






Peserta Diklat Terpadu Dasar Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatirejo mendapatkan Gemblengan dari Pimpinan Cabang LMDS Rijalul Ansor Kabupaten Mojokerto berupa “Rajah Geger”.

Hal ini bertujuan untuk membentengi dan menumbuhkan kepercayaan diri bagi peserta sebagai benteng Ideologi dan benteng fisik, bukan semata-mata untuk adu okol atau adu kekebalan. Karena Ansor, Banser dan Rijalul Ansor merupakan garda depan. Mereka memiliki tanggungjawab besar membela agama dan keutuhan NKRI.

Disamping gemblengan kekebalan, peserta juga mendapatkan gemblengan Aswaja dan bela negera.
Sementara itu, proses gemblengan berjalan hampir 2 jam. Satu persatu peserta Diklat diminta membuka baju meraka. Kemudian dengan menggunakan alat tulis, Tim gemblengan menuliskan rajah dipunggung peserta.


Peserta Diklat Terpadu Dasar Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatirejo mendapatkan Gemblengan dari Pimpinan Cabang LMDS Rijalul Ansor Kabupaten Mojokerto berupa “Rajah Geger”.

Hal ini bertujuan untuk membentengi dan menumbuhkan kepercayaan diri bagi peserta sebagai benteng Ideologi dan benteng fisik, bukan semata-mata untuk adu okol atau adu kekebalan. Karena Ansor, Banser dan Rijalul Ansor merupakan garda depan. Mereka memiliki tanggungjawab besar membela agama dan keutuhan NKRI.

Disamping gemblengan kekebalan, peserta juga mendapatkan gemblengan Aswaja dan bela negera.
Sementara itu, proses gemblengan berjalan hampir 2 jam. Satu persatu peserta Diklat diminta membuka baju meraka. Kemudian dengan menggunakan alat tulis, Tim gemblengan menuliskan rajah dipunggung peserta.

Pacet Cyberaswaja.online- Hari ini senin 23 Desember 2019 Satsus BAGANA PAC GP ANSOR pacet melaksanakan giat sosial bareng dengan relawan LPBI NU dan welirang community . Membuat pengaman di jalur PACET-CANGAR.
Yang bertujuan untuk meminimalisir keadaan korban akibat kecelakaan di jalur tikungan maut PACET -CANGAR.
“Diharapkan pada pengendara yang dari arah Batu Malang yang melewati jalur Sendi desa pacet kecamatan pacet untuk lebih berhati-hati dan jangan melebihi beban kendaraan” kata Sahabat Kasiyanto selaku Kepala Satuan Khusus Banser Tanggap Bencana (BAGANA) Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto. (red. infokom ansor banser nu mojokerto)





Sahabat Kasiyanto selaku Kepala Satuan Khusus Banser Tanggap Bencana (BAGANA) Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto memberikan Materi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) kepada peserta Diklat Terpadu Dasar Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatirejo.
Pentingnya materi PPGD karena kejadian gawat darurat biasanya berlangsung cepat dan tiba-tiba sehingga sulit memprediksi kapan terjadinya. Langkah terbaik untuk situasi ini adalah waspada dan melakukan upaya kongkrit untuk mengantisipasinya. Harus dipikirkan satu bentuk mekanisme bantuan kepada korban dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menuju sarana kesehatan, atau rumah sakit. Tercapainya kualitas hidup penderita pada akhir bantuan harus tetap menjadi tujuan dari seluruh rangkai pertolongan yang diberikan.

Tujuan dari PPGD adalah :
Langkah-langkah dasar apabila timbul keadaan gawat darurat :
Beberapa pertimbangan yang lain bagi si penolong adalah



Pac Ansor Jawilan Banten–Sebelum Indonesia Merdeka, TNI dan BANSER selalu bersinergi atau saling bahu membahu mengatasi permasalahan di Negeri ini
Ansor berdiri tahun 1934
Banser berdiri 1937
Periode pembentukan TNI (1945-1947)
data Arsip kolonial Belanda menyatakan “antara tahun 1800 – 1900 dalam kurun waktu 100 tahun (1 abad) terjadi 112 kali pemberontakan kepada Penjajah Belanda, dan Semua Pemberontakan adalah Orang Islam Ahlu sunah wal jama’ah atau para santri yang di pimpin oleh Kyai dan Guru – guru thoriqoh (benih Nu, Ansor dan Banser)” hal ini memperjelas bahwa NU adalah unsur penting dalam proses kemerdekaan Indonesia.
Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan.
<>Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besar” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Hamid Rusydi, sebelum TNI berdiri dan sebelum beliau memiliki gelar Mayor TNI Hamid Rusydi yaitu tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-orga
nisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa.
Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.
Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional. (red. infokom ansor banser NU )