Tag: Gus Yahya

  • Menjaga Islah, Merawat Jam’iyah

    Menjaga Islah, Merawat Jam’iyah

    Nahdlatul Ulama kembali diuji oleh dinamika di dalam rumah besarnya sendiri. Perbedaan pandangan antara Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU menjadi pengingat bahwa jam’iyah sebesar NU pun tidak lepas dari ikhtiar mencari titik temu dalam keberagaman tafsir dan pendekatan.

    Musyawarah Kubro yang digelar para kiai sepuh dan mustasyar NU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menghadirkan suara kultural yang menyejukkan: ajakan islah. Dalam tradisi pesantren, islah bukanlah tanda kekalahan, melainkan jalan kebijaksanaan untuk menjaga ukhuwah dan marwah jam’iyah. Ia lahir dari kesadaran bahwa persatuan lebih utama daripada kemenangan satu pandangan.

    Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menegaskan bahwa keputusan organisasi telah ditempuh melalui mekanisme jam’iyah sesuai aturan yang berlaku. Penegasan ini penting untuk menjaga tertib organisasi. Namun pada saat yang sama, rekomendasi Musyawarah Kubro juga menjadi pengingat bahwa kearifan para sepuh adalah penyangga moral yang selama ini menjaga NU tetap teduh di tengah perbedaan.

    Di sisi lain, sikap Gus Yahya Cholil Staquf yang membuka ruang dialog dan menunggu jawaban para kiai sepuh patut dibaca sebagai ikhtiar menjaga persatuan. Dalam tradisi NU, perbedaan pandangan tidak harus diselesaikan dengan saling menegasikan, tetapi dengan tabayun, musyawarah, dan saling menjaga adab.

    Para santri memahami bahwa NU dibangun bukan hanya oleh struktur organisasi, melainkan oleh ketulusan niat dan kebesaran jiwa para ulama. Karena itu, setiap langkah penyelesaian persoalan perlu ditempuh dengan tenang, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

    Islah yang diharapkan para kiai sepuh adalah upaya merawat jam’iyah agar tetap menjadi rumah bersama. Jika islah dapat terwujud, itu adalah keberkahan. Jika mekanisme muktamar harus ditempuh sebagai jalan konstitusional, semoga dijalankan dengan niat menjaga khidmah, bukan memperlebar perbedaan.

    Sebab pada akhirnya, NU bukan milik satu figur atau satu generasi. Ia adalah amanah sejarah yang diwariskan para ulama untuk dijaga bersama. Dalam keteduhan adab dan kejernihan niat, warga NU berharap jam’iyah ini senantiasa menemukan jalan terbaiknya.

  • Gus Yahya Tegaskan: Jangan Bawa Nama NU dalam Kampanye Pilkada 2024!

    Gus Yahya Tegaskan: Jangan Bawa Nama NU dalam Kampanye Pilkada 2024!

    Berita Video

    Sorbansantri.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah meminta seluruh anggotanya untuk tidak menggunakan identitas NU dalam setiap kegiatan politik di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, menegaskan bahwa PBNU tidak akan menentukan arah dukungan kepada pihak manapun pada Pilkada 2024.

    “Sikap politik soal Pilkada ini sebetulnya sama, kami ini minta tidak membawa lembaga. Warga NU itu berhak membuat pilihan politiknya masing-masing, tapi jangan membawa-bawa lembaga,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (6/6/2024). Menurutnya, setiap warga NU berhak menentukan sendiri arah dukungannya dalam setiap kontestasi politik.

    Namun, ia menekankan bahwa PBNU secara kelembagaan tidak akan menyatakan dukungan politik kepada pihak tertentu. “Jadi jangan misalkan berkampanye, atas nama pengurus NU, jangan menggunakan fasilitas milik NU. Jadi kalau mau dukung mendukung, silakan saja,” kata Yahya. Seruan serupa sebelumnya juga disampaikan PBNU pada pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 lalu.

    Pemungutan suara Pilkada 2024 akan diselenggarakan pada 27 November 2024 untuk 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota se-Indonesia, kecuali DI Yogyakarta dan enam kota/kabupaten di DKI Jakarta. Pendaftaran pasangan calon kepala daerah akan dibuka oleh KPU pada 27-29 Agustus 2024 dan penetapan pasangan calon dilakukan per 22 September 2024. Masa kampanye Pilkada 2024 berlangsung selama 60 hari, terhitung sejak 25 September hingga 23 November 2024, sebelum masa tenang pada 24-26 November 2024. (AI Sorban)

    @beritasorban Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta seluruh anggotanya untuk tidak menggunakan identitas NU dalam kegiatan politik di Pilkada serentak 2024. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa PBNU tidak akan menentukan arah dukungan kepada pihak manapun. Gus Yahya menyatakan warga NU berhak menentukan pilihan politiknya sendiri, tetapi tidak boleh membawa-bawa nama NU. Pemungutan suara Pilkada akan berlangsung pada 27 November 2024 di 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota se-Indonesia. Pendaftaran calon kepala daerah dibuka pada 27-29 Agustus 2024, dengan masa kampanye dari 25 September hingga 23 November 2024. #GusYahya #PBNU #Pilkada2024 #PolitikNU #Pemilu2024 #IdentitasNU #WargaNU #KontestasiPolitik #foryou #breakingnews #fypage ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Ketua Umum PBNU Terpilih 2021, Gus Yahya: Terima Kasih Guru Saya KH Said Aqil

    Ketua Umum PBNU Terpilih 2021, Gus Yahya: Terima Kasih Guru Saya KH Said Aqil

    SORBANSANTRI.COM
    Ketua Umum PBNU terpilih, Gus Yahya saat cium tangan KH Said Aqil (foto: NU Online)

    JAKARTA, wp.sorbansantri.com  – Selepas perhitungan suara, Gus Yahya menghaturkan ucapan terima kasih pertamanya kepada Kiai Said. Bagi dirinya, Kiai Said merupakan guru yang telah banyak memberikan pengalaman. “Paling awal saya haturkan terima kasih kepada guru saya, yang mendidik saya, menggembleng dan menguji saya tetapi juga membuka jalan untuk saya dan membesarkan saya yaitu prof dr KH Said Aqil Siradj,” tutur Gus Yahya, Jumat (24/12/2021).

    KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya secara resmi terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026. Dalam penghitungan suara sebagai rangkaian Muktamar ke-34 NU yang digelar di Lampung, Gus Yahya meraih 337 suara, sedangkan, Kiai Said meraih 210 suara.

    Gus Yahya berujar, tak bisa mengganti secara penuh kebaikan yang diberikan oleh Kiai Said selama ini. Keberhasilan yang diperoleh PBNU pun, kata Gus Yahya, tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran serta Kiai Said Aqil.

    “Saya tidak tahu apakah akan cukup umur saya untuk membalas jasa-jasa beliau. Kalau ada yang patut dipuji, beliau yang harus dipuji,” katanya. Dia juga mengucap syukur atas terselenggaranya rangkaian acara Muktamar NU ke-34 yang berjalan dengan sukses. Menurutnya, jalannya agenda ini amat dinikmati oleh para peserta.

    “Ini adalah salah satu nikmat NU yang terus dirasakan dari generasi ke generasi, kita berkeyakinan bahwa muktamar itu adalah sumber barokah bagi NU,” pungkasnya.(wal sorban)