Tag: fitnah

  • Puasa Ramadanmu InsyaAllah Lancar dan Sukses! Lakukan 5 Cara Ini Sekarang

    Puasa Ramadanmu InsyaAllah Lancar dan Sukses! Lakukan 5 Cara Ini Sekarang

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.comSebagai umat Muslim yang taat dan patuh pada perintah Tuhannya, Allah SWT, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan adalah salah satu bukti kita beriman, sanggup melakukan, dan mengamalkan perbuatan baik dengan iklash dan tawakal.

    Ramadan tinggal menghitung hari, bulan penuh berkah dimana ibadah atau perbuatan baik sekecil apapun akan mendapat ganjaran pahala berkalilipat dari bulan-bulan lainnya. Begitu istimewanya bulan Ramadan dosa-dosa kita akan dihapus 10 hari terakhir berpuasa. Maka kita seharusnya berlomba mengerjakan ibadah wajib lebih khusu’, perbanyak berbuat kebaikan, beramal, membaca Al Quran, perbanyak shalat sunnah, dan perbanyak dzikir.

    Ummat Muslim sejati tentu akan menyambut antusias kedatangan bulan Ramadan ini. Untuk itu saya akan bagikan tips buat kamu yang mungkin masih menghadapi kendala ketika menjalankan ibadah puasa. Tentu saja puasanya orang dewasa berbeda dengan cara berpuasanya anak-anak. Lapar, haus, sabar, dan menahan nafsu keduniawian baru dasar dalam tingkatan berpuasa yang lebih tinggi.
    Jadi, mari kita mulai pemanasannya dari sekarang.

    Nah, supaya puasamu bisa lancar dan tidak ‘bolong’ di tengah jalan alangkah lebih baik kita mulai membiasakan diri dari sekarang seperti melakukan ibadah shalat tepat waktu, yang tadinya shalat dilakukan diujung waktu mulai sekarang lakukanlah tepat waktu dimasjid terutama bagi kaum laki-laki.

    “Sebaik-baiknya melaksanakan sholat adalah di awal waktu. Atau ketika mendengar kumandang adzan atau pun menyadari telah masuk waktu sholat”.

  • KHUTBAH JUM’AT: HUKUM VAKSINASI

    KHUTBAH JUM’AT: HUKUM VAKSINASI

    SORBANSANTRI.COM

    اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    Jamaah masjid Nurul Iman rahimakumullah

    Puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan nikmat yang tak terhingga. Nikmat yang dengannya kita bisa merasakan kebahagiaan, kesejahteraan, kehormatan dan kemuliaan. Marilah kita gunakan segala kenikmatan yang Allah berikan itu sebagai bekal ibadah karena hakikatnya Allah menciptakan manusia semata-mata agar menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan itu membuat kita lalai, takabbur atau sombong sehingga nikmat yang kita miliki menjadi fitnah bahkan musibah sehingga menjauhkan kita dari Allah hingga mendatangkan murka-Nya.

    Jamaah shalat jum’at yang kami muliakan

    Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program vaksinasi nasional Covid-19. Ikhtiar menghadapi pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum mereda ini, secara resmi dimulai pada Rabu (13/1) 2021. Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang divaksin, diikuti para pejabat dan tokoh masyarakat pada peluncuran program ini di Istana Merdeka Jakarta. Salah seorang Jajaran Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomudin menjadi peserta vaksinasi tahap pertama di Istana Negara.

    Peserta dari PBNU merupakan orang keempat yang disuntik vaksin Sinovac setelah Presiden Joko Widodo, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih dan Sekretaris Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan.

    Vaksinasi merupakan ikhtiar dan upaya untuk melindungi jiwa kita. Karena tujuan diturunkannya agama adalah hifdzu nafs, menjaga jiwa kita.

    Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tanggal 23 Januari 2016 (13 Rabi’ul Akhir 1437 H) di Bogor, memutuskan/menetapkan bahwa imunisasi pada dasarnya “dibolehkan” (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

    Dalil Vaksin atau Imunisasi diantaranya:

    وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ [البقرة، 2: 195]

    “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, …” [QS. al-Baqarah (2): 195]

    عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ . [رواه أبو داوود]

    “Diriwayatkan dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat. dan menjadikan bagi setiap penyakit akan obatnya. Maka hendaklah kamu berobat, tetapi janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram.” [HR. Abu Dawud]

    Hukum Vaksin dengan Barang yang Haram dan Najis

    Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram, tidak dibolehkan kecuali pada kondisi “darurat” (keterpaksaan jika tidak dilakukan mengancam jiwa) atau “hajat” (keterdesakan, jika tidak dilakukan menyebabkan penyakit berat atau kecacatan pada seseorang), atau belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, dan ada keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

    Al-Qur’an menyampaikan:

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 173)

    Mengenai pengobatan dengan barang yang najis, khususnya yang sering disebut dalam vaksin, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab menyampaikan:

    وَأَمَّا التَّدَاوِي بِالنَّجَاسَاتِ غَيْرِ الْخَمْرِ فَهُوَ جَائِزٌ سَوَاءٌ فِيهِ جَمِيعُ النَّجَاسَاتِ غَيْرُ الْمُسْكِرِ

    “Adapun berobat dengan benda najis selain khamr itu dibolehkan, untuk seluruh jenis najis, yang tidak memabukkan.”

    Lebih lanjut, Imam an-Nawawi menyebutkan tentang pentingnya memercayai pendapat tenaga kesehatan:

    قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا يَجُوزُ ذَلِكَ إذَا كَانَ الْمُتَدَاوِي عَارِفًا بِالطِّبِّ يَعْرِفُ أَنَّهُ لَا يَقُومُ غَيْرُ هَذَا مَقَامَهُ أَوْ أَخْبَرَهُ بِذَلِكَ طَبِيبٌ مُسْلِمٌ عَدْلٌ

    “Para ulama menyebutkan kebolehan berobat dengan bahan najis jika sang pengobat memahami betul tentang ilmu kedokteran, dan mengetahui bahwa tidak ada pengganti dari hal najis tersebut. Atau, pengobatan tersebut disampaikan oleh dokter yang beragama Islam lagi bijaksana.”

    Dari keterangan di atas, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita garis bawahi.

    Pertama, kebolehan menggunakan bahan najis dalam substansi pengobatan, jika belum didapatkan barang yang berasal dari senyawa halal. Kedua, kebolehan berobat jika tenaga kesehatan sudah menyebutkan keamanan penggunaan obat tersebut. Informasi tentang vaksin sudah banyak disebarkan dan disosialisasikan melalui media-media terpercaya dari dinas, lembaga, atau kementerian terkait. Ilmu kedokteran dan pengobatan, sudah sangat canggih dan pesat perkembangannya. Setiap obat yang dirilis dan dilegalkan pemerintah, tentu sudah melalui pengecekan komposisi, uji klinis dan uji efek samping yang ketat.

    Hukum Vaksin Covid 19

    Vaksinasi Covid-19 termasuk fardlu ain. Menjadi kewajiban yang harus dijalankan umat Islam mengingat belum ada obat yang dapat mengendalikan Covid-19 selain vaksin dan protokol kesehatan. Tidak ada alasan menolak vaksinasi sebab vaksin Covid-19 halal dan aman digunakan.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) pun sudah memastikan, vaksin Covid-19 yang digunakan telah diuji coba tahap ketiga dan telah memenuhi standar keamanan yang disyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa kehalalan vaksin dengan mempertimbangkan proses hasil audit dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Makanan (LPPOM) MUI.

    Program vaksinasi ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah sekaligus meyakinkan masyarakat tentang pentingnya vaksin bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Mulai awal pelaksanaan vaksinasi, masyarakat juga tidak akan dikenai biaya alias gratis dan tidak ada keharusan untuk menjadi peserta BPJS.

    Dalam Buku Saku #InfoVaksin yang diterbitkan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dijelaskan bahwa pembentukan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit infeksi secara aktif bisa dilakukan secara alamiah melalui penderita langsung atau secara buatan melalui imunisasi dalam hal ini vaksinasi.

    Vaksin bukanlah obat. Vaksin akan membuat tubuh seseorang mengenali bakteri atau virus penyebab penyakit tertentu sehingga bila terpapar bakteri atau virus tersebut, akan menjadi lebih kebal. Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga dapat mencegah penularan maupun keparahan suatu penyakit.

    باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

    (Abi Sorban)

  • TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    Oleh : Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Keputusan pemerintah melarang organisasi, kegiatan dan simbol-simbol Front Pembela Islam (FPI) hadiah tahun baru bagi umat beragama di Indonesia. Sudah lama FPI dirasakan mengganggu keamanan, ketertiban dan kenyaman masyarakat. Masyarakat risih, namun sungkan dan masih menghormati simbol-simbol agama yang digunakan FPI.
    FPI organisasi yang tidak jelas apa maunya. Mau Khilafah, tapi model khilafahnya tidak jelas. Ketemu ISIS, menyatakan mendukung ISIS, ketemu PKS menyatakan mendukung PKS, ketemu HTI menyatakan mendukung HTI. Sedangkan kesemuanya itu mempunyai model khilafah yang berbeda-beda.
    Ketika ditanya soal NKRI Bersyariah, konsepnya pun tidak jelas. Hanya jargon, karena kadung menolak ke-syar’i-an pemerintah NKRI, di sisi lain mau menyebut khilafah lebih tidak jelas lagi konsepnya. FPI sebenarnya terjebak dalam kejahilan mereka sendiri.
    Pelarangan FPI merupakan kemenangan bagi umat beragama di Indonesia, bukan hanya Islam. Narasi dan opini politik identitas yang mereka mainkan sangat berbahaya bagi kohesi sosial dan integrasi bangsa. Misalnya Habib versus non habib. Islam versus kafir. Pembela Islam versus komunis. Khilafah versus NKRI.
    Disengaja atau tidak, propaganda FPI telah membentuk habitus, membangun persepsi di alam bawah sadar dan menciptakan suasan batin anti pemerintah yang sah. FPI melakukan radikalisasi massa yang berujung pada aksi teror. Dibuktikan oleh tiga puluhan pelaku teror berlatar belakang FPI.
    Pelarangan FPI dalam rangka menghentikan radikalisasi masyarakat. Mengutip materi Direktur Pencegahan BNPT Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM pada Sarasehan dan Muhasabah Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT, 28-30 Desember 2020 di Hotel Millenium Jakarta, bahwa, semua negara di dunia menghadapi ancaman terorisme yang lahir dari radikalisme berbasis suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
    Sejatinya, radikalisme dan terorisme tidak ada hubungannya dengan ajaran agama dan tidak ada kaitannya dengan kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatannya umat beragama kepada Tuhan. Karena kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatan dengan Tuhan adalah masalah hati. Bukan masalah politik, pemerintahan dan negara. Iman dan taqwa bersifat imanen (ada di dalam diri).
    Oleh karena itu, radikalisme dan terorisme atas nama agama menjadi “fitnah” bagi agama dan umatnya. Sedangkan hal tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan substansi dan tujuan agama itu sendiri. Tentu saja merugikan dan akan memecah belah umat beragama, serta merusak citra agama-agama. Radikalisme dan terorisme menjadi masalah bagi semua agama.
    Pembubaran FPI tidak melanggar prinsip kebebasan berkumpul/berserikat di era demokrasi. Pelarangan FPI, bukan pelarangan Islam. Apalagi kebencian kepada Islam. Saya islam sejak lahir. Saya bukan FPI. Saya bebas menjalankan agama saya.
    Bukan saja bebas menjalankan ibadah mahdlah (ritual), saya juga bebas menjalankan ibadah muamalah dan siyasah. Saya beribadah siyasah sebagai warga negara dengan mentaati pemerintah sepanjang bukan maksiat. Saya berbeda pendapat fiqih dengan FPI, saya mengikuti pendapat jumhur ulama bahwa NKRI dan pemerintahannya absah secara syar’i, ulil amri yang wajib ditaati.
    Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal FPI.
    Selamat datang tahun 2021. Selamat datang kemenangan umat beragama.
    #sorbansantri
  • Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : Gus Nadirsyah Hosen
    wp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.
    Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.
    Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:
    ‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
    Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”
    Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.
    Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:
    Versi pertama;
    Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”
    Versi kedua:
    Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.
    Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”
    Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.
    Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.
    Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.
    Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.
    Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.
    Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.
    Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.
    Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.
    Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)
    Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 
  • TANDUK SETAN DARI NAJD ITU BUKAN IRAQ

    TANDUK SETAN DARI NAJD ITU BUKAN IRAQ

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Sebagian para pengikut wahabi merasa marah jika kita sebut bahwa Nejd tempat kelahiran Imam mereka adalah tempat keluarnya tanduk Syaitan dan tempat keluarnya khawarij, mereka beralasan bahwa Nedj yang di maksud Rasululah s.a.w adalah Iraq, karena negeri Iraq sumber dari kekacauan dan fitnah.
    Mari kita lihat sejauh mana kebenaran yang telah di sampaikan oleh pengikut wahabi yang terlalu fanatik dengan Imamnya Muhammad bin Abdul Wahab sehingga beliau hampir seperti nabi yang tidak salah dan khilaf, selain beliau tergolong salah dan sesat.
    Bahayanya daerah Najd berasal dari hadits Rasulullah s.a.w yang menceritakan keberkatan tanah , Yaman, dan Syam sebagaimana didalam hadisnya :
    ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ : ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ” ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻳﻤﻨﻨﺎ ” . ﻗﺎﻝ ﻭﻓﻲ ﻧﺠﺪﻧﺎ ؟ ﻗﺎﻝ : ” ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺄﻣﻨﺎ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻳﻤﻨﻨﺎ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻓﻲ ﻧﺠﺪﻧﺎ ؟ ﻓﺄﻇﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ : ” ﻫﻨﺎﻙ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ ﻭﺑﻬﺎ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ” ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﻦ ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ”: ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ “ ﺭﻗﻢ 7094
    Artinya: Dari Ibnu Umar r.a berkata: Rasulullah s.a.w menyebutkan : ” Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, berkata Rasulullah: Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, Berkata Rasulullah : Disana terdapat kegoyangan ( aqidah ) dan fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk Syaitan. ( H.R . Bukhari , kitab al-Fitan, bab Qulun Nabi s.a.w. al-Fitnah Min Qibla al-Masyriq, no : 7094 ).
    Dari hadis ini kita mengetahui bahwa Rasul telah mendo`akan negeri Syam dan Yaman, sebab itulah para sahabat berlomba-lomba untuk pindah ke negeri Yaman dan Syam.
    Kenapa Najd yang terdapat di hadis ini bukan negeri Iraq ? Adapun sebagai Jawabannya sebagai berikut :
    1. Negeri yang dido`akan Rasulullah adalah negeri-negeri yang telah masuk islam sebagian penduduknya, sebagian ahli Syam telah mendatangi Nabi s.a.w. dan mengucap kalimat dua Syahadah, penduduk Yaman mendatangi Rasul dan memeluk islam ketika itu, sementara penduduk daerah Iraq tidak ada yang datang ke hadapan Rasul, bahkan mereka masuk islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab ketika penaklukkan negara Farsi, sementra penduduk Najd ( tempat kelahiran pemimpin wahabi ) telah berbondong-bondong pergi ke Madinah untuk memeluk islam, bagaimana boleh didalam hadis menyebutkan kalimat ” di Nejd kami ” sementara Iraq belum jatuh ke tangan umat islam, dan masih di pegang oleh negara Farsi, ungkapan kami di sini memiliki dua makna : Yang pertama: Para sahabat yang bersama Rasul, dan mereka bermaksud bahwa ungkapan kami adalah makna kepemilikan Iraq, dan ini mustahil sebab Iraq belum jatuh ketangan umat Islam. Yang kedua: Utusan yang datang dari Najd, jikalau Najd itu Iraq, maka sesuatu yang mustahil sebab tidak ada riwayat yang mengatakan adanya utusan kaum yang datang dari Iraq, maka mestilah Nejd tersebut bahagian negara yang dikenal yaitu Riyahd dan sekelilingnya. Sementara kalimat ” kami ” pada negeri Syam, karena telah datang sebahagian utusan negeri Syam ke Madinah untuk memeluk islam dan di Syam terdapat Baitul Maqdis, dan tempat para nabi-nabi terdahulu.
    2. Rasul mengatakan bahwa Najd adalah tempat keluarnya tanduk syaiton, terlepas dari hakikat ataupun majaz, tapi yang dimaksud adalah orang yag membawa kesesatan dan fitnah bagi umat islam dan mereka tergolong dari orang – orang kafir, karena Syaitan pemimpin orang-orang kafir dan menyesatkan orang, ini sangat jauh sekali keadaannya dengan fitnah yang berlaku di Iraq, pembunuhan Imam Ali r.a di tangan orang-orang Khawarij suatu fitnah yang lebih kecil di bandingkan dengan fitnahnya Musailamah al-Kadzab yang berasal dari Yamamah Nejd ( Riyadh sekarang ), yang telah mengaku nabi dan membunuh puluhan para sahabat sehingga Umar bin Khatab menjadi sangat takut sekali akan habisnya penghafal al-Qur`an disebabkan serangan Musailamah, Musailamah dan pengikutnya tergolong orang-orang yang kafir dan menyesatkan orang lain, sementara orang-orang Khawarij masih dalam keadaaan islam sebagaimana didalam riwayat Ibnu Abbas dari Imam Ali di dalam Sohih Bukhari, tetapi mereka pelampau yang keluar dari batasan, demikiannya juga pandangan ulama ahlus Sunnah bahwa khawarij telakeluar dari jama`a tetapi tidak keluar dari islam, dengan demikian tahulah kita bahwa fitnah yang terdapat di Yamamah ( Najd ) lebih besar dari fitnah yang berada di Iraq, di Najd juga tedapat khawarij dan golongan Qaramithoh yang kafir.
    3. Kita mengetahui bahwa Iraq adalah negeri yang berkat juga, bukti keberkatan Iraq adalah pindahnya ulama-ulama besar dari golongan sahabat ke Iraq seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas`ud, Anas bin Malik, `Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Sa`ad bin Abi Waqash, Imran bin Hushain, jikalau negeri Iraq tidak berkat bagaimana boleh para sahabat pindah ke Iraq berbondong-bondong. Di negeri Iraq pula terbitnya banyak ulama hadis dan mazhab ahlussunnah seperti mazhab Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin Uyaynah, timbulnya di baghdad ulama dan fakar-fakar qira`ah dan Nahu, berbeda dengan Najd Yamamah yang tidak terdapat sedikitpun para sahabat yang bermukim di situ bahkan para sahabat datang ke Najd Yamamah untuk memerangi orang kafir dan murtad pengikut Musailamah, bagaimana boleh kita katakan bahwa Iraq tempat yang terkutuk dan tidak berkat, sementara Iraq telah mengeluarkan jutaan ulama, kenapa wahabi mengikuti mazhab Hanbali sementara Imam Ahmad berasal dari Iraq.
    4. Iraq telah masyhur ketika zaman jahiliyah, jikalau Rasul bermaksud Iraq niscaya beliau akan sebutkan secara jelas dengan namanya khusus tetapi Rasul tidak menyebutkan Iraq bahkan menyebutkan Najd yang berarti bukan Iraq. Jiadi jika disebut dengan Najd maka di maksud adalah dalah Najd secara uruf yaitu daerah Yamamah , Dar`ah dan sekitarnya, karena kawasan ini juga dataran tinggi.
    5. Hadis Rasulullah s.a.w. yang berbunyi : ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻳﻘﻮﻝ : ” ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﺎﻫﻨﺎ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ Artinya: Dari Ibnu Umar r.a. beliau mendengar Rasul bersabda dalam keadaan mengarah ke bahagian arah timur Madinah : ” Ingatlah bahwasanya fitnah datang dari sana dari tempat terbitnya tanduk syaitan. ( H.R .Bukhari no : 7093 ). Bahagian timur Madinah adalah Nejd ( bahagian Yamamah, Dir`ah, dll ) bukan Iraq, ini jelas kalau kita melihat peta, adapun para ulama yang menafsirkan timur tersebut ke arah Iraq telah tersalah dengan kenyataan dan ilmu zaman sekarang, karena timurnya Madinah bukan Iraq.
    6. Hadis Rasulullah s.a.w yang menyuruh penduduk Nejd agar berniat ihram dari Qarnu Manazil . ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ : ﺃﻣﺮ ﺭﺳﻮ ﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﻠﻴﻔﺔ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺤﻔﺔ ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺠﺪ ﻣﻦ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﻤﻨﺎﺯﻝ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺎﻟﻚ ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺤﺞ ﺑﺎﺏ ﻣﻮﺍﻗﺖ ﺍﻹﻫﻼﻝ Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh penduduk Madinah berniat ihram dari Dzul- Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejd dari Qarn, Manazil. ( H.R. Malik , Kitab Hajj, bab Mawaqitu al-Ihlal no : 732 ). sementara lafaz didalam Sohih Bukhari ialah : ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ : ﻭﻗّﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺮﻧﺎ ﻷﻫﻞ ﻧﺠﺪ ، ﻭﺍﻟﺠﺤﻔﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﻭﺫﺍ ﺍﻟﺤﻠﻴﻔﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : : ﻭ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﻳﻠﻤﻠﻢ ” ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﺮﺍﻕ ﻳﻮﻣﺌﺬ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ . ﺭﻗﻢ : 7344 Artinya: Dari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah telah menentukan miqat bagi ahli Najd di Qaran, Juhfah untuk penduduk Syam, Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, , berkata Ibnu Umar : telah sampai kepadaku bahwa Nabi s.a.w. berkata: “Bagi penduduk Yaman dari Yalamlam”. kemudian disebutkan Iraq, berkata beliau : Ketika itu belum ada Iraq. ( H.R. Bukhari, no 7344 ). Dari kedua hadis diatas jelaslah bahwa yang di maksud Najd adalah daerah dataran tinggi yang terdiri dari Yamamah ( Riyadh sekarang ), Dir`ah dan lain-lainnya, bukan Iraq, karena ketika itu orang Iraq belum memeluk islam, sementara Qarnu Manazil berhampiran dengan Yamamah (Riyadh sekarang ).
    7. Adapun riwayat yang menggantikan Masyriq ( arah timur ) kepada Iraq, riwayat ini telah di obah dan tidak soheh, sebab kebanyakkan riwayat mengatakan Masyriq, adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepda Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum boleh dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w.,sebagaimana beliau pernah berijtihad untuk melarang para wanita pergi shalat ke masjid sehingga ayah beliau Abdullah bin Umar marah tidak bercakapan dengan beliau sampai Abdullah bin Umar meninggal dunia.
    Tambahan:
    Diriwayatkan dari Uqbah bin Amr Abi Mas’ud ra, dia berkata: Rasulullah Saw menudingkan tangannya ke arah Yaman, dengan bersabda, “Iman yang kuat ada di sana (penduduk Yaman). Ketahuilah bahwa sifat kasar dan hati yang keras itu dimiliki oleh orang-orang yang sibuk mengurus onta dengan melalaikan agama (beliau sambil menuding ke arah timur) dan disanalah tempat munculnya dua tanduk setan”. ( H.R. Shahih Bukhari No. 3202)
    ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺠﺴﻢ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ( ﺑﻴﺎﻥ ﺗﻠﺒﻴﺲ ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ) ﺝ 1 / ﺹ 17 : ﻭ ﻗﺪ ( ﺗﻮﺍﺗﺮ ) ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺇﺧﺒﺎﺭﻩ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ , ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ( ﻣﺸﺮﻕ ﻣﺪﻳﻨﺘﻪ ﻛﻨﺠﺪ ) . ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻣﺮﺟﻊ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﻳﺴﻤﻲ ﺑﻠﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻣﻄﻠﻌﺎ ﻟﻠﻔﺘﻨﺔ ﻭ ﺭﺃﺳﺎ ﻟﻠﻜﻔﺮ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺃﺫﻧﺎﺑﻪ ﺑﻤﺌﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ
    Terjemah “Bebas ” :
    al Mujassim Ibnu Taimiyah dalam kitab karyanya berjudul Bayan Talbis al Jahmiyyah, j. 1, h. 17 menuliskan sebagai berikut:
    “Dan telah datang berita secara mutawatir dari Rasulullah yang memberitahukan bahwa FITNAH BESAR dan PANGKAL KEKUFURAN akan muncul dari arah timur.”
    Arah timur yang dimaksud oleh Rasulullah adalah arah timur dari tempat tinggal Rasulullah sendiri ,yaitu arah timur kota Madinah. Dan yang dimaksud adalah Nejd. Nejd adalah wilayah timur dari Kota Madinah.
    Ibnu Taimiyah adalah “imam besar” dan “referensi yang tidak dapat diganggu gugat” bagi kaum Wahabi. Ibnu Taimiyah menamakan Nejd; –wilayah tempat munculnya ajaran sesat wahabi yang dirintis oleh Muhammad bin Abdil Wahhab– sebagai tempat kedatangan FITNAH BESAR dan tempat PANGKAL KEKUFURAN. Ibnu Taimiyah telah menuliskan hal itu dalam karyanya di atas ratusan tahun sebelum kedatangan gerakan sesat Wahabi itu sendiri .Ironisnya, aqidah tasybih dan tajsim Ibnu Taimiyah kini menjadi “primadona tanpa tanding yang dipeluk erat” oleh kaum Wahabi Hadis Rasulullah s.a.w yang menyuruh penduduk Nejd agar berniat ihram dari Qarnu Manazil .
    ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ : ﺃﻣﺮ ﺭﺳﻮ ﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﻠﻴﻔﺔ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺤﻔﺔ ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺠﺪ ﻣﻦ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﻤﻨﺎﺯﻝ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺎﻟﻚ ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺤﺞ ﺑﺎﺏ ﻣﻮﺍﻗﺖ ﺍﻹﻫﻼﻝ
    Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh penduduk Madinah berniat ihram dari Dzul- Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejd dari Qarn, Manazil. ( H.R. Malik , Kitab Hajj, bab Mawaqitu al-Ihlal no : 732 ).
    sementara lafaz didalam Sohih Bukhari ialah :
    ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ : ﻭﻗّﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺮﻧﺎ ﻷﻫﻞ ﻧﺠﺪ ، ﻭﺍﻟﺠﺤﻔﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﻭﺫﺍ ﺍﻟﺤﻠﻴﻔﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : : ﻭ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﻳﻠﻤﻠﻢ ” ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﺮﺍﻕ ﻳﻮﻣﺌﺬ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ . ﺭﻗﻢ : 7344
    Artinya: Dari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah telah menentukan miqat bagi ahli Najd di Qaran, Juhfah untuk penduduk Syam, Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, , berkata Ibnu Umar : telah sampai kepadaku bahwa Nabi s.a.w. berkata: “Bagi penduduk Yaman dari Yalamlam”. kemudian disebutkan Iraq, berkata beliau : Ketika itu belum ada Iraq. ( H.R. Bukhari, no 7344 ). Dari kedua hadis diatas jelaslah bahwa yang di maksud Najd adalah daerah dataran tinggi yang terdiri dari Yamamah ( Riyadh sekarang ), Dir`ah dan lain-lainnya, bukan Iraq, karena ketika itu orang Iraq belum memeluk islam, sementara Qarnu Manazil berhampiran dengan Yamamah (Riyadh sekarang ).
    Iraq telah masyhur ketika zaman jahiliyah, jikalau Rasul bermaksud Iraq niscaya beliau akan sebutkan secara jelas dengan namanya khusus tetapi Rasul tidak menyebutkan Iraq bahkan menyebutkan Najd yang berarti bukan Iraq. Jiadi jika disebut dengan Najd maka di maksud adalah dalah Najd secara uruf yaitu daerah Yamamah , Dar`ah dan sekitarnya, karena kawasan ini juga dataran tinggi.
    Wallohu A’lam (asnuter jabar)
  • NU Banyak Difitnah Setelah Gus Dur

    NU Banyak Difitnah Setelah Gus Dur

    cyberaswaja.online- Menurut Gus Miek, Gus Dur itu adalah paku buminya NU. Saat Gus Dur masih hidup, tidak ada yang berani ngotak-ngatik NU, kalaupun ada paling cuma satu, yakni penguasa Orde Baru. Bila Gus Dur menunjuk batang hidung seseorang dengan sebutan pengacau, maka orang itu nggak bakal berani melanjutkan aksinya,
    .
    Di masa kepemimpinan Gus Dur, NU berhasil menempatkan dakwah Islam Yang Murni Rahmatan Lil’Alamin, tanpa tindakan destruktif apalagi anarkis. Tahun 1992, ketika Gus Dur melakukan show of power NU menghadapi tekanan rezim orba saat itu, semua wajah dunia tertuju pada Gus Dur. 1 juta lebih manusia berkumpul menggetarkan Jakarta dan dunia.
    .
    Jutaan manusia yang menggetarkan Jakarta itu, dalam barisan ulama terlihat ada KH Kolil Bisri, KH Ilyas Ruhiyat, KH Muslim Rifai Imam Puro, KH Abdullah Faqih Langitan, KH Abdullah Abbas Buntet dan lainnya. Bahkan dari Pesantren Buntet Cirebon konon ikut mengirim ribuan jin ke acara itu, makanya di tengah-tengah lapangan itu terlihat dikosongkan. Di situlah jama’ah jin dari Buntet itu bersimpuh.
    .
    Setelah Gus Dur wafat, para pembenci NU makin mendapat angin segar untuk menghantam NU. Banyak ormas dan aliran yang tidak sejalan dengan khittah NU, menghembuskan fitnah kalau PBNU itu sudah melenceng dari khittah NU. Mereka menghembuskan isu dan fitnah yang memecah-belah.
    .
    Menghadapi ini semua, kita jadi kembali teringat pertemuan antara Gus Dur dan Gus Miek.
    .
    “Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean NU bakal kena fitnah,” kata Gus Miek yang sedang di beranda Langgar makam wali Tambak.
    .
    “Kenapa bisa begitu Gus. Apakah sudah tidak ada lagi para masyayikh yang menjaga NU?” tanya Gus Dur.
    .
    “Bukan karena itu Gus, tapi itu disebabkan dunia sudah di atas kepala warga NU dan banyak orang bodoh yang mencabik NU,” jawab Gus Miek.
    .
    Kemudian kedua tokoh besar NU itu berdo’a dengan khusyu sambil sesekali sesegukan menahan tangis.
    .
    Selesai berdo’a wajah Gus Miek sumeringah sambil mengatakan, “Fitnah yang ditujukan pada NU hanyalah seumur jagung.” Mendengar itu Gus Dur tertawa lepas.

    Gus miek dan Gus Dur
    Al fatehah… (infokom ansor banser nu)

  • Perusak NU yang selalu Mengaku NU

    Perusak NU yang selalu Mengaku NU

    wp.sorbansantri.com – NU zaman KH. Said Aqil Siradj :
    Pimpinannya dituduh Syiah, Liberal, Sesat, Kafir dll.

    NU zaman KH. Hasyim Muzadi:
    Kyai yang secara khusus mendampingi Jokowi saat umroh beberapa hari menjelang pencoblosan capres 2014 ini juga dituduh Syiah karena pembelaannya terhadap nuklir Iran, masa kepemimpinannya banyak mengirimkan mahasiswa ke Iran.

    NU zaman KH. Abdurrahman Wahid :
    Lebih dulu dituduh Liberal, antek Zionis, agen Syiah, Kafir, dll.

    NU zaman KH. Achmad Sidiq :
    Dituduh keislamannya goyah karena menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

    NU zaman KH. Bisri Syansuri :
    Dituduh takut pada pemimpin yg dzolim karena justru memberhentikan Kyai Subhan ZE pengurus PBNU yang paling vokal mengritik orde baru.

    NU zaman KH. Wahab Hasbullah:
    Dituduh PKI karena menerima nasakom

    NU zaman Hadratussyeikh KH. Hasyim Asyari :
    Dituduh pro penjajah Jepang. Memerintah rakyat menanam padi yang pada akhirnya padi digunakan oleh Jepang.

    Dari zamannya Mbah Hasyim sampai kepada seluruh pewaris ilmu dan amanahnya selalu dicari celah untuk diserang dan coba dihancurkan Jadi, dari zaman dulu hingga sekarang, orang-orang yang ngomongin NU sekalipun ngaku NU dibagi menjadi dua.

    Pertama, yang ta’dzim dan ikut merawat NU, insyaallah dapat barokahnya NU.

    Kedua, yang membenci NU dengan membenci pimpinan NU, menggerogoti martabat NU dengan tidak ada ta’dzim dan sering menghina pimpinan NU, insyaallah akan dapat kuwalatnya NU, sekalipun ngakunya NU.

    يا جبار يا قهار

    Inilah Perusak NU yang Selalu Mengaku NU-nya Mbah Hasyim Asy’ari.

    Suka ada yg bilang NU sekarang beda dengan NU dulu, Sebenernya NU jaman siapa yg dianggap baik dan terbebas dari tuduhan2 ²?!

    Sebenarnya siapa mereka yg suka ngaku² NU! tp selalu mencari² celah untuk menuduh menyudutkan bahkan memfitnah NU !

    (red. infokom ansor banser nu)

  • FITNAH TERHADAP NU

    FITNAH TERHADAP NU

    Infokom Banser NU – Munculnya fitnah terhadap NU bahwa NU menerima suap dari China tidaklah mengagetkan. Ingat, 2 bulan yang lalu dubes AS di Jakarta datang ke kantor PBNU untuk membujuk agar NU ‘bersuara’ terhadap ‘penindasan Muslim Uyghur oleh pemerintah China’. Tapi PBNU menolaknya. Dan bukan Amerika namanya kalau diam saja saat dikecewakan.
    Sekarang media Amerika mencoba memfitnah NU. Tentu saja atas pesanan penguasa di Washington.

    Ada tiga tujuan atas fitnah dr wall street Journal ke NU

    1. Menyerang China.
    2. Membuat kisruh Indonesia.
    3. Mendiskreditkan ormas Islam yang moderat.

    klo sekiranya 85 juta warga NU itu mau patroli di medsos . InsyaAlloh tdk ada yg berani menghina Habaib dan Kyai NU , , krn setiap mereka bikin hoax akan langsung dicounter balik dgn bertubi tubi oleh para nahdliyin . Serangan baliknya akan sprti munculnya laron melihat cahaya benderang di malam hari . . .

    HAYU TURUN GUNUNG .

    #somasiWallstreetjournal