Tag: cirebon

  • Peringatan Haul Ke-16 Al-Maghfurulah Syech Mahmud Muchtar: Mempererat Ukhuwah Islamiyah di Pondok Pesantren “Darul-‘Ulumiy Syari’yya

    Peringatan Haul Ke-16 Al-Maghfurulah Syech Mahmud Muchtar: Mempererat Ukhuwah Islamiyah di Pondok Pesantren “Darul-‘Ulumiy Syari’yya

    wp.sorbansantri.com -Cirebon, Jawa Barat – Pondok Pesantren “Darul-‘Ulumiy Syari’yyah” siap menggelar peringatan Haul Ke-16 untuk mengenang sosok Al-Maghfurulah Syech Mahmud Muchtar, tokoh yang telah memberikan banyak jasa dan pengajaran bagi para santri. Acara yang bertajuk “Temu Kangen Santri” ini akan diselenggarakan pada Minggu, 11 Agustus 2024.

    Panitia Haul, yang dipimpin oleh Pondok Pesantren “Darul-‘Ulumiy Syari’yyah”, telah menyiapkan berbagai kegiatan dalam rangka peringatan haul ini. Mulai dari pembacaan Al-Qur’an, tausiyah, doa bersama, diskusi keagamaan, hingga lomba keislaman akan menjadi bagian dari rangkaian acara yang bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah dan meningkatkan semangat para santri dalam menuntut ilmu.

    Santri dan alumni Pondok Pesantren “Darul-‘Ulumiy Syari’yyah” diundang untuk hadir dalam acara tersebut di lokasi pesantren yang terletak di Bodoelor, Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum yang berharga untuk mengenang jasa-jasa Al-Maghfurulah Syech Mahmud Muchtar serta memperkokoh solidaritas dan semangat keagamaan di kalangan santri.

    Dengan menghadiri acara sesuai dengan undangan yang diberikan, diharapkan peserta dapat turut serta dalam rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia. Semoga peringatan Haul Ke-16 ini menjadi momen yang bermakna bagi seluruh peserta dan dapat menginspirasi semangat keagamaan dan pengabdian bagi para santri. (AI Sorban)

  • Pulang dari Apel Kebangsaan, 2 Banser Cirebon Tangkap Jambret

    Pulang dari Apel Kebangsaan, 2 Banser Cirebon Tangkap Jambret

     

    SORBANSANTRI.COM
    Sahabat Agus dan Jakfar menangkap jambret daerah sumber
    wp.sorbansantri.com- Minggu, 29 November 2020. Ketangkasan banser kabupaten cirebon , patut diacungi jempol. Pasalnya Dua banser bernama agus dan jakfar dari satkoryon Plered kabupaten cirebon ini membantu kepolisian menangkap seorang jambret di daerah Sumber.(29/11)
    Dalam suasana hujan, keduanyanya sahabat agus dan jakfar pulang dari acara APEL KEBANGSAAN SECARA VIRTUAL di gedung PCNU kab. Cirebon, saat hendak pulang dari APEL KEBANGSAAN sahabat AGUS dan JAKFAR melihat polisi sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku penjambretan. Dan spontan sahabat banser melakukan pengejaran dan berhasil ditangkapnya jambret tersebut.  Saat ini pelaku jambret sudah berhasil diamankan dan di bawa ke POLSEK setempat. (abi sorban)
  • Sunan Kalijaga Raden Sahid

    Sunan Kalijaga Raden Sahid

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Beliau merupakan putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

    Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ‘kungkum’ di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kepada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir.

    Setelah diusir selain mengembara, ia bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia tidak pernah meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam. (abi sorban)

  • MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Ada hal yang sangat menarik dan patut diteladani dalam makna persaudaraan yang ada di Ansor dan Banser. Mengingat Ansor adalah pagar bajanya aqidah Aswaja NU dan Benteng NKRI harus selalu kokoh dan serempak dalam gerakan.

    Ada cerita lain waktu sahabat-sahabat PAC GP Ansor Banser Pacet dalam kegiatan yang diadakan warga NU asal Mojokerto hadir pada acara Haul ke-12 Syeikh Mahmud Muchtar Cirebon tanggal 21 September 2020, disela-sela waktu ishoma kegiatan acara haul, sahabat-sahabat PAC GP ANSOR Pacet Mojokerto masih menyempatkan doa dan ziarah ke makam syeikh Mahmud Muchtar Cirebon untuk tawassul dan mendoakan sahabat SORBAN (Ansor Banser) di Pacet agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam berjuang menegakkan IDEOLOGI.

    Mengingat masa-masa Pilkada serempak PILBUB 2020 di Mojokerto banyak penyimpangan IDEOLOGI dalam memperjuangkan Aqidah Annahdliyah. Masih banyak Bapak kita (MWC) dan Sahabat kita ( Lembaga dan Banom), masih belum mengetahui baik itu sadar apa tidak bahwa saat ini kita dalam masa perang IDEOLOGI dan ada penyelewengan secara struktural dengan meng atas namakan NU.

    Untuk itu kami berharap agar semua kader yang masih ragu-ragu dalam berpolitik, yang masih mementingkan kepentingan sendiri dalam politik, diberikan kecerahan hati dan pikiran untuk tetap setia memegang teguh IDEOLOGI ASWAJA NU” ungkap sahabat Sunardi yang memimpin dalam kegiatan doa dan tawassul PAC GP ANSOR PACET. (Abi SORBAN )

  • Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – 3 Shofar 1442 H / 21 September 2020 M. Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar diadakan di Pondok Pesantren DARUL ‘ULUMISY-SYAR’ IYYAH Bo’de Plumbon Cirebon Jawa Barat. Beliau adalah pengarang kitab Tarjamah Ajrumiyah yang banyak dipakai kalangan pesantren, madrasah, dan sekolah diniyah. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

    SORBANSANTRI.COM
    Syeikh Mahmud Mukhtar

    Pada hari ini senin 21 September 2020 sudah sejak pagi dihadiri tamu rombongan dari berbagai wilayah, seperti Warga NU Mojokerto yang hadir sekitar 150 jamaah yang datang pada pukul 07.00 wib. Acara tersebut dimulai dengan ramah tamah yang di lanjutkan dengan khotmil quran sekaligus doa.

    Acara Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar ini akan berlangsung sampai malam nanti. Untuk mengantisipasi banyaknya tamu yang hadir, kesigapan Satkoryon Banser Weru sangat diperlukan apalagi sekarang musim pandemi covid-19 jadi pemeriksaan dan pengamanan sangat diperlukan.

    Alhamdulillah Sahabat Aroyan selaku kasatkoryon Ba ser Weru dapat melakukan koordinasi yang bagus dengan anggotanya, Mudah”an acara haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud berjalan dengan lancar Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi-sorban)

  • DPRD CIREBON DIMASUKI TERORIS

    DPRD CIREBON DIMASUKI TERORIS

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Berikut Postingan dari Aoki Vera Kurniawati terkait Ucap sumpah Anggota DPRD CIREBON terkait khilafah.

    Indonesia SOS
    Pelajaran PMP, penataran P4, pelajaran Budiperkerti. Dan saya ngak akan berhenti menyuarakan ini.

    Bukan bercanda mereka terus mengakar..
    Segala usia dan segala bidang mereka susupkan..

    Makanya gW marah banget saat pak Andhika terima anak pembawa bendera Khilafah masuk TNI.!!!

    Ngak segampang itu melebur warna hitam di atas warna putih.
    Butuh waktu yg lama…
    Sedangkan merrka butuh waktu sebentar untuk menjadikannnya semua berwarna hitam.

    [su_youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=z7B_ZxzzHO0″]

    @kemendagri
    Harus ada tindakan tegas.
    @mohmahfudmd
    @nadiem_makarim__
    Ayo gerak cepat pak🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️

    @prabowo puaskah anda mengacak acak tanah air anda sendiri..??
    Anda yg mengandalkan kekuatan mereka.. menjadikan kader2 anda gila khilafah.!!
    Tidak ada tersisa sedikitpun sumpah prajurit anda sepertinya..
    Apa karena hidup yg berpindah pindah..?
    Atau karena pernah di pecat dari angkatan..?
    Sekarang anda liat efeknya..

    TERORIS NGAK BISA DI AJAK DAMAI

    TIDAK ADA TEMPAT DIMANAPUN DI ATAS BUMI IBU PERTIWI UNTUK TERORIS.!!!

    DPRD CIREBON DIMASUKI TERORIS

    (abi sorban)

  • ABUYA DIMYATI PANDEGLANG BANTEN

    ABUYA DIMYATI PANDEGLANG BANTEN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- KH.Muhammad Dimyati yang biasa dipanggil dengan Buya Dimyati merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki karismatik, beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Buya Dimyati sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pon-pes Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon.

    Buya Dimyati sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Buya Dimyati begitupun ketika beliau di beri sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut, hal ini pernah dialami ketika Buya Dimyati di beri sumbangan Oleh Mba Tutut ( Anak Mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.

    Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.

    Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, Syaikh Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).

    Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

    Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

    Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.

    Karomah

    Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)

    Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

    Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah Khatam 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).

    Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir lagi adalah, di mana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga kerana banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, “Dari mana kamu (Bahasa Arab)?” Si Kyai menjawab, “Dari Indonesia.” Maka penjaganya langsung bilang, “Oh di sini ada setiap malam Juma’at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, sehinggalah beliau mula membaca al-Qur’an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka sendiri-sendiri.

    Mendengar hal itu Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam jumaat agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya.

    Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabrak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia. Bahkan kisah dari timur tengah yang mengatakan bahwa Abuya tiap malam jumat ziarah di makam Syech Abdul Qodir al Jailani dan hal-hal lain yang tidak masuk akal tapi benar terjadinya dan ada (berikut saksi-saksi hidupnya).

    Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren

    Tanggal 3 october 2003 tepat hari jum’at dini hari KH.Muhammad Dimyati dipanggil oleh Alloh SWT keharibaannya. Banten telah kehilangan sosok ulama yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat Banten saja tapi juga umat islam pada umumnya. Beliau dimaqomkan tak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang. Hingga kini maqom tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di tanah air.

    Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Cidahu, Cadasari, Pandeglang-Banten, KH Abuya Muhammad Dimyati, hari Jum’at (3/10) umat Islam sangat kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya.