Kategori: Politik

Berita Sorban Santri seputar kegiatan politik, kebijakan pemerintah, dan perkembangan politik di dalam dan luar negeri.

  • Gelombang Demo Soroti Ketimpangan Sosial, Harmoni Pemimpin dan Rakyat Harus Bertumpu pada Kepentingan Bersama

    Gelombang Demo Soroti Ketimpangan Sosial, Harmoni Pemimpin dan Rakyat Harus Bertumpu pada Kepentingan Bersama

    

    Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mencuat pada Jumat, 12 Juni 2026, menjadi penanda bahwa kegelisahan publik atas kondisi sosial-ekonomi belum juga reda. Aksi yang berlangsung di Jakarta dan sejumlah daerah membawa pesan yang sama: rakyat ingin kebijakan yang lebih adil, lebih peka, dan lebih berpihak pada kepentingan bersama.

    Di Jakarta, mahasiswa dari BEM UI dan KM IPB turun ke kawasan Bundaran HI dengan membawa tuntutan yang menyoroti pemborosan anggaran, kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta berbagai kebijakan yang dinilai makin menjauh dari kebutuhan riil masyarakat. Di daerah lain, suara serupa juga mengemuka, memperlihatkan bahwa keresahan ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

    Rangkaian aksi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dipersoalkan publik bukan semata satu program atau satu keputusan, melainkan akumulasi ketimpangan sosial yang kian terasa. Ketika biaya hidup naik, kesempatan ekonomi menyempit, dan beban masyarakat kecil makin berat, maka jarak antara pusat kekuasaan dan kenyataan hidup rakyat menjadi semakin terlihat.

    Dalam situasi seperti ini, hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat tidak akan lahir dari pencitraan atau dari laporan yang hanya menyenangkan telinga. Harmoni hanya bisa tumbuh jika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi dan golongan. Pemimpin semestinya mendengarkan suara kebenaran yang lahir dari realitas masyarakat, bukan hanya mendengar segelintir orang di lingkaran kekuasaan.

    Demonstrasi damai harus dibaca sebagai alarm sosial, bukan semata gangguan ketertiban. Aspirasi yang datang dari jalanan, kampus, dan masyarakat sipil adalah bagian dari koreksi publik yang sah dalam demokrasi. Menjawabnya memerlukan kebijakan yang adil, komunikasi yang jujur, dan keberanian untuk mengakui bila ada langkah pemerintah yang belum berpihak sepenuhnya pada rakyat.

    Selama aspirasi disampaikan secara tertib dan konstitusional, negara seharusnya hadir untuk mendengar, bukan sekadar membatasi. Sebab stabilitas yang sejati tidak lahir dari pembungkaman, melainkan dari keadilan yang benar-benar dirasakan bersama. Dari situlah kepercayaan publik dapat dipulihkan, dan hubungan pemimpin dengan rakyat kembali berdiri di atas dasar yang sehat dan bermartabat.

  • DPC PKB Kabupaten Mojokerto Gelar Muscab 28 Maret, Ketua Baru Akan Diseleksi Langsung oleh DPP

    DPC PKB Kabupaten Mojokerto Gelar Muscab 28 Maret, Ketua Baru Akan Diseleksi Langsung oleh DPP

    MOJOKERTO – Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Mojokerto memasuki babak baru dalam regenerasi kepemimpinan. Partai berlambang bola dunia ini dipastikan akan menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertempat di Hotel Aston Mojokerto.

    Kepastian jadwal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Muscab, Ulil Abshor Cholish, atau yang akrab disapa Gus Ulil, saat ditemui di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Klinterejo, pada Selasa (24/3/2026).

    Muscab sebagai Forum Tertinggi Evaluasi dan Penetapan Arah Kebijakan

    Gus Ulil menjelaskan bahwa pelaksanaan Muscab ini merupakan agenda rutin partai yang memiliki posisi strategis. Forum ini menjadi mekanisme permusyawaratan tertinggi di tingkat kabupaten untuk mengevaluasi kinerja serta menentukan arah kebijakan partai untuk periode mendatang.

    “*Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PKB hasil Muktamar Bali, Muscab adalah forum permusyawaratan tertinggi di tingkat kabupaten. Fungsinya untuk mengevaluasi dan menentukan arah kebijakan partai, khususnya terkait kepemimpinan DPC PKB Kabupaten Mojokerto untuk periode 2026-2031,*” ungkap Gus Ulil.

    Mekanisme Seleksi Ketua: Tidak Ada Pemilihan Langsung, DPP yang Tentukan

    Salah satu poin penting yang menjadi sorotan dalam Muscab kali ini adalah mekanisme pemilihan ketua. Gus Ulil menegaskan bahwa forum ini tidak akan digelar sebagai ajang kompetisi terbuka atau pemilihan langsung sebagaimana prosedur umum di beberapa partai lain.

    Ia menjelaskan bahwa proses penetapan ketua DPC akan melalui mekanisme seleksi yang berjenjang, di mana Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB memegang otoritas penuh.

    Tidak ada proses pemilihan dalam arti kompetisi terbuka. PKB saat ini memilih untuk mengedepankan proses seleksi. Siapa pun yang akan memimpin nanti, baik itu Bu Ayni Zuroh sebagai incumbent, atau teman-teman dari fraksi PKB di DPRD, atau bahkan nama baru yang muncul nanti, semuanya yang menentukan adalah DPP. Insya Allah yang terpilih adalah kader terbaik,” tegas Gus Ulil.

    Peran Tim 7 dan Pemetaan Calon Kader Terbaik

    Saat ini, proses pemetaan bakal calon ketua telah memasuki tahapan yang intensif. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur, atas mandat dari DPP, telah membentuk Tim Penataan Struktur yang terdiri dari 7 orang (Tim 7). Mereka bertugas untuk memetakan dan menjaring nama-nama potensial dari setiap Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) se-Kabupaten Mojokerto.

    “*Nama-nama hasil pemetaan Tim 7 itulah yang nanti akan disampaikan dalam forum Muscab untuk mendapatkan tanggapan dan catatan dari peserta. Namun, proses selanjutnya adalah Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) yang dilakukan langsung oleh DPP PKB di Jakarta,*” sambungnya.

    Meski nama-nama calon telah melalui pemetaan, Gus Ulil secara diplomatis menolak menyebutkannya lebih awal. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan Tim 7 dan usulan dari tingkat DPAC.

    Persiapan 80% dan Tema Besar Taubat Ekologis

    Menjelang hari pelaksanaan, persiapan Muscab dilaporkan telah mencapai 80%. Rencananya, Muscab ini akan dihadiri oleh seluruh perwakilan DPAC dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.

    Selain membahas struktur kepemimpinan, Muscab kali ini juga akan mengusung tema besar yang sejalan dengan platform PKB, yakni Taubat Ekologis. Hal ini diwujudkan dengan komitmen untuk meminimalisir penggunaan sampah, khususnya sampah plastik, selama pelaksanaan acara berlangsung.

    Kami akan berusaha meminimalisir sampah plastik. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga lingkungan,” jelas Gus Ulil.

    Turut diundang dalam forum tersebut sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), para kyai, serta pimpinan partai politik (parpol) yang ada di Kabupaten Mojokerto sebagai bentuk sinergitas dan silaturahmi politik.

  • PKB Mojokerto Gelar Pendidikan Kader Pratama Loyalis: Konsolidasi Ideologis Santri untuk Masa Depan Bangsa

    PKB Mojokerto Gelar Pendidikan Kader Pratama Loyalis: Konsolidasi Ideologis Santri untuk Masa Depan Bangsa

    DPC PKB Mojokerto menggelar PKP Loyalis sebagai forum konsolidasi ideologis dan penguatan loyalitas kader di tingkat ranting dan kecamatan.

    Pacet, Mojokerto — Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Mojokerto kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kaderisasi ideologis yang kuat di akar rumput. Melalui kegiatan bertajuk Pendidikan Kader Pratama (PKP) Loyalis, para pengurus dan kader PKB se-Kecamatan Pacet diundang untuk mengikuti pembekalan intensif yang digelar pada Sabtu, 27 Desember 2025, di Graha MWCNU Pacet.

    Acara ini dihadiri oleh jajaran Ketua Syuro, Tanfidz, Sekretaris, dan Bendahara DPAC serta para Ketua Ranting PKB se-Kecamatan Pacet. Dengan dresscode khas PKB—baju putih—para peserta diharapkan hadir tepat waktu untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang sebagai penguatan ideologi, loyalitas, dan strategi perjuangan politik berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    🔍 Tujuan PKP Loyalis: Menyatukan Langkah, Meneguhkan Komitmen

    Ketua DPC PKB Mojokerto, Hj. Ayni Zuroh, SE, MM, menegaskan bahwa PKP Loyalis bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan forum konsolidasi ideologis yang bertujuan membentuk kader militan yang memahami arah perjuangan partai. “Kami ingin memastikan bahwa setiap kader di tingkat ranting dan kecamatan memiliki pemahaman yang utuh tentang visi PKB, serta mampu menjadi ujung tombak perubahan di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Sekretaris DPC PKB, Masduqi Hasan, ST, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarstruktur partai dan menyamakan persepsi menjelang tahun politik yang semakin dinamis.

    SORBANSANTRI.COM
    Masduqi Hasan, menyebut ini momentum silaturahmi dan strategi bersama

    🧭 Sorotan Santri: Politik Bernilai, Loyalitas Tanpa Batas

    Sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan berbasis santri, PKB Mojokerto menekankan pentingnya loyalitas yang berakar pada nilai, bukan sekadar kepentingan pragmatis. Pendidikan Kader Pratama menjadi ruang strategis untuk membumikan semangat politik bernilai di tengah tantangan zaman.

    Dengan semangat “maju tak gentar membela yang benar,” para peserta PKP Loyalis diharapkan pulang dengan bekal ideologis yang kokoh, strategi komunikasi politik yang efektif, serta semangat juang yang tak luntur oleh dinamika politik lokal maupun nasional.

  • Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah

    Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah

    Mojokerto, 14 November 2025 – Kabupaten Mojokerto menggelar dua rangkaian tasyakuran untuk merayakan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh besar bangsa: Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah. Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang jasa dan pengabdian mereka bagi kemajuan bangsa.

    Tasyakuran di DPC PKB Kabupaten Mojokerto

    Rangkaian pertama berlangsung pada Kamis, 13 November 2025, bertempat di kantor DPC PKB Kabupaten Mojokerto. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus DPC PKB Kabupaten Mojokerto, Fraksi PKB DPRD Kabupaten Mojokerto, pengurus DPAC PKB, lembaga dan banom PKB, serta tokoh masyarakat setempat.

    Dalam kesempatan ini, Ketua DPC PKB Kabupaten Mojokerto, Ibu Hj. Ayni Zuroh, S.E., M.M., menyampaikan sambutan penuh makna, menekankan pentingnya meneladani perjuangan para pahlawan nasional dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan KH. Mubayyin Syafi’i, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Mojokerto, memberikan tausiyah yang mengingatkan nilai-nilai kepahlawanan, keikhlasan, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Tasyakuran di Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto

    Rangkaian kedua digelar Jumat, 14 November 2025, di Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto. Acara dihadiri oleh seluruh fraksi PKB di DPRD, pengurus DPC PKB, seluruh pegawai DPRD, serta tokoh-tokoh masyarakat Mojokerto.

    Dalam sambutannya, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, Hj. Ayni Zuroh, mengapresiasi jasa para pahlawan nasional dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan semangat perjuangan mereka. Acara ditutup dengan Mauidloh Hasanah oleh KH. Mahrus Ali, yang memberikan penguatan spiritual dan motivasi bagi seluruh hadirin.

    Rangkaian tasyakuran ini menjadi bukti nyata penghormatan Kabupaten Mojokerto terhadap para pahlawan nasional dan sebagai pengingat bagi generasi muda akan nilai-nilai keberanian, pengabdian, dan kepedulian sosial.

  • Pengadilan Tolak Gugatan Sespri Ketum PBNU ke Cak Imin Usai Dipecat PKB

    Pengadilan Tolak Gugatan Sespri Ketum PBNU ke Cak Imin Usai Dipecat PKB

    Sorbansantri.com – Sengketa perdata yang melibatkan anggota DPR RI Achmad Ghufron Sirodj terhadap Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) akhirnya berakhir. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak gugatan senilai Rp507 miliar yang diajukan Ghufron terhadap Cak Imin.

    “Dengan ditolaknya gugatan Ghufron terhadap Cak Imin oleh majelis hakim, maka otomatis gugatan ganti rugi sebesar Rp507 miliar pun pupus,” ujar kuasa hukum DPP PKB, Dr. Anwar Rachman, dalam keterangan tertulis, Kamis (19/12/2024).

    Ghufron, yang juga merupakan Sekretaris Pribadi Ketua Umum PBNU, menggugat Cak Imin dengan tuduhan kesewenang-wenangan dalam pemecatan dirinya dari PKB. Namun, Majelis Hakim menilai bahwa perkara tersebut adalah urusan internal partai politik, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Jo UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.

    “Pemecatan adalah urusan internal partai politik sebagaimana ketentuan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Partai Politik. Jadi, persoalan yang diajukan penggugat adalah urusan internal,” jelas Anwar.

    Latar Belakang Pemecatan

    Achmad Ghufron Sirodj diketahui dipecat dari PKB melalui Surat Keputusan (SK) DPP PKB No: 33591/DPP/01/VII/2024 tertanggal 31 Juli 2024. Pemecatan ini dilakukan karena Ghufron dianggap melanggar AD/ART serta peraturan PKB terkait disiplin partai.

    Ghufron sempat melayangkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara No: 695/Pdt.G/2024/Pn.Jkt.Pst. Namun, pengadilan menyatakan prosedur hukum tidak terpenuhi karena ia tidak mengajukan kasus ini terlebih dahulu ke Mahkamah Partai.

    “Oleh karena Ghufron mengajukan masalah tersebut ke pengadilan tanpa melalui Mahkamah Partai, maka prosedur sudah dilanggar dan gugatan pun ditolak,” pungkas Anwar.

    Putusan ini sekaligus menutup sengketa yang melibatkan kader PKB tersebut, menegaskan bahwa urusan internal partai harus diselesaikan sesuai mekanisme yang telah diatur. (AI Sorban)

    @beritasorban Sidang gugatan Achmad Ghufron Sirodj, anggota DPR RI sekaligus mantan kader PKB, terhadap Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, resmi berakhir. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak gugatan senilai Rp507 miliar yang diajukan Ghufron. Kuasa hukum PKB menyebut, gugatan tersebut ditolak karena menyangkut urusan internal partai yang harus diselesaikan sesuai mekanisme UU Partai Politik. Pemecatan Ghufron oleh PKB didasarkan pada pelanggaran AD/ART dan disiplin partai. Hakim juga menyatakan prosedur hukum Ghufron tidak terpenuhi karena ia tidak membawa kasus ini ke Mahkamah Partai terlebih dahulu. Dengan putusan ini, sengketa antara Ghufron dan Cak Imin dinyatakan selesai. Untuk info terbaru seputar politik, tetap pantau perkembangan hanya di sini. #PengadilanNegeri #AchmadGhufronSirodj #CakImin #SengketaPKB #PemecatanKader #UUPartaiPolitik #MahkamahPartai #ADARTPKB #PutusanPengadilan #InternalPartai #fypシ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Jokowi & Gibran Dipecat PDIP: Awal Baru atau Akhir Perjalanan?

    Jokowi & Gibran Dipecat PDIP: Awal Baru atau Akhir Perjalanan?

    Sorbansantri.com – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden, resmi dipecat sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Senin, 16 Desember 2024. Surat pemecatan ini dibacakan oleh Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan Partai, Komarudin Watubun.

    Jokowi memiliki perjalanan politik yang panjang bersama PDIP. Partai ini menjadi kendaraan politik utama Jokowi sejak ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo, Gubernur Jakarta, hingga menjabat sebagai Presiden RI selama dua periode.

    Isi Surat Pemecatan

    Dalam video yang diterima media, Komarudin Watubun didampingi oleh jajaran DPP PDIP seperti Said Abdullah, Olly Dondokambey, Bambang Wuryanto (Bambang Pacul), dan sejumlah pengurus lainnya saat membacakan keputusan tersebut.

    “Merdeka! Saya Komarudin Watubun, Ketua Bidang Kehormatan PDI Perjuangan. Bersama ini, tanggal 16 Desember 2024, saya mendapat perintah langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan untuk mengumumkan secara resmi sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai, di depan seluruh jajaran Ketua DPD Partai se-Indonesia,” ucap Komarudin.

    Komarudin melanjutkan, “DPP Partai akan mengumumkan surat keputusan pemecatan terhadap Saudara Joko Widodo, Saudara Gibran Rakabuming Raka, dan Saudara Bobby Nasution, serta 27 anggota lain yang kena pemecatan.”

    Ia menegaskan bahwa pemecatan ini merupakan sanksi organisasi, dan ketiganya dilarang menjabat atau berkegiatan mengatasnamakan PDIP.

    Perjalanan Politik Jokowi Bersama PDIP

    Jokowi memulai karier politiknya sebagai Wali Kota Solo pada 28 Juli 2005 dengan dukungan PDIP. Ia kemudian menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 15 Oktober 2012 sebelum mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2014 dengan dukungan penuh dari PDIP.

    Pada Pilpres 2014, Jokowi terpilih bersama Jusuf Kalla. Di periode kedua, ia menggandeng Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden.

    Awal Keretakan Hubungan Jokowi-PDIP

    Ketegangan hubungan Jokowi dengan PDIP mulai terlihat menjelang Pilpres 2024. Situasi memuncak ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memberi lampu hijau kepada Gibran untuk maju sebagai calon presiden mendampingi Prabowo Subianto.

    Keputusan ini memicu kontroversi karena Ketua MK Anwar Usman adalah adik ipar Jokowi. Padahal, saat itu PDIP mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

    Menurut Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, keretakan ini bermula sejak Ramadan 2023. Kala itu, Jokowi dikabarkan mendukung pembentukan koalisi besar, namun rencana ini gagal setelah Nasdem mencalonkan Anies Baswedan dan PDIP mencalonkan Ganjar.

    Ejekan Megawati yang Menyulut Konflik

    Ucapan Megawati Soekarnoputri pada HUT ke-50 PDIP di JIExpo Kemayoran, Selasa (10/1/2023), menjadi salah satu pemicu keretakan hubungan. Dalam pidatonya, Megawati menyindir Jokowi dengan mengatakan bahwa tanpa PDIP, Jokowi “tidak ada apa-apanya.”

    “Pak Jokowi itu ya ngono lho, mentang-mentang. Lha iya, padahal Pak Jokowi kalau enggak ada PDI-Perjuangan juga, duh kasihan dah,” ujar Megawati.

    Ucapan ini menuai reaksi negatif dari publik, terutama setelah pasangan Ganjar-Mahfud kalah dalam Pilpres 2024. Bahkan, di TPS 053 Kebagusan, tempat Megawati memberikan suaranya, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar unggul atas Ganjar-Mahfud.

    Akhir Manis Jokowi dan Prabowo

    Di sisi lain, hubungan Jokowi dengan Prabowo semakin erat setelah Prabowo dilantik sebagai Presiden RI. Prabowo beberapa kali bertemu Jokowi untuk berdiskusi tentang masa depan bangsa. Hal ini semakin kontras dengan renggangnya hubungan Jokowi dan PDIP hingga berujung pada pemecatan.

    Kini, publik mencermati bagaimana Jokowi akan melangkah ke depan setelah resmi tak lagi menjadi bagian dari partai yang telah membesarkannya. (AI Sorban)

    @beritasorban Hari ini, PDIP resmi memecat Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming, dan Bobby Nasution. Surat pemecatan dibacakan oleh Komarudin Watubun, menyusul ketegangan yang memuncak pasca-Pilpres 2024. Hubungan Jokowi dengan PDIP merenggang sejak kontroversi MK yang membuka jalan bagi Gibran mendampingi Prabowo, serta sindiran Megawati di HUT ke-50 PDIP. Meski demikian, hubungan Jokowi dan Prabowo semakin erat, berbeda dengan relasinya yang memburuk dengan PDIP. Kini, perhatian publik tertuju pada langkah Jokowi berikutnya pasca pemecatan ini. #PDIPPecatJokowi #JokowiGibran #Megawati #PDIP #Pilpres2024 #PolitikIndonesia #KeretakanPDIPJokowi #BeritaPolitik #GanjarPranowo #GibranRakabuming #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Praktik Amoral Demokrasi di Indonesia: Merenung untuk Masa Depan

    Praktik Amoral Demokrasi di Indonesia: Merenung untuk Masa Depan

    BERITA VIDEO

    Oleh: Redaksi Sorban Santri

    Demokrasi di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam pasca pelaksanaan Pilkada serentak pada 27 November 2024 kemarin. Fenomena ini menunjukkan wajah demokrasi yang tidak lagi berorientasi pada etika dan intelektualitas, tetapi semakin terjebak dalam pragmatisme dan transaksi kepentingan.

    Pilkada yang sejatinya menjadi ajang untuk melahirkan pemimpin berkualitas, justru sering kali menjadi panggung politik transaksional. Calon pemimpin yang ideal dengan visi dan misi mulia untuk kemajuan bangsa, ibarat “Patih Gajah Mada” yang berkomitmen pada Sumpah Palapa, terasa mustahil untuk menang dalam sistem demokrasi seperti ini.

    Mengapa demikian? Karena demokrasi kita tidak lagi mengedepankan moralitas sebagai landasan utamanya. Negara, melalui regulasi dan mekanismenya, seolah memberikan ruang yang sah bagi praktik-praktik amoral yang merusak. Ketika politik uang, janji-janji palsu, dan penggiringan opini yang menyesatkan menjadi hal yang lumrah, sulit untuk membayangkan terciptanya kepemimpinan yang sejati.

    Demokrasi Tanpa Moralitas: Sebuah Refleksi

    Masalah utama yang dihadapi adalah orientasi demokrasi kita yang lebih condong pada hasil daripada proses. Calon pemimpin dinilai bukan dari kompetensi, rekam jejak, atau visi yang mereka tawarkan, melainkan dari kemampuan mereka untuk memenuhi kepentingan pragmatis kelompok tertentu.

    Dalam kondisi seperti ini, etika politik dan intelektualitas tenggelam di bawah dominasi politik uang. Demokrasi transaksional ini bahkan tampak dilegitimasi oleh sistem negara itu sendiri, yang seolah-olah menutup mata terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi di lapangan.

    Memperbaiki Demokrasi, Dimulai dari Mana?

    Pertanyaan besar yang harus dijawab bersama adalah: dari mana kita harus memulai untuk memperbaiki demokrasi ini? Berikut beberapa langkah yang bisa menjadi pijakan awal:

    1. Pendidikan Politik Sejak Dini
      Generasi muda harus diajarkan pentingnya etika dan moralitas dalam politik. Pendidikan politik tidak hanya berbicara soal prosedur, tetapi juga nilai-nilai yang mendasari demokrasi itu sendiri.
    2. Reformasi Sistem Pemilu
      Sistem pemilu yang ada perlu diperbaiki untuk meminimalkan ruang bagi politik uang dan transaksi kepentingan. Pengawasan ketat dan sanksi tegas harus diterapkan untuk setiap pelanggaran.
    3. Peningkatan Literasi Politik Masyarakat
      Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kapabilitas dan integritas, bukan sekadar janji manis atau uang.
    4. Pemimpin Sebagai Teladan Moral
      Pemimpin yang ada saat ini harus menjadi contoh nyata dalam menjalankan politik yang berlandaskan etika dan moralitas. Tanpa teladan yang baik, perubahan hanya akan menjadi wacana kosong.

    Mari Berpikir Jernih untuk Masa Depan

    Praktik amoral dalam demokrasi bukan hanya merusak tatanan politik, tetapi juga merampas masa depan generasi mendatang. Sudah saatnya kita berpikir jernih dan bijak untuk menyelamatkan demokrasi Indonesia dari jurang kehancuran moral.

    Perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam, tetapi langkah kecil yang konsisten dan didukung oleh semua elemen masyarakat akan membawa kita ke arah yang lebih baik. Jangan biarkan generasi mendatang mewarisi demokrasi yang cacat.

    Demokrasi harus menjadi jalan menuju kebaikan bersama, bukan sekadar alat bagi segelintir orang untuk mengejar kepentingan pribadi. Mari kita renungkan, perbaiki, dan bangun kembali demokrasi yang bermoral dan beretika untuk Indonesia yang lebih baik.

    @beritasorban "Demokrasi di Indonesia kian memprihatinkan. Pilkada serentak 2024 kemarin menjadi bukti nyata bagaimana politik transaksional dan pragmatis menguasai panggung. Moralitas dan intelektualitas tak lagi menjadi ukuran. Bahkan, jika sosok sekelas Patih Gajah Mada ikut bertarung, ia akan sulit menang karena sistemnya rusak. Negara, yang seharusnya menjadi penjaga demokrasi, justru seakan melegitimasi praktik-praktik amoral ini. Tapi, masih ada harapan! Kita bisa mulai memperbaikinya dengan pendidikan politik, reformasi sistem pemilu, dan peningkatan literasi politik masyarakat. Jangan biarkan generasi mendatang mewarisi demokrasi yang cacat. Mari bersama bangun demokrasi yang bermoral, beretika, dan berintegritas. Demi masa depan Indonesia yang lebih baik!". #DemokrasiBermoral #StopPolitikUang #EtikaDalamPolitik #GenerasiBersih #ReformasiDemokrasi #Pilkada2024 #fyppppppppppppppppppppppp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Apa Itu Partai Coklat yang Disebut Yoyok Saat Rapat Menhan?

    Apa Itu Partai Coklat yang Disebut Yoyok Saat Rapat Menhan?

    BERITA VIDEO

    Jakarta, SorbanSantri.com – Istilah Partai Coklat menarik perhatian publik setelah disinggung oleh anggota DPR RI Fraksi NasDem, Yoyok Riyo Sudibyo, dalam rapat kerja Komisi I DPR bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Agus Subiyanto di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2024). Yoyok menyampaikan kekhawatirannya terkait netralitas TNI dan menyebut istilah ini di tengah pembahasan penyimpangan dalam pelaksanaan pemilu.

    Partai Coklat: Apa Maksudnya?

    Dalam rapat tersebut, Yoyok menyoroti perlunya tindakan tegas TNI terhadap berbagai kasus penyimpangan dalam pemilu, seperti politik uang, kampanye hitam, dan lainnya. Di sela-sela pernyataannya, ia menyebut isu Partai Coklat, yang ia kaitkan dengan fenomena politik terkini.

    “Di media ini lagi kencang-kencangnya katanya ada partai baru, Partai Coklat. Enggak mungkin kalau kita enggak tahu,” ucap Yoyok.

    Yoyok mengkritik netralitas TNI yang dianggapnya terlalu pasif, terutama jika dihadapkan dengan penyimpangan pemilu. Ia meminta TNI untuk berani bertindak tegas, sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

    Hubungan dengan Simpatisan Jokowi

    Istilah Partai Coklat ternyata tidak hanya disebut oleh Yoyok. Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga menggunakan istilah ini dalam konteks berbeda. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Hasto menyebut Partai Coklat sebagai istilah yang merujuk pada simpatisan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    Menurut Hasto, simpatisan ini memiliki peran strategis dalam Pilkada 2024, didukung oleh langkah-langkah Jokowi yang dinilai sebagai upaya membangun kekuatan politik baru setelah masa jabatannya berakhir.

    “Pak Jokowi melakukan begitu banyak penempatan strategis sebelum lengser, seperti penunjukan Pak Listyo Sigit sebagai Kapolri. Ini adalah bagian dari upaya membangun kerajaan politik dengan menempatkan orang-orang terdekatnya di berbagai posisi penting,” ujar Hasto.

    Ia menambahkan bahwa strategi Jokowi mencakup mobilisasi simpatisan yang disebut sebagai Partai Coklat untuk memenangkan Pilkada 2024 di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Utara dan Jawa Tengah.

    Kritik terhadap Praktik Politik Kekuasaan

    Hasto juga menyebut bahwa Jokowi telah mengintervensi politik lokal untuk memastikan keberhasilan kandidat yang memiliki hubungan dekat dengannya. Ia menilai tindakan ini mengkhianati prinsip negara republik yang seharusnya menjunjung tinggi kompetisi politik yang sehat.

    “Mobilisasi Partai Coklat terlihat jelas di berbagai daerah, seperti Boyolali, Sumatera Utara, hingga Jakarta. Ini menunjukkan bagaimana pengaruh kekuasaan dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh politik pribadi,” tambahnya.

    TNI dan Peran dalam Pemilu

    Dalam konteks ini, Yoyok menegaskan bahwa TNI harus mengambil peran aktif dalam menjaga kejujuran dan keadilan pemilu. Ia berharap netralitas TNI tidak menjadi alasan untuk berdiam diri jika terjadi penyimpangan yang jelas di depan mata.

    “Kalau ada penyimpangan, tangkap. Jangan biarkan demokrasi berjalan brutal seperti sekarang,” tegas Yoyok.

    Pernyataan ini mencerminkan keresahan terhadap dinamika politik Indonesia yang semakin kompleks menjelang Pilkada 2024. Istilah Partai Coklat menjadi simbol dari diskusi tentang integritas, netralitas, dan pengaruh kekuasaan dalam sistem demokrasi.


    Ikuti berita terkini lainnya hanya di SorbanSantri.com.

    @beritasorban Isu Partai Coklat mencuri perhatian publik usai disebut oleh anggota DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, dalam rapat bersama Menhan. Istilah ini juga pernah digunakan Hasto Kristiyanto untuk menggambarkan simpatisan Jokowi yang dinilai aktif memobilisasi kekuatan di Pilkada 2024. Yoyok mempertanyakan netralitas TNI dalam menghadapi penyimpangan pemilu seperti politik uang dan kampanye hitam. Di sisi lain, Hasto mengkritik Jokowi yang disebut membangun kekuatan politik seperti kerajaan, dengan menempatkan orang-orang terdekatnya di posisi strategis. Apakah istilah Partai Coklat ini menggambarkan realitas politik Indonesia saat ini? Mari kita bahas lebih lanjut dan wujudkan demokrasi yang jujur dan adil. #partaicoklat #pilkada2024 #fypシ゚ ♬ suara asli Sorban Santri
  • MENGHADAPI PILKADA Mojokerto 2024, HIMASAL (Himpunan Alumni – Santri Lirboyo) bersikap netral

    MENGHADAPI PILKADA Mojokerto 2024, HIMASAL (Himpunan Alumni – Santri Lirboyo) bersikap netral

    BERITA VIDEO

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Gus Fatih, yang dikenal sebagai Koordinator Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Mojokerto, menepis sebuah berita yang beredar di portal JURNAL DETIK. COM pada 13 November 2024. Dalam berita berjudul “Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Mojokerto Dukung Mutlak Palson 2 Mubarok” disebutkan bahwa Gus Fatih dan alumni Lirboyo secara penuh mendukung pasangan calon (paslon) nomor 2, Mubarok.

    Gus Fatih menyatakan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya di kediaman Kyai Asep bersama santri dan guru pondok pesantren adalah dalam rangka silaturahmi, bukan untuk menyatakan dukungan resmi dari Himasal (Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) Mojokerto.

    “Saya memang Ketua Himasal Cabang Mojokerto, tapi kedatangan saya kemarin bukan atas nama Ketua Himasal. Saya hadir bersama para santri dan guru pondok, tanpa membawa nama organisasi,” jelas Gus Fatih.

    Gus Fatih mengakui bahwa secara pribadi ia mendukung Paslon 02 dalam Pilkada ini. Namun, ia menekankan bahwa dukungannya bersifat personal dan tidak melibatkan Himasal maupun alumni Lirboyo secara kelembagaan. “Alumni lain bebas mendukung calon mana pun. Tidak ada keharusan untuk mendukung satu calon tertentu di Pilkada kali ini,” tambahnya.

    Ia berharap klarifikasi ini dapat meluruskan informasi yang telah beredar dan mencegah kesalahpahaman di masyarakat. “Saya merasa perlu menjelaskan sebagai bentuk tabayun agar berita tersebut tidak menjadi bias dan menimbulkan salah paham,” pungkasnya.

    Dengan pernyataan ini, Gus Fatih menegaskan bahwa Himasal Mojokerto tidak terlibat dalam dukung-mendukung paslon secara organisasi, melainkan memberikan kebebasan kepada seluruh alumni dalam menentukan pilihan masing-masing di Pilkada. (AI Sorban)

    @beritasorban Gus Fatih, Koordinator Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Mojokerto, meluruskan informasi yang beredar di portal JURNAL DETIK.COM. Dalam berita itu disebutkan bahwa alumni Lirboyo Mojokerto mendukung penuh paslon 02 di Pilkada Mojokerto. Gus Fatih menegaskan, kehadirannya bersama para santri dan guru ke kediaman Kyai Asep hanya untuk silaturahmi, bukan deklarasi dukungan resmi dari Himasal. #KlarifikasiGusFatih #PilkadaMojokerto #DukungBebas #AlumniLirboyo #HimasalMojokerto #TabayunBerita #fyp #foryou ♬ suara asli – Sorban Santri
  • KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    BERITA VIDEO

    Sorbansantri.com – Konflik yang terjadi antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru-baru ini menjadi perhatian publik, namun sebenarnya, ketegangan ini sudah pernah diprediksi oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tokoh besar NU yang juga pendiri PKB. Gus Dur pernah mengingatkan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan harus menjaga jarak dari politik praktis. Menurutnya, “NU tidak melibatkan diri dalam urusan politik praktis. Biarlah soal politik menjadi milik dan tugas kelompok lain.” Pernyataan ini sejalan dengan khittah NU, yang menekankan bahwa NU berfokus pada pemberdayaan umat melalui jalur sosial-keagamaan, bukan pada kepentingan politik sehari-hari.

    Lebih lanjut, Gus Dur juga menegaskan agar NU tidak memanfaatkan kekuatan organisasi untuk masuk ke dalam permainan politik dan kekuasaan negara. Dia pernah mengatakan, “NU tidak usah mencari peluang bermain di dalam ruang-ruang politik dan kekuasaan negara. Kalau Anda mau memperdayakan masyarakat tetapi Anda menghamba pada status quo, lalu bagaimana caranya?” Dalam hal ini, Gus Dur mengkhawatirkan bahwa jika NU terlibat terlalu dalam dengan kekuasaan, ia akan kehilangan netralitas dan sulit untuk menjadi penggerak perubahan bagi masyarakat. Pandangan ini kini dirasa semakin relevan, terutama ketika terjadi konflik atau perbedaan pandangan terkait kepentingan politik antara PBNU dan PKB.

    Di beberapa daerah, fenomena ini juga terlihat dalam bentuk penggunaan jabatan untuk mendukung pasangan calon, seperti dalam Pilkada Mojokerto. Di Mojokerto, misalnya, ada indikasi pihak tertentu yang menggunakan akses dan jabatan mereka untuk menggalang dukungan terhadap salah satu calon, sehingga memunculkan pertanyaan tentang independensi NU dalam politik lokal. Situasi ini menjadi refleksi bagaimana pesan Gus Dur tentang menjaga jarak NU dari politik praktis tetap perlu diperhatikan. Membiarkan NU berfokus pada perannya sebagai organisasi keagamaan yang netral adalah langkah penting agar NU dapat terus berfungsi sebagai penjaga nilai dan pemberdaya masyarakat tanpa terpengaruh dinamika politik kekuasaan.(AI Sorban)

    @beritasorban Ketegangan antara PBNU dan PKB semakin terasa, tapi tahukah Anda? Tokoh besar NU, Gus Dur, sudah pernah memprediksi hal ini. Gus Dur dengan tegas mengingatkan, bahwa NU seharusnya tidak terlibat dalam politik praktis. 'Biarlah soal politik menjadi tugas kelompok lain,' katanya. #GusDur #PBNU #PKB #KhittahNU #PilkadaMojokerto #NetralitasNU #SorbanSantri #fyp #fypシ ♬ suara asli – Sorban Santri