Kategori: FPRB

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto resmi dikukuhkan di Royal Hotel Trawas. Acara ini disahkan oleh Wakil Bupati Muhammad Rizal Octavian dan ditandatangani oleh Bupati Dr. H. Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum

  • Rapat Tahunan FPRB Kabupaten Mojokerto Digelar 9 Desember 2025

    Rapat Tahunan FPRB Kabupaten Mojokerto Digelar 9 Desember 2025

    Mojokerto, 4 Desember 2025 – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto dijadwalkan menggelar Rapat Tahunan 2025 pada Selasa, 09 Desember 2025 bertempat di Hotel Aston Mojokerto. Agenda ini menjadi ruang konsolidasi para relawan dan pegiat kebencanaan untuk memperkuat langkah bersama dalam membangun daerah yang lebih tangguh.

    Ketua FPRB, Saiful Anam, S.Ag., menyampaikan bahwa upaya pengurangan risiko bencana merupakan tugas bersama. “Kuncinya ada pada bagaimana kita menurunkan kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Bupati Mojokerto, Gus Bara, memberikan pesan khusus mengenai peran strategis FPRB. Menurutnya, FPRB adalah perpanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang mampu hadir di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau pemerintah, baik di desa maupun kelurahan. “Relawan FPRB ini yang sering lebih cepat sampai ke titik-titik rawan,” tuturnya.

    Rapat tahunan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi sekaligus merumuskan langkah konkret untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Mojokerto terhadap potensi bencana.

  • Waspada Bencana, Ini Tips Agar Terhindar dari Bahaya Alam di Kawasan Pacet Mojokerto

    Waspada Bencana, Ini Tips Agar Terhindar dari Bahaya Alam di Kawasan Pacet Mojokerto

    Pacet, Sorbansantri.com — Kawasan Pacet, Mojokerto, dikenal dengan keindahan alamnya, namun juga memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana seperti longsor, banjir, dan tanah bergerak, terutama saat musim penghujan. Menyusul kejadian longsor besar di jalur Pacet–Cangar, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

    FPRB menyampaikan bahwa bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui edukasi, kesiapsiagaan, dan tindakan preventif sejak dini.

    Dalam berbagai kesempatan, FPRB terus menekankan pentingnya memahami tanda-tanda alam sebagai langkah awal penyelamatan diri.

    “Seringkali tanda-tanda seperti suara gemuruh, retakan tanah, atau air sungai yang berubah keruh diabaikan. Padahal itu pertanda harus segera evakuasi,” terang FPRB dalam keterangan resminya.

    FPRB juga mencatat bahwa lebih dari 70% korban bencana di kawasan Pacet berhasil selamat berkat kesiapsiagaan dan evakuasi mandiri sebelum tim penyelamat tiba, membuktikan pentingnya edukasi masyarakat.

    Berikut beberapa langkah penting yang disarankan oleh FPRB agar masyarakat dan pengunjung di kawasan Pacet tetap aman:

    1. Kenali Daerah Rawan

    Pelajari peta wilayah rawan longsor dan banjir. FPRB rutin melakukan sosialisasi dan pemasangan papan peringatan di area-area berisiko.

    2. Perhatikan Tanda Alam

    Waspadai gejala seperti retakan tanah, pohon miring, atau suara gemuruh. Segera evakuasi ke tempat aman jika tanda-tanda tersebut muncul.

    3. Pantau Informasi Cuaca

    Selalu cek prakiraan cuaca, terutama sebelum bepergian melalui jalur rawan bencana. Hindari perjalanan saat hujan deras atau cuaca ekstrem.

    4. Siapkan Tas Siaga Bencana

    Persiapkan tas darurat yang berisi air minum, makanan instan, obat-obatan, senter, power bank, dokumen penting, dan peluit.

    5. Ikuti Arahan Petugas

    Patuhi semua instruksi dari petugas atau relawan FPRB dalam situasi darurat. Jangan memaksa melewati jalur yang sudah dinyatakan berbahaya.

    6. Lestarikan Lingkungan

    Berpartisipasilah dalam menjaga lingkungan, seperti menanam pohon dan menjaga kebersihan sungai, untuk mengurangi risiko bencana.


    Dengan langkah-langkah ini, FPRB Mojokerto berharap masyarakat Pacet dan sekitarnya dapat lebih siap menghadapi bencana alam, serta membangun budaya sadar bencana di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.

    Mari kita tingkatkan kewaspadaan, jaga alam, dan saling menjaga keselamatan bersama.

  • Jalur Pacet Cangar Dibuka Bertahap, Tergantung Kondisi Cuaca

    Jalur Pacet Cangar Dibuka Bertahap, Tergantung Kondisi Cuaca

    Pacet, Sorbansantri.com — Setelah hampir dua bulan penuh upaya, penanganan longsor di jalur Pacet–Cangar, Mojokerto, mendekati 100% rampung. Hari ini, Selasa (22/4/2025), para pemangku kepentingan terkait menggelar rapat koordinasi untuk mengevaluasi hasil penanganan bencana yang sebelumnya menelan sepuluh korban jiwa tersebut.

    Bertempat di Rest Area Sendi, rapat dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto. Sebelum rapat dimulai, seluruh peserta yang terdiri dari unsur BPBD, Dinas PU Bina Marga, TNI-Polri, serta pemerintah daerah setempat, melakukan kunjungan lapangan ke titik longsor untuk melihat langsung progres penanganan.

    Berdasarkan hasil tinjauan dan evaluasi bersama, diputuskan bahwa jalur Pacet–Cangar akan mulai dibuka secara bertahap pada Rabu, 23 April 2025, dengan jam operasional pukul 05.00–18.00 WIB. Namun, pembukaan jalur ini dilakukan dengan sejumlah catatan penting.

    “Jika terjadi hujan atau kondisi di lapangan dinilai membahayakan pengguna jalan, maka jalur akan segera ditutup kembali demi keselamatan,” tegas Gatot Soebroto dalam berita acara rapat.

    Kebijakan pembukaan bertahap ini menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya para pelaku usaha dan wisata yang sangat terdampak oleh penutupan jalur strategis tersebut. Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.

    Dalam kesempatan itu, Gatot juga mengapresiasi kerja keras seluruh tim di lapangan yang telah berjibaku dalam proses evakuasi, pembersihan material longsor, hingga upaya penguatan lereng untuk mengurangi risiko bencana susulan.

    Pihak BPBD Jatim menghimbau masyarakat untuk selalu mematuhi arahan petugas di lapangan dan memperhatikan informasi cuaca sebelum melintasi jalur Pacet–Cangar. Stakeholder berjanji akan terus melakukan pemantauan ketat demi memastikan keamanan para pengguna jalan.

    Dengan dibukanya jalur ini secara bertahap, diharapkan roda perekonomian kawasan Pacet dan Batu mulai bergerak kembali, meski tetap dibayangi kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem.