Tag: arti

  • Bahtsul Masail Tentang Nasab Habib Baโ€™alwi

    Bahtsul Masail Tentang Nasab Habib Baโ€™alwi

    Deskripsi Masalah

    Hampir dua tahun ini, media sosial diramaikan oleh diskursus tentang nasab para habib di Indonesia yang berasal dari Klan Baโ€™alwi. Diskursus itu dipicu oleh sebuah โ€œtesisโ€ seorang ulama asal Banten yang bernama K.H. Imaduddin Utsman al Bantani yang menyatakan bahwa nasab mereka kepada Nabi Muhammad SAW terbukti sebagai nasab yang โ€œbatilunโ€, โ€œmauduโ€™unโ€ munqatiโ€™unโ€ (batal, palsu dan terputus). Majalah berita mingguan TEMPO, dalam edisi liputan khusus โ€˜;Idul Fitri 1445 H, mengangkat isu ini dalam salah satu judul bagian kontroversi โ€œPenelitian Imaduddin Utsman mengungkap dugaan terputusnya nasab habib di Indonesiaโ€.

    Klan Baโ€™alwi sendiri berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Sebagian dari mereka bermigrasi secara masiv ke Indonesia pada sekitar tahun 1880 sampai tahun 1943 M (Jajat Burhanuddin, 2022). Dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan keagamaan, mereka mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dengan sebutan โ€œhabibโ€. Dalam literature kitab-kitab karya ulama mereka, hubungan kekerabatan nasab mereka dengan Nabi Muhammad SAW itu diperoleh melalui jalur Ahmad bin โ€˜Isa (w. 345 H. ?) bin Muhammad al-Naqib bin โ€˜Ali al-โ€˜Uraidi bin Jaโ€™far al-Sadiq bin Muhmmad al-Baqir bin โ€˜Ali Zainal โ€˜Abidin bin Husain bin Fatimah binti Nabi Muhammad SAW. Ahmad bin Isa sendiri telah terkonfirmasi dalam kitab-kitab nasab muโ€™tabar sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

    Untuk klaimnya tersebut, setelah 550 tahun wafatnya Ahmad bin Isa, mereka menulis banyak kitab-kitab mulai dari abad sembilan sampai abad kelimabelas Hijriah tentang historiografi sejarah ketokohan dan nasab leluhur mereka. Ulama klan Baโ€™alwi yang pertama menulis historiografi tersebut adalah Ali bin Abubakar al Sakran (w.895 H.) dalam kitabnya yang berjudul โ€œAl Burqat al Musyiqatโ€, dilanjutkan oleh Abubakar bin Abdullah al Idrus (w.914 H.) dalam kitabnya โ€œAl Juzโ€™ al Latifโ€ dan Muhammad Ali Khirid Baโ€™alwi (w.960 H.) dalam kitabnya โ€œAl Gurarโ€. Dalam kitab-kitab (sumber internal) tersebut mereka menyatakan bahwa Ahmad bin Isa โ€œhijrahโ€ (pindah) dari Bashrah ke Hadramaut tahun 317 H, sehingga ia dikenal dengan gelar โ€œal-muhajirโ€ (orang yang berpindah). Ahmad bin Isa, menurut mereka, adalah seorang โ€œimamโ€ yang wafat dan dimakamkan di Hadramaut. Mereka juga menyatakan bahwa leluhur mereka yang bernama โ€˜Ubaidillah (w. 383 H.) adalah seorang โ€œimamโ€ dan ulama yang merupakan salah satu dari anak Ahmad bin Isa.

    Adapun silsilah lengkap nasab Ali bin Abubakar al Sakran sampai Ahmad bin Isa, sebagaimana yang ditulis oleh yang bersangkutan dalam โ€œAl Burqatโ€ adalah: Ali (w. 895 H.) bin Abubakar al Sakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi Al Gayyur bin Muhammad (Faqih Muqoddam) bin Ali bin Muhammad (Sahib Mirbat) bin Ali Khaliqosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah (w. 383 H.) โ€œbinโ€ Ahmad bin Isa (w. 345 H.) (Al Burqat h. 148-149).

    Menurut Kiai Imad, klaim-klaim yang dinyatakan ulama ulama Ba’alwi itu tidak berdasar referensi apapun. Ahmad bin Isa tidak terkonfirmasi dalam kitab- kitab abad empat sampai kedelapan Hijriah berhijrah ke Hadramaut; begitupula ia tidak terkonfirmasi dalam kitab-kitab abad keempat sampai delapan Hijriah bergelar “al Muhajir” dan wafat serta dimakamkan di Hadramaut; seperti juga ia tidak terkonfirmasi kitab abad keempat sampai delapan Hijriah ia mempunyai anak bernama Ubaidillah.

    Menurut Kiai Imad, pengakuan itu baru muncul pada abad kesembilan Hijriah diplopori oleh Ali bin Abubakar al Sakran yang wafat tahun 895 H. Menurut Kiai Imad, pengakuan keluarga Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW itu tertolak karena pengakuan itu tidak terkonfirmasi sumber-sumber sejarah sebelumnya.

    Diskursus itu semakin meluas ketika seorang ahli biologi yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional yang bernama DR. Sugeng Pondang Sugiharto menyatakan bahwa dari 180 orang klan Baโ€™alwi yang telah melakukan uji tes DNA, hasil mereka menunjukan bahwa mereka tidak terkonfirmasi secara genetic sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Menurut DR Sugeng, jangankan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, klan Baโ€™alwi ini tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Arab garis Nabi Ibrahim AS.

    PERTANYAAN:

    1. Adakah kitab abad keempat sampai delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut?

    2. Adakah kitab abad keempat sampai abad ke delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa bergelar Al Muhajir?

    3. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut?

    4. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ubaidillah adalah salah satu anak dari Ahmad bin Isa?

    5. Benarkah hasil tes DNA Klan Baโ€™alwi (habib) terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW?

    6. Apa hukum penggunaan tes DNA dalam memvalidasi nasab menurut hukum Islam?

    Draft Jawaban Bahtsul Masaโ€™il Tentang Nasab Baโ€™alwi

    1. Adakah kitab abad keempat sampai delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut?

    Tidak ada kitab-kitab nasab dan sejarah yang sezaman atau yang paling dekat masanya dengan Ahmad bin โ€˜Isa sampai abad ke delapan Hijriah yang mengkonfirmasi bahwa Ahmad bin โ€˜Isa pernah ke Hadramaut, apalagi hijrah untuk menetap di sana. โ€˜Ali bin Abu Bakar al-Sakran (w.895 H.), adalah ulama dari klan Baโ€™alwi yang pertama secara formal menulis bahwa Ahmad bin โ€˜Isa hijrah dari Basrah ke Hadramaut (Al Burqat h. 131) tanpa referensi.

    Ahmad bin Isa tereportase berada di Madinah tahun 234 H di sebuah kampung bernama โ€œSuryaโ€ oleh seorang ulama bernama Abu Jaโ€™far Muhammad bin al-Hasan al-Tusi (w. 460 H.) dalam kitabnya โ€œAl-Gaybahโ€.

    165ุนู†ู‡ ุนู† ุงุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ุนู„ูˆูŠ ู…ู† ูˆู„ุฏ ุนู„ูŠ ุจู† ุฌุนูุฑ ู‚ุงู„: ุฏุฎู„ุช ุนู„ู‰ ุงุจูŠ ุงู„ุญุณู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุจุตุฑูŠุง ูุณู„ู…ู†ุง ุนู„ูŠู‡ ูุฅุฐุง ู†ุญู† ุจุฃุจูŠ ุฌุนูุฑ ูˆุงุจูŠ ู…ุญู…ุฏ ู‚ุฏ ุฏุฎู„ุง ูู‚ู…ู†ุง ุงู„ู‰ ุงุจูŠ ุฌุนูุฑ ู„ู†ุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ ูู‚ุงู„ ุงุจูˆ ุงู„ุญุณู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ู„ูŠุณ ู‡ุฐุง ุตุงุญุจูƒู… ุนู„ูŠูƒู… ุจุตุงุญุจูƒู… ูˆุงุดุงุฑ ุงู„ู‰ ุงุจูŠ ู…ุญู…ุฏ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู…

    Terjemah:

    โ€œ165-Diriwayatkan darinya (Saโ€™ad bin Abdullah), dari Ahmad bin โ€˜Isa al-Alwi, dari keturunan โ€˜Ali bin Jaโ€™far, ia berkata: โ€˜Aku menemui โ€˜Ali Abul Hasan, alaihissalam, di Surya, maka kami mengucapkan salam kepadanya, kemudian kami bertemu Abi Jaโ€™far dan Abi Muhammad, keduanya telah masuk, maka kami berdiri untuk Abi Jaโ€™far untuk mengucapkan salam kepadanya, kemudian Abul Hasan, alalihislam, berkata: โ€˜Bukan dia sohibmu (pemimpinmu), perhatikanlah pemimpinmu, dan ia mengisaratkan kepada Abi Muhammad, alaihissalamโ€.

    Dari riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal: pertama bahwa Ahmad bin โ€˜Isa adalah seorang โ€œsyiโ€™iy imamiyโ€ (orang Syiโ€™ah Imamiyah). Sulit sekali untuk dimengerti dan diterima logika, seorang Syiโ€™ah Imamiyah seperti Ahmad bin โ€˜Isa, kemudian ia hijrah ke Hadramaut yang ketika itu dikuasai oleh kaum Ibadiyah yang anti terhadap Syiโ€™ah. ; kedua, Ahmad bin โ€˜Isa berada di Kota Madinah pada tahun 234 H sekitar umur 20 tahun. Dari situ, historiografi ulama Baโ€™alwi menghadapi kontradiksi dilihat dari urutan tahun yang mereka ciptakan. Misalnya, Baโ€™alwi mencatat, bahwa tahun hijrah Ahmad bin โ€˜Isa ke Hadramaut adalah tahun 317 Hijriah (Al Gurar h. 96), dan tahun wafatnya adalah tahun 345 Hijriah (Al Masyraโ€™ al Rawi Juz 1 h. 249). Jika Ahmad bin โ€˜Isa, pada tahun 234 H. berumur 20 tahun, maka berarti ketika hijrah itu ia telah berumur 103 tahun, dan ketika wafat ia telah berumur 131 tahun. Sangat janggal, ada seseorang yang sudah tua renta yang berumur 103 tahun berpindah dari Basrah ke Hadramaut dengan jarak lebih dari 2000 km. seperti juga sangat kecil kemungkinan ada orang yang bisa mencapai usia 131 tahun.

    Kesimpulan: Tidak ada kitab-kitab abad keempat sampai kedelapan yang menyatakan Ahmad bin Isa pindah ke Hadramaut.

    Kronologi narasi Baโ€™alwi bahwa Ahmad bin Isa hijrah dari Basrah ke Yaman:

    1) Mengira bahwa Ahmad bin Isa bin Muhammad al Naqib ada di Basrah. Padahal yang di Basrah itu adalah Ahmad bin Isa bin Zaid bukan Ahmad bin Isa bin Muhammad al Naqib.

    2) Mendompleng sejarah Bani Ahdal yang disebut Al Janadi (w. 732 H.) dalam kitab Al Suluk bahwa leluhurnya yang bernama Muhammad bin Sulaiman berhijrah dari Irak ke Yaman (Al Suluk juz 2 h. 360). lalu Baโ€™alwi menyatakan bahwa leluhur mereka Ahmad bin Isa ikut berhijrah ke Yaman bersama Muhammad bin Sulaiman itu.

    3) Dalam kitab keluarga Baโ€™alwi Al Gurar (h. 98) karya Muhammad Ali Khirid (w. 960 H.) dan kitab keluarga Al Ahdal yaitu Tuhfat al Zaman (juz 2 h. 238) karya Husain Al Ahdal (w.855 H.) disebut antara Muhammad bin Sulaiman dan Ahmad bin Isa adalah saudara kandung atau saudara sepupu. Berarti ayah atau kakeknya harusnya sama. Tetapi hari ini silsilah Baโ€™alwi dan Al Ahdal berbeda beda. Baโ€™alwi menulis Alwi bin Ubed bin Ahmad bin Isa terus sampai ke Ali Al Uraidi; sedangkan Al Ahdal menulis silsilahnya Muhammad bin Sulaiman bin Ubed bin Isa bin Alwi terus sampai ke Musa al Kadzim. Tidak ketemu satu kakek.bagaimana dua orang bersaudara garis laki tapi kakeknya tidak sama?

    2. Adakah kitab abad keempat sampai abad ke delapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa bergelar Al Muhajir?

    Tidak ada kitab abad ke-empat sampai kedelapan yang menyebut Ahmad bin Isa bergelar โ€œAl Muhajirโ€. Gelar yang ditulis oleh kitab-kitab nasab untuk Ahmad bin Isa adalah โ€œAl Abahโ€ dan โ€œAl Naffatโ€. penyebutan pertama dari keluarga Baโ€™alwi untuk Ahmad bin โ€˜Isa dengan sebutan โ€œAl-muhajirโ€ dilakukan oleh Ahmad bin Zein al-Habsyi (w.1144 H.) ulama abad ke duabelas Hijriah dalam kitab โ€œSyarh al โ€˜Ainiyyahโ€ (h.129).. Jadi, gelar itu disematkan kepadanya setelah 799 tahun, dihitung mulai dari wafatnya Ahmad bin โ€˜Isa sampai wafatnya Ahmad bin Zein al-Habsy.

    Perhatikan redaksi Al-Ubaidili (w.437 H.) dalam kitab โ€œTahdzib al Ansabโ€ di bawah ini:

    ูˆุงุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ู†ู‚ูŠุจ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุงู„ุนุฑูŠุถูŠ ูŠู„ู‚ุจ ุงู„ู†ูุงุท

    Terjemah:

    โ€œDan Ahmad bin โ€˜Isa al-Naqib bin Muhammad bin โ€˜Ali al-Uraidi, diberi gelar โ€˜al-Naffatโ€™โ€ (Tahdzib al Ansab, h.176)

    Perhatikan pula redaksi Al Umari (w.490 H.) dalam kitab โ€œAl Majdiโ€ di bawah ini:

    ูˆุฃุญู…ุฏ ุงุจูˆ ุงู„ู‚ุงุณู… ุงู„ุงุจุญ ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุจุงู„ู†ูุงุท ู„ุงู†ู‡ ูƒุงู† ูŠุชุฌุฑ ุงู„ู†ูุท ู„ู‡ ุจู‚ูŠุฉ ุจุจุบุฏุงุฏ ู…ู† ุงู„ุญุณู† ุงุจูŠ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฏู„ุงู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูˆุฑ ุจุจุบุฏุงุฏ ุฑุฃูŠุชู‡ ู…ุงุช ุจุฃุฎุฑู‡ ุจุจุบุฏุงุฏ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงู„ุนุฑูŠุถูŠ .

    Terjemah:

    โ€œDan Ahmad Abul Qasim al-Abh yang dikenal dengan โ€œal-naffatโ€ karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan di bagdad dari Al-Hasan Abu Muhammad al-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku melihatnya (Al-Hasan) wafat diakhir umurnya di Bagdad, ia (Al-Hasan) anak dari Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa bin Muhammad (al-Naqib) bin (โ€˜Ali) al-Uraidi.โ€ (Al Majdi: 337)

    3. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut?

    Tidak ada kitab sejarah dan kitab nasab yang menyatakan Ahmad bin Isa wafat dan dimakamkan di Hadramaut. Al-Janadi (w.732) dalam kitab Al Suluk tidak merekam adanya makam Ahmad bin โ€˜Isa, padahal ia sejarawan yang rajin mencatat nama-nama makam yang diziarahi dan dianggap berkah. Artinya pada tahun 732 H. itu, makam Ahmad bin โ€˜Isa belum dikenal (dibaca โ€˜tidak adaโ€™) seperti saat ini.

    berita makam Ahmad bin Isa terdapat di Hadramaut itu baru dicatat abad kesepuluh oleh Bamakhramah (w.947 H.) dalam kitabnya โ€œQiladat al Naharโ€. Bamakhramah pula menyebutkan bahwa makam itu diyakini ada di sana karena Abdurrahman Asegaf dulu berziarah di tempat itu berdasar cahaya yang terlihat memancar (Qiladat al Nahr, juz 2 h. 618). Jadi jelas makam yang sekarang dianggap makam Ahmad bin Isa itu adalah makam yang baru dibangun sekitar abad sembilan Hijriah.

    ูˆุชูˆููŠ ุงุญู…ุฏ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุจุงู„ุญุณูŠุณุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ูˆู‚ุจุฑู‡ ููŠ ุดุนุจู‡ุง ู‚ุงู„ ุงู„ุฎุทูŠุจ ูˆูƒุงู† ูŠุฑู‰ ุนู„ ุงู„ู…ูˆุถุน ุงู„ุฐูŠ ูŠุดุงุฑ ุงู„ูŠู‡ ุงู† ู‚ุจุฑู‡ ุงู„ุดุฑูŠู ููŠู‡ ุงู„ู†ูˆุฑ ุงู„ุนุธูŠู… ูˆูƒุงู† ุดูŠุฎู†ุง ุงู„ุนุงุฑู ุจุงู„ู„ู‡ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุนู„ูˆูŠ ูŠุฒูˆุฑู‡ ููŠ ุฐุงู„ูƒ ุงู„ู…ูƒุงู†

    Terjemah:

    โ€œDan Ahmad tersebut wafat di Husaisah yang telah disebut. Dan makamnya di Syiโ€™b Husaisah. Dilihat cahaya agung dari tempat yang diisyarahkan bahwa tempat itu adalah quburnya (Ahmad bin โ€˜Isa) yang mulia. Dan guru kami, Al-Arif Billah Abdurrahman bin Syekh Muhammad bin โ€˜Ali Alwi, berziarah ditempat itu.โ€ (Qiladat al Nahr: juz 2 h. 681)

    4. Adakah kitab abad keempat sampai kedelapan Hijriah yang menyatakan bahwa Ubaidillah adalah salah satu anak dari Ahmad bin Isa?

    Ahmad bin โ€˜Isa (w. 345 H.(?) dalam catatan kitab-kitab nasab yang paling dekat masanya dengannya, tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah. Adapun kitab-kitab yang mengkonfirmasi bahwa Ahmad bin โ€˜Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah/Abdullah adalah:

    Pertama, Kitab Tahdib al- Ansab wa Nihayat al-Alqab yang dikarang Al-Ubaidili (w.437 H.). Ketika ia menyebut keturunan โ€˜Ali al- Uraidi, Al-Ubaidili tidak menyebut nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin โ€˜Isa. Ia hanya menyebutkan satu anak dari Ahmad bin โ€˜Isa, yaitu Muhammad. Kutipan dari kitab tersebut seperti berikut ini:

    ูˆุงุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ู†ู‚ูŠุจ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุงู„ุนุฑูŠุถูŠ ูŠู„ู‚ุจ ุงู„ู†ูุงุท ู…ู† ูˆู„ุฏู‡ ุงุจูˆ ุฌุนูุฑ (ุงู„ุงุนู…ู‰) ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุŒ ุนู…ูŠ ููŠ ุขุฎุฑ ุนู…ุฑู‡ ูˆุงู†ุญุฏุฑ ุงู„ู‰ ุงู„ุจุตุฑุฉ ูˆุงู‚ุงู… ุจู‡ุง ูˆู…ุงุช ุจู‡ุง ูˆู„ู‡ ุงูˆู„ุงุฏ ูˆุฃุฎูˆู‡ ุจุงู„ุฌุจู„ ู„ู‡ ุงูˆู„ุงุฏ.

    Terjemah:

    โ€œDan Ahmad bin โ€˜Isa al-Naqib bin Muhammad bin โ€˜Ali al-Uraidi, diberikan gelar Al-Naffat, sebagian dari keturunannya adalah Abu Jaโ€™far (al-Aโ€™ma: yang buta) Muhammad bin โ€˜Ali bn Muhammad bin Ahmad, ia buta di akhir hayatnya, ia pergi ke Basrah menetap dan wafat di sana. Dan ia mempunyai anak. Saudaranya di Al-Jabal (gunung) juga mempunyai anak.โ€ (Tahdzib al Ansab, h. 176)

    Kedua, Kitab Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyin karya Sayyid Syarif Najmuddin โ€˜Ali bin Muhammad al-Umari al-Nassabah ) (w.490 H.). dalam kitab itu ia menyebutkan, bahwa di antara keturunan Ahmad bin โ€˜Isa ada di Bagdad, yaitu dari Al-Hasan Abu Muhammad al-Dallal Aladdauri bin Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa. Sama seperti Al-Ubaidili, Al-Umari hanya menyebutkan satu anak saja dari Ahmad bin โ€˜Isa. Kutipan lengkapnya seperti di bawah ini:

    ูˆุฃุญู…ุฏ ุงุจูˆ ุงู„ู‚ุงุณู… ุงู„ุงุจุญ ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุจุงู„ู†ูุงุท ู„ุงู†ู‡ ูƒุงู† ูŠุชุฌุฑ ุงู„ู†ูุท ู„ู‡ ุจู‚ูŠุฉ ุจุจุบุฏุงุฏ ู…ู† ุงู„ุญุณู† ุงุจูŠ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฏู„ุงู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูˆุฑ ุจุจุบุฏุงุฏ ุฑุฃูŠุชู‡ ู…ุงุช ุจุฃุฎุฑู‡ ุจุจุบุฏุงุฏ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงู„ุนุฑูŠุถูŠ.

    Terjemah:

    โ€œDan Ahmad Abul Qasim al-Abah yang dikenal dengan โ€œal-Naffatโ€ karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan di bagdad dari al-Hasan Abu Muhammad ad-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku melihatnya wafat diakhir umurnya di Bagdad, ia anak dari Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin (โ€˜Ali) al-Uraidi.โ€ (Al Majdi, h. 377)

    Ketiga, Kitab Muntaqilat al- Talibiyah karya Abu Ismail Ibrahim bin Nasir ibnu Tobatoba (w.400 an H.), yaitu sebuah kitab yang menerangkan tentang daerah-daerah lokasi perpindahan para keturunan Abi Talib. Dalam kitab itu disebutkan, bahwa keturunan Abi Talib yang ada di Roy adalah Muhammad bin Ahmad al-Naffat.

    (ุจุงู„ุฑูŠ) ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงุญู…ุฏ ุงู„ู†ูุงุท ุงุจู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุงูƒุจุฑ ุงุจู† ุนู„ูŠ ุงู„ุนุฑูŠุถูŠ ุนู‚ุจู‡ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ูŠ ูˆุงู„ุญุณูŠู†.

    Terjemah:

    โ€œDi Kota Roy, (ada keturunan Abu Talib bernama) Muhammad bin Ahmad an-Naffat bin โ€˜Isa bin Muhammad al-Akbar bin โ€˜Ali al-Uraidi. Keturunannya (Muhammad bin Ahmad) ada tiga: Muhammad, โ€˜Ali dan Husain.โ€ (Muntaqilat al Talibiyah, h.160)

    Kitab Al-Syajarah al-Mubarakah karya Imam Al-Fakhrurazi (w.606 H.), kitab itu selesai ditulis pada tahun 597 Hijriah, dalam kitab itu Imam Al-Fakhrurazi menyatakan dengan tegas bahwa Ahmad bin โ€˜Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah. Kutipan dari kitab itu sebagai berikut:

    ุฃู…ุง ุฃุญู…ุฏ ุงู„ุงุจุญ ูุนู‚ุจู‡ ู…ู† ุซู„ุงุซุฉ ุจู†ูŠู†: ู…ุญู…ุฏ ุงุจูˆ ุฌุนูุฑ ุจุงู„ุฑูŠุŒ ูˆุนู„ูŠ ุจุงู„ุฑู…ู„ุฉุŒ ูˆุญุณูŠู† ุนู‚ุจู‡ ุจู†ูŠุณุงุจูˆุฑ.

    Terjemah:

    โ€œAdapun Ahmad al-Abh, maka anaknya yang berketurunan ada tiga: Muhammad Abu jaโ€™far yang berada di kota Roy, โ€˜Ali yang berada di Ramallah, dan Husain yang keturunanya ada di Naโ€™Isaburi.โ€ (Al Syajarah al Mubarakah, h. 111)

    Dari kutipan di atas, Imam Al-Fakhrurazi tegas menyebutkan bahwa Ahmad al-Abh bin โ€˜Isa keturunannya hanya dari tiga anak, yaitu: Muhammad, โ€˜Ali dan Husain. Tidak ada anak bernama Ubaidilah atau Abdullah, baik yang berketurunan, maupun tidak.. Ia menyebutkan jumlah anak Ahmad bin โ€˜Isa dengan menggunakan โ€œjumlah ismiyahโ€ (proposisi dalam Bahasa Arab yang disusun menggunakan kalimat isim atau kata benda) yang menunjukan โ€œhasrโ€ (terbatas hanya pada yang disebutkan). Para ahli nasab mempunyai kaidah-kaidah khusus dalam ilmu nasab, diantaranya, jika menulis dengan โ€œjumlah fiโ€™liyahโ€ (proposisi Bahasa Arab yang disusun dengan menggunakan kalimat fiโ€™il atau kata kerja) misalnya dengan lafadz ุฃูŽุนู’ู‚ูŽุจูŽ ู…ู† ุซู„ุงุซุฉ (ia berketurunan dari tiga anak), maka maksudnya jumlah anak yang dipunyai tidak terbatas kepada bilangan yag disebutkan, masih ada anak yang tidak disebutkan karena suatu hal. Tetapi jika menggunakan โ€œjumlah ismiyahโ€ seperti kalimat kitab Al-Syajarah al-Mubarakah itu, maka maksudnya adalah jumlah anak yang berketurunan hanya terbatas kepada bilangan yang disebutkan. Syekh Mahdi al-Rajaโ€™iy dalam kitabnya Al-Muโ€™qibun mengatakan:

    ูˆู…ู† ุฐุงู„ูƒ ุงุฐุง ู‚ุงู„ูˆุง ุบู‚ุจู‡ ู…ู† ูู„ุงู† ุงูˆ ุงู„ุนู‚ุจ ู…ู† ูู„ุงู† ูุงู†ู‡ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู† ุนู‚ุจู‡ ู…ู†ุญุตุฑ ููŠู‡ ูˆู‚ูˆู„ู‡ู… ุฃุนู‚ุจ ู…ู† ูู„ุงู† ูุงู† ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู† ุนู‚ุจู‡ ู„ูŠุณ ุจู…ู†ุญุตุฑ ููŠู‡

    Terjemah:

    โ€œDan sebagian dari istilah para ahli nasab adalah apabila mereka berkata โ€˜โ€™aqibuhu min fulanโ€™ (keturunannya dari si fulan) atau โ€˜al-โ€˜al-aqbu min fulanโ€™ (keturunan(nya) dari si fulan) maka itu menunjukan bahwa bahwa anaknya yang berketurunan terbatas kepada anak itu; dan ucapan ahli nasab โ€˜aโ€™qoba min fulanโ€™ maka itu menunjukan bahwa sesungguhnya anaknya yang berketurunan tidak terbatas pada anak (yang disebutkan) itu.โ€ (Al Muโ€™qibun, h. 14)

    Imam al-Fakhrurazi, penulis kitab Al-Syajarah al-Mubarokah tinggal di Kota Roy, Iran, di mana di sana banyak keturunan Ahmad bin โ€˜Isa dari jalur Muhammad Abu Jaโ€™far, tentunya informasi tentang berapa anak yang dimiliki oleh Ahmad bin โ€˜Isa, ia dapatkan secara valid dari keturunan Ahmad yang tinggal di Kota Roy. Sampai pengarang kitab ini wafat tahun 606 Hijriah, sudah 261 tahun dihitung mulai dari wafatnya Ahmad bin โ€˜Isa, tidak ada riwayat, tidak ada kisah, tidak ada kabar bahwa Ahmad bin โ€˜Isa pernah punya anak yang bernama Ubaidillah dan cucu yang bernama Alwi.

    Kitab Al-Fakhri fi Ansabitalibin karya Azizuddin Abu Tolib Ismail bin Husain al-Marwazi (w.614 H.) menyebutkan yang sama seperti kitab-kitab abad kelima, yaitu hanya menyebutkan satu jalur keturunan Ahmad bin โ€˜Isa yaitu dari jalur Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa. Adapun kutipan lengkapnya adalah:

    ู…ู†ู‡ู… ุฃุจูˆ ุฌุนูุฑ ุงู„ุงุนู…ู‰ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงุญู…ุฏ ุงู„ุงุจุญ ู„ู‡ ุงูˆู„ุงุฏ ุจุงู„ุจุตุฑุฉ ูˆุงุฎูˆู‡ ููŠ ุงู„ุฌุจู„ ุจู‚ู… ู„ู‡ ุงูˆู„ุงุฏ

    Terjemah:

    โ€œSebagian dari mereka (keturunan โ€˜Isa al-Naqib) adalah Abu Jaโ€™far al-aโ€™ma (yang buta) Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Abh, ia punya anak di Basrah, dan saudaranya di โ€˜Al Jabalโ€ di Kota Qum, ia punya anak.โ€ (Al Fakhri, h. 30)

    Kitab Al-Asili fi Ansabittholibiyin karya Shofiyuddin Muhammad ibnu al-Toqtoqi al-Hasani (w.709 H.) menyebutkan satu sampel jalur keturunan Ahmad bin โ€˜Isa yaitu melalui anaknya yang bernama Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa. Kutipan lengkapnya seperti berikut ini:

    ูˆู…ู† ุนู‚ุจ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ู†ู‚ูŠุจ ุงู„ุญุณู† ุจู† ุงุจูŠ ุณู‡ู„ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ุงุจูŠ ุฌุนูุฑ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ

    Terjemah:

    โ€œDan dari keturunan Ahmad bin โ€˜Isa an-Naqib adalah al-Hasan bin Abi Sahal Ahmad bin โ€˜Ali bin Abi Jaโ€™far Muhammad bin Ahmad.โ€ (Al Ashili, 212)

    Kitab Al-Sabat al Musan karya Ibn al- Aโ€™raj al-Husaini (w.787 H.) ia mengatakan bahwa sebagian anak Ahmad bin โ€˜Isa adalah Muhammad. Ia tidak menyebut ada anak Ahmad bin โ€˜Isa yang bernama Ubaidillah atau Abdullah. Lihat kutipan di bawah ini:

    ูˆุงู…ุง ุงุญู…ุฏ ูุฃุนู‚ุจ ูˆูƒุงู† ู…ู† ูˆู„ุฏู‡ ุงุจูˆ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุญุณู† ุงู„ุฏู„ุงู„ ุจุจุบุฏุงุฏ ุฑุขู‡ ุดูŠุฎู†ุง ุงู„ุนู…ุฑูŠ ุจุจุบุฏุงุฏ ูˆู‡ูˆ ู…ุงุช ุจุฃุฎุฑู‡ ุจุจุบุฏุงุฏ ูˆู‡ูˆ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ุฑูˆู…ูŠ ูˆูƒุงู† ู„ู‡ ุงูˆู„ุงุฏ ู…ู†ู‡ู… ุงุจูˆ ุงู„ู‚ุงุณู… ุงุญู…ุฏ ุงู„ุงุดุฌ ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุจุงู„ู†ูุงุท…

    Terjemah:

    โ€œDan adapun Ahmad, maka ia berketurunan dan dari keturunannya adalah Abu Muhammad al Hasan al-Dallal di Bagdad, guruku al-Umari melihatnya di Bagdad, dan ia meninggal di Bagdad, ia adalah putra Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa al-Rumi, dan ia mempunyai beberapa anak diantaranya Abul Qasim Ahmad al-Asyaj yang dikenal dengan al-Naffathโ€ (Al Sabat al Mushan, h. 83-84)

    Kitab Umdat al-Talib karya Ibnu Inabah (w.828 H.), Ahmad bin โ€˜Isa tidak disebut mempunyai anak bernama Ubaidillah atau Abdullah. Ibnu Inabah mengatakan:

    ูˆู…ู†ู‡ู… ุงุญู…ุฏ ุงู„ุงุชุฌ ุจู† ุงุจูŠ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุญุณู† ุงู„ุฏู„ุงู„ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุงู„ุงูƒุจุฑ

    Terjemah:

    โ€œSebagian dari keturunan Muhammad al-Naqib adalah Ahmad al-Ataj bin Abi Muhammad al-Hasan al-Dallal bin Muhammad bin โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad bin โ€˜Isa al-Akbar.โ€ (Umdat al Talib, h. 225)

    Kronologis mula-mula pengakuan leluhur habib sebagai keturunan rasul:

    1) Leluhur habib melihat sejarah keluarga Al Ahdal yang disebut dalam kitab โ€œAl Sulukโ€ karya Al Jandi (w.732 H.).

    ูˆุงู…ุง ุงู„ุงู‡ุฏู„ ููŽู‡ููˆูŽ ุจู‡ุงุก ุณูŽุงูƒูู†ุฉ ุจุนุฏ ุงู„ู ูˆูŽู„ูŽุงู… ูˆู‡ุงุก ุจุนู’ุฏู‡ูŽุง ุฏูŽุงู„ ู…ูู‡ู’ู…ู„ูŽุฉ ู…ูŽูู’ุชููˆุญูŽุฉ ุซู…ูŽู‘ ู„ูŽุงู… ุณูŽุงูƒูู†ุฉ ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุจููŠุฑ ุงู„ู’ู‚ุฏุฑ ุดู‡ูŠุฑ ุงู„ุฐู‘ูƒุฑ ูŠูู‚ูŽุงู„ ุฃูŽู† ุฌุฏู‡ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ู‚ุฏู… ู…ู† ุจู„ุฏ ุงู„ู’ุนุฑูŽุงู‚ ุงู„ู‰ ุงู„ู’ูŠู…ู† ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดุฑููŠู ุญุณูŠู†ูŠ ู‚ุฏู… ุนู„ู‰ ู‚ุฏู… ุงู„ุชุตูˆู ูˆูŽุณูƒู† ุงุฌูˆุงู„ ุงู„ุณูŽู‘ูˆู’ุฏูŽุงุก ู…ู† ูˆูŽุงุฏูŠ ุณูู‡ูŽุงู…

    Terjemahโ€

    โ€œDan adapun Al-Ahdal, maka ia (dibaca) dengan โ€œhaโ€ yang sukun setelah โ€œโ€˜Alifโ€, โ€œlamโ€ dan โ€œhaโ€. Setelah โ€œ haโ€ itu ada hurup โ€œdalโ€ yang diโ€fatahkanโ€ yang tanpa titik, kemudian ada โ€œlamโ€ yang sukun. Ia seorang yang berkedudukan tinggi yang popular. Disebutkan bahwa kakeknya datang dari Irak ke negeri Yaman, ia seorang โ€œSyarif Husainiโ€. Ia datang dengan tapak tasawuf, ia menempati โ€œAjwal al-Saudaโ€™ dari lembah Siham.โ€ (Al Suluk, juz 2 h.360)

    2) dalam kitab tersebut leluhur keluarga Al Ahdal yang bernama Muhammad (bin Sulaiman) disebut sebagai seorang โ€œSyarif Husainiโ€ yang berhijrah dari Irak. Lalu ulama Baโ€™alwi mengaku bahwa leluhurnya Ahmad bin Isa ikut berhijrah bersama Muhammad bin Sulaiman itu sebagai seorang sepupu (satu kakek). Pengakuan itu disambut oleh keturunan Muhammad Al Ahdal yang ada di abad sembilan yang bernama Husain al-Ahdal (w.855 H.) dalam kitabnya โ€œTuhfat al-Zamanโ€ ia mengatakan:

    ูˆุญูƒูŠ ู„ู†ุง ุนู† ุจุนุถู‡ู… ุงู† ู…ุญู…ุฏ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุฎุฑุฌ ู‡ูˆ ูˆุงุฎ ู„ู‡ ูˆุงุจู† ุนู… ูุนู…ุฏ ุงุฎูˆู‡ ูˆุงุจู† ุนู…ู‡ ุงู„ู‰ ุงู„ุดุฑู‚ ูุฐุฑูŠุชู‡ ุงู„ ุจุง ุนู„ูˆูŠ ููŠ ุญุถุฑู…ูˆุช

    Terjemah:

    โ€œDiceritakan kepada kami dari sebagian orang, bahwa Muhammad (bin Sulaiman) tersebut keluar (berhijrah) bersama saudara laki-laki dan saudara sepupunya. Kemudian saudara laki-laki dan saudara sepupunya itu menuju timur. Maka keturunan dari saudara sepupunya itu adalah keluarga Baโ€™alwi di Hadramautโ€ (Tuhfat al Zaman, juz 2 h. 238)

    3) Ketika keluarga Al Ahdal dan Baโ€™alwi ini satu kakek, berarti silsilahnya harusnya bertemu di kakek pertama. Kita lihat silsilah keluarga Al Ahdal dalam kitab Al-Ahsab al-โ€™Aliyyah fi al-Ansab al-Ahdaliyyah karya Abu Bakar bin Abil Qasim bin Ahmad al-Ahdal (w. 1035 H.) ia mengatakan:

    ูˆุฃู…ุง ู†ุณุจู‡ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูู‡ูˆ ุนู„ูŠ ุงู„ุฃู‡ุฏู„ ุจู† ุนู…ุฑ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ุนุจูŠุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ุนู„ูˆูŠ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุญู…ุญุงู… ุจู† ุนูˆู† ุจู† ู…ูˆุณู‰ ุงู„ูƒุงุธู… ุจู† ุฌุนูุฑ ุงู„ุตุงุฏู‚ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุจุงู‚ุฑ ุจู† ุนู„ูŠ ุฒูŠู† ุงู„ุนุงุจุฏูŠู† ุจู† ุงู„ุญุณูŠู† ุจู† ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃุฌู…ุนูŠู† ู‡ุฐุง ู†ุณุจู‡

    Terjemah:

    โ€œDan adapun nasabnya, radiallahu โ€˜anhu, adalah: โ€˜Ali al-Ahdal bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubaid bin โ€˜Isa bin Alwi bin Muhammad bin Himham bin โ€˜Aon bin Musa al-kadim bin Jaโ€™far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin โ€˜Ali Zainal โ€˜Abidin bin al-Husain bin โ€˜Ali bin Abi Talib, Ridwanallahu โ€˜alaihim ajmaโ€™inโ€. (Al Ahsab al Ahdaliyah, h. 4)

    Silsilah keduanya mirip, tetapi susunannya berbeda. Jika keluarga Baโ€™alwi adalah: Alwi bin Ubed bin Ahmad bin Isa, maka keluarga Al Ahdal adalah: Muhammad bin Sulaiman bin ubed bin Isa bin Alwi. jelas keduanya pada mulanya merasa satu keturunan, namun akhirnya mencari jalan sendiri-sendiri. Seharusnya, jika Baโ€™alwi ini tidak mencari jalan lain maka silsilahnya adalah: Ahmad bin Isa bin Ubed bin Alwi bin Muhammad bin Himham dst. Ini membuktikan bahwa nasab Baโ€™alwi ini nasab โ€œrakitanโ€ yang kacau. Yang aneh lagi, dua orang yang berhijrah itu (Ahmad bin Isa dan Muhammad bin Sulaiman) ternyata hidupnya tidak satu masa. Ahmad bin Isa wafat tahun 345 H, sementara Muhammad bin Sulaiman wafat tahun 540 H. (Nail al-Hasanain, 121).

    Keluraga Al Ahdal sendiri tertolak sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW karena Musa al Kadzim tidak mempunyai anak bernama Aon.

    4) Setelah gagal mencantol nasab Al Ahdal, keluarga habib Baโ€™alwi berpindah jalur ke nasab Syarif Abul Jadid yang mereka temukan juga di kitab Al Suluk. Dalam kitab Al Suluk itu disebutkan:

    ูˆุงุญุจุจุช ุงู† ุงู„ู’ุญู‚ ุจู‡ู… ุงู„ูŽู‘ุฐูŠู† ูˆุฑุฏูˆู‡ุง ูˆุฏุฑุณูˆุง ูููŠู‡ูŽุง ูˆู‡ู… ุฌู…ูŽุงุนูŽุฉ ู…ู† ุงู„ุทูŽู‘ุจูŽู‚ูŽุฉ ุงู„ุงูˆู„ู‰ ู…ูู†ู’ู‡ูู… ุงุจูˆ ุงู„ู’ุญุณู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุจู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุงุจู’ู† ุฃูŽุญู’ู…ุฏ ุจู† ุญูŽุฏููŠุฏ ุจู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุจู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุจู† ุญูŽุฏููŠุฏ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฃูŽุญู’ู…ุฏ ุจู† ุนููŠุณูŽู‰ ุจู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุจู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุงุจู’ู† ุฌูŽุนู’ููŽุฑ ุงู„ุตูŽู‘ุงุฏูู‚ ุจู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุงู„ุจุงู‚ุฑ ุจู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุจู† ุฒูŠู† ุงู„ุนุงุจุฏูŠู† ุจู† ุงู„ู’ุญูุณูŽูŠู’ู† ุจู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุงุจู’ู† ุงุจูŠ ุทูŽุงู„ุจ ูƒุฑู… ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽุฌู‡ู‡ ูˆูŽูŠุนุฑู ุจุงู„ุดุฑูŠู ุงุจูŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุฏ ุนูู†ู’ุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ู’ูŠู…ู† ุงุตู„ู‡ ู…ู† ุญูŽุถุฑู…ูŽูˆู’ุช ู…ู† ุงุดุฑุงู ู‡ูู†ูŽุงู„ูƒ ูŠุนู’ุฑูููˆู†ูŽ ุจูŽุงู„ ุงุจูŠ ุนู„ูˆูŠ ุจูŽูŠุช ุตูŽู„ูŽุงุญ ูˆูŽุนุจุงุฏูŽุฉ ุนู„ู‰ ุทูŽุฑููŠู‚ ุงู„ุชุตูˆู ูˆูŽูููŠู‡ูู…ู’ ููู‚ูŽู‡ูŽุงุก ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุฐูƒุฑ ู…ู† ุงุชุญู‚ู‚ ุงู† ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ู…ูŽุนูŽ ุฃู‡ู„ ุจูŽู„ูŽุฏู‡

    Terjemah:

    โ€œDan aku ingin memberikan susulan nama-nama orang-orang yang datang ke Taโ€™iz dan belajar di sana. Mereka adalah jamaโ€™ah dari tingkatan pertama. sebagian dari mereka adalah Abu al-Hasan, โ€˜Ali, bin Muhammad bin Ahmad bin Hadid (Jadid, dua riwayat manuskrip) bin โ€˜Ali bin bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin โ€˜Isa bin Muhammad bin โ€˜Ali bin Jaโ€™far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin โ€˜Ali bin Zainal Abdidin bin al-Husain bin โ€˜Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah, dan dikenal dengan nama Syarif Abul Jadid menurut penduduk Yaman. Asalnya dari Hadramaut dari para syarif di sana yang dikenal dengan Al Abi Alwi, yang merupakan rumah kesalihan dan ibadah dalam tarikat tasawwuf. Termasuk didalamnya para ahli fikih yang akan datang penyebutan mereka yang aku ketahui dengan benar, insya Allah Taโ€™ala, bersama ahli negerinya.โ€ (Al Suluk Juz 2 h. 135-136)

    Dari redaksi itu Ali al Sakran (w. 895 H.) mengatakan bahwa Jadid itu saudara leluhurnya yang bernama Alwi dan Abdullah itu adalah Ubed. Pengakuan itu tanpa ada satu sumber sejarahpun di masa Jadid itu yang mengatakan bahwa Jadid punya saudara bernama Alwi. Ali al Sakran mengatakan:

    ูˆู‚ุฏ ูู‡ู…ุช ู…ู…ุง ุชู‚ุฏู… ุงูˆู„ุง ู…ู†ู‚ูˆู„ุง ู…ู† ุชุงุฑูŠุฎ ุงู„ุฌู†ุฏูŠ ูˆุชู„ุฎูŠุต ุงู„ุนูˆุงุฌูŠ ูˆุณุจู‚ ุจู‡ ุงู„ูƒู„ุงู… ููŠ ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุงู…ุงู… ุงุจูŠ ุงู„ุญุณู† ุนูŽู„ูŠู‘ ุจู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุงุจู’ู† ุฃูŽุญู’ู…ุฏ ุฌุฏููŠุฏ ุงู†ู‡ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุงุญู…ุฏ ุจู† ุนูŠุณู‰

    Terjemah:

    โ€œDan aku memahami dari keterangan yang telah lewat, untuk pertama kali, berdasar apa yang terdapat dari Tarikh al-Janadi (kitab al-Suluk) dan kitab Talkhis al-Awaji, dan telah disebutkan pembicaraan tentangnya, dalam menerangkan biografi sosok al-Imam Abu al Hasan, โ€˜Ali bin Muhammad bin Ahmad Jadid, bahwa Ubaid itu adalah Abdullah bin Ahmad bin โ€˜Isa. (Al Burqot, h. 150)

    Jadi awalnya keluarga habib mengaku bersilsilah kepada Ahmad bin Isa itu adalah karena melihat silsilah Syarif abul Jadid yang ada dikitab Al Suluk lalu menyatakan bahwa leluhurnya adalah saudara dari Jadid tanpa referensi penguat apapun.

    5) Sayangnya pencangkokan silsilah ke Jadid bin Abdullah itu tidak sukses, karena ternyata dalam manuskrip Al Suluk yang lebih tua nama Abdullah itu tidak ada. silsilah Baโ€™alwi hari ini yang diambil dari silsilah Syarif Abil Jadid adalah merupakan versi kitab Al Suluk yang dicetak berdasarkan manuskrip Mesir tahun 877 H. Sedangkan dalam manuskrip Paris yang disalin 820 H. bahwa Jadid bukan anak Abdullah bin Ahmad, tetapi ia adalah anak langsung dari Ahmad. Teori โ€˜Ali al-Sakran bahwa Ubaid yang tercatat dalam versi Bani Ahdal adalah nama lain dari Abdullah, tertolak mentah-mentah.

    6) Para pembela Baโ€™alwi berusaha mendatangkan sanad sanad yang katanya ditulis pada abad ke enam Hijriah, tetapi jelas sanad-sanad itu adalah sanad palsu. Nama-nama keluarga habib sampai abad kedelapan tidak tercatat sebagai ulama apalagi ulama hadits, bagaimana bisa mereka meriwayatkan hadits?

    5. Benarkah hasil tes DNA Klan Baโ€™alwi (habib) terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW?

    Menurut https://www.familytreedna.com/…/j-1el-147/about/background disimpulkan bahwa:

    โ€“ Individu L859+ adalah keturunan suku Quraisy

    โ€“ Individu FGC8703+ adalah keturunan marga Banu Hashem

    โ€“ Individu FGC10500+ adalah keturunan Imam Ali AS

    โ€“ Individu FGC30416+ adalah keturunan Imam Hussein AS

    Sedangkan para Habib Baโ€™alwi yang sudah tes DNA mayoritas mereka tidak memeiliki kode-kode di atas.

    Menurut DR. Sugeng Sugiharto, keturunan Nabi Muhammad SAW jalur paternal (laki-laki) harus berhaplogroup J, karena Nabi Ibrahim AS berhaplogroup J. Sedangkan dari ratusan para habib Baโ€™Alwi yang telah melakukan tes DNA, hasilnya mayoritas mereka berhaplogroup G. Berarti mereka bukan hanya tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mereka tidak termasuk keturunan Nabi Ibrahim AS.

    โ€œBaโ€™alwi itu, nasabnya ke Nabi Ibrahim itu tertolak, karena tidak bisa dikonfrontasi dan dikonfirmasi dengan keturunan Nabi Ishak. Kalau mereka mengaku sebagai keturunan Imam Ali, dengan sendirinya keturuna Nabi Ismail, maka haplotype mereka dari Nabi Ibrahim ke atas harus sama dengan para kohenโ€ฆlogikanya, bagaimana mereka keturunan Imam Ali, wong bani Ibrahim aja bukan..โ€, tegas Doktor Sugeng dalam sebuah konten di chanel youtube yang di uplod tanggal 1 Januari 2024 dengan judul โ€œNasab G-Y32612 itu ke Ibrahim saja hil yang Mustahal, bagaimana jadi Alawiyyin ??โ€.

    Kita bisa ambil beberapa contoh keluarga Baโ€™alwi yang telah melakukan tes DNA (https://www.familytreedna.com/public/baalawi…), misalnya seorang bapak dari Al-Habsyi yang yang tes DNA dengan nomor KIT: IN89146, ia tinggal di Saudi Arabia, hasilnya ia berhaplogroup G-M201. Gagal. Contoh lain, seorang bapak dari Bin Syekh Abubakar, ia tes DNA dengan nomor KIT: M9523, ia tinggal di Indonesia, hasilnya haplogroupnya G-M201. Gagal juga. Contoh lain seorang bapak dari Assegaf, ia tes DNA dengan nomor KIT: 88697, ia tinggal di Yaman, hasilnya haplogroupnya G-M201. Gagal lagi. Contoh lain, seorang bapak bernama Omar, ia tes DNA dengan nomor KIT: IN76599 , ia tinggal di Yaman, hasilnya, haplogroupnya G-M201. Gagal maning. Dan masih banyak lagi contoh-contoh hasil tes DNA dari klan Baโ€™alwi yang dapat kita unduh dari berbagai macam situs penyedia jasa tes DNA. Hasilnya mayoritas mereka berhaplogroup G-M201.

    6. Apa hukum penggunaan tes DNA dalam memvalidasi nasab menurut hukum Islam?

    Menurut hasil keputusan Muktamar NU ke-31 tahun 2024 bahwa tes DNA bisa untuk menafikan ilhaq nasab, namun belum tentu bisa menentukan ilhaq nasab (Ahkamul Fuqoha, cet.2010 h. 509)

    Kesimpulan Akhir: Klan Baโ€™alwi (para habib) terbukti secara ilmiyah bukan keturunan Nabi Muhammad SAW.

    Waallahu Alam

  • Contoh penulisan MEDIA CYBER pada website

    Contoh penulisan MEDIA CYBER pada website

    Berikut penggunaan Media Cyber di website

    Media Cyber Website-Anda.com

    Selamat datang di halaman Media Cyber Website-Anda.com. Kami bangga menjadi bagian dari era digital yang memungkinkan kami menyediakan informasi terkini dan bermanfaat kepada pembaca kami melalui platform online. Sebagai media cyber yang bertanggung jawab, kami memiliki komitmen untuk mematuhi standar-standar tertinggi dalam menyajikan konten kepada Anda. Berikut adalah prinsip-prinsip utama yang kami pegang teguh dalam menjalankan layanan kami:

    1. Kualitas Konten:

    • Kami berkomitmen untuk menyajikan konten yang akurat, terpercaya, dan relevan kepada pembaca kami.
    • Setiap artikel, berita, opini, dan informasi lain yang kami publikasikan melalui platform online kami akan melewati proses editorial yang cermat dan teliti.

    2. Aksesibilitas:

    • Kami memprioritaskan aksesibilitas konten kami kepada semua kalangan masyarakat. Situs web kami dirancang dengan antarmuka yang ramah pengguna, memastikan pembaca dapat dengan mudah menemukan informasi yang mereka butuhkan.

    3. Interaktivitas:

    • Kami mendorong interaksi antara pembaca kami dan kami. Melalui fitur komentar, forum, atau platform interaktif lainnya, kami mengundang pembaca untuk berpartisipasi dalam diskusi, berbagi pandangan, dan memberikan umpan balik tentang konten kami.

    4. Keamanan Data:

    • Kami mengutamakan keamanan data pembaca kami. Kami menggunakan teknologi keamanan terkini untuk melindungi informasi pribadi yang disimpan di platform kami dari akses yang tidak sah atau penggunaan yang tidak sah.

    5. Keterbukaan dan Transparansi:

    • Kami beroperasi dengan keterbukaan dan transparansi yang tinggi. Informasi tentang sumber informasi, metode peliputan, dan kepentingan yang mempengaruhi konten kami akan diberikan dengan jelas kepada pembaca kami.

    6. Inovasi:

    • Kami terus berinovasi dalam menyajikan konten dan teknologi. Kami selalu mencari cara baru untuk meningkatkan pengalaman pembaca kami dan memperluas cakupan informasi yang kami sampaikan.

    7. Tanggung Jawab Sosial:

    • Kami menyadari peran penting media dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, kami akan bertanggung jawab atas dampak dari setiap konten yang kami publikasikan dan akan terus memerangi penyebaran informasi palsu.

    Dengan mematuhi prinsip-prinsip ini, kami berharap dapat memperkuat posisi kami sebagai salah satu sumber informasi terpercaya dan bermanfaat di dunia maya. Terima kasih atas dukungan Anda dan teruslah mengunjungi Website-Anda.com untuk mendapatkan berita terkini dan informasi yang berguna.

  • Contoh penulisan KODE ETIK dalam website

    Contoh penulisan KODE ETIK dalam website

    Berikut contoh pembuatan Kode Etik dalam website

    Kode Etik Website-Anda.com

    Selamat datang di Website-Anda.com. Sebagai platform yang berkomitmen untuk menyajikan konten yang bermanfaat dan berintegritas kepada pengguna kami, kami memiliki Kode Etik yang kami pegang teguh. Kode Etik ini membimbing perilaku dan praktik kami dalam menyediakan layanan kepada pengguna kami. Berikut adalah prinsip-prinsip utama dari Kode Etik kami:

    1. Kualitas Konten:

    • Kami berkomitmen untuk menyajikan konten yang akurat, informatif, dan bermanfaat kepada pengguna kami.
    • Setiap konten yang kami publikasikan melalui website kami akan melalui proses editorial yang cermat dan teliti.

    2. Keberagaman dan Inklusivitas:

    • Kami menghargai keberagaman pendapat dan perspektif. Kami akan menciptakan lingkungan yang inklusif di mana semua orang merasa didengar dan dihormati.
    • Kami akan berupaya untuk merefleksikan keragaman masyarakat dalam konten kami dan mempromosikan pengertian yang lebih baik antara berbagai kelompok.

    3. Keterbukaan dan Transparansi:

    • Kami akan beroperasi dengan keterbukaan dan transparansi yang tinggi. Informasi tentang proses editorial, sumber informasi, dan kepentingan apa pun yang mempengaruhi konten kami akan diberikan dengan jelas kepada pengguna kami.
    • Kami akan merespons dengan cepat atas masukan, saran, dan keluhan dari pengguna kami.

    4. Keamanan Data:

    • Kami akan melindungi informasi pribadi pengguna kami dengan menggunakan praktik keamanan data terbaik.
    • Kami akan menghormati privasi pengguna kami dan tidak akan menyebarkan informasi pribadi tanpa izin mereka.

    5. Ketertanggungjawaban:

    • Kami akan bertanggung jawab atas setiap konten yang kami publikasikan dan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kami buat.
    • Kami akan mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku serta menjunjung tinggi etika jurnalisme dalam setiap kegiatan kami.

    6. Netralitas dan Keterlepasan:

    • Kami akan tetap netral dan independen dalam melaporkan berita dan menyajikan opini. Kami tidak akan memihak kepada pihak manapun dan akan berusaha untuk menghindari konflik kepentingan.

    7. Komunitas dan Partisipasi:

    • Kami akan membangun dan memelihara komunitas yang sehat di sekitar website kami, mendorong diskusi yang beradab dan konstruktif.
    • Kami akan memberikan kesempatan bagi pengguna kami untuk berpartisipasi aktif dalam konten kami melalui fitur komentar, forum, atau platform interaktif lainnya.

    Dengan mematuhi Kode Etik ini, kami berharap dapat menjaga kepercayaan pengguna kami dan terus menyediakan layanan yang bernilai bagi komunitas kami. Terima kasih atas dukungan Anda dan kesediaan untuk menjadi bagian dari website-anda.com.

  • Warung Madura: Menjadi Warung yang Tak Pernah Tutup, Ini Rahasianya!

    Warung Madura: Menjadi Warung yang Tak Pernah Tutup, Ini Rahasianya!

    Warung sebagai Pusat Kehidupan Komunitas

    Warung Madura bukan hanya tempat untuk membeli makanan dan minuman, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial di komunitas-komunitas tempat mereka berada. Masyarakat sering kali berkumpul di warung, bertukar cerita, berdiskusi tentang berita terbaru, atau sekadar menikmati kebersamaan. Inilah yang membuat warung Madura begitu penting bagi kehidupan sosial di Indonesia.

    Tradisi Tak Pernah Tutup

    Salah satu hal yang membedakan warung Madura dari warung lainnya adalah kebiasaan mereka untuk tetap buka sepanjang hari dan malam. Meskipun warung lain mungkin tutup pada larut malam atau saat hari libur, warung Madura tetap setia melayani pelanggan mereka. Ini menjadi fenomena yang menarik dan unik dalam budaya kuliner Indonesia.

    Faktor-faktor Penentu

    Beberapa faktor dapat menjelaskan mengapa warung Madura memiliki kebiasaan untuk tidak pernah tutup. Pertama, ini mungkin karena kebutuhan ekonomi. Banyak pemilik warung Madura bergantung pada pendapatan harian dari penjualan makanan dan minuman mereka. Menutup warung untuk sehari saja bisa berarti kehilangan penghasilan yang signifikan.

    Selain itu, ada juga faktor budaya dan tradisi. Di beberapa daerah, warung Madura telah menjadi bagian dari warisan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi. Keterbukaan mereka sepanjang waktu dapat dilihat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional yang dijunjung tinggi.

    Tantangan dan Keunggulan

    Tentu saja, menjaga warung tetap buka sepanjang waktu juga memiliki tantangan tersendiri. Pemilik warung harus siap untuk bekerja secara terus-menerus, kadang-kadang tanpa istirahat yang cukup. Namun, hal ini juga memberikan keunggulan kompetitif bagi warung Madura. Mereka menjadi pilihan utama bagi pelanggan yang mencari tempat untuk makan atau minum di tengah malam atau pada jam-jam sibuk lainnya.

    Kesimpulan

    Warung Madura adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kehadiran mereka yang konstan, baik siang maupun malam, tidak hanya memberikan akses kepada makanan lezat, tetapi juga menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan dalam komunitas. Fenomena warung Madura yang tidak pernah tutup adalah contoh nyata dari keuletan, ketahanan, dan nilai-nilai budaya yang kental dalam masyarakat Indonesia. (AI Sorban)

  • Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    sorbansantri.com – Salat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki makna mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan tentang arti salat jika kita masih melakukan kemungkaran. Gus Baha, seorang ulama yang dikenal dengan pemahamannya yang mendalam tentang ajaran Islam, memberikan pandangan yang menggugah pemikiran terkait hal ini.

    Gus Baha menegaskan bahwa pernyataan yang menyatakan bahwa salat tidak bermakna jika masih melakukan kemungkaran adalah salah besar. Menurutnya, salat adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Dengan melaksanakan salat, kita sebenarnya telah mengurangi kemungkaran, karena dalam salat kita meneguhkan status kita sebagai hamba Allah SWT. Gus Baha menggunakan istilah “teken kon” untuk menyatakan bahwa dengan salat, kita mengakui diri sebagai hamba Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa.

    Dalam pandangan Gus Baha, jika ada kesalahan yang terjadi, hal itu memang merupakan suatu kesalahan, namun yang penting adalah kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah yang mengakui keesaan-Nya. Pengakuan ini memiliki barokah tersendiri, yaitu dapat mendapatkan syafa’at (pertolongan) dari Rasulullah SAW di akhirat nanti. Hal ini karena kita tidak pernah mengingkari status kehambaan kita kepada Allah.

    Dengan demikian, Gus Baha mengajarkan bahwa salat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan manifestasi dari pengakuan diri sebagai hamba Allah yang patuh dan taat kepada-Nya. Melalui salat, kita tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga meneguhkan ikatan spiritual dan kepatuhan kita sebagai umat Muslim. Dengan kesadaran ini, diharapkan kita dapat terus memperbaiki diri dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. (AI Sorban)

  • Kabut Taktis: Rusia Manfaatkan Asap Tebal untuk Lindungi Pasukan dari Drone

    Kabut Taktis: Rusia Manfaatkan Asap Tebal untuk Lindungi Pasukan dari Drone

    wp.sorbansantri.com – Di tengah gema pertempuran yang tak kunjung reda, Rusia kembali mengaktifkan taktik lama yang terbukti efektif: penggunaan tabir asap. Bukan hanya sekadar manuver defensif, langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk mengelabui teknologi pengintai modern.

    Dalam beberapa insiden terbaru, Rusia telah menggunakan tabir asap untuk melindungi infrastruktur vital seperti Jembatan Kerch dari serangan rudal Ukraina. Asap tebal yang dihasilkan tidak hanya mengaburkan pandangan, tetapi juga mengacaukan sistem navigasi drone First Person View (FPV) dan drone pengintai artileri, yang menjadi mata dan telinga di medan perang.

    Kendaraan khusus yang dikenal sebagai TDA-3 menjadi pionir dalam operasi ini. Dengan platform truk KamAZ-5350 6×6, kendaraan ini dilengkapi dengan tiga modul utama yang memungkinkan pembuatan asap dalam skala besar. Dari unit daya tambahan hingga tangki berkapasitas ribuan liter, TDA-3 dirancang untuk menciptakan dinding asap yang dapat bertahan hingga enam jam lamanya.

    Meskipun belum banyak digunakan di Ukraina, keberadaan TDA-3 telah menimbulkan kekhawatiran akan penggunaannya yang lebih luas di masa depan. Sebagai respons, Ukraina juga telah mengadopsi taktik serupa, meskipun dengan kemampuan yang lebih terbatas.

    Saat Rusia bergerak ke barat dan Ukraina mempertahankan posisi defensif, penggunaan asap tebal ini tidak hanya menjadi alat untuk maju, tetapi juga simbol dari perang yang semakin bergantung pada teknologi. Dan di tengah kecanggihan senjata modern, terkadang solusi sederhana seperti asap dapat menjadi kunci untuk bertahan hidup di medan perang yang penuh dengan ‘hantu’ drone. (AI Sorban)

  • Tok! Pemerintah Batasi Laju Sepeda Listrik, Ini Perbandingan Dengan Kendaraan Lainnya

    Tok! Pemerintah Batasi Laju Sepeda Listrik, Ini Perbandingan Dengan Kendaraan Lainnya

    Ada kabar bahwa pemerintah segera membuat aturan baru mengenai laju atau kecepatan sepeda listrik yang beredar di Indonesia. Kita sangat tahu bagaimana sepeda ini jika sudah ada dijalan, dari orang dewasa sampai anak-anak seolah bebas melenggang tanpa ada rasa khawatir terjadi celaka..

    wp.sorbansantri.com -Motor listrik saja nyaris tidak bersuara sudah mengancam bahaya, apalagi ini sepeda listrik selain tanpa suara juga fisik nya terbilang paling ramping membuat pengendaranya terpacu untuk sat set sat setdisegala situasi dan kondisi jalan, tentu jelas membahayakan semua orang. Saya sangat setuju jika kecepatan sepeda listrik dibatasi.

  • Permasalahan dan Kolaborasi: PCNU Kabupaten Mojokerto dan RS Sakinah

    Permasalahan dan Kolaborasi: PCNU Kabupaten Mojokerto dan RS Sakinah

    wp.sorbansantri.com – Kabupaten Mojokerto menjadi saksi dari kolaborasi menarik antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto dengan Rumah Sakit Sakinah (RS Sakinah) dalam mengatasi permasalahan kesehatan dan sosial yang tengah mengemuka. Ini adalah langkah nyata dalam memanfaatkan potensi lokal untuk memberikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi masyarakat.

    Salah satu permasalahan yang menjadi fokus utama adalah aksesibilitas terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. RS Sakinah, sebagai lembaga kesehatan yang berkomitmen pada pelayanan yang humanis dan bertanggung jawab, bersama PCNU Kabupaten Mojokerto berupaya untuk memberikan layanan yang lebih merata dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

  • Analisis Petarungan Pilbub Kabupaten Mojokerto: Ikfina vs. Gus Barra dalam Konteks Peta Politik

    Analisis Petarungan Pilbub Kabupaten Mojokerto: Ikfina vs. Gus Barra dalam Konteks Peta Politik

    wp.sorbansantri.com – Pemilihan Bupati (Pilbub) Kabupaten Mojokerto menghadirkan pertarungan politik yang menarik antara Ikfina dan Gus Bara, dua figur yang mewakili latar belakang politik dan sosial yang berbeda. Dalam menganalisis dinamika petarungan ini, penting untuk melihatnya dalam konteks peta politik dan dinamika kekuatan politik di Kabupaten Mojokerto.

    1. Latar Belakang Politik Ikfina: Ikfina merupakan politisi yang telah lama berkecimpung dalam dunia politik lokal. Dia memiliki jaringan politik yang kuat di tingkat daerah dan telah mengukir reputasi sebagai pemimpin yang fokus pada pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi daerah. Dukungan dari partai politik lokal dan nasional menjadi salah satu kekuatan utama Ikfina dalam Pilbub ini.
    2. Latar Belakang Politik Gus Bara: Gus Bara, di sisi lain, merupakan figur yang lebih dikenal dalam ranah keagamaan dan sosial. Meskipun tidak memiliki pengalaman politik yang panjang, namun dukungannya dari kelompok-kelompok keagamaan dan sosial di Kabupaten Mojokerto membuatnya menjadi kandidat yang memiliki basis massa yang kuat. Isu-isu keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil, dan pendekatan partisipatif menjadi fokus utama kampanye Gus Bara.
    3. Dinamika Peta Politik di Kabupaten Mojokerto: Kabupaten Mojokerto memiliki lanskap politik yang beragam, dengan berbagai kepentingan dan dinamika yang perlu diperhatikan. Di satu sisi, terdapat basis pendukung tradisional yang cenderung memilih berdasarkan afiliasi politik dan jaringan yang telah terjalin. Di sisi lain, terdapat pemilih yang lebih terbuka terhadap isu-isu keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
    4. Strategi Kampanye dan Isu-isu Utama: Dalam menghadapi Pilbub, Ikfina lebih menekankan pencapaian infrastruktur dan pembangunan ekonomi sebagai basis kampanyenya. Sementara Gus Bara lebih menonjolkan isu-isu sosial, keadilan, dan partisipasi masyarakat sebagai strategi untuk memperoleh dukungan dari segmen pemilih yang lebih responsif terhadap isu-isu tersebut.
    5. Dinamika Debat dan Perkembangan Terkini: Debat publik antara kedua kandidat menjadi ajang penting dalam menyoroti perbedaan visi dan misi mereka. Isu-isu seperti pengelolaan sumber daya alam, pendidikan, kesehatan, dan akses layanan publik menjadi titik-titik perdebatan yang menarik perhatian masyarakat.

    Dengan demikian, Pilbub Kabupaten Mojokerto tidak hanya menjadi ajang pertarungan antara individu, tetapi juga merupakan cerminan dari dinamika politik dan kepentingan masyarakat di tingkat lokal. Analisis peta politik ini menjadi penting bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana dinamika kekuatan politik memengaruhi hasil Pilbub dan arah pembangunan di masa depan.(AI Sorban)

  • Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    wp.sorbansantri.com – Game Mobile Legend sering membuat karakter game mereka dengan inspirasi tokoh pahlawan atau pun mitos suatu daerah. Salah satunya Khaleed. Menurut cerita fiktif yang disematkan, Khaleed adalah pangeran dari Artha Clan, yang mencintai petualangan. Dia sangat menginginkan keagungan dari budaya Emerald Road, bermimpi bahwa suatu hari dia dapat mengunjungi Agelta Drylands yang luas dan menyaksikan kemakmurannya.

    Terlepas dari cerita fiktif yang ada, visualisasi tokoh Khaleed dalam game tersebut sangat menunjukkan representasi dari salah satu pejuang Muslim sekaligus sahabat Rasulullah SAW yang harus umat Muslim muliakan, yaitu Khalid Ibn Walid.

    Rasulullah SAW bersabda;

    ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽู„ู„ู‡ู ูููŠู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจููŠู’ ู„ูŽุง ุชูŽุชูŽู‘ุฎูุฐููˆู’ู‡ูู…ู’ ุบูŽุฑู’ุถู‹ุง ุจูŽุนู’ุฏููŠู’ ููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ู‡ูู…ู’ ููŽุจูุญูุจูู‘ูŠู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุจู’ุบูŽุถูŽู‡ูู…ู’ ููŽุจูุจูุบู’ุถููŠู’ ุฃูŽุจู’ุบูŽุถูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุขูŽุฐูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุขูŽุฐูŽุงู†ููŠู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุขูŽุฐูŽุงู†ููŠู’ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุขูŽุฐูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุขุฐูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠููˆู’ุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฃุฎูŽุฐูŽ

    โ€œBertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya.โ€œ

    Dalam Takmilah al-Majmuโ€™ disebutkan, salah satu bentuk penghinaan terhadap objek tertentu adalah menjadikannya mainan. Berikut keterangannya;

    ูˆูŽุงูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽูˆู’ุนูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ู…ูŽุงุซููŠู’ู„ู ู„ูŽุง ูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ูููŠู’ู‡ู ู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ุชูŽู‘ุนู’ุธููŠู’ู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุชูŽู‘ุฑูŽูู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู„ู’ุฒูŽู…ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆู’ุฑูŽุงุชู ุงู„ุณูŽู‘ุงุจูู‚ูŽุฉู ููŽุงู„ู’ุงูุณู’ู„ูŽุงู…ู ู„ูŽุง ูŠูุถูŽูŠูู‘ู‚ู ุจูู‡ู ุตูŽุฏู’ุฑู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฑูŽู‰ ุจูู‡ู ุจูŽุฃู’ุณู‹ุง . ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽู„ูŽุนู’ุจู ุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏู ุงู„ุตูู‘ุบูŽุงุฑู ุงู„ูŽู‘ุชููŠู’ ุชูุตู’ู†ูŽุนู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูƒู’ู„ู ุนูŽุฑูŽุงุฆูุณู ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุทูŽู‘ุทู. ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ุจูŽุงุนู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู†ูŽุงุชู ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตูู‘ูˆูŽุฑูŽ ุชูู…ู’ุชูŽู‡ูŽู†ู ุจูŽุงู„ู„ูŽู‘ุนู’ุจู ูˆูŽุนูŽุจู’ุซู ุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏู ุจูู‡ูŽุง

    Jika ada jenis patung di mana maksud pemuliaan atau kemewahan tidak tampak, dan tidak ada larangan-larangan yang telah disebutkan sebelumnya, maka Islam tidak menyempitkan dadanya, dan Islam tidak melihat ada yang salah dengan itu. Demikian seperti mainan anak laki-laki yang dibuat dalam bentuk boneka atau kucing, atau binatang buas dan hewan lainnya, karena gambar-gambar ini dipermalukan dengan dijadikan objek bermain anak-anak.โ€