Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    Oleh Ayik Heriansyah
    Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI

    wp.sorbansantri.com – Baru saja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperingati hari jadinya yang ke-20 pada tanggal 21/11/2020. Provinsi muda dengan penduduk 1,4 juta jiwa yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia (Melayu, Bugis, Banjar, Cina, Jawa, Sunda, Batak, dsb) terus berlari dan melompat, melesat membangun daerahnya. Dengan sumber daya alam tambang, perikanan, kelautan, perkebunan dan pariwisata serta didukung oleh sumber daya manusia putra asli daerah yang mumpuni, Provinsi Bangka Belitung diprediksi akan menjadi provinsi muda yang terdepan.

    Namun di balik itu ada ancaman serius dan bahaya laten bagi pembangunan dan kemajuan provinsi, yakni radikalisme dan terorisme. Radikalisme dan terorisme ibarat air dan ikan. Di dalam kelompok, komunitas dan masyarakat yang radikal, tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Kelompok radikalisme mensyaratkan sikap intoleransi dari pengikutnya. Hal ini menjadi ancaman kemajemukan masyarakat Bumi Serumpun Sebalai.

    Bibit-bibit radikalisme ada di pulau Timah sebelum provinsi terbentuk. Radikalisme mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesca pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat suasana eforia reformasi, otonomi daerah dan pembentukan provinsi baru, di saat semua orang bebas berpendapat, setiap aliran, kelompok dan organisasi dibiarkan menyebarkan paham dan ideologi, kelompok radikal mengambil kesempataan emas ini.

    Sejak tahun 2002 kelompok radikal secara struktural, sistematis, massif dan intensif melalukan radikalisasi bagi masyarakat Bumi Serumpun Sebalai dengan menggunakan media sosial, menyelenggarakan diskusi publik/seminar, mimbar-mimbar khutbah jum’at, buletin jum’at, pengajian-pengajian umum, dan acara di radio/televisi lokal, serta aksi-aksi unjuk rasa menentang pemerintah kebijakan pemerintah. Radikalisasi yang berlangsung bertahun-tahun ini terkesan dibiarkan oleh pejabat pemerintahan daerah.

    Pertumbuhan dan perkembangan radikalisme di Babel beriringan dengan pertumbuhan dan perkembangan provinsi dan kabupaten-kabupaten baru, sehingga radikalisme masuk ke dalam sendi-sendi birokrasi. Gejala-gejala radikalisasi birokrasi di Bangka Belitung terasa dari beberapa kali pemerintah daerah mengundang Ustadz-ustadz radikal mengisi acara-acara resmi. Dan terlihat mengabaikan ulama dan ustadz yang ada di Provinsi sendiri, yang dikenal moderat.

    Puncaknya ketika terjadi insiden Surat Edaran dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kep. Bangka Belitung perihal Membaca Buku Muhammad al-Fatih pada tanggal 30/09/2020 yang lalu. Mungkin Pak Kepala Dinas hilaf dan lupa, kalau pahlawan Islam yang berjuang melawan penjajah di Bangka Belitung adalah Depati Amir, Depati Bahrin, Depati Hamzah, Hamidah. Batin Tikal, Depati Rahad Belitong, Hananjoeddin Belitong, Moch Roeslly Effendy. Bukan Muhammad al-fatih. Bukan jugaa Felix Siauw. Bukan pula FPI dan HTI.

    Pak Kepala Dinas tidak tahu Felix Siauw adalah seorang propagandis HTI, yang mengerahkan segala upayanya guna berdirinya negara Khilafah Tahririyah (Khilafah versi HTI). Entah siapa yang memberi saran kepada Pak Kepala Dinas sehingga muncul ide membaca buku Felix. Surat Edaran tersebut memang dibatalkan keesokan harinya setelah mendapat protes dari masyarakat, akan tetapi kejadian tersebut mengkonfirmasi bahwa ada radikalisasi di birokrasi Bangka Belitung.

    Menurut indeks yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT, 2020), dari 32 provinsi, Provinsi Timah menduduki urutan ke-13, mengalahkan Sulawesi Tengah (urutan 15) dan Jawa Barat (urutan 19). Padahal di Sulawesi Tengah tepatnya di Poso bercokol kekompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafilsasi kepada ISIS. Sampai sekarang mereka menebar teror di tengah masyarakat. Sedangkan Jawa Barat, sudah mafhum menjadi ibu kandung tempat lahirnya kelompok-kelompok radikal dan teror di Indonesia.

    Istilah radikalisme air bagi ikan terorisme. Dimana ada kelompok, komunitas dan masyarakat radikal, di situ tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Harus menja

    di perhatian khusus bagi pemerintahan daerah Bangka Belitung. Secara geografis, kepulauan Bangka Belitung sangat ideal menjadi tempat persembunyian dan persemaian teroris dan jaringan teror. Jangan biarkan keindahan alam dan keindahan toleransi di Bumi Serumpun Sebalai rusak gara-gara radikalisme dan terorisme.(abi-sorban)

  • Rois Syuriah NU Mojokerto pertama

    Rois Syuriah NU Mojokerto pertama

    KYAI ZAINAL ALIM SURONATAN

    Tidak banyak kisah yang terungkap tentang sosok Kyai Zainal Alim. Ulama yang ditunjuk sebagai Rois Syuriah NU Mojokerto itu wafat tanpa meninggalkan keturunan. Makamnya di komplek pemakaman Losari tidak terawat dengan baik. Dari berbagai penelusuran hanya sedikit yang bisa didapatkan.

    Kyai Zainal Alim berasal dari daerah Sidayu Gresik. Kota kecil di pesisir laut Jawa itu merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam. Beberapa keturunan Arab yang berprofesi sebagai saudagar menetap disana. Dari salah satu keturunan Arab itulah Kyai Zainal Alim dilahirkan.

    Layaknya keturunan Arab, Kyai Zainal Alim berpostur tinggi besar dengan warna kulit kuning mendapatkan didikan ilmu agama yang mumpuni. Beliau kemudian pindah ke Mojokerto bersama istrinya untuk mengembangkan usahanya. Tempat yang dipilih adalah kampung Suronatan, sebuah kampung yang terletak di tepi kali Brantas.

    Seperti umumnya orang Arab, Kyai Zainal Alim juga berprofesi sebagai pedagang. Setiap harinya berniaga di pasar Tanjung yang dibangun oleh Gemeente Mojokerto untuk menggantikan pasar Pahing. Barang yang dijual berupa pakaian, sarung dan kopyah. Profesi yang digelutinya memberi kehidupan yang layak bagi keluarga Kyai Zainal Alim.

    Sebuah langgar kemudian didirikan dekat rumahnya yang dikenal sebagai Langgar Zainal Alim atau langgar Suronatan. Langgar yang bergaya Jawa itu digunakan tempat mengaji anak-anak di sekitarnya. Kegiatan ngaji yang semakin lama semakin berkembang dengan jumlah santri yang terus bertambah.

    Sebagai pendidik, Kyai Zainal Alim ternyata berpikir jauh ke depan. Melihat banyaknya anak yang datang ke langgar Suronatan, beliau berkeinginan untuk memberi bekal ilmu yang lebih. Setidaknya ilmu berhitung ala sekolah model Belanda harus diberikan pada santri-santri disana. Keinginan itu untuk mengimbangi pendidikan sekolah sekuler yang didirikan penjajah Belanda.

    Ide itu ternyata disambut baik oleh koleganya di NU Mojokerto. Pada akhirnya disepakati berdirinya Madrasah Ibtidaiyah NU yang bertempat di langgar Kyai Zainal Alim. Madrasah itu yang menjadi embrio MI Al Muhsinun yang hingga sekarang berdiri di komplek Masjid Agung Kauman.

    Ketokohan Kyai Zainal Alim sangat dihormati oleh kalangan Kyai Mojokerto. Hal itu terbukti ketika dibentuk organisasi NU di Mojokerto pada tahun 1928. Para ulama sepakat menunjuk beliau sebagai figur sentral organisasi yang didirikan oleh Kyai Hasyim Asy’ari tersebut. NU yang biasa dipimpin oleh pengasuh pesantren ternyata berbeda penerapannya di Mojokerto. Kyai Zainal Alim tidak memiliki pesantren, hanya mengajar ngaji di langgarnya saja. Pada saat itu sudah ada beberapa pesantren seperti Pesantren Besuk, Kemlagi dan Karangsari Sooko, yang sudah lama berdiri. Namun para kyai menyerahkan jabatan tertinggi organisasi pada Kyai Zainal Alim. Kemungkinan karena faktor ketokohan yang membuat beliau dipercaya memimpin NU Mojokerto.

    Dalam menjalankan roda organisasi NU, Kyai Zainal Alim berpartner dengan Kyai Nawawi Jagalan. Duet itu mirip dengan kolaborasi Kyai Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah. Kyai Zainal Alim sosok yang tenang, sedangkan Kyai Nawawi figur yang dinamis dengan mobilitas tinggi.

    Belum ada data pasti kapan Kyai Zainal Alim wafat. Nama beliau tidak lagi terdengar ketika Jepang datang. Saat pergantian kekuasaan itu kendali NU Mojokerto sudah beralih ke tangan Kyai Nawawi. Besar kemungkinan Rois Syuriah NU Mojokerto meninggal antara tahun 1942-1943.

    Atas petunjuk H. Ghumson, mantan aktivis GP Ansor tahun 1960-an, makam Kyai Zainal Alim dapat diketemukan.

    Saat ini makam Kyai Zainal terlihat tidak terawat. Sebuah nisan tua tanpa tulisan terpasang pada pusaranya. Karena tidak memiliki keturunan dan tidak ada tulisan penanda sehingga tidak banyak orang mengetahuinya. Sebagai tokoh pendiri NU Mojokerto, maka selayaknya para penerusnya memberi perhatian terhadap makam beliau tersebut.

    Jika mau serius menelusuri masih ada kemungkinan kisah Kyai Zainal Alim bisa didapati. Selain menggali di sekitar Suronatan bisa juga melacaknya ke Sidayu, tempat kelahirannya.

    SORBANSANTRI.COM
  • NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    RIJALUL ASWAJA NU-Entah atas usul dan restu siapa NUGL didirkan, apakah hanya sebatas inisiatif segelintir tokoh pendiri dan pengurusnya yang tak lebih dari 10 orang itu? Bukankah mereka pernah mengenyam pendidikan pesantren? Bukankah Kyainya di Pesantren adalah Tokoh yang terhormat di NU?

    Maka tak berlebihan jika mereka disebut sekawanan propagandis tak beradab, dengan berani merongrong NU yang didirikan oleh Tokoh yang dikenal kewaliannya. Dan tentu sanad ilmu para pendiri NUGL tersebut adalah ke Kyai yang memiliki darah keNUan yang kental. Secara tak langsung mereka telah mencoreng nama baik kiyai dan pesantrennya. Istilah ‘Garis Lurus’ cermin kesombongan yang seolah olah mereka adalah yang paling benar. Namun faktanya idiom garis lurus ternyata sebanding dengan perilaku dan tindak tanduk mereka selama ini yang menabrak norma-norma yang dijunjung tinggi di dunia pesantren, dunianya kaum Nahdliyin. Semua yang dianggapnya bengkong dihantam tanpa kromo alias tanpa adab, Baru-baru ini Pesantren yang disegani seperti Lirboyo tak luput dari hantaman ‘kawanan garis lurus’.

    Sekalipun sudah minta maaf melalui akun yang sama, tetap saja residu negatifnya tak begitu saja lenyap, karena apa yang sedang mereka perankan adalah cermin kebencian membuncah para tokohnya, entah karena sakit hati atau kah iri tapi realitasnya mereka adalah sengkuni tak terbantahkan. Jika tokoh-tokoh NUGL tersebut menjunjung tinggi adab dan keilmuan, maka sudah tentu mereka berani diajak duduk bersama, bukan malah koar-koar ke sana kemari bagai anak kecil yang bodoh. Akhirnya jadilah komplotan liar bagai anak jalanan yang menyebarkan provokasi dan propaganda kurang ajar sebagai penghujat tanpa adab. Bukan kelompok pendebat dialogis yang mampu mengisi ruang ilmiyah yang menjadi warna pesantren sebagai adat maupun istiadat. NUGL terus menggiring kata di dunia maya mengubahnya seakan sepertinya fakta.

    Menggunakan karya mbah Hasyim Asyari sebagai amunisinya. Dan yang paling miris merubah dari informasi bias menjadi justifikasi tanpa konfirmasi kepada pihak yang dihakimi. Korbannya banyak dari para santri yang tak terlalu cerdas dengan keadaan dan rute perpolitikan kemaslahatan dan ghirah perjuangan NU. Setelah jadi korban mereka beramai rami ngeshare dan fitnahan tanpa pertimbangan dan perhitungan. Lihatlah bahaya setelah kreatifitas nakalnya pemotongan video itu apa yang dilakukan? tak ada tabyin dan klarifikasi.

    #HWMI #INFOKOMBANSERNU

  • Rapat persiapan DTD PAC GP Ansor Kecamatan Jatirejo

    Rapat persiapan DTD PAC GP Ansor Kecamatan Jatirejo

    Rapat Koordinasi Panitia DTD PAC GP Ansor Jatirejo bersama jajaran Instruktur PC GP Ansor Kabupatem Mojokerto yang akan dilaksanakan pada hari Jum’at sampai Minggu tanggal 20,22,23 Desember 2019 di Yayasan MI Sunan Ampel Desa Sumberagung Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto.

  • ORANG NU WAJIB PERCAYA , SELAIN NU TERSERAH ANDA

    ORANG NU WAJIB PERCAYA , SELAIN NU TERSERAH ANDA

    Ahsun AY-Yang saya senang,
    sebenarnya bukan diangkatnya beliau
    jadi anggota watimpres oleh Pak Jokowi,

    Karena posisi seperti itu bagi saya tidak istimewa, presiden-presiden sebelumnya juga dekat dengan Habib Luthfi, kalau menerima beliau sudah jadi watimpres dari presiden-presiden sebelumnya. Sebab itu yang membuat saya senang adalah bersedianya beliau jadi watimpres.
    Itu yang membuat saya kaget.

    Kalau saya sih, keyakinan saya,
    kenapa dulu beliau tidak berkenan,
    sekarang beliau bersedia jadi Watimpres, karena sekarang sudah direstui Rasulullah saw (رسول الله صلى الله عليه وسلم). Kenapa Rasulullah saw merestui? Soal itu saya tidak berani berandai-andai. Yang pasti kalau Rasul merestui berarti Allah swt (الله سبحانه وتعالى) ridlo.

    Banyak kejadian seperti itu. Yang saya saksikan sendiri, ketika 2010 mentashih Sejarah Nabi karya tulis Purna Santri Lirboyo, ketika sampai pada kisah Gonorik; bahwa Rasulullah saw dikisahkan -menurut sebuah riwayat- beliau menerima wahyu palsu, dan riwayat itu dimuat dalam Thobari,

    Maulana Habib Luthfi “galau berat”
    antara bagaimana memposisikan diri dihadapan Imam Thobari, ulama agung,
    beliau tidak berani berkomentar, disisi lain mustahil Rasul menerima wahyu palsu.

    Biasanya beliau istirahat -setiap hari- bakda dzuhur sampai ashar, saat itu beliau bermimpi Rasulullah saw dihadapan beliau ada Imam Thobari, dan 4 sahabat besar Nabi, Rasulullah memuji sikap Maulana Habib Luthfi, yang begitu menghormati ulamaNya, yaitu Imam Thobari, namun tetap membela nama baik Nabi saw. Kata beliau semua yang hadir tersenyum kepada beliau.

    Ajibnya, biasanya ngaji dimulai jam 9
    kadang beliau turun jam 10, pada waktu itu beliau duduk ditempat ngaji jam 8, sehabis terawih, dan santri belum ada yang datang.

    Karena gembiranya bahwa beliau
    telah mengambil posisi yang tepat antara
    memuliakan Nabi dan menhormati ulamanya.

    Dan secara langsung sikap beliau
    diapresiasi Nabi saw. Kisah ini bisa dikonfirmasi ke banyak kawan-kawan Lirboyo angkatan 2010, tentu saja kawan-kawan ini sekarang sudah jadi kiyai di daerahnya
    masing-masing.

    Saya yakin di NU, banyak sekali
    kiayi yang di bimbing langsung Nabi saw.
    Maka dari itu para kiyai itu nguwalati. Prof Said Aqil Munawar, menceritakan guru beliau, “Syeikh Yasin Al-Fadani bertemu Rasulullah kapan saja syeikh Yasin mau…”, menayakan keabsahan suatu Hadis secara langsung kepada Rasulullah saw. Kisah ini juga bisa dikonfirmasi langsung, karena nara sumbernya, saksi hidupnya masih bersama kita.

    Ini ulama yang semasa dengan kita,
    bagaimana dengan syeikh Zakariya al-Anshari, Ibn Bajar Asqalani, Imam Suyuthi, Abdul wahab Syarani, Imam Ghazali, Imam Haramain, Imam Baqilani, Tabiin dan Sobatan Nabi? Makanya kiyai NU jarang yang melompati guru-guru mereka langsung ke para sahabat, karena pangkat ruhani mereka tak terbayangkan.

    Para ulama kita urusan ‘sepele’ saja
    menunggu restu Rasulullah saw, apalagi menjadi Wapres atau Watimpres, rasa-rasanya tidak mungkin atas kemauan sendiri.
    Mereka sudah tidak memiliki الغرض النفسية, kepentingan pribadi, atau tindakan-tindakan untuk memuaskan hasrat.

    Orang mungkin melihatnya, Habib Luthfi mendapat mandat dari pak Jokowi, tapi saya melihat beliau sedang menjalankan tugas baru dari Rasulullah saw.

    [Urun rembug mengungkapkan
    kebahagiaan yang sangat atas bersedianya beliau jadi Watimpres Pak Jokowi].

  • Konferancab pertama dalam menyongsong kembali ke-Profesionalitas-an langkah Organisasi PAC IPNU IPPNU Tayu

    Konferancab pertama dalam menyongsong kembali ke-Profesionalitas-an langkah Organisasi PAC IPNU IPPNU Tayu

    PAC IPNU IPPNU TAYU–Bismillahirrahmanirrahim.
    Ikhtiar kita, dalam menyongsong kembali ke-Profesionalitas-an langkah Organisasi PAC IPNU IPPNU Tayu, Konferancab pertama.

    Tentu banyak sekali harapan dari terselenggaranya Konferancab pertama ini, langkah kedepan organisasi bisa dikatakan berada diujung tombak acara ini. Kesuksesan acara ini bisa dikatakan pula, menjadi indikator pergerakan Pelajar NU kecamatan Tayu selama dua tahun kedepan.

    Dengan tema Menumbuhkan kesadaran Berorganisasi dikalangan pelajar NU tayu, ini merupakan penegasan bagi kita Pelajar Nahdlatul Ulama se Kecamatan Tayu untuk Bergerak!!, Hidup dari dan di lingkungan NU, Selayaknya kita harus sadar perlunya pergerakan Pelajar dan Pemuda di ranah Nahdlatul Ulama, sebagai pelajar selain tujuan kita untuk menggapai prestasi, kita jangan sampai lupa bahwa tujuan akhir dari sekolah adalah agar kita menjadi manusia yang berguna ketika kembali lagi dari lingkungan sekolah menuju lingkungan bermasyarakat, dan inilah bentuk wadah dari Nahdlatul Ulama, IPNU IPPNU sebagai wadah kita untuk Belajar Berjuang dan Bertaqwa di lingkungan Masyarakat, dengan tujuan sekali lagi agar kelak kita menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, agama dan bangsa, bukan pemuda sampah masyarakat!

    Maka kembali lagi inilah pentingnya kita untuk Bergerak!, Untuk Belajar Berjuang dan Bertaqwa. pada akhirnya seperti ungkapan presiden pertama kita Pak karno “Aku lebih menyukai pemuda yang berdiskusi untuk bangsa ini dari pada kutu buku yang memikirkan dirinya sendiri”. Jelas!! Mari kita Pelajar NU kec. Tayu bersama-sama belajar bermasyarakat, berjuang menjadi pemuda Aktif yang Berguna, dan yang terpenting dari ini adalah doa dan ikhtiar kita semoga semua ini dapat menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa Bertaqwa kepada Allah SWT, Amin

    (Insyaallah, Semua ikhtiar itu Ialah dengan niat baik Ber-IPNU IPPNU) (F/LPJ)

    #Pelajarnutayu #Pelajarnupati #Ipnuippnunusantara #alasantri #aisjateng #santrikece #aisnusantara #aisjawatengah #santrizamannow #beripnuippnuasyik #salamberjuta #berkhidmah #santriuntuknegeri #santri #santrikeren #santrinusantara #ipnuippnu #ipnuippnuhits #ipnuippnujamannow #ipnuippnukeren #rekandanrekanita

  • NU MILIK BANGSA INDONESIA

    NU MILIK BANGSA INDONESIA

    LazisNU Tuban-Jika kita membaca sejarah kiprah NU di era Pra Kemerdekaan maka akan banyak kita temukan sejarah pertempuran laskar rakyat dan laskar santri Hizbullah / Sabilillah melawan penjajah Belanda. Di era pasca kemerdekaan pun peran Santri dan Ulama bersama tokoh-tokoh nasionalis sangat penting dalam membangun pondasi Negara, merumuskan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Begitu juga sejarah yang tak kalah penting dalam mempertahankan kemerdekaan adalah perlawanan rakyat Jawa Timur atas kehadiran penjajah Belanda yg membonceng tentara Sekutu untuk kembali menguasai Indonesia. Sejarah itu dikenal dengan Resolusi Jihad NU yang pada puncaknya terjadi lah Pertempuran Sepuluh (10) Nopember 1947. Pertempuran itu mampu mengalahkan Sekutu dan kemudian mengantarkan Bangsa Indonesia makin kokoh dengan kemerdekaannya.

    Setelah Indonesia sepenuhnya merdeka dari penjajahan fisik, Ulama dan Santri kembali ke Pesantren mendidik dan membangun peradaban masyarakat di mana antara Negara dan Agama tidak lagi dipertentangkan, sekalipun pada era 32 tahun Orde Baru berkuasa NU termarjinalkan, Ulama dan Santri NU tidak pernah melakukan upaya pemberontakan. Tidak ada provokasi terhadap ummat untuk membenci Pemerintah yang sah. Itulah sumbangsih NU untuk Bangsa ini.

    Selanjutnya pasca Reformasi, NU secara kongkrit ikut andil mengawal perubahan yang dimotori oleh KH. Abdurrahman Wahid, cucu Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang kita kenal dengan sebutan GusDur, dan GusDur pun terpilih sebagai Presiden RI ke 4 yang dihasilkan dari produk Demokrasi setelah 32 tahun era otoriter Soeharto. GusDur semasa sebelum dan sesudah menjadi Presiden peran utama yang nampak sebagai hasil perjuangan beliau adalah mempersatukan Bangsa Indonesia di tengah ancaman separatisme. GusDur sang Guru Bangsa, jasamu tak kan pernah terlupa oleh segenap anak Bangsa.

    Selanjutnya, Negara dan Ulama NU terus bersinergi dalam menjaga kedamaian dan ketentraman di tengah masyarakat. Ulama NU tdk alergi dengan penguasa karena pada prinsipnya keberadaan Negara adalah dalam rangka mewujudkan tujuan beragama yaitu kedamaian, keadilan, dan kemajuan Bangsa dan Negara.

    Maka dari itu Presiden setelah pasca GusDur pun selalu menggandeng tokoh dan Ulama NU dalam memberikan masukan dan nasehat, ada yang secara formal masuk dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden dan banyak juga yang secara informal menjadi rujukan Presiden dalam mengambil suatu keputusan.

    Tokoh dan Ulama NU yang menjadi penasehat Presiden secara informal terlalu banyak untuk kami tulis satu persatu. Adapun tokoh atau Ulama struktural NU yang secara formal berada di Dewan Pertimbangan Presiden yang secara formal sejak pertama kali dibentuk oleh Presiden SBY adalah sebagai berikut:
    1. KH. Ma’ruf Amin Periode 2007-2014
    2. KH. Hasyim Muzadi Periode 2015-2017
    3. KH. Yahya C. Staquf Periode 2018
    4. Habib Luthfi bin Yahya Periode 2019-2024

    Kami segenap keluarga besar Hubbul Wathon Minal Iman mengajak warga Nahdliyin untuk terus mendukung Pemerintah dan Ulama bersatu memajukan Indonesia, menjaga Indonesia tetap rukun, tentram, dan damai.

    Follow IG HWMI :
    https://www.instagram.com/hubbul_wathon_

    #HubbulWathonMinalIman

  • “HIDUPKAN HATIMU DENGAN DZIKIR,, BASAHI BIBIRMU DENGAN SHOLAWAT”

    “HIDUPKAN HATIMU DENGAN DZIKIR,, BASAHI BIBIRMU DENGAN SHOLAWAT”

    SORBANSANTRI.COM

    “Dzikir dan sholawat tak akan terpisahkan, Dzikir mengingat Allah dan bacaan sholawat akan membantu dzikir kita agar lebih khidmat dan berkah.

    Siapa saja yang membiasakan lidahnya untuk berdzikir dan bersholawat, Maka lidahnya lebih terjaga (selamat) dari kebathilan dan perkataan yang sia-sia. Namun, Siapa yang lidahnya tidak pernah mengenal dzikir, maka kebathilan dan kekejian banyak terucap dari lidahnya.

    Sudah selayaknya bagi seorang hamba ketika berbicara atau berkata hendaknya berkata yang baik atau diam. Ia harus menjauhkan ghibah (membicarakan aib orang lain), Dusta (bohong), Menghasut, Berkata-kata yang keji, Memfitnah dan hal-hal yang diharamkan allah. Oleh karena itu dia harus membersihkan lisannya dengan banyak berdzikir dan membaca sholawat.

    Dengan berdzikir kepada Allah, Maka pelakunya akan merasa bahagia, Begitu pula dengan orang yang dekat dengannya. Dialah orang yang senantiasa mendapatkan keberkahan. Tetapi orang yang lalai, Dia akan senantiasa gundah karena kelalaiannya, Begitu pula orang yang dekat dengannya.

    Dan dengan sholawat akan menenangkan batin kita, Semakin memperbanyak bacaannya akan menambah kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Hati akan mati tanpa dzikir dan bibir akan kotor bila tanpa bersholawat atas Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam!”.

    Wallahu’alam Bishawwabb.

    “sepi ing pamrih rame ing gawe”

  • PRAMUKA MA GONDANG Tanam 1000 bibit Pohon

    PRAMUKA MA GONDANG Tanam 1000 bibit Pohon

    Cyberaswaja.online. Gondang, MA GONDANG mengikuti nanam 1000 bibit pohon yang diadakan PC NU Kab.Mojokerto. (15/12)”Pengorbanan tdak akan menghianati hasil”PRAMUKA MA GONDANG “AMBALAN HASYIM ASY’ARI HANNA ASY’ARI GUDEP 14.77 -14.78 MA MIFTAHUL ULUM GONDANG” @ Bukit Semar Gondang. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2680441602024594&id=100001763423482

    SORBANSANTRI.COM
  • RS Kamar Medika Mojokerto Berikan Pengobatan Gratis Seumur Hidup Untuk Keluarga Riyanto

    RS Kamar Medika Mojokerto Berikan Pengobatan Gratis Seumur Hidup Untuk Keluarga Riyanto

    Suara Jatim Post – Sebagai bentuk apresiasi, Rambo Garudo, selaku Direktur RS Kamar Medika, yang juga Bendahara GP Ansor Kota Mojokerto, memberikan tali asih berupa Berobat Gratis seumur hidup bagi keluarga mendiang Riyanto. Sabtu (19/12).

    Hal itu diserahkan saat pelaksanaan Haul Akbar Riyanto ke -19 didampingi Walikota beserta Forkompinda Kota Mojokerto.

    RS Kamar Medika akan membantu memberikan pelayanan kesehatan kedua orang tua riyanto sesuai dengan standar RS. Meliputi rawat inap juga rawat jalan, karena usia kedua orang tua riyanto yang tidak lagi muda, tentu akan membutuhkan perhatian khususnya dalam hal kesehatan,”kata dr Rambo Garudo ketika dimintai keterangan oleh kontributor www.suarajatimpost.com

    Ia melanjutkan, pihaknya telah datang ke rumah mendiang Riyanto dan banyak diskusi dengan keluarga.

    Penyakit yang umum diderita pada orang tua biasanya darah tinggi, diabetes/kencing manis, linu sendi, dll. Walaupun kita semua berharap kesehatan kedua orang tua Riyanto ini terus membaik sampai nanti, tidak ada salahnya kita mempersiapkan hal hal yg tidak kita duga,”tambahnya.

    Seperti diketahui, Riyanto merupakan anggota Banser yang Wafat mengorbankan dirinya dalam menyelamatkan jemaah Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) 19 tahun silam.