Tag: adam

  • KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    Malaikat Jibril AS:

    ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”.

    @beritasorban

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI Malaikat Jibril AS: ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”. Baca selengkapnya https://wp.sorbansantri.com/kisah-dahsyatnya-sholawat-nabi/ sorbansantri beritasorban sholawat #hikmah

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri

    Malaikat Mikail AS:

    ”Ya Rasulullah, mereka yang bersholawat keatasmu, akan aku beri mereka itu minuman dari telagamu”

    Malaikat Isrofil AS:

    ”Mereka yang bershalawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku, sehingga Allah SWT mengampuni orang itu (yang bershalawat)”.

    Malaikat Izrail AS:

    ”Bagi mereka yang bershalawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh pada Nabi-nabi”.

    Allahumma Sholli ”Alla Sayyidina Muhammad Wa’Alaa Ali Sayyidina Muhammad.

    Kutipan dari kitab: Kifayatul Atqiya.

    Laman: 1 2 3

  • Menggali Hikmah dari Sidang Cerai, Teuku Ryan dan Ria Ricis: Menyuarakan Perlindungan Anak di Era Konten Digital

    Menggali Hikmah dari Sidang Cerai, Teuku Ryan dan Ria Ricis: Menyuarakan Perlindungan Anak di Era Konten Digital

    wp.sorbansantri.com – Ketegangan antara Teuku Ryan dan Ria Ricis telah memunculkan sorotan baru dalam ranah hiburan Indonesia, menyoroti isu sensitif tentang penggunaan anak dalam konten media sosial. Konflik ini, yang awalnya terjadi karena perbedaan pandangan tentang batasan penggunaan anak dalam konten, akhirnya mengakibatkan retaknya rumah tangga mereka. Namun, di balik drama perceraian ini, terselip hikmah yang mengingatkan kita akan pentingnya perlindungan anak di era digital.

    Perdebatan antara Teuku Ryan dan Ria Ricis mencerminkan dilema yang lebih besar dalam industri konten digital, di mana penggunaan anak dalam konten media sosial seringkali menjadi kontroversi. Ryan, yang dikenal sebagai advokat anak, menegaskan pentingnya menghormati hak anak untuk privasi dan perlindungan dari eksploitasi. Sementara itu, Ricis cenderung melihat anak sebagai alat untuk popularitas dan pendapatan.

    Laman: 1 2

  • Tutupnya Pabrik Sepatu Bata Memunculkan Gelombang Nostalgia di Media Sosial

    Tutupnya Pabrik Sepatu Bata Memunculkan Gelombang Nostalgia di Media Sosial

    wp.sorbansantri.com – Pabrik Sepatu Bata yang telah menjadi bagian dari pemandangan Purwakarta selama 30 tahun terakhir akhirnya ditutup. Keputusan ini, diumumkan melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEK), telah mengundang sorotan luas. Namun, yang paling mencolok adalah gelombang nostalgia yang muncul di kalangan netizen, khususnya mereka yang merasa terhubung dengan merek ini sejak masa SD.

    Berita penutupan ini menyentuh hati banyak orang, karena Sepatu Bata bukan hanya sekadar sepatu biasa. Merek ini adalah bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kecil bagi banyak orang. Setiap pasang sepatu Bata mewakili lebih dari sekadar alas kaki; ia mengingatkan pada petualangan, persahabatan, dan belajar di masa sekolah dasar.

    Desain yang sederhana namun elegan, serta kualitas yang teruji, menjadikan sepatu Bata pilihan favorit di kalangan pelajar. Terlebih lagi, setiap awal tahun ajaran baru, sepatu Bata menjadi simbol kebanggaan bagi banyak anak-anak. Mereka tidak hanya merasa siap untuk belajar, tetapi juga merasa bangga dengan langkah mereka yang diawali dengan sepatu Bata.

    Laman: 1 2

  • Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    wp.sorbansantri.com – Sebuah peristiwa menarik terjadi ketika seorang Habib Sepuh dari Kota Pasuruan, Fam Assegaf, bertanya kepada Habib Luthfi tentang Alawiyyin. Dalam pertemuan itu, Habib Luthfi menceritakan mimpi yang menjadi saksi atas peran pentingnya dalam dunia spiritual.

    Dalam mimpi tersebut, beliau disuruh bertabaruk kepadanya oleh Baginda Rasulullah, sebagai pimpinan Sadati ‘Alawiyyin di zaman ini. Habib Luthfi menjelaskan bahwa setahun yang lalu, ia mendapat amanat langsung dari beberapa guru Thoriqoh terkemuka, termasuk Syekh Ahmad At-Tijani yang memegang posisi paling depan di antara mereka. Amanat tersebut menguatkan perannya sebagai pemimpin dalam dunia Thoriqoh.

    Habib Luthfi menyampaikan pesan ini dengan keyakinan, bahwa apa yang disaksikan dalam mimpi dan amanat yang diterimanya merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang penting bagi umat Islam, terutama yang terkait dengan Thoriqoh dan Alawiyyan.

    Habib Sepuh dan Syekh Ahmad At-Tijani: Habib Sepuh adalah sebutan untuk seorang Habib yang telah lama berada dalam lingkaran keilmuan Islam, sering kali disebut sebagai sesepuh atau senior di kalangan Habaib. Sementara itu, Syekh Ahmad At-Tijani adalah seorang sufi terkemuka yang mendirikan Thoriqoh Tijaniyyah, sebuah aliran sufi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam.

    Thoriqoh dan Alawiyyin: Thoriqoh adalah salah satu aliran dalam tasawuf yang mengajarkan metode dan praktik-praktik spiritual untuk mencapai kesadaran diri dan dekat dengan Allah. Alawiyyin merujuk kepada keluarga atau keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dalam konteks spiritual, memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam.

    (AI Sorban)

  • Timnas U-23 Indonesia Raih Kemenangan Dramatis atas Korea Selatan dalam Adu Penalti yang Berjalan Maraton di Piala AFC 2024

    Timnas U-23 Indonesia Raih Kemenangan Dramatis atas Korea Selatan dalam Adu Penalti yang Berjalan Maraton di Piala AFC 2024

    wp.sorbansantri.com – Timnas U-23 Indonesia meraih kemenangan epik melawan Korea Selatan dalam pertandingan sengit Piala AFC 2024. Pertandingan ini menjadi sorotan karena adu penalti yang sangat panjang, di mana Indonesia akhirnya keluar sebagai pemenang.

    Pertandingan dimulai dengan Indonesia unggul 2-1 di babak pertama, meskipun Korea Selatan berhasil mendapatkan poin melalui gol bunuh diri yang tidak disengaja oleh Komang Teguh Trisnanda dari timnas Indonesia. Namun, semangat timnas Indonesia tidak padam, dan mereka terus menekan Korea Selatan.

    Babak kedua menjadi lebih tegang ketika pada menit ke-90, Ivar Jenner dari Korea Selatan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Namun, kedua tim gagal mencetak gol tambahan dalam waktu normal dan perpanjangan waktu, sehingga pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti.

    Adu penalti menjadi momen dramatis di mana kedua tim saling berbalas dengan sangat ketat. Namun, dengan ketangguhan dan keberanian, Timnas U-23 Indonesia berhasil memenangkan adu penalti dengan skor akhir 8-7, memastikan tempat mereka di babak selanjutnya Piala AFC 2024.

    Kemenangan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan di kancah sepak bola Asia, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda pemain sepak bola Indonesia untuk terus berjuang dan mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.(AI Sorban)

  • Pendeta tenar, Gilbert Lumoindong, bikin gaduh saat libur lebaran ini.

    Pendeta tenar, Gilbert Lumoindong, bikin gaduh saat libur lebaran ini.

    wp.sorbansantri.com – Tokoh agama protestan yang memiliki banyak pengikut ini memang kerap berulah lewat pernyataannya. Gilber Lumoindong merasa diri paling benar dan semua salah, pandangan ini yang selalu dipegangnya.

    “Sebelum sembahyang (salat) Islam diwajibkan cuci semuanya, saya bilang lu itu dua setengah. Gua 10 persen, bukan berarti gua jorok, tapi sudah disucikan oleh darah Yesus,” katanya disambut tawa jemaat Protestan. Tak hanya itu, Gilbert Lumoindong juga menyindir salat yang dianggap lebih sulit dibanding ibadah dalam agamanya.

    Menurut Gilbert, jika saat hendak beribadah umat agamanya hanya sepekan sekali membersihkan diri, tidak seperti agama Islam yang setiap beribadah selalu membersihkan diri. Gerakan ibadah dalam agamanya juga tidak membuat capek karena hanya berdiri, bernyanyi, dan bertepuk tangan. “Lah kita kan bayar 10 persen, makanya kebaktian kita hanya berdiri, tepuk tangan ya santai, tidak seperti,” ujarnya.
    Sementara dalam Islam disebut ibadahnya setengah mati.

  • Ayo Jadi Beradab Saat Bertamu, Perhatikan Beberapa Adabnya!

    Ayo Jadi Beradab Saat Bertamu, Perhatikan Beberapa Adabnya!

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Islam adalah agama terlengkap dan semua teratur, termasuk dalam bertamu. Rasulullah SAW telah mengajarkan umatnya adab bertamu dalam kehidupan sehari-hari. Adab tersebut telah tertulis jelas dalam hadits-hadits, lalu diajarkan pada tiap generasi muslimin.

    Berikut adab bertamu berdasar hadits Rasulullah SAW, itu artinya begitulah Rasulullah mengajarkannya kepada kita:

    1. Tidak Berdiri Tepat di Depan Pintu

    Seorang tamu hendaknya berdiri di sisi kanan pintu, bukan tepat di depannya. Mengapa demikian? Karena jika pintu telah dibuka oleh tuan rumah, maka tamu tidak dapat melihat seluruh isi rumah. Selain itu, tamu tidak akan dapat melihat hal-hal yang tidak dibenarkan untuk dilihat.

    Adab ini tertulis dalam hadits berikut:

    كان رسول الله إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء و جهه و لكن ركنها الأيمن أو الأيسر و يقول السلام عليكم السلام عليكم

    Artinya: Adalah Rasulullah SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…”

  • Kisah Kedua Putra Ādam a.s. Qobil dan Habil

    Kisah Kedua Putra Ādam a.s. Qobil dan Habil

    SORBANSANTRI.COM
    kisah qobil dan habil

    SORBAN Infokom – Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan ceritakanlah (Muḥammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Ādam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Hābīl) diterima dan dari yang lain (Qābīl) tidak diterima. Dia (Qābīl) berkata: “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Hābil) berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (‘amal) dari orang yang bertaqwa”. “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Maka nafsu (Qābīl) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qābīl) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qābīl berkata: “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (QS. al-Mā’idah [5]: 27-31).

    Kami telah menyebutkan kisah yang disebutkan ayat tersebut di dalam at-Tafsīr, dan kami anggap cukup; sehingga tidak perlu disebutkan kembali dalam pembahasan ini. (1321) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.

    Di sini kami hanya akan menyebutkan kesimpulan penjelasan yang telah disebutkan oleh para ulama’ salaf. As-Suddī meriwayatkan dari Abū Mālik dan Abū Shāliḥ, dari Ibnu ‘Abbās. Dan dari Murrah yang bersumber pada Ibnu Mas‘ūd, juga dari sekelompok shahabat, bahwasanya Ādam menikahkan anak laki-laki yang dilahirkan dari satu proses kehamilan dengan anak perempuan yang dilahirkan dari proses kehamilan yang lain. Maka dari itu, Hābīl ingin menikahi saudari Qābīl. Qābīl lebih besar dari Hābīl, dan saudarinya lebih cantik dari saudari Hābīl. Karena Qābīl juga memendam rasa terhadap saudarinya; dan tidak ingin menyerahkannya kepada Hābīl, maka ketika Ādam memerintahkan Qābīl untuk menikahkan Hābīl dengan saudarinya, dia menolak perintah ayahnya.

    (Sebagai jalan tengahnya), Ādam memerintahkan mereka berdua agar mempersembahkan sebuah qurban. Setelah itu Ādam pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Saat itu, Ādam meminta langit untuk menjaga anak-anaknya, namun langit menolak permintaannya. Demikian juga dengan bumi dan gunung-gunung; mereka menolak permintaan Ādam untuk menjaga anak-anaknya. Di saat yang sama. Qābīl justru menerima permintaan tersebut.

    Tatkala Ādam pergi, mereka berdua (Qābīl dan Hābīl) mulai mempersembahkan kurbannya. Hābīl berqurban dengan unta betina yang gemuk, padahal dia memiliki kambing. Sedangkan Qābīl berqurban dengan seikat padi yang sangat buruk bijinya. Lalu api turun dari langit dan memakan qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, dan membiarkan qurban yang dipersembahkan oleh Qābīl. Qābīl pun marah seraya berkata: “Wahai Hābīl, aku akan membunuhmu sehingga engkau tidak menikahi saudariku.” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima (qurban) yang dipersembahkan oleh orang-orang yang bertaqwa.” (1332).

    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari jalur yang lain, (1343) dari ‘Abdullāh bin ‘Amru, dia berkata: “Demi Allah, sebenarnya yang terbunuh itu (Hābīl) adalah lebih kuat dari yang membunuh (Qābīl). Namun perasaan berdosa menghalangi tangannya untuk membalasnya.” (1354).

    Abu Ja‘far al-Baqir menyebutkan bahwa Adam memerintahkan Hābīl dan Qābīl untuk berqurban. Dan yang dikabulkan (oleh Allah) adalah qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, bukan Qābīl. Lalu Qābīl berkata kepada Ādam: “Qurban Hābīl diterima karena engkau mendoakannya, dan tidak mendoakan diriku.” Akhirnya, Qābīl mengancam saudaranya; Hābīl.

    Suatu malam, Hābīl terlambat pulang dalam mengembala hewan ternaknya. Maka dari itu, Ādam mengutus Qābīl untuk menemui saudaranya tersebut. Ketika Qābīl pergi menemui saudaranya, dia berkata kepadanya: “Mengapa hanya qurbanmu yang diqabulkan, sedangkan qurban yang aku persembahkan tidak diterima?” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” Mendengar jawaban itu, Qābīl pun marah dan memukul saudaranya dengan besi yang dia pegang, hingga saudaranya tewas.

    Ada yang berpendapat bahwa Qābīl membunuh saudaranya dengan batu besar yang ia timpakan ke kepala saudaranya yang tengah tidur. Pendapat lain mengatakan Qābīl mencekik Hābīl dengan cekikan yang sangat keras dan menggigitnya sebagaimana yang dilakukan oleh binatang buas hingga dia meninggal dunia. Wallāhu a‘lam.

    Saat diancam bunuh oleh saudaranya, Hābīl menjawab: “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. al-Mā’idah [5]: 28), menunjukkan akhlak yang baik, rasa khawatir dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla, dan sebagai perbuatan wara‘ untuk tidak membalas perbuatan buruk yang dilakukan oleh saudaranya terhadap dirinya dengan keburukan yang setimpal.

    Oleh sebab itu, di dalam shahih al-Bukhārī dan Muslim (1365) disebutkan hadits dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau bersabda: “Jika dua muslim berhadap-hadapan dengan kedua pedangnya, maka keduanya sama-sama masuk neraka.” Maka para shahabat bertanya: “Kalau yang membunuh sudah maklum. Lantas, bagaimana bisa yang dibunuh juga demikian?” Nabi s.a.w. menjawab: “Karena dia juga berkehendak membunuh saudaranya.”

    Allah ‘azza wa jalla berfirman:

    إِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ تَبُوْءَ بِإِثْمِيْ وَ إِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَ ذلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِيْنَ

    “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Yakni, saya (Hābīl) tidak ingin membalas untuk membunuhmu meskipun aku lebih kuat dan lebih pemberani dibandingkan dirimu. Apabila dirimu melakukan apa yang kamu inginkan , tentulah engkau akan kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri. Yakni menanggung dosa karena telah membunuhku, dan dosa-dosa yang telah engkau lakukan sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujāhid, as-Suddī, Ibnu Jarīr, dan yang lainnya.

    Maksudnya, bukanlah berarti dosa-dosa orang yang terbunuh akan dibebankan kepada pembunuhnya; sebagaimana anggapan sebagian orang. Dan Ibnu Jarīr telah menyebutkan ijma‘ yang menyelisihi pendapat tersebut. (1376).

    Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang yang tidak dikenal, menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Tidak ada yang ditinggalkan oleh pembunuh bagi orang yang dibunuhnya, kecuali dosa.” Sesungguhnya hadits tersebut tidak ada dasarnya, dan tidak dikenal di dalam kitab-kitab hadits dengan sanad yang shaḥīḥ, ḥasan, atau dha‘īf sekalipun. (1387) Akan tetapi sebagian orang berpendapat bahwa, pada hari kiamat kelak orang yang terbunuh akan menuntut pembunuhnya. Sehingga ketika kebaikan orang yang membunuhnya tersebut telah habis karena kezhaliman yang dilakukannya, maka keburukan-keburukan orang yang terbunuh akan dibebankan kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih tentang akibat segala bentuk kezhaliman. (1398) Dan pembunuhan adalah bentuk kezhaliman yang paling besar. Wallāhu a‘lam. Hal itu semua telah kami sebutkan di dalam pembahasan tafsir. (1409) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.

    Imām Aḥamd (14110), Abū Dāūd, dan at-Tirmidzī meriwayatkan dari Sa‘ad bin Abī Waqqāsh, dia berkata ketika terjadi pembunuhan ‘Utsmān bin ‘Affān: “Saya bersaksi bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda: “Kelak akan timbul suatu fitnah. Orang yang duduk saat itu lebih baik dari orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari kecil.” Kemudian Abū Sa‘īd bertanya: “Bagaimana menurut anda apabila ada seseorang yang masuk ke rumahku dan dia membentangkan tangannya kepadaku untuk membunuhku?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Jadilah seperti putra Ādam”.” Sedangkan Imām Muslim dan ahli sunan kecuali an-Nasā’ī meriwayatkan hadits serupa dari Abū Dzarr. (14211).

    Ibnu Mardawaih (14312) meriwayatkan hadits tersebut dari Ḥudzaifah ibn-ul-Yaman secara marfū‘ dengan redaksi: “Jadilah yang terbaik dari kedua anak Ādam.”

    Imām Aḥmad juga berkata: (14413) Telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah dan Wakī‘, telah menceritakan kepada kami al-A‘masy, dari ‘Abdullāh bin Murrah, dari Masrūq, dari Ibnu Mas‘ūd, dia berkata bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

    لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كَفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ.

    “Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosanya. Karena dialah orang pertama yang memberi contoh pembunuhan.”

    Hadits itu diriwayatkan oleh al-Jamā‘ah (14514) selain Abū Dāūd melalui jalur al-A‘masy. Hadits serupa juga diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin ‘Amru bin al-‘Āsh dan Ibrāhīm an-Nakha‘ī. (14615).

    Di atas gunung Qasiun; yang terletak di sebelah utara Damaskus terdapat sebuah gua yang bernama gua darah. Gua itu dikenal sebagai tempat di mana Qābīl membunuh saudaranya; Hābīl. Sebagaimana yang mereka nukil dari Ahli Kitāb. Wallāhu a‘lam.

    Al-Ḥāfizh Ibnu ‘Asākir (14716) menyebutkan sebuah keterangan di dalam tarjamah Aḥmad bin Katsīr – dia menuturkan bahwa Aḥmad bin Katsīr termasuk orang shalih – , bahwasanya dia bermimpi melihat Nabi s.a.w., Abū Bakar, ‘Umar bin Khaththāb, dan Hābīl. Lalu orang tersebut meminta Hābīl bersumpah bahwa ini adalah darahnya, dan Hābīl pun bersumpah; memenuhi permintaannya. Disebutkan pula bahwa Hābīl memohon kepada Allah agar menjadikan tempat tersebut sebagai tempat dikabulkannya doa, kemudian Allah mengabulkan permohonannya Hābīl, Abū Bakar, dan ‘Umar bin Khaththāb mendatangi tempat ini setiap hari Khamis.” Seandainya mimpi tersebut benar berasal dari Aḥmad bin Katsīr, maka hal itu tetap tidak memenuhi ketetapan hukum syar‘i. Wallāhu a‘lam. ( sorban-abi)