Tag: HABIB LUTFI BIN YAHYA

  • Karomah Mbah Dimyati: Hadir Rasulullah SAW dalam Majlis Maulid

    Karomah Mbah Dimyati: Hadir Rasulullah SAW dalam Majlis Maulid

    wp.sorbansantri.com – Kisah Karomah Rokok Mbah Dimyati Kedawung Comal Pemalang yang diungkapkan oleh Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan mengisahkan tentang hubungan keulamaan antara keluarga Habib Ali bin Hasyim bin Yahya dan ulama-ulama Nusantara, termasuk Mbah Kiai Dimyati Comal Kedawung Pemalang. Saat sebuah acara Maulid Nabi di rumah Habib Ali sedang ramai, Mbah Dimyati tetap santai merokok. Hal ini tidak mengganggu Habib Ali karena dia mengenal karomah Mbah Dimyati yang tersembunyi dalam tindakan tersebut.

    @beritasorban

    Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah Baca selengkapnya https://wp.sorbansantri.com/habib-luthfi-pimpinan-sadati-alawiyyin-yang-diakui-dalam-mimpi-rasulullah/ @

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri

    Ketika Mbah Dim mematikan rokoknya, suasana di majlis tersebut tiba-tiba berubah menjadi sangat khusyu’ dan mengharu-biru. Habib Ali menyatakan bahwa itu adalah tanda kehadiran Rasulullah SAW dalam majlis tersebut. Habib Lutfi menjelaskan bahwa Mbah Dimyati Comal Kedawung Pemalang dikenal sebagai alim allamah dalam hafal Quran. Meskipun ada ulama yang lebih alim di Pekalongan, namun kekeramatan khusus diberikan kepada Mbah Dim.

    Habib Lutfi juga membagikan kisah lain tentang penghormatan ulama terhadap Mbah Dim, seperti yang dilakukan oleh Waliyulloh Habib Sholeh Tanggul Jember yang memberikan penghormatan kepada Mbah Dim saat melewati daerah makamnya.

    Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu mengenang dan meneladani para Wali Allah. Semoga kita bisa memperoleh berkah dari kisah-kisah inspiratif seperti Mbah Dimyati. Wallahu a’lam. (kalam ulama)

  • Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rabu, 7 Oktober 2020 selepas Isya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan kedatangan seorang tamu, ulama kharismatik dari kota Purworejo Jawa Tengan, alumni Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah, yaitu KH Thoifur Mawardi Purworejo.
    Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan terlihat sangat gembira dan senang sekali dg kedatangannya.
    Begitu beliau tiba dan duduk sejenak di ruang tamu, sudut atas, maka salah seorang abdi dalem beliau memberi tahu, maka beliau Maulana Habib Lutfi bin Yahya langsung beranjak dari kamarnya dan segera menemuinya. Dan ternyata memang kedatangannya itu tengah dinanti- nanti oleh beliau.
    Dua ulama besar yg saling menghormati dan saling menyintai, satu dari kalangan kyai yg satu dari kalangan dzurriyah nabi saw, persis seperti yg pernah terjadi dan dialami pada sahabat Ibnu Abbas dan zeid bin Tsabit ra.
    Kedatangan KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan disamping untuk silaturahmi, juga untuj membahas berbagai masalah yg berkaitan dg masalah umat, perjuangan dakwah dan lainnya, juga untuk mengantarkan sebuah kitab karya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan yg usai disyarahi dan beri ta’liq oleh beliau.
    Pertemuan kedua ulama besar tersebut walaupun dalan waktu singkat dan tidak lama, yakni sekitar 2-3 jam, tapi terlihat sangat hangat penuh keakraban dan sejuk di pandang, petanda rahmat dan barokah Allah akan segera turun untuk keamanan dan keselamat negeri tercinta Indonesia ini, yg tengah dilanda berbagai macam masalah, penyakit dan lain sebagainya.
    Keduanya mengungkapkan berbagai cerita sejarah dan untaian ilmu yg sangat menarik, yg kami hanya dapat tercengang, sambil mendengar dan mencatatnya dg setia.
    Dari mulai cerita tentang sholawat, keampuhan membaca sholawat, sejarah nabi, makam para wali dari india, Mesir, Yaman, Mekkah hingga Indonesia, kaum Wahai, sejarah para pejuang Indinesia, hingga cerita tentang guru mereka berdua, yaitu Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah.
    Yang menarik adalah saat Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan menceritakan secara rinci tentang berbagai karomah Abuya Sayid Muhammad Almalik dan bagaimana kecintaan, perhatian, sayangnya Abuya Sayid Muhammad kepadanya, maka KH Thoifur Mawardi Purworejo menuturkan dg tegas, “Iya betul, kawan- kawan santri menceritakan hal itu semua kepadaku, Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah telah memperlakukan Maulana Habib Lutfi bin Yahya dg sangat istimewa dan luar biasa, dan beliau sangat cinta dan sayang dg Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan.” (Muhdor Ahmad)
  • HIDUP ITU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI

    HIDUP ITU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Hidup Bukan untuk Berdebat, Tapi Memperbaiki Diri Bahwasanya di dalam diri ada 4 jiwa (nafs); jiwa amarah, jiwa lawwamah, jiwa sufiah, dan jiwa muthmainah yang didalamnya lagi bersembunyi hati nurani. Di dalam diri juga ada pikiran, kalimat, hati, jiwa, dan perilaku, yang harus ditata.

    Manusia Jawa kerap menyebutnya “Sedulur Papat Limo Pancer”. Dengan mengenal jiwa jiwa dalam diri, di situlah manusia mengenal siapa sejatinya diri, yang mana automaticly pasti bakal mengenal Tuhannya. Karena, sesungguhnya setelah mengenal diri, bergeraklah hati nurani sebagai pancer diri dalam laku hidup manusia. Hati nurani menjadi pengendali pikiran, kalimat, jiwa dan perilaku, termasuk empat jiwa (amarah, lawwamah, sufiah, dan mutmainah). Karenanya, memperbaiki diri menjadi fokus utama manusia menjalani hidup di alam ‘semu’ ini, tentu saja menggunakan ilmu.

    Ilmu yang disaranani dengan laku (Ngelmu sarana ing laku, Laku sarananing ngelmu). Ingat, kanjeng rasul udah memberikan petunjukNya secara jelas cetha melo melo, bahwa “Musuh (perang) terbesar manusia (umatnya) adalah diri sendiri”. Lha klo ndak tau alias tak mengenal dirinya, ya ndak bakal tau musuh mana yg diperangi. Lha, sama diri sendiri aja ndak kenal, eh mau ndandani orang lain.

    Logis, simpel aja…tapi paten! So, jalani hidup untuk memperbaiki diri, bukan memperbaiki orang lain. Ndak perlu ndakik-ndakik, sederhana saja tapi paten, fokus pada perbaikan diri dan keluarga dengan menata kalimat, pikiran, hati, jiwa, dan perilaku.

    Ilmu Gusti Allah itu keren kok kalau mau dipelajari secara kaffah, lahiriah dan batiniah.

    Gunakan hati sebagai pengendali diri, bukan akal (logika) yang mengaturnya. (abd Hamid)

  • NGALAP BAROKAH JALAN KAKI DARI SAMPANG KE PEKALONGAN

    NGALAP BAROKAH JALAN KAKI DARI SAMPANG KE PEKALONGAN

    SORBANSANTRI.COM
    Sholat Jum’at di Masjid Al-Ihsan Taman Sepanjang dan bersilaturrakhim dengan sahabat banser taman sepanjang

    SORBAN SANTRI – Abdul hafid asal tambelangan Sampang adalah Sesosok banser dari Satkorcab Kabupaten Sampang yang sedang melaksanakan perjalanan dari Sampang Madura ke Pekalongan Jawa Tengah.

    Peristiwa ini diawali karena sahabat Abdul Hafid sebelumnya pernah bermimpi bertemu dengan Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin yahya, dan beliau berpesan untuk sowan ke Pekalongan dengan berjalan kaki.

    Atas dasar kecintaan sahabat Abdul Hafid kepada Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin yahya, sahabat Abdul Hafid bergegas melaksanakan perjalanannya pada hari Kamis, 24 September 2020.

    SORBANSANTRI.COM

    Info terupdate, Sahabat Abdul Hafid tadi melaksanakan sholat Jum’at di Masjid Al Ihsan Taman Sidoarjo dan dilanjutkan perjalanannya ke jombang. Mudah- mudahan beliau diberikan kesehatan dan kekuatan sampai pada tujuan yaitu sowan kepada Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin yahya.

    Mudah-mudahan dalam perjalanan dari Sampang sampai tujuan, banyak bertemu sahabat ansor banser lainnya, sebagai sarana silaturrokhim dan memperkuat persaudaraan dalam menjaga aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi SORBAN)

  • MENGHORMATI BENDERA MERAH PUTIH

    MENGHORMATI BENDERA MERAH PUTIH

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh: HABIB LUTFI BIN YAHYA

    SORBAN SANTRI- Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.

    ”Kalau tidak mau hormat pada Bendera Merah Putih, silahkan enyah dari Indonesia,” tegas Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Hasyim bin Yahya.

    Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia.

    ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama,” ujar Habib.

    Harusnya, kata Habib, kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia,” papar Habib.

    Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.

    HABIB MUNDZIR BIN FUAD AL-MUSAWA

    “Menghormati bendera karena saya tahu Bendera Merah Putih ini
    di dukung oleh ratusan ribu Syuhada yang menegakkannya. Hormati para Syuhada itu !!!

    Ini Bendera Merah Putih adalah lambang ratusan ribu Syuhada yang mana darah mereka dengan lambang Merah dan lambang
    kesucian Putih merah putih. Semoga terangkat dan berkibarnya bendera merah putih di tiap rumah di nusantara ini mengawali pula kebangkitan semangat bangsa ini untuk mencapai sifat2 luhur dan mulia, meneruskan semangat Nabi Muhammad Saw yang terwariskan pada Ahlul badr dan sahabat beliau Saw, lalu berkelanjutan hingga terwariskan pada para pahlawan Negara ini, dan semoga terwariskan pula pada kita semua, semangat Muhammad Rasulullah Saw. Yang beliau Saw itu adalah lambang Rahmat-Nya.” (SORBAN NU)