Tag: dasar hukum

  • SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SORBANSANTRI.COM

    asNUter, wp.sorbansantri.com –  

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه البخاري، 11)

    Dari Abdullah bin Amr , “Ada seorang laki-laki bertanya pada Nabi , “Perbuatan apakah yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Menyuguhkan makanan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal atau tidak.” (HR. al-Bukhari [11]).

    عَنْ سُفْيَانَ (الثَّوْرِيّ) قَالَ قَالَ طَاوُوْس إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أْنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ

    (المطالب العلية للحافظ ابن حجر 5 / 330 والبداية والنهاية لابن كثير 9 / 270 وشرح صحيح البخارى لابن بطال 3 / 271 وعمدة القاري شرح صحيح البخارى للعيني 12 / 277)

    “Imam Ahmad mengutip pernyataan Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut” (Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah V/330, Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya’ IV/11, Ibnu al-Jauzi dalam Shifat al-Shafwah I/20, Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah, ahli Tafsir) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah IX/270, Ibnu Baththal dalam Syarah al-Bukhari III/271 dan al-Aini

    فَائِدَة رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْح وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْح أَيْضًا وَذَكَرَ ابْنُ رَجَبَ فِي اْلقُبُوْرِ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ اْلأَرْوَاحَ عَلَى الْقُبُوْرِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ الدَّفْنِ لاَ تُفَارِقُهُ وَلَمْ أَقِفْ عَلَى سَنَدِهِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)

    “Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa ‘sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut’. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu’. Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa ‘orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari’. Sanadnya juga shahih. Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab al-Kubur dari Mujahid bahwa ‘arwah berada dalam kubur selama 7 hari sejak dimakamkan dan tidak berpisah’. Tetapi saya tidak menemukan sanadnya” (al-Dibaj Syarah sahih

     

    • إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288)

     

    Al-Hafidz As-Suyuthi berkata: “Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makkah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288)

     

    Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki berkata :

     

    اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ “اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا” وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا 215-219)   

    “Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far’ dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang shahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk  orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman” (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219). (abi sorban)

  • INILAH DALIL BANSER JAGA GEREJA

    INILAH DALIL BANSER JAGA GEREJA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Buat yang senengnya tanya dalil-dalil, maka ini bisa sekedar menjadi bacaan sambil minum kopi malam ini. Tentang Dalil BANSER Jagain Gereja. Baiklah kita mulai.

    “Al mu’minu man aminahu an-nasu ‘ala dima’ihim wa amwalihim,” atau yang artinya kurang lebih seperti ini, “seorang Mukmin itu adalah orang yang manusia lainnya merasa aman atas darah dan harta mereka.” Inilah pesan nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dari Abu Hurairah.

    Jadi, seorang mukmin itu (atas keimanannya) menjadikan manusia di sekitarnya merasa aman. Bukan sebaliknya, atas nama keimanan justru membuat orang lain merasa terusik, merasa terancam, atau malah terteror. Kalau begitu, berarti imanmu tak aman.

    Bukan juga atas keimanan, justru nyawa orang lain merasa terancam, apalagi atas nama iman, malah berani persekusi kelompok lain, mengancam dan/atau bahkan melakukan pembunuhan kepada orang lain. Apa artinya, imanmu tak membuat orang lain merasa aman, apalagi nyaman.

    Makanya, ketika ada BANSER menjaga gereja untuk membantu mengamankan umat Kristiani merayakan natal adalah hal yang sudah benar dan tepat. Dalilnya banyak, tapi kalau sampean mau baca. Kalau ngga ya adanya pasti nyalahin teruuuss.

    Pertama, Al-Jashahsh dalam kitabnya yang berjudul Ahkam al-Qur’an berpendapat bahwa tempat-tempat ibadah non muslim tidak boleh dihancurkan, ketika mereka berada dalam sebuah ikatan perjanjian bersama (kenegeraan dan kebangsaan).

    Kedua, Al-Akhfasy juga berpendapat demikian. Bahwa tempat ibadah non muslim tidak boleh dihancurkan, dan harus diberikan perlindungan total, termasuk hak-haknya dalam menjalankan aktivitas keagamaannya, juga harus dijamin.

    Ketiga, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, juga berpendapat demikian. Menurutnya Allah telah memelihara tempat-tempat ibadah non muslim itu dengan perantara kaum muslimin, sebagaimana Allah juga telah menjaga keselamatan para Pendeta. Pendapat ini disandarkan atas pendapat Ibn Abbas.

    Masih ada lagi? Ada.

    Nabi Muhammad malah lebih dahsyat lagi, ketika beliau tidak hanya melindungi kaum Nasrani dan Yahudi tapi juga memberikan kesempatan kepada kaum Nasrani dari Najran yang berjumlah 60 orang untuk melaksanakan kebaktian di Masjid Nabawi.

    Kisahnya ada di dalam kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’d. dikisahkan bahwa suatu ketika datang utusan Nasrani dari Najran berjumlah 60 orang ke Madinah untuk menemui Nabi. Nabi pun menyambut mereka di Masjid Nabawi. Sekali lagi, di Masjid Nabawi.

    Dan menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, maka mereka melakukan kebaktian di masjid. sekali lagi, di Masjid. Ya tentu saja Masjid Nabawi, bukan lainnya. Apa para Sahabat tidak marah? Tentu saja para sahabat berusaha untuk melarang mereka. Namun apakah Nabi melarang mereka beribadah di Masjid Nabawi? Tidak. Nabi memerintahkan kepada para Sahabatnya: da’uhum: ‘biarkanlah mereka’.

    Peristiwa bersejarah tentang toleransi itu terjadi pada hari minggu setelah ashar tahun 10 Hijriah. Dan kisah ini juga tercantum dalam beberapa babon kitab sejarah seperti Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Sirah Ibn Hisyam, dan juga Sirah Ibn Ishaq.

    Makanya, ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, ia selalu memerintahkan kepada komandan pasukan perangnya untuk tidak merobohkan tempat ibadah agama apapun. Kata Al-Hindi, juga termasuk pendeta.

    Masih ada? Banyak. Silahkan cari sendiri.

    Kalau Sampean masih ribut terus masalah BANSER jaga gereja, ya kebangeten. Termasuk yang ribut-ribut larangan mengucapkan Selamat Natal karena takut akidahnya rusak. Ya ngga usah diucapin, tinggal ditulis saja, “SELAMAT MERAYAKAN NATAL BAGI SAHABAT-SAHABAT YANG MERAYAKAN.”

    Kalau masih ada yang ngeyel, “ngucapin selamat natal itu haram!!!” Jawab saja, “Ya, karena menurut kalian ngucapin Selamat Natal itu haram, makanya ngga tak ucapin kok, tak tulis.” Hehee…

    BANSER….. JOSSSS….

    (POST GROUP MUHIBIN)

  • Dalil Ziarah Kubur dan Silaturahmi Setelah Shalat Id

    Dalil Ziarah Kubur dan Silaturahmi Setelah Shalat Id

    15569805385ccda33a6bf3a

    cyberaswaja.online- Terkait dalil ziarah kubur dan silaturahmi setelah Shalat Idul Fitri, berikut penjelasan Ustadz Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Center Jawa Timur:

    Ziarah kubur merupakan aktivitas yang dianjurkan dalam Islam. Di Indonesia, yang sebagian besar bermadzhab Syafii memberi tempat tersendiri bagi tradisi ziarah kubur ini.

    Selain itu, tradisi ziarah kubur juga terjadi usai Shalat Idul Fitri, selain silaturahmi alias unjung-unjung sekampung dan orang-orang dekat keluarga kita. Namun, dalam kondisi pandemi Covid-19, baik ziarah kubur dan silaturahmi harus memenuhi protokol kesehatan. Ziarah kubur, bahkan ditiadakan tapi diganti dengan baca Yasin di rumah bersama keluarga.

    Khususnya untuk silaturahmi, bisa dilakukan secara virtual alias silaturahmi virtual, lewat telpon dan sarana komunikasi lainnya.

    Terkait dalil ziarah kubur dan silaturahmi setelah Shalat Idul Fitri, berikut penjelasan Ustadz Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Center Jawa Timur:

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam Sahihnya:

    ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: «ﻛَﺎﻥَ اﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋِﻴﺪٍ ﺧﺎﻟﻒ اﻟﻄﺮﻳﻖ»

    Jabir bin Abdullah berkata bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam jika berangkat (ke tempat shalat Id) maka pulangnya tidak melewati tempat awal berangkat (Sahih al-Bukhari No 986)

    Mengapa Nabi shalallahu alaihi wassallam melakukan hal tersebut? Para ulama memiliki penafsiran sendiri-sendiri seperti yang disampaikan oleh pensyarah Sahih al-Bukhari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani:

    ﻭَﻗَﺪِ اﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻲ ﻣَﻌْﻨَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗْﻮَاﻝٍ ﻛَﺜِﻴﺮَﺓٍ اﺟْﺘَﻤَﻊَ ﻟِﻲ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻦْ ﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ

    Para ulama beda pendapat tentang makna hadis di atas ke dalam banyak pendapat, yang terkumpul bagi saya lebih dari 20 pendapat

    ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟﻴﺰﻭﺭ ﺃَﻗَﺎﺭِﺑَﻪُ اﻷَْﺣْﻴَﺎءَ ﻭَاﻷَْﻣْﻮَاﺕَ ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟِﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ

    Ada yang mengatakan bahwa agar Nabi bisa menziarahi kerabatnya baik yang masih hidup atau sudah wafat. Ada juga yang berpendapat agar Nabi dapat melakukan silaturahmi (Fathul Bari 2/473)

    Apakah anjuran itu hanya bagi imam saja? Al-Hafidz mengutip dari Madzhab Syafi’i:

    ﻭَاﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻲ اﻷُْﻡِّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻹِْﻣَﺎﻡِ ﻭَاﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡِ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻴَّﺔِ

    Penjelasan yang ada dalam kitab Al-Umm bahwa anjuran tersebut berlaku bagi imam dan makmum. Pendapat ini juga disampaikan oleh kebanyakan Madzhab Syafi’iyah (Fathul Bari 2/472)

    •] Ini adalah dalil kita untuk ziarah kubur dan silaturahmi setelah hari raya dalam keadaan normal. Untuk saat ini kita cukup baca Yasin dari rumah, kita yakin pahalanya sampai. Untuk silaturahmi juga dari rumah, pakai alat telekomunikasi, telpon, video call dan sebagainya.

  • Hukum Hewan Piaraan Mengganggu Tetangga

    Hukum Hewan Piaraan Mengganggu Tetangga

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat memelihara ayam atau burung merpati dan dibiarkan lepas dari kandangnya, sehingga masuk ke teras rumah tetangga dan mengotorinya, ke pekarangan tetangga dan bertelur di sana, atau bahkan tidak kembali ke kandang pemilik aslinya. Hewan piaraan juga mengganggu bahkan merusak harta milik tetangga (memakan padi yang sedang dijemur, menjatuhkan genting rumah dan semisalnya). Karena jengkel dan merasa terganggu, sampai-sampai hewan piaraan tersebut ditangkap dan dimiliki oleh tetangga.

    Pertanyaan
    a. Bagaimana hukum meliarkan (membiarkan lepas dari kandangn) hewan piaraan sebagaimana deskripsi?
    b. Bagaimana hukum tetangga (yang terganggu) memiliki telur ayam dan telur burung daranya?
    c. Bolehkan ayam atau burung dara piaran tersebut ditangkap dan disembelih dengan alasan telah mengganggu kerukunan bertetangga?
    d. Wajibkah pemilik hewan menanggung kerusakan yang disebabkan oleh burung dara atau ayam piaraannya?

    Jawaban A
    Pada dasarnya hukum melepaskan hewan diperbolehkan, namun bagi pemilik hewan harus mengondisikan hewan ternaknya supaya tidak menimbulkan keresahan bagi (mengganggu) orang lain.
    Referensi

    تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 23 / ص 202)
    فَلَوْ اعْتَادَ الطَّائِرُ النُّزُولَ عَلَى جِدَارِ غَيْرِهِ وَشَقَّ مَنْعُهُ كُلِّفَ صَاحِبُهُ مَنْعَهُ بِحَبْسِهِ أَوْ قَصِّ جَنَاحٍ لَهُ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَلَّدْ عَنْ الطَّائِرِ ضَرَرٌ بِجُلُوسِهِ عَلَى الْجِدَارِ ؛ لِأَنَّ مِنْ شَأْنِ الطَّيْرِ تَوَلُّدَ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِرَوْثِهِ وَيَتَرَتَّبُ عَلَى جُلُوسِهِ مَنْعُ صَاحِبِ الْجِدَارِ مِنْهُ لَوْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِهِ

    Jawaban B
    Ditafsil:
    (1) bila pemiliknya diketahui secara jelas, maka bagi pemilik rumah (tetangga yang terganggu) tidak boleh memiliki telur burung dara atau telur ayam dan wajib mengembalikan kepada pemiliknya—pemilik telur adalah orang yang mempunyai hewan betina—;
    (2) bila pemiliknya tidak diketahui, maka berlaku hukum luqathah.[1]
    Referensi

    الزواجر الجزء الأول ص: 251
    تتمة لو اختلط حمامه بحمام غيره لزمه رده بأن يخلي بينه وبين مالكه وما تناسل منهما لمالك الإناث فإن لم يتميز فله أخذ قدر ملكه بالاجتهاد ولا يخفى الورع أو نحو درهم أو دهن حرام بدراهمه أو دهنه جاز له على ما قاله الغزالي وغيره إفراز قدر الحرام وصرفه لجهة استحقاقه والتصرف في الباقي

    أسنى المطالب – (ج 13 / ص 105)
    ( فَصْلٌ : لَا يُلْتَقَطُ إلَّا مَا ضَاعَ بِسُقُوطٍ أَوْ غَفْلَةٍ ) عَنْهُ ، أَوْ نَحْوِهِمَا ( وَكَانَ فِي أَرْضٍ غَيْرِ مَمْلُوكَةٍ ) كَمَوَاتٍ وَشَارِعٍ وَمَسْجِدٍ ( وَ ) فِي ( بَلَدٍ فِيهِ مُسْلِمُونَ ) بِأَنْ يَكُونَ بِبِلَادِ الْإِسْلَامِ ، أَوْ بِدَارِ الْحَرْبِ وَفِيهَا مُسْلِمُونَ وَخَرَجَ بِمَا قَالَهُ مَا بَيَّنَهُ بِقَوْلِهِ ( فَإِنْ أَلْقَى هَارِبٌ ، أَوْ الرِّيحُ ثَوْبًا فِي حِجْرِهِ ) مَثَلًا ( أَوْ خَلَّفَ مُوَرِّثُهُ وَدِيعَةً وَجَهِلَ الْمَالِكُ ) كَذَلِكَ ( لَمْ يَتَمَلَّكْهُ بَلْ يُحْفَظُ ) لِأَنَّهُ مَالٌ ضَائِعٌ ( وَمَا وُجِدَ فِي ) أَرْضٍ ( مَمْلُوكَةٍ فَلِذِي الْيَدِ ) فِيهَا فَلَا يُؤْخَذُ لِتَمَلُّكِهِ بَعْدَ تَعْرِيفِهِ . ( فَإِنْ لَمْ يَدَّعِهِ ) ذُو الْيَدِ فَلِمَنْ كَانَ ذَا يَدٍ ( قَبْلَهُ ) وَهَكَذَا إلَى أَنْ يَنْتَهِيَ ( إلَى الْمُحْيِي ، ثُمَّ ) إذَا لَمْ يَدَّعِهِ الْمُحْيِي ( يَكُونُ لُقَطَةً ) كَمَا مَرَّ بِمَا فِيهِ مَعَ جَوَابِهِ فِي زَكَاةِ الرِّكَازِ وَمَا وُجِدَ فِي دَارِ الْحَرْبِ وَلَا مُسْلِمَ فِيهَا ( فَغَنِيمَةٌ : الْخُمُسُ مِنْهَا لِأَهْلِهِ ، وَالْبَاقِي لِلْوَاجِدِ )

    أسنى المطالب – (ج 13 / ص 106)
    ( تَنْبِيهٌ ) قَالَ الْقَفَّالُ : وَإِذَا وَجَدَ دِرْهَمًا فِي بَيْتِهِ لَا يَدْرِي أَهُوَ لَهُ ، أَوْ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتَهُ فَعَلَيْهِ تَعْرِيفُهُ لِمَنْ يَدْخُلُ بَيْتَهُ كَاللُّقَطَةِ أَيْ الْمَوْجُودَةِ فِي غَيْرِ بَيْتِهِ مِمَّا مَرَّ .

    كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار – (ج 2 / ص 6)
    [فرع]: إذا وجد ما لا يتمول كزبيبة ونحوها فلا يعرف، ولواجداه الاستبداد به وإن تمول وهو قليل فالأصح أنه لا يعرف سنة بل يعرف زمناً يظن أن فاقده يعرض عنه غالباً، وضابط القليل ما يغلب على الظن أن فاقده لا يكثر أسفه عليه ولا يطول طلبه غالباً والله أعلم

    Jawaban C
    Ditafsil:
    (1) Tidak diperbolehkan apabila pemiliknya diketahui (muayyan),—tindakan yang sebaiknya dilakukan pemilik pekarangan dan atau rumah adalah memberitahukan kepada pemilik bahwa hewan peliharaannya telah membuat keresahan (mengganggu) di pekarangan dan atau rumahnya, dan jika pemiliknya tidak menanggapi maka diperbolehkan untuk menolaknya (mengusirnya) dengan cara yang paling ringan hingga cara yang paling berat—;
    (2) Diperbolehkan apabila pemiliknya tidak diketahui dan telah dilakukan ketentuan-ketentuan dalam hukum luqathah seperti pada jawaban sub b.
    Referensi

    المجموع للإمام زكريا محى الدين بن شرف النووى مانصه :
    (الشرح) الأحكام اذا كانت له شجرة فى ملكه فانتشرت اغصانها فوق ملك جاره فللجار ان يطالب مالك الشجرة بازالة ما انتشر فوق ملكه لأن الهواء تابع للقرار وليس له ان ينتفع بقرار ارض جاره بغير إذنه فكذالك هواء ارض جاره فان لم يزل مالك الشجرة ذلك فللجار ان يزيل ذلك عن هواء ارضه بغير إذن الحاكم كما لو دخلت بهيمة لغيره إلى ارضه فله ان يخرجها بنفسه

    الباجوري الجزء الثاني ص: 251
    وكل حيوان عهد منه الإتلاف كالهرة التى عرفت بالإتلاف للطير والطعام وغيرهمايضمن مالكه أومن يأويه ما أتلفه ليلا أونهارا ويدفع بالأخف فالأخف كالصائل ولا يجوز التعرض له فى غير حال الجناية وقيل انه التحق بالفواسق الخمس المأمور بقتلها فلا يعصمها الإقتناع ووضع اليد عليها ولو كان بداره كلب عقور او دابة جموح ودخلها شخص باذنه ولم يعلمه بالحال فعضه الكلب او جمحته الدابة ضمنه ولو كان الداخل بصيرا فان دخل بلا اذنه او أعلمه بالحال فلا ضمان لأنه المتسبب فى هلاك نفسه وكذا لو كان ما ذكر حارجا عن داره ولو كان بجانب بابها فلا ضمان لأن ذلك ظاهرى يمكن الأحتراز عنه اهـ

    المحلي الجزء الرابع ص: 209
    (ويدفع الصائل بالأخف) فالأخف (فإن أمكن بكلام أو استغاثة) بالمعجمة والمثلثة (حرم الضرب أو بضرب بيد حرم سوط أو بسوط حرم عصا أو بقطع عضو حرم قتل فإن أمكن هرب فالمذهب وجوبه وتحريم قتال) والقول الثاني لا يجب والطريق الثاني حمل نص الهرب على من تيقن النجاة به ونص عدمه على من لم يتيقن

    المحلي الجزء الرابع ص: 213
    (تنبيه) يدفع ذلك الحيوان بالأخف فالأخف وجوبا وإن أدى إلى قتله كالصائل قال بعضهم لو كان يندفع بالزجر لكنه يعود ويتلف ما دفع عنه مع التغافل عنه وتكرر ذلك منه جاز قتله ولو في غير حال صياله لأنه لا يكف شره إلا بالقتل فراجعه

    الشروانى الجزء التاسع ص:
    (وهرة تتلف طيرا أو طعاما إن عهد ذلك منها-إلى أن قال- ولا يجوز قتل التي عهد منها ذلك إلا حالة عدوها فقط أي إن لم يمكن دفعها بدون القتل كالصائل كما دل عليه كلام الشيخين وجوزه القاضي مطلقا كالفواسق الخمس وردوه بأن ضراوتها عارضة ومحل الخلاف في غير الحامل إذ لا جناية من حملها كذا قيل وفيه نظر ويلزم قائله أن الدابة الحامل لو صالت على إنسان لا يدفعها وهو بعيد جدا فالوجه جواز الدفع بل وجوبه ولا نظر للحمل وإن قلنا إنه يعلم لأنا لم نتيقن حياته وتيقنا إضرارها لو لم يدفعها فروعي والله أعلم
    (قوله أي إن لم يمكن إلخ) عبارة النهاية حيث تعين قتلها طريقا لدفعها وإلا دفعها كالصائل وشمل ذلك ما لو خرجت أذيتها عن عادة القطط وتكرر ذلك منها ا هـ قال ع ش أي : أما إذا لم يتعين بأن أمكن دفعها بضرب أو زجر فلا يجوز قتلها بل يدفعها بالأخف فالأخف كدفع الصائل ومنه ما لو كانت الهرة صغيرة لا يفيد معها الدفع بالضرب الخفيف ولكن يمكن دفعها بأن يخرجها من البيت ويغلقه دونها أو بأن يكرر دفعها عنه مرة بعد أخرى فلا يجوز قتلها ولا ضربها ضربا شديدا اهـ (قوله وجوزه القاضي) أي القتل مطلقا أي في حالة عدوها وغيرها أمكن دفعها بدون القتل أم لا قال الشارح في الإمداد وكان ابن عبد السلام اعتمده حيث أفتى بقتل الهر إذا خرج أذاه عن العادة وتكرر منه واختاره الأذرعي في هر مهمل لا مالك له إلحاقا بالكلب العقور ورجحه في المملوك أيضا لأنه لا تبقى له قيمة مع ظهور إفساده اهـ

    العزيز الجزء الحادي عشر ص: 312
    فيجوز للمصول عليه دفعه وان أتي الدفع علي نفسه فلا ضمان ولا دية ولا كفارة-إلي أن قال-فالبهيمة إذا صالت صارت بمثابة الكلب العقور والسبع الضاري. التغافل عنه وتكرر ذلك منه جاز قتله ولو في غير حال صياله لأنه لا يكف شره إلا بالقتل فراجعه

    Jawaban D
    Bagi pemilik burung dara atau ayam diwajibkan dhaman (mengganti rugi), jika hewan piaraannya menimbulkan kerusakan. Adapun qaul yang mengatakan tidak wajib dhaman diarahkan untuk hewan yang kebiasaannya tidak merusak apabila diliarkan (dilepas dari kandangnya).
    Referensi

    إعانة الطالبين الجزء الرابع ص: 179
    وإن كانت وحدها فأتلفت زرعا أو غيره نهارا لم يضمن صاحبها أو ليلا ضمن إلا أن لا يفرط في ربطها وإتلاف نحو هرة طيرا أو طعاما عهد إتلافها ضمَّنَ مالكَها ليلا ونهارا إن قصر في ربطه
    (قوله وإن كانت وحدها) أي وإن كانت الدابة سائرة وحدها أي وقد أرسلها في الصحراء على الأصح في الروضة وقال الرافعي إنه الوجه أما لو أرسلها في البلد فيضمن مطلقا لمخالفته العادة قال في التحفة وقضيته أن العادة لو اطردت به أي بإرسالها في البلد أدير الحكم عليها أيضا كالصحراء إلا أن يفرق بغلبة ضرر المرسلة بالبلد فلم تقو فيها العادة على عدم الضمان ويؤيده قول الرافعي إن الدابة في البلد تراقب ولا ترسل وحدها (وقوله: لم يضمن صاحبها الخ) أي للحديث الصحيح بذلك، الموافق للعادة في حفظ نحو الزرع نهارا، وحفظ الدابة ليلا، ومن ثم لو جرت عادة بلد بعكس ذلك، إنعكس الحكم، أو بحفظها فيهما – أي ليلا ونهارا – ضمن فيهما – كما بحثه البلقيني – وقياسه أنها لو جرت بعدمه فيهما لم يضمن فيهما اه. تحفة. (قوله: إلا أن يفرط في ربطها) أي أن الضمان عليه فيما أتلفته ليلا، إلا إذا لم يفرط في ربطها، بأن أحكمه وأغلق الباب واحتاط على العادة، فخرجت ليلا لنحو حلها، أو فتح لص للباب، فإنه لا ضمان عليه حينئذ لعدم تقصيره. (قوله: وإتلاف نحو هرة) دخل فيه الطير والنحل، فقولهم لا ضمان بإرسال الطير والنحل، محمول على غير العادي الذي عهد إتلافه.سم.وقال: ق ل على الجلال: إنه لا ضمان مطلقا، كما قاله شيخنا ز ي وخ ط، وخالفهما شيخنا م ر اه.بجيرمي.
    (وقوله: عهد إتلافها) أي الهرة، والاولى إتلافه بتذكير الضمير، والمراد عهد ذلك منه مرتين أو ثلاثا.وقيل يكتفي بمرة.وخرج به التي لم يعهد ذلك منها، فلا ضمان فيه على الاصح، لان العادة جرت بحفظ الطعام عنها لا ربطها (وقوله: ضمن) – بفتح الضاد وتشديد الميم المفتوحة – وضميره المستتر يعود على المبتدأ وهو إتلاف، والجملة خبره. (وقوله: مالكها) أي نحو الهرة، والاولى أيضا أن يكون مالكه بتذكير الضمير. ولو قال كما في شرح المنهج مضمن لذي اليد لكان أولى، لايهامه تخصيص ذلك بالمالك، وليس كذلك إذ المستعير والمستأجر ونحوهما كالمالك. (وقوله: إن قصر في ربطه) أي نحو الهرة، لان هذا ينبغي أن يربط، ويكفى شره، وخرج به ما إذا أحكم ربطه وأغلق الباب واحتاط على العادة، فانحل من رباطه، أو فتح لص الباب، فخرج وأتلف فلا ضمان

    [1] Jika barangnya remeh maka bagi orang lain yang hendak memilikinya tidak perlu mengumumkannya sampai satu tahun, melainkan dengan dhan (dugaan) bahwa pemiliknya sudah tidak menghiraukannya.

    Keputusan Bahtsul Masail Ke 3 PCNU Kab Tulungagung (2016-2021) di Masjid Jami’ Sulaiman, Lebak Ayu Sawahan Madiun, Ahad 16 April 2017 M/19 Rojab 1438 H

    Musahih: KH. Tohari Sholeh
    Perumus: Ust Hakim Fauzi, S.Pd.I dan Ust Jauhar Ansori, S.Pd.I
    Moderator: Ust. Sastro Jari

  • TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI HAMIL

    TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI HAMIL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Dari Kh sholeh bandar kidul beliau Dari KH Mahrus Ali lirboyo kediri

    1.Seorang suami Seyogyanya didahului dengan berpuasa hari kamis, dan berbuka hanya dg air putih (tidak boleh makan apapun) sempai tengah malam. Kemudian dilanjutkan sholat hajat.

    Kaifiyah sholat hajat
    Rokaat 1 setelah fatehah membaca (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
    [Surat Al-Baqarah 128]

    Rokaat ke 2 setelah fateh membaca

    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
    [Surat Ibrahim 40, 41]

    Rokaat ke 3 setelah fatehah membaca

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
    [Surat Al-Furqan 74]

    Rokaat ke 4 setelah fatehah membaca
    ( رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضاَه وأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)
    [Surat Al-Ahqaf 15]

    Setelah salam membaca رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
    [Surat Al-Furqan 74]

    1. Membaca sholawat 313 x, kemudian ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil, dan di usap (di elus elus) sambil membaca
      ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
      3 x dalam satu nafas

    2. Hadiah fatehah kepada ayah, ibu dan seterusnya.

    Semoga bermanfaat 😊

    #alanumedia