukan sejak tahun 1980, dengan menghabiskan biaya mencapai USD 90 Milyar. Tahun 2006, masuk proposal resmi untuk melakukan ‘bantuan’ kepada pemerintah sebesar USD 500 Dollar untuk tujuan yang sama(Team, 2009). Beruntung proposal tersebut ditolak.

    Kekhawatiran itu bukan hanya milik NU, bahkan muhammadiyah PERNAH secara tegas mengeluarkan surat keputusan agar melarang INFILTRASI PKS dalam tubuh organisasi (lihat, SKPP Muhammadiyah No.149/KEP/I.0/B/2006) . Terlambat, muhammadiyah tidak memiliki akar budaya khas yang sulit dirubah seperti NU yang kokoh. Adakalanya tradisi mengalahkan Dollar. Meskipun serangan bertubi-tubi pada NU melahirkan “NU Garis Lurus” yang seperti singa di sosial media. Tentu cukup NU garis lucu untuk membuat mereka imut kembali. Jelang Buya Safii Maarif turun jabatan, Muhamaddiyah terPkskan. Namun kerugian atas infiltrasi ideologi semacam ini telah menimbulkan retakan-retakan.

    Saya tak heran kalau kemudian Din Syamsudin langsung memberi statemen atas pernyataan ketua PBNU, Kyai Said Aqil Siroj pada acara muslimat NU lalu (27/1/2019). Pekerjaan responsif terhadap NU adalah nostalgia bagi beliau. Tahun 2001 menjelang penggulingan Gusdur, Din S memiliki peran besar dalam menyuarakan isu “AJINOMOTO” mengandung babi untuk mendeligitimasi gusdur sebagai “orang islam” (Kobayashi, 2002). Kejam bukan?

    Beberapa tahun belakangan ketika NU belum memiliki media online yang mapan, sudah ada web bernama YukKenalNU. Dengan rencana yang matang dan terstruktur web tersebut khusus untuk memfitnah NU. Warna template berwarna hijau dan pada huruf NU dibuat berwarna pelangi. Dengan maksud mengasosiasikan NU sebagai pendukung LGBT. Laman tersebut memuat Semua tradisi NU: kemudian dievaluasi, dikategorikan bid’ah hingga dituduh syiah.

    Sudah cukup? Belum!

    Setelah kasus pembakaran bendera HTI di Jawa Barat, dilaporkan setelah pembakaran bendera HTI, video tentang pembakaran tersebut masuk melalui 80 akun yutube berbeda dalam jangka kurang dari 1 jam! Hebatnya, video ini disertai berbagai narasi berbeda dengan tujuan yang sama, mendeligitimasi Banser, pemimpinnya, hingga pucuk pimpinan PBNU dan kemudian menghancurkan citra NU sebagai Ormas Islam terbesar di planet bumi.

    Cukup? Belum!

    Silahkan anda ketik nama “Said Aqil Siroj” di youtube, yang muncul adalah Said aqil Syiah, Said Aqil liberal, Said Aqil Jenggot dan lainnya. Lalu anda putar secara bebas. Anda akan melihat video propaganda yang sudah dipotong, diberi nama, diberi efek dan kesan jelek. Mau contoh?

    Ketika KYAI SAID (KETUM PBNU) melontarkan pernyataan tentang “jenggot” hampir dipastikan video yang muncul teratas di youtube itu dipotong sedemikian rupa, lalu di”cut” dan diteruskan dengan video ceramah ustad-ustad jenggot yang baru saja memulai karir dengan “menggunakan” hadits.

    Anda bayangkan, penonton video ditampilkan dua rekaman berbeda seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) sedang dihakimi oleh ustad newbie tersebut. Lalu kemudian ustad anyar tersebut memaki-maki dan menjatuhkan “salah!” “Dosa!” “Bid’ah” kepada beliau. Lalu video 5 menit itu selesai, seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) berhasil dihakimi. Berani bertemu? TIDAK!

    Setelah itu tampilah ustad itu “seakan-akan berhasil mengkritik KYAI SAID (KETUM PBNU)” yang belum pernah ia temui. Maka wajar kalau dalam setiap ceramah KYAI SAID (KETUM PBNU) selalu mengatakan ia terbuka untuk kritik, kantor PBNU terbuka. Karena sangat jarang ada yang berani mendebatnya. Kecuali kalangan NU sendiri yang terbiasa tabayyun.

    Ini baru satu video, sedangkan dalam 1 isu saja tentang pernyataan KYAI SAID (KETUM PBNU), bisa menampilkan hingga 20-40 video. Pertanyaannya, jenis makhluk apakah orang-orang yang melakukan editing video seperti ini? Apa mereka mengangap fitnah terencana ini sebagai jihad? maukah mereka diuji secara terbuka dan ilmiah?

    Anda bayangkan, seorang Felix siau yang tidak pernah diuji secara ilmiah dan akademis pengetahuannya tentang Timur Tengah mengklaim sebagai orang yang paling tahu tentang Turki Utsmani cukup dengan membuat NOVEL tentang ‘Muhammad Al-Fatih’(dan liburan ke Turki beberapa kali)–mempermalukan puluhan lulusan Jurusan Timur Tengah dalam negeri yang bertahun-tahun berdarah-darah membuat skripsi-thesis-disertasi. Jangan bandingkan dengan Disertasi Kyai Said yang dipuji Gusdur karena memakai 1000 referensi teruji.

    Kita boleh jujur, bahwa kadangkala yang melakukan semua ini adalah orang Islam sendiri. Orang yang mengaku paling Islami namun mereka adalah Orang yang tidak betah hidup di negeri Pancasila. Mereka anti pada banyak hal. Sehingga akan mudah berseteru dengan kelompok sendiri. Itulah yang membuat Timur Tengah retak-retak tanpa jiwa kebangsaan yang kokoh.

    Gayung bersambut, pemerintahan Jokowi memiliki kekhawatiran bersama bahwa pihak-pihak yang menggerogoti NU dari dalam adalah sel-sel yang akan menjadi penghancur konsep negara-bangsa. Hal ini sangat mengancam ideologi Negara. Tak ada pilihan. 10 tahun pemerintahan SBY tak pernah sedikitpun mampu membubarkan HTI secara nyata dan terbuka. Padahal kampanye HTI dalam menolak ideologi Negara begitu gencar dan terbuka (deklarasi khilafah di GBK!). Hanya di pemerintahan Jokowi, mampu segera membubarkan Organsasi transnasional tersebut. Dalam hal ini pemerintah telah menunjukan komitmen yang jelas atas kelompok-kelompok anti-kebangsaan. NU melihat hal tersebut sebagai komitmen yang nyata.

    Sebenarnya NU adalah wajah Islam Indonesia sendiri, dan mencoba mempertahankan apa yang sudah diajarkan para ulama, yang ajaran tersebut bisa ditarik tanpa putus hingga pada Nabi Muhammad Saw. Sementara para veteran konflik Timur Tengah mencoba menghancurkan keharmonisan ulama Islam di Indonesia dengan wajah islami. Memang dibutuhkan kekuataan intelektual yang teruji untuk mengenali infiltrasi mereka yang rajin mengimpor konflik dan mengobral kebencian. Momentum Pilpres adalah saat yang paling tepat untuk menentukan keberpihakan antara pihak yang membela kebangsaan dan para kontraktor konflik.

    Namun, mesin hoak telah disebar merusak tatanan keluarga dan membinasakan kebudayaan negri loh jinawi. Mereka bersepakat berkumpul dikubu Prabowo. PKS, eks-HTI, FPI, dan para alumni non-universitas. Tak lupa Amin Rais, tokoh sentral ketua MPR yang menjatuhkan Gusdur melalui isu bulogate dan bruneigate, tanpa PEMBUKTIAN dan tanpa peradilan. Kubu sebelah sudah mempersiapkan kekalahan mereka dengan menebar isu KPU curang guna mempersiapkan kondisi kacau setelah Pilpres, memelihara kelompok anti-kebangsaan, memasukan Rocky Gerung kedalam masjid, semuanya halal demi ambisi politik.

    HARAPAN

    NUonline telah menyalip semua web Islam (garis keras/fundamentalis) dengan rating tertinggi. Para intelektual hijau sudah merapatkan barisan. Akademis NU diberbagai Negara menghimpun keahlian mereka melawan Hoax dengan keilmuan. Berkumpulnya kaum muslimat menghijaukan GBK adalah sinyalemen bahwa NU mulai siap muncul kepermukaan. Cukup Muslimat NU saja untuk membuat ramai suatu kawasan tanpa berebut klaim juta-jutaan.

    Kemudian, Harlah NU 31/1/2019 dibuka dengan dengan harapan masa depan. Industri 5.0 dibahas tanpa melupakan UKM lemah ditengah himpitan global (lihat pidato Kyai Said pada Harlah 31/1/2019). Keberpihakan NU cukup jelas pada rakyat jelata. Melihat beban yang di emban NU, jelas NU adalah ormas dengan wawasan Internasional dan menghadapi persoalan-persoalan global. NU Bukan ormas recehan yang memperebutkan jatah sektoral dan mencakar saudara sendiri demi ambisi.

    Statemen sudah dibunyikan. NU mulai berhitung. Ketika ambisi Politik menghancurkan hubungan keluarga, ambisi politiknya yang dihancurkan, bukan keluarganya. Komitmen NU dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan jelas merupakan keberpihakan terhadap keluarga besar Bangsa Indonesia. Semoga kita TIDAK berada pada pihak yang ingin menghancurkannya. Sebagaimana mereka mencobanya jutaan kali.

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 2)

    Baca bagian ke-1

    H. Qodri, memanggil kedua keponakannya – Aslan dan adiknya, bernama Ahyat yang mulai menginjak masa remaja. Ia bercerita kepada kedua keponakannya, ; “ Ayahmu adalah keturunan dari Mbah Rofi’i yang berasal dari Giri, Gresik, sedang Ibumu adalah keturunan dari Mbah Rowiyo, yang berasal dari Ampel, Surabaya.”1) Katanya, memulai paparan ceritanya. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo adalah Pahlawan Islam, karena beliau itu adalah anggota pasukan Tumenggung Kertosono, yang merupakan salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro, dari Mataram, Jawa Tengah. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo dibawah pimpinan Tumenggung Kertosono, berangkat ke Jawa Tengah, berperang melawan Kompeni Belanda, bersama Pangeran Diponegoro.

    Karena kelicikan dan tipu muslihat Kompeni Belanda, P. Diponegoro akhirnya ditangkap kompeni Belanda. Pasukan Diponegoro kocar-kacir. Mbah Rowiyo dan Mbah Rofi’i berniat kembali pulang ke Giri dan Ampel. Karena sulitnya menempuh perjalanan pulang, keduanya nekad mengikuti aliran sungai Brantas. Mulai dari Kertosono, kedua beliau terapung-apung beberapa hari, keduanya akhirnya bertekad, dimanapun keduanya terdampar, maka disitulah mereka akan bertempat tinggal. Berkat pertolongan Alloh SWT. Keduanya terdampar di Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Akhirnya kedua beliau menetap di Gedeg, tepatnya di desa Gedek. Sekarang, selain makam Mbah Rowiyo, beberapa keturunannya masih bertempat tinggal di Desa Gedeg.

    K.H. Ahyat Halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd. Halim dari Gedeg. Ayahanda K.H. Ahyat Halimy, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak-kandungnya, K.H. Aslan, lahir pada tahun 1914. Kedua anak yatim ini kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakde-nya yang bernama H. Thohir. Ibunda K.H. Ahyat Halimy akhirnya wafat pada tahun 1938, ketika K.H. Ahyat memasuki usia 17 tahun. Pakde H. Thohir ini pula yang membawa dua Yatim bersama Ibunya, untuk bertempat tinggal di Desa Miji (Sekarang lokasi makam Alm. K.H. Ahyat Halimy).

    Masa kecil K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandung-nya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melan-jutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyaih K.H. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau K.H. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, K.H. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

    Selama belajar di Tebuireng, K.H. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela. K.H. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman seka-mar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “ Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat.”

    Pengakuan dan kesaksian serupa, juga diberikan oleh teman-teman satu angkatan, antara lain ; K.H. Abdullah Siddiq, dari Jember. K.H. Mansur Burhan dari Surabaya, dan K.H. Zainuri dari Qudus.

    Tahun 1938, K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandungnya, K.H. Aslan, kembali ke Mojokerto dan melakukan berbagai aktifitas. Sebagai pemuda, bersama dengan beberapa temannya, antara lain Sdr. M. Thoyib, M. Thohir, Sholeh Rus-man, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama K.H. Ahyat Halimy, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

    Seluruh aktivitas itu dikerjakan dengan tanpa meninggalkan aktivitas “ta’lim”, atau belajar, baik ke Tebuireng mau-pun ke K.H. Romly di Rejoso, Peterongan, Jombang. Akhirnya pada tahun 1940, K.H. Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri dari K.H. Moh Hisyam yang juga memangku Pondok Pesantren. Suami pertama Nyai Badriyah bernama Fauzan, beliau adalah kakak kelas K.H. Ahyat Halimy, waktu belajar di Tebuireng. Perceraian antara Nyai Badriyah dengan P. Fauzan ini berlangsung baik-baik, semata-mata karena sudah bukan jodohnya lagi. Buktinya, ketika Nyai Badriyah ini dipersunting oleh K.H. Ahyat Halimy, P. Fauzan sempat menitipkan Nyai Badriyah kepada K.H. Ahyat Halimy secara langsung. P. Fauzan berpesan agar Nyai Badriyah dijaga dengan baik.

    Aktivitas K.H. Ahyat yang luar biasa banyak ini, tentu saja mengurangi waktu untuk urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangganya dari segi finansial sangat buruk. Untung istrinya masih sangat setia menemani. “ Setelah pulang dari pengungsian pada Tahun 1946 – 1949, yaitu mulai permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya” tulis K.H. Ahyat Halimy, dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya sudah lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap, karena angin dingin menerobos celah-celah dinding yang sudah lapuk”.

    Pada masa sulit ini, K.H. Ahyat Halimy sempat terpilih menjadi anggota Konstituante (Semacam MPR) di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. K.H. Ahyat Halimy mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan makom atau bidang keahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kehidupan rumah tangganya, K.H. Ahyat Halimy memilih mengundurkan diri dari anggota Konstituante hanya karena merasa bukan bidang keahliannya, pada hal menjadi anggota Konstituante (MPR) berarti “pekerjaan” yang lumayan juga ?.

    Keadaan sulit ini, mengingatkan K.H. Ahyat Halimy pada “dawuh” K.H. Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur ;” Sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, Insya Alloh oleh barokahe Walisongo” (Barang siapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, Insya Alloh akan men-dapat barokah dari Walisongo). K.H. Ahyat Halimy pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang milik istrinya. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.

    Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), K.H. Ahyat Halimy mendapat isyarah, bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab (tempat Imam Sholat). Isyarah yang sama juga di dapat oleh K.H. Ahyat Halimy, ketika berholwat di makam Batuampar, Madura. K.H. Ahyat Halimy bermimpi ketemu Rosulloh SAW, yang juga menyatakan bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab. Isarah-isarah itu kemudian digabungkan oleh beliau, dengan berpedoman pada perilaku Hadratus syaih K.H. Hasyim Asy’ari, yang pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani, oleh Hadrotussyaih bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya Hadrotus syaih berkata “ Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh”. ( Bersama saya, mengabdi kepada Ilmu, maka apapun akan terpenuhi ).

    Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, maka sejak tanggal 25 Januari 1956, K.H. Ahyat Halimy mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang dengan mengatakan “ Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi !”. Sejak itu sampai dengan sekarang, kuliah subuh itu terus diselenggarakan secara istiqomah, kecuali hari raya Idul Fitri, di tempat yang sama, yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi Masjid dan Komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.


    1). Beberapa Ulama sepuh, terutama ulama dari Pasuruan dan Jember, mengatakan bahwa Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo, bukan saja dari Ampel dan Giri, tetapi kedua beliau adalah juga kerabat dari Sunan Giri dan Sunan Ampel. Namun K.H. Ahyat Halimy, setiap kali bercerita hanya mengatakan Mbah Rowiyo dari Giri, dan Mbah Rofi’i dari Ampel.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM

  • MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    Infokom Banser NU-Bukan senjata musuh, tapi kebodohan umat yang ampuh digunakan alat untuk menghancurkan agama Islam.

    Mereka telah berhasil menghasut dan memprovokasi orang awam untuk membenci ulama2 NU dengan memfitnah menggunakan cara memotong dan memelintir pidato2 para kiyai NU, serta menggiring opini dari maksud awal tujuan pidato itu disampaikan. Namun sejarah telah membuktikan bahwa atas pertolongan Allah, NU hingga kini masih dilindungi dan masih dapat memberikan manfaat bagi banyak umat.

    Karena NU didirikan dengan ikhlas dan hasil tirakat para ULAMA dan HABAIB, untuk membentengi kehancuran agama Islam dari virus Wahabi. Ingat! NU berdiri tujuan utamanya adalah melawan Neo Khawarij yang berbungkus paham Wahabi. Sedangkan para pembenci NU, mereka timbul dan kemudian tenggelam. Mereka datang dan kemudian pergi terusir dari panggung kemuliaan. Sejarah kelam Neo Khawarij menghancurkan Islam dengan memelintir ajaran2 agama Islam untuk memusuhi sesama saudaranya.

    Mereka memanfaatkan kebodohan orang Awam dengan simbol2 agama dan penampilan2 Shalih. Namun faktanya, para sahabat Nabipun tidak luput dari kejahatan mereka, sehingga Umar, Ustman, dan cucu Nabi akhirnya terbunuh menggunakan dalil2 agama. Sehingga garis keturunan Nabi dari jalur laki2 musnah di muka bumi disebabkan kejahatan Neo Khawarij yang kini berbaju Wahabi. Jangan mudah tertipu simbol2 Islami dan penampilan2 keshalihan, sebab itu memang sengaja digunakan senjata mengelabui orang awam oleh Neo Khawarij untuk mengacaukan dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

    “Akhir zaman, nantinya orang berilmu akan dibantah oleh orang yang bodoh.”
    #…………(Dawuh Gus Qoyyum)………….#

    Bedanya NU dan Salafi/Wahabi, FPI, HTI, ialah, kalau NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,
    sedngkan Salafi/Wahabi, berjuang Merusak, Memberontak dan Mendemo Negara yang sudah merdeka. Terbukti Pelaku2 Terorris di Indonesia Berjenggot, Bercelana Cingkrang, Penjahat Berjubah berkedok agama sang pengasong Khilafah.

    #SantriNderekKyaiDanHabaib #SantriNU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #AswajaNU #GP_AnsorNU #PagarNusaNU
    #BanserNU #FattayatNU #IPPNU #HWMI
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI_Bersatu

    Rijalul Ansor ASWAJA NU

  • KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Ketika Ilmu Tasawuf Tidak Menyentuh Qalbu Mereka

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Oleh: Ahmad Muntaha AM*

    Atas tindakan kurang ajar FP NU Garis Lurus terhadap Pondok Lirboyo, mengharamkan mengikuti Pondok Lirboyo, saya telah mencoba komunikasi, tanya via chat WhatsApp kepada beberapa tokoh NU Garis Lurus.

    Pak Ustad Idrus Ramli (Idrus Ramli) saya tanya bilangnya tidak tahu. Pak Gus Luthfi Basori masih diam saja, belum respon.

    Hemat saya Pak Luthfi Bashori⁩, Pak Yahya, Pak Idrus, dan tokoh NU Garis Lurus Lainnya, semestinya membuka secara terang-terangan siapa admin akun FP NU Garis Lurus sebenarnya yang telah melakukan kekurangajaran itu. Kalau tidak tahu, harus berupaya serius mencari tahu sampai ketemu, SDM mereka sangat cukup untuk melakukannya dan disowankan ke Pondok Lirboyo secara baik-baik. Sebab merekalah tokoh-tokohnya yang lebih tahu jaringan-jaringan mereka sebenarnya.

    Istilah dan komunitas NU Garis Lurus terpelihara sampai sekarang merupakan jariyah mereka.

    Entah jariyah baik atau buruk.

    Kita tunggu benar-benar i’tikad baik, keseriusan sikap dan tanggung jawab dari tokoh-tokohnya ini.

    Ini benar-benar menjadi catatan merah bagi berbagai ‘dakwah’ dan propaganda mereka, sekarang dan di waktu-waktu yang akan datang. (*)

    *TIM MEDIA PAC GP ANSOR RENGEL*