Tag: dakwah

  • Rizieq Shihab Nyatakan Perang atas ‘Pembantaian’ KM50 Usai Bebas

    Rizieq Shihab Nyatakan Perang atas ‘Pembantaian’ KM50 Usai Bebas

    Berita Video

    Jakarta, SorbanSantri.com – Mantan pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab, mengeluarkan pernyataan keras usai dirinya resmi bebas murni dari tahanan. Rizieq menyatakan perang kepada pihak-pihak yang menurutnya terlibat dalam peristiwa yang ia sebut sebagai pembantaian di Kilometer 50. Tragedi tersebut diketahui menewaskan 6 anggota FPI.

    Pernyataan ini disampaikan Rizieq Shihab di Kantor Bapas Klas Satu di Jl Percetakan Negara 8, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Senin (10/6/2024). “Saya tantang mereka para pembantai KM 50, kapan lagi mau bantai saya, saya tunggu itu saja. Kalau mereka jantan, mereka berani, mereka betul-betul orang-orang yang punya keberanian sebagaimana mestinya, saya tunggu,” tegas Rizieq, dikutip dari laporan jurnalis KompasTV.

    Rizieq menegaskan kembali sumpahnya untuk menyatakan perang terhadap semua pihak yang terlibat dalam insiden KM50. “Jadi sekali lagi saya bersumpah, sekali lagi menyatakan perang kepada semua pihak yang terlibat dalam pembantaian KM50. Saya tunggu kapan mereka mau bantai, kapan mereka mau serang, tapi ingat kalau mereka mau perang yang gentleman.”

    Rizieq juga menuturkan bahwa ia akan mengejar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian 6 simpatisannya. “Sumpah Demi Allah saya akan kejar, siapapun pihak manapun yang terlibat di pembantaian KM 50, saya enggak peduli siapa orangnya, saya akan kejar mereka dari dunia hingga akhirat, artinya di dunia ini saya akan kejar mereka dari proses hukum baik nasional maupun internasional,” ucapnya. “Dan kita sudah mengirimkan berkas dari beberapa waktu yang lalu, baik itu ke beberapa negara yang peduli pada soal pelanggaran HAM.”

    Tidak hanya itu, Rizieq juga berencana menggerakan berbagai pihak terkait kasus Kilometer 50. “Saya akan menggerakan semua, para habaib, para kiai, para ustaz, pondok pesantren, majelis taklim untuk membaca doa segar khusus agar semua pihak yang terlibat dalam pembantaian KM 50 hancur hidupnya, binasa hidupnya, rusak hidupnya, hina hidup dari dunia sampai akhirat,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Rizieq juga bersyukur dirinya telah resmi bebas murni dari perkara hukum. “Alhamdulillah hari ini masa pembebasan bersyarat saya selesai, jadi artinya mulai hari ini saya sudah bebas murni sebagaimana biasanya tanpa ada lagi ikatan-ikatan hukum yang berkaitan dengan lapas,” ucap Rizieq Shihab.

    Ia juga menyatakan akan melanjutkan aktivitasnya sebagai pendakwah. “Kalau berdakwah itu sudah harga mati ya, kita berdakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar akan terus kita lanjutkan,” tandasnya.

    Dengan bebasnya Rizieq Shihab, perhatian publik kembali tertuju pada perjalanan kasus KM50 dan bagaimana ia akan melanjutkan misinya dalam menuntut keadilan bagi para simpatisannya yang gugur. (AI Sorban)

    @beritasorban Usai bebas murni dari tahanan, mantan pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab, mengeluarkan pernyataan tegas di Kantor Bapas Klas Satu, Jakarta Pusat. Rizieq menyatakan perang kepada pihak-pihak yang terlibat dalam insiden yang disebutnya sebagai 'pembanteian' di Kilometer 50, yang menewaskan 6 anggota FPI. Ia menantang para pelaku untuk bertanggung jawab dan menyatakan siap mengejar mereka, baik melalui hukum nasional maupun internasional. Rizieq juga berkomitmen menggerakkan ulama dan santri untuk mendoakan kehancuran hidup para pelaku. Kini, ia bersyukur atas kebebasan murninya dan bertekad melanjutkan dakwahnya tanpa henti. Perhatian publik kembali tertuju pada kasus ini dan langkah Rizieq selanjutnya dalam menuntut keadilan. #RizieqShihab #PembantaianKM50 #KeadilanKM50 #RizieqBebas #FPI #fyp #foryoupage❤️❤️ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Biografi KH. Marzuki Mustamar: Ulama Tegas dan Peduli

    Biografi KH. Marzuki Mustamar: Ulama Tegas dan Peduli

    Berita Video

    Sorbansantri.com – KH. Marzuki Mustamar, lahir di Blitar, Jawa Timur pada 22 September 1966, merupakan sosok ulama yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan dan organisasi keagamaan di Indonesia. Putra dari KH. Mustamar dan Nyai Hj. Siti Zainab ini sejak kecil telah mendapat pendidikan agama yang ketat dari kedua orang tuanya. Di bawah bimbingan mereka, beliau mulai mempelajari Al-Qur’an dan dasar-dasar agama, membangun fondasi yang kuat untuk perjalanan intelektual dan spiritualnya di masa depan.

    Pendidikan Awal dan Menengah

    KH. Marzuki mengawali pendidikan formalnya di SMP Hasanuddin, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Di masa mudanya, beliau beruntung mendapat bimbingan dari beberapa kyai ternama di Blitar. Beliau mendalami ilmu balaghoh dan mantek dari Kyai Hamzah, ilmu fikih dari Kyai Abdul Mudjib, serta ilmu hadis dari Kyai Hasbullah Ridwan. Pada masa pendidikan di Madrasah Aliyah, beliau telah menyelesaikan khatam kitab Hadits Muslim dan beberapa kitab lainnya, menunjukkan kecemerlangan akademisnya sejak usia dini.

    Pendidikan Tinggi dan Gelar Akademis

    Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, KH. Marzuki melanjutkan studinya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, yang sekarang dikenal sebagai Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Di sana, beliau mengambil jurusan Perbandingan Mazhab dan meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1990, kemudian gelar Sarjana pada tahun 1993. Dedikasinya dalam bidang akademis tidak berhenti di situ; beliau melanjutkan ke jenjang Pascasarjana di IAIN Malang dan meraih gelar Magister dalam Ilmu Falak pada tahun 2000. Pada tahun 2011, beliau memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Ushul Fiqih dari Universitas Muhammadiyah Malang.

    Kiprah dalam Organisasi Nahdlatul Ulama

    Selain kegiatan akademis, KH. Marzuki Mustamar juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan, terutama Nahdlatul Ulama (NU). Beliau menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang selama dua periode, sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada periode 2018-2023.

    Selama menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Marzuki berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah NU di wilayah tersebut. Beliau juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kepada umat.

    Penghargaan dan Pengakuan

    KH. Marzuki Mustamar dikenal sebagai ulama yang tegas, berwibawa, dan peduli terhadap umat. Dedikasi dan kontribusinya telah diakui secara luas, dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Beberapa di antaranya adalah “Tokoh Perubahan” dari majalah Tempo pada tahun 2019, “Tokoh Inspiratif” dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2020, dan “Tokoh Berdedikasi” dari Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2021.

    Kontribusi untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia

    Kehadiran KH. Marzuki Mustamar dalam dunia keagamaan dan pendidikan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Nahdlatul Ulama dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Islam, beliau terus berupaya memperkuat pondasi pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial di masyarakat. KH. Marzuki Mustamar bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pemimpin yang menginspirasi banyak orang untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. (AI Sorban)

    @beritasorban KH Marzuki dikenal sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, di mana beliau berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah NU. Selain itu, beliau aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dedikasi dan kepemimpinannya yang tegas telah mendapat pengakuan luas, termasuk penghargaan 'Tokoh Perubahan' dari majalah Tempo pada tahun 2019 dan 'Tokoh Inspiratif' dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2020. KH Marzuki Mustamar adalah contoh ulama yang peduli dan berdedikasi untuk umat. #KHMarzukiMustamar #UlamaTegas #PWNUJatim #TokohInspiratif #NahdlatulUlama #PendidikanIslam #PemimpinBerdedikasi #FypProfile #fypシ゚ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Inilah Yang Terjadi Ketika Dakwah Berkostum Casual, Dukun Berkostum Agamis

    Inilah Yang Terjadi Ketika Dakwah Berkostum Casual, Dukun Berkostum Agamis

    wp.sorbansantri.com – Redaksi lebih tertarik membahas pesulap merah ini karena keunikan dan gayanya mengungkap penipuan dukun berkedok agama. Penipuan seperti ini efeknya lebih buruk karena bisa menipu sampai ke akar-akar sendi kehidupan masyarakat dan keutuhan sebuah negara. Ini bahaya karena mereka tinggal dan hidup ditengah masyarakat, disegani, bahkan dilindungi!

    Praktek perdukunan berkedok agama sudah lama terjadi, mengaku paranormal spiritual bisa menggandakan uang, melakukan pengobatan, meramal masa depan dan lain sebagainya.

    Semua pengobatan dan prakteknya itu adalah tipuan berkedok agama, berpakaian ala agamis yang membawa-bawa nama Tuhan agar pasiennya mudah tertipu daya, bahkan rela ditiduri!

    Penipuan model seperti ini sulit dituntut secara hukum karena minimnya bukti dan kesaksian. Umumnya para korban tidak berani atau malu mengadu karena tidak ada bukti, tidak ada saksi, dan malu diketahui keluarga atau masyarakat yang mengenalnya. Niatnya ingin berobat alternatif eh malah dikerjain!

  • PCINU Jepang, Kenalkan Islam Melalui Puisi dan Seni Musik Hadrah Berbahasa Jepang, pada Festival Seni Internasional di Tokyo

    PCINU Jepang, Kenalkan Islam Melalui Puisi dan Seni Musik Hadrah Berbahasa Jepang, pada Festival Seni Internasional di Tokyo

    Sorbansantri.com – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang bekerjasama dengan tim Hadrah Nusantara menampilkan Seni Musik Hadrah dan Puisi berbahasa Jepang, dalam acara Festival Seni Internasional, Design Festa Volume 55, di Tokyo Big Sight, Minggu (22/5).

    Design Festa, merupakan salah satu festival seni internasional terbesar di Asia, yang mengumpulkan ribuan seniman yang tertarik dengan kreativitas dan ekspresi artistik dari seluruh Jepang dan berbagai negara lainnya.

    Wakil Ketua I Tanfidziyah PCINU Jepang, K.A Arianto, mengatakan bahwa keikutsertaan Lesbumi PCINU Jepang di festival tersebut, merupakan suatu keistimewaan, karena mengenalkan seni Indonesia sekaligus berdakwah dengan Bahasa Jepang melalui puisi dan hadrah. “ Suatu kebanggaan Diaspora Nahdliyyin dapat tampil di depan ribuan pengunjung, yang mayoritas merupakan kaum muda mudi pecinta seni di Jepang“, kata Arianto yang hadir mendampingi tim Hadrah.

    Ketua Lesbumi PCINU Jepang, Yuliana Nur Arifin memaparkan bahwa festival seni tersebut memfasilitasi misi Lesbumi PCINU Jepang yang ingin mengenalkan dan mensyiarkan Islam dengan indah melalui seni seperti Walisongo. “Harapannya, warga Jepang ataupun pengunjung lainnya yang masih awam tentang Islam dapat mengenal Islam melalui hadrah, selain itu sebagai bukti bahwa hadrah juga siap bersaing dalam permusikan internasional“, sahut Yuliana Nur Arifin yang juga merupakan salah satu vokalis tim Hadrah.

    Pada festival tersebut, tim hadrah menampilkan shalawat dan puisi berbahasa Jepang berjudul “Anata ni Aitai “, yang berkisah tentang Nabi Muhammad SAW, lirik lagu dan puisi diterjemahkan langsung oleh Masae San, anggota PCINU Jepang yang merupakan warga asli Jepang. Menurut Ketua tim Hadrah Nusantara, Irwan Setiawan, melalui puisi dan shalawat tersebut, tim hadrah berharap dapat mengenalkan islam dan mengenalkan betapa spesialnya Nabi Muhammad SAW.Sejumlah pengunjung dari berbagai negara seperti Jepang, Italia, Brazil, Malaysia, termasuk warga Indonesia yang berdomisili di Jepang merasa terkesan, menikmati pertunjukan tim hadrah nusantara, bahkan meminta foto bersama dengan tim hadrah Nusantara. Ako San, yang merupakan warga asli Jepang mengatakan bahwa ia sangat terkesan dengan penampilan tim hadrah nusantara. “Saya suka Indonesia, sayang sekali selama pandemi ini tidak bisa wisata ke lndonesia, setelah mendengar Hadroh, saya terhibur sekali seperti wisata ke indonesia secara virtual“, kata Ako San.

    Kontributor lapangan : Masae San dan Avin , Dokumentasi PCINU Jepang

    #Anwar Sorban

  • TALKSHOW SEJARAH NU PACET DI MOMEN HARLAH KE-99

    TALKSHOW SEJARAH NU PACET DI MOMEN HARLAH KE-99

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh NU lintas waktu dalam talkshow sejarah NU pada Harlah NU ke 99

    wp.sorbansantri.com – Pengurus Wakil Cabang NU kecamatan Pacet menggelar acara Doa berjamaah dalam rangka Harlah NU ke-99 (versi Hijriah atau ke-96 (versi Masehi) di gedung Graha NU Pacet yang dilaksanakan Rabu (16/2).

    Acara tersebut mengambil tema “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, yang disertai dengan talkshow sejarah perkembangan NU di lereng welirang dari awal adanya NU sampai sekarang. Menurut tokoh muda NU kecamatan Pacet yang biasa disapa Pak Agus (ketua MWCNU Pacet) menjelaskan, bahwa sejarah keberadaan NU di pacet seyogyanya diabadikan karena sejarah tidak boleh dilupakan. “Gedung ini (Graha NU Pacet) merupakan cagar budaya dan memiliki nilai historis tinggi bagi organisasi NU di Pacet”. terang Pak Agus.

    Dengan menghadirkan Tokoh-tokoh pelaku sejarah NU di Pacet yaitu Bapak Kusnan Kesiman, Bapak Hartono Cembor dan Abah Mud beliau-beliau bercerita perjalanan organisasi dari masa ke masa, mulai dari kepemimpinan, cara dakwah, kaderisasi, serta suka-duka dalam berorganisasi di NU kecamatan Pacet.

  • GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak menggelar Kelas Media dan Pelatihan Jurnalistik Dasar pada Rabu (26/1/2022) malam.
    Kegiatan yang digelar di lantai dua Gedung MWC NU Kecamatan Karangawen ini diikuti sejumlah 40 orang yang merupakan utusan dari tiap ranting atau kelurahan di kecamatan tersebut.
    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen, Fahri Lathif mengatakan, kelas ini bertujuan memperlebar sayap perjuangan sampai ke dunia maya.
    Kegiatan ini juga merupakan program kerja yang telah direncanakan oleh Bidang Informasi, Komunikasi dan Kajian Strategis dari PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen Demak.
    “Peserta kita bekali tentang pengetahuan jurnalistik dasar dan pengelolaan media sosial yang baik dan benar,” kata Fahri.
  • DAKWAH ULAMA ASWAJA

    DAKWAH ULAMA ASWAJA

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh: KH. Ma’ruf Khozin.

    wp.sorbansantri.com – Ajaran Islam terdiri dari Aqidah, Syariah/ Fikih dan Akhlah/ Tasawuf. Ini adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

    Jika dakwah terlalu mengedepankan Aqidah dengan mengabaikan yang lain maka kecenderungan bagi da’i tersebut adalah mengafir-kafirkan. Jika Fikihnya yang terlalu menonjol maka akan menyesat-sesatkan. Jika terlalu dominan pada Tasawuf akan memiliki kecenderungan pembiaran sambil mengira akan ada perubahan.

    Maka yang tepat adalah keseimbangan 3 hal tersebut. Jika ada penyimpangan dari umat maka akan dibimbing dengan kesantunan, kasih sayang, etika dan sebagainya.

    Kita lihat saat Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendatangi Fir’aun -Raja yang mengaku Tuhan-, maka Allah berfirman:

    ‎فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

    “Maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Ţāhā: 44).

    Imam Al-Qurthubi menyelaraskan dengan keadaan kita saat ini dalam berdakwah:

    ‎ﻓﺎﻟﻘﺎﺋﻞ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻭﻫﺎﺭﻭﻥ، ﻭاﻟﻔﺎﺟﺮ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﺧﺒﺚ ﻣﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ، ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮﻫﻤﺎ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﻠﻴﻦ ﻣﻌﻪ.

    Kita tidak lebih mulia dari pada Nabi Musa dan Nabi Harun. Orang yang kita dakwahi tidak lebih buruk dari pada Fir’aun, padahal Allah memerintahkan kepada kedua Nabi tersebut untuk berkata lembut kepada Fir’aun.

    ‎ﻭﻗﺎﻝ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ: ﻗﻠﺖ ﻟﻌﻄﺎء ﺇﻧﻚ ﺭﺟﻞ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻙ ﻧﺎﺱ ﺫﻭﻭ ﺃﻫﻮاء ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ، ﻭﺃﻧﺎ ﺭﺟﻞ ﻓﻲ ﺣﺪﺓ ﻓﺄﻗﻮﻝ ﻟﻬﻢ ﺑﻌﺾ اﻟﻘﻮﻝ اﻟﻐﻠﻴﻆ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻻ ﺗﻔﻌﻞ! ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:” ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺎ”. ﻓﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻵﻳﺔ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻜﻴﻒ ﺑﺎﻟﺤﻨﻴﻔﻲ

    Talhah bin Umar berkata kepada Atha’: “Kamu dikelilingi banyak orang yang berbeda keinginan. Sementara saya orang yang tegas. Saya berkata kepada mereka dengan kata-kata yang kasar”. Atha’ berkata: “Jangan lakukan itu! Allah berfirman: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Al-Baqarah 83). Dalam ayat ini diperintah berkata yang baik kepada Yahudi dan Nasrani, apalagi sesama Muslim (Tafsir Al-Qurthubi 2/16). (abi sorban)

  • Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Dalam sebuah majelis dzikir ataupun majelis Maulid terkadang ada tradisi pembakaran dupa (bukhur). Tradisi ini bukan sesuatu yang tanpa dasar, inilah penjelasannya :
    Imam Nawawi mensyarahi hadits di atas sebagai berikut:
    ﺍﻻﺳﺘﺠﻤﺎﺭ ﻫﻨﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻻﺻﻤﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ
    Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu diambil dari kalimat al-majmar yang bermakna al-bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa.
    (Syarh Nawawi ala Muslim: 15/10. )
    Di tambah pula komentar oleh Imam Nawawi tentang hadits tersebut:
    ﻭﻳﺘﺎﻛﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺠﺎﻟﺲ ﺃﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ
    Dan sangat kuat kesunahan memakai wewangian (termasuk istijmar) bagi laki-laki pada hari jumat dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir dan majlis ilmu.
    (Syarah Nawawi ala Muslim: 15/10)
    Membakar dupa saat majlis dzikir, atau majlis pengajian itu juga dicontohkan oleh Imam Malik RA, seperti yang dijelaskan dalam biografi Imam Malik yang ditulis di belakang kitab Tanwirul Hawalik Syarah Muwattha’ malik imam Suyuthi Juz 3 no 166, yang artinya sebagai berikut :
    “Mutrif berkata: ketika orang-orang mendatangi kediaman Imam Malik, maka mereka disambut oleh pelayan wanita beliau yang masih kecil dan berkata kepada mereka, “Imam Malik bertanya apakah anda semua mau bertanya tentang hadits atau masalah keagamaan?
    Jika mereka menjawab “masalah keagamaan” maka imam malik akan keluar kamar dan berfatwa, jika mereka menjawab “hadits” maka beliau mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian beliau mandi, memakai minyak wangi, memakai pakaian yang bagus, memakai sorban, dan beliau memakai selendang panjang di atas kepalanya. Kemudian di hadapan beliau di letakkan mimbar (dampar) dan setelah itu beliau keluar menemui mereka dengan khusu’ lalu di bakarlah dupa hingga selesai dari menyampaikan hadits Rasulullah SAW”.
    Tambahan dari kitab Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 5, halaman 160
    ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﻳﻤﻮﺕ ﻻﻧﻪ ﺭﺑﻤﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ ﻓﻴﻐﻠﺒﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ
    “Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata: “Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan menghalanginya.”

    SenimanNU #Kemenyan #Dupa #Bukhur #Wewangian #Ikhtilafiyah #Aswaja #Ahlussunnahwaljamaah #IslamNusantara #Nahdliyin

  • NGAJI AHADAN LDNU MWCNU PACET

    NGAJI AHADAN LDNU MWCNU PACET

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Ahad, 12 Januari 2020 telah dilaksanakan Pengajian Rutin oleh LDNU PCNU Kabupaten Mojokerto bekerjasama dengan LDNU MWCNU Kecamatan Pacet. Pengajian yang bertempat di Masjid Al Ikhlas Desa Petak Kecamatan Pacet ini dihadiri kurang lebih 2000 jamaah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Pengurus LDNU tiap-tiap Kecamatan, Pengurus MWCNU Pacet, Bapak Camat Pacet, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor dan IPNU-IPPNU dan jamaah rutin dari berbagai Kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Sebelum acara dimulai dibuka dengan Khotmil Qur’an oleh PAC JQH (Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz) Kecamatan Pacet dan Pembacaan Sholawat Nabi oleh PAC ISHARI Kecamatan Pacet.

    SORBANSANTRI.COM

    Kesuksesan itu tidak luput dari koordinasi yang baik antara pengurus NU dan masyarakat khususnya warga Desa Petak sebagai tuan rumah.
    Pengurus MWCNU Pacet dan LDNU-nya jauh-jauh hari telah mempersiapkan dan berkoordinasi dengan Banom-banom, Takmir Masjid dan pihak keamanan.

    Mengingat masjid Al Ikhlas lokasinya tepat ditepi jalan raya utama Mojosari – Pacet Maka tidaklah heran kalau urusan keamanan Lalu lintas dibackup oleh Satkoryon Banser Kecamatan Pacet dan juga dibantu Linmas setempat, pastinya tak luput dari pantauan Polsek Pacet.

    SORBANSANTRI.COM

  • KYAI CAP CATUT KUDUS, PENYELAMAT AJARAN SUNAN KUDUS

    KYAI CAP CATUT KUDUS, PENYELAMAT AJARAN SUNAN KUDUS

    InfokomBanserNU- NAMANYA dikenal dengan sebutan Syaikh Rodhi. Yah, sosok pendatang baru itu tiba-tiba dapat gelar syaikh. Tidak ada yang mengetahui asal-usulnya. Tiba-tiba saja datang ke daerah Kudus kulon sekitaran Menara Kudus di zaman Nusantara bergerak.

    Banyak sejarah tutur menyebut Syaikh Rodhi adalah misionaris wahabi yang saat itu sedang di puncak jihad menyebarkan dakwah “bid’ahnya” di daerah yang dari dulu dikenal sebagai wilayah santri; Kudus kulon.

    KH. Sya’roni Ahmadi menyebut Syaikh Rodhi hidup sezaman dengan Surkati, tokoh yang difigurkan dalam Jamiyyatul Khoir. Dulunya, Jamiyyatul Khoir dipenuhi dengan tokoh-tokoh ahlussunnah waljama’ah keturunan Arab dan Yaman (khususnya). Tapi sejak Surkati bisa masuk mempengaruhi organisasi Islam pertama tersebut (berdiri 1901), paham yang disebarluaskan menjadi semakin bercorak wahabi.

    Di zaman Surkati inilah Jamiyyatul Khoir ditambah akonim menjadi Jam’iyytul Khoir wal Irsyad dan peranakan Arab yang mendirikannya mufaraqah membuat jamiyyah sendiri bernama Rabithah Alawiyyin.

    Kiai Sya’roni Ahmadi menyebut Surkati dan Syaikh Rodhi adalah utusan misionaris wahabi. Sementara utusan lainnya ada yang dikirim ke luar Jawa, untuk memecah belah umat Islam waktu itu, yang sedang bergerak melawan Belanda.

    Di sekitar Menara Kudus abad 19 awal itu (tahun tepatnya belum diketahui sumber saya), Syaikh Rodhi bermukim dan menyebarkan ajaran-ajaran bid’ah untuk kalangan kelompok santri menara. Misalnya, dia mendakwahkan ajaran baru yang mengharamkan ziarah kubur Sunan Kudus, tahlilan serta berjanjenan. Semua itu sudah berlaku ratusan tahun di Kudus.

    Banyak kiai dan warga di sekitar Kudus yang tidak setuju atas kehadiran tokoh tiba-tiba yang menyebarkan ajaran yak nah beh itu. Ujaran dan ceramahnya sangat meresahkan warga.

    Diceritakan, Syaikh Rodhi ini pernah mengikat dirinya sendiri dengan rantai di masjid Menara Kudus. Bukan karena stres dan gila, tapi sebagai ungkapan dia tidak mau berpindah dari lokasi sekitar Menara karena diusir warga.

    Tanda buruk kehadiran Syaikh Rodhi ini nampak dari kisah tutur yang menyebut adanya anjing misterius yang tiba-tiba muncul di tengah masjid depan menara kecil yang sekarang lokasinya ada di dalam masjid. Anjing itu adalah isyarah adanya manusia hina yang dikirim tuannya untuk menjaga akidah kotor, senajis hukum anjing dalam fiqih.

    Meski “dakwah” nya ditolak oleh warga yang mayoritas santri, Syaikh Rodhi selalu berusaha dengan berbagai cara agar diterima. Sayangnya, pendapatnya yang dangkal mudah dipatahkan hanya oleh santri, belum sekelas kiai.

    Dia merasa mendapatkan kesempatan bisa menguasai Masjid Menara peninggalan Sunan Kudus saat para kiai dan tokoh ulama di sekitar menara dipenjara oleh Belanda di zaman geger pecinan tahun 1918 M. Syaikh Rodhi pun menyebar pengumuman tantang debat dengan siapa saja dengan jaminan jika kalah harus mengikuti ajaran bid’ahnya.

    Syaikh Rodhi tidak mengetahui kalau Kudus kulon adalah markas para santri, yang sudah dibangun Sunan Kudus sejak masih hidup. Ia mengira bila kiai Kudus banyak dipenjara artinya tidak akan ada lagi orang alim yang bisa melawannya. Dia tidak mengetahui peta bahwa Kudus kulon itu banyak orang alim yang kealimannya tidak nampak karena kalah dengan pamor mahabbah dan haibah Sunan Kudus.

    Tantangan Syaikh Rodhi direspon oleh seorang alim yang tidak ikut dipenjara Belanda karena dianggap bukan sebagai tokoh penting. Namanya Kiai Hamid, yang oleh Kiai Sya’roni Ahmadi disebut dengan gelar populer Kiai Hamid Cap Catut.

    Kiai Hamid siap debat dengan Syaikh Rodhi dengan satu syarat: yang kalah harus keluar dari Kudus dan tidak boleh kembali selamanya.
    Syarat itu dipenuhi. Perdebatan ini ada yang menyebut terjadi di Masjid Menara Kudus, yang disaksikan oleh banyak orang.

    Kalah dalil, Syaikh Rodhi akhirnya harus keluar dari Kudus dan pergi entah kemana karena memang tidak diketahui asalnya. Kudus pun akhirnya terselamatkan dari pengaruh wahabi yang mengharamkan amaliyah ahlussunnah wal jama’ah, hingga sekarang.

    Untuk mengenang peristiwa penting tersebut, Kiai Hambali atau Kiai Kamal (Kamal adalah nama ubahan setelah dipenjara Belanda, mukim di Damaran, belakang makam Sunan Kudus), mendokumentasikan dalam kalimat bahasa Arab,

    ماتت البدعة بقيام حجة لأهل السنية

    Artinya:

    “Bid’ah sudah mati (seiring) ditegakkannya hujjah untuk ahli sunnah”.

    Bila dijabarkan, ajaran bid’ah yang pernah disebar pertama oleh Syaih Rodhi di sekitar Menara Kudus sudah mati sejak dia kalah debat penuh dalil dengan Kiai Hamid Cap Catut yang membuktikan kebenaran ajaran ahlussunnah wal jama’ah.
    Kalimat tersebut terukir di dalam Masjid Menara Kudus.

    Dalam manuskrip yang ada, tertera angka 1344. Kiai Kamal menyusun kalimat dokumentatif tersebut bukan hanya sebagai ungkapan penuh makna, tapi juga sangkakala yang menunjuk tahun kelahiran Nahdlatul Oelama (NO) 1926 yang bertepatan dengan 1344 H. Demikian sebagaimana dituturkan oleh M. Abdullah Al Badri.

    Artinya, kelahiran NU pada tahun 1344 H adalah penanda “matinya” ajaran wahabi berkembang menjadi ideologi agama yang akan terus ditolak oleh NU, terbukti hingga sekarang.

    Semoga, seluruh jama’ah MWC NU Sungai Gelam mendapatkan limpahan berkah, bikaromati Mbah Kyai Hamid Cap Catut, Kanjeng Sunan Kudus, ugi sedoyo para Wali ing Nusantara.

    #JayalahNU
    Alfatihah..

    (Bagus Muhammad Miftahul Mujib)