Tag: agama

  • Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Islam sebagai agama tidak pernah membuat penganutnya merasakan penderitaan. Hanya orang-orang yang tidak taat saja yang merasa gelisah dan menderita. Mereka menjebak dirinya dalam kesulitan, keresahan dan penderitaan. Padahal agama sudah memberi jalan dan ruang yang penuh dengan keceriaan, kenikmatan, ketenangan, bahkan ‘kepuasan’.

    Tidak heran jika Gus Baha’ menyampaikan “Agama itu dimulai dari kesenangan, happy, farah kalau dalam bahasa Arab” Karena Agama sendiri adalah jalan dan ruang yang indah penuh kedamaian. Maka memulainya tentu dengan kesenangan, sebab orang yang beragama melangkah di jalan kemudian masuk di ruang yang terang oleh cahaya kebahagiaan.

    Lebih tegas Gus Baha menghaturkan ayat,

    قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah, Wahai Muhammad, dengan fadhal Allah, anugerah Allah dan rahmat Allah. Kemudian dengan itu kamu harus senang. Sehingga dengan senang kepada Allah dan Rasul itu nikmatnya masyaallah“.

    Siapa yang tidak menginginkan anuegrah dan berharap rahmat Allah? Siapapun pasti menunggu ini semua. Karena ketika seorang hamba mendapatkan anugerah dan merasakan rahmat Allah, dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi sampai larut dalam kesenangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tidak ada apapun yang bisa menandinginya.

    Dawuh Gus Baha’ “Andaikan senang itu bisa ditakar, orang yang sedang tahajjud, menangisi dosanya. Itu senengnya jika dibandingkan dengan orang yang sedang dugem, mesti kalah, mesti senengan sedang tahajjud. Karena orang-orang maksiat itu sebenarnya orang-orang yang susah”

    Ya, sungguh senang tiada kata yang sanggup menjelaskannya, jika seseorang sudah menemukan manisnya beribadah kepada Allah. Dan tidak ada orang yang merasa, kesenangan yang didapatkan dari kemaksiatan menjadi kesenangan yang membuat dirinya bahagia, justru dia gelisah dan susah. Sungguh berbeda antara kesenangan yang dirasakan dari ketaatan dan kemaksiatan.

    Gus Baha’ menggambarkan orang yang shalat tahajjud, “Sementara orang yang tahajjud senengnya sangat terasa dan terus diingat. Semisal tadi malam bagaimana menangisi dosa, menangisi nasib. Kemudian menjadi tenang karena kembali ingat kepada Allah dan Rasul. Itu luar biasa senengnya”

    Alhasil, kunci mendapatkan kesenangan beribadah adalah dimulai dengan rasa senang. Jika sudah dimulai dengan kesenangan, ibadah pun menjadi nyaman dilaksanakan. Kemudian berbuah menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh para ulama kita.

    Karena para ulama sangat mengerti bahwa agama itu adalah jalan kesenangan, maka memulainya harus dengan rasa senang sehingga merasakan manisnya beribadah. Berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena merasa beban atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga bukan dengan rasa kesenangan untuk memulai beribadah, melainkan karena keterpaksaan. Mana bisa orang yang dalam keterpaksaan dan tak ada rasa senang akan merasakan kesenangan. Untuk merasakan senang harus diawali dengan senag juga.

    Sama juga seseorang yang menyampaikan dakwah agama. Ketika ia berdakwah dengan main klaim salah sana sini, ditambah dengan kata yang tidak pantas alias umpatan caci maki, bisa saja dia memulai dakwah agama berdasarkan kebencian bukan kesenangan. Na’udzubillah.

    Disarikan dari ngaji bareng Gus Baha pada link video https://www.youtube.com/watch?v=xj0WuVOLA10

    Semoga kita bisa meneladani orang-orang saleh! (Gus tama)

  • Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    SORBANSANTRI.COM

    Imam Al-Ghazali berkata:

    ﻭﻗﺪ ﺣﻜﻲ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ اﻷﻣﻢ اﻟﺴﺎﻟﻔﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺨﺘﺒﺮﻭﻥ اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻣﺪﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﻼﻗﻪ، ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﻭا ﻓﻴﻪ ﺧﻠﻘﺎً ﺭﺩّﻳﺎً ﻣﻨﻌﻮﻩ اﻟﺘﻌﻠﻢ ﺃﺷﺪ اﻟﻤﻨﻊ.

    Telah diceritakan dari generasi sebelumnya bahwa mereka menguji para murid selama menjadi pendidik akhlaknya. Jika mereka tidak lulus maka mereka tidak diperkenankan melanjutkan

    ﻭﻗﺎﻟﻮا ﺇﻧﻪ ﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺘﻀﻰ اﻟﺨﻠﻖ اﻟﺮﺩﻱ، ﻓﻴﺼﻴﺮ اﻟﻌﻠﻢ ﺁﻟﺔ ﺷﺮّ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ

    Para guru mengatakan: “Ilmu bagi orang yang berakhlak buruk akan menjadi alat berbuat kejelekan baginya”

    ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻭﻩ ﻣﻬﺬﺏ اﻷﺧﻼﻕ ﻗﻴﺪﻭﻩ ﻓﻲ ﺩاﺭ اﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻋﻠّﻤﻮﻩ ﻭﻣﺎ ﺃﻃﻠﻘﻮﻩ ﻗﺒﻞ اﻻﺳﺘﻜﻤﺎﻝ، ﺧﻴﻔﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﻌﺾ، ﻭﻻ ﺗﻜﻤﻞ ﻧﻔﺴﻪ، ﻓﻴﻔﺴﺪ ﺑﻪ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺩﻳﻦ ﻏﻴﺮﻩ

    Jika mereka memiliki akhlak yang baik maka mereka dikarantina di tempat pendidikan (pesantren), mereka diajari dan tidak dilepaskan (wisuda) sebelum sempurna. Khawatir ilmunya setengah matang dan tidak sempurna bagi dirinya. Maka MEMBAHAYAKAN bagi AGAMANYA dan AGAMA ORANG LAIN.

    ﻭﺑﻬﺬا اﻻﺧﺘﺒﺎﺭ ﻗﻴﻞ: ” ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﻣﺘﻜﻠﻢ ﻭﻧﺼﻒ ﻃﺒﻴﺐ. ﻓﺬﻟﻚ ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﺬا ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺤﻴﺎﺓ اﻟﺪﻧﻴﺎ “.

    Oleh karena itu ada ungkapan: “Kami berlindung kepada Allah dari ahli agama yang setengah matang dan dari dokter setengah matang. Yang itu merusak agama dan yang ini merusak kehidupan dunia” (Mizan Al-Amal 1/370)

    Kita tidak menghalangi siapapun untuk berdakwah, untuk berbagi ilmu, mengajak kebaikan dan seterusnya. Tapi bagi mereka yang tidak menjalani pendidikan Agama Islam mulai dari dasar hingga tingkat tertinggi diharapkan untuk sadar diri dalam berfatwa, mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadis, menentang ulama yang lebih alim dan sebagainya.

    #KHmarufKhozin

  • AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Hal yg bukan masalah, jadi dipermasalahkan. Sesuatu yg sederhana dibikin rumit luar biasa. Materi universal seperti bahasa, hendak dikuasai oleh kalangan tertentu saja.

    Jika paham tentang Indonesia, pastinya tahu bahwa sebelum Islam datang ke Nusantara, masyarakat memeluk agama yg lainnya. Ada Hindu, Budha, Kepercayaan nenek moyang, dan sebagainya. Bahasanya pun tetap sama sejak dahulu sampai sekarang, sejak sebelum Islam datang hingga ada yg menjadi mayoritas di berbagai daerah. Ada minang, melayu, jawa, sunda, bugis, makassar, batak dan sebagainya.

    Tahukah kita jika masyarakat Islam Indonesia sejak dulu terbiasa menggunakan istilah sembahyang dibandingkan sholat? Sembahyang bukan berasal dari Bahasa Arab seperti sholat. Sembahyang adalah Sembah Sang Hyang. Agama apapun bisa menggunakannya, dan kebetulan mayoritas Islam yg terbiasa menggunakannya.🙂

    Tidak ada agama yg punya hak eksklusif terhadap suatu bahasa. Bahasa arab yg digunakan dalam kitab agama Islam pun digunakan oleh berbagai agama lainnya seperti Kristen, Katolik, Koptik, Yahudi, dan sebagainya.

    Ah, betapa indah teladan toleransi yg ditunjukkan 2 ULAMA BESAR Indonesia asal Sumatra Barat yaitu KH. BUYA HAMKA dan KH. AGUS SALIM. Saudara sedarah pun bebas beda agama, karena hal itu bergantung pada diri masing2, dan tentunya sudah takdir dari Allah SWT.

    ALLAH SWT menciptakan semua bahasa untuk Alam Semesta. Siapa Anda yg begitu congkak dan takabur sehingga melarang yg berbeda menggunakannya? (katakita)

  • Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    InfokomBanserNU- Semua orang pernah mengalami pubertas beragama, tapi biasanya itu gak lama, asal terus belajar dan tak berhenti membaca.

    Di pesantren, santri kelas wushto yg lagi semangat belajar Nahwu pasti sensi banget saat lihat kosakata arab yang i’robnya salah. Santri Ulya senyum-senyum saja. “Maklum belum hatam Alfiyah” katanya.

    Waktu ngajinya masih Fathul Qorib, keluar dari kamar mandi jinjit-jinjit, sarung diangkat di atas betis karena takut najis. Waktu udah hatam Fathul Jawad, baru sadar kalau semua itu lebay dan melampau batas.

    Pada ngaku gak, waktu ngaji Sulam Taufiq dikit-dikit bilang Murtad dan Syirik.
    Tapi setelah mempelajari syarahnya, Isy’adur Rofiq jadi lebih arif dan gak asal kritik.
    Mereka yang baru belajar baca Quran Terjemah, baca ayat jihad yang terbayang perang dan darah.

    Coba selami tafsirnya, pasti paham bagaimana sulitnya menahan amarah demi tersebarnya islam yang rahmah. Semakin bertambah ilmu semakin ringan menyelesaikan persoalan.
    Ibarat balon yang diisi Hellium bisa terbang melayang. Beda sama yang ditiup dengan mulut, melembung tapi nggelundung.

    Ngaji itu tak kenal berhenti, dari bayi sampai mati.
    Apakah biar menang debat? Bukan. Tapi biar tahu kalau kita ini gak tahu.

    #NUgarislucu
    wes ngunu ae

    (wali)