Tag: arab

  • Menjadi Muslim Moderat di Era Milenial

    Menjadi Muslim Moderat di Era Milenial

    wp.sorbansantri.com – Islam adalah agama moderat. Agama yang menolak paham ekstrimisme dan liberalisme. Moderat dalam istilah Arab disebut Wasathiy atau Wasathiyah. Wustha berarti tengah dan wasith berarti netral atau tidak memihak salah satunya. Konsep Wasathiyah berarti konsep moderasi beragama.

    Landasan moderasi beragama, tercatat dalam Al-Qur’an sebagaimana ayat:

    وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (Q.S Al-Baqarah: 143)

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

  • Pancasila Selaras dengan Syari’at

    Pancasila Selaras dengan Syari’at

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.

    Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.

    Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.

  • Sambung Silaturrahmi Satsus  BALANTAS PC Mojokerto Turba ke PAC Trowulan

    Sambung Silaturrahmi Satsus BALANTAS PC Mojokerto Turba ke PAC Trowulan

    Mjokerto.Sorbansantri.com – Untuk menyambung ikatan tali persaudaraan antar Jajaran Pengurus Cabang (PC) dan anggota Pimpinan Anak Cabang (PAC) berbagai cara di lakukannya, salah satunya pada hari sabtu malam (05-02- 2022) Satuan Kusus (Satsus) Banser Lalu Lintas (BALANTAS) kabupaten Mojokerto mengadakan acara giat turba ke PAC Trowulan tepatnya di balai dusun Bacang desa Pakis.

    Tujuan bersilaturrahmi sesama anggota BALANTAS dan juga sekaligus latber (latihan bersama) untuk pemantapan 12 gerakan yang ada di dalam sistim lalu lintas, karena Balantas adalah Satuan Kusus yang membidangi tentang keamanan dan keselamatan di jalan raya maka di perlukan latihan kusus untuk belajar tata cara pengamanan yang benar sehingga ketika bertugas di lapangan sudah faham sesuai apa yang telah di ajarakannya.

     

    Dalam acara turba kali ini di hadiri oleh ketua PAC GP Ansor kecamatan Trowulan beserta jajarannya, anggota Banser Satkoryon PAC Trowulan, pengurus harian Satsus Balantas Cabang, dan juga anggota Satsus Provost Cabang.

     

    Menurut Kasatsus Balantas pimpinan cabang Mojokerto komandan Koko sapa’an akrapnya mengatakan, dari pertemuan atau giat turba kali ini selain kita belajar bareng dan praktek tentang tata cara penanganan ketika di jalan raya, juga kita mengadakan musyawarah bersama dan mendapatkan beberapa poin hasil yakni diantaranya, intruksi keanggotaan Balantas, anggota balantas yang masuk di tingkatan cabang wajib sudah pernah mengikuti Diklatsus dan menyetorkan bio data sesuai KTP yang masih berlaku, pimpinan cabang Balantas agar berupaya untuk melakukan kegiatan latber di tiap tiap PAC setiap 1 bulan sekali, Pungkasnya

     

    Harapan dari pengurus cabang setelah di adakan turba ini adalah kita berharab mudah mudahan anggota Balantas baik di tingkatan PAC maupun Cabang kedepannya tambah semangat untuk berhikmad mengawal setiap ada kegiatan ke agamaan lebih lebih bisa membantu masyarakat pada umumnya dan kita berupaya untuk menjaring keanggotaan di tingkatan PAC yang ada di seluruh kabupaten Mojokerto. (hasan-ngoro)

  • Lafadz dan bacaan Adzan Arab, latin, artinya

    Lafadz dan bacaan Adzan Arab, latin, artinya

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com- Adzan merupakan panggilan bagi umat muslim sebagai penanda waktunya untuk menunaikan kewajiban salat fardu. adzan dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat lima waktu.

    Ketika seorang muslim mendengarkan adzan maka disunahkan untuk menjawab adzan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan: “Hayya alash-shalah”, “Hayya alal-falah”, dan “Ashsalatu khairum minan-naum”.

    Di Indonesia sendiri hampir setiap tempat hanya berjarak beberapa kilometer sudah ada masjid atau mushola, bahkan adzan bisa dikumandangkan secara bersamaan.

    Ada hal yang menarik di Indonesia mengenai adzan, dimana, adzan adalah sebuah kumandang yang tidak akan pernah berhenti. Setiap daerah memiliki waktu adzan yang berbeda-beda. Sehingga suara ini akan terus berderu selama 24 jam tanpa henti.

    “Wa anum minallhi wa raslih ilan-nsi yaumal-ajjil-akbari annallha bar`um minal-musyrikna wa rasluh, fa in tubtum fa huwa khairul lakum, wa in tawallaitum fa’lam annakum gairu mu’jizillh, wa basysyirillana kafar bi’abin alm.”

    Artinya: “Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

    Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah.

    Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

    Berikut ini lafadz adzan:

    Arab:

    (٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

    (٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

    (٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

    (٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

    (٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

    (١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

    (١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

     

    Latin:

    Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)

    Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)

    Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)

    Hayya ‘alashshalaah (2x)

    Hayya ‘alalfalaah. (2x)

    Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)

    Laa ilaaha illallaah (1x)

    Artinya :

    Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

    Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah

    Aku menyaksikan bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah

    Marilah Sholat

    Marilah menuju kepada kejayaan

    Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

    Tiada Tuhan selain Allah

    Kemudian, untuk lafadz adzan subuh ada kalimat yang ditambahkan, yakni

    Arab: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

    Latin: Ash-shalaatu khairum minan-nauum

    Artinya: Sholat itu lebih baik dari pada tidur

    dan dibaca 2x setelah lafadz Hayya ‘alalfalaah

    (abi sorban)

     

  • Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Islam ada bukan untuk mengubah ucapan “sampurasun” atau “selamat pagi/siang” atau “good morning” atau “Syalom” dan lain sebagainya menjadi “assalamu’alaikum”. Seperti ucapan selamat yang lain, “assalamu’alaikum” juga sama: baik kaum Muslim maupun non-Muslim yang berbahasa Arab akan mengucapkan “kalimat perdamaian” ini. Para kolegaku yang non-Muslim tiap hari bilang “salamu’alaikam-salamu’alaikum”.

    Karena itu jika ada sejumlah kelompok non-Muslim yang “alergi” dengan kalimat “salam damai” ini karena dipandang sebagai “ucapan selamatnya orang Islam” sama lucunya dengan sejumlah kelompok Muslim yang bernafsu ingin mengganti semua ucapan salam dalam bahasa lokal menjadi “assalamu’alikum” karena dipandang “lebih Islami”. Tidak ada hubungannya antara “assalamu’alaikum” dengan “identitas keislaman”.

    Islam hadir bukan untuk “meng-Arab-kan” bangsa, bahasa dan budaya lain: mengubah ayah/bunda, bapak/ibu, bapake/simboke dan lain sebagainya menjadi “abi/umi”, mengganti saudara/saudari menjadi ikhwan/akhwat atau akhi/ukhti dan lain sebagainya. Kehadiran Islam tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlak dan moralitas manusia, agar kaum Muslim menjadi “Muhammad-Muhammad kecil” yang mampu membawa perubahan positif, rahmat dan kedamaian bagi semua umat manusia dan alam raya ini.

    Apalah artinya fasih berbahasa Arab, jika kefasihan itu kalian gunakan untuk mencaci-maki bahasa lain dan menebar kebencian terhadap orang dan budaya lain; apalah artinya pandai berdalil jika dalil itu kau gunakan untuk memfitnah dan menyebarkan kekerasan kepada orang lain; apalah artinya berjidat hitam jika otak dan perilaku kalian hitam-legam sehitam jidat kalian;

    Apalah artinya berjenggot panjang jika keburukan dan kejahatan kalian sama dengan jenggot kalian yang menjuntai itu; dan apalah artinya berpakaian meniru-niru Nabi Muhammad SAW, jika ternyata pikiran dan tindakan kalian seperti “begundal tengik” Abu Jahal wa ala alihi wa ashhabihi ajma’in. (red)