Tag: gus dur

  • Trans7 Lecehkan Pesantren? Saatnya Kita Bicara Fakta, Bukan Framing Murahan

    Trans7 Lecehkan Pesantren? Saatnya Kita Bicara Fakta, Bukan Framing Murahan

    SorbanSantri.com, 14/10 – Belakangan ini publik santri dibuat geram dengan tayangan Trans7 yang menampilkan kehidupan pesantren secara tidak pantas. Melalui program Xpose Uncensored, mereka menayangkan potongan video yang menggambarkan santri dengan narasi tendensius — seolah kehidupan di pesantren itu penuh aturan aneh, kaku, bahkan menakutkan.

    Mari kita luruskan.
    Pesantren bukan lembaga baru yang bisa disudutkan dengan framing murahan di layar kaca. Pesantren sudah ada ratusan tahun sebelum media televisi lahir. Dari pesantrenlah lahir tokoh-tokoh besar bangsa ini — pejuang kemerdekaan, ulama, pendidik, hingga pemimpin yang menggerakkan rakyat dengan ilmu dan akhlaknya.

    Sistem pendidikan pesantren itu komprehensif dan berimbang. Di sana, santri belajar bukan hanya ilmu agama, tapi juga nilai kehidupan. Mereka diajarkan tanggung jawab, kerja keras, disiplin, keikhlasan, dan — yang paling penting — adab sebelum ilmu.

    Saya sendiri adalah santri masuk ANSOR, BANSER dan LINMAS, bisa mengenal web designer, programer dan developer, itu di Pesantren dan saya hanya lulusan SMA. Tapi sejak kecil saya hidup di pesantren. Dari sanalah saya belajar bahwa kecerdasan tanpa adab hanyalah kesombongan yang dibungkus pengetahuan. ujar Abi Tsani CEO dan Pembuat aplikasi eCommerce SorBanNaga.

    Di pesantren, santri tidak diajari menjadi pengecut. Mental mereka ditempa untuk kuat menghadapi dunia, dan hati mereka dibentuk untuk tunduk kepada Tuhan.

    Jadi ketika Trans7 menayangkan kehidupan pesantren seolah sesuatu yang lucu atau ekstrem, itu bukan hanya keliru — tapi melecehkan warisan pendidikan tertua di Indonesia. Tayangan seperti itu mencederai jutaan santri, kiai, dan alumni pesantren yang selama ini berperan besar menjaga moral dan keutuhan bangsa.

    Kami tidak anti kritik. Tapi kritik harus datang dari pemahaman, bukan dari potongan video yang dipelintir demi sensasi.

    Media boleh bebas, tapi kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah kesemrawutan.

    Trans7 seharusnya belajar tentang etika pemberitaan — sebagaimana santri belajar tentang adab sebelum bicara.
    Karena di pesantren, kami diajari satu hal penting: kalau tidak tahu hakikatnya, jangan berani menilai isinya.

  • KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    BERITA VIDEO

    Sorbansantri.com – Konflik yang terjadi antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru-baru ini menjadi perhatian publik, namun sebenarnya, ketegangan ini sudah pernah diprediksi oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tokoh besar NU yang juga pendiri PKB. Gus Dur pernah mengingatkan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan harus menjaga jarak dari politik praktis. Menurutnya, “NU tidak melibatkan diri dalam urusan politik praktis. Biarlah soal politik menjadi milik dan tugas kelompok lain.” Pernyataan ini sejalan dengan khittah NU, yang menekankan bahwa NU berfokus pada pemberdayaan umat melalui jalur sosial-keagamaan, bukan pada kepentingan politik sehari-hari.

    Lebih lanjut, Gus Dur juga menegaskan agar NU tidak memanfaatkan kekuatan organisasi untuk masuk ke dalam permainan politik dan kekuasaan negara. Dia pernah mengatakan, “NU tidak usah mencari peluang bermain di dalam ruang-ruang politik dan kekuasaan negara. Kalau Anda mau memperdayakan masyarakat tetapi Anda menghamba pada status quo, lalu bagaimana caranya?” Dalam hal ini, Gus Dur mengkhawatirkan bahwa jika NU terlibat terlalu dalam dengan kekuasaan, ia akan kehilangan netralitas dan sulit untuk menjadi penggerak perubahan bagi masyarakat. Pandangan ini kini dirasa semakin relevan, terutama ketika terjadi konflik atau perbedaan pandangan terkait kepentingan politik antara PBNU dan PKB.

    Di beberapa daerah, fenomena ini juga terlihat dalam bentuk penggunaan jabatan untuk mendukung pasangan calon, seperti dalam Pilkada Mojokerto. Di Mojokerto, misalnya, ada indikasi pihak tertentu yang menggunakan akses dan jabatan mereka untuk menggalang dukungan terhadap salah satu calon, sehingga memunculkan pertanyaan tentang independensi NU dalam politik lokal. Situasi ini menjadi refleksi bagaimana pesan Gus Dur tentang menjaga jarak NU dari politik praktis tetap perlu diperhatikan. Membiarkan NU berfokus pada perannya sebagai organisasi keagamaan yang netral adalah langkah penting agar NU dapat terus berfungsi sebagai penjaga nilai dan pemberdaya masyarakat tanpa terpengaruh dinamika politik kekuasaan.(AI Sorban)

    @beritasorban Ketegangan antara PBNU dan PKB semakin terasa, tapi tahukah Anda? Tokoh besar NU, Gus Dur, sudah pernah memprediksi hal ini. Gus Dur dengan tegas mengingatkan, bahwa NU seharusnya tidak terlibat dalam politik praktis. 'Biarlah soal politik menjadi tugas kelompok lain,' katanya. #GusDur #PBNU #PKB #KhittahNU #PilkadaMojokerto #NetralitasNU #SorbanSantri #fyp #fypシ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Berita Video

    Oleh: Aros

    wp.sorbansantri.com – KH. Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, tumbuh dan berkembang di masa kecilnya dengan berpindah-pindah antara Jombang dan Jakarta. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng. Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, yang berarti “Sang Penakluk.” Nama ini kemudian diganti menjadi “Wahid,” dan dia lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.

    Gus Dur lahir pada tanggal 4 Sya’ban tahun 1359 Hijriyah atau bertepatan dengan 7 September 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Orang tuanya adalah KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai anak yang aktif, bahkan hiperaktif, tidak bisa diam, dan sering kali bandel. Baik di Denanyar maupun Tebuireng, Gus Dur sering berbuat ulah, jail, dan merepotkan orang sekitarnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada tahun 1944, keluarga Gus Dur pindah ke Jakarta karena sang ayah diminta menjadi ketua pertama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, keluarga mereka kembali ke Jombang. Namun, pada tahun 1949, mereka kembali ke Jakarta karena KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama RI.

    Laman: 1 2 3 4

  • Kisah Licik Gus Ipul: Dari Politisi NU Hingga Tuduhan Sebagai Makelar Politik

    Kisah Licik Gus Ipul: Dari Politisi NU Hingga Tuduhan Sebagai Makelar Politik

    wp.sorbansantri.com – Dalam sebuah narasi yang mencuat di akun TikTok @irwan.hayat, terungkap kisah serba kompleks seputar seorang politisi bernama Gus Ipul, yang sekarang digelari sebagai makelar NU oleh Cak Imin.

    Gus Ipul, dengan nama lengkap Saifullah Yusuf, dikenal sebagai politisi NU yang sering berpindah-pindah partai politik. Kisahnya dimulai saat ia bergabung dengan PDI Perjuangan, namun ketika posisinya sudah tidak menguntungkan di PDIP akibat Mega terlibat mengkudeta Gus Dur, iya kemudian loncat ke PKB sebagai orang baru di PKB,l. Ia bahkan sempat menjabat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.
    [arve url=”https://www.tiktok.com/@irwan.hayat/video/7359563218592795909″ title=”Inilah sepak terjang Politik Syaifullah Yusuf. Benarkah?” /]

    Namun, kisahnya tak berhenti di situ. Di PKB, Gus Ipul melakukan manuver politik yang dinilai melebihi batas, bahkan terpilih sebagai Sekjen PKB di Muktamar Jogja 2022. Namun, kesuksesannya di PKB tidak berlangsung lama karena terlibat konflik dengan Gus Dur, yang akhirnya memecatnya dari jabatan Sekjen pada tahun 2004.

    Gus Ipul menjadi sosok pertama yang secara terbuka melawan Gus Dur dalam struktur politik PKB, dengan tujuan yang jelas: KEKUASAAN. Di tahun 2018, saat Pilkada Jatim, ia bahkan meminta PKB mengusungnya sebagai calon Gubernur, meskipun partai tersebut sudah memiliki calon sendiri. Hal ini mencerminkan ambisi politiknya yang tak kenal batas.

    Kisah Gus Ipul semakin kompleks saat ia berhasil memenangkan Pilkada Kota Pasuruan dengan dukungan PKB, namun kritik terhadapnya pun muncul. Ia dituduh memperalat PBNU demi kepentingan politiknya sendiri, sehingga mendapat julukan “makelar politik” dari Cak Imin.

    Kisah ini menjadi cerminan betapa kompleksnya dinamika politik di Indonesia, di mana kekuasaan seringkali menjadi tujuan utama dibalik langkah-langkah politisi yang licik. Gus Ipul, dengan segala manuver politiknya, menghadirkan gambaran yang memilukan tentang realitas politik di tanah air.(AI Sorban)

  • TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Scudeto ke-19 akhirnya direngkuh oleh AC. Milan. Tim yang lahir pada 1899 M –sama dengan kelahiran pondok pesantren Tebuireng, Jombang– memastikan juara liga italia pada pekan terakhir Serie A (22 Mei 2022) dengan mengalahkan Sossuolo 3 – 0. Status Juara yang di dapat secara dramatis setelah 11 tahun Rossoneri puasa gelar. Terakhir, tim ini juara pada 2011 saat masih dilatih oleh Maximiliano Allegri, pelatih Juventus saat ini.

    Kesuksesan tim berjuluk il Diavolo Rosso ini tidaklah datang dengan tiba-tiba. Momentum kebangkitan justru  terjadi saat tim ini berada pada titik nadir dalam sejarah klub. Pada awal musim 2018-2019 Tim ini mengalami krisis Finansial  akut, Li Yonghong, investor Cina pemilik klub kala itu, tak bisa menebus cicilan pertamanya sebesar 32 juta euro kepada Elliot Management (EM).Total utangnya mencapai 303 juta euro untuk tambahan modal membeli klub dari tangan Silvio Berlusconi. Total duit yang dikeluarkan oleh Li untuk menebus AC Milan adalah 740 juta euro, termasuk buat menghapus utang sebesar 220 juta euro. Pada Juli 2018, AC. Milan berpindah tangan secara resmi dari Li Yonghong pada Elliot Management.

  • Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam  para muassis

    Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam para muassis

     

     

    SATKORYON BANSER kecamatan ngoro Kabupaten mojokerto jawa timur melaksanakan wisata religi ke makam para aulia’ yang berada di jombang, Kediri dan tulungagung yang di laksanakan pada hari sabtu (29/01/2022) malam pemberangkatan dari gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro yang di ikuti oleh para anggota PAC GP ANSOR, BANSER , dan juga RIJALUL ANSOR.

     

    Kegiatan wisata religi ini adalah ziarah ke makam Mbah hasym (KH. HASYM ASYARI) pendiri Nahdlatul Ulama, makam Gus Dur (KH. ABDUL RAHMAN WAHID) Jombang, Gus Mik Kediri, dan mantan komandan SATKORNAS BANSER, H. Alfa Isnaini, Tujuan diadakannya kegiatan ini selain untuk menjalin silaturrahmi juga untuk mengenang dan menteladani jasa para ulama’ dan auliya’, yang telah menginspirasi juga memotifasi kepada para anggota banser kususnya, contohnya Gus Dur semasa hidupnya beliau yang telah memompa dan juga membangkitkan ghirroh semangat Banser untuk menjadi pasukan yang bertugas untuk menjaga para kyai dan ulama’.

     

    Menurut komandan  JAZIL selaku panglima atau kasatkoryon banser kecamatan ngoro mengatakan

    “mari kita niatkan ziaroh ini selain untuk ibadah juga mari kita meniru perjuangan para muassis ini dan menerapkan ke hati kita masing masing, baik dari segi semangatnya maupun pengorbanan beliau, jiwa loyalitas dan totalitas kita terapkan kepada masyarakat lebih lebih kepada jamiyyah nahdlatul ulama’

     

    Beliau juga menginformasikan bahwa harapan diadakannya kegiatan ini supaya tercipta rasa kekeluarggan, kekompakan, kerukunan dan juga rasa persaudaraan antar anggota yang akhirnya bisa melaksanakan tugas organisasi secara maksimal, mudah mudahan berkah dari para muassis semua bisa terkabul dan di ridhoi ALLOH swt. (hasan-ngoro)

  • MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    InfokomBanserNU- Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Sholahudin Wahid wafat, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Gus Sholah merupakan putra ketiga dari 6 bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Sholichah. Beliau merupakan adik kandung mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seperti abahnya (ayahnya), Gus Sholah semasa hidup merupakan ulama’, aktivis, politikus dan tokoh Hak Asasi Manusia.

    Dihimpun dari berbagai sumber, masa sekolah dasar Gus Sholah ditempuh di Sulawesi. Selanjutnya jenjang sekolah menengah pertama ditempuh di SMP I Cikini. Jenjang berikutnya ditempuh di SMA Budi Utomo. Selepas pendidikan tingkat atas, ia melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur.

    Gus Sholah semasa hidup juga dikenal sebagai pengusaha. Terutama terlibat bidang konstruksi sebagaimana jurusan semasa kuliah. Aktivitas itu mengantarnya aktif di berbagai asosiasi seputar dunia konstruksi.

    Beberapa jabatan pernah diembannya seperti Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dsb.

    Sebagai intelektual tulisan Gus Sholah banyak ditemui di berbagai media massa nasional. Tulisannya kerap menyorotasi berbagai persoalan umat dan bangsa.

    Adapun di Nahdlatul Ulama, Gus Sholah sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Perjalanan KH Sholahudin Wahid, sosok yang lahir Jum’at 11 September 1942 di Jombang, berakhir setelah berpulang ke Pencipta, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Kabar duka tersebut disampaikan puteranya yakni Ipang Wahid. Seperti yang dikutip dari akun twiternya. “Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…”

    (red.abi)

  • KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Murid Mbah Wali Gus Dur

    wp.sorbansantri.com -Dapat banyak pertanyaan dan keluh kesah beberapa sahabat tentang statemen Guru Mulia KH Said Aqil Siroj yang menyatakan , ” … Bisa dikatakan Pak Kapolri ini warga NU cabang Nasrani”.

    Seperti yang sudah diduga sebelumnya, statemen ini dipotong konteksnya dan diperkarakan secara ndakik-ndakik berlebihan dan dijadikan amunisi menyerang beliau secara pribadi.

    Padahal, jika orang tersebut memang kader NU beneran di tingkat akar rumput dan paham konteks, pasti sudah mafhum bahwa ini merupakan guyonan khas orang NU sebagai penghormatan dan perangkulan atas keberagaman.

    Kecuali jika memang dapatnya cuma potongan statemen yang sudah diberi narasi kebencian yang membuncah dan mengaduk-aduk sentimen keNUan, akan beda lagi masalahnya.

    Lha orang becanda kok dibahas serius amat becandaannya, lalu digoreng sedemikian rupa. Dan seperti biasanya, beberapa orang yang mengaku NU juga ikut-ikutan terprovokasi.

    Mendadak mereka seperti kehilangan logika yang sehat. Padahal semua paham bahwa orang NU beneran yang paling awam sekalipun pasti tahu bahwa NU itu Islam Aswaja. Lha wong yang ngaku Islam saja belum tentu bisa jadi NU, apalagi yang bukan Islam.

    Dan sebenarnya, candaan ini sudah biasa sejak jaman dulu kok. Mbah Wali Gus Dur pada era tahun akhir 1990an juga suka becanda yang model begini. Tapi gak ada yang ribut waktu itu.

    Salah satunya, dulu ada tokoh bernama Pak Bingki Irawan sesepuh agama Konghucu, pernah diperkenalkan Mbah Wali:

    “Pak Bingki ini orang NU, tapi belum bersyahadat”. Semua yang mendengar jadi tertawa dan menjadi akrab dengan Pak Bingki Irawan.

    Bisa jadi Mbah Said ini juga meniru guyonnya Mbah Wali Gus Dur yang sudah ada puluhan tahun silam. Tokh memang Mbah Said Aqil adalah sahabat sekaligus santri Mbah Wali.

    Bedanya, waktu Mbah Wali guyon, pendengarnya adalah Mbah Said dan generasinya sehingga menjadi konsumsi menambah cair suasana.

    Sedangkan saat Mbah Said guyon, yang dihadapi sebagian diantaranya adalah barisan awam yang gak sinkron antara semangat dan kapasitas ilmunya, jadi ya begitu deh.. (Abi sorban)

    Salam cinta NU..
    Salam cinta Indonesia…

  • Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Cyberaswaja.online | Sooko. Halaman parkir penuh dan Aula PCNU Kab Mojokerto ramai, dilangsungkan Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gusdur dengan tema “KEBUDAYAAN MELESTARIKAN KEMANUSIAAN”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 wib tersebut, dihadiri Tokoh lintas Agama, diantaranya Walikota Mojokerto, BUPATI Mojokerto, KAPOLRES Kabupaten Mojokerto, DANDIM dan Seluruh ORMAS serta Lintas Komunitas. 25/01/2020.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade oleh Ning Alisa Wahid

    Acara tersebut sangat penting bagi bangsa dan negara mengingat dari pribadi GUS Dur yang selalu dirindukan dan menjadi marwah NU sebagai satu-satunya ormas yang sudah tidak diragukan lagi dengan Politik Kebangsaannya, sebagai pemersatu bangsa yang berbeda-beda dan merupakan elemen penting dalam berdirinya suatu bangsa.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Pengurus PC NU bersama jajaran Forkopimda Mojokerto pada Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Peserta Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    Dengan pemateri semua tokoh lintas agama se Kabupaten Mojokerto, keistimewaan acara ini turut juga dihadiri Neng Alisa Wahid, beliau menyampaikan pesan dan kesan, serta bercerita tentang kisah kehidupan almarhum Gus Dur perihal Kebangsaan dan Bernegara. (red-fio)

  • KISAH GUS DUR DI PANGGIL SUNAN GUNUNG JATI ( CIREBON ) DI SURUH MAMPIR

    KISAH GUS DUR DI PANGGIL SUNAN GUNUNG JATI ( CIREBON ) DI SURUH MAMPIR

    Sorbansantri.com- ” jika ada cerita MU’JIZAT dan KAROMAH DAHULUKAN IMAN baru AKAL nanti akal akan mengikuti iman ”
    ( Abah HABIB MUHAMMAD LUTHFI )

    Sesungguhnya para kekasih Allah tidaklah mati, mereka hanya meninggalkan wujud fisik yang fana, tetapi jiwa mereka abadi.

    Al Qur’an dalam surat Ali Imron ayat ke 169 menegaskan “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” Kisah tentang “kehidupan” para wali yang sudah meninggal ini bisa diantaranya dialami oleh Gus Dur yang sering berkomunikasi dengan sejumlah wali yang telah lama meninggal, diantaranya dengan Sunan Gunung Jati.

    Mantan sekretaris jenderal PBNU H Arifin Junaidi mengisahkan, suatu ketika, ia dherekke Gus Dur ke Cirebon untuk bertemu dengan KH Fuad Hasyim, pengasuh pesantren Buntet. Usai pertemuan yang berlangsung sampai larut malam tersebut, mereka bergerak menuju Pekalongan untuk mengunjungi Habib Lutfi bin Yahya.

    Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Losari, sekitar pukul 1 malam. Gus Dur meminta sopirnya untuk kembali lagi, menuju ke makam Sunan Gunung Jati yang berada di kompleks Astana Gunung Sembung Cirebon. “Saya baru saja dipanggil Sunan Gunung Jati” kata Gus Dur menjelaskan alasannya kembali ke Cirebon.

    Anggota rombongan yang lain semuanya terdiam saja, tanpa komentar. Dan perjalanan pun berlanjut sampai di kompleks makam. Herannya, ditengah malam buta tersebut, para juru kunci yang ada semuanya berkumpul, lengkap, menyambut kedatangan Gus Dur tersebut dengan memakai seragam kebesarannya yang biasa dipakai ketika menerima tamu istimewa, seolah-olah sudah ada yang memberi tahu, padahal waktu itu belum ada HP sebagai alat komunikasi yang canggih.

    Mereka pun langsung menuju pemakaman. Sebagaimana tradisi Nahdliyin, ketika berziarah, mereka pun memanjatkan dzikir dan tahlil serta mendoakan Sunan Gunung Jati yang telah berjasa menyebarkan Islam di Jawa Barat.

    Usai tahlil, Gus Dur tertunduk dan diam saja. Ia lalu keluar dari ruangan tempat dzikir menuju halaman. Arifin masih penasaran kok para juru kunci sudah pada siap menerima kunjungan Gus Dur, padahal sebelumnya tidak ada rencana berziarah. Ia lalu bertanya kepada seseorang tentang kejadian ini.

    “Kok sudah pada siap dan siapa yang memberi tahu?”

    Dijawabnya, semua juru kunci dibangunkan malam-malam itu juga oleh koordinatornya, dan disuruh bersiap oleh Kanjeng Sunan dengan pesan

    “Cucuku mau datang ke sini.”

    Ia pun hanya bisa manggut-manggut keheranan akan fenomena luar biasa ini. Setelah dirasa cukup ziarahnya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke Pekalongan sebagaimana rencana semula.

    Karena masih penasaran, ia lalu bertanya kepada Gus Dur, kapan dipanggil oleh Sunan Gunung Jati. “Ya tadi, waktu perjalanan baru dipanggil, disuruh mampir. Ke Cirebon kok ngak mampir.” Gus Dur juga menjelaskan, waktu dirinya terdiam seusai tahlil, ia sedang berdialog dengan Sunan Gunung Jati, membincangkan berbagai masalah yang dihadapi oleh umat.

    Sumber : NU ONLINE

    Marilah kita selalu Istiqomah banyak membaca SHOLAWAT kepada RASULALLAH ﷺ , kalau bisa jangan kurang dari 1.000 di setiap harinya
    ” SHOLLALAHU ALA’ MUHAMMAD ” atau yang lainnya

    ALLAHUMMA berkat RASULALLAH ﷺ , berkat SHOLAWAT kepada RASULALLAH ﷺ, berkat para wali-waliyullah, berkat para ulama’-ulama’ILLAH, berkat guru-guru kami yaAllah. Mudah-mudahan kita semua, bapak ibu kami, keluarga kami, saudar2 kami, tetangga kami, dan orang-orang yang cinta kepada KANJENG NABI MUHAMMAD ﷺ cinta kepada para AULIYA’ dan para ULAMA’ cinta kepada kami ya Allah.

    Semoga kita semua mendapat ampunan segala dosa dan kesalahan lahir batin seumur hidup, di beri kesehatan lahir batin, panjang umur berkah umur, banyak rejeki barokah rejeki, barokah keturunan, tambah ilmu barokah ilmu dunia akhirat, mendapat rahmat yang luas, selamat dunia akhirat, mati beriman sempurna, segala hajat qobul, mendapat SYAFAAT RASULALLAH ﷺ,
    terkumpul dalam surga bighoiri hisab.
    Aamin Aamin…Ya Rabbal A’lamiin…..

    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد في اﻷولين واﻷخرين وفي الملآء اﻷعلى الى يوم الدين