Kategori: Kajian

kegiatan atau program yang bertujuan untuk mendalami dan memahami ajaran Islam secara lebih mendalam. Kajian Islam sering kali dilakukan dalam bentuk diskusi, pelatihan, seminar, atau ceramah yang dipimpin oleh ulama, cendekiawan Islam, atau tokoh agama lainnya. Materi kajian Islam dapat mencakup berbagai topik, seperti tafsir Al-Quran, hadis, fiqih, akhlak, sejarah Islam, dan pemikiran-pemikiran Islam kontemporer. Tujuan dari kajian Islam adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keimanan umat Islam serta memberikan pandangan yang lebih luas tentang ajaran dan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan modern.

  • Menjaga Khittah Media Nahdliyin: Antara Dakwah dan Arus Berita Umum

    Menjaga Khittah Media Nahdliyin: Antara Dakwah dan Arus Berita Umum

    Di tengah dinamika informasi yang semakin kompleks, media Nahdliyin memiliki peran strategis dalam menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif dan menyejukkan. Oleh sebab itu, akan lebih bijak apabila media berbasis NU senantiasa menempatkan dakwah, kajian keislaman, dan tradisi pesantren sebagai ruh utama dalam setiap sajian beritanya.

    Pemberitaan politik dan isu nasional memang memiliki nilai informatif tersendiri. Namun, media Nahdliyin memiliki kekhasan yang tidak dimiliki portal berita umum, yakni kedekatannya dengan dunia pesantren, kitab-kitab turats, hukum Islam, serta realitas sosial-ekonomi warga Nahdliyin. Kekhasan inilah yang layak untuk terus diperkuat dan diprioritaskan.

    Dengan memperbanyak konten dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah, kajian fiqih, bahtsul masail, serta penguatan ekonomi umat, media Nahdliyin dapat tampil sebagai ruang pencerahan yang relevan dan bermakna bagi pembacanya. Pendekatan ini tidak hanya menjaga khittah media, tetapi juga mempertegas perbedaan antara media khusus Nahdliyin dan portal berita umum.

    Harapannya, redaksi media Nahdliyin dapat terus menyajikan pemberitaan yang proporsional, berimbang, dan berakar kuat pada nilai-nilai ke-NU-an, sehingga media Nahdliyin tetap menjadi rujukan utama warga NU dalam memahami Islam, tradisi, dan kehidupan sosial secara arif dan bijaksana.

  • Al Mudzakaroh MUI Kabupaten Mojokerto Digelar di RS Mawaddah, Hadirkan Nuansa Berbeda

    Al Mudzakaroh MUI Kabupaten Mojokerto Digelar di RS Mawaddah, Hadirkan Nuansa Berbeda

    Mojokerto – Kegiatan Al Mudzakaroh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto kali ini berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya rutin dilaksanakan di masjid, Al Mudzakaroh kali ini digelar di Aula RS Mawaddah, Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Senin (awal Januari 2026).

    RS Mawaddah sendiri dikenal sebagai salah satu rumah sakit terbesar di Kabupaten Mojokerto. Lokasi ini bukanlah hal baru bagi MUI, mengingat sebelumnya aula RS Mawaddah juga pernah digunakan sebagai tempat pelantikan pengurus MUI Kecamatan Ngoro, dengan restu pimpinan rumah sakit setempat.

    Acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars MUI. Selanjutnya, sambutan tuan rumah disampaikan oleh Direktur RS Mawaddah, dr. Sihwati Wilujeng. Sambutan tersebut disambut antusias oleh para hadirin, terlebih saat beliau menyampaikan kekhawatirannya terkait jumlah peserta yang hadir melebihi perkiraan sehingga hidangan yang disiapkan dikhawatirkan tidak mencukupi.

    Lebih jauh, dr. Sihwati juga menyoroti laporan Pemerintah Arab Saudi terkait meningkatnya jumlah jamaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia setiap tahunnya. Menurutnya, faktor kesehatan jamaah perlu mendapat perhatian yang lebih serius sejak sebelum keberangkatan. Dalam konteks ini, MUI dinilai memiliki peran strategis sebagai institusi keagamaan resmi negara dalam memberikan edukasi dan perhatian terhadap kesiapan kesehatan jamaah haji.

    Hal tersebut ditanggapi dengan gaya ringan oleh Ketua MUI Kabupaten Mojokerto, KH Cholil Arphaphy, MM. Dalam sambutannya, beliau berseloroh agar RS Mawaddah bisa memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi para pengurus MUI Kabupaten Mojokerto. Candaan tersebut sontak mencairkan suasana dan disambut gelak tawa serta tepuk tangan para jamaah yang memenuhi aula.

    Kegiatan Al Mudzakaroh ini dihadiri lengkap oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Bupati Mojokerto diwakili oleh Wakil Bupati Bapak Reza, Kapolres Mojokerto AKBP Irham beserta jajaran, Camat Ngoro, serta Kepala KUA Kecamatan Ngoro.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Reza menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru 2026 kepada seluruh hadirin. Ia juga mengingatkan bahwa tahun 2026 kemungkinan akan membawa tantangan yang berbeda dibandingkan tahun 2025, sehingga diperlukan kesiapan, kebersamaan, dan sinergi seluruh elemen masyarakat.

    Sementara itu, Kapolres Mojokerto AKBP Irham mengenang masa kecilnya di rumah kelahirannya di Muntilan, Magelang. Ia menuturkan bahwa suasana Al Mudzakaroh tersebut mengingatkannya pada tradisi pengajian yang dahulu sering diikuti bersama kakeknya. Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan bahwa masa tugasnya sebagai Kapolres Mojokerto merupakan amanah yang berat namun dijalani dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. Menjelang kepindahan tugasnya ke Tulungagung, AKBP Irham pun berpamitan serta memohon doa restu dan maaf kepada seluruh hadirin.

    Sebagai puncak acara, pengajian disampaikan oleh KH Masrihan Asy’ari. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu. Ia menyampaikan bahwa orang alim yang menuruti hawa nafsunya justru lebih buruk, sementara orang awam yang mampu menahan hawa nafsunya lebih baik dibandingkan orang alim yang kalah oleh nafsu. KH Masrihan juga mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih pergaulan, khususnya dengan orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsu.

    Tausiyah tersebut disampaikan dengan gaya komunikatif, penuh sindiran halus dan humor segar, sehingga suasana pengajian berlangsung hidup dan disambut riuh tepuk tangan para jamaah.

  • Sholat Tarawih Cepat dalam Perspektif Fiqih Imam Hanafi, Berkhusnudonlah!

    Sholat Tarawih Cepat dalam Perspektif Fiqih Imam Hanafi, Berkhusnudonlah!

    SorbanSantri.com — Setiap bulan Ramadan, sholat tarawih menjadi amalan yang dinantikan oleh umat Islam. Namun, tak jarang ada keluhan tentang pelaksanaan sholat tarawih yang dilakukan dengan cepat. Dalam hal ini, penting memahami bahwa dalam fiqh Imam Hanafi, ada kelonggaran dalam beberapa rukun dan kewajiban sholat yang membuat pelaksanaan tarawih cepat tetap sah.

    Dalam pandangan fiqh Imam Hanafi, membaca Al-Qur’an dalam sholat tidak harus surat Al-Fatihah. Artinya, surat atau ayat lain bisa menggantikan Fatihah dalam rakaat sholat, sehingga mempercepat pelaksanaan sholat. Selain itu, makmum juga tidak diwajibkan membaca Al-Qur’an. Kewajiban membaca ayat-ayat suci dalam sholat hanya dibebankan kepada imam, sementara makmum cukup mengikuti gerakan imam.

    Lebih lanjut, Imam Hanafi juga berpendapat bahwa i’tidal (berdiri setelah ruku’) dan duduk di antara dua sujud tidak diwajibkan untuk dilakukan dengan tuma’ninah (tenang dan diam sejenak). Oleh karena itu, gerakan sholat yang cepat tetap dianggap sah meskipun tidak ada jeda yang lama di antara rukun-rukun tersebut.

    Tahiyat akhir, yang biasa dianggap bagian penting dalam sholat, menurut Imam Hanafi bukan merupakan rukun. Artinya, ketidaklengkapan dalam tahiyat pun tidak membatalkan sholat. Pandangan ini menjadi dasar toleransi dalam pelaksanaan sholat tarawih yang cepat.

    Oleh karena itu, ketika menemui pelaksanaan sholat tarawih yang cepat, sebaiknya kita berkhusnudon (berprasangka baik). Bisa jadi imam yang memimpin sholat mengikuti pandangan fiqh Imam Hanafi yang memiliki dasar kuat dalam Islam. Daripada sibuk mengkritik, mari fokus pada kekhusyukan dan keikhlasan ibadah kita.

    Dengan memahami keragaman pendapat dalam fiqh, semoga kita semakin bijak dalam menyikapi perbedaan dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam bishawab.

    @beritasorban Kenapa sih ada sholat tarawih yang cepat banget? Jangan buru-buru mengkritik! Dalam fiqh Imam Hanafi, ada kelonggaran yang membuat pelaksanaan sholat seperti ini tetap sah. Bacaan Al-Fatihah nggak wajib di setiap rakaat, makmum pun nggak harus membaca Al-Qur’an—cukup imam saja. Gerakan seperti i’tidal dan duduk di antara dua sujud juga nggak mesti pakai tuma’ninah. Bahkan tahiyat akhir bukan bagian rukun sholat! Jadi, kalau tarawih terasa cepat, bisa jadi imamnya mengikuti pandangan mazhab Hanafi. Yuk, kita berhusnudzon dan tetap jaga kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan ini! #TarawihCepat #FiqhHanafi #RamadanKareem #IbadahRamadan #SholatTarawih #Husnudzon #KajianIslam #fypシ゚ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Terjemah Sullamut Taufiq (Sullam Al Taufiq)

    Terjemah Sullamut Taufiq (Sullam Al Taufiq)

    Daftar Isi

    Judul asal: Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
    Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
    Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi’i (1191-1272 H/-1777 M)
    Penerjemah:
    Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih

    Pengantar Penulis

    مُقَدِّمَةُ المُؤَلِّف

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العالَمِينَ، وأشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهْ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ والتّابِعِين.

    أمّا بَعْدُ، فَهٰذا جُزْءٌ لَطِيفٌ يَسَّرَهُ اللهُ تَعالَى، فِيما يَجِبُ تَعَلُّمُهُ، وتَعْلِيمُهُ، والعَمَلُ بِهِ لِلخاصِّ والعامِّ، والواجِبُ ما وَعَدَ اللهُ فاعِلَهُ بِالثَّوابِ، وتَوَعَّدَ تارِكَهُ بِالعِقابِ، وسَمَّيْتُهُ سُلَّمَ التّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق، أسأَلُ اللهَ الكَرِيمَ أنْ يَجْعَلَ ذٰلك مِنْهُولَهُ وفِيهِ وإلَيْه، ومُوجِبًا لِلقُرْبِ والزُّلْفَى لَدَيْه، وأنْ يُوَفِّقَ مَنْ وَقَفَ عليه لِلْعَمَلِ بِمُقْتَضاه، ثُمَّ التَّرَقِّي بِالتَّوَدُّدِ بِالنَّوافِلِ لِيَحُوزَ حُبَّهُ ووَلاه.

    Pendahuluan

    Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

    Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadi tuhan semesta alam.

    Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah yang maha tunggal yang tiada sekutu baginya.

    Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Semoga sholawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan atas beliau, seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikut mereka.

    Selanjutnya, ini adalah sebuah kitab kecil (semoga Allah menjadikannya mudah untuk difaham dan diamalkan) yang menjelaskan tentang hal-hal yang wajib untuk dipelajari dan diajarkan serta diamalkan oleh orang yang berilmu maupun orang awam.

    Wajib adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang yang mengerjakannya dengan mendapatkan pahala dan telah diancam oleh Allah bagi orang yang meninggalkannya dengan mendapatkan siksa.

    Dan aku namai kitab ini dengan nama “Tangga pertolongan untuk menggapai cinta Allah dengan sebenar-benarnya.”

    Aku memohon kepada Allah yang maha dermawan agar nenjadikan kitab ini semata-mata anugrah dariNya, murni karenaNya, cinta padaNya dan menyampaikan kepadaNya.

    Dan sebagai pendekat di sisiNya

    Dan semoga Allah memberikan pertolongan pada orang yang mempelajari kitab ini untuk bisa mengamalkan isinya (mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram).

    Kemudian terus meningkat dengan senang mengamalkan kesunahan-kesunahan supaya ia bisa mempeoleh cinta dan pertolongan Allah.

    Bab Pokok-pokok Agama

    بابُ أُصُولِ الدِّينِ

    فَصْلٌ: في الواجِبِ على كُلِّ مُكَلَّفٍ

    يَجِبُ على كافَّةِ المُكَلَّفِينَ الدُّخُولُ في دِينِ الإسْلام، والثُّبُوتُ فيه على الدَّوام، والْتِزامُ ما لَزِمَ عليه مِنَ الأحْكام.

    فَصْلٌ: في مَعْنَى الشَّهادَتَيْنِ

    فَمِمّا يَجِبُ عِلْمُهُ واعْتِقادُهُ مُطْلَقًا، والنُّطْقُ به في الحالِ إنْ كانَ كافِرًا، وإلّا ففي الصَّلاةِ، الشَّهادَتانِ وهُما: “أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ”، صلى الله عليه وسلم.

    مَعْنَى الشَّهادَةِ الأُولَى: ومَعْنَى أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُؤْمِنَ وتُصَدِّقَ أنْ لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ في الوُجُودِ إلّا اللهُ، الواحِدُ، الأحَدُ، الأوَّلُ، القَدِيمُ، الحَيُّ، القَيُّومُ، الباقِي، الدائِمُ، الخالِقُ، الرّازِقُ، العالِمُ، القَدِيرُ، الفَعّالُ لما يُرِيدُ، ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، مَوْصُوفٌ بِكُلِّ كَمالٍ، مُنَزَّهٌ عن كُلِّ نَقْصٍ، ﴿ لَيْسَ كَمثْلِهِ شَيْءٌ وهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾، فهو القَدِيمُ وما سِواهُ حادِثٌ، وهو الخالِقُ وما سِواهُ مَخْلُوقٌ، وكَلامُهُ قَدِيمٌ [أي بِلا ابْتِداءٍ] كَسائِرِ صِفاتِهِ، لِأنَّهُ سُبْحانَهُ مُبايِنٌ لِجَمِيعِ المَخْلُوقاتِ في الذّاتِ والصِّفاتِ والأفْعال، [ومَهْما تَصَوَّرْتَ بِبالِك، فَاللهُ تَعالَى لا يُشْبِهُ ذلِك]، سُبْحانَهُ وتَعالَى عَمّا يَقُولُ الظّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

    مَعْنَى الشَّهادَةِ الثّانِيَةِ: ومَعْنَى أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُصَدِّقَ وتُؤْمِنَ أنَّ سَيِّدَنا ونَبِيَّنا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنافٍ القُرَشِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ عَبْدُ اللهِ ورَسُولُهُ إلى جَمِيعِ الخَلْقِ؛ وُلِدَ بِمَكَّةَ، وبُعِثَ بِها، وهاجَرَ إلى المَدِينَةِ، ودُفِنَ فيها، وأنَّهُ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ صادِقٌ في جَمِيعِ ما أخْبَرَ بِهِ .

    Pasal Yang Wajib bagi Setiap Muslim Mukallaf

    Setiap orang yang mukallaf (baligh dan berakal) wajib masuk kedalam agama islam dan menetap selama-lamanya serta menjalankan semua hukum-hukumnya.

    Pasal Makna Dua Kalimat Syahadat

    Diantara perkara yang wajib untuk diketahui dan diyakininya adalah dua kalimat syahadat yang wajib ia ucapkan disaat itu juga apabila ia kafir dan didalam sholat apabila ia muslim.

    Dua kalimat syahadat itu adalah “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah dan bahwasanya nabi Muhammad SAW adalah utusanNya.”

    Adapun ma’na أشهد ان لا اله الا الله adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya didalam wujud kecuali hanya Allah.

    Yang maha esa, yang maha tunggal, yang maha pertama, yang maha terdahulu, yang maha hidup, yang maha kekal, yang maha abadi, yang maha pencipta, yang maha memberi rizqi, yang maha mengetahui, yang maha kuasa, yang maha memperbuat pada sesuatu yang dikehendaki.

    Apapun yang diinginkanNya wujud, maka akan terwujud. Dan apapun yang tidak diinginkanNya wujud, maka tidak akan terwujud. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganNya yang maha tinggi lagi maha agung.

    Dia bersifat dengan semua sifat kesempurnaan dan disucikan dari semua kekurangan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamaiNya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.

    Dia adalah terdahulu dan selainNya adalah baharu. Dan Dia adalah yang menciptakan dan selainNya adalah yang diciptakan.

    KalamNya adalah terdahulu sebagaimana sifat-sifatNya karena sesungguhnya Dia (maha suci Dia) berbeda dengan seluruh makhluk didalam dzat, sifat dan perbuatan.

    Maha suci dan maha tinggi Dia dari apa-apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zholim dengan ketinggian yang besar.

    Dan adapun ma’na أشهد أن محمدا رسول الله adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya junjungan dan nabi kita Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul muththolib bin Hasyim bin Abdu manaf yang bersuku quraisy adalah hamba dan utusan Allah kepada seluruh makhluk.

    Beliau dilahirkan dan diutus di mekah dan beliau hijrah ke madinah dan dikuburkan disana.

    Beliau SAW adalah benar di dalam seluruh kabar yang telah disampaikannya.[alkhoirot.COM]

    Fasal Hal yang Wajib Diimani

    فَصْلٌ فِيما يَجِبُ الإيمانُ به مِنَ السَّمْعِيّاتِ

    فَمِنْ ذٰلك عَذابُ القَبْرِ، ونَعِيمُهُ، وسُؤالُ المَلَكَيْنِ مُنْكَرٍ ونَكِيرٍ، والبَعْثُ، والحَشْرُ، والقِيامَةُ، والحِسابُ، والثَّوابُ، والعَذابُ، والمِيزانُ، والنّارُ، والصِّراطُ، والحَوْضُ، والشَّفاعَةُ، والجَنَّةُ، والخُلُودُ، والرُّؤْيَةُ للهِ سُبْحانَهُ وتَعالَى [لا كَما يُرَى المَخْلُوقُ، فَيَراهُ المُؤْمِنُونَ في الآخِرَةِ وهُمْ] في الجَنَّةِ [وقَبْلَ دُخُولِها] ، وأنْ تُؤمِنَ بِمَلائِكَةِ اللهِ، ورُسُلِهِ، وكُتُبِهِ، وبِالقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ، وأنَّهُ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ خاتَمُ النَّبِيِّينَ وسَيِّدُ ولَدِ آدَمَ أجْمَعِينَ.

    Pasal Berita yang Wajib Diimani

    Diantara kabar tersebut adalah adanya siksa dan nikmat kubur, pertanyaan malaikat munkar dan nakir, kebangkitan, penggiringan, hari kiamat dan perhitungan.

    Dan adanya pahala, siksa, timbangan amal, neraka, siroth, telaga, syafa’at, surga, kekal dan melihat Allah Ta’ala didalam surga.

    Dan engkau beriman dengan para malaikat Allah, para rasulNya, kitab-kitabNya, qodar baik dan buruk, dan bahwasanya Nabi SAW itu adalah penutup para nabi dan penghulu seluruh anak adam.

    Fasal Ringkasan Memahami Allah Taala

    فَصْلٌ في خُلاصَةِ مَعْرِفَةِ اللهِ تَعالَى

    ما يَجِبُ للهِ تَعالَى: خُلاصَةُ ما تَقَدَّمَ في مَعْنَى الشَّهادَةِ الأُولَى إثْباتُ ثَلاثَ عَشْرَةَ صِفَةً للهِ تَعالَى، أي اعْتِقادُ أنَّها مِنْ صِفاتِهِ تَعالَى الَّتِي لا حَدَّ لَها في العَدِّ، ولا يُحْصِيها أَحَدٌ مِنَ الخَلْقِ، وتَدُلُّ على الكَمالِ المُطْلَقِ؛ وهٰذه الصِّفاتُ الثّلاثَةَ عَشَرَ دَلَّ العَقْلُ على وُجُوبِها للهِ تَعالَى، بِمَعْنَى أنَّ العَقْلَ لا يَقْبَلُ ولا يُصَدِّقُ نَفْيَ أيٍّ منها عَنِ اللهِ تَعالَى، وقالَ العُلَماءُ إنَّه يَجِبُ مَعْرِفَتُها على كُلِّ مُكَلَّفٍ وُجُوبًا عَيْنِيًّا، لِأنَّها تَكَرَّرَ ذِكْرُها كَثِيرًا في النَّقْلَِ أي القُرْآنِ والحَدِيثِ، إمّا لَفْظًا وإمّا مَعْنًى؛ ولَيْسَتْ مَعْرِفَتُها الواجِبَةُ مَعرِفَةَ إحاطَةٍ بِحَقائِقِها، فَالخَلقُ جَمِيعًا عاجِزُونَ عن مَعْرِفَةِ حَقِيقَةِ اللهِ تَعالَى وصِفاتِهِ، فَلا يَعْرِفُ اللهَ على الحَقِيقَةِ إلّا اللهُ، وهي: صِفَةُ الوُجُودِ وصِفَةُ الوَحْدانِيَّةِ وصِفَةُ الأزَلِيَّةِ وصِفَةُ البَقاءِ وصِفَةُ عَدَمِ مُشابَهَةِ غَيْرِهِ وصِفَةُ الاسْتِغْناءِ المُطْلَقِ عَنْ غَيْرِهِ وصِفَةُ القُدْرَةِ وصِفَةُ الإرادَةِ وصِفَةُ العِلْمِ وصِفَةُ السَّمْعِ (بِلا أُذُنٍ) وصِفَةُ البَصَرِ (بِلا عَيْنٍ) وصِفَةُ الحَياةِ (بِلا رُوحٍ) وصِفَةُ الكَلامِ (بِلا حَرْفٍ ولا صَوْتٍ ولا لُغَةٍ)

    وصِفاتُ الأُلُوهِيَّةِ هٰذه لا تَتَغَيَّرُ فَلَيْسَتْ طارِئَةً بَلْ هي صِفاتٌ للهِ بِلا ابْتِداءٍ، لأنَّ صِفاتِ الأَزَلِيِّ لا تَكُونُ إلّا أَزَلِيَّةً، ولا شَبَهَ بَيْنَ صِفاتِ اللهِ وبَيْنَ ما يُسَمَّى بِأَسْمائِها مِنْ صِفاتِ المَخْلُوقاتِ، وإنْ كانَتِ المَعانِي اللُّغَوِيَّةُ لِما يُسَمَّى بِاسْمِها مِنْ صِفاتِ المَخْلُوقاتِ تُقَرِّبُ لِعُقُولِنا فَهْمَ ما يُمْكِنُنا فَهْمُهُ عَنْها، مَعَ اسْتِحْضارِ أَنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ صِفاتٍ الخَلْقِ وصِفاتِ الحَقِّ اشْتِراكٌ أَصْلًا ولا مُشابَهَةٌ بَتاتًا.

    ما يَسْتَحِيلُ على اللهِ تَعالَى: وحُكْمُ العَقْلِ بِوُجُوبِ هٰذِهِ الصِّفاتِ المَذْكُورَةِ للهِ تَعالَى يَعْنِي أنَّ العَقْلَ لا يَقْبَلُ ولا يُصَدِّقُ أنْ يَكُونَ اللهُ مُتَّصِفًا بأَضْدادِها، أي أنَّ العَقْلَ يَحْكُمُ أيْضًا بِاسْتِحالَةِ صِفاتِ النَّقْصِ الَّتِي تُقابِلُها وتُنافِيها عليه تَعالَى، ويَنْفِيها قَطْعًا عنه تَعالَى، وكذٰلك النَّقْلُ يَدُلُّ على انْتِفائِها عنه تَعالَى، وهي: العَدَمُ والتَّعَدُّدُ والابْتِداءُ والانْتِهاءُ
    ومُشابَهَةُ غَيْرِهِ والاحْتِياجُ إلى غَيْرِهِ والعَجْزُ عن شَيْءٍ وأنْ يَكُونَ مُكْرَها على أمْرٍ، أو بِلا اخْتِيارٍ في فِعْلٍ والجَهْلُ بِشَيْءٍ والصَّمَمُ والعَمَى والمَوْتُ والبَكَمُ (بِمَعْنَى انْتِفاءِ صِفَةِ الكَلامِ الأزَلِيِّ الذي لَيْسَ بِلُغَةٍ وصَوْتٍ عنه تَعالَى)

    ما يَجُوزُ في حَقِّ اللهِ تَعالَى: ودَلَّ العَقْلُ والنَّقْلُ أيْضًا على أنَّهُ يَجُوزُ أنْ يُوجِدَ اللهُ أيَّ مُمكِنٍ أو يَتْرُكَ إيجادَهُ، ولٰكِنَّهُ تَعالَىٰ لا يُوجِدُ إلّا ما سَبَقَ في عِلْمِهِ الأزَليِّ ومَشِيئَتِهِ الأزَلِيَّةِ أنَّهُ يَدْخُلُ في الوُجُودِ، فَيُوجِدُ اللهُ تَعالَى المَخْلُوقَ في وَقْتِهِ على حَسَبِ ما عَلِمَهُ اللهُ وشاءَهُ بِلا ابْتِداءٍ.

    Fasal Ringkasan Memahami Allah Taala

    Yang wajib bagi Allah: Ringkasan makna kalimat Syahadat yang pertama adalah menetapkan 10 sifat Allah yakni meyakini bahwa ke-13 sifat tersebut bagian dari sifat-sifat Allah yang tidak terbatas dan tidak ada makhluk yang dapat menghitungnya. Itu menunjukkan atas kesempurnaan mutlak. Sifat yang 13 ini menurut akal wajib atas Allah dalam arti bahwa akal tidak menerima dan tidak membenarkan tidak adanya ke-13 sifat itu dari Allah. Ulama berkata: wajib mengetahuinya bagi setiap muslim mukalaf secara fardhu ain karena ia disebut secara berulang-ulang dalam Al-Quran dan hadits baik secara lafazh atau makna. Wajibnya mengetahui ke-13 sifat ini bukanlah wajib mengetahui hakikatnya secara mendalam. Karena semua makhluk tidak mampu mengetahui hakikat Allah dan sifat-sifatNya sehingga tidak akan ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Dia sendiri.

    13 Sifat Wajib Bagi Allah

    Ketigabelas sifat itu adalah: sifat wujud, wahdaniyat (satu), azali (tidak berawal), baqa (abadi), tidak menyerupai yang lain, tidak butuh yang lain secara mutlak, qudrah, iradat, ilm, mendengar (tanpa telinga), melihat (tanpa mata), hidup (tanpa ruh), berbicara (tanpa huruf, suara dan bahasa).

    Sifat uluhiyah (ketuhanan) tidak akan berubah dan bukanlah hal baru. Ia adalah sifat-sifat Allah yang tanpa permulaan, karena sifat azali tidak terjadi kecuali azali (tanpa awal). Tidak ada keserupaan antara sifat-sifat Allah dengan nama serupa dari sifat makhluk. Walaupun makna bahasanya antara nama sifat Allah dengan sifat makhluk memiliki kedekatan arti menurut akal dan pemahaman kita. Walaupun kita tahu bahwa sifat makhluk dan sifat Allah tidak ada kesamaan atau keserupaan sama sekali.

    13 Sifat yang mustahil bagi Allah

    Hukum akal atas wajibnya sifat-sifat tersebut bagi Allah bermakna bahwa akal tidak menerima dan tidak membenarkan apabila Allah memiliki sifat sebaliknya. Yakni bahwa akal menghukumi mustahilnya sifat kekurangan yang berbanding dengan sifat wajibNya dan meniadakan sama sekali dari Allah. Begitu juga Al-Quran dan hadits menunjukkan tidak adanya sifat-sifat mustahil itu dari Allah. Sifat mustahil itu adalah: tidak ada, lebih dari satu (ta’addud), ada permulaan (ibtida), ada akhir (intiha), serupa dengan yang lain, butuh pada yang lain, lemah dari sesuatu, terpaksa dalam melakukan sesuatu, tidak tahu (jahl), tuli (shomam), buta (ama), mati (maut), bisu (bakam).

    Sifat yang jaiz (mungkin) bagi Allah

    Akal dan dalil naqli menunjukkan bahwa Allah bisa mewujudkan perkara yang mungkin atau tidak mewujudkannya. Akan tetapi Allah tidak mengadakan sesuatu kecuali karena ilmunya yang azali dan kehendakNya yang azali bahwa hal itu masuk dalam wujud. Maka, Allah akan mewujudkan makhluk pada saatnya berdasarkan pada ilmu dan kehendakNya tanpa permulaan.[ALKHOIROT.COM]

    Dalil Adanya Allah dan Sifat-sifat-Nya

    فَصْلٌ : في الدَّلِيلِ الإجْمالِيِّ على وُجُودِ اللهِ وصِفاتِهِ

    يَجِبُ على المُكَلَّفِ أنْ يَعْرِفَ الدَّلِيلَ الإجْمالِيَّ على وُجُودِ اللهِ تَعالَى وصِفاتِهِ لِيُحَصِّنَ إيمانَه، ومِثالُهُ أنْ يَقُولَ في نَفْسِهِ: أنا وُجِدْتُ في بَطْنِ أُمِّي، بَعْدَ أنْ لَمْ أكُنْ مَوْجُودًا، ومَنْ وُجِدَ بَعْدَ أنْ لَمْ يَكُنْ فَلا بُدَّ لَهُ مِنْ مُوجِدٍ أي خالِقٍ أوْجَدَهُ وكَوَّنَهُ، فَلا بُدَّ لِي مِنْ خالِقٍ خَلَقَ لِي أعْضائِيَ وأجْزائِيَ وتَفاصِيلِيَ الدَّاخِلِيَّةَ والخارِجِيَّةَ، وذٰلِكَ المُكَوِّنُ الَّذِي كَوَّنَنِي وأوْجَدَنِي لَيْسَ أبِي ولا أُمِّي ولا أيَّ مَخْلُوقٍ آخَرَ، بَلْ هُوَ خالِقٌ عَظِيمٌ، خَلَقَ كُلَّ مَا في هَذَا الكَوْنِ، ويُسَيطِر على كُلِّ ذرَّةٍ مِنْ ذرّاتِهِ سَيْطَرَةً تامَّة، فهو إلٰه واحِدٌ، لا شَرِيكَ ولا مَثِيلَ لَهُ، وهُوَ مُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ، فَلَهُ الكَمالُ المُطْلَقُ غَيْرُ المَحْدُودِ، فَلا بُدَّ أنْ يَكُونَ مُتَّصِفًا بِالعِلْمِ والقُدْرَةِ والإرادَةِ والحَياةِ وسائِرِ صِفاتِ الكَمالِ على ما يَلِيقُ بِالأُلُوهِيَّةِ، وعُقُولُ الخَلْقِ لا تُحِيطُ بِهِ عِلْمًا، ويُسَمَّى بِالعَرَبِيَّةِ “اللهَ”.

    فصل في جَوابِ مَنْ يَسْأَلُ: “ما هُوَ اللهُ؟

    مِنَ المُهِمِّ أَنْ يَعْرِفَ المُسْلِمُ كَيْفَ يُجِيبُ مَنْ يَسْأَلُ: “ما هُوَ اللهُ؟”، فَهَذا سُؤالٌ يَطْرَحُهُ كَثِيرٌ مِنَ الصِّغارِ، ولا يُحْسِنُ الإِجابَةَ عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الكِبارِ؛ ويُمْكِنُ إجابَتُهُ إجابَةً صَحِيحَةً بِأَنْ يُقالَ: اللهُ تَعالَى مَوْجُودٌ لا يُشْبِهُ غَيْرَهُ مِنَ المَوْجُوداتِ، فَمَهْما تَصَوَّرْتَ بِبالِكَ فَاللهُ لا يُشْبِهُ ذٰلك، ولا يَعْلَمُ أَحَدٌ غَيْرُهُ تَعالَى حَقِيقَتَهُ، ولٰكِنَّنا بِناءً على الأَدِلَّةَ القَطْعِيَّةَ نَعْلَمُ يَقِينًا عَنِ اللهِ تَعالَى أُمُورًا مِنْها:
    حَقِيقَةُ اللهِ تَعالَى لَيْسَتْ كَحَقِيقَةِ أَحَدٍ غَيْرِهِ، فَلَيْسَ تَعالَى مِنْ أَفْرادِ الكَوْنِ أي العالَمِ؛
    لَيْسَ اللهُ تَعالَى في أيِّ مَكانٍ أو جِهَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ ذا جِسْمٍ وحَجْمٍ وشَكْلٍ؛
    لا يَحْتاجُ الله تعالى إِلى شَيْءٍ، ولا يَتَضَرَّرُ بشيءٍ، ولا يَنْتَفِعُ بِشَيْءٍ؛ لِأَنَّ لَهُ الكَمالَ المُطْلَقَ؛
    اللهُ تَعالَى لا بِدايَةَ لِوُجُودِهِ، فَلَيْسَ لَهُ خالِقٌ كَغَيْرِهِ؛
    اللهُ تَعالَى خالِقُ كُلِّ ما سِواهُ، أيِ كُلِّ ما في العالَمِ؛
    ما أَوْهَمَتْ ظَواهِرُهُ مِنَ الآياتِ الكَرِيمَةِ والأَحادِيثِ الشَّرِيفَةِ اتِّصافَ اللهِ تَعالَى بِصِفَةٍ مِنْ صِفاتِ المَخْلُوقاتِ، كَالجِسْمِ والمَكانِ والحَرَكَةِ والسُّكُونِ، فَتَفْسِيرُهُ الصَّحِيحُ غَيْرُ ذٰلك قَطْعًا.

    خُلاصَةٌ في مَعْرِفَةِ الأَنْبِياءِ عليهم الصَّلاةُ والسَّلامُ

    المُعْجِزاتُ دَلِيلٌ قاطِعٌ على صِدْقِ الأَنْبِياءِ: ويَجِبُ اعْتقادُ أنَّ المُعْجِزاتِ دَلِيلٌ يَقِينِيٌّ على صِدْقِ الأَنْبِياءِ، الَّذِينَ هُمْ أَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ تَعالَى، وسُفَراؤُهُ إلى غَيْرِهِمْ مِنْ خَلْقِهِ، وهي خَوارِقُ لِلعاداتِ الكَوْنِيَّةِ في الدُّنْيا أيَّدَهُمُ اللهُ بِها وخصَّهُمْ بِها إظْهارًا لِتَصْدِيقِهِ لَهُمْ، وجَعَلَها مُوافِقَةً لِدَعْواهُمُ النُّبوَّةَ، وأعْجَزَ عن الإتْيانِ بِمِثْلِها كُلَّ مُتَنَبِّئٍ زُورًا وكلَّ مُكَذِّبٍ لأحَدٍ مِنَ الأنْبِياءِ.

    ما يَجِبُ لِلْأَنْبِياءِ: ويَجِبُ اعْتقادُ أنَّ كُلَّ نَبِيٍّ مِنْ أنْبِياءِ اللهِ عليهم الصَّلاةُ والسَّلامُ يَجِبُ لَهُ – بالدَّلِيلِ العَقْلِيِّ أو بِالدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ أو بِهِما مَعًا – صِفاتٌ حَمِيدَةٌ، منها: الصِّدْقُ والأمانَةُ والتَّبْلِيغُ والفَطانَةُ والصِّيانَةُ (وهي البُعْدُ عَمّا يَعِيبُ) والعِصْمَةُ مِنَ الكُفْرِ وسائِرِ الذُّنُوبِ كَبِيرِها وصَغِيرِها، قَبْلَ النُّبُوَّةِ وبَعْدَها

    ما يَسْتَحِيلُ على الأَنْبِياءِ: يَسْتَحِيلُ على أيٍّ مِنَ الأنْبِياءِ أضْدادُ الصِّفاتِ الواجِبَةِ لَهُمْ، فَمِمّا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِمُ: الكَذِبُ والخِيانَةُ وكِتْمانُ شَيْءٍ أَمَرَهُمُ اللهُ تَعالَى بِتَبْلِيغِهِ والرَّذالَةُ والسَّفاهَةُ والهَزِيمَةُ والخِسَّةُ والغَباوَةُ والكُفْرُ وما يُكْتَبُ عليهم بِهِ ذَنْبٌ، قَبْلَ النُّبُوَّةِ وبَعْدَها؛ وكُلُّ عِبارَةٍ، مِمّا ثَبَتَ عن اللهِ تَعالَى أو عن رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، إذا أوْهَمَ ظاهِرُها خِلافَ ما يَجِبُ لْلأنْبِياءِ، فَتَفْسِيرُها الصَّحِيحُ غَيْرُ ظاهِرِها.

    ما يَجُوزُ في حَقِّ الأَنْبِياءِ: ويَجِبُ اعْتِقادُ أنَّ جَمِيعَ الأنْبِياءِ بَشَرٌ فَيَجُوزُ عليهم الأعْراضُ البَشرِيَّةُ الَّتي لا تُنافِي مَقامَهُمْ ومُهِمَّتَهُمْ وما يَجِبُ لَهُم؛ فَيَجُوزُ عليهم الأَكْلُ، والشُّرْبُ، والزَّواجُ، والمَرَضُ غيرُ المُنَفِّرِ منهم وغيرُ المُخِلِّ بِدَعْوَتِهِمْ، ونَوْمُ العَيْنِ لا القَلْبِ، والمَوْتُ.

    Dalil Ringkas Adanya Allah dan Sifat-sifat-Nya

    Wajib bagi muslim mukalaf mengetahui dalil ringkas atas adanya Allah dan sifat-sifatNya agar dapat memelihara imannya. Contohnya seseorang berkata pada dirinya: Aku ada di perut ibuku setelah aku tidak ada. Barangsiapa ada setelah tidak ada maka pasti ada yang mengadakan yakni pencipta yang mewujudkan dan membentuknya. Maka pasti ada Pencipta yang telah menjadikan anggota tubuhku, bagianku, unsur-unsur jasadku di dalam dan di luar. Pencipta yang menciptakanku pasti bukan ayah atau ibuku atau makhluk lain. Ia pasti Pencipta Yang Agung. Yang menciptakan segala sesuatu di alam ini dan menguasai setiap molekul alam secara sempurna. Ia adalah Tuhan Yang Satu. Tidak ada yang menyekutukannya dan menyamaiNya. Ia suci dari segala kekurangan. Ia pemilik kesempurnaan mutlak tanpa batas. Ia pasti memiliki sifat ilmu, kuasa (qudrat), kehendak (iradat), hidup (hayat), dan sifat-sifat sempurna yang lain yang sesuai dengan ketuhananNya. Akal makhlukNya tidak dapat mencapai-Nya. Dalam bahasa Arab Ia disebut “Allah”.

    Fasal Menjawab Orang yang Bertanya: Apa itu Allah?

    Penting bagi muslim untuk tahu bagaimana cara menjawab orang yang bertanya: “Apa itu Allah?” Ini pertanyaan yang sering ditanyakan oleh banyak anak kecil dan tidak sedikit orang dewasa yang tidak dapat menjawabnya. Jawaban yang benar adalah: Allah itu ada dan tidak menyerupai apapun di dunia. Ketika hatimu menggambarkan sesuatu di hatimu, maka Allah tidak seperti itu. Tidak ada seorang pun selain Allah yang tahu hakikatNya. Akan tetapi berdasarkan pada dalil-dalil yang pasti kita mengetahui secara yakin tentang Allah beberapa hal antara lain:
    – Hakikat Allah tidaklah seperti hakikat siapapun selain-Nya. Allah tidak menjadi bagian dari alam.
    – Allah tidak berada di suatu tempat atau arah, karena Ia tidak berupa jasad atau bentuk.
    – Allah tidak membutuhkan sesuatu dan tidak cedera karena sesuatu, tidak mendapat manfaat oleh sesuatu karena Ia memiliki kesempurnaan mutlak
    – Allah tidak ada permulaan atas wujudNya, Dia tidak mempunyai pencipta seperti yang lain.
    – Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang terdapat di alam semesta.
    – Apabila ada ayat-ayat Al Quran dan hadits Nabi yang menyifati Allah dengan sifat makhluk-Nya seperti tubuh, bergerak, diam, maka tafsir yang sahih adalah tidak dimaknai demikian.

    Ringkasan dalam Memahami Para Nabi

    Mukjizat adalah dalil yang pasti atas kebenaran para Nabi

    Wajib meyakini bahwa mukjizat adalah dalil yang meyakinkan atas kebenaran para Nabi yang merupakan makhluk Allah paling utama. Utusan Allah pada makhluk Allah yang lain. Mujizat adalah perkara yang luar biasa yang keluar dari kebiasaan alam dunia. Para Nabi diberi kemampuan dan kekhususan itu oleh Allah untuk menampakkan kebenaran mereka. Mu’jizat dijadikan sebagai pendukung pada klaim kenabian mereka. Mujizat para Nabi tidak mampu ditiru oleh Nabi palsu dan siapapun yang tidak percaya pada para Nabi.

    Sifat yang Wajib bagi para Nabi

    Wajib meyakini bahwa setiap Nabi Allah – dengan dalil akal dan syar’i atau keduanya – untuk memiliki sifat terpuji. Antara lain: sidiq (jujur), amanah, tabligh (menyampaikan kebenaran), fatonah (cerdas), shiyanah (terpelihara dari dosa), terpelihara dari kufur dan dosa-dosa lain baik besar atau kecil. Sebelum kenabian atau setelahnya.

    Sifat yang Mustahil bagi Nabi

    Mustahil bagi setiap Nabi kebalikan dari sifat yang wajib di atas. Di antaranya: bohong, khianat, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan, hina, bodoh, kalah, tidak adil, bodoh, kufur, perbuatan dosa sebelum dan setelah kenabian. Setiap kata yang tetap dari Allah atau dari Rasul-Nya apabila secara lahiriah berlawanan dengan perkara yang wajib bagi para Nabi, maka pemahaman yang sahih adalah dengan memaknainya yang berlawanan dengan zhahirnya.

    Sifat yang Boleh bagi Para Nabi

    Wajib meyakini bahwa seluruh Nabi adalah manusia. Oleh karena itu, boleh adanya tampilan manusiawi yang tidak menafikan derajat dan tugas serta sifat yang wajib bagi mereka. Maka boleh bagi mereka untuk makan, minum, kawin, sakit yang tidak mengganggu dakwah mereka, tidurnya mata bukan hati, dan mati.[alkhoirot.com]

    فَصْلٌ : فِيما يُخرِجُ مِنَ الإسْلامِ

    يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ حِفْظُ إسْلامِهِ وصَوْنُهُ عَمّا يُفْسِدُهُ ويُبْطِلُهُ ويَقْطَعُهُ، وهو الرِّدَّةُ [أيِ الكُفْرُ بَعْدَ الإسْلامِ] والعِياذُ بِاللهِ تَعالَى، وقَدْ كَثُرَ في هذا الزَّمانِ التَّساهُلُ في الكَلامِ حَتَّى إنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ بَعْضِهِمْ ألْفاظٌ تُخْرِجُهُمْ عن الإسْلامِ، ولا يَرَوْنَ ذٰلك ذَنْبًا فَضْلًا عن كَوْنِهِ كُفْرًا، والرِّدَّةُ ثَلاثَةُ أقْسامٍ: اعْتِقاداتٌ وأفْعالٌ وأقْوالٌ، وكُلُّ قِسْمٍ يَتَشَعَّبُ شُعَبًا كَثِيرَةً.

    أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِالقَلْبِ (أيِ الاعْتِقاداتِ الكُفْرِيَّةِ): فَمِنَ الأوَّلِ:

    الشَّكُّ في اللهِ، أو في رَسُولِهِ، أو القُرْآنِ، أو اليَوْمِ الآخِرِ، أو الجَنَّةِ، أو النّارِ، أو الثَّوابِ، أو العِقابِ، ونَحْوِ ذٰلك مِمّا هو مُجمَعٌ عليه [مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]؛

    أو [مَنِ] اعتَقَدَ فَقْدَ [أي نَفْيَ] صِفَةٍ مِنْ صِفاتِ اللهِ الواجِبَةِ إجْماعًا [ممّا دلَّ عليه العَقْلُ] كَالعِلْمِ، أو [مَنْ] نَسَبَ له [تَعالَى] صِفَةً يَجِبُ تَنْزِيهُهُ عنها إجْماعًا [مِمّا يَدُلُّ العَقْلُ على أنَّهُ نَقْصٌ في حَقِّهِ تَعالَى]، كَالجِسْمِ، أو [مَنْ] حَلَّلَ مُحَرَّمًا بِالإجْماعِ مَعْلُومًا مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه، كالزِّنا واللِّواطِ والقَتْلِ والسَّرِقَةِ والغَصْبِ [أي أَخْذِ أَمْوالِ النّاسِ بِغَيْرِ حَقٍّ قَهْرًا]؛ أو [مَنْ] حَرَّمَ حَلالًا كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كالبَيْعِ والنِّكاحِ؛ أو [مَنْ] نَفَى وُجُوبَ مُجْمَعٍ عليه كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كَالصَّلَواتِ الخَمْسِ، أو سَجْدَةٍ منها، والزَّكاةِ، والصَّوْمِ، والحَجِّ، والوُضُوءِ؛ أو [مَنْ] أوْجَبَ ما لم يَجِبْ إجْماعًا كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]؛ أو [مَنْ] نَفَى مَشْرُوعِيَّةَ مُجْمَعٍ عليه كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كَالرَّواتِبِ؛ أو [مَنْ] عَزَمَ على الكُفْرِ [مُطْلَقًا] في المُسْتَقْبَلِ؛ أو [مَنْ عَزَمَ] على فِعْلِ شَيْءٍ مِمّا ذُكِرَ [مِنَ الكُفْرِيّاتِ أو نَحْوِها في المُسْتَقْبَلِ]، أو تَرَدَّدَ فيه، لا وَسْوَسَةٌ؛

    أو [مَنْ] أنْكَرَ صُحْبَةَ سَيِّدِنا أبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عنه؛ أو [مَنْ أنْكَرَ] رِسالَةَ واحِدٍ مِنَ الرُّسُلِ المُجْمَعِ على رِسالَتِهِ [أي مِمَّنْ رِسالَتُهُ مِنَ المَعْلُومِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ الَّذِي لا يَخْفَى عليه، كَسَيِّدِنا عِيسَى وسَيِّدِنا مُوسَى عليهما الصَّلاةُ والسَّلامُ]؛ أو [مَنْ] جَحَدَ حَرْفًا مُجْمَعًا عليه مِنَ القُرْآنِ [وهو يَعْتَقِدُ أنَّهُ منه]، أو زادَ حَرْفًا فيه مُجْمَعًا على نَفْيِهِ [مَعَ كَوْنِهِ] مُعْتَقِدًا أنَّهُ [لَيْسَ] منه؛ أو [مَنْ] كَذَّبَ رَسُولًا، أو نَقَّصَهُ، أو صَغَّرَ اسْمَهُ بِقَصْدِ تَحْقِيرِهِ؛ أو [مَنْ] جَوَّزَ نُبُوَّةَ أحَدٍ بَعْدَ نَبِيِّنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ.

    أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِالجَوارِحِ (أي الأفْعالِ الكُفْرِيَّةِ):

    والقِسْمُ الثّاني أفْعالٌ، كَسُجُودٍ لِصَنَمٍ أو شَمْسٍ أو قَمَرٍ [أو شَيْطانٍ] [مُطْلَقًا]، أو مَخْلُوقٍ آخَرَ [على وَجْهِ عِبادَتِهِ].

    Penyebab Murtad

    Setiap orang islam wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar jangan sampai ada sesuatu yg merusak,membatalkan dan memutus islamnya,sebab semua itu adalah murtad, semoga kita dilindungi oleh Alloh dari perbuatan murtad.

    Pada zaman ini banyak orang yg sembrono dalama berkata2. Segingga yg diucapkan sungguh sungguh mengeluarkan dirinya dari agama islam,sementara dia sama sekali tidak pernah menganggap bahwa yg diucapkan itu dosa, apalagi dianggap kufur malah tak mungkin

    Perbutan murtad terbagi menjadi tiga hal.

    1. Murtad i’tiqod (keyakinan dalam hati)
    2. Murtad fi’liyah (perbuatan)
    3. Murtad qouliyah (ucapan)

    Masing2 bagian bercabang amat banyak

    Pertama, Murtad I’tiqadi

    Murtad karena Kenyakinan
    Setiap pembagian Sifat murtad bercabang cabang dgn cabang yg banyak. Sebagian dari murtad I’tiqod yaitu:

    – Meragukan adanya Allah,
    – Meragukan utusan Allah,
    – Meragukan kebenaran Alqur’an,
    – Meragukan hari kiyamat, Meragukan
    – Meragukan adanya surga dan neraka, Meragukan
    – Meragukan adanya pahala,
    – Meragukan siksaan Allah
    – Meragukan hukum yg disepakati para ulama mujtahid.

    – Berkeyakinan tidak ada sifat wajib bagi Alloh yg telah disepakati ulama mujtahid, Serperti ‘ilmu, Menisbatkan Alloh dgn sifat yang seharusnya wajib mensucikanya secara ijma’ ulama seperti mengatakan Allah berjasad

    – Menghalalkan perkara haram yg di sepakati Ulama Mujtahid sdh di ketauhui secara agama. Seperti : zina, liwath (homosex), Pembantaian, Pencuarian, Merampok.

    – Mengharamkan yang halal seperti jual beli dan nikah

    – Meniadakan kewajiban yg telah disepakati ulama, seperti sholat lima waktu, atau menghilangkan satu sujud dari Sholat, Meniadakan kewajiban Zakat, Puasa, Haji, Wudlu.
    – Mewajibkan apa yg tidak wajib secara ijma’ ulama
    – Meniadakan ibadah yg di syareatkan agama,’ seperti sholat sunah rowatib (qobliyah-ba’diyah)
    – Berencana kufur (Murtad ) akan masa datang.
    – Berencana mengerjakan sesuatu pada keadaan dari apa yg telah disebutkan
    – Bimbang dalam agama, Bukan karena waswas.
    – Mengingkari sahabat-sahabat nabi kita seperti abu Bakar, Umar ,Utsman, Ali.
    – Mengingkari kerasulan salah satu rosul Allah menurut Ijma’ ulama.
    – Mengingkari satu huruf dari Alqur’an yang telah disepakati ulama
    – Menambahkan satu huruf yg tidak dalam Alquran menurut Ijma’ ulama sedangkan dia meyakini itu salah satu huruf Alquran.
    – Mendustakan dan meremehkan serta men-tashgir nama rasul dgn tujuan menghina,
    – Menyangka ada nabi sesudah nabi muhammad SAW.

    Kedua, Murtad Karena Perbuatan (Murtad Fi’liyah) yaitu seperti :

    – Menyembah berhala,
    – Menyembah matahari,
    – Menyembah mahluk lainnya [alkhoirot.com]

    أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِاللِّسانِ (أي الأقْوالِ الكُفْرِيَّةِ)

    والقِسْمُ الثّالِثُ الأقْوالُ، وهي كَثِيرَةٌ جِدًّا لا تَنْحَصِرُ، منها:
    أنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ] لِمُسْلِمٍ: “يا كافِرُ”، أو “يا يَهُودِيُّ”، أو “يا نَصْرانيُّ”، أو “يا عَدِيمَ الدِّينِ”، مُرِيدًا أنَّ الَّذِي عليه المُخاطَبُ مِنَ الدِّينِ كُفْرٌ أو يَهُودِيَّةٌ أو نَصْرانِيَّةٌ أو لَيْسَ بِدِينٍ؛ وكَالسُّخْرِيَةِ بِاسْمٍ مِنْ أسْمائِهِ تَعالَى أو وَعْدِهِ أو وَعِيدِهِ، مِمَّن لا يَخْفَى عليه نِسْبَةُ ذٰلك إليه سُبْحانَهُ؛

    وكَأنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ]: “لَوْ أمَرَنِي اللهُ بِكَذا لم أفْعَلْهُ”، أو [يَقُولَ الشَّخْصُ]: “لَوْ صارَتِ القِبْلَةُ في جِهَةِ كَذا ما صَلَّيْتُ إليها”، أو [يَقُولَ الشَّخْصُ]: “لَوْ أعْطانِي اللهُ الجَنَّةَ ما دَخَلْتُها”، مُسْتَخِفًّا، أو مُظهِرًا لِلْعِنادِ، في الكُلِّ؛
    وكَأنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ]: “لَوْ آخَذَنِي اللهُ بِتَرْكِ الصَّلاةِ مَعَ ما أنا فيه مِنَ المَرَضِ ظَلَمَنِي”؛
    أو قالَ [الشَّخْصُ] لِفِعْلٍ: “حَدَثَ هذا بِغَيْرِ تَقْدِيرِ اللهِ”؛
    أو [قالَ الشَّخْصُ]: “لَوْ شَهِدَ عِنْدِي الأنْبِياءُ أو المَلائِكَةُ أو جَمِيعُ المُسْلِمِينَ بِكَذا ما قَبِلْتُهُمْ”؛
    أو قالَ [الشَّخْصُ]: “لا أفعَلُ كَذا وإنْ كانَ سُنَّةً” بِقَصْدِ الاسْتِهْزاءِ؛
    أو [قالَ الشَّخْصُ]: “لَوْ كانَ فُلانٌ نَبِيًّا ما آمَنْتُ به”؛

    أو أعْطاهُ عالِمٌ فَتْوَى فَقالَ [الشَّخْصُ]: “أَيْشٍ هذا الشَّرْعُ” مُرِيدًا الاسْتِخْفافَ [بِحُكْمِ الشَّرْعِ]؛
    أو قالَ [الشَّخْصُ]: “لَعْنَةُ اللهِ على كُلِّ عالِمٍ” مُرِيدًا الاسْتِغْراقَ الشّامِلَ [لِعُلَماءِ الدِّينِ الإسْلامِيِّ أو] لِأحَدِ الأنْبِياءِ،
    أو قالَ [الشَّخْصُ]: “أنا بَرِيءٌ مِنَ اللهِ” أو “مِنَ المَلائِكَةِ” أو “مِنَ النَّبِيِّ” أو “مِنَ القُرْآنِ” أو “مِنَ الشَّرِيعَةِ” أو “مِنَ الإسْلامِ”؛
    أو قالَ [الشَّخْصُ] لِحُكْمٍ حُكِمَ بِهِ مِنْ أحْكامِ الشَّرِيعَةِ: “لَيْسَ هذا الحُكْمُ” أو “لا أعْرِفُ الحُكْمَ” مُسْتَهْزِئًا بِحُكْمِ اللهِ؛
    أو قالَ [الشَّخْصُ] وقَدْ مَلَأَ وِعاءً: “﴿وَكَأْسًا دِهَاقًا﴾”، أو أفْرَغَ شَرابًا: “﴿فَكَانَتْ سَرَابًا﴾”، أو عِنْدَ وَزْنٍ أو كَيْلٍ: “﴿وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ﴾”، أو عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمْعٍ: “﴿وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا﴾”، بِقَصْدِ الاسْتِخْفافِ أو الاسْتِهْزاءِ [بِهٰذِهِ الآياتِ] في الكُلِّ؛ فإنْ كانَ بِغَيْرِ ذٰلك القَصْدِ [ونَحْوِهِ] فَلا يَكْفُرُ لٰكِنْ قالَ الشَّيْخُ أحْمَدُ بْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللهُ: “لا تَبْعُدُ حُرمَتُهُ”؛

    وكَذا يَكْفُرُ مَنْ شَتَمَ نَبِيًّا أو مَلَكًا [بِفَتْحِ اللّامِ، أي واحِدًا مِنَ المَلائِكَةِ]؛

    أو قالَ [الشَّخْصُ]: “أكُونُ قَوّادًا إنْ صَلَّيْتُ”، أو [قالَ]: “ما أصَبْتُ خَيْرًا مُنْذُ صَلَّيْتُ”، أو [قالَ]: “الصَّلاةُ لا تَصْلُحُ لِي”، بِقَصْدِ الاسْتِخْفافِ بِها، أو الاسْتِهْزاءِ، أو اسْتِحْلالِ تَرْكِها، أو التَّشاؤُمِ بِها؛

    أو قالَ [الشَّخْصُ] لِمُسْلِمٍ: “أنا عَدَوُّكَ وعَدُوُّ نَبِيِّكَ”، أو [قالَ] لِشَرِيفٍ: “أنا عَدُوُّكَ وعَدُوُّ جَدِّكَ” مُرِيدًا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ؛
    أو [أنْ] يَقُولَ [الشَّخْصُ] شَيْئًا مِنْ نَحْوِ هٰذِهِ الألْفاظِ البَشِعَةِ الشَّنِيعَةِ؛

    وقَدْ عَدَّ الشَّيْخُ أحْمَدُ ابْنُ حَجَرٍ والقاضِي عِياضٌ رَحِمَهُما اللهُ في كِتابَيْهِما “الإعْلامُ” و”الشِّفا” شَيْئًا كَثِيرًا [مِنَ المُكَفِّراتِ] ، فَيَنْبَغِي الاطِّلاعُ عليه، فَإنَّ مَنْ لم يَعْرِفِ الشَّرَّ يَقَعْ فيه.

    قاعِدَةٌ لِمَعْرِفَةِ كَثِيرٍ مِنَ الكُفْرِ:

    وحاصِلُ [أيْ حُكْمُ] أَكْثَرِ تلْكَ العِباراتِ يَرْجِعُ إلى [قاعِدَةِ] أنَّ كُلَّ عَقْدٍ أو فِعْلٍ أو قَوْلٍ يَدُلُّ على اسْتِهانَةٍ أو اسْتِخْفافٍ بِاللهِ، أو كُتُبِهِ، أو رُسُلِهِ، أو مَلائِكَتِهِ، أو شَعائِرِ أو مَعالِمِ دِينِهِ، أو أحْكامِهِ، أو وَعْدِهِ، أو وَعِيدِهِ، كُفْرٌ ومَعْصِيَةٌ، فَلْيَحْذَرِ الإنْسانُ مِنْ ذٰلك جَهْدَهُ.

    فَصْلٌ : في بَعْضِ أحْكامِ المُرْتَدِّ

    يَجِبُ على مَنْ وَقَعَتْ مِنْهُ رِدَّةٌ [أي كَفَرَ بَعْدَ أنْ كانَ مُسْلِمًا]: العَوْدُ فَوْرًا إلى الإسْلامِ: بِالنُّطْقِ بِالشَّهادَتَيْنِ، والإقْلاعِ عَمّا وَقَعَتْ به الرِّدَّةُ؛ ويَجِبُ عليه [أيْضًا]: النَّدَمُ على ما صَدَرَ منه، والعَزْمُ على أنْ لا يَعُودَ لِمِثْلِهِ، وقَضاءُ ما فاتَهُ مِنْ واجِباتِ الشَّرْعِ في تِلْكَ المُدَّةِ [كالصَّلَواتِ المَفْرُوضَةِ]؛ فإنْ لم يَتُبْ [أي فإنْ لم يَرْجِعْ عن كُفْرِهِ بِالشَّهادَتَيْنِ] وَجَبَتِ اسْتِتابَتُهُ [أي أمْرُهُ بِالرُّجُوعِ إلى الإسْلامِ بِالشَّهادَتَيْنِ]، ولا يُقبَلُ منه إلّا الإسْلامُ أو القَتْلُ [يُنَفِّذُهُ عليه الخَلِيفَةُ بِشُرُوطٍ مَذْكُورَةٍ في المُطَوَّلاتِ].

    و[مِمّا يَتَرَتَّبُ على رِدَّةِ الشَّخْصِ أنَّهُ:] [تَذْهَبُ بِها حَسَناتُهُ] ، يَبْطُلُ بِها صَوْمُهُ [للنَّهارِ الَّذِي ارْتَدَّ فيه]، و [يَبْطُلُ بِها] تَيَمُّمُهُ، و[يَبْطُلُ بِها] نِكاحُهُ [أي زَواجُهُ] قَبْلَ الدُّخُولِ، وكَذا بعدَهُ إنْ لم يَعُدْ إلى الإسْلامِ في العِدَّةِ، ولا يَصِحُّ عَقْدُ نِكاحِهِ [ولَوْ على مُرْتَدَّةٍ مِثْلِهِ]،

    وتَحْرُمُ ذَبِيحَتُهُ [وتَكُونُ نَجِسَةً]، ولا يَرِثُ، ولا يُورَثُ، ولا يُصَلَّى عليه [ويَكْفُرُ مَنْ يُصَلِّي عليه وهو عالِمٌ بِحالِهِ]، ولا يُغَسَّلُ [أي لا يَجِبُ]، ولا يُكَفَّنُ [أي لا يَجِبُ]، ولا يُدْفَنُ [أي لا يَجِبُ]، [ويَحْرُمُ دَفْنُهُ في مَدافِنِ المُسْلِمِينَ]، ومالُهُ [بَعْدَ مَوْتِهِ] فَيْءٌ [أي لِمَصالِحِ المُسْلِمِينَ]، [ويُخَلَّدُ بِلا نِهايَةٍ في العَذابِ إنْ ماتَ على رِدَّتِهِ، كَغَيْرِهِ مِمَّنْ يَمُوتُ على غَيْرِ الإسْلامِ].

    Ketiga, Murtad karena ucapan (Murtad Qouliyah)

    Ini sangat banyak sehingga tdk terhitung jumlahnya, Diantaranya:

    – Memanggil Seorang Muslim dengan kata-kata : “Hai orang kafir !!, “Hai orang yahudi !! , “Hai orang nasrani !! Hai orang tak beragama !! dengan tujuan tersebut.
    – Menghina salah satu nama dari nama2 Alloh.
    – Menghina janji dan ancaman Alloh atau Apa yang di-hubungkan kepada-Nya.
    – Berkata : “Andaikan Alloh memerintahkan-ku, maka aku tidak akan mengerjakan-Nya.
    – Berkata : “Jika arah kiblat dipindah kearah yg lain, maka Aku tidak mau shalat.
    – Berkata : “Seandainya aku diberi syurga oleh Alloh, maka saya tak mau memasukinya,Semua diucapkan dengan tujuan merendahkan (مستخفا)

    – Menampakan kedurhakaan secara keseluruhan. Seperti :

    Berkata : “Jika Alloh menyiksa-ku karena meninggalkan sholat , padahal aku sedang sakit berarti Alloh menzholimi -ku.
    Berkata ketika ada sesuatu peristiwa : “Ini bukan takdir Alloh”.
    Berkata : “Andai yg menjadi saksi itu para nabi, para malaikat, atau seluruh muslimin maka aku tak kan mau menerima mereka menjadi saksi.
    Berkata : “Aku tidak mau melakukan ini, sekalipun itu sunah, (kata-kata menghina)
    Berkata : ” Seandainya si Fulan menjadi nabi, saya tak mau percaya kepada-nya,
    Berkata : ” Syareat yg mana ini?” .(Dia berkata : ketika ada seorang ulama memberikan Fatwa-Hukum dgn tujuan meremehkan.)

    Berkata : “Laknat Alloh atas semua orang ‘Alim. dgn ucapan ini berarti mengkaitkan keseluruhan salah satu nabi.
    Berkata : ” Saya melepaskan diri dari Allah ! “Saya bebas dari malaikat !, bebas dari nabi !, atau bebas dari syariat ! dan dari islam.
    Berkata : “Ini bukan hukum syareat” . (Berkata ketika ada satu hukum syara’)
    Berkata : “Saya tidak kenali hukum syara ini’, dgn maksud menghina hukum Allah SWT.

    – Berkata Sambil mengejek saat mengisi benjana dengan Ayat “(وكأسا دهاقا)” atau “(فكانت شرابا) ” sambil menuang minuman, dgn tujuan menghina. Atau membaca Ayat (واذا كلوهم او وزنوهم يخسرون) ketika berada disisi timbangan atau takaran, (tujuan menghina). Atau Membaca Ayat (وحشرناهم فلم نغادر منهم احدا) Ketika ada rombongan lewat dgn tujuan menghina atau meremehkan Alqur’an.

    – Membaca Ayat Alqur’an disebuah tempat dgn maksud menghina. Jika tidak, maka tidaklah kufur.

    Namun menurut Syeikh Ahmad bin Hajar hal itu mendekati keharaman, demikian pula memaki para nabi dan malaikat,

    – Dan berkata ,jika saya sholat maka saya akan menjadi penjual pelacur,
    – Dan berkata sejak saya sholat tidak mendapat kebaikan.
    – Dan berkata sholat itu sama sekali tidak pantas bagiku, dgn tujuan menghina sholat,meremehkan atau menganggap halalnya meninggalkan sholat atau merasa mendapat situasi buruk sebab sholat.
    – Dan berkata kepada syarif (keturunan Nabi muhammad SAW), aku ini musuhmu,dan musuh kakekmu, dia bermaksud menghina nabi SAW.

    – atau berkata selain dgn kata2 tersebut(mulai awal )tapi sama buruknya dgn kata2 diatas juga menjadikannya murtad,

    Imam Syeikh Ahmad bin Hajar dalam kitab Al-I’lamu Biqowatihil islam, menghitung dan menerangkan banyak masalah murtad dan imam Qodi iyad juga demikian dalam kitab Assyifa, seyogyanya kita melihat dua kitab itu, siapa yang tak mengerti keburukan, tentu jatuh kedalamnya.

    Kaidah untuk Memahami Kekufuran

    Kesimpulannya bahwa setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang menunjukkan penghinaan, meremehkan pada Allah, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, malaikatNya, syiar atau tanda agamaNya, hukum-hukumNya, janji Allah, ancaman Allah, maka itu kufur dan dosa. Maka hendaknya manusia berhati-hati akan hal itu.

    Pasal: Akibat Hukum bagi Orang Murtad

    Wajib bagi yang murtad yakni kufur setelah muslim untuk kembali segera pada Islam: dengan ucapan dan dua kalimat syahadat dan melepaskan diri dari penyebab murtad. Wajib baginya menyesali atas timbulnya hal itu dan berniat untuk tidak mengulangi hal serupa dan mengqadha kewajiban syariat pada masa itu seperti shalat lima waktu. Apabila tidak bertaubat yakni apabila tidak berbalik dari kufurnya dengan dua kalimat syahadat maka wajib disuruh bertaubat yakni disuruh kembali ke Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Dia tidak diterima kecuali Islam atau dibunuh yang dilakukan oleh Khalifah dengan syarat-syarat yang disebut dalam kitab besar.

    Akibat dari murtadnya seseorang adalah hilang semua kebaikannya, batal puasanya pada siang hari dia murtad dan batal tayammumnya. Batal nikahnya sebelum dukhul (hubungan intim) begitu juga setelah dukhul apabila tidak kembali ke Islam dalam masa iddah. Tidak sah akad nikahnya walaupun pada perempuan murtad yang lain.

    Haram sembelihannya dan hewannya najis. Tidak mewarisi, tidak menerima warisan, tidak disholati. Kufur orang yang menyolatinya kalau dia tahu keadaannya. Tidak dimandikan yakni diwajib dimandikan. Tidak wajib dikafani. Tidak wajib dikubur jenazahnya. Haram menguburnya di pemakanan muslim. Hartanya setelah matinya menjadi harta fai’ untuk kemaslahatan umat Islam. Di akhirat dia disiksa selamanya apabila mati dalam keadaan murtad seperti yang lain yang mati dalam keadaan kafir.[alkhoirot.com]

    Bab Fiqih

    فَصْلٌ : فِيما ما يَجِبُ على المُكَلَّفِ

    يَجِبُ على كُلِّ مُكَلَّفٍ أداءُ جَمِيعِ ما أوْجَبَهُ اللهُ عليه، ويَجِبُ أنْ يُؤَدِّيَهُ على ما أمَرَهُ اللهُ بِهِ، مِنَ الإتْيانِ بِأرْكانِهِ وشُرُوطِهِ، وتَجَنُّبِ مُبْطِلاتِهِ، ويَجِبُ عليه أمْرُ مَنْ رَآهُ تارِكًا لِشَيْءٍ منها أو يَأتِي بِها على غيرِ وَجْهِها [بأدائِها على وَجْهِها]، ويَجِبُ عليه قَهْرُهُ على ذٰلك إنْ قَدِرَ، وإلّا فَيَجِبُ عليه الإنْكارُ بِقَلْبِهِ إنْ عَجَزَ عن القَهْرِ والأمْرِ، وذٰلك أضْعَفُ الإيمانِ، أي أقَلُّ ما يَلْزَمُ الإنْسانَ عند العَجْزِ؛ ويَجِبُ تَرْكُ جَمِيعِ المُحَرَّماتِ، ونَهْيُ مُرْتَكِبِها ومَنْعُهُ قَهْرًا منها إنْ قَدِرَ عليه، وإلّا وَجَبَ عليه أنْ يُنْكِرَ ذٰلك بِقَلْبِهِ ومُفارَقَةُ مَوْضِعِ المَعْصِيَةِ؛ والحَرامُ ما تَوَعَّدَ اللهُ مُرْتَكِبَهُ بِالعِقابِ ووَعَدَ تارِكَهُ بِالثَّوابِ [وعَكْسُهُ الواجِبُ].

    بابُ الطَّهارَةِ والصَّلاةِ

    فَصْلٌ : في أوْقاتِ الصَّلَواتِ المَفْرُوضَةِ

    فَمِنَ الواجِبِ خَمْسُ صَلَواتٍ في اليَوْمِ واللَّيْلَةِ: الظُّهْرُ: ووَقْتُها إذا زالَتِ الشَّمْسُ [أي مالَتْ عَنْ وَسَطِ السَّماءِ إلى جِهَةِ الغَرْبِ]، إلى مَصِيرِ ظِلِّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِواءِ؛ والعَصْرُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ الظُّهْرِ إلى مَغِيبِ الشَّمْسِ؛ والمَغْرِبُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ مَغِيبِ الشَّمْسِ، إلى مَغِيبِ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ؛

    والعِشاءُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ المَغْرِبِ، إلى طُلُوعِ الفَجْرِ الصّادِقِ؛

    والصُّبْحُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ العِشاءِ إلى طُلُوعِ الشَّمْسِ.

    فَتَجِبُ هٰذِهِ الفُرُوضُ في أَوْقاتِها على كُلِّ مُسْلِمٍ، بالِغٍ، عاقِلٍ، طاهِرٍ؛ فَيَحْرُمُ تَقْدِيمُها على وَقْتِها وتَأْخِيرُها عنه بِغَيْرِ عُذْرٍ؛ فَإنْ طَرَأَ مانِعٌ (كَحَيْضٍ) بَعْدَما مَضَى مِنْ [أَوَّلِ] وَقْتِها ما يَسَعُها [بِدُونِ طُهْرِها لِمَنْ هو سَلِيمٌ مِنْ نَحْوِ سَلَسٍ]، و[ما يَسَعُها مَعَ] طُهْرِها لِنَحْوِ [مَرِيضِ] سَلَسٍ، لَزِمَهُ قَضاؤُها؛ أو زالَ المانِعُ وقَدْ بَقِيَ مِنَ الوَقْتِ قَدْرُ تَكْبِيرَةٍ لَزِمَتْهُ، وكَذا [يَلْزَمُهُ] ما قَبْلَها إنْ جُمْعِتْ مَعَها، [إذا امْتَدَّتِ السَّلامَةُ مِنَ المانِعِ قَدْرًا يَسَعُ ذٰلك].

    فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ على وُلاةِ الأُمُورِ

    يَجِبُ [وُجُوبًا كِفائِيًّا] على وَلِيِّ الصَّبِيِّ والصَّبِيَّةِ المُمَيِّزَيْنِ أنْ يَأْمُرَهما بِالصَّلاةِ ويُعَلِّمَهُما أَحْكامَها بَعْدَ سَبْعِ سِنِينَ [قَمَرِيَّةٍ] ، ويَضْرِبَهُما على تَرْكِها بَعْدَ عَشْرِ سِنِينَ، كَصَوْمٍ أَطاقاهُ، ويَجِبُ عليه أَيْضًا تَعْلِيمُهُما [مِنَ العَقائِدِ والأَحْكامِ] ما [يُمْكِنُهُما فَهْمُهُ، وتَعْلِيمُهُما ما] يَجِبُ [بَعْدَ البُلُوغِ] عليهما وما يَحْرُمُ [كَذٰلكَ، وكَذا مَشْرُوعِيَّةُ نَحْوِ السِّواكِ].

    ويَجِبُ على وُلاةِ الأمْرِ [أيِ الخَلِيفَةِ ومَنْ يَنُوبُ عنه] قَتْلُ تارِكِ الصَّلاةِ [ولَوْ فَرْضًا واحِدًا] كَسَلًا [بَعْدَ إنْذارِهِ بِشُرُوطِهِ] إنْ لم يَتُبْ [أي إنْ لم يُصَلِّ] ، وحُكْمُهُ [أنَّهُ] مُسْلِمٌ.

    ويَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أَمْرُ أَهْلِهِ [أي زَوْجَتِهِ وأَهْلِ بَيْتِهِ ومَحارِمِهِ] بِها [أي الصَّلاةِ]، وقهرُهُمْ [على فِعْلِها إنْ قَصَّرُوا]، وتَعْلِيمُهُمْ أَرْكانَها وشُرُوطَها ومُبْطِلاتِها، و[كذٰلكَ] كُلُّ مَنْ قَدِرَ عليه مِنْ غَيْرِهِمْ.

    Yang Wajib bagi Muslim Mukalaf

    Wajib bagi muslim mukalaf (baligh dan berakal) untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan harus melaksanakannya sesuai perintahNya seperti melakukan sesuai rukun dan syaratnya dan menjauhi perkara yang membatalkan. Dan wajib memerintahkan orang tidak melaksanakan kewajiban atau mengamalkan tapi tidak sesuai caranya. Wajib memaksakan apabila mampu kalau tidak maka wajib mengingkari dengan hati apabila tidak mampu memaksa. Ini selemah-lemahnya iman yakni paling sedikitnya kewajiban manusia apabila lemah. Wajib meninggalkan keharaman dan melarang pelaku haram secara paksa apabila mampu. Apabila tidak mampu maka wajib ingkar dengan hati dan menjauh dari tempat maksiat. Perkara haram adalah perkara yang pelakunya diancam oleh Allah dengan siksa dan menjanjikan pahala bagi yang meninggalkannya (kebalikan dari wajib).

    Bab Bersuci dan Shalat

    Fasal Waktu Shalat Wajib

    Termasuk kewajiban adalah lima shalat sehari semalam.

    Zhuhur: waktunya apabila matahari condong yakni condong dari tengah langit ke arah barat sampai bayangan benda sama dengan bendanya selain bayangan istiwa (tengah).
    Ashar: waktunya setelah habisnya zhuhur sampai terbenamnya matahari.

    Maghrib: waktunya dari setelah terbenamnya matahari sampai tenggelamnya syafaq marah.Isya’: waktunya dari setelah habisnya waktu maghrib sampai terbitnya fajar shodiq. Subuh: waktunya dari setelah habisnya waktu isya’ sampai terbitnya matahari.

    Kelima shalat fardhu ini wajib dilakukan pada waktunya oleh setiap muslim yang baligh, berakal sehat, dan suci. Haram mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan dari waktunya tanpa udzur. Apabila muncul perkara baru yang mencegah seperti haid setelah lewat dari awal waktu yang cukup tanpa bersuci bagi yang selamat dari seumpama beser dan perkara yang cukup bagi seumpama sakit beser, maka wajib mengqadhanya. Atau hilang pencegahnya sementara waktunya masih tersisa untuk takbirotul ihram maka shalat wajib dilakukan. Begitu juga wajib shalat yang sebelumnya apabila dijamak bersamanya apabila selamat dari pencega itu memanjang sampai waktu yang cukup untuk itu.

    Fasal: Yang Wajib bagi Orang Tua dan Penguasa

    Wajib kifayah bagi wali (orang tua atau yang lain) anak kecil yang tamyiz untuk memerintahkan mereka shalat dan mengajarkan hukum-hukumnya setelah tujuh tahun (qomariyah / hijriyah). Dan memukul mereka apabila meninggalkan shalat setelah usia 10 tahun sebagaimana puasa apabila mampu. Wajib bagi wali untuk mengajarkan anak-anak tentang akidah dan hukum menurut kemampuan si anak dan mengajarkan mereka apa yang wajib setelah baligh dan perkara yang haram dan sunnahnya perkara seperti siwak.

    Wajib bagi penguasa yakni Khalifah dan orang yang di bawahnya membunuh orang yang tidak shalat walaupun satu shalat fardhu karena malas setelah diperingati dengan syarat-syaratnya apabila tidak bertaubat (tetap tidak shalat). Hukumnya, dia muslim.

    Wajib bagi muslim menyuruh keluarganya yakni istri, anak dan mahramnya untuk shalat dan memaksa mereka melakukannya apabila mereka melanggar. Wajib mengajarkan rukun-rukun shalat, syarat-syarat dan yang membatalkan shalat. Begitu juga setiap orang yang mampu dari yang lain. [alkhoirot.com]

    فَصْلٌ : في فُرُوضِ الوُضُوءِ

    ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ الوُضُوءُ، وفُرُوضُهُ سِتَّةٌ: الأوَّلُ: نِيَّةُ الطَّهارَةِ لِلصَّلاةِ بِالقَلْبِ، أو غَيْرُها مِنَ النِّيّاتِ المُجْزِئَةِ، عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ؛ الثّاني: غَسْلُ الوَجْهِ جَمِيعِهِ، مِنْ مَنابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ إلى الذَّقَنِ، ومِنَ الأُذُنِ إلى الأُذُنِ، شَعَرًا وبَشَرًا، إلّا باطِنَ لِحْيَةِ الرَّجُلِ وعارِضَيْهِ إذا كَثُفْنَ؛ الثّالِثُ: غَسْلُ اليَدَيْنِ مَعَ المِرْفَقَيْنِ وما عليهما [كَشَعْرِ الذِّراعِ]؛ الرابِعُ: مَسْحُ الرّأْسِ أو بَعْضِهِ، ولَوْ شَعْرَةً في حَدِّهِ؛ الخامِسُ: غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الكَعْبَيْنِ، أو مَسْحُ الخُفِّ إذا كَمَلَتْ شُرُوطُهُ؛
    السّادِسُ: التَّرْتِيبُ هٰكذا.

    فَصْلٌ : في نَواقِضِ الوُضُوءِ

    ويَنْقُضُ الوُضُوءَ: ما خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ إلّا المَنِيَّ؛ ومَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ أو حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الكَفِّ بِلا حائِلٍ؛ ولَمسُ [الذَّكَرِ] بَشَرَةَ [الأُنْثَى] الأجْنَبِيَّةِ [ولو زَوْجَةً] مَعَ كِبَرٍ [أو العَكْسُ، فَيَنْتَقِضُ وُضُوءُ اللّامِسِ والمَلْمُوسِ إذا اخْتَلَفَ جِنْسُهُما وكانَ كُلٌّ منهما يُشتَهَى ولم يَكُونا مَحْرَمَيْنِ]؛ وزَوالُ العَقْلِ إلّا نَوْمَ قاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ.

    فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ عَقِبَ ما يَخْرُجُ مِنَ السَّبِيلَيْنِ

    يَجِبُ الاسْتِنْجاءُ مِنْ كُلِّ رَطْبٍ خارِجٍ مِنَ السَّبِيلَيْنِ غَيْرَ المَنِيِّ: [بِالغَسْلِ] بِالماءِ إلى أنْ يَطْهُرَ المَحَلُّ؛ أو [بأنْ] يَمْسَحَهُ ثَلاثَ مَسَحاتٍ أو أكْثَرَ، إلى أنْ يَنْقَى المَحَلُّ، وإنْ بَقِيَ الأثَرُ، بِقالِعٍ، طاهِرٍ، جامِدٍ [أي غَيْرِ مائعٍ ولا رَطْبٍ ولا مَطْحُونٍ]، غَيْرِ مُحْتَرَمٍ [كَالخُبْزِ] ، مِنْ غَيْرِ انْتِقالٍ، وقَبْلَ جَفافٍ [وإلّا وَجَبَ الماءُ].

    فَصْلٌ : فِي ما يُوجِبُ الغُسلَ وفروضِهِ

    ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ: الطَّهارَةُ عَنِ الحَدَثِ الأَكْبَرِ، وهو الغُسْلُ [ويَتَيَمَّمُ إنْ عَجَزَ عنه]، والَّذِي يُوجِبُهُ خَمْسَةُ أَشْياءَ: خُرُوجُ المَنِيِّ والجِماعُ والحَيْضُ والنِّفاسُ والوِلادَةُ

    وفُرُوضُ الغُسْلِ اثْنانِ: نِيَّةُ رَفْعِ الحَدَثِ الأَكْبَرِ أو نَحْوُها، وتَعْمِيمُ جَمِيعِ البَدَنِ بَشَرًا وشَعَرًا وإنْ كَثُفَ [بِالماءِ].

    فَصْلٌ : في شُرُوطِ الطَّهارَةِ وأَرْكانِ التَّيَمُّمِ

    شَرْطُ الطَّهارَةِ: الإسْلامُ، والتَّمْيِيزُ، وعَدَمُ المانِعِ مِنْ وُصُولِ الماءِ إلى المَغْسُولِ، والسَّيَلانُ، وأنْ يَكُونَ الماءُ مُطَهِّرًا، بأنْ: لا يُسْلَبَ اسْمَهُ بِمُخالَطَةِ طاهِرٍ يَسْتَغْنِي الماءُ عنه، وأنْ لا يَتَغَيَّرَ بِنَجِسٍ ولو تَغَيُّرًا يَسِيرًا، وإنْ كانَ الماءُ دُونَ القُلَّتَيْنِ زِيدَ [شَرْطانِ آخَرانِ لِيَكُونَ مُطَهِّرًا]: بِأنْ لا يُلاقِيَهُ نَجِسٌ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عنه، و[أنْ] لا [يَكُونَ] اسْتُعْمِلَ في رَفْعِ حَدَثٍ أو إزالَةِ نَجَسٍ. ومَنْ لم يَجِدِ الماءَ أو كانَ يَضرُّهُ الماءُ تَيَمَّمَ، بَعْدَ: دُخُولِ الوَقْتِ، وزَوالِ النَّجاسَةِ [الَّتي لا يُعفَى عنها]، ومَعْرِفَةِ القِبْلَةِ، [ويَكُونُ] بِتُرابٍ [أو رَمْلٍ] خالِصٍ طَهُورٍ له غُبارٌ، في الوَجْهِ واليَدَيْنِ، يُرَتِّبُهُما بِضَرْبَتَيْنِ [على الأَقَلِّ]، بِنِيَّةِ اسْتِباحَةِ فَرْضِ الصَّلاةِ، [وتَكُونُ النِّيَّةُ] مَعَ النَّقْلِ ومَسْحِ أَوَّلِ الوَجْهِ.

    فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ بِالحَدَثِ الأَصْغَرِ وغَيْرِهِ

    ومَنِ انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ حَرُمَ عليه: الصَّلاةُ، والطَّوافُ، وحَمْلُ المُصْحَفِ،
    ومَسُّهُ [أي المُصْحَفِ، ولو بِحائِلٍ]، إلّا الصَّبِيَّ لِلدِّراسَةِ [فَيَجُوزُ تَمْكِينُهُ مِنَ الحَمْلِ والمَسِّ مَعَ حَدَثِهِ]، وعلى الجُنُبِ [تَحْرُمُ]: هٰذه [الأَرْبعُ السّابِقَةُ]،
    وقِراءَةُ القُرْآنِ [بِصَوتٍ]، ومُكْثُ المَسْجِدِ [لا عُبُورُهُ]، وعلى الحائِضِ والنُّفَساءِ [تَحْرُمُ]: هٰذه [السِّتُّ السّابِقَةُ]، والصَّوْمُ قَبْلَ الانْقِطاعِ، وتَمْكِينُ الزَّوْجِ مِنَ الاسْتِمْتاعِ بِما بَيْنَ سُرَّتِها ورُكْبَتِها [بِالجِماعِ ولو بِحائِلٍ، واللَّمْسِ بِلا حائِلٍ ولو بِلا شَهْوَةٍ] قَبْلَ الغُسْلِ [الشَّرْعِيِّ].

    Fardhu Wudhu

    Salah satu syarat shalat adalah wudhu. Fardhu wudhu ada enam. Pertama, niat bersuci untuk shalat dalam hati, atau niat lain yang sah, ketika membasuh wajah. Kedua, membasuh seluruh wajah termasuk tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu, dari kuping sampai kuping, rambut dan kulit kecuali bagian dalam jenggot dan jambang laki-laki apabila tebal. Ketiga, membasuh kedua tangan termasuk siku dan yang di atasnya. Keempat, Mengusap kepala atau sebagiannya, walaupun satu rambut dalam batas kepala. Kelima, membasuh kedua kaki beserta mata kaki, atau mengusap khuf apabila memenuhi syarat. Keenam, tertib.

    Pasal: Yang Membatalkan Wudhu

    Yang membatalkan wudhu adalah perkara yang keluar dari dua jalan (depan belakang) kecuali mani. Menyentuh kemaluan depan manusia atau bundaran anus tanpa penghalang. Laki-laki menyentuh kulit wanita dewasa bukan mahram walaupun istri begitu juga sebaliknya. Maka, wudhu orang yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal apabila beda jenisnya dan masing-masing saling tertarik dan bukan mahram. Hilang akal kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetap pada tempat duduknya.

    Pasal: Yang Wajib setelah Keluarnya Sesuatu dari Dua Jalan

    Wajib istinjak (bersuci) dari segala benda basah yang keluar dari dua jalan kecuali mani dengan cara membasuh dengan air sampai suci tempatnya. Atau dengan mengusap tiga kali atau lebih sampai bersih tempatnya dengan benda kasar, padat dan suci dan tidak dimuliakan yakni bukan benda cair, basah, dan tidak dimuliakan seperti roti, tanpa berpindah dan sebelum kering. Apabila tidak, maka harus memakai air.

    Pasal: Yang Wajib Mandi Besar dan Fardhunya

    Termasuk syarat shalat adalah suci dari hadas besar yaitu mandi besar dan tayammum apabila tidak mampu melakukannya. Yang mewajibkan mandi ada lima yaitu: keluar mani, jimak (hubungan intim), haid, nifas, melahirkan.

    Fardhu Mandi ada dua yaitu niat menghilangkan hadas besar atau semisalnya. Meratakan air pada seluruh badan, kulit dan bulu walaupun tebal.

    Pasal: Syarat Bersuci dan Rukun Tayammum

    Syarat bersuci adalah Islam, tamyiz (berakal sehat), tidak ada perkara yang mencegah sampainya air pada yang dibasuh, mengalir, air harus suci dan menyucikan dalam arti tidak merusak nama air karena bercampur dengan benda suci yang tidak diperlukan air. Air tidak boleh berubah karena bercampur najis walaupun berubah sedikit. Apabila air kurang dua kulah maka airnya ditambah. Dua syarat lain supaya air dapat menyucikan adalah tidak bertemu najis yang tidak dimakfu (dimaafkan) dan belum dipakai untuk menghilangkan hadas atau najis. Siapa yang tidak menemukan air atau ada air tapi membahayakan tubuhnya maka boleh tayamum setelah masuknya waktu. Hilangnya najis yang tidak dimaafkan. Mengetahui arah kiblat. Tayamum dengan debu atau pasir bersih dan suci yang mengandung debu, pada wajah dan kedua tangan dengan dua kali pukulan paling sedikit dengan niat bolehnya fardhu shalat. Niat dilakukan bersamaan dengan pindah dan mengusap awal wajah.

    Pasal: Yang Haram karena Hadas Kecil dan Hadas Besar

    Orang yang batal wudhunya maka haram baginya hal-hal berikut: shalat, thawaf, membahwa mushaf al Quran, menyentuh mushaf walaupun dengan penghalang kecuali anak kecil dengan tujuan belajar maka boleh ia membawa dan menyentuh mushaf walaupun hadas. Haram bagi orang junub empat perkara di atas ditambah membaca Al Quran dengan bersuara, diam di masjid kecuali hanya lewat. Bagi wanita haid haram enam perkarta di atas ditambah puasa sebelum putus haidnya, membolehkan suami mencumbunya antara pusat dan lutut dengan jimak (hubungan intim) walaupun dengan penghalang, menyentuh tanpa penghalang walaupun tanpa syahwat sebelum mandi besar yang syar’i. [alkhoirot.com]

    فَصْلٌ : في النَّجاسَةِ وإزالَتِها

    ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ الطَّهارَةُ عَنِ النَّجاسَةِ: في البَدَنِ، والثَّوْبِ، والمَكانِ، والمَحْمُولِ له، [كَقِنِّينَةٍ أو مِنْدِيلٍ، في يَدِهِ أو جَيْبِهِ]، فَإنْ لاقاهُ نَجِسٌ أو لاقَى ثِيابَهُ أو مَحْمُولَهُ بَطَلَتْ صَلاتُهُ إلّا أنْ يُلْقِيَهُ حالًا، أو يَكُونَ مَعْفُوًّا عَنْهُ كَدَمِ جُرْحِهِ.

    ويَجِبُ إزالَةُ نَجِسٍ لم يُعْفَ عَنْهُ، [وذٰلك]: [في النَّجاسَةِ العَيْنِيَّةِ]: بِإزالَةِ العَيْنِ، مِنْ طَعْمٍ ولَوْنٍ ورِيحٍ [وحَجْمٍ]، بِالماءِ المُطَهِّرِ، و[في النَّجاسَةِ] الحُكْمِيَّةِ [أي الَّتِي لا يُدْرَكُ لَها حَجْمٌ ولا لَوْنٌ ولا طَعْمٌ ولا رِيحٌ]: بِجَرْيِ الماءِ [المُطَهِّرِ مَرَّةً] عليها، و[في النَّجاسَةِ] الكَلْبِيَّةِ: بِغَسْلِها سَبْعًا [بِالماءِ المُطَهِّرِ]، إحْداهُنَّ مَمْزُوجَةٌ [أي مُكَدَّرَةٌ] بِالتُّرابِ؛ والمُزِيلَةُ لِلْعَيْنِ وإنْ تَعَدَّدَتْ واحِدَةٌ، ويُشْتَرَطُ [في التَّطْهِيرِ مِنَ النَّجاسَةِ] وُرُودُ الماءِ [عليها] إنْ كانَ قَلِيلًا [أي دُونَ القُلَّتَيْنِ].

    فَصْلٌ : في شُرُوطٍ أُخْرَى لِلصَّلاةِ

    ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ: اسْتِقْبالُ القِبْلَةِ، ودُخُولُ الوَقْتِ، والإسْلامُ، والتَّمْيِيزُ، والعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِها [إذا كانَتْ صَلاةً مَفْرُوضَةً]، وأنْ لا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِها سُنَّةً، والسَّتْرُ بِما يَسْتُرُ لَوْنَ البَشَرَةِ لِجَمِيعِ بَدَنِ الحُرَّةِ إلّا الوَجْهَ والكَفَّيْنِ، وسَتْرُ ما بَيْنَ السُّرَّةِ والرُّكْبَةِ لِلذَّكَرِ والأَمَةِ، مِنْ كُلِّ الجَوانِبِ لا الأَسْفَلِ.

    فَصْلٌ : في مُبْطِلاتِ الصَّلاةِ

    وتَبْطُلُ الصَّلاةُ: بِالكَلامِ ولو بِحَرْفَيْنِ [غَيْرِ مُفْهِمَيْنِ] أو بِحَرْفٍ مُفْهِمٍ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِالأَفْعالِ الكَثِيرَةِ المُتَوالِيَةِ [أو مَعًا]، كَثَلاثِ حَرَكاتٍ، [ولو ناسِيًا]، وبِالحَرَكَةِ المُفْرِطَةِ [كَوَثْبَةٍ، ولو ناسِيًا]، وبِزِيادَةِ رُكْنٍ فِعْليٍّ [عَمْدًا]، وبِالحَرَكَةِ الواحِدَةِ لِلَّعِبِ [ولو خَفِيفَةً]، وبِالأَكْلِ والشُّرْبِ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِنِيَّةِ قَطْعِ الصَّلاةِ، وبِتَعْلِيقِ
    قَطْعِها [على أَمْرٍ ما]، وبِالتَّرَدُّدِ فيه [أي في قَطْعِها] ، وبأنْ يَمْضِيَ رُكْنٌ مَعَ الشَّكِّ في نِيَّةِ التَّحَرُّمِ، أو يَطُولَ زَمَنُ الشَّكِّ، [وبِتَغْيِيرِ النِّيَّةِ، كَأَنْ قَلَبَ فَرْضًا نَفْلًا وعَكْسُهُ، إلّا لِعُذْرٍ شَرْعِيٍّ].

    فَصْلٌ : في شُرُوطِ قَبُولِ الصَّلاةِ

    وشُرِطَ، مَعَ ما مَرَّ [مِنْ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلاةِ]، لِقَبُولِها عِنْدَ اللهِ سُبْحانَهُ وتَعالى [أي نَيْلِ ثَوابِها ودَرَجاتِها]: أنْ يَقْصِدَ بِها وَجْهَ اللهِ وَحْدَهُ [أي وِجْهَةَ طاعَةِ اللهِ] ، وأنْ يَكُونَ مَأْكَلُهُ ومَلْبُوسُهُ ومُصَلّاهُ حَلالًا، وأنْ يُحضِرَ قَلْبَهُ فيها [بِأَنْ يَخْشَعَ قَلْبُهُ للهِ ولَوْ لَحْظَةً]، فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلاتِهِ إلّا ما عَقَلَ [أي وَعَى]، وأنْ لا يُعْجَبَ بِها. [ومَعْنَى صِحَّةِ الصَّلاةِ دُونَ قَبُولِها، أنْ تَسْقُطَ عنه المُطالَبَةُ بِها دُونَ أنْ يَنالَ ثَوابَها الخاصَّ.]

    فَصْلٌ : في أَرْكانِ الصَّلاةِ

    أَرْكانُ الصَّلاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ رُكْنًا: الأوَّلُ: نِيَّةٌ بِالقَلْبِ [لِفِعْلِ الصَّلاةِ]، ويُعَيِّنُ ذاتَ السَّبَبِ والوَقْتِ، ويَنْوِي الفَرْضِيَّةَ في الفَرْضِ، [ومِثالُ النِّيَّةِ الكافِيَةِ أنْ يَنْوِيَ قائِلًا في ذِهْنِهِ: “أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ”] ، [الثّانِي]: ويَقُولُ [بِلِسانِهِ]، بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ كَكُلِّ رُكْنٍ قَوْليٍّ: “اللهُ أَكْبَر”، [مَعَ اسْتِحْضارِ النِّيَّةِ بِقَلْبِهِ]، وهو ثانِي أرْكانِها، الثّالِثُ: القِيامُ في الفَرْضِ لِلْقادِرِ، الرّابِعُ: قِراءَةُ الفاتِحَةِ، بِالبَسْمَلَةِ، والتَّشْدِيداتِ، ومُوالاتِها، وتَرْتِيبِها، وإخْراجِ الحُرُوفِ مِنْ مَخارِجِها، وعَدَمِ اللَّحْنِ [أيْ الخَطَأِ في الحَرَكاتِ] المُخِلِّ بِالمَعْنَى، ويَحْرُمُ اللَّحْنُ الَّذِي لا يُخِلُّ [إذا تَعَمَّدَهُ]، ولا يُبْطِلُ، الخامِسُ: الرُّكُوعُ بِأنْ يَنْحَنِيَ بِحَيْثُ تَنالُ راحَتاهُ رُكْبَتَيْهِ، السّادِسُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه بِقَدْرِ سُبْحانَ اللهِ، السّابِعُ: الاعْتِدالُ بِأنْ يَنْتَصِبَ قائِمًا، الثّامِنُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، التّاسِعُ: السُّجُودُ مَرَّتَيْنِ بِأنْ يَضَعَ جَبْهَتَهُ [ولَوْ بَعْضَها] على مُصَلّاهُ مَكْشُوفَةً ومُتَثاقِلًا بِها ومُنَكِّسًا [أيْ جاعِلًا أَسْفَلَهُ أَعْلَى مِنْ أَعْلاهُ]، ويَضَعَ شَيْئًا مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ومِنْ بُطُونِ كَفَّيْهِ، ومِنْ بُطُونِ أَصابِعِ رِجْلَيْهِ،

    العاشِرُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الحادِي عَشَرَ: الجُلُوسُ بين السَّجْدَتَيْنِ، الثانِي عَشَرَ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الثّالِثَ عَشَرَ: الجُلُوسُ، لِلتَّشَهُّدِ الأَخِيرِ وما بَعْدَهُ، الرّابِعَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيرُ، فَـ[ـأَكْمَلُهُ أَنْ] يَقُولَ: “التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ”، الخامِسَ عَشَرَ: الصَّلاةُ على النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، [و]أَقَلُّها: “اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ”، السّادِسَ عَشَرَ: السَّلامُ، [و]أَقَلُّهُ: “السَّلامُ عَلَيْكُمْ”، السّابِعَ عَشَرَ: التَّرْتِيبُ، فَإِنْ تَعَمَّدَ تَرْكَهُ، كَأَنْ سَجَدَ قَبْلَ رُكُوعِهِ بَطَلَتْ، وإِنْ سَها [كأنْ تَرَكَ الرُّكُوعَ] فَلْيَعُدْ إليه إلّا أنْ يَكُونَ في مِثْلِهِ أو بَعْدَهُ، فَتَتِمُّ بِهِ رَكْعَتُهُ، ولَغا ما سَها بِهِ.

    Pasal: Najis dan Cara Menghilangkan

    Sebagian syarat shalat adalah suci dari najis di badan, baju dan tempat dan barang yang dibawa seperti saputangan di tangan atau saku. Apabila bertemu najis atau menyentuh bajunya atau barang yang dibawanya maka batal shalatnya kecuali kalau langsung dilempar atau najisnya dimaafkan (makfu) seperti darah lukanya.

    Wajib menghilangkan najis yang tidak dimaafkan yakni najis ainiyah dengan menghilangkan bendanya dari rasa warna dan bau dengan menyiramkan air yang menyucikan. Sedangkan dalam najis hukmiyah yakni najis yang tidak terlihat benda, warna, rasa dan baunya dengan cara mengalirkan air yang menyucikan satu kali. Dalam najis anjing dibasuh dengan air tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (debu) yang suci yang menghilangkan bendanya najis sekalipun terhitung satu kali. Dan disyaratkan sampainya air apabila air sedikit yakni kurang dua kulah.

    Pasal: Syarat Lain Shalat

    Termasuk syarat shalat adalah menghadap kiblat, masuknya waktu, Islam, tamyiz, tahu atas wajibnya shalat (apabila shalat fardhu), tidak boleh meyakini yang fardhu sebagai sunnah, menutupi seluruh badan dengan kain yang menutupi warna kulit kecuali wajah dan telapak tangan, menutupi tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan budak amat dari segala arah kecuali bawah.

    Pasal: Pembatal Shalat

    Shalat batal karena berbicara walaupun dengan dua huruf (kata) yang tidak bisa dimengerti atau dengan satu huruf (kata) yang dimengerti, kecuali apabila lupa dan sedikit dan dengan gerakan yang banyak yang berturut-turut atau bersamaan seperti tiga gerakan walaupun lupa. Dan dengan gerakan yang melebihi batas walaupun lupa. Dan karena tambahan rukun fi’li yang disengaja, dan karena gerakan satu untuk main-main walaupun ringan, makan dan minum kecuali apabila lupa dan sediit, karena niat memutus shalat, menghubungkan memutuskan shalat atas perkara apapun, karena ragu-ragu dalam memutuskan shalat, berlalunya satu rukun disertai ragu dalam nikat taharum, atau panjangnya masa ragu, juga karena perubahan niat seperti merubah fardhu menjadi sunnah atau sebaliknya kecuali karena udzur syar’i.

    Pasal: Syarat Diterimanya Shalat

    Disyaratkan selain yang sudah disebut dari syarat sahnya shalat untuk diterimanya shalat di sisi Allah yakni untuk memperoleh pahala dan derajat shalat yaitu harus bermaksud karena Allah semata yakni semata taat pada Allah. Makanan, baju dan tempat shalat harus halal. Hatinya hadir dalam shalat yakni hatinya khusyuk pada Allah walaupun sebentar. Maka shalatnya itu tergantung dari yang dia fikirkan. Dan hendaknya tidak ujub (sombong) pada shalatnya. Makna sahnya shalat, bukan diterimanya shalat, adalah gugurnya tuntutan shalat dari orang tersebut bukan mendapatkan pahala shalat yang khusus.

    Pasal: Rukun Shalat

    Rukun shalat ada 17: Pertama, niat dengan hati untuk melakukan shalat menentukan sebab dan waktu dan berniat fardhu untuk shalat fardhu. Contoh niat yang sah adalah niat dalam hatinya “Aku shalat fardhu Zhuhur”. Kedua, berkata secara lisan sekiranya dapat didengar sendiri sebagaimana setiap rukun qauli (ucapan) yang lain ucapan “Allahu Akbar” disertai menghadirkan niat dalam hati. Ini rukun kedua. Ketiga, Berdiri dalam shalat fardhu bagi yang kuasa. Keempat, membaca Al Fatihah dengan basmalah dan tasydid dengan segera dan urut dan mengeluarkan bunyi huruf sesuai makhrajnya dan tidak lahan yakni salah harkat yang merubah makna. Haram lahan yang tidak merusak maka apabila sengaja tapi tidak membatalkan shalat. Kelima, rukuk dengan cara membungkuk sekiranya kedua telapak tangan menyentuh lutut. Keenam, tumakninah dalam rukuk dengan sekadar membaca “subnahallah”. Ketujuh, i’tidal yaitu bangun setelah rukuk. Kedelapan, tuma’ninah dalam i’tidal. Kesembilan, sujud dua kali dengan menaruh jidat atau dahi walaupun sebagian pada tempat shalat secara terbuka. Kesepuluh, tumakninah dalam sujud.

    Kesebelas, duduk di antara dua sujud. Keduabelas, tumakninah dalam sujud. Ketigabelas, duduk untuk tasyahud atau tahiyat akhir dan yang setelahnya. Keempatbelas, tahiyat akhir. Ucapan tahiyat akhir paling sempurna adalah: “التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ” Kelimabelas, membaca shalawat pada Nabi. Paling sedikit bacaan shalawat adalah: “اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ” Keenambelas, salam. Paling sedikit ucapan salam adalah “السَّلامُ عَلَيْكُمْ” Ketujuhbelas, tertib atau urut. Apabila sengaja meninggalkan tertib, seperti sujud sebelum rukuk maka batal shalatnya. Apabila lupa seperti tidak rukuk, maka hendaknya ia mengulanginya kecuali apabila ia dalam perbuatan yang sama atau setelahnya maka hendaknya ia menyempurnakan rakaatnya dan sia-sia rakaat yang dia ada yang terlupa sebelumnya.[]

    فَصْلٌ : في الجَماعَةِ والجُمُعَةِ

    الجَماعَةُ على الذُّكُورِ، الأَحْرارِ، المُقِيمِينَ، البالِغِينَ، [العُقَلاءِ]، غَيْرِ المَعْذُورِينَ، فَرْضُ كِفايَةٍ؛ و[الجَماعَةُ] في الجُمُعَةِ فَرْضُ عَيْنٍ عليهم [أي المَذْكُورِينَ]، إذا كانُوا أَرْبَعِينَ، مُكَلَّفِينَ، [مُسْتَوْطِنِينَ]، في أَبْنِيَةٍ [فَلا تَجِبُ على أَهْلِ الخِيامِ]، و[تَجِبُ] على مَنْ نَوَى الإقامَةَ عِنْدَهُمْ أَرْبَعَةَ أيّامٍ صِحاحٍ [أي غَيْرَ يَوْمَيِ الدُّخُولِ والخُرُوجِ]، وعلى مَنْ بَلَغَهُ [بِالقُوَّةِ لا بِالفِعْلِ] نِداءُ صَيِّتٍ مِنْ طَرَفٍ يَلِيهِ مِنْ بَلَدِها؛ وشَرْطُها [أي الجُمُعَةِ]: وَقْتُ الظُّهْرِ، وخُطْبَتانِ قَبْلَها فيه يَسْمَعُهُما الأَرْبَعُونَ [بِالفِعْلِ لو أَصْغَوْا ولم يَكُنْ ضَجَّةٌ ، وأنْ تُصَلَّى جَماعَةً بِهِمْ، وأنْ لا تُقارِنَها [في تَكْبِيرَةِ الإحْرامِ] ولا تَسْبِقَها جُمُعَةٌ بِبَلَدِها [إلّا إذا شَقَّ الاقْتِصارُ على واحِدَةٍ] ،

    وأَرْكانُ الخُطْبَتَيْنِ: حَمْدُ اللهِ، والصَّلاةُ على النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ،
    والوَصِيَّةُ بَالتَّقْوَى، فيهما [أي أنَّ هٰذه الثّلاثَةَ المُتَقَدِّمَةَ أَرْكانٌ في كُلٍّ مِنَ الخُطْبتَيْنِ]؛ وآيَةٌ مُفْهِمَةٌ، في إحْداهُما؛ والدُّعاءُ لِلْمُؤْمِنِينَ، في الثّانِيَةِ،

    وشُرُوطُهُما: الطَّهارَةُ عَنِ الحَدَثَيْنِ، وعَنِ النَّجاسَةِ في البَدَنِ والمَكانِ والمَحْمُولِ، وسَتْرُ العَوْرَةِ، والقِيامُ، والجُلُوسُ [قَدْرَ الطُّمَأْنِينَةِ] بَيْنَهُما،
    والوِلاءُ بَيْنَهُما، [والوِلاءُ بَيْنَ أَرْكانِهِما]، و[الوِلاءُ] بَيْنَهُما وبَيْنَ الصَّلاةِ،
    وأنْ يَكُونا [أرْكانُهما] بِالعَرَبِيَّةِ.

    فَصْلٌ : في شُرُوطِ الاقْتِداءِ

    يَجِبُ على مَنْ صَلَّى مُقْتَدِيًا في جُمُعَةٍ أو غَيْرِها: أنْ لا يَتَقَدَّمَ على إمامِهِ في المَوْقِفِ والإحْرامِ، بَلْ تُبْطِلُ المُقارَنَةُ في الإحْرامِ، وتُكْرَهُ في غَيْرِهِ إلّا التَّأْمِينَ، ويَحْرُمُ تَقَدُّمُهُ بِرُكْنٍ فِعْلِيٍّ، وتَبْطُلُ بِرُكْنَيْنِ، وكَذا التَّأَخُّرُ بِهما لِغَيْرِ عُذْرٍ، وبِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاثَةِ أَرْكانٍ طَوِيلَةٍ له [أي لِعُذْرٍ]، وأنْ يَعْلَمَ بِانْتِقالاتِ إمامِهِ [بِرُؤْيَتِهِ أو سَماعِ صَوْتِهِ أو رُؤْيَةِ بَعْضِ صَفٍّ يَراهُ أو نَحْوِ ذٰلك]، وأنْ يَجْتَمِعا في مَسْجِدٍ أو ثَلاثِمِائَةِ ذِراعٍ، وأنْ لا يَحُولَ بينهما حائلٌ يَمْنَعُ الاسْتِطْراقَ [أي المُرُورَ العادِيَّ، المُباشِرَ في غَيْرِ مَسْجِدٍ، وغَيْرَ المُباشِرِ في مَسْجِدٍ] ، وأنْ يَتَوافَقَ نَظْمُ صَلاتَيْهِما [فَلا تَصِحُّ صُبْحٌ خَلْفَ جِنازَةٍ مَثَلًا] ، وأنْ لا يَتَخالَفا في سُنَّةٍ تَفْحُشُ المُخالَفَةُ فيها [كَفِعْلِ التَّشَهُّدِ الأَوَّلِ إذا تَرَكَهُ الإمامُ]، وأنْ يَنْوِيَ الاقْتِداءَ مَعَ التَّحَرُّمِ في الجُمُعَةِ [والمُعادَةِ]، و[أنْ يَنْوِيَ الاقْتِداءَ] قَبْلَ المُتابَعَةِ [في فِعْلٍ أو سَلامٍ] وطُولِ الانْتِظارِ [لِأَجْلِ هذه المُتابَعَةِ]، في غَيْرِها [أي الجُمُعَةِ والمُعادَةِ] ، ويَجِبُ على الإمامِ نِيَّةُ الإمامَةِ في الجُمُعَةِ والمُعادَةِ، وتُسَنُّ في غَيْرِهِما.

    فَصْلٌ : في الجِنازَةِ

    غَسْلُ المَيِّتِ، وتَكْفِينُهُ، والصَّلاةُ عليه، ودَفْنُهُ، فَرْضُ كِفايَةٍ، إذا كانَ مُسْلِمًا وُلِدَ حَيًّا؛ ووَجَبَ لِذِمِّيٍّ تَكْفِينٌ، ودَفْنٌ؛ ولِسِقْطٍ مَيِّتٍ [ظَهَرَ خَلْقُهُ] غَسْلٌ، وكَفْنٌ، ودَفْنٌ؛ ولا يُصَلَّى عليهما [أي الذِّمِّيِّ والسِّقْطِ، فَصَلاةُ الجِنازَةِ على الكافِرِ كُفْرٌ، وعلى السِّقْطِ حَرامٌ]؛ ومَنْ ماتَ في قِتالِ الكُفّارِ بِسَبَبِهِ كُفِّنَ في ثِيابِهِ فَإنْ لم تَكْفِهِ زِيدَ عَلَيْها ودُفِنَ، ولا يُغَسَّلُ ولا يُصَلَّى عليه [أي غَسْلُهُ والصَّلاةُ عليه يَحْرُمانِ]. وأقَلُّ الغَسْلِ: إزالَةُ النَّجاسَةِ، وتَعْمِيمُ جَمِيعِ بَشَرِهِ وشَعَرِهِ وإنْ كَثُفَ مَرَّةً بِالماءِ المُطَهِّرِ. وأقَلُّ الكَفَنِ: ساتِرُ جَمِيعِ البَدَنِ، وثَلاثُ لَفائِفَ لِمَنْ تَرَكَ تَرِكَةً [أي مِيراثًا] زائِدَةً عَنْ دَيْنِهِ ولم يُوصِ بِتَرْكِها [أي بِتَرْكِ الزِّيادَةِ على الواحِدَةِ].

    وأقَلُّ الصَّلاةِ عليه: أنْ يَنْوِيَ [ذَكَرٌ ولو صَبِيًّا مُمَيِّزًا] فِعْلَ الصَّلاةِ عليه، والفَرْضَ، ويُعَيِّنَ [المَيِّتَ ولو بِالإشارَةِ القَلْبِيَّةِ]، ويَقُولَ: “اللهُ أَكْبَر”، وهو قائمٌ إنْ قَدِرَ، ثُمَّ يَقْرَأَ الفاتِحَةَ، ثُمَّ يَقُولَ: “اللهُ أَكْبَر، اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّد”، ثُمَّ يَقُولَ: “اللهُ أَكْبَر، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وارْحَمْهُ”، ثُمَّ يَقُولَ: “اللهُ أَكْبَر، السَّلامُ عَلَيْكُمْ”، ولا بُدَّ فيها مِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ، وتَرْكِ المُبْطِلاتِ، [وتَقَدُّمِ غُسْلِ المَيِّتِ]. وأقَلُّ الدَّفْنِ: حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رائحَتَهُ وتَحْرُسُهُ مِنَ السِّباعِ، ويُسَنُّ أنْ يُعَمَّقَ [القَبْرُ] قَدْرَ قامَةٍ وبَسْطَةٍ، ويُوَسَّعَ، ويَجِبُ تَوْجِيهُهُ [أي المَيِّتِ] إلى القِبْلَةِ.

    Pasal: Shalat Jamaah dan Shalat Jumat

    Shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah bagi laki-laki yang merdeka, mukim (bukan musafir), baligh, berakal sehat, tidak udzur. Shalat berjamaah pada waktu shalat Jumat hukumnya fardhu ain bagi orang yang (a) memenuhi kriteria di atas; (b) berjumlah 40 orang mukalaf; (c) penduduk tetap. Maka tidak wajib Jumat bagi pemukim kemah (yang berpindah-pindah). Wajib Jumat bagi yang berniat mukim selama empat hari penuh yakni selain dua hari masuk dan keluar. Dan wajib bagi orang yang mendengar suara panggilan adzan dengan kekuatan bukan perbuatan dari satu sisi lokasinya. Syarat Jumat adalah: waktu zhuhur, dua khutbah sebelum shalat yang didengar oleh 40 orang dan dilakukan secara berjamaah. Takbirotul ihram-nya tidak boleh bersamaan dengan atau didahului oleh Jumat di lokasi lain kecuali apabila sulit dilaksanakan dalam satu tempat.

    Rukun dua khutbah Jumat adalah memuji pada Allah, shalawat pada Nabi, wasiat takwa dalam kedua khutbah yakni bahwa tiga rukun ini merupakan rukun yang wajib ada pada masing-masing dari kedua khutbah, dan satu ayat Al-Quran di salah satu khutbah, doa untuk umat Islam pada khutbah kedua.

    Syarat dua khutbah Jumat adalah: suci dari hadas besar dan kecil, suci dari najis di badan, tempat dan barang yang dibawa, menutup aurat, berdiri, duduk secara tumakninah antara kedua khutbah, bersegera antara dua khutbah, bersegera antara rukun kedua khutbah, bersegera antara dua khutbah dan shalat, dan rukun-rukun khutbah harus dalam bahasa Arab.

    Pasal: Syarat Makmum

    Wajib bagi makmum yang shalat Jumat atau lainnya untuk tidak mendahului imam dalam tempat berdiri dan takbirotul ihrom bahkan batal shalatnya apabila takbirotul ihromnya bersamaan dan makruh bersamaan di lainnya kecuali bacaan amin. Haram makmum mendahului imam dengan satu rukun fi’li (perbuatan) dan batal dengan mendahului dua rukun begitu juga batal mengakhiri dua rukun tanpa rukun dan lebih dari tiga rukun yang panjang karena udzur. Makmum harus tahu pergerakan imam dengan melihatnya atau mendengar suaranya atau melihat sebagian barisan yang dilihatnya, dll. Makmum dan imam harus berkumpul dalam satu masjid atau tigaratus dzira’. Tidak ada penghalang antara makmum dan imam yang mencegah bisa lewat secara langsung di selain masjid dan tidak langsung di satu masjid. Harus sama jenis shalat keduanya, maka tidak sah makmum shalat subuh pada imam yang shalat jenazah. Tidak boleh berbeda dalam sunnah yang berbeda sangat seperti makmum tahiyat awal sedangkan imam tidak melakukannya. Harus niat jadi makum bersamaan takbirotul ihram pada shalat Jumat dan muadat. Harus niat jadi makmum dalam perbuatan atau salam dan selama menunggu untuk mengikuti pada yang selain Jumat dan muadat. Wajib bagi imam niat menjadi imam pada shalat Jumat dan muadat. Sunnah niat jadi imam di selain Jumat.

    Pasal: Jenazah

    Memandikan mayit, mengkafani, menyolati dan menguburnya adalah fardhu kifayah apabila ia muslim yang lahir dalam keadaan hidup. Wajib bagi kafir dzimmi dikafani dan dikuburkan. Bagi bayi yang mati keguguran dan sudah tampak bentuknya wajib dimandikan, dikafani, dikubur tapi tidak perlu dishalati untuk keduanya yakni kafir dzimmi dan bayi keguguran. Shalat jenazah bagi orang kafir adalah kufur dan bagi bayi keguguran haram. Barangsiapa yang mati dalam memerangi orang kafir maka dikafani dengan bajunya apabila tidak cukup maka ditambah dan dimakamkan tapi tidak perlu dimandikan dan dishalati yakni memandikan dan menyolati hukumnya haram. Memandikan mayit paling sedikit adalah menghilangkan najis, meratakan seluruh kulit, rambut/bulu walaupun tebal satu kali dengan air yang menyucikan. Kafan paling sedikit adalah menutupi seluruh badan. Tiga lapis bagi yang meninggalkan warisan sebagai tambahan dari hutangnya dan tidak berwasiat meninggalkan tiga lapis.

    Shalat paling sedikit adalah niat, walaupun laki-laki masih kecil yang tamyiz, untuk melakukan shalat, menyebut fardhu, menentukan pada mayit walaupun dengan isyarat hati lalu berkata: “Allahu Akbar”. Harus berdiri apabila mampu, lalu membaca Al Fatihah lalu berkata: “Allahu akbar Allahumma shalli ala Muhammad” lalu berkata “Allahu akbar, allahumma ighfir lahu warhamhu” lalu berkata “Allahu akbar, assalamu alaikum”. Wajib bagi yang shalat jenazah memenuhi syarat-syarat shalat dan meninggalkan yang membatalkan shalat dan mendahulukan memandikan mayit. Memendam mayit paling sedikit: satu galian yang dapat menutup baunya dan menjaganya dari binatang buas. Sunnah diperdalam kuburnya seukurang orang berdiri dan diperluas. Wajib menghadapkan mayit ke arah kiblat. [alkhoirot.com]

    BAB ZAKAT

    فصل) وتجب الزكاة فى الابل والبقر والغنم والتمر والزبيب والزروع المقتاتة حالة الاختيار والذهب والفضة والمعدن والركاز منهما واموال التجارة والفطرة *

    واول نصاب الابل خمس ومن البقر ثلاثون ومن الغنم اربعون فلا زكاة قبل ذلك ولا بد من الحول بعد ذلك ولابد من السوم فى كلأ مباح وان لا تكون عاملة فيجب فى كل خمس من الابل شاة جذع ضأنأو ثنى معز وفى كل ثلاثين من البقر تبيع ثم إن زادت ماشيته على ذلك ففى ذلك الزائدة ويجب عليه أن يتعلم ما أوجبه اللّٰه تعالى عليه فيها

    Wajib mengeluarkan zakat didalam onta, sapi, kambing, kurma, anggur, tanaman yang dapat memberi kekuatan (makanan pokok) pada saat ikhtiyar (bukan saat terpaksa), emas, perak, barang tambang (dari emas dan perak), harta simpanan orang jahiliyah (rikaz) dari emas dan perak, harta dagangan dan zakat badan (fitrah).

    ZAKAT UNTA, SAPI DAN KAMBING

    Awal nisabnya onta adalah lima ekor, nisabnya sapi adalah tiga puluh ekor, nisabnya kambing adalah empat puluh ekor.

    Oleh karena itu sebelum mencapai nisab tersebut maka tidak wajib dizakati. Dan harus mencapai satu tahun, harus mencari makan sendiri dipenggembalaan yang dibolehkan dan harus tidak dipekerjakan. Didalam setiap onta lima ekor maka wajib mengeluarkan zakat berupa satu ekor kambing. Didalam setiap empat puluh ekor kambing wajib mengeluarkan zakat berupa kambing kibas yang berusia satu tahun atau kambing kacang yang berusia dua tahun. Didalam setiap tiga puluh ekor sapi wajib mengeluarkan zakat berupa anak sapi (tabi’) yang berusia satu tahun penuh.

    Kemudian setiap ternak yang melebihi nisab tersebut maka jika lebih tersebut mencapai satu nisab maka wajib menzakatinya, jika tidak mencapai satu nisab maka tidak wajib menzakatinya. Wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahui setiap sesuatu yang diwajibkan oleh Alloh didalam masalah zakat.

    ZAKAT KURMA, ANGGUR DAN TANAMAN

    ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻭﺍﻟﺰﺑﻴﺐ ﻭﺍﻟﺰﺭﻭﻉ ﻓﺄﻭﻝ ﻧﺼﺎﺑﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ اوسق ﻭﻫﻰ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﺻﺎﻉ ﺑﺼﺎعه ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻳﻀﻢ ﺯﺭﻉ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﺑﻌﻀﻪ ﺍﻟﻰ ﺑﻌﺾ ﻻ ﻳﻜﻤﻞ ﺟﻨﺲ ﺑﺠﻨﺲ ﻭ ﺗﺠﺐ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺑﺒﺪو ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭﺍﺷﺘﺪﺍﺩ ﺍﻟﺤﺐ ﻭﻳﺠﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻌﺸﺮﺍن ﻟﻢ ﺗﺴﻖ ﺑﻤﺆﻧﺔ ﻭﻧﺼﻔﻪ ﺍﻥ سقيت ﺑﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﺯﺍﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺼﺎﺏ اخرج منه بقسطه ولا زكاة فيهما دون النصاب ﺍﻻ ﺍﻥ ﻳﺘﻄﻮﻉ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺬﻫﺐ ﻓﻨﺼﺎﺑﻪ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﻣﺜﻘﺎﻻ ﻭﺍﻟﻔﻀﺔ ﻣﺎﺋﺘﺎ ﺩﺭﻫﻢ ﻭﻳﺠﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ رﺑﻊ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﻭﻣﺎ ﺯﺍﺩ فبحسابه ﻭﻻ ﺑﺪ فيهما ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻮﻝ ﺍﻻ ﻣﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻥ ﺃﻭ ﺭﻛﺎﺯ ﻓﻴﺨﺮﺟﻬﺎ ﺣﺎﻻ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺮﻛﺎﺯ ﺍﻟﺨﻤﺲ

    Adapun awal nisabnya kurma, anggur, tanaman (yang dapat menjadi kekuatan) adalah lima wasaq.

    Lima wasaq adalah tiga ratus sha’ dengan sha’nya rasululloh. Hasil panen dalam masa satu tahun apabila satu jenis maka dikumpulkan dalam menjumlah nishab dan menentukan kadar zakatnya. Satu jenis tanaman tidak dapat menyempurnakan pada jenis tanaman lain didalam menjumlah nisab. Tanaman wajib dizakati apabila sudah tampak baik dan bijinya sudah mengeras. Di dalam tanaman (kurma, anggur, tanaman yang dapat menguatkan) wajib mengeluarkan zakat sepersepuluhnya jika tanaman tersebut disiram dengan tanpa biaya. Dan wajib mengeluarkan zakat separuhnya sepersepuluh (seperdua puluh) jika tanaman tersebut disiram dengan adanya biaya.

    Dan apabila tanaman tersebut melebihi nisab maka lebihnya wajib dizakati sesuai kelebihannya. Namun apabila tanaman tersebut belum mencapai nisab maka tidak wajib dizakati kecuali untuk berbuat sunah (shodaqoh sunah). Adapun nisabnya emas adalah dua puluh mitsqol, sedangkan nisabnya perak adalah dua ratus dirham, dan didalam keduanya (emas dan perak) wajib mengeluarkan zakat sebesar seperempat sepersepuluh. Jika keduanya (emas dan perak) melebihi nisab maka lebihnya dizakati sesuai hitungan lebihnya. Dan didalam keduanya (emas dan perak) diharuskan mencapai satu tahun kecuali emas dan perak yang dihasilkan dari pertambangan (ma’dan) dan dari peninggalan jahiliyah (rikaz), oleh karena itu maka zakat keduanya (ma’dan dan rikaz) harus dikeluarkan seketika, sedangkan zakatnya adalah seperlima.

    ZAKAT PERDAGANGAN DAN ZAKAT FITRAH

    ﻭﺃﻣﺎ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ﻓﻨﺼﺎﺑﻬﺎ ﻧﺼﺎﺏ ﻣﺎ ﺍﺷﺘﺮﻳﺖ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﺪﻳﻦ ﻭﻻ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺍﻻ ﺃﺧﺮ ﺍﻟﺤﻮﻝ ﻭﻳﺠﺐ فيها ﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ﻭﻣﺎﻝ ﺍﻟﺨﻠﻴﻄﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﻠﻄﺎﺀ ﻛﻤﺎﻝ ﺍﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﺼﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﺨﺮﺝ ﺍﺫﺍ ﻛﻤﻠﺖ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺨﻠﻄﺔ ﻭﺯﻛﺎﺓ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺗﺠﺐ ﺑﺎﺩﺭﺍﻙ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻬﻢ ﺍﺫﺍ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻣﺴﻠﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﻏﺎﻟﺐ ﻗﻮﺕ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﺫﺍ ﻓﻀﻠﺖ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻪ ﻭ ﻛﺴﻮﺗﻪ ﻭ ﻣﺴﻜﻨﻪ ﻭ ﻗﻮﺕ ﻣﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭ ﻟﻴﻠﺘﻪ ﺗﺠﺐ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻓﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻻﻓﺮﺍﺯ ﻭﻳﺠﺐ ﺻﺮﻓﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﺟﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭﺍﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻓﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭفى ﺍﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭﺍﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﻻ ﻳﺠﺰﻯﺀ ﺻﺮﻓﻬﺎ ﻟﻐﻴﺮﻫﻢ

    Adapun nisabnya zakat dagangan adalah sesuai dengan sesuatu yang digunakan untuk membeli dagangan yakni dari emas dan perak (artinya nisabnya sesuai dengan nisabnya emas dan perak). Dan nisab tidak diperhitungkan kecuali di akhir tahun. Harta dagangan yang wajib dizakati adalah seperempatnya sepersepuluhnya harga dagangan. Harta yang bercampur yang dimiliki dua orang atau lebih, itu sama dengan milik satu orang dalam menentukan nisab dan kadar zakat yang dikeluarkan apabila sudah memenuhi syarat-syaratnya khiltah (pencampuran harta).

    Zakat badan (fitrah) wajib disebabkan menjumpai sebagian dari bulan ramadhan dan sebagian dari bulan sawal, atas setiap orang islam dan orang-orang yan menjadi kewajibanya memberi nafkah jika mereka islam. Dan setiap satu orang zakatnya adalah satu sha’ dari makanan yang biasa dijadikan kekuatan dinegaranya (makanan pokok), apabila sudah melebihi dari bayar hutangnya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan dari makanan pokoknya orang-orang yang wajib dinafkahi disaat siang dan malamnya hari raya. Dan wajib berniat disemua macamnya zakat setelah dipisah.

    Wajib mengalokasikan zakat kepada orang yang ia jumpai dari orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat (amil zakat), orang yang lembutkan hatinya (muallaf), budak yang mukatab, pejuang dalam agama Alloh dan anak perjalanan (musafir). Tidak boleh dan tidak mencukupi mengalokasikan zakat kepada selain orang-orang tersebut.[alkhoirot.com]

    فَصْلٌ : فِيمَنْ يَجِبُ عليه الصَّوْمُ ومَنْ يَجُوزُ له الفِطْرُ

    يَجِبُ صَوْمُ شَهْرِ رَمَضانَ على كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ؛ ولا يَصِحُّ [الصَّوْمُ ولا يَجُوزُ] مِنْ حائِضٍ ونُفَساءَ، ويَجِبُ عليهما القَضاءُ؛ ويَجُوزُ الفِطْرُ لِمُسافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ، وإنْ لم يَشُقَّ عليه الصَّوْمُ، [ويَجِبُ عليه القَضاءُ]؛ ولمرِيضٍ، وحامِلٍ، ومُرْضِعٍ، [لكِنَّ الثَّلاثَةَ الأُخَرَ إذا] شَقَّ [الصَّوْمُ] عليهم مَشَقَّةً لا تُحتَمَلُ، [أو خافَتِ الأَخِيرَتانِ على نَفْسَيْهِما أو وَلَدَيْهِما، يَجُوزُ لَهُمُ] الفِطْرُ، ويَجِبُ عليهم القَضاءُ، [ويَجِبُ على الأَخِيرَتَيْنِ فِدْيَةٌ إنْ أَفْطَرَتا خَوْفًا على وَلَدَيْهِما فَقَطْ].

    فَصْلٌ : في فَرائِضِ الصَّوْمِ وشُرُوطِه

    ويَجِبُ التَّبْيِيتُ [في صِيامِ الفَرْضِ، بِأنْ يَنْوِيَ بَيْنَ الغُرُوبِ والفَجْرِ صِيامَ غَدٍ]، والتَّعْيينُ [بِأنْ يَسْتَحْضِرَ في ذِهْنِهِ أنَّهُ يَصُومُ عَنْ رَمَضانَ أو نَذْرٍ أو كَفّارَةٍ أو غَيْرِها] في النِّيَّةِ لِكُلِّ يَوْمٍ، والإمْساكُ عن: الجِماعِ، والاسْتِمْناءِ [أي التَّسَبُّبِ عَمْدًا بِخُرُوجِ مَنِيِّهِ بِنَحْوِ لَمسٍ]، والاسْتِقاءَةِ [أي التَّسَبُّبِ عَمْدًا في خَرُوجِ شَيْءٍ مِنْ مَعِدَتِهِ إلى فَمِهِ بِنَحْوِ أُصْبُعِهِ]، وعن الرِّدَّةِ [أي الخُرُوجِ مِنَ الإسْلامِ، بِقَوْلِ كُفْرٍ أو فِعْلِ كُفْرٍ أو اعْتِقادِ كُفْرٍ]، وعَنْ دُخُولِ عَيْنٍ جَوْفًا، إلّا رِيقَهُ الخالِصَ الطّاهِرَ مِنْ مَعْدِنِهِ [أي مَكانِ وُجُودِهِ الأَصْلِيِّ وهو فَمُهُ].

    و[يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ]: أنْ لا يُجَنَّ ولو لَحْظَةً، وأنْ لا يُغْمَى عليه كُلَّ اليَوْمِ [مِنَ الفَجْرِ إلى الغُرُوبِ]،

    فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ صَوْمُهُ

    ولا يَصِحُّ [ولا يَجُوزُ] صَوْمُ العِيدَيْنِ، وأيّامِ التَّشْرِيقِ، وكَذا النِّصْفُ الأَخِيرُ مِنْ شَعْبانَ ويَومُ الشَّكِّ، إلّا أنْ يَصِلَهُ [أي النِّصْفَ الأخِيرَ مِنْ شَعبانَ، ويَوْمَ الشَّكِّ] بِما قَبْلَهُ، أو [يَصُومَهُ] لِقَضاءٍ أو نَذْرٍ أو وِرْدٍ [كاعْتِيادِ سُنَّةِ صَوْمِ الاثْنَيْنِ والخَمِيسِ].

    فَصْلٌ : فِيمَنْ أَفْسَدَ صَوْمَ يَوْمٍ مِنْ رَمَضانَ بِجِماعٍ

    ومَنْ أَفْسَدَ صَوْمَ يَوْمٍ مِنْ رَمَضانَ ولا رُخْصَةَ له في فِطْرِهِ بِجِماعٍ، فَعَلَيْهِ الإثْمُ، والقَضاءُ فَوْرًا [أي بَعْدَ يَوْمِ عِيدِ الفِطْرِ]، وكَفّارةُ ظِهارٍ [وهي عِتْقُ رَقَبَةٍ، فَإنْ لم يَسْتَطِعْ فَصِيامُ شَهْرَيْنِ مُتَتابِعَيْنِ، فَإنْ لم يَسْتَطِعْ فَتَمْلِيكُ سِتِّينَ مِسْكِينًا لِكُلِّ واحِدٍ مِلْءُ الكَفَّيْنِ مِنْ غالِبِ قُوتِ البَلَدِ].

    Pasal: Orang yang Wajib Puasa dan yang Boleh Tidak Puasa

    Wajib puasa bulan Ramadan bagi setiap muslim mukalaf. Tidak sah dan tidak boleh puasa bagi wanita haid dan perempuan nifas. Wajib bagi keduanya mengqadha puasa yang ditinggalkan. Boleh tidak puasa bagi musafir dalam jarak qashar walaupun dia mampu berpuasa. Wajib baginya mengqadha. Juga bagi orang sakit, hamil dan menyusui akan tetapi ketiga orang ini boleh tidak puasa apabila tidak mampu untk puasa atau yang kedua terakhir takut pada dirinya atau pada anaknya. Boleh bagi mereka tidak puasa tapi wajib mengqadha. Wajib bagi dua orang terakhir membayar fidyah apabila tidak puasa karena mengkuatirkan anaknya saja.

    Pasal: Fardu dan Syarat Puasa

    Wajib niat puasa pada malam hari antara maghrib dan subuh untuk puasa besoknya. Dan menentukan yakni menghadirkan dalam hati untuk puasa Ramadan atau nadzar atau kafarat atau lainnya dalam niat setiap harinya. Menahan diri dari: jimak, bercumbu yaitu perbuatan yang menyebabkan keluarnya mani seperti menyentuh. Muntah yang disengaja yakni perbuatan yang sengaja dilakukan supaya muntah seperti dengan jari. Murtad yaitu keluar dari Islam dengan ucapan kufur, perbuatan kufur atau i’tikad kufur. Dari masuknya benda ke rongga kecuali ludah yang bersih dan suci dari perut yaitu tempat asalnya yang asli yakni mulutnya.

    Disyaratkan untuk sahnya puasa: tidak gila walaupun sebentar, tidak epilepsi setiap hari dari subuh sampai maghrib.

    Pasal: Waktu Haram Puasa

    Tidak sah dan tidak boleh puasa pada dua hari raya, hari tasyriq, paruh akhir bulan Sya’ban dan hari syak kecuali kalau bersambung yakni paruh akhir bulan Sya’ban dan hari syak (hari ragu) dengan hari sebelumnya atau puasa untuk qadha, nadzar atau rutin seperti kebiasaan puasa sunnah senin dan kamis.

    Pasal: Orang yang Batal Puasa Ramadan karena Jimak

    Orang yang batal puasa Ramadan karena jimak sedangkan dia tidak ada keringanan untuk tidak puasa maka dia menanggung dosa dan harus segera mengqadha yakni setelah Idul Fitri dan membayar kafarat (tebusan) berupa memerdekakan budak, apabila tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak bisa maka memberi makan 60 orang miskin setiap orang sebanyak dua telapak tangan dari makanan pokok suatu tempat. [alkhoirot.com]

    فَصْلٌ : فِيمَنْ يَجِبُ عليه الصَّوْمُ ومَنْ يَجُوزُ له الفِطْرُ

    يَجِبُ صَوْمُ شَهْرِ رَمَضانَ على كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ؛ ولا يَصِحُّ [الصَّوْمُ ولا يَجُوزُ] مِنْ حائِضٍ ونُفَساءَ، ويَجِبُ عليهما القَضاءُ؛ ويَجُوزُ الفِطْرُ لِمُسافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ، وإنْ لم يَشُقَّ عليه الصَّوْمُ، [ويَجِبُ عليه القَضاءُ]؛ ولمرِيضٍ، وحامِلٍ، ومُرْضِعٍ، [لكِنَّ الثَّلاثَةَ الأُخَرَ إذا] شَقَّ [الصَّوْمُ] عليهم مَشَقَّةً لا تُحتَمَلُ، [أو خافَتِ الأَخِيرَتانِ على نَفْسَيْهِما أو وَلَدَيْهِما، يَجُوزُ لَهُمُ] الفِطْرُ، ويَجِبُ عليهم القَضاءُ، [ويَجِبُ على الأَخِيرَتَيْنِ فِدْيَةٌ إنْ أَفْطَرَتا خَوْفًا على وَلَدَيْهِما فَقَطْ].

    فَصْلٌ : في فَرائِضِ الصَّوْمِ وشُرُوطِه

    ويَجِبُ التَّبْيِيتُ [في صِيامِ الفَرْضِ، بِأنْ يَنْوِيَ بَيْنَ الغُرُوبِ والفَجْرِ صِيامَ غَدٍ]، والتَّعْيينُ [بِأنْ يَسْتَحْضِرَ في ذِهْنِهِ أنَّهُ يَصُومُ عَنْ رَمَضانَ أو نَذْرٍ أو كَفّارَةٍ أو غَيْرِها] في النِّيَّةِ لِكُلِّ يَوْمٍ، والإمْساكُ عن: الجِماعِ، والاسْتِمْناءِ [أي التَّسَبُّبِ عَمْدًا بِخُرُوجِ مَنِيِّهِ بِنَحْوِ لَمسٍ]، والاسْتِقاءَةِ [أي التَّسَبُّبِ عَمْدًا في خَرُوجِ شَيْءٍ مِنْ مَعِدَتِهِ إلى فَمِهِ بِنَحْوِ أُصْبُعِهِ]، وعن الرِّدَّةِ [أي الخُرُوجِ مِنَ الإسْلامِ، بِقَوْلِ كُفْرٍ أو فِعْلِ كُفْرٍ أو اعْتِقادِ كُفْرٍ]، وعَنْ دُخُولِ عَيْنٍ جَوْفًا، إلّا رِيقَهُ الخالِصَ الطّاهِرَ مِنْ مَعْدِنِهِ [أي مَكانِ وُجُودِهِ الأَصْلِيِّ وهو فَمُهُ].

    و[يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ]: أنْ لا يُجَنَّ ولو لَحْظَةً، وأنْ لا يُغْمَى عليه كُلَّ اليَوْمِ [مِنَ الفَجْرِ إلى الغُرُوبِ]،

    فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ صَوْمُهُ

    ولا يَصِحُّ [ولا يَجُوزُ] صَوْمُ العِيدَيْنِ، وأيّامِ التَّشْرِيقِ، وكَذا النِّصْفُ الأَخِيرُ مِنْ شَعْبانَ ويَومُ الشَّكِّ، إلّا أنْ يَصِلَهُ [أي النِّصْفَ الأخِيرَ مِنْ شَعبانَ، ويَوْمَ الشَّكِّ] بِما قَبْلَهُ، أو [يَصُومَهُ] لِقَضاءٍ أو نَذْرٍ أو وِرْدٍ [كاعْتِيادِ سُنَّةِ صَوْمِ الاثْنَيْنِ والخَمِيسِ].

    فَصْلٌ : فِيمَنْ أَفْسَدَ صَوْمَ يَوْمٍ مِنْ رَمَضانَ بِجِماعٍ

    ومَنْ أَفْسَدَ صَوْمَ يَوْمٍ مِنْ رَمَضانَ ولا رُخْصَةَ له في فِطْرِهِ بِجِماعٍ، فَعَلَيْهِ الإثْمُ، والقَضاءُ فَوْرًا [أي بَعْدَ يَوْمِ عِيدِ الفِطْرِ]، وكَفّارةُ ظِهارٍ [وهي عِتْقُ رَقَبَةٍ، فَإنْ لم يَسْتَطِعْ فَصِيامُ شَهْرَيْنِ مُتَتابِعَيْنِ، فَإنْ لم يَسْتَطِعْ فَتَمْلِيكُ سِتِّينَ مِسْكِينًا لِكُلِّ واحِدٍ مِلْءُ الكَفَّيْنِ مِنْ غالِبِ قُوتِ البَلَدِ].

    Pasal: Orang yang Wajib Puasa dan yang Boleh Tidak Puasa

    Wajib puasa bulan Ramadan bagi setiap muslim mukalaf. Tidak sah dan tidak boleh puasa bagi wanita haid dan perempuan nifas. Wajib bagi keduanya mengqadha puasa yang ditinggalkan. Boleh tidak puasa bagi musafir dalam jarak qashar walaupun dia mampu berpuasa. Wajib baginya mengqadha. Juga bagi orang sakit, hamil dan menyusui akan tetapi ketiga orang ini boleh tidak puasa apabila tidak mampu untk puasa atau yang kedua terakhir takut pada dirinya atau pada anaknya. Boleh bagi mereka tidak puasa tapi wajib mengqadha. Wajib bagi dua orang terakhir membayar fidyah apabila tidak puasa karena mengkuatirkan anaknya saja.

    Pasal: Fardu dan Syarat Puasa

    Wajib niat puasa pada malam hari antara maghrib dan subuh untuk puasa besoknya. Dan menentukan yakni menghadirkan dalam hati untuk puasa Ramadan atau nadzar atau kafarat atau lainnya dalam niat setiap harinya. Menahan diri dari: jimak, bercumbu yaitu perbuatan yang menyebabkan keluarnya mani seperti menyentuh. Muntah yang disengaja yakni perbuatan yang sengaja dilakukan supaya muntah seperti dengan jari. Murtad yaitu keluar dari Islam dengan ucapan kufur, perbuatan kufur atau i’tikad kufur. Dari masuknya benda ke rongga kecuali ludah yang bersih dan suci dari perut yaitu tempat asalnya yang asli yakni mulutnya.

    Disyaratkan untuk sahnya puasa: tidak gila walaupun sebentar, tidak epilepsi setiap hari dari subuh sampai maghrib.

    Pasal: Waktu Haram Puasa

    Tidak sah dan tidak boleh puasa pada dua hari raya, hari tasyriq, paruh akhir bulan Sya’ban dan hari syak kecuali kalau bersambung yakni paruh akhir bulan Sya’ban dan hari syak (hari ragu) dengan hari sebelumnya atau puasa untuk qadha, nadzar atau rutin seperti kebiasaan puasa sunnah senin dan kamis.

    Pasal: Orang yang Batal Puasa Ramadan karena Jimak

    Orang yang batal puasa Ramadan karena jimak sedangkan dia tidak ada keringanan untuk tidak puasa maka dia menanggung dosa dan harus segera mengqadha yakni setelah Idul Fitri dan membayar kafarat (tebusan) berupa memerdekakan budak, apabila tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak bisa maka memberi makan 60 orang miskin setiap orang sebanyak dua telapak tangan dari makanan pokok suatu tempat. [alkhoirot.com]

    BAB HAJI DAN UMRAH

    فَصْلٌ : فِيمَن يَجِبُ عليه الحَجُّ والعُمْرَةُ

    يَجِبُ الحَجُّ والعُمْرَةُ في العُمْرِ مَرَّةً على المُسْلِمِ، الحُرِّ، المُكَلَّفِ، المُسْتَطِيعِ بِما يُوصِلُهُ ويَرُدُّهُ إلى وَطَنِهِ، فاضِلًا عن دَيْنِهِ، ومَسْكَنِهِ وكِسْوَتِهِ اللّائِقَيْنِ بِهِ، ومُؤْنَةِ مَنْ عليه مُؤْنَتُهُ مُدَّةَ ذَهابِهِ وإيابِهِ.

    فَصْلٌ : في أَرْكانِ الحَجِّ والعُمْرَةِ

    وأرْكانُ الحَجِّ: الإحْرامُ [بِأَنْ يَقُولَ بِقَلْبِهِ: “دَخَلْتُ في عَمَلِ الحَجِّ”]، والوُقُوفُ بِعَرَفَةَ، والطَّوافُ بِالبَيْتِ، والسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفا والمَرْوَةِ، والحَلْقُ أو التَّقْصِيرُ [وأَقَلُّهُ لِثَلاثِ شَعَراتٍ مِنَ الرَّأْسِ]، وهي [أي الأَرْكانُ المَذْكُورَةُ] إلّا الوُقُوفَ أرْكانُ العُمْرَةِ. ولهٰذه الأرْكانِ فُرُوضٌ وشُرُوطٌ لا بُدَّ مِنْ مُراعاتِها.

    فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ على المُحْرِمِ والمُحْرِمَةِ

    وحَرُمَ على مَنْ أَحْرَمَ: طِيبٌ [كَعِطْرٍ]، ودَهْنُ رَأْسٍ ولِحْيَةٍ [بِزَيْتٍ ونَحْوِهِ]،
    وإزالَةُ ظُفْرٍ وشَعْرٍ، وجِماعٌ ومُقَدِّماتُهُ [كَتَقْبِيلٍ بِشَهْوَةٍ]، وعَقْدُ نِكاحٍ [لَهُ ولِغَيْرِهِ، ولا يَنْعَقِدُ]، واصْطِيادُ صَيْدٍ مَأْكُولٍ بَرِّيٍّ [وَحْشِيٍّ]، و[يَحْرُمَ] على [الـ]ـرَجُلِ سَتْرُ رَأْسِهِ، و[يَحْرُمُ على الرَجُلِ] لُبْسُ مُحِيطٍ بِهِ، و[يَحْرُمُ] عليها [أي المَرْأَةِ] سَتْرُ وَجْهِها، و[يَحْرُمُ على المَرْأَةِ لُبْسُ] قُفّازٍ.

    فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ بِفِعْلِ مُحَرَّماتِ الإحْرامِ

    فَمَنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ هٰذه المُحَرَّماتِ فَعَلَيْهِ الإثْمُ، والكَفّارَةُ، [أي الفِدْيَةُ، في غَيْرِ عَقْدِ الزَّواجِ]؛ ويَزِيدُ الجِماعُ بِالإفْسادِ، ووُجُوبِ القَضاءِ فَوْرًا [أي بِلا تَأْخِيرٍ] ، وإتْمامِ الفاسِدِ.

    فَصْلٌ : في واجِباتِ الحَجِّ والعُمْرَةِ

    ويَجِبُ [في الحَجِّ والعُمْرَةِ]: أنْ يُحرِمَ مِنَ المِيقاتِ؛ و[يَجِبُ] في الحَجِّ:
    مَبِيتُ مُزْدَلِفَةَ [لَحْظَةً في النِّصْفِ الثّاني مِنْ لَيْلَةِ العِيدِ]، و[مَبِيتُ] مِنًى [أكْثَرَ مِنْ نِصْفِ كُلٍّ مِنْ لَيالي التَّشْرِيقِ] ، ورَمْيُ جَمْرَةِ العَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ [أي العِيدِ] ،
    ورَمْيُ الجِمارِ الثَّلاثِ أيّامَ التَّشْرِيقِ، وطَوافُ الوَداعِ.

    فَصْلٌ : في حُكْمِ صَيْدِ الحَرَمَيْنِ ونَباتِهِما

    ويَحْرُمُ صَيْدُ الحَرَمَيْنِ [المَكِّيِّ والمَدَنِيِّ]، و[قَطْعُ] نَباتِهِما، على مُحْرِمٍ وحَلالٍ [أي غيرِ مُحْرِمٍ]، وتَزِيدُ مَكَّةُ [المُكَرَّمَةُ] بِوُجُوبِ الفِدْيَةِ.

    Haji dan umrah seumur hidup sekali diwajibkan bagi orang muslim merdeka lagi mukallaf dengan sesuatu yang menyampaikan dan mengembalikannya menuju daerah asalnya setelah adanya kelebihan dari hutang, tempat dan pakaiannya yang layak juga menghidupi seseorang yang masih dalam tanggungannya semasa ia pergi dan sekembalinya.

    Rukun Haji ada Lima dan Rukun Umrah

    Sedangkan yang menjadikan rukun haji ialah sebagai berikut :

    1. Ihram
    2. Wukuf di Arafah.
    3. Thawaf di Baitullah.
    4. Sa’i antara Shafa dan Marwah.
    5. Mencukur dan menggunting rambut.

    Lima rukun selain wukuf adalah beberapa rukunnya umrah, dan rukun ini adalah kewajiban dan syarat yang wajib dijaga.

    Yang Haram bagi Pelaku Ihram Haji dan Umrah

    Yang diharamkan bagi orang yang berihram :

    1 . Memakai minyak wangi, minyak rambut, jenggot.
    2. Menghilangkan kuku serta rambut.
    3. Bersetubuh, dan hal-hal yang memulai persetuhuhan, melaksanakan akad nikah.
    4. Membunuh hewan darat yang dapai dimakan.
    5. Bagi lelaki diharamkan menutup kepala dan memakai pakaian berjahit, juga bagi perempuan menutup wajahnya dan memakai kaos tangan.

    Hukum Pelaku Pelanggaran Haji dan Umroh

    Siapa yang melakukan sesuatu yang telah diharamkan, maka ia berdosa baginya dan harus membayar kafarah.

    Sedangkan jima’ (bersetubuh) adalah lebih merusak dan segera wajih mengqadha’ serta menyempurnakan yang lelah rusak.

    Wajib Haji dan Umroh

    1. Kewajiban ihram ialah dari miqat.
    2. dan kewajiban haji ialah menginap di Muzdalifah dan Mina,
    3. juga melempar jumrah aqabah pada hari raya kurban,
    4. melempar jumrah tiga kali pada hari tasyriq,
    5. dan thawaf wada’.

    Hukum Berburu Binatang di Makkah dan Madinah

    Diharamkan bagi orang yang ihram dan orang yang bukan ihram membunuh binatang dan merusak tumbuhan di dua tempal tanah haram (Mekkah dan Madinah), lebih-lebih di tanah Mekkah dengan kewajiban membayar fidyah (tebusan).[alkhoirot.org]

    ***

    DALIL HAJI DAN UMROH

    DALIL HAJI

    – QS Ali Imron 3:97

    ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

    Artinya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

    – Hadits sahih riwayat Bukhori dan Muslim (muttafaq alaih)

    بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وحج البيت من استطاع إليه سبيلا

    Artinya: Islam dibangun atas lima hal: Dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, haji ke Baitullah bagi yang mampu.

    DALIL UMROH

    Surat Al-Baqarah Ayat 158

    إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

    Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah[102]. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa’i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha mengetahui.

    Ayat Quran Tentang Umrah Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 196 :

    وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban[120] yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

    Hadits tersebut adalah:

    عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

    Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).[alkhoirot.com]

    Fikih Muamalah

    فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ في المُعامَلاتِ والأَنْكِحَةِ

    يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ أنْ لا يَدْخُلَ في شَيْءٍ حَتَّى يَعْلَمَ ما أَحَلَّ اللهُ مِنْهُ وما حَرَّمَ؛ لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ تَعَبَّدَنا [أي كَلَّفَنا] بِأَشْياءَ فَلا بُدَّ مِنْ مُراعاةِ ما تَعَبَّدَنا بِهِ.

    وقَدْ أَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وحَرَّمَ الرِّبا، وقَدْ قَيَّدَ الشَّرْعُ هذا البَيْعَ، المُعَرَّفَ بِآلَةِ التَّعْريفِ، بِقُيُودٍ وشُرُوطٍ وأرْكانٍ لا بُدَّ مِنْ مُراعاتِها، فَعَلَى مَنْ أَرادَ البَيْعَ والشِّراءَ أنْ يَتَعَلَّمَ ذٰلك، وإلّا أَكَلَ الرِّبا، شاءَ أمْ أَبَى،

    وقَدْ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ: «التّاجِرُ الصَّدُوقُ يُحْشَرُ يَوْمَ القِيامَةِ مَعَ [النَّبِيِّينَ و]الصِّدِّيقِينَ والشُّهَداءِ» [رَواهُ التِّرْمِذِيُّ وصَحَّحَهُ]، وما ذاكَ إلّا لِأَجْلِ ما يَلْقاهُ مِنْ مُجاهَدَةِ نَفْسِهِ وهَواهُ وقَهْرِهِما على إجْراءِ العُقُودِ على ما أَمَرَ اللهُ [أي الطَّرِيقِ الشَّرْعِيِّ]، وإلّا فَلا يَخْفَى ما تَوَعَّدَ اللهُ [بِهِ] مَنْ تَعَدَّى الحُدُودَ؛ ثُمَّ إنَّ بَقِيَّةَ العُقُودِ، مِنَ الإجارَةِ والقِراضِ والرَّهْنِ والوَكالَةِ والوَدِيعَةِ والعارِيَّةِ والشَّرِكَةِ والمُساقاةِ وغَيْرِها، كَذٰلك لا بُدَّ مِنْ مُراعاةِ شُرُوطِها وأرْكانِها.
    وعَقْدُ النِّكاحِ يَحْتاجُ إلى مَزِيدِ احْتِياطٍ وتَثَبُّتٍ حَذَرًا مِمّا يَتَرَتَّبُ على فَقْدِ ذٰلك

    Bagi orang muslim mukallaf berkewajiban mendalami sesuatu sampai mengetahui perkara yang telah dihalalkan Allah swt. dan yang diharamkan oleh-Nya, karena sesungguhnya Allah swt. membebankan perkara-perkara yang kita wajib menjaganya. Dan sesungguhnya Allah swt. telah meng halalkan jual beli dan mengharamkan riha’. Syara’ telah memberikan ketentuan perundang-undangan, persyaratan serta beberapa rukun yang wajib memeliharanya, maka seseorang yang menghendaki akad jual beli seharusnya mengetahui ketentuan itu, jika ia tidak mengetahuinya niscaya ia akan memakan harta riba’ dengan semaunya.

    Rasulullah saw. telah bersabda : “Pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada pada hari kiamat”.(HR Tirmidzi, sahih). Tidaklah dikumpulkan melainkan karena jihad melawan hawa nafsunya dan memaksanya atas terlaksananya ketentuan yang diterapkan oleh Allah swt. jika tidak memenuhi ketentuan-Nya maka jelaslah janji Allah swt. terhadap orang yang melanggarnya. Sesungguhnya akad ijarah, qirad, gadai, wakalah, wadi’ah, ariyah, syirkah (serikat, kongsi). musaqat serta lainnya tetap menjaga syarat dan rukunnya, begitu pula akad nikah yang butuh lebih berhati-hati dan lebih terfokus karena khawatir akan tak terpenuhinya syarat dan rukun itu. [alkhoirot.org]

    Larangan dalam Jual Beli

    فَصْلٌ : في مَنْهِيّاتٍ مِنَ البُيُوعِ

    يَحْرُمُ الرِّبا فِعْلُهُ وأَكْلُهُ وأَخْذُهُ وكِتابَتُهُ وشَهادَتُهُ وحِيْلَتُهُ، وهو [أَنْواعٌ مِنها]: بَيْعُ أَحَدِ النَّقْدَيْنِ بِالآخَرِ نَسِيئَةً [أي لِأَجَلٍ]، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ بِالآخَرِ] بِغَيْرِ تَقابُضٍ [في مَجْلِسِ العَقْدِ ولَوْ بِغَيْرِ اشْتِراطِ أَجَلٍ]، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ] بِجِنْسِهِ كَذٰلك [أي نَسِيئَةً أو بِغَيْرِ تَقابُضٍ] ، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ بِجِنْسِهِ] مُتَفاضِلًا [بِالوَزْنِ]،

    و[بَيْعُ] المَطْعُوماتِ بَعْضِها بِبَعْضٍ كَذٰلك [أي نَسِيئَةً أو بِغَيْرِ تَقابُضٍ ولَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ، ومُتَفاضِلًا إنْ كانَ بِجِنْسِهِ] ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ ما لم يَقْبِضْهُ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] اللَّحْمِ بِالحَيَوانِ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعِ الفُضُوليِّ [وهو مَنْ يَبِيعُ ما لَيْسَ لَهُ عليه مِلْكٌ ولا وِلايَةٌ]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] ما لم يَرَهُ [إلّا في بَيْعِ المَوْصُوفِ في الذِّمَّةِ وفي السَّلَمِ]؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ غَيْرِ المُكَلَّفِ وعليه [أي الشِّراءُ منه والبَيْعُ له]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] ما لا مَنْفَعَةَ فيه؛ أو [ما] لا قُدْرَةَ على تَسْلِيمِهِ [أي يَحْرُمُ بَيْعُهُ]؛ أو [بَيْعٌ] بِلا صِيغَةٍ [فَيَحْرُمُ] ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ ما لا يَدْخُلُ تَحْتَ المِلْكِ كَالحُرِّ والأَرْضِ المَواتِ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ المَجْهُولِ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] النَّجِسِ، كَالكَلْبِ [والدَّمِ] وكُلِّ مُسْكِرٍ [مائِعٍ]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] مُحَرَّمٍ [أي ما يَحْرُمُ اسْتِعْمالُهُ مُطْلَقًا] كالطُّنْبُورِ [والتِّمْثالِ المُجَسَّمِ لِحَيَوانٍ، والصَّلِيبُ ولو مِنْ ذَهَبٍ ولو لِلزِّينَةِ (ويَكْفُرُ مَنْ يَبِيعُهُ لِمَنْ يَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُهُ لِلْكُفْرِ)] ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ الشَّيْءِ الحَلالِ الطّاهِرِ على مَنْ تَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُ أنْ يَعْصِيَ بِهِ [كَبَيْعِ العِنَبِ لِمَنْ تَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُهُ لِيَصْنَعَ منه خَمْرًا لِلشُّرْبِ المُحَرَّمِ] ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] الأَشْياءِ المُسْكِرَةِ [ولَوْ طاهِرَةً كَالحَشِيشَةِ] ؛ ولا يَصِحُ بَيْعُ المُكْرَهِ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ المَعِيبِ بِلا إظْهارٍ لِعَيْبِهِ؛

    ولا تَصِحُّ قِسْمَةُ تَرِكَةِ مَيِّتٍ، ولا بَيْعُ شَيْءٍ منها، ما لم تُوَفَّ دُيُونُهُ ووَصاياهُ، وتُخرَجْ أُجْرَةُ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ إنْ كانا عليه، إلّا أنْ يُباعَ شَيْءٌ [مِنَ التَّرِكَةِ] لِقَضاءِ هٰذه الأَشْياءِ، فَالتَّرِكَةُ كَمَرْهُونٍ بِذٰلك؛

    كـ[ـذٰلك يَحْرُمُ بَيْعُ] رَقِيقٍ جَنَى، ولَوْ بِأَخْذِ دانِقٍ، [و]لا يَصِحُّ بَيْعُهُ، حَتَّى يُؤَدَّى ما بِرَقَبَتِهِ، أوْ يَأْذَنَ الغَرِيمُ في بَيْعِهِ؛ ويَحْرُمُ أنْ يُفَتِّرَ رَغْبَةَ المُشْتَرِي أو البائعِ بَعْدَ اسْتِقْرارِ الثَّمَنِ لِيَبِيعَ عليه أو لِيَشْتَرِيَ منه، وبَعْدَ العَقْدِ في مُدَّةِ الخِيارِ أَشَدُّ؛

    و[يَحْرُمُ] أنْ يَشْتَرِيَ الطَّعامَ [أي القُوتَ كالقَمْحِ] وَقْتَ الغَلاءِ والحاجَةِ لِيَحْبِسَهُ ويَبِيعَهُ بِأَغْلَى؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يَزِيدَ في [ثَمَنِ] سِلْعَةٍ لِيَغُرَّ غَيْرَهُ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الجارِيَةِ ووَلَدِها قَبْلَ التَّمْيِيزِ [بِنَحْوِ بَيْعِ أَحَدِهما دُونَ الآخَرِ]؛

    و[يَحْرُمُ] أنْ يَغُشَّ [في البَيْعِ]؛ أو يَخُونَ في الكَيْلِ والوَزْنِ والذَّرْعِ والعَدِّ؛ أو يَكْذِبَ [في البَيْعِ]؛ ويَحْرُمُ أنْ يَبِيعَ القُطْنَ أو غَيْرَهُ مِنَ البَضائِعِ ويُقْرِضَ المُشْتَرِيَ مَعَهُ دَراهِمَ و[يَشتَرِطَ عليه أنْ] يَزِيدَ في ثَمَنِ تِلْكَ البِضاعَةِ لِأجْلِ القَرْضِ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُقْرِضَ الحائكَ أو غَيْرَهُ مِنَ الأُجَراءِ و[يَشْتَرِطَ عليه أنْ] يَسْتَخْدِمَهُ بِأَقَلَّ مِنْ أُجْرَةِ المِثْلِ لِأَجْلِ ذٰلك القَرْضِ، ويُسَمُّونَ ذٰلك [القَرْضَ في هٰذه المُعامَلَةِ والَّتِي قَبْلَها] الرَّبْطَةَ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُقْرِضَ الحَرّاثِينَ إلى وَقْتِ الحَصادِ [ويَشْتَرِطَ أنَّهُمْ يَنْتَظِرُونَ الحَصادَ] ثُمَّ يَبِيعُونَ عليه طَعامَهُمْ بِأَوْضَعَ مِنَ السِّعْرِ قَلِيلًا، ويُسَمُّونَ ذٰلك المَقْضِيَّ. وكَذا جُمْلَةٌ مِنْ مُعامَلاتِ أَهْلِ هٰذا الزَّمانِ – أو أَكْثَرُها – خارِجَةٌ عَنْ قانُونِ الشَّرْعِ.

    فَعَلَى مُرِيدِ رِضا رَبِّهِ [أيْ نَيْلِ ثَوابِهِ والفَوْزِ بِإِكْرامِهِ]، وسَلامَةِ دِينِهِ ودُنْياهُ، أنْ يَتَعَلَّمَ ما يَحِلُّ وما يَحْرُمُ، مِنْ عالِمٍ ،وَرِعٍ، ناصِحٍ، شَفِيقٍ على دِينِهِ؛ فَإنَّ طَلَبَ الحَلالِ فَرِيضَةٌ على كُلِّ مُسْلِمٍ.

    Haram mengerjakan riba, memakan, mengambil kemanfaatan, menulis, menyaksikan dan merekayasanya.

    Riba adalah : Menjual salah satu dari emas dan perak (barang) dengan sesuatu yang lain dengan tempo, tidak saling menyerahkan atau menjual dengan jenis yang sama, begitu juga menjual adanya kelebihan, dan menjual sebagian makanan dengan makanan lain.

    Hukumnya haram menjual barang yang belum diterimakan, menjual daging dengan hewan, menjual hutang dengan hutang, menjual barang yang bukan miliknya, sesuatu yang tidak kelihatan, menjualnya seseorang yang bukan mukallaf, sesuatu yang tidak bermanfaat, dan sesuatu yang tidak mampu diserahkan, menjual tanpa shighat (ucapan serah terima
    barang), menjual sesuatu yang tidak dibawah kepemilikan, seperti menjual orang merdeka dan menjual tanah mati (tak berfungsi), juga menjual barang yang belum diketahui, menjual barang najis seperti anjing dan setiap sesuatu yang memabukkan.

    Serta menjual barang yang diharamkan, seperti halnya biola, dan haram pula menjual barang halal dan suci kepada orang yang kamu mengetahuinya bahwa dia akan bctbuat maksiat, menjual barang-barang yang memabukkan (narkoba), menjual barang cacat yang tidak diperlihatkan sebenarnya. Juga tidak sah membagi harta tinggalannya mayit dan
    menjualnya sebelum hutangnya dilunasi, wasiatnya terpenuhi serta ongkos haji dan umrah telah dikeluarkan jika itu ada. Tidak haram menjual barang (tinggalannya mayit) kecuali untuk melunasi semuanya, karena harta tinggalannya mayit sebagaimana barang yang digadaikan untuk itu.

    Seperti halnya budak yang melukai meskipun dengan 1/6 dirham maka tidaklah sah menjualnya, sampai ongkos kebudakannya diserahkan atau orang yang menghutangi telah mengijinkan dalam menjualnya. Haram pula mengendorkan rangsangan penjual dan pembeli setelah ditetapkannya harga yang akan dijual dan dibeli, dan sangat diharamkan
    sesudah akad jadi dalam masa khiyar.

    Juga haram membeli makanan di saat sedang mahal dan sangat membutuhkan yang tujuannya adalah menimbun dan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal, menambah harga barang guna menarik konsumen lain dengan menipu. Haram juga memisahkan perempuan dan anaknya sebelum masa tamyiz (pintar), menipu menggelapkan takaran, timbangan, sehasta dan hilangan serta membohongi. Dan haram menjual kapas dan lain-lainnya dari barang dagangan serta menghutangkan kepada
    pembeli diatas satu dirham dan melebihi harga barang itu untuk dihutangkan, menghutangi tukang tenun alau lainnya dan memperkerjakannya dengan gaji yang lebih rendah di banding harga umum (UMR).

    Ulama memberi nama jual beli itu dengan sebutan jual beli yang masih basah, atau haram menghutangi petani sampai waktu panen, kemudian mereka menjualnya dengan harga rendah, dan para ulama menamainya sebagai jual beli yang disetorkan. Begitu juga beberapa muamalah jaman sekarang yang keluar dari balasan syara’ maka wajib bagi orang yang mencari ridha Allah yang Maha Suci, mencari keselamatan agama serta dunianya, agar mengetahui yang halal dan yang haram dari orang alim lagi wara’, pemberi nasehat dan belas kasihan terhadap agamanya. Karena sesungguhnya mencari kehidupan yang halal adalah merupakan kewajiban bagi orang muslim. [alkhoirot.org]

    Kewajiban Menafkahi Kerabat

    فَصْلٌ : في النَّفَقاتِ الواجِبَةِ وما يُذْكَرُ مَعَها

    يَجِبُ على المُوسِرِ نَفَقَةُ أُصُولِهِ المُعْسِرِينَ [أي الآباءِ والأُمَّهاتِ الفُقَراءِ] وإنْ قَدِرُوا على الكَسْبِ، ونَفَقَةُ فُرُوعِهِ [أي أَوْلادِهِ وأَحْفادِهِ] إذا أَعْسَرُوا وعَجَزُوا عَنِ الكَسْبِ لِصِغَرٍ أو زَمانَةٍ، ويَجِبُ على الزَّوْجِ نَفَقَةُ الزَّوْجَةِ ومَهْرُها، وعليه لَها مُتْعَةٌ [وهي مالٌ يَتَراضَيانِ عليه أو يُقَدِّرُهُ القاضِي إنْ تَنازَعا] إنْ طَلَّقَها [بِلا سَبَبٍ منها]، وعلى مالِكِ العَبِيدِ والبَهائِمِ نَفَقَتُهُمْ، وأنْ لا يُكَلِّفَهُمْ مِنَ العَمَلِ ما لا يُطِيقُونَ، ولا يَضْرِبَهُمْ بِغَيْرِ حَقٍّ؛ ويَجِبُ على الزَّوْجَةِ طاعَةُ الزَّوْجِ في نَفْسِها إلّا ما لا يحِلُّ، وأنْ لا تَصُومَ [نَفْلًا] ولا تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِهِ إلّا بِإذْنِهِ.

    Kewajiban orang tua yang kaya adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya yang miskin, meski mereka mampu bekeija, juga memberi nafkah kepada cabang-cabangnya yang lemah dan miskin dari pekeijaan, dikarenakan masih terlalu kecil atau lumpuh.

    Sedang kewajibannya suami adalah memberi nafkah istri dan memberinya mas kawin, serta memberi kesenangan jika ia menceraikannya. Bagi pemilik hamba sahaya dan hewan ternak juga berkewajiban memberikan nafkah mereka dan tidak berhak memukul mereka. Juga sang istri, dirinya wajib taat terhadap suaminya kecuali hal yang tidakdihalalkan, dan tidaklah ia berpuasa dan keluar rumah melainkan telah mendapat ijin suaminya.[alkhoirot.com]

    KEWAJIBAN HATI

    فَصْلٌ : في واجِباتِ القَلْبِ

    مِنَ الواجِباتِ القَلْبِيَّةِ: الإيمانُ بِاللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، و[الإيمانُ] بِما جاءَ عَنِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، والإيمانُ بِرَسُولِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، و[الإيمانُ] بِما جاءَ عَنْ رَسُولِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، والتَّصْدِيقُ [وهو مَعْنَى الإيمانِ] ، واليَقِينُ [وهو عَدَمُ الشَّكِّ فِيما يَجِبُ الإيمانُ بِهِ] ، والإخْلاصُ وهو العَمَلُ [بِالطّاعَةِ] للهِ وَحْدَهُ، والنَّدَمُ على المَعاصِي [لَكُوْنِها مُخالَفَةً لِأَمْرِ الخالِقِ]،

    والتَّوَكُّلُ [وهو الاعْتِمادُ] على اللهِ [في أُمُورِ الرِّزْقِ والسَّلامَةِ مِنَ الضَّرَرِ وغيرِ ذٰلك، وعَدَمُ الرُّكُونِ إلى الأَسْبابِ مَعَ الأَخْذِ بِها]، والمُراقَبَةُ للهِ [وهي أنْ يُدِيمَ اسْتِحْضارَ أنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عليه يَعْلَمُ بِهِ ويَراهُ ويَسْمَعُهُ، لِيَدُومَ خَوْفُهُ مِنْ مُخالَفَةِ أَمْرِهِ] ، والرِّضا عَنِ اللهِ [وهو التَّسْلِيمُ له تَعالَى وتَرْكُ الاعْتِراضِ عليه سُبْحانَهُ]، وحُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ [بِأَنْ يَتَذَكَّرَ ما عَوَّدَهُ عليه مِنَ الإحْسانِ فَيَرْجُوَ مِثْلَهُ في المُسْتَقْبَلِ]، و[حُسْنُ الظَّنِّ] بِخَلْقِ اللهِ [بِألّا يَظُنَّ بِهِمْ سُوءًا بِغَيْرِ قَرِينَةٍ كافِيَةٍ شَرْعًا]، وتَعْظِيمُ شَعائرِ اللهِ [أي كُلِّ ما جُعِلَ عَلَمًا على طاعَةٍ كَالصَّلاةِ، والمُرادُ تَعْظِيمُ كُلِّ ما عَظَّمَهُ الشَّرْعُ]، والشُّكْرُ على نِعَمِ اللهِ [أي عَدَمُ اسْتِعْمالِها في مَعْصِيَةٍ]، والصَّبْرُ على أداءِ ما أَوْجَبَ اللهُ، والصَّبْرُ عَمّا حَرَّمَ اللهُ [أي على البُعْدِ عَنِ الحَرامِ]، و[الصَّبْرُ] على ما ابْتَلاكَ اللهُ به [بِألّا يَدْفَعَكَ بَلاءٌ إلى مَعْصِيَةٍ]، والثِّقَةُ بِالرِّزْقِ [أي بِأنَّ ما كُتِبَ لَكَ أنْ تَنْتَفِعَ بِهِ لَنْ يَفُوتَكَ]، واتِّهامُ النَّفْسِ [فِيما تَأمُرُهُ بِهِ خَشْيَةَ أنْ تَكُونَ تُخادِعُ لِلتَّوَصُّلِ إلى مُحَرَّمٍ]، وعَدَمُ الرِّضا عنها [أي عَنِ النَّفْسِ، بِتَذَكُّرِ تَقْصِيرِها]، وبُغْضُ الشَّيْطانِ [بِالمَيْلِ إلى مُخالَفَتِهِ]، وبُغْضُ الدُّنْيا [بِعَدَمِ الالْتِفاتِ إلى ما يُلهِي منها عَنْ طاعَةِ اللهِ]،
    وبُغْضُ أَهْلِ المَعاصِي [بِالمَيْلِ عنهم، والنُّفُورِ مِنْ مَعاصِيهِمْ، ورَفْضِ الاقْتِداءِ بِهِمْ فيها]،

    ومَحبَّةُ اللهِ [تَعالَى بِتَوْطِينِ القَلْبِ على عِبادَتِهِ وَحْدَهُ واتِّباعِ أَوامِرِهِ واجْتِنابِ نَواهِيهِ]، و[مَحَبَّةُ] كَلامِهِ [تَعالَى، بِمُراعاةِ تَعْظِيمِ آياتِهِ والتَّسْلِيمِ له والعَمَلِ بِهِ]،
    و[مَحَبَّةُ] رَسُولِهِ [تَعالَى، صَلّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، بِالإيمانِ به وتَوْقِيرِهِ والمَيْلِ إلى كَمالِ اتِّباعِهِ، [ومَحَبَّةُ سائِرِ أَنْبِيائِهِ تَعالَى، بالإيمانِ بِهِم وتَعْظِيمِهِمْ]، و[مَحَبَّةُ] الصَّحابَةِ [بِاسْتِحْضارِ فَضْلِهِمْ، بِما لَهُمْ مِنْ سابِقَةٍ في الإسْلامِ، وشَرَفٍ بصُحْبَتِهِمْ لِلنَّبِيِّ، ونُصْرَتِهِمْ لَهُ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وتَبْلِيغِهِمْ لِلدِّينِ]، و[محبَّةُ] الآلِ [بِمُراعاتِهِمْ إكْرامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، فَهُمْ أَهْلُهُ وذَوُو قَرابَتِهِ]،
    و[مَحَبَّةُ المُهاجِرِينَ و]الأَنْصارِ [الَّذِينَ نَصَرُوا الدِّينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ المُكَرَّمَةِ والمَدِينَةِ المَنَوَّرَةِ، ولا سِيَّما السّابِقينَ الأَوَّلِينَ منهم]، و[مَحَبَّةُ] الصّالِحِينَ [بِتَعْظِيمِهِمْ والمَيْلِ إلَيْهِمْ وسُلُوكِ طَرِيقِهِمْ].

    UNSUR-UNSUR IMAN

    Termasuk kewajiban-kewajiban hati adalah :
    1. Iman kepada Allah .
    2. Iman kepada apa yang datang dari Allah.
    3. Iman kepada utusan Allah
    4. Iman kepada apa yang datang dari utusan Allah.
    5. Tashdiq (menerima dan tunduknya hati thd apa yang sudah diketahui dari agama secara pasti) yang bermakna iman kepada ke empat hal tsb
    6. Yakin yaitu tidak ragu terhadap apa yang wajib diimani.

    IKHLAS

    7. Ikhlash yaitu amal dalam keta’atan hanya untuk Allah saja.
    8. Menyesali kemaksiyatan karena maksiyat menyelisihi perintah sang Maha Pencipta.

    TAWAKAL

    9. Tawakkal yaitu berpegang teguh kepada Allah dalam urusan rizki, keselamatan dari bahaya dan selain hal itu, dan tidak condong kepada sebab-sebab beserta menggunakannya.

    10. Muroqobah lillah /merasa diawasi oleh Allah, yaitu melanggengkan rasa hadir bahwa sesungguhnya Allah mengawasinya, mengetahui, melihat dan mendengarnya, tujuan muroqobah adalah agar langgeng perasaan takut dari menyelisihi perintah Allah.

    11. Ridho kepada Allah, yaitu pasrah kepada Allah ta’ala dan tdk berpaling kepada Allah subhanah.

    CARA HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA)

    12. Husnudz dzon billah /berbaik sangka kepada Allah caranya dengan mengingat ingat apa yang Allah biasakan kepadanya dari kebaikan, jadi dia mengharap kebaikan yang serupa di waktu mendatang.

    13. Husnudz dzon kepada makhluk Allah, caranya dengan tdk berburuk sangka tanpa adanya indikasi yang mencukupi secara syar’i.

    14. Mengagungkan syi’ar Allah, maksud syi’ar disini adalah setiap sesuatu yang dijadikan tanda atas keta’atan misalnya sholat,dan maksudnya adalah mengagungkan setiap hal yang di agungkan oleh syare’at.

    CARA BERSYUKUR

    15. Bersyukur atas nikmat Allah, maksudnya adalah tdk mengunkana kenikmatan dalam bermaksiyat kepada Allah.

    SABAR

    16. Bersabar dalam menjalankan apa yang Allah wajibkan dan bersabar atas apa yang Allah hramkan , maksudnya adalah menjauh dari hal yang di larang.dan bersabar terhadap ujian Allah kepadamu dengan cara ujian tsb tidak mendorongmu kepada kemaksiyatan.

    17. Tsiqoh (percaya) dalam masalah rizki, yaitu percaya bahwa apa yang telah ditulis bagimu untuk kau manfa’atkan tidak akan hilang darimu.

    MENGONTROL NAFSU DAN SETAN

    18. Mencurigai nafsu terhadap apa yang diperintahkan olehnya, khawatirnya perintah tsb adalah tipuan yang bisa menyampaikan pada hal yang dilarang,
    19. Tidak ridho kepada nafsu dengan mengingat ingat kesalahannya.
    20. Membenci syetan dengan cara condong pada menyelisihinya.
    21. Membenci dunia dengan tidak melirik pada apa yang dapat melalaikan dari keta’atan kepada Allah,
    22. Membenci ahlul maksiyat dengan menjauh darinya, lari dari kemaksiyatan dan menolak ikut dengan mereka dalam kemaksiyatan.

    CARA MENCINTAI ALLAH

    23. Cinta kepada Allah ta’ala dengan cara menempatkan hati untuk beribadah kepada-Nya saja, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    24. Mencintai kalam-Nya dengan cara menjaga keagungan ayat-ayatnya, menghormatinya dan beramal dengannya.

    25. Mencintai utusan-Nya yaitu Nabi shollallohu alaihi wasallma , dengan cara beriman kepadanya, menghormatinya dan condong kepada kesempurnaan mengikutinya.

    26. Mencintai Nabi-nabi Allah lainnya, dengan cara beriman kepada mereka dan menghormati mereka.

    27. Mencintai para sahabat dengan menghadirkan keutamaan mereka sebab mereka lebih dahulu masuk islam dan kemuliaan mereka sebab bersahabat dengan Nabi, dan pertolongan mereka kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam dan sebab penyampaian mereka kepada agama.

    28. Mencintai keluarganya Nabi dengan cara menjaga mereka untuk memuliakan Nabi shollallohu alaihi wasllam, mereka adalah keluarganya Nabi dan kerabatnya.

    29. Mencintai muhajirin dan anshor yaitu orang yang menolong agama dari penduduk makkah almukarromah dan madinah al munawwawroh, apalagi yang mula-mula masuk islam diantara mereka.

    30. Mencintai orang sholeh dengan cara mengagungkan mereka , condong kepada mereka dan menapaki jalan mereka. Wallohu a’lam [alkhoirot.com]

    Nasihat dari Syaikh Abdullah bin Alawi Al-Haddad

    فَصْلٌ : في نَصِيحَةٍ نَفِيسَةٍ مِنْ عالِمٍ جَلِيلٍ

    وقالَ سَيِّدُنا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَلَوِيٍّ الحَدّادُ، رَضِيَ اللهُ عنه ونَفَعَنا بِهِ، في كِتابِهِ النَّصائحِ الدِّينِيَّةِ ما مَعْناهُ: “وهٰذه أوْصافٌ يَجِبُ أنْ يَتَحَلَّى بِها ويَتَّصِفَ بِها كُلُّ مُؤْمِنٍ”اهـ، وهي قَوْلُهُ قَبْلَ هٰذا بَقَلِيلٍ: “أنْ يَكُونَ خاشِعًا، مُتَواضِعًا، خائفًا، وَجِلًا، مُشْفِقًا، مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَعالَى، زاهِدًا في الدُّنيا، قانِعًا بِاليَسِيرِ منها، مُنْفِقًا لِلْفاضِلِ عَنْ حاجَتِهِ مِمّا في يَدِهِ، ناصِحًا لِعِبادِ اللهِ تَعالَى، مُشْفِقًا عليهم، رَحِيمًا بِهِم، آمِرًا بِالمَعْرُوفِ، ناهِيًا عَنِ المُنْكَرِ، مُسارِعًا في الخَيْراتِ، مُلازِمًا لِلْعِباداتِ، دالًّا على الخَيْرِ، داعِيًا إلى الهُدَى، ذا سَمْتٍ وتُؤَدَةٍ، ووَقارٍ وسَكِينَةٍ، حَسَنَ الأَخْلاقِ، واسِعَ الصَّدْرِ، لَيِّنَ الجانِبِ، مَخْفُوضَ الجَناحِ لِلْمُؤْمِنِينَ، لا مُتَكَبِّرًا ولا مُتَجَبِّرًا، ولا طامِعًا في النّاسِ، ولا حَرِيصًا على الدُّنْيا، ولا مُؤْثِرًا لَها على الآخِرَةِ، ولا جامِعًا لِلْمالِ، ولا مانِعًا له عَنْ حَقِّهِ، ولا فَظًّا ولا غَلِيظًا، ولا مُمارِيًا ولا مُجادِلًا ولا مُخاصِمًا، ولا قاسِيًا، ولا سَيِّئَ الأَخْلاقِ، ولا ضَيِّقَ الصَّدْرِ، ولا مُداهِنًا، ولا مُخادِعًا، ولا غاشًّا، ولا مُقَدِّمًا لِلْأَغْنِياءِ على الفُقَراءِ، ولا مُتَرَدِّدًا على السَّلاطِينِ، ولا ساكِتًا عَنِ الإنْكارِ عليهم مَعَ القُدْرَةِ، ولا مُحِبًّا لِلْجاهِ والمالِ والوِلاياتِ، بَلْ يَكُونُ كارِهًا لِذٰلك كُلِّهِ، لا يَدْخُلُ في شَيْءٍ منه، ولا يُلابِسُهُ، إلَّا مِنْ حاجَةٍ أو ضَرُورَةٍ” انْتَهَى كَلامُهُ رَضِيَ اللهُ عنه ونَفَعَنا بِهِ.

    Junjungan kami Abdullah bin Alawi Al-Hadad ra, berpendapat dalam kitabnya yang bctjudul “Nashaaihud Diniyyah ”, bahwa semua itu adalah beberapa sifat yang wajib menghiasi setiap mukmin. Inilah sedikit pendapat darinya agar orang mukmin sebagai orang yang khusyu’ dan tawadu’ (rendah hati), takut dan merasa khawatir karena Allah swl, berzuhud di dunia, qana’ah dengan hal yang sedikit, dan berinfaq dengan kelebihan hartanya, memberi nasehat kepada hamba Allah swt. dengan belas kasih kepada mereka, memerintahkan dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

    Konsisten terhadap beberapa ibadah yang memberi petunjuk pada kebaikan serta mengajak kepada petunjuk yang bersifat diam, santai, belas kasih, dan bersifat tenang yang baik budi, bijaksana, merendah kepada orang mukmin, tidak sombong, tidak bertindak lalim, tidak loba terhadap manusia, tidak berambisi terhadap dunia, dan tidak mendahulukan urusan dunia, mengakhirkan urusan akhirat, tidak suka
    mengumpulkan harta, juga tidak menolak haknya harta, tidak kurang ajar, sombong kepada orang mukmin, dan tidak bicara kasar, tidak suka membantah, bercekcok, membantah kebenaran, dan tidak berhati keras, tidak buruk budi, tidak berpandangan sempit, tidak menjilat (mengambil muka), menipu memalsukan dan tidak mendahulukan orang kaya dari orang fakir, tidak terus-menerus mendatangi para Raja, tidak diam karena tidak setuju, kepada mereka padahal ia mampu, juga tidak suka kemegahan, harta, kekuasaan, akan tetapi bagi orang mukmin adalah membencinya, tidaklah ia menyandangnya melainkan adanya hajat atau karena darurat. Selesai sudah pendapat Sayid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ra. [alkhoirot.org]

    Bab tentang Maksiat

    بابُ بَيانِ المَعاصِي

    [تَنْبِيهاتٌ]

    [(1) يُرادُ مِنْ إضافَةِ المَعاصِي إلى جَوارِحِ البَدَنِ وأَعْضائِهِ، كَاليَدِ والبَطْنِ، في هٰذا البابِ، مُجَرَّدُ التَّقْسِيمِ لِتَسْهِيلِ التَّعْلِيمِ، وإلّا فَيَكْفِي أنْ يَعْرِفَ المُسْلِمُ تَحْرِيمَ هٰذه الأُمُورِ لِيَجْتَنِبَها، ويَخافَ منها، ولو لم يَعْرِفْ ما تُضافُ إليه مِنَ الجَوارِحِ والأَعْضاءِ.

    (2) تَكُونُ الإضافَةُ في اللُّغَةِ لِأَدْنَى مُلابَسَةٍ أو عَلاقَةٍ، ولِذٰلك فَما يَذْكُرُهُ هٰذا البابُ مِنْ إضافَةِ المَعاصِي إلى بَعْضِ الجَوارِحِ قَدْ يَكُونُ سَبَبُهُ حَقِيقِيًّا جَلِيًّا، كَإضافَةِ مَعْصِيَةِ نَظَرِ العَوْراتِ إلى العَيْنِ، وقَدْ يَكُونُ مَجازِيًّا خَفِيًّا، كَإضافَةِ مَعْصِيَةِ أَخْذِ الرِّبا والانْتِفاعِ بِهِ إلى البَطْنِ.

    (3) المَعْصِيَةُ قَدْ تَكُونُ كُفْرًا مُخْرِجًا مِنَ الإسْلامِ، وقَدْ تَكُونُ دُونَ ذٰلك، والمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعالَى بَيَّنَ المَعاصِي المُخْرِجَةَ مِنَ الإسْلامِ مِنْ أَقْوالٍ وأَفْعالٍ واعْتِقاداتٍ في أَوَّلِ هٰذا الكِتابِ، لٰكِنَّهُ يَذْكُرُ أَيْضًا هُنا في تَقْسِيمِهِ المَعاصِي على الجَوارِحِ ما هُوَ كُفْرٌ منها مَعَ ما هو دُونَهُ، دُونَ أنْ يَلْتَزِمَ فَرْزَ الكُفْرِ عَمّا دُونَهُ، ولِذٰلك نَبَّهْتُ بَيْنَ مَعْقُوفَيْنِ على ما كانَ كُفْرًا منها؛ ومِنَ المَعْلُومِ أنَّ أَكْبَرَ الكَبائرِ وأَعْظَمَ المَعاصِي وأَشْنَعَ الذُّنُوبِ وأفْظَعَ الجَرائِمِ، شَرْعًا على الحَقِيقَةِ والإطْلاقِ، كُلُّ ما كانَ كُفْرًا، لأنَّهُ يُخْرِجُ مِنْ دِينِ الإسْلامِ.

    (4) المَعْصِيَةُ قَدْ تَكُونُ كَبِيرَةً، وقَدْ تَكُونُ صَغِيرَةً، والمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعالَى لم يَلْتَزِمْ تَمْيِيزَ الكَبائرِ مِنَ الصَّغائِرِ، واكْتفَى بِسَرْدِها بِلا فَرْزٍ، لِأَنَّ كُلًّا منها يَجِبُ اجْتِنابُهُ دائمًا والابْتِعادُ عنه مُطْلَقًا، ولِأَنَّ العاقِلَ مَتَى اسْتَحْضَرَ أنَّ المَعْصِيَةَ هِيَ مُخالَفَةٌ لِنَهْيِ الخالِقِ العَظِيمِ رَآها كَبِيرَةً، وإنْ كانَتْ صَغِيرَةً بِاعْتِبارِ عَدَمِ فُسُوقِ مُرْتَكِبِها، وغَيْرِ ذلِكَ مِنَ الاعْتِباراتِ.]

    1. Yang dimaksud dengan pembagian maksiat anggota badan seperti tangan dan perut di bab ini hanyalah untuk mempermudah pengajaran. Sebenarnya cukup bagi muslim mengetahui haramnya perkara-perkara ini agar dijauhi dan ditakuti walaupun dia tidak mengetahui apa itu dosa anggota badan.

    2. Menyandarkan maksiat pada sebagian anggota badan terkadang sebabnya bersifat hakiki dan jelas. Seperti menyandarkan maksiat melihat aurat ke mata. Terkadang bersifat majazi yang samar seperti menyandarkan maksiat mengambil dan memanfaatkan harta riba pada perut.

    3. Maksiat terkadang menyebabkan kufur dan mengeluarkan dari Islam. Terkadang tidak sampai tingkat itu. Pengarang menjelaskan maksiat yang mengeluarkan dari Islam berupa perkataan, perbuatan, dan aqidah (keyakinan) di awal kitab ini. Namun ia juga menyebutkan di sini pembagian maksiat pada beberapa anggota badan ada yang kufur ada yang tidak. Seperti diketahui, dosa terbesar dan maksiat tertinggi secara syariah adalah segala dosa yang kufur karena ia mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

    4. Maksiat itu terkadang besar, terkadang kecil. Pengarang tidak menetapkan perbedaan antara dosa besar dan kecil. Karena kedua jenis dosa itu wajib dijauhi selamanya secara mutlak. Juga, karena manusia berakal sehat apabila mengetahui bahwa maksiat itu berlawanan dengan larangan Allah, maka ia menganggapnya sebagai dosa besar walaupun ia dosa kecil dari segi tidak fasiknya pelakunya. [alkhoirot.com]

    Pasal: Cara Taubat

    فَصْلٌ : في التَّوْبَةِ

    تَجِبُ التَّوْبَةُ مِنَ الذُّنُوبِ [صَغِيرِها وكَبِيرِها] فَوْرًا على كُلِّ مُكَلَّفٍ، وهي: [1] النَّدَمُ، [2] والإقْلاعُ، [3] والعَزْمُ على أنْ لا يَعُودَ إلَيْها، و[لا يُشْتَرَطُ] الاسْتِغْفارُ [بِاللِّسانِ] ، وإنْ كانَ الذَّنْبُ تَرْكَ فَرْضٍ قَضاهُ، أو تَبِعَةً لِآدَمِيٍّ قَضاهُ أو اسْتَرْضاهُ.

    Kewajiban bagi setiap orang mukalaf (muslim yang baligh) untuk segera bertaubat dari segala dosa kecil dan besar yaitu (dengan cara): menyesal, meninggalkan dosa, dan berniat untuk tidak mengulanginya. Tidak disyaratkan istighfar atau memohon ampun secara lisan. Apabila dosa itu berupa meninggalkan kewajiban maka harus diqadha (dilunasi) atau dosa hak sesama manusia maka ia harus melunasi atau meminta kerelaannya.

    Penutup

    خاتِمَةٌ

    انْتَهَى ما قَدَّرَ اللهُ جَمْعَه، وأَرْجُو منه سُبْحانَهُ أنْ يُعِمَّ نَفْعَه، ويُكثِرَ في القُلُوبِ وَقْعَه، وأَطْلُبُ مِمَّنِ اطَّلعَ عليه مِنْ أُولِي المَعْرِفَةِ ورَأَى فيه خَطَأً أو زَلَلاً أنْ يُنَبِّهَ على ذٰلك، بِالرَّدِّ الصَّرِيحِ، لِيَحْذَرَ النّاسُ مِنَ اتِّباعِي على غَيْرِ الصَّوابِ، فَالحَقُّ أَحَقُّ أنْ يُتَّبَعَ، والإنْسانُ مَحَلُّ الخَطَأِ والنِّسْيانِ.

    ﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾، اللّٰهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِنا، ورَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدَنا مِنْ أَعْمالِنا، ﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ – آمِينَ.

    Usai sudah apa yang telah ditakdirkan Allah terhimpun dan aku berharap dariNya Yang Maha Suci agar memberikannya manfaat secara merata dan memperbanyak kedudukannya dalam hati juga aku berharap ada seseorang yang rela menelaahnya dari kalangan cendekiawan dan apabila ternyata melihat kesalahan atau kekeliruan yang ada di dalamnya agar mengingatkan hal itu dengan pembenaran yang jelas, supaya orang lebih berhati-hati mengikuti perkataanku pada hal yang tidak benar karena kebenaran itu lebih berhak diikuti.

    Sedangkan manusia adalah tempat kesalahan dan lupa. Wahai Allah swt ampunilah kami dan saudara kami yaitu orang-orang yang telah mendahului kami dengan membawa iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami sebagai kebencian terhadap orang-orang yang beriman.

    Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Allah swt ampunanMu yang paling luas dibanding dosa-dosa kami dan RahmatMu lah yang aku harapkan di sisi kami. Maha Suci Tuhanmu Ya Nabi Muhammad yang menguasai kemuliaan jauh dari orang banyak, juga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam.[alkhoirot.org]

    Biografi Pengarang Kitab Sullam Taufiq

    ترجمة المؤلف عبدالله بن حسين بن طاهر باعلوي

    عبدالله بن حسين بن طاهر باعلوي. (H 1191 – 1272 /M 1777 – 1855 )
    ولد في مدينة تريم (حضر موت – اليمن) وتوفي في مسيلة آل شيخ (تريم – حضرموت).
    عاش في اليمن، والحجاز.

    تلقى معارفه في معاهد العلم والثقافة بمدينة تريم فأحرز بعض العلوم على يد علمائها ومشايخها، وتزود من العلوم العربية والفقهية أثناء مكوثه بالحجاز الذي امتد عدة أعوام، حتى أصبح شخصية علمية في زمانه، وكان لأخيه طاهر أثر كبير في تربيته وتأديبه واطلاعه على الكثير من العلوم.

    عمل معلمًا ومرشدًا دينيًا وواعظًا فاجتمع له العديد من الطلاب والمريدين من شتى البقاع في مدينة حضرموت وغيرها.

    كان في طليعة الزعماء ممن مهدوا للثورة الوطنية على مروجي الفوضى والفساد في مدينة حضرموت، وكان من المبادرين إلى حمل السلاح والدعوة إلى مبايعة أخيه طاهر على خلافة حضرموت.

    Ia bernama Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi. Ia lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 1777 M bertepatan dengan 1191 Hijriah dan wafat pada 1855 Masehi atau 1272 Hijriah. Ia hidup di Yaman dan Hijaz.

    Ia belajar di sejumlah mahad ilmu di kota Tarim di bawah para ulama dan masyayikh di sana. Ia menambah keilmuannya di Hijaz selama beberapa tahun sampai menjadi ulama di zamannya. Saudaranya, Tohir, mempunyai pengaruh besar dalam mendidik berbagai macam ilmu.

    Ia menjadi seorang pengajar, mursyid dan pendakwah sehingga memiliki banyak pelajar dan murid (tarekat) dari berbagai kawasan Hadramaut dan lainnya.

    Syarah Sullamut Taufiq

    شرح سلم التوفيق

    مرقاة صعود التصديق في شرح (سلم التوفيق لمحمد بن عمر نووي الجاوي البنتني
    شرح كتاب سلّم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق للشيخ عبد الله باعلوي لعبد الله الهرري

    Ada dua kitab syarah sullamut taufiq yaitu:
    – Mirqat Shu’ud Al-Tashdiq fi Syarhi Sullamit Taufiq karya Muhammad bin Umar Nawawi Al-Jawi Al-Bantani

    – Syarah Kitab Sullamit Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq karya Abdullah Al-Harari.

  • Peringati Maulid Nabi, Bupati Ikfina Ajak Santri di Mojokerto Jadi Generasi yang Beriman dan Berilmu

    Peringati Maulid Nabi, Bupati Ikfina Ajak Santri di Mojokerto Jadi Generasi yang Beriman dan Berilmu

    BERITA VIDEO

    Mojokerto – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati, mengajak para santri di wilayah Mojokerto untuk menjadi generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga berilmu. Kegiatan peringatan Maulid Nabi yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh ratusan santri dari berbagai pondok pesantren di Mojokerto.

    Dalam sambutannya, Bupati Ikfina menekankan pentingnya meneladani akhlak dan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyoroti peran santri sebagai ujung tombak generasi muda yang berpotensi besar dalam membangun bangsa dan negara.

    “Santri tidak hanya harus kuat dalam iman, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan. Dua hal ini harus seimbang, karena dengan iman yang kuat dan ilmu yang luas, kita bisa membangun masyarakat yang lebih baik dan sejahtera,” ujar Bupati Ikfina dalam sambutannya.

    Bupati juga mengajak seluruh santri untuk terus meningkatkan semangat belajar, baik dalam ilmu agama maupun ilmu umum. Dengan begitu, para santri dapat menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia dan memiliki wawasan luas.

    Selain itu, Bupati Ikfina juga menyampaikan pesan penting terkait perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat. Ia mengingatkan para santri agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan moralitas, meski berada di era modern yang penuh tantangan.

    “Teknologi adalah sarana, bukan tujuan. Jadikan teknologi sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan dan memperdalam ilmu. Jangan sampai kita terbawa arus negatif yang bisa merusak moral dan kepribadian,” tambahnya.

    Acara peringatan Maulid Nabi ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pembacaan shalawat, tausiyah dari ulama setempat, serta pemberian penghargaan kepada santri berprestasi. Peringatan ini menjadi momen penting bagi para santri dan masyarakat Mojokerto untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan meneladani nilai-nilai mulia yang diajarkan Rasulullah SAW.

    Dengan pesan yang disampaikan Bupati Ikfina, diharapkan para santri di Mojokerto dapat terus berkembang menjadi generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

    https://www.tiktok.com/@beritasorban/video/7415426948412853512?is_from_webapp=1&sender_device=pc&web_id=7367711534430750215

  • Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    wp.sorbansantri.com – Dalam membaca Al-Quran, penting untuk melafalkan setiap huruf Arab dengan benar. Salah satu ilmu yang membantu dalam hal ini adalah ilmu tajwid. Dalam bahasa Arab, tajwid berasal dari kata “jawwada, yujawwidu, tajwiidin” yang secara harfiah memiliki makna sesuatu yang elok, indah, atau membaguskan.

    Para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, sementara mengamalkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap Muslim yang telah dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

    Tajwid terdiri dari berbagai hukum bacaan, antara lain:

    1. Hukum Bacaan Sukun dan Tanwin:
    • Idzhar: terdiri dari 6 huruf yaitu ا, ع, غ, ح, خ, ه. Contoh:
      • Nun mati bertemu huruf ه: “فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ”
      • Nun mati bertemu huruf ع: “بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ”
      • Nun mati bertemu huruf غ: “مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ”
      • Tanwin bertemu huruf ح: “أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”
      • Tanwin bertemu huruf خ: “كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ”
    • Iq’lab: apabila nun mati atau tanwin bertemu huruf ب (BA’), maka bunyi nun atau tanwin berubah menjadi bunyi م (MIM).
    • Ikhfa Haqiqi: berlaku apabila huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك dan dibaca dengan samar.
    • Idgham Bighunnah: terdiri dari huruf ي, ن, م, و dan dibaca dengan mendengung.
    • Idgham Billagunnah: terdiri dari huruf ل, ر dan dibaca tanpa mendengung.
    1. Hukum Bacaan Mim Sukun:
    • Ikhfa Syafawi: terdiri dari huruf ب (BA’), dibaca dengan samar dan mendengung.
    • Idgham Mimi: terdiri dari huruf م (MIM), dibaca dengan melebur menjadi satu.
    • Idzhar Syafawi: terdiri dari huruf-huruf selain ب dan م, dibaca dengan jelas.
    1. Hukum Bacaan Mim Tasydid dan Nun Tasydid:
    • Mim tasydid dan nun tasydid dibaca dengan dengungan.
    1. Hukum Bacaan Lam Ta’rif:
    • Idzhar Qomariyah: terdiri dari huruf ء, ب, ج, ح, خ, ع, غ, ف, ق, ك, م, و, ه, ي dan dibaca dengan jelas.
    • Idgham Syamsiyah: terdiri dari huruf ت, ث, د, ذ, ر, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ل, ن dan dibaca seperti di-tasydid-kan atau dimasukkan ke huruf berikutnya.
    1. Hukum Qalqalah:
    • Terdiri dari huruf ب, ج, د, ط. Qalqalah dibagi menjadi dua, yaitu Qalqalah Sugra (di pertengahan kalimat) dan Qalqalah Kubra (di akhir kalimat).

    Menguasai tajwid adalah kunci untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu ini, setiap Muslim dapat memperindah bacaan Al-Quran mereka dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. (AI Sorban)

  • Buya Yahya Menerangkan Hukum Membuka Aib Suami di Pengadilan

    Buya Yahya Menerangkan Hukum Membuka Aib Suami di Pengadilan

    wp.sorbansantri.com – Dalam konteks hukum Islam, membuka aib suami kepada orang lain dianggap sebagai tindakan yang tidak diperbolehkan. Namun, bagaimana jika hal tersebut terkait dengan proses perceraian? Buya Yahya memberikan penjelasan terkait hal ini, yang diambil dari laman resmi YouTube Al-Bahjah TV.

    Menurut Buya Yahya, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sebab dari perceraian tersebut. Jika perceraian berkaitan dengan syariat yang mengharuskan pembukaan aib, sebaiknya hal tersebut ditangani dengan bijak.

    “Memang kalau kaum wanita susah, karena pria bisa saja langsung menjatuhkan cerai, sementara wanita harus membicarakannya. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa apa yang diungkapkan harus benar adanya dan hanya sebatas yang diperlukan untuk mencapai tujuan perceraian,” papar Buya Yahya.

    Buya Yahya menegaskan bahwa jika ada hal yang memang perlu disampaikan, maka hal tersebut harus disampaikan. Namun, ia juga mengingatkan untuk menghindari tuduhan perzinahan terhadap suami atau istri.

    “Tapi perlu diingat, mengatakan suami atau istri berzina sebaiknya dihindari. Gunakan kata-kata lain seperti ‘suami saya jarang menemui saya’ atau ‘saya jarang diajak berbicara’, dan lain sebagainya,” tambahnya.

    Buya Yahya juga memberikan contoh jika suami memang pezinah, istri tidak harus secara terang-terangan menyebutkan hal tersebut di pengadilan. “Gunakan alasan lain seperti ‘suami saya tidak berhubungan baik dengan saya dan sering menyakiti saya’,” jelas Buya Yahya.

    Ia menekankan bahwa tidak semua hal harus diungkapkan secara detail, terutama terkait dengan tuduhan perzinahan. “Sebaiknya panggil suami atau istri ke pengadilan terlebih dahulu sebelum mengungkapkan hal-hal yang sensitif seperti itu,” lanjutnya.

    Buya Yahya menyimpulkan bahwa membongkar aib terutama terkait dengan perzinahan adalah tindakan yang tidak baik dan sebaiknya dihindari dalam proses perceraian. (AI Sorban)

  • KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    Malaikat Jibril AS:

    ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”.

    @beritasorban

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI Malaikat Jibril AS: ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”. Baca selengkapnya https://wp.sorbansantri.com/kisah-dahsyatnya-sholawat-nabi/ sorbansantri beritasorban sholawat #hikmah

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri

    Malaikat Mikail AS:

    ”Ya Rasulullah, mereka yang bersholawat keatasmu, akan aku beri mereka itu minuman dari telagamu”

    Malaikat Isrofil AS:

    ”Mereka yang bershalawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku, sehingga Allah SWT mengampuni orang itu (yang bershalawat)”.

    Malaikat Izrail AS:

    ”Bagi mereka yang bershalawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh pada Nabi-nabi”.

    Allahumma Sholli ”Alla Sayyidina Muhammad Wa’Alaa Ali Sayyidina Muhammad.

    Kutipan dari kitab: Kifayatul Atqiya.

    Laman: 1 2 3

  • Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    wp.sorbansantri.com – Sebuah peristiwa menarik terjadi ketika seorang Habib Sepuh dari Kota Pasuruan, Fam Assegaf, bertanya kepada Habib Luthfi tentang Alawiyyin. Dalam pertemuan itu, Habib Luthfi menceritakan mimpi yang menjadi saksi atas peran pentingnya dalam dunia spiritual.

    Dalam mimpi tersebut, beliau disuruh bertabaruk kepadanya oleh Baginda Rasulullah, sebagai pimpinan Sadati ‘Alawiyyin di zaman ini. Habib Luthfi menjelaskan bahwa setahun yang lalu, ia mendapat amanat langsung dari beberapa guru Thoriqoh terkemuka, termasuk Syekh Ahmad At-Tijani yang memegang posisi paling depan di antara mereka. Amanat tersebut menguatkan perannya sebagai pemimpin dalam dunia Thoriqoh.

    Habib Luthfi menyampaikan pesan ini dengan keyakinan, bahwa apa yang disaksikan dalam mimpi dan amanat yang diterimanya merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang penting bagi umat Islam, terutama yang terkait dengan Thoriqoh dan Alawiyyan.

    Habib Sepuh dan Syekh Ahmad At-Tijani: Habib Sepuh adalah sebutan untuk seorang Habib yang telah lama berada dalam lingkaran keilmuan Islam, sering kali disebut sebagai sesepuh atau senior di kalangan Habaib. Sementara itu, Syekh Ahmad At-Tijani adalah seorang sufi terkemuka yang mendirikan Thoriqoh Tijaniyyah, sebuah aliran sufi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam.

    Thoriqoh dan Alawiyyin: Thoriqoh adalah salah satu aliran dalam tasawuf yang mengajarkan metode dan praktik-praktik spiritual untuk mencapai kesadaran diri dan dekat dengan Allah. Alawiyyin merujuk kepada keluarga atau keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dalam konteks spiritual, memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam.

    (AI Sorban)

  • Bahtsul Masail Tentang Nasab Habib Ba’alwi

    Bahtsul Masail Tentang Nasab Habib Ba’alwi

    Deskripsi Masalah

    Hampir dua tahun ini, media sosial diramaikan oleh diskursus tentang nasab para habib di Indonesia yang berasal dari Klan Ba’alwi. Diskursus itu dipicu oleh sebuah “tesis” seorang ulama asal Banten yang bernama K.H. Imaduddin Utsman al Bantani yang menyatakan bahwa nasab mereka kepada Nabi Muhammad SAW terbukti sebagai nasab yang “batilun”, “maudu’un” munqati’un” (batal, palsu dan terputus). Majalah berita mingguan TEMPO, dalam edisi liputan khusus ‘;Idul Fitri 1445 H, mengangkat isu ini dalam salah satu judul bagian kontroversi “Penelitian Imaduddin Utsman mengungkap dugaan terputusnya nasab habib di Indonesia”.

    Klan Ba’alwi sendiri berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Sebagian dari mereka bermigrasi secara masiv ke Indonesia pada sekitar tahun 1880 sampai tahun 1943 M (Jajat Burhanuddin, 2022). Dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan keagamaan, mereka mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dengan sebutan “habib”. Dalam literature kitab-kitab karya ulama mereka, hubungan kekerabatan nasab mereka dengan Nabi Muhammad SAW itu diperoleh melalui jalur Ahmad bin ‘Isa (w. 345 H. ?) bin Muhammad al-Naqib bin ‘Ali al-‘Uraidi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhmmad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain bin Fatimah binti Nabi Muhammad SAW. Ahmad bin Isa sendiri telah terkonfirmasi dalam kitab-kitab nasab mu’tabar sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

    Untuk klaimnya tersebut, setelah 550 tahun wafatnya Ahmad bin Isa, mereka menulis banyak kitab-kitab mulai dari abad sembilan sampai abad kelimabelas Hijriah tentang historiografi sejarah ketokohan dan nasab leluhur mereka. Ulama klan Ba’alwi yang pertama menulis historiografi tersebut adalah Ali bin Abubakar al Sakran (w.895 H.) dalam kitabnya yang berjudul “Al Burqat al Musyiqat”, dilanjutkan oleh Abubakar bin Abdullah al Idrus (w.914 H.) dalam kitabnya “Al Juz’ al Latif” dan Muhammad Ali Khirid Ba’alwi (w.960 H.) dalam kitabnya “Al Gurar”. Dalam kitab-kitab (sumber internal) tersebut mereka menyatakan bahwa Ahmad bin Isa “hijrah” (pindah) dari Bashrah ke Hadramaut tahun 317 H, sehingga ia dikenal dengan gelar “al-muhajir” (orang yang berpindah). Ahmad bin Isa, menurut mereka, adalah seorang “imam” yang wafat dan dimakamkan di Hadramaut. Mereka juga menyatakan bahwa leluhur mereka yang bernama ‘Ubaidillah (w. 383 H.) adalah seorang “imam” dan ulama yang merupakan salah satu dari anak Ahmad bin Isa.

    Adapun silsilah lengkap nasab Ali bin Abubakar al Sakran sampai Ahmad bin Isa, sebagaimana yang ditulis oleh yang bersangkutan dalam “Al Burqat” adalah: Ali (w. 895 H.) bin Abubakar al Sakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi Al Gayyur bin Muhammad (Faqih Muqoddam) bin Ali bin Muhammad (Sahib Mirbat) bin Ali Khaliqosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah (w. 383 H.) “bin” Ahmad bin Isa (w. 345 H.) (Al Burqat h. 148-149).

    Menurut Kiai Imad, klaim-klaim yang dinyatakan ulama ulama Ba’alwi itu tidak berdasar referensi apapun. Ahmad bin Isa tidak terkonfirmasi dalam kitab- kitab abad empat sampai kedelapan Hijriah berhijrah ke Hadramaut; begitupula ia tidak terkonfirmasi dalam kitab-kitab abad keempat sampai delapan Hijriah bergelar “al Muhajir” dan wafat serta dimakamkan di Hadramaut; seperti juga ia tidak terkonfirmasi kitab abad keempat sampai delapan Hijriah ia mempunyai anak bernama Ubaidillah.

    Menurut Kiai Imad, pengakuan itu baru muncul pada abad kesembilan Hijriah diplopori oleh Ali bin Abubakar al Sakran yang wafat tahun 895 H. Menurut Kiai Imad, pengakuan keluarga Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW itu tertolak karena pengakuan itu tidak terkonfirmasi sumber-sumber sejarah sebelumnya.

    Diskursus itu semakin meluas ketika seorang ahli biologi yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional yang bernama DR. Sugeng Pondang Sugiharto menyatakan bahwa dari 180 orang klan Ba’alwi yang telah melakukan uji tes DNA, hasil mereka menunjukan bahwa mereka tidak terkonfirmasi secara genetic sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Menurut DR Sugeng, jangankan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, klan Ba’alwi ini tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Arab garis Nabi Ibrahim AS.

    PERTANYAAN:

    1. Adakah kitab abad keempat sampai delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut?

    2. Adakah kitab abad keempat sampai abad ke delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa bergelar Al Muhajir?

    3. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut?

    4. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ubaidillah adalah salah satu anak dari Ahmad bin Isa?

    5. Benarkah hasil tes DNA Klan Ba’alwi (habib) terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW?

    6. Apa hukum penggunaan tes DNA dalam memvalidasi nasab menurut hukum Islam?

    Draft Jawaban Bahtsul Masa’il Tentang Nasab Ba’alwi

    1. Adakah kitab abad keempat sampai delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut?

    Tidak ada kitab-kitab nasab dan sejarah yang sezaman atau yang paling dekat masanya dengan Ahmad bin ‘Isa sampai abad ke delapan Hijriah yang mengkonfirmasi bahwa Ahmad bin ‘Isa pernah ke Hadramaut, apalagi hijrah untuk menetap di sana. ‘Ali bin Abu Bakar al-Sakran (w.895 H.), adalah ulama dari klan Ba’alwi yang pertama secara formal menulis bahwa Ahmad bin ‘Isa hijrah dari Basrah ke Hadramaut (Al Burqat h. 131) tanpa referensi.

    Ahmad bin Isa tereportase berada di Madinah tahun 234 H di sebuah kampung bernama “Surya” oleh seorang ulama bernama Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan al-Tusi (w. 460 H.) dalam kitabnya “Al-Gaybah”.

    165عنه عن احمد بن عيسى العلوي من ولد علي بن جعفر قال: دخلت على ابي الحسن عليه السلام بصريا فسلمنا عليه فإذا نحن بأبي جعفر وابي محمد قد دخلا فقمنا الى ابي جعفر لنسلم عليه فقال ابو الحسن عليه السلام ليس هذا صاحبكم عليكم بصاحبكم واشار الى ابي محمد عليه السلام

    Terjemah:

    “165-Diriwayatkan darinya (Sa’ad bin Abdullah), dari Ahmad bin ‘Isa al-Alwi, dari keturunan ‘Ali bin Ja’far, ia berkata: ‘Aku menemui ‘Ali Abul Hasan, alaihissalam, di Surya, maka kami mengucapkan salam kepadanya, kemudian kami bertemu Abi Ja’far dan Abi Muhammad, keduanya telah masuk, maka kami berdiri untuk Abi Ja’far untuk mengucapkan salam kepadanya, kemudian Abul Hasan, alalihislam, berkata: ‘Bukan dia sohibmu (pemimpinmu), perhatikanlah pemimpinmu, dan ia mengisaratkan kepada Abi Muhammad, alaihissalam”.

    Dari riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal: pertama bahwa Ahmad bin ‘Isa adalah seorang “syi’iy imamiy” (orang Syi’ah Imamiyah). Sulit sekali untuk dimengerti dan diterima logika, seorang Syi’ah Imamiyah seperti Ahmad bin ‘Isa, kemudian ia hijrah ke Hadramaut yang ketika itu dikuasai oleh kaum Ibadiyah yang anti terhadap Syi’ah. ; kedua, Ahmad bin ‘Isa berada di Kota Madinah pada tahun 234 H sekitar umur 20 tahun. Dari situ, historiografi ulama Ba’alwi menghadapi kontradiksi dilihat dari urutan tahun yang mereka ciptakan. Misalnya, Ba’alwi mencatat, bahwa tahun hijrah Ahmad bin ‘Isa ke Hadramaut adalah tahun 317 Hijriah (Al Gurar h. 96), dan tahun wafatnya adalah tahun 345 Hijriah (Al Masyra’ al Rawi Juz 1 h. 249). Jika Ahmad bin ‘Isa, pada tahun 234 H. berumur 20 tahun, maka berarti ketika hijrah itu ia telah berumur 103 tahun, dan ketika wafat ia telah berumur 131 tahun. Sangat janggal, ada seseorang yang sudah tua renta yang berumur 103 tahun berpindah dari Basrah ke Hadramaut dengan jarak lebih dari 2000 km. seperti juga sangat kecil kemungkinan ada orang yang bisa mencapai usia 131 tahun.

    Kesimpulan: Tidak ada kitab-kitab abad keempat sampai kedelapan yang menyatakan Ahmad bin Isa pindah ke Hadramaut.

    Kronologi narasi Ba’alwi bahwa Ahmad bin Isa hijrah dari Basrah ke Yaman:

    1) Mengira bahwa Ahmad bin Isa bin Muhammad al Naqib ada di Basrah. Padahal yang di Basrah itu adalah Ahmad bin Isa bin Zaid bukan Ahmad bin Isa bin Muhammad al Naqib.

    2) Mendompleng sejarah Bani Ahdal yang disebut Al Janadi (w. 732 H.) dalam kitab Al Suluk bahwa leluhurnya yang bernama Muhammad bin Sulaiman berhijrah dari Irak ke Yaman (Al Suluk juz 2 h. 360). lalu Ba’alwi menyatakan bahwa leluhur mereka Ahmad bin Isa ikut berhijrah ke Yaman bersama Muhammad bin Sulaiman itu.

    3) Dalam kitab keluarga Ba’alwi Al Gurar (h. 98) karya Muhammad Ali Khirid (w. 960 H.) dan kitab keluarga Al Ahdal yaitu Tuhfat al Zaman (juz 2 h. 238) karya Husain Al Ahdal (w.855 H.) disebut antara Muhammad bin Sulaiman dan Ahmad bin Isa adalah saudara kandung atau saudara sepupu. Berarti ayah atau kakeknya harusnya sama. Tetapi hari ini silsilah Ba’alwi dan Al Ahdal berbeda beda. Ba’alwi menulis Alwi bin Ubed bin Ahmad bin Isa terus sampai ke Ali Al Uraidi; sedangkan Al Ahdal menulis silsilahnya Muhammad bin Sulaiman bin Ubed bin Isa bin Alwi terus sampai ke Musa al Kadzim. Tidak ketemu satu kakek.bagaimana dua orang bersaudara garis laki tapi kakeknya tidak sama?

    2. Adakah kitab abad keempat sampai abad ke delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa bergelar Al Muhajir?

    Tidak ada kitab abad ke-empat sampai kedelapan yang menyebut Ahmad bin Isa bergelar “Al Muhajir”. Gelar yang ditulis oleh kitab-kitab nasab untuk Ahmad bin Isa adalah “Al Abah” dan “Al Naffat”. penyebutan pertama dari keluarga Ba’alwi untuk Ahmad bin ‘Isa dengan sebutan “Al-muhajir” dilakukan oleh Ahmad bin Zein al-Habsyi (w.1144 H.) ulama abad ke duabelas Hijriah dalam kitab “Syarh al ‘Ainiyyah” (h.129).. Jadi, gelar itu disematkan kepadanya setelah 799 tahun, dihitung mulai dari wafatnya Ahmad bin ‘Isa sampai wafatnya Ahmad bin Zein al-Habsy.

    Perhatikan redaksi Al-Ubaidili (w.437 H.) dalam kitab “Tahdzib al Ansab” di bawah ini:

    واحمد بن عيسى النقيب بن محمد بن علي العريضي يلقب النفاط

    Terjemah:

    “Dan Ahmad bin ‘Isa al-Naqib bin Muhammad bin ‘Ali al-Uraidi, diberi gelar ‘al-Naffat’” (Tahdzib al Ansab, h.176)

    Perhatikan pula redaksi Al Umari (w.490 H.) dalam kitab “Al Majdi” di bawah ini:

    وأحمد ابو القاسم الابح المعروف بالنفاط لانه كان يتجر النفط له بقية ببغداد من الحسن ابي محمد الدلال على الدور ببغداد رأيته مات بأخره ببغداد بن محمد بن علي بن محمد بن أحمد بن عيسى بن محمد بن العريضي .

    Terjemah:

    “Dan Ahmad Abul Qasim al-Abh yang dikenal dengan “al-naffat” karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan di bagdad dari Al-Hasan Abu Muhammad al-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku melihatnya (Al-Hasan) wafat diakhir umurnya di Bagdad, ia (Al-Hasan) anak dari Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad (al-Naqib) bin (‘Ali) al-Uraidi.” (Al Majdi: 337)

    3. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut?

    Tidak ada kitab sejarah dan kitab nasab yang menyatakan Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut. Al-Janadi (w.732) dalam kitab Al Suluk tidak merekam adanya makam Ahmad bin ‘Isa, padahal ia sejarawan yang rajin mencatat nama-nama makam yang diziarahi dan dianggap berkah. Artinya pada tahun 732 H. itu, makam Ahmad bin ‘Isa belum dikenal (dibaca ‘tidak ada’) seperti saat ini.

    berita makam Ahmad bin Isa terdapat di Hadramaut itu baru dicatat abad kesepuluh oleh Bamakhramah (w.947 H.) dalam kitabnya “Qiladat al Nahar”. Bamakhramah pula menyebutkan bahwa makam itu diyakini ada di sana karena Abdurrahman Asegaf dulu berziarah di tempat itu berdasar cahaya yang terlihat memancar (Qiladat al Nahr, juz 2 h. 618). Jadi jelas makam yang sekarang dianggap makam Ahmad bin Isa itu adalah makam yang baru dibangun sekitar abad sembilan Hijriah.

    وتوفي احمد المذكور بالحسيسة المذكورة وقبره في شعبها قال الخطيب وكان يرى عل الموضع الذي يشار اليه ان قبره الشريف فيه النور العظيم وكان شيخنا العارف بالله عبد الرحمن بن الشيخ محمد بن علي علوي يزوره في ذالك المكان

    Terjemah:

    “Dan Ahmad tersebut wafat di Husaisah yang telah disebut. Dan makamnya di Syi’b Husaisah. Dilihat cahaya agung dari tempat yang diisyarahkan bahwa tempat itu adalah quburnya (Ahmad bin ‘Isa) yang mulia. Dan guru kami, Al-Arif Billah Abdurrahman bin Syekh Muhammad bin ‘Ali Alwi, berziarah ditempat itu.” (Qiladat al Nahr: juz 2 h. 681)

    4. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ubaidillah adalah salah satu anak dari Ahmad bin Isa?

    Ahmad bin ‘Isa (w. 345 H.(?) dalam catatan kitab-kitab nasab yang paling dekat masanya dengannya, tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah. Adapun kitab-kitab yang mengkonfirmasi bahwa Ahmad bin ‘Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah/Abdullah adalah:

    Pertama, Kitab Tahdib al- Ansab wa Nihayat al-Alqab yang dikarang Al-Ubaidili (w.437 H.). Ketika ia menyebut keturunan ‘Ali al- Uraidi, Al-Ubaidili tidak menyebut nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin ‘Isa. Ia hanya menyebutkan satu anak dari Ahmad bin ‘Isa, yaitu Muhammad. Kutipan dari kitab tersebut seperti berikut ini:

    واحمد بن عيسى النقيب بن محمد بن علي العريضي يلقب النفاط من ولده ابو جعفر (الاعمى) محمد بن علي بن محمد بن أحمد ، عمي في آخر عمره وانحدر الى البصرة واقام بها ومات بها وله اولاد وأخوه بالجبل له اولاد.

    Terjemah:

    “Dan Ahmad bin ‘Isa al-Naqib bin Muhammad bin ‘Ali al-Uraidi, diberikan gelar Al-Naffat, sebagian dari keturunannya adalah Abu Ja’far (al-A’ma: yang buta) Muhammad bin ‘Ali bn Muhammad bin Ahmad, ia buta di akhir hayatnya, ia pergi ke Basrah menetap dan wafat di sana. Dan ia mempunyai anak. Saudaranya di Al-Jabal (gunung) juga mempunyai anak.” (Tahdzib al Ansab, h. 176)

    Kedua, Kitab Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyin karya Sayyid Syarif Najmuddin ‘Ali bin Muhammad al-Umari al-Nassabah ) (w.490 H.). dalam kitab itu ia menyebutkan, bahwa di antara keturunan Ahmad bin ‘Isa ada di Bagdad, yaitu dari Al-Hasan Abu Muhammad al-Dallal Aladdauri bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa. Sama seperti Al-Ubaidili, Al-Umari hanya menyebutkan satu anak saja dari Ahmad bin ‘Isa. Kutipan lengkapnya seperti di bawah ini:

    وأحمد ابو القاسم الابح المعروف بالنفاط لانه كان يتجر النفط له بقية ببغداد من الحسن ابي محمد الدلال على الدور ببغداد رأيته مات بأخره ببغداد بن محمد بن علي بن محمد بن أحمد بن عيسى بن محمد بن العريضي.

    Terjemah:

    “Dan Ahmad Abul Qasim al-Abah yang dikenal dengan “al-Naffat” karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan di bagdad dari al-Hasan Abu Muhammad ad-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku melihatnya wafat diakhir umurnya di Bagdad, ia anak dari Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin (‘Ali) al-Uraidi.” (Al Majdi, h. 377)

    Ketiga, Kitab Muntaqilat al- Talibiyah karya Abu Ismail Ibrahim bin Nasir ibnu Tobatoba (w.400 an H.), yaitu sebuah kitab yang menerangkan tentang daerah-daerah lokasi perpindahan para keturunan Abi Talib. Dalam kitab itu disebutkan, bahwa keturunan Abi Talib yang ada di Roy adalah Muhammad bin Ahmad al-Naffat.

    (بالري) محمد بن احمد النفاط ابن عيسى بن محمد الاكبر ابن علي العريضي عقبه محمد وعلي والحسين.

    Terjemah:

    “Di Kota Roy, (ada keturunan Abu Talib bernama) Muhammad bin Ahmad an-Naffat bin ‘Isa bin Muhammad al-Akbar bin ‘Ali al-Uraidi. Keturunannya (Muhammad bin Ahmad) ada tiga: Muhammad, ‘Ali dan Husain.” (Muntaqilat al Talibiyah, h.160)

    Kitab Al-Syajarah al-Mubarakah karya Imam Al-Fakhrurazi (w.606 H.), kitab itu selesai ditulis pada tahun 597 Hijriah, dalam kitab itu Imam Al-Fakhrurazi menyatakan dengan tegas bahwa Ahmad bin ‘Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah. Kutipan dari kitab itu sebagai berikut:

    أما أحمد الابح فعقبه من ثلاثة بنين: محمد ابو جعفر بالري، وعلي بالرملة، وحسين عقبه بنيسابور.

    Terjemah:

    “Adapun Ahmad al-Abh, maka anaknya yang berketurunan ada tiga: Muhammad Abu ja’far yang berada di kota Roy, ‘Ali yang berada di Ramallah, dan Husain yang keturunanya ada di Na’Isaburi.” (Al Syajarah al Mubarakah, h. 111)

    Dari kutipan di atas, Imam Al-Fakhrurazi tegas menyebutkan bahwa Ahmad al-Abh bin ‘Isa keturunannya hanya dari tiga anak, yaitu: Muhammad, ‘Ali dan Husain. Tidak ada anak bernama Ubaidilah atau Abdullah, baik yang berketurunan, maupun tidak.. Ia menyebutkan jumlah anak Ahmad bin ‘Isa dengan menggunakan “jumlah ismiyah” (proposisi dalam Bahasa Arab yang disusun menggunakan kalimat isim atau kata benda) yang menunjukan “hasr” (terbatas hanya pada yang disebutkan). Para ahli nasab mempunyai kaidah-kaidah khusus dalam ilmu nasab, diantaranya, jika menulis dengan “jumlah fi’liyah” (proposisi Bahasa Arab yang disusun dengan menggunakan kalimat fi’il atau kata kerja) misalnya dengan lafadz أَعْقَبَ من ثلاثة (ia berketurunan dari tiga anak), maka maksudnya jumlah anak yang dipunyai tidak terbatas kepada bilangan yag disebutkan, masih ada anak yang tidak disebutkan karena suatu hal. Tetapi jika menggunakan “jumlah ismiyah” seperti kalimat kitab Al-Syajarah al-Mubarakah itu, maka maksudnya adalah jumlah anak yang berketurunan hanya terbatas kepada bilangan yang disebutkan. Syekh Mahdi al-Raja’iy dalam kitabnya Al-Mu’qibun mengatakan:

    ومن ذالك اذا قالوا غقبه من فلان او العقب من فلان فانه يدل على ان عقبه منحصر فيه وقولهم أعقب من فلان فان يدل على ان عقبه ليس بمنحصر فيه

    Terjemah:

    “Dan sebagian dari istilah para ahli nasab adalah apabila mereka berkata ‘’aqibuhu min fulan’ (keturunannya dari si fulan) atau ‘al-‘al-aqbu min fulan’ (keturunan(nya) dari si fulan) maka itu menunjukan bahwa bahwa anaknya yang berketurunan terbatas kepada anak itu; dan ucapan ahli nasab ‘a’qoba min fulan’ maka itu menunjukan bahwa sesungguhnya anaknya yang berketurunan tidak terbatas pada anak (yang disebutkan) itu.” (Al Mu’qibun, h. 14)

    Imam al-Fakhrurazi, penulis kitab Al-Syajarah al-Mubarokah tinggal di Kota Roy, Iran, di mana di sana banyak keturunan Ahmad bin ‘Isa dari jalur Muhammad Abu Ja’far, tentunya informasi tentang berapa anak yang dimiliki oleh Ahmad bin ‘Isa, ia dapatkan secara valid dari keturunan Ahmad yang tinggal di Kota Roy. Sampai pengarang kitab ini wafat tahun 606 Hijriah, sudah 261 tahun dihitung mulai dari wafatnya Ahmad bin ‘Isa, tidak ada riwayat, tidak ada kisah, tidak ada kabar bahwa Ahmad bin ‘Isa pernah punya anak yang bernama Ubaidillah dan cucu yang bernama Alwi.

    Kitab Al-Fakhri fi Ansabitalibin karya Azizuddin Abu Tolib Ismail bin Husain al-Marwazi (w.614 H.) menyebutkan yang sama seperti kitab-kitab abad kelima, yaitu hanya menyebutkan satu jalur keturunan Ahmad bin ‘Isa yaitu dari jalur Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa. Adapun kutipan lengkapnya adalah:

    منهم أبو جعفر الاعمى محمد بن علي بن محمد بن احمد الابح له اولاد بالبصرة واخوه في الجبل بقم له اولاد

    Terjemah:

    “Sebagian dari mereka (keturunan ‘Isa al-Naqib) adalah Abu Ja’far al-a’ma (yang buta) Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Abh, ia punya anak di Basrah, dan saudaranya di ‘Al Jabal” di Kota Qum, ia punya anak.” (Al Fakhri, h. 30)

    Kitab Al-Asili fi Ansabittholibiyin karya Shofiyuddin Muhammad ibnu al-Toqtoqi al-Hasani (w.709 H.) menyebutkan satu sampel jalur keturunan Ahmad bin ‘Isa yaitu melalui anaknya yang bernama Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa. Kutipan lengkapnya seperti berikut ini:

    ومن عقب أحمد بن عيسى النقيب الحسن بن ابي سهل أحمد بن علي بن ابي جعفر محمد بن أحمد

    Terjemah:

    “Dan dari keturunan Ahmad bin ‘Isa an-Naqib adalah al-Hasan bin Abi Sahal Ahmad bin ‘Ali bin Abi Ja’far Muhammad bin Ahmad.” (Al Ashili, 212)

    Kitab Al-Sabat al Musan karya Ibn al- A’raj al-Husaini (w.787 H.) ia mengatakan bahwa sebagian anak Ahmad bin ‘Isa adalah Muhammad. Ia tidak menyebut ada anak Ahmad bin ‘Isa yang bernama Ubaidillah atau Abdullah. Lihat kutipan di bawah ini:

    واما احمد فأعقب وكان من ولده ابو محمد الحسن الدلال ببغداد رآه شيخنا العمري ببغداد وهو مات بأخره ببغداد وهو بن محمد بن علي بن محمد بن أحمد بن عيسى الرومي وكان له اولاد منهم ابو القاسم احمد الاشج المعروف بالنفاط…

    Terjemah:

    “Dan adapun Ahmad, maka ia berketurunan dan dari keturunannya adalah Abu Muhammad al Hasan al-Dallal di Bagdad, guruku al-Umari melihatnya di Bagdad, dan ia meninggal di Bagdad, ia adalah putra Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa al-Rumi, dan ia mempunyai beberapa anak diantaranya Abul Qasim Ahmad al-Asyaj yang dikenal dengan al-Naffath” (Al Sabat al Mushan, h. 83-84)

    Kitab Umdat al-Talib karya Ibnu Inabah (w.828 H.), Ahmad bin ‘Isa tidak disebut mempunyai anak bernama Ubaidillah atau Abdullah. Ibnu Inabah mengatakan:

    ومنهم احمد الاتج بن ابي محمد الحسن الدلال بن محمد بن علي بن محمد بن أحمد بن عيسى الاكبر

    Terjemah:

    “Sebagian dari keturunan Muhammad al-Naqib adalah Ahmad al-Ataj bin Abi Muhammad al-Hasan al-Dallal bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Isa al-Akbar.” (Umdat al Talib, h. 225)

    Kronologis mula-mula pengakuan leluhur habib sebagai keturunan rasul:

    1) Leluhur habib melihat sejarah keluarga Al Ahdal yang disebut dalam kitab “Al Suluk” karya Al Jandi (w.732 H.).

    واما الاهدل فَهُوَ بهاء سَاكِنة بعد الف وَلَام وهاء بعْدهَا دَال مُهْملَة مَفْتُوحَة ثمَّ لَام سَاكِنة كَانَ كَبِير الْقدر شهير الذّكر يُقَال أَن جده مُحَمَّد قدم من بلد الْعرَاق الى الْيمن وَهُوَ شرِيف حسيني قدم على قدم التصوف وَسكن اجوال السَّوْدَاء من وَادي سِهَام

    Terjemah”

    “Dan adapun Al-Ahdal, maka ia (dibaca) dengan “ha” yang sukun setelah “‘Alif”, “lam” dan “ha”. Setelah “ ha” itu ada hurup “dal” yang di”fatahkan” yang tanpa titik, kemudian ada “lam” yang sukun. Ia seorang yang berkedudukan tinggi yang popular. Disebutkan bahwa kakeknya datang dari Irak ke negeri Yaman, ia seorang “Syarif Husaini”. Ia datang dengan tapak tasawuf, ia menempati “Ajwal al-Sauda’ dari lembah Siham.” (Al Suluk, juz 2 h.360)

    2) dalam kitab tersebut leluhur keluarga Al Ahdal yang bernama Muhammad (bin Sulaiman) disebut sebagai seorang “Syarif Husaini” yang berhijrah dari Irak. Lalu ulama Ba’alwi mengaku bahwa leluhurnya Ahmad bin Isa ikut berhijrah bersama Muhammad bin Sulaiman itu sebagai seorang sepupu (satu kakek). Pengakuan itu disambut oleh keturunan Muhammad Al Ahdal yang ada di abad sembilan yang bernama Husain al-Ahdal (w.855 H.) dalam kitabnya “Tuhfat al-Zaman” ia mengatakan:

    وحكي لنا عن بعضهم ان محمد المذكور خرج هو واخ له وابن عم فعمد اخوه وابن عمه الى الشرق فذريته ال با علوي في حضرموت

    Terjemah:

    “Diceritakan kepada kami dari sebagian orang, bahwa Muhammad (bin Sulaiman) tersebut keluar (berhijrah) bersama saudara laki-laki dan saudara sepupunya. Kemudian saudara laki-laki dan saudara sepupunya itu menuju timur. Maka keturunan dari saudara sepupunya itu adalah keluarga Ba’alwi di Hadramaut” (Tuhfat al Zaman, juz 2 h. 238)

    3) Ketika keluarga Al Ahdal dan Ba’alwi ini satu kakek, berarti silsilahnya harusnya bertemu di kakek pertama. Kita lihat silsilah keluarga Al Ahdal dalam kitab Al-Ahsab al-’Aliyyah fi al-Ansab al-Ahdaliyyah karya Abu Bakar bin Abil Qasim bin Ahmad al-Ahdal (w. 1035 H.) ia mengatakan:

    وأما نسبه رضي الله عنه فهو علي الأهدل بن عمر بن محمد بن سليمان بن عبيد بن عيسى بن علوي بن محمد بن حمحام بن عون بن موسى الكاظم بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن الحسين بن علي بن أبي طالب رضوان الله عليهم أجمعين هذا نسبه

    Terjemah:

    “Dan adapun nasabnya, radiallahu ‘anhu, adalah: ‘Ali al-Ahdal bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubaid bin ‘Isa bin Alwi bin Muhammad bin Himham bin ‘Aon bin Musa al-kadim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Talib, Ridwanallahu ‘alaihim ajma’in”. (Al Ahsab al Ahdaliyah, h. 4)

    Silsilah keduanya mirip, tetapi susunannya berbeda. Jika keluarga Ba’alwi adalah: Alwi bin Ubed bin Ahmad bin Isa, maka keluarga Al Ahdal adalah: Muhammad bin Sulaiman bin ubed bin Isa bin Alwi. jelas keduanya pada mulanya merasa satu keturunan, namun akhirnya mencari jalan sendiri-sendiri. Seharusnya, jika Ba’alwi ini tidak mencari jalan lain maka silsilahnya adalah: Ahmad bin Isa bin Ubed bin Alwi bin Muhammad bin Himham dst. Ini membuktikan bahwa nasab Ba’alwi ini nasab “rakitan” yang kacau. Yang aneh lagi, dua orang yang berhijrah itu (Ahmad bin Isa dan Muhammad bin Sulaiman) ternyata hidupnya tidak satu masa. Ahmad bin Isa wafat tahun 345 H, sementara Muhammad bin Sulaiman wafat tahun 540 H. (Nail al-Hasanain, 121).

    Keluraga Al Ahdal sendiri tertolak sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW karena Musa al Kadzim tidak mempunyai anak bernama Aon.

    4) Setelah gagal mencantol nasab Al Ahdal, keluarga habib Ba’alwi berpindah jalur ke nasab Syarif Abul Jadid yang mereka temukan juga di kitab Al Suluk. Dalam kitab Al Suluk itu disebutkan:

    واحببت ان الْحق بهم الَّذين وردوها ودرسوا فِيهَا وهم جمَاعَة من الطَّبَقَة الاولى مِنْهُم ابو الْحسن عَليّ بن مُحَمَّد ابْن أَحْمد بن حَدِيد بن عَليّ بن مُحَمَّد بن حَدِيد بن عبد الله بن أَحْمد بن عِيسَى بن مُحَمَّد بن عَليّ ابْن جَعْفَر الصَّادِق بن مُحَمَّد الباقر بن عَليّ بن زين العابدين بن الْحُسَيْن بن عَليّ ابْن ابي طَالب كرم الله وَجهه وَيعرف بالشريف ابي الْحَدِيد عِنْد أهل الْيمن اصله من حَضرمَوْت من اشراف هُنَالك يعْرفُونَ بَال ابي علوي بَيت صَلَاح وَعبادَة على طَرِيق التصوف وَفِيهِمْ فُقَهَاء يَأْتِي ذكر من اتحقق ان شَاءَ الله تَعَالَى مَعَ أهل بَلَده

    Terjemah:

    “Dan aku ingin memberikan susulan nama-nama orang-orang yang datang ke Ta’iz dan belajar di sana. Mereka adalah jama’ah dari tingkatan pertama. sebagian dari mereka adalah Abu al-Hasan, ‘Ali, bin Muhammad bin Ahmad bin Hadid (Jadid, dua riwayat manuskrip) bin ‘Ali bin bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali bin Zainal Abdidin bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah, dan dikenal dengan nama Syarif Abul Jadid menurut penduduk Yaman. Asalnya dari Hadramaut dari para syarif di sana yang dikenal dengan Al Abi Alwi, yang merupakan rumah kesalihan dan ibadah dalam tarikat tasawwuf. Termasuk didalamnya para ahli fikih yang akan datang penyebutan mereka yang aku ketahui dengan benar, insya Allah Ta’ala, bersama ahli negerinya.” (Al Suluk Juz 2 h. 135-136)

    Dari redaksi itu Ali al Sakran (w. 895 H.) mengatakan bahwa Jadid itu saudara leluhurnya yang bernama Alwi dan Abdullah itu adalah Ubed. Pengakuan itu tanpa ada satu sumber sejarahpun di masa Jadid itu yang mengatakan bahwa Jadid punya saudara bernama Alwi. Ali al Sakran mengatakan:

    وقد فهمت مما تقدم اولا منقولا من تاريخ الجندي وتلخيص العواجي وسبق به الكلام في ترجمة الامام ابي الحسن عَليّ بن مُحَمَّد ابْن أَحْمد جدِيد انه عبد الله بن احمد بن عيسى

    Terjemah:

    “Dan aku memahami dari keterangan yang telah lewat, untuk pertama kali, berdasar apa yang terdapat dari Tarikh al-Janadi (kitab al-Suluk) dan kitab Talkhis al-Awaji, dan telah disebutkan pembicaraan tentangnya, dalam menerangkan biografi sosok al-Imam Abu al Hasan, ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad Jadid, bahwa Ubaid itu adalah Abdullah bin Ahmad bin ‘Isa. (Al Burqot, h. 150)

    Jadi awalnya keluarga habib mengaku bersilsilah kepada Ahmad bin Isa itu adalah karena melihat silsilah Syarif abul Jadid yang ada dikitab Al Suluk lalu menyatakan bahwa leluhurnya adalah saudara dari Jadid tanpa referensi penguat apapun.

    5) Sayangnya pencangkokan silsilah ke Jadid bin Abdullah itu tidak sukses, karena ternyata dalam manuskrip Al Suluk yang lebih tua nama Abdullah itu tidak ada. silsilah Ba’alwi hari ini yang diambil dari silsilah Syarif Abil Jadid adalah merupakan versi kitab Al Suluk yang dicetak berdasarkan manuskrip Mesir tahun 877 H. Sedangkan dalam manuskrip Paris yang disalin 820 H. bahwa Jadid bukan anak Abdullah bin Ahmad, tetapi ia adalah anak langsung dari Ahmad. Teori ‘Ali al-Sakran bahwa Ubaid yang tercatat dalam versi Bani Ahdal adalah nama lain dari Abdullah, tertolak mentah-mentah.

    6) Para pembela Ba’alwi berusaha mendatangkan sanad sanad yang katanya ditulis pada abad ke enam Hijriah, tetapi jelas sanad-sanad itu adalah sanad palsu. Nama-nama keluarga habib sampai abad kedelapan tidak tercatat sebagai ulama apalagi ulama hadits, bagaimana bisa mereka meriwayatkan hadits?

    5. Benarkah hasil tes DNA Klan Ba’alwi (habib) terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW?

    Menurut https://www.familytreedna.com/…/j-1el-147/about/background disimpulkan bahwa:

    – Individu L859+ adalah keturunan suku Quraisy

    – Individu FGC8703+ adalah keturunan marga Banu Hashem

    – Individu FGC10500+ adalah keturunan Imam Ali AS

    – Individu FGC30416+ adalah keturunan Imam Hussein AS

    Sedangkan para Habib Ba’alwi yang sudah tes DNA mayoritas mereka tidak memeiliki kode-kode di atas.

    Menurut DR. Sugeng Sugiharto, keturunan Nabi Muhammad SAW jalur paternal (laki-laki) harus berhaplogroup J, karena Nabi Ibrahim AS berhaplogroup J. Sedangkan dari ratusan para habib Ba’Alwi yang telah melakukan tes DNA, hasilnya mayoritas mereka berhaplogroup G. Berarti mereka bukan hanya tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mereka tidak termasuk keturunan Nabi Ibrahim AS.

    “Ba’alwi itu, nasabnya ke Nabi Ibrahim itu tertolak, karena tidak bisa dikonfrontasi dan dikonfirmasi dengan keturunan Nabi Ishak. Kalau mereka mengaku sebagai keturunan Imam Ali, dengan sendirinya keturuna Nabi Ismail, maka haplotype mereka dari Nabi Ibrahim ke atas harus sama dengan para kohen…logikanya, bagaimana mereka keturunan Imam Ali, wong bani Ibrahim aja bukan..”, tegas Doktor Sugeng dalam sebuah konten di chanel youtube yang di uplod tanggal 1 Januari 2024 dengan judul “Nasab G-Y32612 itu ke Ibrahim saja hil yang Mustahal, bagaimana jadi Alawiyyin ??”.

    Kita bisa ambil beberapa contoh keluarga Ba’alwi yang telah melakukan tes DNA (https://www.familytreedna.com/public/baalawi…), misalnya seorang bapak dari Al-Habsyi yang yang tes DNA dengan nomor KIT: IN89146, ia tinggal di Saudi Arabia, hasilnya ia berhaplogroup G-M201. Gagal. Contoh lain, seorang bapak dari Bin Syekh Abubakar, ia tes DNA dengan nomor KIT: M9523, ia tinggal di Indonesia, hasilnya haplogroupnya G-M201. Gagal juga. Contoh lain seorang bapak dari Assegaf, ia tes DNA dengan nomor KIT: 88697, ia tinggal di Yaman, hasilnya haplogroupnya G-M201. Gagal lagi. Contoh lain, seorang bapak bernama Omar, ia tes DNA dengan nomor KIT: IN76599 , ia tinggal di Yaman, hasilnya, haplogroupnya G-M201. Gagal maning. Dan masih banyak lagi contoh-contoh hasil tes DNA dari klan Ba’alwi yang dapat kita unduh dari berbagai macam situs penyedia jasa tes DNA. Hasilnya mayoritas mereka berhaplogroup G-M201.

    6. Apa hukum penggunaan tes DNA dalam memvalidasi nasab menurut hukum Islam?

    Menurut hasil keputusan Muktamar NU ke-31 tahun 2024 bahwa tes DNA bisa untuk menafikan ilhaq nasab, namun belum tentu bisa menentukan ilhaq nasab (Ahkamul Fuqoha, cet.2010 h. 509)

    Kesimpulan Akhir: Klan Ba’alwi (para habib) terbukti secara ilmiyah bukan keturunan Nabi Muhammad SAW.

    Waallahu Alam