Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • Kiat Hadapi Orang-orang Ragukan Amaliyah NU

    Kiat Hadapi Orang-orang Ragukan Amaliyah NU

    DnUqe9vUcAAcjBl
    cyberaswaja.online-
    Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur hadir mengisi kopdar nasional Netizen NU, Kamis (28/2) di Pesantren Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Ia memaparkan terkait penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk para netizen NU. KH Marzuqi Mustamar mengisahkan, ia pernah kebingungan kenapa kiai-kiai NU melakukan adzan-iqomah di kuburan saat hendak menguburkan jenazah? Padahal

    Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur hadir mengisi kopdar nasional Netizen NU, Kamis (28/2) di Pesantren Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Ia memaparkan terkait penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk para netizen NU.

    KH Marzuqi Mustamar mengisahkan, ia pernah kebingungan kenapa kiai-kiai NU melakukan adzan-iqomah di kuburan saat hendak menguburkan jenazah?

    Padahal cari di hadits-hadits sahih tidak ada. Setelah ditanyakan ternyata ada alasan di balik adzan-iqomah itu, yakni untuk mengusir jin. Banyak hadits sahih yang menyebutkan bahwa makanan jin adalah tulang belulang.

    Maka para kiai NU tidak mau kuburan yang akan ditempati jenazah masih ada jinnya. Untuk mengusir jin digunakanlah adzan, ini sebagaimana diterangkan pula dalam hadits-hadits yang sahih.

    Ada orang yang tetap kekeh mempertanyakan keabsahan adzan-iqomah di kiburan. Dengan sedikit menyindir dia mengatakan, “Masa orang yang sudah mati diajak salat?” ucapnya di hadapan hadirin.

    Kiai Marzuki menegaskan kepada warga NU, jika ada pertanyaan tersebut, jawab saja dengan bertanya balik, “Kamu meyakini saat bayi baru dilahirkan disunnahkan untuk diadzan-iqomahi. Lalu untuk apa bayi diajak salat?”

    Hal itu, seperti dikutip nu-online, merupakan jurus jitu KH Marzuki Mustamar menghadapi orang-orang yang masih meragukan validitas amaliah-amaliah NU. Nyata, bahwa mayoritas ummat Islam di dunia adalah pengikut ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

    “Mayoritas pula di dunia pengikut madzhab Syafi’iyyah. Mayoritas pula menjadi warga NU! Perintah Nabi SAW, ikutilah golongan yang mayoritas,” jelas Kiai Marzuki. (nu-online/Red)

  • Abu Nawas Memindahkan Istana Khalifah

    Abu Nawas Memindahkan Istana Khalifah

    SORBANSANTRI.COM

    Cyberaswaja.online – Khalifah Harun Al Rasyid tampak berbinar-binar matanya. Ia baru saja membaca kisah Nabi Sulaiman yang memindahkan istana Ratu Bilqis. Ia kemudian mendapatkan ide. “Asyik juga kalau istanaku dipindah di atas gunung. Aku bisa menikmati pemandangan negeriku dari atas,” gumannya dalam hati. Namun kemudian ia berfikir, siapa yang sangggup melakukannya. Nah, hingga akhirnya muncul dalam benaknya adalah Abu Nawas.

    Sekejap kemudian Khalifah memanggil pengawalnya untuk menjemput Abu Nawas. Tak berapa lama setelah itu, Abu Nawas datang menghadap. Khalifah kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya memanggilnya.

    “Begini. Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung wahai Abu Nawas?” tanya Khalifah .

    Titah ini membuat Abu Nawas kaget. Ia berfikir ini sebuah pekerjaaan yang mustahil. Namun bila tidak dikerjakan akan mendatangankan hukuman yang berat baginya. Dengan mengernyitkan dahinya Abu Nawas menyanggupi proyek hil yang mustahal ini.

    Setelah itu Abu Nawas pulang dengan hati gundah gulana. Mengingat pekerjaan ini hanya diberi waktu sebulan, membuat dirinya berfikir keras. Namun akhirnya ia punya ide untuk proyek yang rumit ini. Pada saat hari kesepuluh, Abu Nawas menghadap Khalifah membahas proyek tersebut. Melihat kedatangannya, Khalifah sangat senang. Ia dengan tekun mendengarkan apa yang dilontarkan Abu Nawas,

    “Saya mempunyai usul demi memperlancar tugas hamba ini,” kata Abu Nawas.

    ” Dengan senang hati saya akan mendengarkan usul itu?,” jawab Khalifah.

    ” Begini yang mulia hamba akan memindahkan istana tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan sudah dekat. Disamping itu Baginda harus menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan kepada fakir miskin,” pinta Abu Nawas.

    “Baiklah kalau usulmu Cuma itu maka aku setujui,” jawab Khalaifah.

    Mendengar permintaannya dikabulkan, Abu Nawas lalu pulang dengan riang gembira.

    Tepat di hari raya Idul Adha rakyat telah berkumpul di halaman istana. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan Abu Nawas untuk bisa memindahkan istana Khalifah. Tak lama kemudian nampak Abu Nawas berjalan menuju istana . Sesampai di depan istana, Abu Nawas berhenti dan bertanya kepada Khalifah.

    ” Wahai Baginda, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?” tanya Abu Nawas.

    “Tidak ada .” jawab Khalifah tegas.

    Mendenbgar jawaban tersbeut Abu Nawas melangkah lagi. Ia berjalan lebih mendekat ke istana. Ia berdiri mematung sambil memandangi istana seperti menunggu sesuatu. Pada awalnya Khalifah tampak tertegun. Namun hal itu berlangssng lama.

    Nampak Abu Nawas terus berdidi berdiri mematung. Akhirnya Khalifah tak sabar dan bertanya kepada Abu Nawas,” Kapan engkau mulai mengangkat istanaku.”

    “Lho bagaimana Baginda ini, hamba sudah siap dari tadi,” jawab Abu Nawas.

    “Apa maksudmu dengan sudah siap sejak tadi? Kalau engkau memang sudah siap betul apa lagi yang engkau tunggu?” kata Khalifah.

    “Hamba menunggu istana ini diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir disini. Kemudian istana itu diletakkkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba akan memindahkan istana ini ke gunung sesuai dengan perintah Baginda, ” jawab Abu Nawas dengan senyum yang melebar. (wkwkkwkwkw, dalam hati abu nawas sambil ngakak)

    Mendengar jawab itu Khalifah Harun Al Rasyid terpekur sejenak dan merasa sedih karena sudah berkorban 10 sapi lucu milik tetangganya. (cerita abu Nawas)

  • Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    batalyon-hizbullah-berhasil-merebut-pacet-dari-belanda_m_37814

    cyberaswaja.online- Serangan Gerilya di Malam Pergantian Tahun bagi orang Eropa, perayaan pergantian tahun adalah satu rangkian dengan perayaan Natal. Mereka melakukan persiapan dan rencana kegiatan yang disusun jauh hari sebelumnya.

    Demikian pula dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Belanda di Mojokerto. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Pacet. Hawa dingin yang berhembus di kawasan lereng Gunung Welirang itu dianggap sebagai tempat yang cocok untuk menggelar pesta akhir tahun dengan acara dansa lengkap bersama minuman kerasnya.

    Sejarawan Mojokerto, Ayu hanafiq menceritakan, pada akhir tahun 1948, orang Belanda di Mojokerto bersuka cita. Suasana tenang yang jauh dari aroma mesiu sudah dirasakan sejak pertengahan tahun 1947. Atau setelah perjanjian Renville ditetapkan.

    Garis demarkasi seperti permintaan Van Mook disetujui oleh Perdana Menteri Amir Syarifudin dari Partai Sosialis. ”Dengan perjanjian itu, maka tentara republik dipaksa keluar dari Mojokerto,” jelasnya.

    Menurutnya, saat itu, orang-orang Belanda semakin yakin akan terjaminnya keamanan daerahnya setelah kaum republik bertikai sendiri. Sebagaimana diketahui, kekuatan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifudin dan Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso bergabung melakukan makar di Madiun.

    Tidak lama kemudian, Belanda bergerak menyerbu Jogjakarta pada akhir September 1948. ”Maka, pantas kiranya bila tahun itu dirayakan sebagai tahun kemenangan,” ungkap pria yang akrab disapa Yuhan ini.

    Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini mengatakan, pada saat itu, tentu Belanda tidak menyadari bila serangan ke ibu kota republik adalah awal dari perang gerilya.

    Para pejuang tidak lagi terikat dengan wilayah kekuasaan karena boleh bergerak ke daerah manapun yang diinginkan. ”Tapi, banyak pejuang yang memilih kembali ke daerah asalnya,” ujarnya.

    Seperti yang dilakukan oleh Batalyon Mansyur Sholikhi yang berasal dari Mojokerto dan memilih kembali ke Mojokerto. Bersama pasukan gabungan yang dinamakan Pasukan Hayam Wuruk, Batalyon Mansyur bergerak dari Wonosalam, Jombang menerobos hutan hingga ke Gondang, Mojokerto.

    Mansyur meneruskan perjalanan ke Sajen, Pacet pada 30 Desember tahun tersebut. ”Rupanya para pejuang diam-diam telah mempersiapkan kejutan di akhir tahun,” urainya.

    Jumat malam, ketika kalender menunjukkan tepat 31 Desember 1948, pasukan Mansyur segera berpencar. Mereka menunggu pada tempat yang sudah dituju, yaitu vila yang masih memancarkan cahaya ketika hari menjelang berganti.

    Penerangan itu seolah memberikan sinyal bahwa tempat tersebut terdapat orang-orang Belanda sedang bersuka ria.

    Namun, kemeriahan pesta di Pacet ternyata tidak berlangsung lama. Tepat setelah terompet dan lonceng dibunyikan sebagai tanda pergantian tahun, tiba-tiba disusul oleh suara tembakan.

    Yuhan menyebutkan, peluru datang dari kegelapan malam menerobos ruang pesta. ”Vila tempat mereka berdansa jadi porak poranda oleh orang-orang yang ketakutan,” tuturnya.

    Orang sipil sibuk menyelamatkan diri dari peluru dan para serdadu mencari senjata masing-masing. Perlawanan mereka dilakukan secara membabi-buta dengan menghamburkan peluru pada gelap malam tanpa membidik sasaran.

    Pada malam itu, Batalyon Hizbullah yang dipimpin oleh Mayor Mansyur Solikhi mengepung wilayah Pacet. Sejak sore, pasukan berani mati itu telah mengintai dengan berpangkalan di Desa Kemiri.

    ”Titik serangan ditetapkan tersebar pada vila dan gedung tempat pesta orang-orang Belanda,” ujar Yuhan. Hujan peluru pun segera membubarkan kemeriahan pesta. Kegembiraan berdansa kemudian berubah jadi ketakutan.

    ”Malam itu seakan menjadi mimpi buruk bagi Belanda,” imbuhnya. Orang Belanda terkepung dalam bangunan kokoh dengan tembok tebal yang mereka dirikan. Bangunan itu seolah benteng pertahanan yang sulit ditembus peluru.

    Tembakan balasan mereka berikan tertuju pada kegelapan di luar. Dia mengungkapkan, pasukan Hizbullah bagaikan hantu yang sulit diketahui tempat sembunyinya.

    Sayangnya, Laskar Hizbullah tidak memiliki senajata berat sejenis meriam atau granat yang bisa membongkar tembok persembunyian musuh. Senjata peledak yang dimiliki hanya pelontar mortir buatan Mrican Kediri.

    Pelontar mortir itu pun akurasi tembakannya rendah. Semalam pengepungan dilakukan dan menjelang pagi orang belanda sudah putus asa. Korban berjatuhan akibat tembakan yang tidak mereka ketahui dari mana datangnya.

    Bantuan penyelamat dari Mojokerto pun tak kunjung datang. Maka tumpaslah mereka di malam pergantian tahun itu. ”Saat fajar menjelang, kota peristirahatan Pacet sudah dikuasai oleh Republik,” pungkas Yuhan.

    (mj/ram/ris/JPR)

  • 25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    101534732_565954444112264_7420087574762356736_n

    cyberaswaja.online- KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa dikenal GUS BAHA’ merupakan salah satu ulama muda yang populer di Indonesia. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Quran di Narukan, Kragan,Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang lahir pada tahun 1970 ini terkenal di kalangan anak muda lantaran ceramahnya banyak ditemui di channel Youtube.

    Gus Baha sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al-Quran dari ayahnya sendiri yaitu KH. Nursalim Al-Hafidz. Maka tidak heran apabila GUS BAHA’ menjadi ahli tafsir Al-Quran. Sehingga beliau sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum millennial.

    Tidak hanya itu, metode ceramah nya yang menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan menyejukkan hati menjadikan kyai yang murah senyum ini juga dikagumi semua kalangan.

    GUS BAHA’ merupakan salah satu santri kesayangan KH. Maemun Zubair di Rembang, Jawa Tengah. Pasalnya, Gus Baha menjadi salah satu ulama muda yang dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Quran.

    Berikut ini kata-kata mutiara GUS BAHA’ yang penuh makna:

    1. Jangan pernah putus asa saat merasa dalam kesulitan, sebab Allah menyertakan kemudahan setelah kesulitan.

    2. Cinta adalah sebuah perhatian kecil yang selalu hadir setiap saat.

    3. Seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan, maka dari situlah kita akan tahu betapa besar cintanya kepadamu.

    4. Cinta ialah sebuah pupuk yang dapat menyuburkan segala rasa tandus pada hati.

    5. ALLAH akan mengganti semua luka yang pernah engkau rasakan dengan kebahagiaan yang tak pernah terduga.

    6. Terkadang, mungkin ALLAH membuat hamba-Nya merasa kecewa, namun percayalah Ia hanya ingin engkau kembali berharap hanya kepada-Nya.

    7. Untuk menjadi yang terbaik. Kamu harus mempunyai mimpi yang besar serta semangat untuk mewujudkannya.

    8. Sebuah langkah kecil merupakan sebuah awal yang begitu panjang.

    9. Harapan dan keinginan ini seharusnya sejalan. Ya sejalan dengan betapa besar usaha yang kamu lakukan dalam mewujudkannya.

    10. ALLAH tidak pernah ingkar pada hamba-Nya, meski sekecil biji Zarrah pun janji ALLAH selalu ditepati.

    11. Saat kamu merasa tidak ada orang yang berada di pihakmu, tenanglah karena ALLAH selalu bersamamu.

    12. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil, padahal dari sanalah sesuatu yang besar lahir dan tumbuh.

    13. Kebodohan itu merusak, tetapi merasa dirinya paling pintar lebih merusak.

    14. Yang abadi adalah yang kita sedekahkan.

    15. Jangan membenci orang yang sedang kafir saat ini, bisa saja suatu saat orang tersebutlah yang mensyafaati kamu. Tirulah Kanjeng Nabi MUHAMMAD SAW yang berdoa kepada ALLAH SWT untuk Sayyidina Umar Bin Khatab yang saat itu sedang kafir.

    16. Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta hamba pada Tuhannya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu terasa aneh di mata kita.

    17. Kalau malaikat datang dan memberitahu saya bahwa kelak saya akan masuk neraka selamanya, apakah saya akan berhenti menyembah Tuhan? Tidak. Saya akan terus menyembah Tuhan.

    18. Sanad ilmu itu penting! Karena teks itu terbatas ruang dan waktu. Sekarang ini banyak aliran yang memahami hanya lewat teks. Ini bahaya, karena yang bisa menerjemahkan teks itu ahwal. Ahwal itu perilaku atau karakter. Nah itulah Sanad. Makannya ada pepatah: Man ta’allama wabila syaikhin fasyaikhuhu syaithan. Barang siapa belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan.

    19. Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril.

    20. Tak masalah saat ini kamu miskin. Bisa jadi itu alasan ALLAH kelak untuk membawamu ke surga-Nya.

    21. Di akhirat, kenangan yang paling indah di dunia adalah, seberapa sering kita sujud kepada ALLAH SWT.

    22. Dosa terbesar istri adalah Nggoblokno suami.

    23. Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama ALLAH untuk kepentingan dirinya, seolah-olah apa yang ada dipikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh ALLAH.

    24. Kita harus curiga dengan otak dan pikiran kita.

    25. Cinta mungkin terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadanya, karena cinta darinya bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.

    Source: santrinu
    Santri GUS BAHA’
    #SantriNU

     

  • Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    96372997_2936737383083581_2336329065037824_n

    Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

    cyberaswaja.online- Warga Nahdiyyin Indonesia sudah tidak asing dengan Gus Baha, yang bernama lengkap KH. Ahmad Bahauddin, putra KH. Noer Salim, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an, Narukan, Kragan, Rembang. Kiai Noer Salim sendiri adalah teman akrab Gus Miek atau KH. Hamim Jazuli, Ploso, Kediri. Mereka berdua pendiri Jantiko-Mantab atau Dzikrul Ghafilin.

    Kedekatan Kiai Noer Salim dan Gus Miek karena nasab ayahanda Gus Baha itu memang jalur ulama besar tanah Jawa. Dari garis ibunya, Gus Baha adalah bagian dari keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu. Sedangkan menurut penuturan Kiai Said Aqiel Siradj (Ketum PBNU), garis nasab Gus Baha bersambung pada raja tanah Jawa, Brawijaya V Raja terakhir Majapahit.

    Selain keturunan raja dan ulama Jawa, Gus Baha juga terkenal sangat alim di bidang fikih, hadits, dan tafsir Al-Qur’an. Pria kelahiran 1970 ini sejak kecil sudah menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan langsung ayahandanya, yang memiliki sanad kepada Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam Pati. Kefasihan dan makharijul huruf membaca Al-Qur’an menjadi titik tekan jalan sanad ini. Baru setelah menginjak remaja, Kiai Nur Salim menitipkan Gus Baha kepada Kiai Maimoen Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

    Tahun 2000 atau ketika usia mencapai 33 tahun, Gus Baha mengembara ke Yogyakarta. Beberapa mushalla di Bantul memiliki jamaah yang setia menyelenggarakan pengajian. Kota pelajar itu mengagumi Gus Baha karena keluasan ilmunya yang dibawa dari Pondok Al-Anwar.

    Kealiman Gus Baha di bidang Al-Qur’an mendapatkan apresiasi dari ulama-ulama besar di bidang Al-Qur’an seperti Professor Quraish Shihab, Professor Zaini Dahlan dan Professor Shohib. Bahkan, Professor Quraish Shihab menyebutkan, “Di Tim Dewan Tafsir Nasional, Gus Baha tidak saja dikenal sebagai mufassir tetapi juga mufassir-faqih, yang paham detail aspek hukum dalam setiap ayat Al-Qur’an.”

    Pujian tidak saja datang dari ilmuan senior melainkan juga dari ustadz-ustadz muda milenial. Ustadz Abdul Somad (UAS), misalnya, mengatakan bahwa Gus Baha sebagai Hafidzul Qur’an, ahli tafsir, dan diberikan ilham oleh Allah, banyak gagasan-gagasan baru dari beliau. Selain UAS, Ustadz Adi Hidayat juga mengapresiasi kedalaman ilmu Gus Baha dengan menyebutnya sebagai “manusia Al-Qur’an”.

    Penulis sendiri lebih cenderung melihat Gus Baha sebagai aset Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan. Beliau adalah penjaga turats Islam. Terminologi turats mengacu kepada seluruh khazanah intelektual Islam sejak awal abad Hijriyah hingga perkembangan mutakhir yang sudah berusia 14 abad lebih ini. Tidak banyak ulama muda NU yang berjuang di wilayah turats klasik ini.

    Wacana kembali pada turats sempat dikumandangkan oleh Prof. Dr. Ahmad Thayeb, Universitas Al-Azhar, Mesir, sebagai kekuatan tunggal umat muslim. Karena mayoritas umat muslim sudah mengabaikan urgensi menjaga turats Islam ini, menurut Grand Syeikh Al-Azhar itu, banyak negara Islam dan kampus-kampus Islam di seluruh dunia tertinggal di belakang dibanding Barat. Selalu membebek buta dan terbelalak kagum pada segala pencapaian Barat.

    Di Indonesia, Gus Baha tampil sebagaimana diharapkan oleh Dr. Ahmad Thayeb. Bisa dibilang, Gus Baha adalah representasi ulama Nusantara yang patut diandalkan.

    Belakangan, satu video ceramah Gus Baha mengajak para santri untuk memberanikan diri menjelaskan kepakaran diri mereka, sebagaimana banyak para pekerja profesional, misal dokter gigi, bidan, dan lainnya terang-terangan menjelaskan profesi dan keahlian mereka. Sementara santri, menurut Gus Baha, tidak ada yang berani membuat pengakuan tegas ahli fikih, ahli kitab Fathul Wahhab, dan lainnya.

    Candaan Gus Baha semacam itu adalah ide brilian yang serius, karena menyangkut soal mentalitas kaum santri yang harus percaya diri, bangkit, menyaingi kepercayaan diri kaum akademisi lulusan perguruan tinggi. Gagasan Gus Baha perlu direspon serius karena tidak saja menyangkut persaingan kepakaran dalam bidang ilmu, tetapi juga potensial untuk menyelamatkan publik dari belajar kepada ustadz yang tidak memiliki keahlian dalam bidang agama.

    Agama yang jatuh pada tangan orang yang tidak ahli bukan saja berdampak buruk secara personal melainkan meluas pada urusan sosial dan politik. Sering kali atas nama agama, publik jatuh pada fanatisme, dan ujung-ujungnya proyek politik kekuasaan. Agama selalu dijual setiap 5 tahun sekali, lebih-lebih mendekati pesta demokrasi seperti Pileg dan Pilpres.

    Hanya saja, segala pemikiran dan prestasi Gus Baha tersebut tidak serta merta dapat dinikmati publik yang lintas batas. Hal ini bisa dilihat dari daftar 15 Ustadz-ustadz/Gus-gus yang populer di generasi milenial; suatu generasi baru yang akrab dengan dunia digital, dan memiliki karakter yang jauh lebih sederhana, tidak mau rumit, dan mencari rujukan-rujukan agama yang jauh lebih menghibur. Salah satu buktinya, followers, subscribers, dan viewers Gus Baha kalah jauh dari ustadz-ustadz seperti Khalid Basalamah, Syafiq Riza Basalamah, Firanda Andirja, bahkan di bawah Gus Muwafiq, Gus Miftah, dan Ustadz Yusuf Mansur sebagai representasi NU.

    pandangan penulis, setidaknya ada tiga persoalan utama: Pertama, Selain kedalaman berpikir dan keluasan pengetahuan, dominasi bahasa Jawa menjadi karakter khasnya, Bahasa lokal Jawa seakan menjadi “kerangkeng” dan sekaligus bahan material mendefinisikan komunitas atau jamaah Gus Baha. Audiens yang mendengarkan via media sosial terbatas pada mereka yang berkultur Jawa, setidaknya paham bahasa Jawa, sehingga mau tidak mau terbentuk identitas yang Jawa Sentris. Ini membuat kapasitas intelektual Gus Baha tidak bisa dinikmati komunitas/audiens lintas batas di Indonesia.

    Kedua, tema-tema khazanah klasik yang berat bagi sebagian orang awam, tentu hanya cocok untuk kalangan santri yang sudah mengenyam pendidikan pesantren. Hal ini tidak perlu dipermasalahkan, karena selain jadi kekurangan tapi juga keunggulan. Perlu ada penjaga gawang wacana-wacana turats klasik sekalipun itu susah dicerna publik luas yang jauh dari tradisi pesantren.

    Ketiga, manajemen media sosial yang lemah. Dari berbagai channel yang mendokumentasikan ceramah-ceramah Gus Baha, jumlah subscribers, followers, dan viewersnya kalah bila dibanding beberapa ustadz yang disebut di atas. Hal ini adalah persoalan manajemen media, dan tidak terkait sama sekali dengan profil dan konten ceramah Gus Baha.

    Masalah dominasi Bahasa Jawa dan manajemen media sosial ini perlu segera dipecahkan. Sebagai langkah strategis untuk melebarkan sayap dakwah NU pada umumnya dan untuk meluaskan jangkauan ceramah Gus Baha pada khususnya. Wallahu a’lam bis shawab.

    (Sumber: TRIBUNNEWS.COM dengan beberapa editan yang diperlukan)

    *Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

  • PERANAN TASAWUF UNTUK KEBAHAGIAAN UMAT MANUSIA DAN KESELAMATAN NEGARA

    PERANAN TASAWUF UNTUK KEBAHAGIAAN UMAT MANUSIA DAN KESELAMATAN NEGARA

    Screenshot_215

    cyberaswaja.online – Thariqah merupakan satu sistem pemahaman dan penghayatan serta pengamalan ajaran agama Islam yang bersumber langsung dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril yang disampaikan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW serta berjenjang sanadnya kepada para mursyid dan pengamal Thariqah. Karena itu silsilah Thariqah yang mu’tabarah dan shahihah di semua negara di dunia dapat dikatakan berasal dari sumber yang satu, yaitu Rasulullah SAW, meskipun setiap sanad mursyid Thariqah tertentu hingga sampai Rasulullah SAW bisa sama atau berbeda.

    Sehubungan dengan itu, pada dasarnya mursyid Thariqah atau para pengamal Thariqah antara satu negara dengan negara lain memiliki ikatan spiritual dan emosional, dimana ada seorang mursyid atau pengamal Thariqah di suatu negara memiliki sanad yang sama, atau bahkan bisa saja seorang mursyid di suatu negara memiliki murid Thariqah di beberapa negara lain. Dengan demikian, hubungan mursyid dengan murid tanpa sekat dan melampaui batas-batas ras, suku dan negara.

    Peran strategis lain dari Thariqah, di tengah krisis politik dunia, terutama dunia Islam memiliki visi yang menghendaki terwujudnya sebuah tatanan masyarakat dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah serta menciptakan peradaban dunia yang bermartabat dan berkeadilan.

    Di samping itu, perlu adanya peningkatan upaya konsolidasi internal masing-masing aliran Thariqah se-dunia di tengah derasnya arus modernisasi dan tumbuh suburnya paham-paham sesat menyesatkan yang dapat melahirkan disharmoni di antara masyarakat dunia, khususnya di kalangan umat Islam. Karena itu, peran mursyid sangat strategis dalam memberikan pendidikan dan bimbingan kepada umat dengan pemahaman ajaran Islam yang benar melalui pendekatan dan metode yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW dan as-salaf ash-shalihin.

    Untuk efektifitas dan optimalisasi peran Thariqah tersebut di atas maka dibutuhkan sebuah organisasi Thariqah tingkat dunia sebagai media komunikasi dan konsolidasi dari para mursyid dan pengamal Thariqah untuk merumuskan konsep dan langkah strategis dalam mengembangkan ajaran Thariqah guna menciptakan peradaban dunia dan masyarakat dunia yang damai dan berkeadilan. Karena itu, menjadi sebuah keniscayaan dibentuknya sebuah organisasi Thariqah tingkat dunia yang bertujuan untuk merealisasikan visi dan misi para sufi dalam mengimplementasikan ajaran tasawuf dan Thariqah di tengah masyarakat dunia.(sumber. kumpulan foto ulama’ dan habaib)

  • DEKLARASI HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

    DEKLARASI HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

    102560557_685444312238624_8092535614861213696_n

    1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

    2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

    3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.

    4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

    5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

    Situbondo, 16 Rabi’ul Awwal 1404 H/ 21 Desember 1983 M
    Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama

    SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA
    1 JUNI 1945 – 1 JUNI 2020

  • Nadzom Pancasila oleh keturunan Arab di Purwakarta beraksara Arab Sunda

    Nadzom Pancasila oleh keturunan Arab di Purwakarta beraksara Arab Sunda

    cyberaswaja.online- Keberadaan kampung Arab Yaman adalah sebuah kampung yang didalamnya terdapat sebuah komunitas orang-orang keturunan Arab Yaman yang terletak di Pasar Rebo Purwakarta, yang terletak di Kelurahan Nagri Kidul, mulai.

    Keberadaan orang-orang keturunan Arab Yaman ini berada sejak Abad ke-21, tepatnya pada tahun 1885 orang-orang Arab Yaman mulai berdatangan ke Indonesia melalui kapal uap yaitu melalui jalur laut dan setelah itu menyebar ke kepulauan Indonesia, dan akhirnya menyebar di wilayah-wilayah Indonesia dan sampailah ke Purwakarta.

    Setelah kedatangan orang-orang Arab Yaman ke Purwakarta lalu mereka membuka sebuah perkampungan dan mereka mulai berkembang di Purwakarta, selain berdagang orang-orang keturunan Arab Yaman ini, juga melakukan syi’ar Islam dan perkembangan orang-orang keturunan Arab Yaman ini melalui pernikahan dengan orang-orang pribumi warga Pasar Rebo Purwakarta, dan dari situlah orang-orang keturunan Arab mulai berkembang di Pasar Rebo Purwakarta.
    Dan mulai berbaur dengan orang-orang pribumi.

    Terbentuknya orang-orang keturunan Arab Yaman ini ketika pada abad ke-20 tepatnya pada tahun 1900. Dengan terbentuknya orang-orang keturunan Arab Yaman ini mereka mulai membentuk sarana-sarana keagamaan, perekonomian dan pendidikan.

    Dalam keagamaan, orang-orang keturunan Arab Yaman ini mendirikan Mesjid, yaitu Mesjid yang bernama Ar-Raudlah atau yang dikenal dengan Mesjid Arab. Dalam bidang perekonomian orang-orang keturunan Arab Yaman ini mendirikan sebuah Pasar yang Pasar ini dinamai Pasar Rebo dan sampai saat ini Pasar Rebo menjadi sumber kehidupan bagi warga Pasar Rebo sendiri baik dari luar warga Pasar Rebo.

    Dalam bidang pendidikan orang-orang keturunan Arab Yaman mendirikan sebuah sekolah yang bernama Madrasah Adabiyah Islamiyah yang dimana Madrasah ini sangat berperan bagi orang-orang diluar keturunan Arab Yaman atau bagi orang keturunan Arab Yaman di sekitar Pasar Rebo.

    Warga keturunan Arab di Purwakarta sudah ada sejak zaman perjuangan silam. Hingga kini, jumlah warga Purwakarta keturunan Arab yang merupakan penduduk Purwakarta berjumlah sekira 5.000 orang. “Secara umum, orang Arab di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan dengan di negaranya sendiri,” katanya. Warga Purwakarta keturunan Arab itu sendiri mayoritas bermarga “Bajri”, diperkirakan jumlahnya mencapai 85 persen. Sedangkan sisanya yang 15 persen bermacam-macam marga, di antaranya ialah Hilabi (Zaidi), Alatas, Aljufri, Alhabsyi, Assegaf, Alhadad, Joban, dan lain-lain.

    Ditemukannya kitab Nadzom Pancasila yang menurut keterangan terbitan Oktober 1985 ini berisi tentang kaidah penjelasan Pancasila “ini nadzom berisikan dasar negara Indonesia yang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadis”. Keterangan yang terdapat di cover kitab tersebut, dan keterangan diterbitkan oleh penerbit Joban Purwakarta.(red)

  • 9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    Generasi-Shalahuddin-Al-Ayubi-1280x720

    SALAHUDDIN AL AYYUBI

    Dunia mengenalnya sebagai salah satu tokoh pemimpin terbesar. Dialah juga merupakan salah satu tokoh terbesar dalam Perang Salib. Namanya dikenal luas takkala ia dapat menaklukkan kerajaan Jerusalem yang ketika itu dipimpin oleh Guy The Lusignan Raja Jerusalem. Pasukan Shalahuddin dikenal sebagai pasukan yang pemberani dibawah pimpinannya. Bernama lengkap Salahuddin Al-Ayubi yang dikenal didunia barat sebagai Saladin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

    1490682815170
    ABDULLAH BIN AAMIR

    Abdullah bin Aamir (bahasa Arab:عبدالله بن عامر ) adalah gubernur Busrha (647–656) dan merupakan jenderal militer yang sangat sukes pada masa pemerintahan Khalifah Rasyidin Utsman bin Affan. Dia dikenal atas kehebatannya dalam administrasi dan militer.

    Screenshot_201
    AMR BIN ASH

    Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamanatinya untuk menaklukkan Mesir, dan dia berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

    Screenshot_202
    TARIQ BIN ZIYAD

    Thariq bin Ziyad (670 – 720) (Bahasa Arab: طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto(Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

    Screenshot_203
    SYURAHBIL BIN HASANAH

    Adalah sahabat Muhammad. Dia merupakan salah satu komandan tersukes dalam pasukan Rasyidin, bertugas di bawah Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dia merupakan salah satu komandan lapangan utama selama penaklukan Muslim di Suriah, bertugas sejak tahun 634 hingga kematiannya pada tahun 639 akibat wabah.

    Khalid-bin-Walid-Panglima-Perang-yang-Dipecat-Karena-Tak-Pernah-Berbuat-Kesalahan-1
    KHALID BIN WALID

    Khalid ibn al-Walid, atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya. Dibawah kepemimpinan militernya lah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu, Kekhalifahan.

    Mengkomandani pasukan muslim yang baru, dia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran termasuk melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah. Pencapaian strategis dia ialah penaklukan Arab, Persia Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya ialah kemenangan telak pada Pertempuran Yamama, Pertempuran Ullais dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktis pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

    57990_09461711092019_muhamad_al_fatih
    MUHAMMAD AL FATIH

    Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

    Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

    Screenshot_204
    SA’AD BIN ABI WAQQASH

    Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

    Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

    Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.

    12-1
    ABU UBAIDAH BIN ALJARRAH

    Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal disebabkan oleh wabah penyakit.