Tag: akhlaq

  • BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Akhir-akhir ini kita jumpai banyak orang HTI yang dandanannya tidak mencerminkan kondisinya. Misalnya bukan alumni Al-Azhar berdandan ala Azhari. Bukan kiai berdandan ala kiai. Bukan habib berdandan ala habaib. Ada lagi dandanan tidak serasi dengan fikrah yang dianutnya. Misalnya bersarung ala kiai Aswaja Nahdliyah, tapi menyuarakan khilafah. Bersorban ala Habaib tapi membenci ulil ‘amri.
    Ada juga yang menghiasi dirinya dengan mengenakan gelar-gelar keagamaan seperti ajengan, buya, kiai, tuan guru, guru dan sebagainya tapi kualitas ilmu, adab, akhlak dan ruhiyahnya jauh dari mencerminkan gelar-gelar tersebut. Gelar-gelar keagamaan diberikan masyarakat sebagai bentuk pengakuan atas kualitas orang yang digelari. Gelar-gelar itu tidak bisa diberikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain yang satu komunitas.
    Sudah bisa ditebak, motivasi di balik dandanan dan bergelar keagamaan yang dikenakan oleh ustadz yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi itu adalah suatu bentuk penipuan. Yang jelas, yang pertama kena tipu adalah dirinya sendiri, baru kemudian ada orang-orang awam ikut tertipu.
    Keserasian dandanan dengan kondisi seseorang menunjukkan kejujurannya. Di dalam kitab Lathaiful Minan, diceritakan bahwa ada seorang ahlu shuffah yang meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keeping dinar. Melihat itu Rasulullah saw bersabda, “ini dua barang di neraka.”
    Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy mengatakan bahwa banyak orang yang meninggal dunia pada masa Rasulullah saw dalam keadaan meninggalkan harta, namun Rasulullah saw tidak berkomentar seperti komentar di atas. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakkan kemiskinan padahal memiliki dua dinar. Ketika apa yang disembunyikannya tampak, Rasulullah saw berujar, “ini dua barang dari neraka”
    Ada cerita menarik tentang kejujuran ulama waliyullah dalam berdandan. Abul Qasim al-Junaid seorang waliyullah pemuka para sufi guru al-Hallaj. Sewaktu para ulama syariat sepakat untuk menghukum al-Hallaj, al-Junaid sedang mengenakan jubah sufi. Karena itu ia tidak mau membubuhkan tanda tangan. Tapi Khalifah mengatakan mereka butuh tanda tangan al-Junaid.
    Lalu al-Junaid pulang dan ganti pakaian dengan sorban dan jubah ulama syariat. Setelah itu al-Junaid menandatangani putusan para ulama syariat tersebut. Al-Junaid menulis: “Kami memutuskan berdasarkan hal-hal yang terlihat. Sementara tentang kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu.” Kisah ini diceritakan Syaikh Fariduddin al-Attar di dalam kitab Tadzkiratul Auliya Bab al-Hallaj.
    Amal akan diterima jika dilakukan dengan benar dan jujur (shidq). Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Jika kau menghendaki pahala untuk suatu amal, kau dituntut untuk mengerjakannya dengan benar dan jujur (shidq).” Sebab, balasan tidak akan diberikan kecuali untuk amal yang sempurna dari sisi wujud amal itu sendiri dan dari sisi niatnya. Semua terkandung dalam kata shidq yang berarti benar dan jujur, jelas Syaikh Zarruq di dalam syarah al-Hikam-nya.
    Amal yang manipulatif dengan dandanan dan gelar keagamaan yang tidak sesuai, terlihat seolah-olah sedang mengerjakan ketaatan, akan tetapi belum tentu diterima. Lebih lanjut Syaikh Ibnu ‘Athaillah bertutur, “Mungkin Dia membukakan untukmu pintu taat, dan tidak membukakan untukmu pintu penerimaan.” Kata Syaikh Zarruq, “amal tanpa penerimaan adalah seperti tidak beramal.” Na’udzubillah min dzalik. (abi sorban)
  • SILATURRAHMI IPNU IPPNU GILING BELAJAR TENTANG AKHLAQ

    SILATURRAHMI IPNU IPPNU GILING BELAJAR TENTANG AKHLAQ

    wp.sorbansantri.com – Ahad,24 Januari 2021, Alhamdulillah pada kesempatan kali ini bisa bersilaturahmi kepada rekan rekanita PR IPNU IPPNU Desa Giling. Terimakasih kehadiran dari rekan-rekanita atas kehadirannya. Semoga tetap istiqomah dalam menjalankan semua kegiatan,aminnn.
    SORBANSANTRI.COM
    Dan kesempatan pertemuan ini kita dihadiri oleh pemateri yang luar biasa. Oleh Bpk. Ngatwi sekaligus demisioner IPNU Kec Gunungwungkal. Tak lupa dari sebuah pertemuan pasti akan ada sebuah kesimpulan didalam forum tsb.
    Nah kali ini kita membahas tentang akhlaq. Dimana ilmu tanpa akhlaq seperti api tanpa kayu bakar,dan akhlaq tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh. Karena sesukses apapun dia sekaya apapun dia dari nasab apapun dia jika tanpa akhlaq tidak ada apa apanya. Dan tidak ada bedanya dengan orang bodoh tanpa ilmu tanpa akhlaq.
    Buat rekan rekanita semua tempat itu sekolah dan semua orang itu guru.
    Tetap jaga kesehatan,jaga jarak,dan cuci tangan dan pakai masker
    Stay save rekan dan rekanita✨
    Alhamdulillah bismillah istiqomah (ipnu ippnu giling)
  • Habib Ali al-Jufri: Mereka Bukan Menggambar Nabi, Tapi Menggambar Perbuatan Muslim yang Bertentangan dengan Ajaran Nabi

    Habib Ali al-Jufri: Mereka Bukan Menggambar Nabi, Tapi Menggambar Perbuatan Muslim yang Bertentangan dengan Ajaran Nabi

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Habib Ali al-Jufri memberikan tanggapan terkait salah satu tabloid di Perancis yang dianggap telah menghina Islam dengan menggambar nabi. Bukan marah dan memaki-maki sebagaimana beberapa orang, Habib Ali justru introspeksi diri.

    Menurut Habib Ali al-Jufri, orang yang menggambar nabi sejatinya mereka bukan menggambar nabi, melainkan menggambar perbuatan kita yang tidak seperti ajaran dan akhlak nabi.

    “Duhai Rasulullah, orang-orang bodoh yang menggambarmu, sejatinya bukan menggambarmu, melainkan menggambar apa yang mereka lihat pada diri kami, yang bertentangan dengan ajaran yang engkau bawa,” tutur Habib Ali al-Jufri dikutip dari Bincangsyariah.com.

    “Dulu pada saat kami belajar, jika kami mendatangi seorang yang alim, kami lebih senang belajar adabnya dulu daripada ilmunya” -Imam Az-Zuhri pic.twitter.com/jEOGw4bskR

    Akhlak Habib Ali al-Jufri ini mungkin perlu kita tiru. Saat ada orang yang kita anggap menistakan Islam atau menghina Nabi, jangan lantas kita marah kepada mereka. Siapa tahu, mereka berbuat demikian karena perbuatan kita yang membuat Islam terlihat rendah di mata pemeluk agama lain. Siapa tahu, mereka berbuat demikian karena melihat amal keseharian kita yang bertentangan dengan ajaran Islam dan akhlak nabi yang ramah dan damai. Kita tentu perlu introspeksi diri.

    Pernyataan Habib Ali al-Jufri ini juga senada dengan tausiyah Habib Umar bin Hafidz, yang juga merupakan guru beliau. Menurut Habib Umar, perbuatan semacam ini merupakan tindakan orang-orang bodoh yang tidak mengenal Islam dengan baik dan benar. Hal ini tentu menjadi PR bagi seluruh umat Islam untuk menebarkan citra Islam yang baik kepada semua orang. Kita bisa menganalkan ajaran Islam yang baik dan ramah melalui akhlak dan keseharian kita.

    Berbagai perbuatan kita yang dirasa malah menambah buruk citra Islam perlu kita hindari. Walaupun masih ada beberapa muslim yang suka marah-marah, mencaci maki, menghalalkan kekerasan, sejatinya bukan itu ajaran Islam.

    Kita perlu mengenal lebih banyak ajaran Nabi dengan memperhatikan akhlak beliau yang mulia. Satu hal yang paling penting sebagai cerminan akhlak nabi adalah pemaaf. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Nabi SAW pernah dilempari batu dan dihina saat berdakwah di Thaif. Nabi bisa saja membalas mereka, namun itu diurungkan. Nabi malah memilih untuk berdoa agar mereka diampuni oleh Allah SWT.

    Semoga kita selalu menjadi pemuja dan pembela nabi dengan mengamalkan akhlak beliau yang mulia. Amin. (abi sorban)

  • SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi. NU adalah aliran yang benar.

    Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
    1. Aqidah(tauhid)
    2. Syariah (fiqh)
    3. Akhlak (Tasawuf)

    SANAD AQIDAH ASY’ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:

    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafi’i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
    Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
    Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
    Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
    Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
    Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
    Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
    Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
    Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
    Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
    Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
    Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
    Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
    Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
    Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya
    Imam Malik bin Anas, dari gurunya
    Imam Nafi’, dari gurunya
    Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
    Sayyidina Rasulullah Saw.
    Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah juz 1 hal. 7)
    SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
    Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
    Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
    Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
    Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy’ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

    SANAD ILMU FIQIH NAHDLATUL ULAMA

    Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

    1. Jalur Imam Malik

    Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    1. Jalur Imam Abu Hanifah

    Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

    Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

    Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i

    Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

    Thabqah II

    Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

    Thabqah III

    al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

    Thabqah IV

    al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

    Thabqah V

    al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

    Thabqah VI

    Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).

    Thabqah VII

    Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

    Thabqah VIII

    Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

    Thabqah IX

    Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

    Thabqah X

    Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

    Thabqah XI

    Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

    Thabqah XII

    Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyad al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

    Thabqah XIII

    Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

    Thabqah XIV

    KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

    Referensi:

    1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
    2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
    3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

    SANAD TASHAWWUF ANNAHDLIYYAH

    Dalam bidang Tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297H.) dan Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.). KH. M. Hasyim Asy’ari berguru kepada:
    Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, dari gurunya
    Syaikh Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syinwani, dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Hijazi, (memiliki dua jalur, pertama) dari gurunya Mahmud bin Abu Yazid al-Kurdi, dari gurunya Muhammad bin Salim al-Hifni, (kedua) dari al-Hifni, dari gurunya
    Syaikh Mushtafa al-Bakri (w. 1162 H), dari gurunya
    Syaikh Abdullathif al-Halabi, dari gurunya
    Syaikh Musthafa al-Afandi, dari gurunya
    Syaikh Ali Qarrah Basya, dari gurunya
    Syaikh Ismail al-Jurumi, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Fuadi, dari gurunya
    Syaikh Muhyiddin al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Sya’ban al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Khairuddin al-Waqqadi, dari gurunya
    Syaikh Sulthan Afandi (populer dengan Jamal al-Halwati), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Bahauddin asy-Syairawani, dari gurunya
    Syaikh Jalaluddin Yahya al-Bakuri, dari gurunya
    Syaikh Shadruddin al-Jayani, dari gurunya
    Syaikh Izzuddin asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Muhammad Amiram al-Khalwati, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Khalwati, dari saudaranya
    Syaikh Muhammad al-Khalwati asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Ibrahim az-Zahid al-Kailani, dari gurunya
    Syaikh Jamaluddin at-Tibrizi (populer dengan Ibnu Shaidalani), dari gurunya
    Syaikh Syihabuddin Muhammad bin Mahmud al-Atiqi asy-Syairazi, dari gurunya
    Syaikh Ruknuddin Abu Ghanaim Muhammad bin Fadhl an-Najjasyi, dari gurunya
    Syaikh Quthbuddin Muhammad bin Ahmad al-Abhari, dari gurunya
    Syaikh Abu Najib al-Abhari (wf. 563 H), dari gurunya
    Syaikh Umar al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Wajihuddin al-Qadhi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Ahmad ad-Dainuri, dari gurunya
    Syaikh Mamsyad ad-Dainuri, dari gurunya
    Imam Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), dari gurunya
    Imam Sirri as-Saqathi (w. 253 H), dari gurunya
    Imam Abu Mahfudz Ma’ruf al-Karakhi (w. 200 H), dari gurunya
    Imam Dawud ath-Thai (w. 165 H), dari gurunya
    Imam Habib al-Ajami, dari gurunya
    Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), dari gurunya
    Amirul Mu’minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. (w. 40 H), dari gurunya
    Sayyidina Rasulullah Saw.

    Diambil dari akun Nun Al Bani

  • KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher baginda. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.

    (lebih…)