Tag: arabisasi

  • Pertanyaan Di Alam Kubur Pakai Bahasa Apa?

    Pertanyaan Di Alam Kubur Pakai Bahasa Apa?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Belum ditemukan dalil secara pasti dalam masalah ini. Sehingga para ulama berbeda pendapat menjadi 3. Ada yang mengatakan pakai bahasa Suryani, bahasa Arab dan sesuai bahasa kita.

    Berikut penjelasan Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi:

    ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺷﻴﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻋﻠﻢ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻳﺠﻴﺐ اﻟﺴﺆاﻝ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﺮ ﺑﺎﻟﺴﺮﻳﺎﻧﻴﺔ ﻭﻟﻢ ﺃﻗﻒ ﻟﺬﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﺘﻨﺪ ﻭﺳﺌﻞ اﻟﺤﺎﻓﻆ ﺇﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻘﺎﻝ ﻇﺎﻫﺮ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻧﻪ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻲ ﻗﺎﻝ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﻄﺎﺏ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺑﻠﺴﺎﻧﻪ

    Dalam kitab Fatawa Guru kami, Al Bulqini, dijelaskan bahwa mayit akan menjawab pertanyaan di alam kubur dengan bahasa Suryani. Tapi saya tidak menemukan dalilnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar ditanya soal itu dan menjawab bahwa zahir hadis adalah dengan bahasa Arab. Boleh jadi pertanyaan-jawaban itu sesuai dengan bahasanya mayit (Syarh As-Shudur, 147)

    Walaupun ada diantara kita yang belum bisa Bahasa Arab jangan khawatir tidak bisa jawab, sebab jawabannya sudah dibocorkan oleh Pak Modin saat Talqin. Makanya lebih enak jadi warga NU. Tetap dirawat meski sudah meninggal. (abi tsani)

  • Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Islam ada bukan untuk mengubah ucapan “sampurasun” atau “selamat pagi/siang” atau “good morning” atau “Syalom” dan lain sebagainya menjadi “assalamu’alaikum”. Seperti ucapan selamat yang lain, “assalamu’alaikum” juga sama: baik kaum Muslim maupun non-Muslim yang berbahasa Arab akan mengucapkan “kalimat perdamaian” ini. Para kolegaku yang non-Muslim tiap hari bilang “salamu’alaikam-salamu’alaikum”.

    Karena itu jika ada sejumlah kelompok non-Muslim yang “alergi” dengan kalimat “salam damai” ini karena dipandang sebagai “ucapan selamatnya orang Islam” sama lucunya dengan sejumlah kelompok Muslim yang bernafsu ingin mengganti semua ucapan salam dalam bahasa lokal menjadi “assalamu’alikum” karena dipandang “lebih Islami”. Tidak ada hubungannya antara “assalamu’alaikum” dengan “identitas keislaman”.

    Islam hadir bukan untuk “meng-Arab-kan” bangsa, bahasa dan budaya lain: mengubah ayah/bunda, bapak/ibu, bapake/simboke dan lain sebagainya menjadi “abi/umi”, mengganti saudara/saudari menjadi ikhwan/akhwat atau akhi/ukhti dan lain sebagainya. Kehadiran Islam tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlak dan moralitas manusia, agar kaum Muslim menjadi “Muhammad-Muhammad kecil” yang mampu membawa perubahan positif, rahmat dan kedamaian bagi semua umat manusia dan alam raya ini.

    Apalah artinya fasih berbahasa Arab, jika kefasihan itu kalian gunakan untuk mencaci-maki bahasa lain dan menebar kebencian terhadap orang dan budaya lain; apalah artinya pandai berdalil jika dalil itu kau gunakan untuk memfitnah dan menyebarkan kekerasan kepada orang lain; apalah artinya berjidat hitam jika otak dan perilaku kalian hitam-legam sehitam jidat kalian;

    Apalah artinya berjenggot panjang jika keburukan dan kejahatan kalian sama dengan jenggot kalian yang menjuntai itu; dan apalah artinya berpakaian meniru-niru Nabi Muhammad SAW, jika ternyata pikiran dan tindakan kalian seperti “begundal tengik” Abu Jahal wa ala alihi wa ashhabihi ajma’in. (red)