wp.sorbansantri.com –Negara maju dalam dunia modern saat ini terkesan tidak religius, namun sebaliknya negara yang religius masih banyak yang statusnya masih negara berkembang atau tidak maju.
Tentu menimbulkan banyak pertanyaan kenapa Amerika, Jepang, Korea, Swiss, Norwegia dan negara-negara maju yang lainnya itu seperti tidak peduli dengan religi?
Negara maju yang dimaksud bukan hanya maju ipteknya dan finansial, tapi juga maju secara moral. Tapi, negara yang religius malah mendapati kemunduran moral, contoh India sebagai negara religius tapi kasus pemerkosaannya cukup tinggi, KDRT, bunuh diri, intimidasi, bullying dan sebagainya sering terjadi.
Atau contoh lain adalah Amerika Latin, dimana negaranya cukup religius tapi kasus pembunuhannya paling tinggi. Bahkan negara timur tengah, negara yang cukup religius sering kali membuka sarana untuk perang. Kita tahu perang itu seperti apa, siapa yang mati dan menjadi korban? Wanita dan anak-anak sering menjadi korban perang.
namanya rizal, anak kecil ini hidup bersama ibunya dan adiknya yang masih kecil, demi membantu ekonomi keluarga dia rela mengalah dengan tidak bermain dengan teman-temannya seperti anak seusianya, namanya viral di medsos setelah perlakuan tidak mengenakan menimpa dirinya, dimana saat dia akan berangkat berdagang di hadang oleh sekelompok anak-anak muda diatas usia nya, rizal di bully, di intimidasi secara beramai-ramai, hingga dia terjatuh bersama dagangannya yang tidak lain adalah harapan untuk menyambung hidup termasuk untuk membeli susu dan popok adiknya yang masih balita, berdasarkan pengakuan korban, ternyata perlakuan seperti itu sering hampir setiap hari di dapatkan dari orang yang sama, tapi rizal diam dan sabar tidak mengadu ke siapa-siapa, belakangan kami menelusuri seberapa reaksi netizen ternyata ada komunitas yang sudah membantu rizal, di berikan santunan hingga di belikan sepeda,
Namun sepintas melihat perkembangan netizen yang cukup geram dengan pelaku, ternyata netizen berhasil mendapatkan alamat akun Facebook pelaku, tercatat dalam sebuah Postingan demi postingan pelaku seperti “PEMUDA HIJRAH” penuh dengan share-share konten kajian sunah, hingga beberapa photo nya ada yang menggunakan gambar bendera HTI, bendera yang selama ini sebagai jargon antek khilafah.
Lalu dimana moralitas dan akhlak para pecinta Khilafah? dari sekian kasus mulai dari pelecehan seksual di MRT pelakunya juga pecinta khilafah, hingga perekam wanita di toilet mall juga antek khilafah, terakhir pedofil di salah satu perguruan tinggi yang kasus pelecehan seksual juga pecinta khilafah.
Pertanyaan kami, apakah memang cukup dengan tampang islami & nyunah bisa mengaku sebagai pembela islam? Mujahid dan lain sebagainya? Apakah tidak perlu di barengi dengan moralitas dan akhlak?
Artikel kami tidak bertujuan lain, hanya sekedar renungan, bahwa tidak selamanya di medsos postingannya cinta sunah itu alim, bisa jadi kelakuan seperti keponakan dajjal.
untuk para pemuja khilafah lebih baik perbaiki akhlak dan moralitas anda sebelum menkafirkan orang lain, sebelum berteriak negri ini thogut, sebelum berteriak takbir hanya untuk kamuflase hoax dan kebiadaban mu.
SORBAN SANTRI- Saat semua orang mengecam pelaku perundungan (bullying) terhadap seorang bocah penjual jalangkote di Pangkep, Sulawesi Selatan, ada seorang ustaz yang justru bersimpati pada pelaku. Dia bernama Karyo Susanto.
Di dinding Facebook-nya, Karyo menulis pendapatnya tentang kasus perundungan tersebut. Menurutnya pelaku memang sengaja mem-bully bocah tersebut agar mendapat simpati dari masayarakat.
“Menurut saya, mungkin ini niat baik yang terselubung dari sang pelaku. Dia sengaja membuat sang korban kaya raya, walaupun harus dia mengorbankan dirinya dalam jeruji besi. Sifat inilah yang wajib kita juluki sebagai hero. Dan patut kita teladani bersama-sama. Saya tidak menyangka, dibalik dari sikapnya sebagai pahlawan, yang akhirnya menjerumuskannya didalam sel, ia masih bisa mengukir senyuman terindah untuk memberi sinyal kepada kita bahwa pentingnya mengorban diri demi sebuah harapan dan tujuan yang mulia,” tulis Karyo.
Karyo pun membandingkan kasus perundungan anyar ini dengan kasus perundungan yang dialami Audrey di Pontianak pada 2019 lalu. Dikatakannya juga bahwa mungkin kita saat ini sedang kena prank (dikerjai).
Intinya menurut Karyo, kita jangan terburu-buru dalam menghakimi perbuatan seseorang. Ia pun menukil ayat-ayat Alquran untuk menguatkan pendapatnya.
“Bisa aja suatu saat kita kena prank. atau memang endingnya berbeda dari kasus audrey. Di mana sang pelaku sebenarnya perduli dengan korban. Lalu si pelaku sengaja membully si korban, karena pelaku tau kelak setelah viral, maka si korban mendapat hadiah dari relawan yang nantinya akan berguna dalam hidupnya. Dapat sepeda baru, donasi uang, bantuan usaha, dan aneka hadiah lainnya, berjualan makin senang, makin senang jualan makin laris, makin laris dapat duit banyak, dapat duit banyak akhirnya jadi pengusaha kaya raya,” tulis Karyo.
Adapun pelaku perundungan, yakni Firdaus (26) serta tujuh rekannya telah diamankan di Mapolres Pangkep dan ditetapkan sebagai tersangka.
“Ada delapan orang yang kita amankan dan semuanya telah ditetapkan sebagai tersangka hari ini,” ujar Kapolres Pangkep AKBP Ibrahim Aji, Senin (18/5/2020). (red)
Masa depan adalah perkara ghaib, rahasia Allah SWT yang tersembunyi dari pengetahuan kita. Kapan pandemi Covid-19 berakhir? Siapa yang akan menjadi Presiden setelah Pak Jokowi? Kapan negara Amerika dan Israel hancur? Dari harakah mana nanti yang akan menaklukkan kota Roma? Ini di antara perkara ghaib yang menyibukkan sebagian orang.
Sebagian dari mereka menghabiskan waktu, tenaga dan harta untuk menyingkap rahasia ghaib masa depan dengan menggunakan berbagai macam pisau analisa. Sebagian lagi sibuk membuat dan menyebarkan narasi. Berdebat melampaui batas-batas adab dan akhlak. Memaki pihak lain. Membuat fitnah. Dan membuka aib kelompok yang berseberangan sambil melupakan masalah penting yang ada dalam dirinya.
Masalah penting yang ada dalam diri semua orang, soal nasibnya setelah mati. Bagaimana keadaannya di alam kubur. Tentang dosa dan aibnya. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengingatkan: “Manusia paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinan terhadap apa yang dimilikinya, demi dugaan terhadap apa yang ada di sisi manusia”.
Kata Syaikh Zarruq, keyakinan terhadap apa yang dimiliki adalah keyakinan terhadap dosa dam segala cacat atau aibnya. Ia bodoh karena mengabaikan keyakinannya atas kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan keburukan dirinya. Kemudian ia menyangka pada diri orang lain ada kebaikan yang sesungguhnya yang bukan hakikat dirinya dan bukan pula hakikat orang lain.
Syaikh Zarruq melanjutkan, aib adalah segala sesuatu yang meniscayakan kekurangan dan kerusakan. Aib disebabkan kemaksiatan dan keburukan pada perbuatan, adab dan akhlak, baik yang berhubungan dengan Allah maupun makhluk.
Lalu Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengatakan: “Perhatianmu terhadap aib yang tersembunyi dalam diri lebih baik daripada perhatianmu terhadap keghaiban yang terhalang darimu.”
Menurut Syaikh Zarruq, ada tiga alasan mengapa memperhatikan aib diri sendiri lebih utama daripada memperhatikan perkara ghaib: Pertama, menyibukkan diri dengan aib sendiri adalah kewajiban menurut adab. Kedua, orang yang menyibukkan diri dengan aib sendiri berupaya meraih kesempurnaan. Ketiga, orang yang menyibukkan diri dengan aib sendiri berarti menunaikan hak-hak rububiyah.
Karakter nafsu adalah mengabaikan aib dan mengutamakan mencari hal ghaib. Padahal yang sepatutnya dilakukan seorang hamba adalah kebalikannya. Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berujar: “Jika Allah hendak menghinakan seorang hamba dalam diam dan geraknya, Dia akan menempatkan hasrat dan nafsu di hadapannya.”
Masa depan adalah perkara ghaib. Sepenuhnya di tangan Allah swt. Kewajiban kita merencanakan kebaikan-kebaikan. Nge-bully orang yang berbeda harapan tentang masa depan, apalagi sampai jatuh kepada perbuatan haram, itu perbuatan bodoh yang tidak layak bagi semua insan.