Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • FPI MATI MATIAN BELA BAHAR SMITH

    FPI MATI MATIAN BELA BAHAR SMITH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI–Kasus dan masalah yang menimpa Bahar Smith masih saja terus dipolitisasi oleh kelompok sebelah.

    Padahal akar masalahnya ada di Bahar Smith itu sendiri. Tampil menggebrak dengan menyerang pemerintah, menghina presiden, hingga menganiaya dua bocah karena namanya dicatut. Yang lebih hebat lagi adalah, orang ini dianggap sebagai habib. Habib atau ulama, yang harusnya memberikan contoh yang baik, malah melakukan tindakan tidak berperikemanusiaan terhadap dua bocah.

    Dibebaskan dari penjara karena program asimilasi, Bahar malah membuat kerumunan massa hingga kepolisian memutuskan untuk menahan Bahar kembali. Seolah masih belum kapok juga, simpatisan Bahar bahkan membuat kekacauan dan gangguan keamanan hingga merusak pagar lapas, sehingga Bahar kembali diungsikan ke lapas di Nusakambangan. Ini adalah hadiah beruntun untuk Bahar dan pendukungnya yang arogan dan banyak tingkah.

    Akan tetapi, Bahar yang merupakan tokoh FPI, pastilah akan mendapatkan dukungan dari kelompoknya. Meski salah, tetap saja akan dibenarkan dan dianggap sebagai korban. Kelompok ini memanh pintar melontarkan narasi dizalimi. Berbuat salah tapi merasa tidak bersalah.

    Para ulama dari organisasi musyarakat seperti FPI, GNPF, PA 212 hingga MUI DKI mengecam pencabutan asimilasi yang didapat oleh Bagar Smith serta penangkapan yang dinilai berlebihan.

    Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan, pencabutan asimilasi tersebut adalah merupakan bentuk arogansi kekuasaan terjadi terhadap umat Islam dan tokoh yang kritis terhadap negara. “Kami melihat bahwa alasan sesungguhnya pencabutan status asimilasi tersebut bukan semata pelanggaran PSBB, tapi dikarenakan Habib Bahar bin Smith menyatakan akan tetap melakukan perlawanan terhadap rezim zalim,” kata Slamet Maarif.

    Menurut dia, pelanggaran PSBB sebenarnya juga dilakukan oleh para pejabat negara dengan melempar bantuan sosial di pinggir jalan, mengadakan konser, membuka jalur transportasi, membiarkan mal beroperasi dan membuka pintu bagi tenaga kerja asing, khususnya China.

    “Justru semua pembiaran ini yang jelas-jelas 100 persen melanggar PSBB,” katanya.

    Yah, dasar pakar cocoklogi murahan. Bahar kan masih dalam program asimilasi. Tanpa asimilasi ini, Bahar wajib jalani hukuman di penjara. Dibebaskan malah langgar PSBB dan pendukungnya bikin onar. Jadi wajar dong, Bahar dipindahkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh pendukungnya yang bodoh dan arogan itu.

    Kemudian, mereka menilai kondisi makin parah saat penangkapan Bahar Smith pada dini hari dan pemindahan ke Lapas Batu Nusakambangan tanpa diberitahukan kepada pihak keluarga dan kuasa hukumnya, serta akses keluarga dan kuasa hukum yang dibatasi untuk menjenguk.

    “Kami mendesak agar pihak-pihak dan pejabat yang sedang menjalankan agenda anti Islam segera mengembalikan status Habib Bahar bin Smith dalam kondisi semula yaitu status asimilasi,” ucap Slamet.

    Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, mereka mengajak seluruh umat Islam untuk melakukan pembangkangan sipil terhadap seluruh kebijakan pemerintah.

    Seruan ini dilayangkan oleh berbagai pimpinan ormas Islam seperti PA 212 Slamet Ma’arif, An Nashr Institute Munarman, DPP FPI Shabri Lubis, GNPF-Ulama Yusuf M Martak, HRS Center Abdul Chai Ramadan, dan sejumlah pimpinan lainnya.

    Perlu diklarifikasi dulu. Pemerintah tidak anti Islam. Pemerintah tidak anti ulama. Hanya mereka yang sakit hati, yang ngaku-ngaku ulama, yang dipaksakan jadi ulama serta yang mengaku mewakili umat, itulah yang sering bikin ribut dan memperkeruh suasana.

    Apa maksud mereka mengajak dan menghasut orang lain untuk membangkang? Bukankah ini termasuk upaya untuk mengganggu keamanan dan ketertiban nasional? Dengan keinginan dan upaya tersebut, bukankah kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk ditindak tegas karena, bukan cuma satu kali, tapi sudah berkali-kali berusaha untuk mengganggu pemerintah dengan narasi, provokasi dan hasutan yang sifatnya mengganggu? Mau sampai kapan kelompok ini dibiarkan? Sampai berkembang biak di luar kendali hingga tak mampu lagi dikendalikan?

    Saya selalu percaya dengan prinsip ini. Selagi masalah masih kecil, atasi sesegera mungkin. Karena kalau masalah sudah membesar dan tak terkendali, kita seperti kalah jadi abu menang jadi arang. Masalah tetap dibiarkan, kita game over. Mau atasi pun, kita tetap setengah mati dan berdarah-darah. Dua-duanya bukan kondisi yang bagus. Inilah yang akan terjadi kalau kelompok penjual surga macam FPI dan PA 212 dibiarkan membangun panggung politik.

    Bagaimana menurut Anda?

    (Sumber seword.com)

  • Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    SORBANSANTRI.COM
    Sumber Gambar: tempo.co

    JUMLAH KORBAN KONFLIK PKI

    Aksi pemberontakan dan kekerasan yang dilakukan PKI menimbulkan konflik Horizontal kala itu, PKI yang melakukan pembantaian dan membuat onar dibanyak tempat pun akhirnya mendapatkan Perlawanan dari Masyarakat yang Non PKI. Banyak orang-orang PKI pun diburu oleh masyarakat yang sudah jenggah dengan kekejaman yang mereka lakukan. Dalam konflik PKI dan Masyarakat ini pun cukup banyak menelan korban jiwa, namun perkiraan jumlah korban jiwa yang muncul pun ternyata ada perbedaan antara pandangan pihak dalam negeri dengan pandangan pihak-pihak diluar negeri. Perhatikan tabel berikut ini:

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Jumlah korban yang diperkirakan oleh Tim Pencari Fakta sendiri tidaklah terlalau dramatis, begitu juga pengakuan kalangan PKI sendiri yang menjadi korban. Sudisman dari PKI memperkirakan korban sebanyak 150.000. bahkan ia memperkirakan tidak lebih dari 50.000. Begitu juga jumlah yang dipercaya Bung Karno yang memperkirakan jumlah korban sekitar 60.000. Perkiraan ini berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada Desember 1965. Ketika diadakan penyelidikan lanjutan ditemukan korban 87.000. Bahkan setelah dilakukan penyelidikan dengan cermat menemukan jumlah korban di daerah yang paling gawat yaitu Jombang dan Kediri berkisar antara 11.256 sampai 17.260 orang korban. Diperkirakan jumlah korban di daerah lain lebih  kecil dari jumlah itu.
    Hal ini berbeda dengan data yang disajikan oleh pihak Asing yang angkanya sangat fantastis. Jumlah korban PKI yang diperkirakan oleh pihak pengamat dan politisi dan media Asing (Barat) sedemikian besar. Tak urung besarnya jumlah yang mereka lansir itu membuat heboh masyarakat Barat dan masyarakat Indonesia sendiri. Berbeda dengan jumlah yang diperkirakan bangsa Indonesia baik para pelaku maupun korban yang pada umunya lebih proporsional. Sebaliknya kalangan Barat menyuguhkan perkiraan yang sangat spektakuler. 
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Bayangkan orang yang selama ini terlanjur dipercaya pendapatnya seperti Ben Anderson memperkirakan jumlah korban PKI antar 500.000 hingga 1.000.000 orang. Sebuah perkiraan yang angat mustahil dan dinilai sangat fiktif. Tetapi karena reputasi akademiknya selama ini maka data fiktif tersebut cenderung dipercaya, bahkan menjadi rujukan para peneliti sesudahnya. Hal itu mempengaruhi opini publik baik kalangan cendekiawan maupun jurnalis.
    Penggelembungan jumlah korban PKI yang dilakukan para penulis Barat itu ketika dicek ke lapangan oleh Hermawan Sulistyo terdapat banyak kejanggalan ketika dikonfrontasi dengan data demografis di lapangan. Menurutnya korban yang berkaitan dengan karyawan Pabrik Gula di beberapa tempat di Jawa Timur itu terdata dengan rapi, dan itu jumlahnya hanya belasan hingga puluhan orang saja. Begitu pula daerah yang mayoritas penduduknya PKI penduduknya tidak berkurang secara signifikan. Tetapi dramatsasi jumlah korban PKI itu telah dipercayai banyak orang dan menimbulkan rasa simpati pada PKI, kemudian menyalahkan pelaku baik NU maupun TNI, tanpa mau peduli terhadap kesalahan dan kekejaman PKI selama ini.
    Dramatisiasi jumlah korban dari PKI ini menjadi komoditas politik yang sedang dijajakan di pasar opini internasional. Selain itu para politisi asing dan peneliti asing tidak pernah mengungkap jumlah korban para ulama dan rakyat yang dibantai oleh PKI baik selama peristiwa Madiun 1948 apalagi peristiwa sepanjang tahun 1950 hingga tahun 1968 yang dilakukan PKI terhadap rakyat Indoneisa baik terhadap NU maupun kelompok lainnya termasuk terhadap tentara ini juga tidak pernah diungkap.
    KETIKA PESANTREN JADI TARGET PKI

    PKI Tak segan melibas siapa saja yang mereka anggap sebagai batu sandungan gerakan mereka, tak cuma menyerang aparat seperti kantor Polisi, kantor tentara, dan kantor pemerintahan, PKI juga membidik Pesantren sebagai target. Hal ini bukan tanpa alasan, karena saat era penjajahan Pesantren memang sebagai basis gerakan Islam untuk melawan Penjajah, Pesantren yang mengajarkan cinta kepada tanah air juga dianggap sebagai duri yang bisa menghalangi gerakan mereka, belum lagi banyak tokoh agama yang saat itu begitu Vokal melakukan penolakan terhadap PKI juga menjadi dasar penargetan Pesantren selain Aparat Keamanan dan Birokrat.
    SORBANSANTRI.COM
    Gerbang Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran – Magetan. (sumber gambar: skycrapecity.com)

    Untuk menghadapi kekuatan pesantern itu PKI memiliki slogan tersediri yaitu “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati !” (Pesantren Reot, Musholla Bubar, Santri Mati), Ternyata slogan itu bukan sekadar gertakan, tetapi benar-benar dilaksanakan. Sementara strateginya adalah teror, tangkap dan bantai. Penculikan terhadap para pimpinan pesantren yang selama ini aktif dalam perjuangan Kemerdekaan telah dimulai. Para kiai yang mengajarkan agama dan cinta tanah air itu dianggap menghambat agenda PKI karena itu harus disingkirkan.Ponpes Sabilil Muttaqien salah satu Pesantren Unggulan yang berada di Takeran – Magetan Jatim pada 17/9/1948 digeruduk oleh segerombolan PKI yang telah mengepung pesantren dengan baju serba hitam dan ikat kepala merah yang dipimpin Suhud seorang camat PKI. Mereka mencari Pengasuh Pesantren yakni KH. Imam Mursyid yang juga pemimpin Tarekat Syatariyah untuk diajak berunding, namun sayang itu cuma siasat PKI yang ingin menculik sang Kyai. Seusai Sholat Jum’at sang kyai pun dibawa PKI ke Gorang-Gareng, Mulanya KH, Imam Mursyid tidak mau ikut, tapi akhirnya sang kyai menyerah dan ikut dengan PKI, sebab jika melawan diancam pesantrennya akan dibakaar, santri dan keluarganya dihabisi. Kiai Musyid turut berjasa membantu KH. Wahid Hasyim angota BPUPKI merumuskan konsep Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Mukadimah UUD 1945. Karena itu Mukadimah UUD 1945 itu sangat bernuansa religius suatu hal yang tidak disukai PKI.

    Salah satu yang ikut menjemput KH. Imam Mussyid adalah Ilyas/alias sipit yang ternyata pernah jadi santri KH. Imam Musyid, jauh-jauh hari KH. Imam Mursyid sempat berujar jika dirinya tak lagi percaya dengan Sipit karena sudah tak pernah sholat lagi. Ketika dibawa PKI seorang santri mengajukan diri untuk ikut menemani sang kyai, namun sayang Semenjak itu KH. Imam Mursyid tak pernah kembali ke Pondok.

    SORBANSANTRI.COM
    kampanye PKI kala itu (pinterest.com)

    Dua hari berselang yakni pada minggu 19/9/1948 seorang kurir PKI datang ke Pesantren dengan membawa pesan KH. Imam Mursyid masih belum bisa pulang dan perundingan itu memerlukan kehadiran KH. Muhammad Noer (sepupu KH. Imam Mursyid). Tak cukup sampai disitu, kurir PKI kembali datang membawa pesan jika KH. Imam Mursyid dan KH. Muhammad Noer baru bisa pulang jika dijemput Ustad Turmudji (adik KH. Imam Mursyid). Mendengar kabar jika dirinya dicarai PKI Ustad Turmudji pun memilih menyelamatkan diri, meski tak menemukan Ustad Turmudji PKI justru melakukan penangkapan terhadap ustad-ustad di Pondok Sabilil Muttaqien termasuk menangkap ustad Pondok yang berasal dari Mesir. Keseluruhan kyai dan Ustad yang dibawa PKI dari Pesantren Sabilil Muttaqien ada 14 orang. Selepas itu mereka semua tidak pernah kembali ke Pondok dan malah ditemukaan menjadi mayat di sumur-sumur Pembantaian milik PKI yang ada di wilayah Magetan termasuk sumur maut di Pabrik Gula Gorang-Gareng Magetan.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Monumen yang dulunya menjadi sumur maut tempat pembantaian oleh PKI di Magetan. (idealoka.com)

    Pesantren lain seperti Pesantren Burikan Magetan juga tak luput dari serbuan PKI. Pada Sabtu 18/9/1948 Pesantren Buikan dibakar oleh FDRPKI sementara kiainya ditangkap seperti Kyai Keang, Kyai Malik dan Mulyono semuanya dibantai dan dimasukkan lubang pembantaian yang sudah mereka siapkan di daerah Batokan. Harta benda mereka di rampas, berbagai kitab dibakar, sehingga santri bubar, menyelematkan diri kembali ke kampung halaman masing-masing, atau mengungsi ke daerah lain. Hal itu membuat pesantren semakin sepi dan keluarga pesantren tidak mendapat penjagaan yang ketat dari para santri. Penjagaan hanya dilakukan oleh keluarga kiai dan tetangga terdekat, sehingga posisi para kiai sangat terancam.

    Lain lagi dengan cerita KH Sulaiman Zada karena santrinya sudah lama mengungsi, maka dengan mudah ditangkap gerombolan PKI, karena tidak melakukaan perlawanan maka Pesantren dibiarkan berdiri, walaupun santrinya sudah lama meliburkan diri sejak Madiun dilanda pemberontakan. Namun demikian nasib sang Kia dengan keluarganya tidak bisa terselamatkan di bawah pembantaian kelompok komunis yang sengaja ingin membumihanguskan pesantren sebagai basis gerakan Islam yang menghalangi ekspansi PKI. Baru beberapa tahun kemudian jenazahnya ditemukan. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 17-19, 48-51). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.
  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    SORBAN SANTRI – Berita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.

    NU PINDAHKAN KANTOR PUSAT DI MADIUN

    Sejak dikeluarkannya peringatan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1947 kala Muhtamar NU-17 di Madiun, kalangan NU sendiri selalu siaga terhadap serbuan PKI, tetapi mengingat besarnya kekuatan PKI maka sulit dibendung. Selama masa revolusi itu kantor pusat PBNU pun sengaja dipindahkan dari Surabaya ke Madiun sehingga kesibukan para tokoh NU terpusat di Madiun. Selepas Muhtamar NU-17 Madiun, KH Wahab Hasbullah seorang Pemimpin Besar NU ditugaskan untuk mengkonsolidasi NU dan Barisan Sabilillah se Jawa. Pertemuan ini sebenarnya untuk menghadapi agresi Belanda tetapi juga sekaligus membentengi Indonesia dari komunis, yang sudah merajalela di mana-mana.
    SORBANSANTRI.COM
    dari kiri : KH. Bisri Sansyuri – Hadratus Saikh Hasyim Asy’ari- KH. Ahmad Dahlan
    Pertemuan yang dihadiri petinggi NU dan pimpinan Sabilillah se Jawa tersebut diselenggarakan di kota Ngawi yang jaraknya sangat dekat dengan Madiun, Pertemuan itu digagas guna mengumpulkan kekuatan NU untuk menghadapiagresi Belanda ke-2 hingga menghadapi propaganda PKI yang semakin masif melakukan aksinya. Para kiai mendapatkan tugas beragam, seperti KH Yusuf Hasyim (putra KH. Hasyim Asyari) mendapatkan tugas mengkonsolidasikan para ulama Pesantren yang ada di sekitar kota Madiun. Bersamaan dengan dilaksanakannya pertemuan antara pemipin NU dan Pimpinan Hisbullah Sabilillah itu terjadilah peristiwa Kudeta berdarah di Madiun. Pertemuan itu langsung ditutup seluruh peserta disuruh segera kembali ke daerah, masing-masing untuk jihad menghadapi PKI. Untuk bisa keluar dari Ngawi juga sangat susah, tetapi karena semuanya telah belajar strategi dan taktik bertempur di Cibarusa selama masa penjajahan Jepang, maka merka bisa keluar dari ngawi dengan selamat. Termasuk Kiai Wahab sendiri sebagai tokoh terkemuka NU yang wajahnya sangat mudah dikenali, ketika kembali ke Surabaya harus melewati Madiun. Gara bisa menembus blokde PKI dengan selamat, maka Kiai itu berhasil keluar dari Ngawi bahkan melewati Madiun dengan selamat sampai ke Surabaya dengan menyamar sebagai orang biasa, sehingga bisa menyelamatkan diri dari sergapan PKI.
    PKI UNJUK KEBOLEHAN JUMLAH MASSA
    Dalam beberapa kesempatan untuk menyongsong tahun 1955 (Event Pemilu pertama Indonesia) PKI mulai melakukan konsolidasi dan rapat umum terbuka di berbagai pelosok negeri terutama di daerah-daerah yang dekat Basis mereka di Madiun Jawa Timur. Bebererapa kali PKI menggelar kegiatan Rapat Umum dengan menghadirkan Puluhan Ribu Massa, hal ini nampaknya sengaja dilakukan PKI untuk memperlihatkan jumlah mereka di Indonesia kala itu. Padahal tidak semua yang hadir di acara PKI adalah orang PKI, banyak juga masyarakat umum yang di mobilisasi dan dipaksa untuk ikut menghadiri acara PKI. Karena jika tidak mau keselamatannya terancam para warga pun terpaksa mengikuti saja ajakan itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar: Pinterest.com

    Sebagai puncak dari semua manuver dan provokasi tadi adalah diselengarakannya rapat umum yang dihadiri langsung oleh Muso maupun Amir Syarifuddin pada bulan Agustus tahun 1948 di beberapa tempat seperti Madiun, Trenggalek dan juga di kota kota lain di sekitar Jawa Timur –Jawa Tengah, sebagai strategi PKI untuk show of forceterhadap kekuatan mereka untuk menguasai Republik Indonesia. Semua tokoh PKI setempat dan daerah serta dari CC-PKI hadir dalam rapat umum yang dihadiri puluhan ribu orang. Tetapi bukan semuanya PKI, sebagian masyarakat desa yang tidak tahu-menahu urusan politik tetapi dimobilisasi secara paksa oleh PKI. Mereka ikuti saja kehendak PKI, kalau mereka menolak jiwa mereka akan terancam. Dengan demikian kekuatan PKI kelihatan sangat besar sehingga bisa menggetarkan lawan.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI Musso (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM
    Tentara FDR PKI (historia.id)
    Suatu ketika KH Yusuf Hasyim (anak KH. Hasyim Asyari) melakukan konsolidasi barisan kiai NU di Kota Madiun, kota itu terlihat sangat lengang, warga menghindarkan diri supaya tidak bertemu dengan tentara FDR-PKI terutama dari unsur Pesindo yang sangat agresif. Mereka berkeliaran ke seluruh sudut kota dan desa dengan seragam serba hitam dengan selendang merah bersenjata api atau pedang, siap membunuh dan merampas siapa saja yang ditemui. Pasukan keamanan baik Tentara maupun Polisi sendiri kelihatan sudah kewalahan mengatasi keadaan, sehingga kelompok PKI leluasa melakukan teror dan penindasan. Saat itulah para Kiai yang dikunjungi menyarankan agar K Yusuf Hasyim segera meninggalkan Madiun karena takut bertemu dengan tentara FDR-PKI . Kiai Yusuf Hasyim berhasil keluar dari Madiun dengan selamat, kemudian mendengar kabar para kiai yang kemarin di kunjungi sudah menjadi syuhada dibantai oleh PKI.
     PROKLAMIRKAN NEGARA SOVIET MADIUN, PKI BANTAI BIROKRAT
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI 1948-1965

    Untuk memperluas pengaruh Front Demokrasi Rakyat (FDR) PKI serta untuk mempersiapkan kader-kader militan PKI, PKI Menyusun siasat untuk mengambil alih karesidenan Madiun dan beberapa daerah disekitarnya untuk di jadikan Negara Komunis. Setelah situasi sudah dianggap matang maka FDR yang berada di Kota Madiun yang dipimpin oleh Soemarsono pada tengah malam sekitar jam 24.00 WIB pada 18 September 1948, memproklamasikan pemerintahan baru yang disebut sebagai Pemerintah Front Nasional, sebagai lawan dari Pemerintah Republik Indonesia, hal itu merupakan cikal bakal berdirinya negara komunis yang dinamakan Negara Soviet Madiun.
    Gerakan ini dimulai dengan menyerbu ke markas Tentara, ke kantor Polisi, setelah pasukan keamanan itu dilumpuhkan baru menyerang perkantoran pemerintah. PKI menjebol berbagai penjara yang ada daerah basisnya untuk membebaskan para aktivis PKI dan penjahat kriminal lainnya yang ditahan aparat kepolisian. Kelompok itulah yang kemudian direkrut sebagai kekuatan PKI dalam melakukan serangan terhadap lawannya. Dengan disemangati balas dendam pada polisi dan aparat negara lainnya, mereka terus melakukan penangkapan dan pembantaian kepada siap saja yang dianggap menghalangi gerakan mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    (sumber gambar: Merdeka.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Monumen Surjo di Ngawi (musabab.com)

    Setelah posisi mereka kuat di karasidenan Madiun lalu PKI menuju sasaran utama yakni merebut Kantor Residen Madiun serta instansi pemerintah lainnya. Saat itu Residen Madiun Mr. Samadikun kebetulan tidak ada di Madiun, karena sedang bertemu dengan pemerintah RI di Yogyakarta, maka selamatlah ia dari pembunuhan. Sementara wakilnya yaitu Patih berha sil ditangkap dan dibunuh pemberontak. Demikian juga nasib yang dialami pimpinan daerah seluruh Karesidenan Madiun seperti Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dilakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah, para bupati, patih, wedono dan para asistennya ditangkap dan dibunuh. Pejabat tinggi yang menjadi korban peristiwa ini adalah R. Soerjo Gubernur pertama Jawa Timur yang ditelanjangi dan dibunuh oleh PKI dengan tangan dan kaki terikat, PKI juga membunuh 2 personel Polisi yang saat itu menemani R. Soerjo mereka adalah Kombes M. Doerjat (Kapolda Jatim saat itu) dan Kompol Soeroso, rombongan para Birokrat / pejabat pemerintah daerah yang sedang melewati Ngawi juga dijegat dan dibantai oleh PKI yang jenazahnya dilempar ke tepi Bengawan Solo.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar; agustusl.blogspot.com

    Sebagai langkah lanjutan dari kudeta berdarah itu PKI yang bukan pemerintah resmi melakukan penggantian kepala pemerintahan, sebagai Residen untuk menggantikan Mr. Samadikun ditunjuklah Abdul Muthalib sebagai Residen, dia seorang tokoh Pesindo bekas Wakil Residen Surabaya. Kemudian Soemarsono pemimpin pemberontak ditetapkan sebagai Gubernur Militer, sementara wakilnya adalah Soepardi bekas Walikota Madiun, Komandan Militer dipimpin oleh Kolonel Joko Sujono yang sejak awal mendampingi pimpinan pemberontak Soemarsono. Demikian juga seluruh kepala jawatan di seluruh jajaran diganti dengan orang-orang PKI, sehingga daerah Madiun dan sekitarnya sepenuhnya betul telah dikuasai PKI dan di situlah mereka melakukan pembantaian terhadap orang-orang non PKI. Secara serentak beberapa pimpinan derah yang dikuasasi PKI diganti dengan orang-orang PKI seperti di Ngawi, Blora, Pati dan sebagainya. Ketika kelompok FDR pimpinan Soemarsono telah menguasasi Madiun dan sekitarnya barulah pada 19 September 1948 pimpinan tertingi FDR Muso dan Amir Syarifuddin masuk ke Madiun dengan disambut meriah oleh para pemberontak seraya meneriakkan “Menang Perang!”. Di tengah gerombolan pemberontak itulah Muso segera memberikan pernyataan terbuka yang disiarkan oleh Radio Front Nasional yang ditujukan pada seluruh rakyat Indonesia:

    “Pada tanggal 18 September 1948 Rakyat Daerah Madiun telah memegang kekuasaan negara dalam tangannya sendiri. Dengan begitu rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban Revolusi Nasional ini, bahwa ia seharusnya dipimpin oleh rakyat sensdiri dan bukan oleh kelas lain. ….Mereka sewaktu pemerintahan pendudukan Jepang menjadi quisling-quisling budak Jepang, tukang jual Romusa. Sekarang mereka akan menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi pada imperialis Amerika.
    Lupakan Soekarno cs bahwa ia telah membantu dan mengesahkan kejahatan Siliwangi dan kaum teroris itu???. Apa maksud Soekarno Cs ex pedagang Romusa telah melepaskan penjahat-penjahat Trotskis Tan Malaka Cs yang telah mencoba merobohkan kepresidenannya. Dalam tiga tahun ini teranglah pula bahwa Soekarno Hatta ex Romusa Verkopers, quisling telah menjalankan politik kapitula si terhadap Belanda…….Bolehkan orang semacam itu bilang bahwa mereka mempunyai hak yang sah untuk memerintah Republik Indonesia Kita ??? . Bukan Soekarno bukan Hatta yang melawan Belanda , Inggris dan Amerika, tetapi rakyat Indonesia sendiri” Ujar Musso

    Dengan seruan Muso yang tegas itu maka kalau selama ini PKI telah melakukan berbagai teror dan ancaman, tetapi sejak dicetuskannya Negara Soviet Madiun itu betul-betul melaksanakan apa yang diancamkan selama ini, yaitu melakukan pembunuhan. Sebenarnya kalangan pesantren dan aparat keamanan baik kepolisian maupun TNI telah mengetahui gelagat PKI itu untuk memberontak, tetapi karena semuanya dilakukan dalam waktu cepat dan mendadak, maka serangan tidak sempat ditangkis akhirnya memakan banyak korban.

    BUNG KARNO MEMBALAS SERUAN MUSSO
    SORBANSANTRI.COM
    Pasukan Divisi Siliwangi (historia.id)

    Pemberontakan yang terjadi di Madiun itu segera direspon oleh pemerintah pusat. Melihat langkah inkonstitusional pengambilan kekuasaan yang dilakuakn PKI yang disertai dengan kekejaman itu pemerintah pusat yang berada di Yogayakarta di bawah pimpinan Soekarno Hatta segera bersikap. Kemudian saat itu juga mengeluarkan kecaman dan sekaligus siaran kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak terkecoh oleh ajakan pemberontak dan setia menjaga pemerintahan dan bersatu padu merebut kembali Madiun:

    “Kemarin pagi PKI Muso mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana pemerintah Soviet di bawah kepemimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia. ……. Atas nama perjuangan untuk Indonesia merdeka aku berseru kepadamu. Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami cobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri dan adalah memilih di antara dua; Ikut Muso dengan PKI nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesai merdeka atau ikut Soekarno/Hatta yang Insya’allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia yang Merdeka tidak dijajah negara apapun juga. Rebut kembali Madiun, mari jangan ragu, Insyaallah kita pasti Menang.” Seruan Bung Karno saat itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Laskar Hisbullah dan Sabilillah Yang didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah. Sumber: republika.co.id & historia.id

    Sebagai pemerintah yang sah dan sebagai presiden yang dicintai dan ditaati maka rakyat dan kalangan TNI memilih Soekarno dan melawan Muso. Karena itu Seruan Presiden Soekarno itu langsung dijalankan dengan melakukan orasi penumpasan PKI dengan mengerahkan Divisi Siliwangi yang saat itu sedang hijrah berada di Yogyakarta, serta didukung oleh pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang berada di Yogya pula. Seruan presiden itu kemudian dicetak dijadikan pamflet yang disebar melalui udara ke berbagai daerah yang diduduki oleh PKI. Seruan presiden itu menyadarkan banyak kelompok yang tertipu oleh Muso. Akhirnya mereka sadar, ternyata mereka bukan diajak melawan Belanda tetapi melawan pemerintah yang sah melawan Bung Karno pemimpin Besar yang mereka cintai. Akhirnya mereka enggan ikut FDR PKI, mereka mulai berbalik melawan PKI untuk membela Bung Karno. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 43-48). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya

    Di tengah situasi di mana birokrat dan pejabat pemerintah menjadi sasaran penangkapan dan pembunuhan, kebutuhan akan administrasi dan dokumentasi yang efisien kini banyak mengandalkan perangkat lunak resmi dengan prosedur aktivasi seperti yang disediakan oleh www.kmspico.lc untuk memastikan kelangsungan operasional.

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Beberapa hari ini media sosial Facebook dibuat heboh dengan sebuah video viral yang menyebutkan jika ada sebuah toko retail di Palembang yang menjual sebuah stiker berlambang Palu Arit (kumparan.com), dan siapa sangka jika pada 23/5/2020 kemarin merupakan 100 tahun PKI berdiri di negeri ini (republika.co.id). Hal ini pun mengundang keprihatinan kami, dimana cerita-cerita soal PKI dulu sering saya dengar dari orang-orang tua di kampung saya yang menyebut bahwa PKI ini Partai yang menghalalkan segala cara dan kerap membuat resah masyarakat pada jamannya. Dan karena nya PKI kemudian diburu oleh masyarakat banyak hingga akhirnya partai ini pun dibubarkan pemerintah, dan faham komunisme dilarang di negeri kita tercinta ini.

    Namun sayang, adanya toko yang menjual stiker bergambar logo PKI baru-baru ini cukup membuat banyak orang miris, dan disini kami ingin menyampaikan cerita soal PKI versi NU (Nahdhatul Ulama). Karena saat kita bicara PKI, dewasa ini saya banyak melihat beragam versi yang muncul di blog-blog pribadi hingga di media sosial, yang konteksnya saya rasa sudah berbumbu politik, dimana pembahasan PKI acapkali menyerempet tokoh Soekarno (Orde Lama) dan Soeharto (Orde Baru). Maka dari itu, saya ingin menyajikan cerita PKI ini dari Versi NU. Dan Bostingan ini akan saya buat beberapa bagian, tulisan ini semata-mata kami sajikan untuk memperbanyak tulisan mengenai sejarah PKI di dunia digital, selamat membaca.

    PROPAGANDA PKI DI PEKALONGAN YANG GAGAL
    Dalam melakukan kegiatannya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibantu oleh beberapa Ormas Undergrow mereka untuk bisa memuluskan beragam agenda yang mereka buat. dan ormas-ormas undergrow dari beberapa partai yang ada di Indonesia kala itu (tahun: 1940-1960an) bisa sahabat lihat dibawah ini.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Berjudul Benturan NU – PKI

    Pada tahun 1945 diawal kemerdekaan, Walaupun posisinya masih lemah dan masih ilegal tetapi PKI mulai beringas berani menyerang pejabat pemerintah dan tempat ibadah, sebagaimana dilaporkan oleh KH Muhammad Ilyas selaku Konsul NU Kawasan Utara Jawa kepada PBNU:

    “Revolusi Pekalongan gara-gara (orang) dari negeri Porworejo bernama Sarjoyo, Ia datang ke Pekalongan memproklamasikan dirinya sebagai residen Pekalongan. Lalu memproklamasikan Pekalongan menjadi Soviet, komunis. Dikobarkan di tiga kabupaten yaitu Tegal, Pemalang dan Pekalonmgan. Bukan main perilaku orang komunis yang di luar batas itu, baik ucapannya maupun perbuatannya, serambi masjid dikencingi, haji-haji diteriaki agen Arab, kiai-kiai dikatakan penipu. Pekik Merdeka diganti dengan pekik .. Soviet.
    Untung Alhamadulillah Pekalongan yang terkenal fanatik Islam, kalau martabat agamanya dinodai, rakyat berbondong-bodong menjadi barisan manusia yang menyerbu rumah bupati dan pejabat komunis sambil mengarahkan bambu runcing mereka ke sasaran dan menyerukan yel yel Merdeka…Merdeka.. ya Merdeka.” Tulis laporan KH. Muhammad Ilyas kepada PBNU saat itu.

    PKI selalu memanfaatkan peluang apapun untuk merebut kekuasaan, dan sarana agama baik masjid, pesantren atau langgar (Musholla) selalu menjadi sasaran serangan mereka. Karena mereka menganggap tempat ibadah itu sebagai pusat simpul gerakan Islam. Meskipun provokasi mereka di daerah Pekalongan gagal tetapi mereka masih terus melakukan konsolidasi dan propaganda di bawah tanah di seluruh tanah air.

    SORBANSANTRI.COM
    Kampanye PKI Saat itu. (sumber: tirto.id)

    Saat itu partai yang berdiri berkelompok menurut aliran ideologi masing-masing, kelompok yang berideologi nasionalis berkelompok di Partai Nasional Indonesia (PNI), partai berideologi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam, Washliyah, dan lain sebagainya bergabung di Partai Masyumi. Semantara kelompok yang berhaluan Marxis seperti kelompok komunis, kelompok sosialis dan Murba serta kelompok buruh, berdiri sendiri-sendiri dan ada tiga partai Marxis saat itu yaitu Partai Komunis Indoneisa (PKI) ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) ada Partai Buruh Indonesia (PBI) dan ada Partai Murba.
    Melihat hal itu tokoh PKI terutama Muso prihatin lalu berusaha menyatukan kelomopk Marxis yang ada. Maka pada 24 Agustus 1948 Polit Biro Central Comite PKI mengeluarkan kebijakan satu partai kelas buruh (Marxis). Dari situ kemudian PKI, Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia digabung menjadi satu barisan kedalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang diketuai Muso dan Amir Syarifuddin, sekretarisnya adalah DN Aidit yang kesemuanya adalah tokoh PKI. Sementara Partai Murba pimpinan Tan Malaka tidak masuk dalam aliansi Marxis tersebut. Dengan terbentuknya Fron itu maka PKI semakin agresif. Karena front itu dipimpin PKI maka masyarakat tidak ikut menyebut sebagai FDR, Pesindo atau PBI, melainkan secara gampang menyebutnya sebagai PKI.

    PROPAGANDA PKI SETELAH MENJADI PARPOL LEGAL

    Setelah menjadi partai yang legal, maka PKI mulai melakukan propaganda dan konsolidasi partai secara terbuka berkompetisi dengan patai-partai besar yang lain, terutama PNI, NU/ Masyumi. Sebagai partai yang berideologi proletariat yang peduli pada rakyat tertindas maka propaganda PKI banyak diarahkan daerah yang kondisi ekonominya sangat minus. Ternyata strategi PKI ini berhasil sangat baik, terbukti PKI mendapat dukungan kuat di berbagai daerah yang secaraa ekonomi dan geografis dan secara teologis atau keagamaan saat itu masih terbelakang. Sesuai dengan kriteria itu dan pertimbangan strategis lainnya Madiun dijadikan sebagai pusat gerakan PKI. Daerah Madiun dan sekitarnya seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Ngawi, Boyolali, Porwodadi, Bojonegoro hingga Pati, terus melingkar sampai Magelang, Klaten, Solo, dan Wonogiri merupakan tempat basis pengembangan PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    Madiun menjadi titik pusat dari daerah itu, karena itulah aktivitas PKI dipusatkan di Madiun dan disangga oleh daerah sekitarnya yang telah kuat kader PKI nya. Ibukota RI yang saat itu di Yogyakarta pun sebenarnya menjadi daerah yang telah terkepung oleh PKI karena begitu dekatnya basis PKI dengan ibukota negara saat itu. Dengan kerja keras dan sistematis, maka memasuki tahun 1947 konsolidasi PKI sudah nyaris merata, kepengurusan partai sudah menjangkau daerah pedalaman, sehingga berbagai manuver sudah mulai mereka lakukan.
    Dengan semangat progresif & revolusioner, PKI berhasil merekrut banyak kalangan, baik buruh, petani yang dijanjikan tanah garapan, para birokrat, termasuk kalangan aparat. Para guru juga sudah mulai banyak dipengaruhi termasuk PGRI di kawasan itu mulai didominasi PKI. Kalangan jagoan, baik kalangan warok, para pendekar, termasuk kelompok bajingan segera menjadi bagian penting dari PKI. Bahkan kelompok terakhir itulah yang dijadikan kelompok pemukul lawan.
    Untuk membuat kecemasan dan disintegrasi sosial, PKI melakukan teror seperti dengan perampokan & pembunuhan. Jika kriminalitas sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Perampokan yang dilakukan saat ini dilakukan pada siang hari secara terangterangan. Mereka berani melakukan aksi di siang bolong karena merasa ada yang melindungi bahkan ada yang memerintahkan yaitu PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Perampokan ilustrasi (detik.com)

    Sasaran utama perampokan ini adalah para kiai, ulama atau ustadz, termasuk aparat desa yang belum mau ikut PKI. Di luar hal itu terlihat seperti kriminalitas biasa, tetapi setelah diselidiki oleh para pimpinan GP-Ansor jelas terlihat jika para bajingan yang melakukan perampokan tersebut adalah anggota PKI yang mendapatkan restu dari pimpinan partai setempat untuk melakukan teror. Umumya masyarakat sekitar mengenal siapa warga desanya yang PKI dan bukan, sehingga sangat mudah mengidentifikasi.

    “Situasi makin kacau & menakutkan. Tiap malam terjadi perampokan & pencurian, disertai penganiayaan & pembunuhan. Sasarannya tokoh agama, tokoh Masjumi atau tokoh NU dan orang kaya yang sudah naik haji. Dan kalau kebetulan punya anak gadis atau perawan, tidak segan-segan diperkosa. Orang-rang sudah tahu bahwa pelakunya adalah orang-orang komunis PKI..
    Bagi orang yang ingin selamat dari perampokan, pencurian dan penganiayaan, maka jauhilah tokoh agama, Masyumi dan NU dan bergabunglah pada PKI… PKI dan orang-orang komunis telah menjadi monster yang menakutkan. Orang awam atau rakyat jelata atau yang rumahnya terpencil di pelosok pedesaan merasa tidak aman dan tak terlindungi oleh pemerintah. Mereka (dipaksa) bergabung dengan orang-orang PKI untuk mendapatkan perlindungan. Sementara bagi Warga NU mulai meninggalkan tempat ke daerah yang diangap aman.” Ujar salah satu saksi sejarah di Madiun kala itu.

    NU SENGAJA GELAR MUHTAMAR DI MADIUN

    Namun ada hal cukup menarik saat itu, saat di Madiun PKI sedang melakukan Propaganda dengan beragam aksi kriminalitas yang terjadi, NU justru menggelar Muhtamar Ke-17 nya pada 24 Mei 1947 di Madiun. Hal itu dilakukan Untuk memberikan ketenangan pada umat dan mencegah perluasan manuver PKI, NU menggelar Muhtamar ke-17 di Madiun juga Untuk melindungi warga dan ulama dari tekanan PKI saat itu.

    SORBANSANTRI.COM
    logo NU (cyberaswaja.online)

    Madiun menjadi pusat Kegiatan Nasional PKI kala itu, maka NU pun bersiasat mengadakan acara tandingan berskala Nasional juga di Madiun dengan tajuk Muhtamar NU ke-17. Madiun pun kemudian didatangi oleh gelombang jamaah NU yang memasuki Madiun, dan datangnya ribuan Pendekar NU dari berbagai daerah untuk menjaga jalannya Muhtamar. Dalam Muhtamar itu hadir Ulama dan juga para pengurus NU se-Indonesia, Muhtamar itu juga di hadiri KH. Hasyim Asyari sebagai Rais Akbar NU saat itu, dalam ceramahnya Hadrotus syech KH. Hasyim Asyari menyampaikan:

    “Ada beberapa hal lagi yang sangat berbahaya dan tercela melebihi hal yang sudah saya sampaikan, yaitu tersebarnya berbagai ajaran yang mengarah pada kekufuran dan penyimpangan, baik di kalangan anak-anak, pemuda Islam baik di desa maupun di berbagai kota. Saat ini telah tersebar ajaran historis materialisme yaitu suatu prinsip yang berpandangan bahwa tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam ghaib. Tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati.
    Bahaya besar ini tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut. Bergerak dan bangkitlah wahai saudaraku para ulama, kuatkan barisanmu, satukan sluruh kekuatanmu, tetaplah tegar & percayalah bahwa tidak sedikit golongan yang kecil mampu mengalahkan golongan besar hanya karena kehendak Allah, krena Allah selalu bersama orang yang sabar.” Kutipan ceramah KH. Hasyim Asyari

    Acara Muhtamar NU di Madiun itu pun seperti memberikan angin segar untuk menguatkan masyarakat non PKI disana, menguatkan aparat, para pemuda dan peajar, hingga para birokrasi. Dalam acara itu, KH. Hasyim Asyari menginstruksikan seluruh Potensi yang ada di Pesantren NU di daerah Madiun dan sekitarnya termasuk pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang baru saja turun dari medan tempur melawan penjajah di Ambarawa dan Surabaya untuk ikut menjaga keamanan daerahnya.

    Kalangan aparat keamanan yang selama ini tercekam, terutama dari Kepolisian mulai berani menindak kelompok yang melakukan pencurian dan perampokan. Kawanan perampok di Desa Bendungan Kabupaten Trenggalek yang dianggap sebagai pusatnya PKI di Kabupeten itu digerebek oleh Polisi. Tapi tak lama kemudian segerombolan Warok dari Ponorogo dan para pendekar PKI setempat yang berjumalh 150 orang mengepung Kantor Dinas Kepolisian dan kantor Kejaksaan Trenggelek menuntut dibebaskannya teman mereka yang ditahan. Tetapi Komandan Polisi Letnan R. Rustamadji menolak tuntutan mererka dan berujung perdebatan yang sengit.
    Sebenarnya para warok itu telah dikepung oleh aparat TNI dan pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Seandainya PKI menyerbu kantor Polisi, mereka akan dipukul oleh Hizbullah dan TNI dari belakang. Mengetahui hal itu akhirnya mereka pergi dengan melontarkan ancaman akan menyerbu dengan bala pasukan lebih banyak lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 35-42). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
  • Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.

    Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.

    Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.

    Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.

    Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.

    Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.

    Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.

    Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.

    Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.

    Petuah KH Hasyim Asy’ari :

    “Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)

  • KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri – KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tua di Dusun Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7 Penerus Pesantren ini. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.

    Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.

    Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan piaraan dirumahnya, spt sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang.

    Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai istirahat hingga jam 02.00 lalu shalat tahajjud, membaca Al Qur’an atau melakukan ibadah-ibadah lain yang bertujuan Taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah hingga menjelang datang waktu subuh.

    Namun adakalanya, sembil menanti subuh, Beliu berputar-putar mengelilingi pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, dikumpulkannya buah sawo, jambu dan buah-buahan lainnya yang berjatuhan untuk makanan ternak. Setelah itu barulah Beliu membangunkan para santri di pondok dengan menyebut nama mereka satu per satu. Begitu banyak nama santri yang beliau hafal.

    Apabila musim penghujan tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya KH. Zainuddin tidak pernah kehabisan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet (kain lap). Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkan atau diteteskan airnya ketubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli santri atau tamu yang kebetulan sowan ke pondok.

    Santri yang terkejut merasakan tetesan air itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin malah dengan sigapnya bersembunyi dibalik pintu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Hal ini terus dilakukan sampai santri benar-benar bangun.

    Untuk santri yang masih juga membandel, padahal sudah berulang kali tetesan air mengenai tubuhnya maka Kyai Zainuddin meneteskan minyak tanah dari sumbu lampu kaleng. Si santripun bisa jengkel dan bangun sampil berteriak : “wo bocah nakal !!! mbeling tenan, nganggo lengo gas” (wah nakal, keterlaluan banget, pakai minyak tanah). Dan santri itupun hanya bisa tersipu malu ketika mengetahui pelakunya adalah kiainya sendiri. Kyai Zainuddin yang terkenal nyentrik ini memang memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan Beliau.

    Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap Beliau membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam. Kalau perlu, Beliau juga turut memberi makan binatang-binatang ternak piaraannya, kiai Zainuddin termasuk penyayang binatang dan rajin menjaga kebersihan lingkungan.

    Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kiai Zainuddin bekerja keras, mengayun cangkul, menanam singkong, jagung atau pisang. Dan untuk keperluan kesehatan, juga membuat apotek hidup dihalaman ndalemnya.

    Pada suatu hari, Hadlrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, tentang pertunjukan di pondok Mojosari yang dianggap tabu di kalangan “NU” saat itu, Setelah melakukan rapat dengan sejumlah Kyai, akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memutuskan akan mengirim surat pribadi yang berisi peringatan kepada KH. Zainuddin, Mojosari, supaya melarang santri-santrinya menyelenggarakan acara-acara yang berbau munkarot.

    Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya kiai Hasyim bermimpi berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Dan yang mengherankan adalah dengan jelas dia melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainuddin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shof agak belakang. maka dia mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai kiai Zainuddin.

    Keluarbiasaan yang lain, demikian tingginya mata batin kiai Zainuddin, sehingga dia dapat mengetahui muridnya bakal menjadi ulama besar, itu terjadi pada diri Jazuli, anak Muhammad Utsman, seorang naib dari Desa Ploso, Kediri.

    Konon, Jazuli sudah berada di Batavia untuk masuk Stovia, sekolah kedokteran tempo dulu. Ketika Kiai Zainuddin mengetahui hal itu, ia segera menemui ayah Jazuli dan minta agar Jazuli ditarik pulang. “Dia tidak cocok sekolah disana,” ujarnya mengingatkan.

    Karena yang menyuruh adalah seorang kiai besar, Naib Utsman tidak berani menolak, dikirimnya surat ke Batavia dengan pesan agar Jazuli segera pulang atas saran Kiai Zainuddin. Jazuli sendiri ketika menerima surat itu dapat memahami keputusan tersebut dengan legawa (besar hati), meski ia telah bermukim disana selama beberapa bulan.

    Kenyataannya memang demikian, Jazuli Utsman akhirnya dikenal sebagai ulama, pemimpin Pondok Pesantren Ploso,Kediri.

    Suatu waktu Kyai Zainuddin mengatakan kepada Jazuli “Cepat kamu datang ke Mojosari”, sebab kala itu Jazuli tinggal di luar pondok karena kemampuan finansialnya tidak mengizinkan untuk tinggal di pondok. “Saya tidak punya uang, kyai” jawab Jazuli polos. “Ah Weslah, nanti kamu akan menjadi blawong” kata Kyai Zainuddin.

    Jazuli tidak mengerti apa arti blawong, makanya dia diam saja. Yang terpikir di benaknya adalah posisinya yang serba sulit. Kalau masuk ke pondok, kiriman uang dari rumah tidak cukup, tapi kalau tetap di luar pondok, berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu, predikat blawong hanya melintas sekilas di benaknya. Ia tahu bahwa kiai sering memanggil para santri dengan nama julukan daripada nama sebenarnya. Dan julukan itu dibuat sang Kyai sesukanya sendiri. Namun hal itu bukan di anggap kelakar, karena di yakini dapat menembus hal-hal yang bersifat batiniyyah, termasuk masa depan bagi santrinya.

    Rupanya permintaan Kyai Zainuddin agar Jazuli pindah ke pondok, bukan basa-basi. Sampai tiga kali hal itu di kemukakan, sehingga akhirnya Jazuli tinggal di pondok menanti perintah gurunya. Ia di tempatkan disebuah kamar bersama tiga santri lainnya yang merupakan murid-murid kesayangannya. Kelak, mereka ini menjadi kiai yang sukses di desanya masing-masing.

    Nama Kyai Jazuli Utsman sangat terkenal, dan jauh-jauh hari telah di ketahui oleh Kiai Zainuddin bahwa ia bakal menjadi seorang ulama besar, dengan menjulukinya blawong, ternyata blawong adalah nama panggilan seekor burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu di kerajaan Majapahit, sehingga semua orang menyimak kicaunya. Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan.

  • MUI HOAX BEREDAR DI BERITA BERANTAI WHATSAPP

    MUI HOAX BEREDAR DI BERITA BERANTAI WHATSAPP

    SORBANSANTRI.COM

    * TEMPO.CO: “Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan tak pernah mengeluarkan seruan yang meminta ulama, kiai, dan ustaz di Indonesia untuk menolak rapid test.

    Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Informasi dan Komunikasi, Amirsyah Tambunan mengatakan seruan itu adalah hoaks. “Itu berita hoaks yang sangat tidak masuk akal,” kata Amirsyah kepada Tempo, Ahad malam, 24 Mei 2020.”

    Selengkapnya di “MUI Tak Pernah Keluarkan Surat Agar Ulama Tolak Rapid Test” https://bit.ly/3bWCAo3 / http://archive.md/HeOFU (arsip cadangan).

    * Merdeka.com: “Tim cek fakta merdeka.com menelusuri sekaligus mengkonfirmasi kepada MUI.

    Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid menegaskan seruan tersebut ialah hoaks atau berita bohong. Dia menjelaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan pengumuman tersebut.

    “Itu pasti hoaks, karena MUI tdk pernah mengeluarkan pemberitahuan seperti itu,” kata Zainut saat dihubungi merdekacom, Minggu (24/5).

    Dia juga menjelaskan surat tersebut tidak sesuai dengan kop standar MUI. Serta tutur bahasanya pun tidak sesuai standar MUI.

    “Dari kop surat dan isi pemberitahuannya tidak sesuai standar MUI,” tegas Zainut.”

    Selengkapnya di “CEK FAKTA: Hoaks Surat MUI Agar Ulama Hati-hati dan Melawan Saat Rapid Test” https://bit.ly/2WWdfGO / http://archive.md/eUH6s (arsip cadangan).

    * REPUBLIKA.CO.ID: “Wakil Sekretaris Jenderal bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI Amirsyah Tambunan mengatakan, menyebarkan berita bohong haram hukumnya bagi umat Islam. Dia kemudian mengingatkan tentang fatwa MUI No. 24 Tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalat dalam media sosial.”

    Selengkapnya di “MUI tak Pernah Keluarkan Seruan Ulama Lawan Rapid Test Covid” https://bit.ly/3ghjqNa / http://archive.md/eBY16.

    * detikNews: “Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja mengeluarkan fatwa terkait hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Fatwa ini mengatur banyak hal, mulai dari cara membuat postingan media sosial sampai cara memverifikasi.

    Berikut isi lengkap fatwa tersebut yang dibacakan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam, Senin (5/6/2017):”

    Selengkapnya di “Isi Lengkap Fatwa MUI Soal Hukum dan Pedoman Bermedia Sosial” https://bit.ly/3d2CJHW / http://archive.md/1uAK4 (arsip cadangan).

    * mui.or.id: “HUKUM DAN PEDOMAN
    BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحيْمِ
    Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah :

    Menimbang : a. bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi di tengah masyarakat;”

    Selengkapnya di “FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 24 Tahun 2017” https://bit.ly/3gkx0PO / http://archive.md/dHNO2 (arsip cadangan).

  • TAKFIRI SELALU MEMBENCI NU

    TAKFIRI SELALU MEMBENCI NU

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Masih pada suasana lebaran, ketika hati yang seharusnya kembali bersih, ucapan yang seharusnya semakin santun, masih ada saja orang-orang yang tampilannya islami tapi justru ucapannya jauh dari sikap umat islam itu sendiri, Naudzubillah…

    Di media sosial semua berhak menyampaikan apa saja, akan tetapi seharusnya itu di sampaikan dengan lisan yang baik, jauh dari rasisme yang tentunya akan melukai perasaan orang lain,

    beberapa jam setelah menunaikan ibadah sholat ied, kami menemukan sebuah komentar yang sungguh menyakitkan hati, dimana guru bangsa, wali Allah, presiden RI ke-4 Alm.Gusdur (Allah yarham) yang semasa hidupnya di hibahkan kepada kemanusiaan dengan bakti dan bukti sejarah yang nyata, di rendahkan sebegitu rendahnya oleh salah satu akun bernama Inah Nada, setelah kami cek profil akun tersebut sudah bisa di pastikan pemilik akun tersebut dari kalangan pendukung politik yang kecewa/ sakit hati, tampilannya yang tertutup bercadar menambah daftar hitam dimana banyak oknum-oknum bercadar namun lisannya begitu hina, seperti tidak berpendidikan, tidak mencerminkan wajah islam yang sejuk, santun dan menghargai sesama manusia,

    Akun tersebut masih aktif, jika ada yang berkenan dari teman-teman kami baik dari Ansor, banser, Gusdurian, maupun lembaga pemuda NU lainnya bersedia untuk tabayyun sebaiknya melalui proses hukum agar tidak terjadi main hakim sendiri

    Akun pelaku: https://www.facebook.com/inah.nanda.3

    Semoga kita semua dalam Lindungan Allah, semoga kita di jauhkan dari sifat benci,dengki, dendam juga lisan-lisan yang di benci Allah SWT.

    – Haddi VJB

    #NahdliyinOnline

  • 5 WARGA MOJOKERTO POSITIF COVID-19 DALAM SEMALAM

    5 WARGA MOJOKERTO POSITIF COVID-19 DALAM SEMALAM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kabupaten Mojokerto mendapat “parsel mengejutkan” di malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, Sabtu malam (23/5).

    Lima warga sekaligus resmi ditetapkan sebagai pasien terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Kelimanya tersebar di empat kecamatan zona merah. Mulai dari Sooko 2 orang, Pungging (1 orang), Jetis (1 orang), dan Puri (1 orang).

    Catatan ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Bumi Majapahit. Sehingga total persebaran pasien positif menanjak menjadi 24 orang. “Jumlah pasien positif Covid-19 hari ini (23/5) bertambah lima orang. Jadi jumlah totalnya adalah 24 pasien,” ujar Jubir Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Mojokerto, Ardi Sepdianto, Sabtu malam (23/5).

    Kelima pasien tersebut di antaranya adalah perempuan asal Kecamatan Sooko, yang baru saja melahirkan secara caesar pada 15 Mei lalu. Namun, sebelum operasi, pasien lebih dulu di rapid test dan hasilnya reaktif. Beruntung, proses persalinan berjalan lancar dan anaknya dinyatakan selamat dan sehat. (SUMBER :Nadzir/radar mojokerto)

  • PENGAMANAN MALAM TAKBIRAN MUSIM PANDEMI COVID-19 OLEH ANSOR BANSER  PACET

    PENGAMANAN MALAM TAKBIRAN MUSIM PANDEMI COVID-19 OLEH ANSOR BANSER  PACET

    SORBAN SANTRI- Seluruh Satuan Koordinasi Banser Pacet bersama GP Ansor PAC Pacet Mojokerto bekerjasama dan bersinergi dengan Pramuka,Tahura, Welirang comunity. saat ini ( Sabtu, 23 Mei 2020 ) melakukan pemeriksaan tanda pengenal ( KTP ) pada pengguna jalan, yang dikhawatirkan adanya pelanggaran PSBB yang berasal dari daerah luar Pacet Mojokerto.

    Saat ini ada 4 titik lokasi yang diadakan kegiatan pemeriksaan tersebut. Kegiatan ini dimulai sejak ba’da magrib sekitar pukul 18.00 sampai sekarang (berita ini ditayangkan). ke -2 (dua) titik tersebut adalah di Jalan Raya Desa Karangan, Pandan yang dimungkinkan asal jalur masuk kawasan wisata pacet mojokerto.

    Apalagi sekarang waktunya malam minggu yang bersamaan dengan malam takbir lebaran. dikhawatirkan adanya pemudik, pulang kampung, atau arak-arakan takbiran memakai mobil atau sejenisnya.
    Pembagian titik lokasi sudah diantisipasi Ansor Banser Kec. Pacet Mojokerto sejak minggu akhir Bulan Romadhon. Semangat Ansor Banser dalam menjaga NKRI dan Menghalau lebih meluasnya penyebaran corona ini patut diacungi jempol dan diharapkan semua warga untuk memperhatikan protokoler aturan perihal covid-19. (abi SorBan)