Tag: baca alqur’an

  • Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    wp.sorbansantri.com – Dalam membaca Al-Quran, penting untuk melafalkan setiap huruf Arab dengan benar. Salah satu ilmu yang membantu dalam hal ini adalah ilmu tajwid. Dalam bahasa Arab, tajwid berasal dari kata “jawwada, yujawwidu, tajwiidin” yang secara harfiah memiliki makna sesuatu yang elok, indah, atau membaguskan.

    Para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, sementara mengamalkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap Muslim yang telah dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

    Tajwid terdiri dari berbagai hukum bacaan, antara lain:

    1. Hukum Bacaan Sukun dan Tanwin:
    • Idzhar: terdiri dari 6 huruf yaitu ا, ع, غ, ح, خ, ه. Contoh:
      • Nun mati bertemu huruf ه: “فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ”
      • Nun mati bertemu huruf ع: “بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ”
      • Nun mati bertemu huruf غ: “مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ”
      • Tanwin bertemu huruf ح: “أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”
      • Tanwin bertemu huruf خ: “كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ”
    • Iq’lab: apabila nun mati atau tanwin bertemu huruf ب (BA’), maka bunyi nun atau tanwin berubah menjadi bunyi م (MIM).
    • Ikhfa Haqiqi: berlaku apabila huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك dan dibaca dengan samar.
    • Idgham Bighunnah: terdiri dari huruf ي, ن, م, و dan dibaca dengan mendengung.
    • Idgham Billagunnah: terdiri dari huruf ل, ر dan dibaca tanpa mendengung.
    1. Hukum Bacaan Mim Sukun:
    • Ikhfa Syafawi: terdiri dari huruf ب (BA’), dibaca dengan samar dan mendengung.
    • Idgham Mimi: terdiri dari huruf م (MIM), dibaca dengan melebur menjadi satu.
    • Idzhar Syafawi: terdiri dari huruf-huruf selain ب dan م, dibaca dengan jelas.
    1. Hukum Bacaan Mim Tasydid dan Nun Tasydid:
    • Mim tasydid dan nun tasydid dibaca dengan dengungan.
    1. Hukum Bacaan Lam Ta’rif:
    • Idzhar Qomariyah: terdiri dari huruf ء, ب, ج, ح, خ, ع, غ, ف, ق, ك, م, و, ه, ي dan dibaca dengan jelas.
    • Idgham Syamsiyah: terdiri dari huruf ت, ث, د, ذ, ر, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ل, ن dan dibaca seperti di-tasydid-kan atau dimasukkan ke huruf berikutnya.
    1. Hukum Qalqalah:
    • Terdiri dari huruf ب, ج, د, ط. Qalqalah dibagi menjadi dua, yaitu Qalqalah Sugra (di pertengahan kalimat) dan Qalqalah Kubra (di akhir kalimat).

    Menguasai tajwid adalah kunci untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu ini, setiap Muslim dapat memperindah bacaan Al-Quran mereka dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. (AI Sorban)

  • Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    SORBANSANTRI.COM

    Berikut adalah hujjah ASWAJA dalil serta pendapat ulama’ salaf yang berkaitan dengan baca Al-Qur’an di kuburan.

    حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

    “Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

    Al-Hafidz al-Haitsami berkata:”Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya” (Majma’ al-Zawaid III/66

     

    Pendapat Ulama Salaf

    وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1  11)

    “Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa” (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

    وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْب عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَة وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْل بِهِ يلزم من ذلك أن يكون الشافعي قائلا بوصول ثواب القرآن لأن القرآن أشرف الذكر (الإمتاع للحافظ بن حجر العسقلاني 1 / 85)

     

    “Ini penjelasan yang asing dari al-Syafi’i. Al-Za’farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan. Dengan begitu asy-Syafii mengatakan sampainya pahala al-Quran, sebab Quran adalah dzikir yang paling mulia (yaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)” (al-Imta’, Ibnu Hajar, I/11).

    (Gus Khotib)