Tag: imam ghozali

  • Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, Infokom Banser NU – بسم الله الرحمن الرحيم  Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam atas makhluk-Nya termulia, Muhammad, Rasul dan hamba-Nya, serta atas keluarga dan sahabat beliau.

    Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya, bahwa jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia. Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan, perdaganganmu merugi, dan gurumu telah membantumu dalam berbuat maksiat serta menjadi sekutumu dalam kerugian tersebut. Gurumu itu seperti orang yang menjual pedang bagi perompak jalanan, sebagaimana Rasul saw. bersabda, “Siapa yang membantu terwujudnya perbuatan maksiat walaupun hanya dengan sepenggal kata, ia sudah menjadi sekutu baginya dalam perbuatan tersebut. ”

    Jika niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu untuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwayat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau berjalan dan ikan-ikan paus di laut memintakan ampunan bagimu manakala engkau berusaha. Tapi, engkau harus tahu sebelumnya bahwa hidayah merupakan buah dari ilmu engetahuan. Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Begitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus diketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.

    Oleh karena itu, di sini akan aku tunjukkan padamu permulaan dari sebuah hidayah agar engkau bisa mencoba dirimu dan menguji hatimu. Apabila engkau mendapati hatimu condong pada hidayah tersebut lalu dirimu berusaha untuk menggapainya, maka setelah itu engkau bisa melihat perjalanan akhir darinya yang melaju dalam lautan ilmu. Sebaliknya, jika engkau mendapati hatimu berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya, ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongmu untuk menuntut ilmu tersebut adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’ (yang memerintahkan pada keburukan). Jiwa tersebut bangkit karena taat kepada setan terkutuk untuk dijerat dengan tali tipuannya. Ia terus memberikan tipudayanya kepadamu sampai engkau betul-betul binasa. Ia ingin agar engkau memperbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa memasukkanmu dalam kelompok orang yang merugi dalam amalnya. Yaitu, mereka yang sesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik.

    Saat itu setan menceritakan padamu tentang keutamaan ilmu, derajat para ulama, serta berbagai riwayat di seputarnya. Namun, setan tersebut membuatmu lalai dari sabda Nabi saw., “Siapa yang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, ia hanya bertambah jauh dari Allah. ” Juga dari sabda Nabi saw. yang berbunyi, “Orang yang paling keras siksanya dihari kiamat, adalah orang alim yang ilmunya tak Allah berikan manfaat padanya. ”

    Nabi saw. berdoa:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
    Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmi laa yanfa’u wa qalbin laa yakhsya’ wa ‘ amalin laa y urf a’ u w a du’ain laa yusma’u

    “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari doa yang tak didengar. ”

    Sabda Nabi saw., “Di malam aku melakukan Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting api neraka. Lalu aku bertanya, ‘Siapa kalian? ’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri mengerjakannya! ”

    Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu untuk – diperdaya oleh jerat tipuannya. Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya!

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • 3 JENIS MANUSIA DALAM MENUNTUT ILMU – BIDAYATUL HIDAYAH

    3 JENIS MANUSIA DALAM MENUNTUT ILMU – BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم

    (1) Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat dimana ia hanya ingin mengharap rida Allah
    dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung;

    (2) Seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia sehingga ia bisa memperoleh
    kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa keadaannya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah penghabisan yang buruk (su’ ul-khatimah ) dan keadaannya menjadi berbahaya. Tapi jika ia sempat bertobat sebelum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung pula. Sebab, orang yang bertobat dari dosanya seperti orang yang tak berdosa;

    (3) Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta
    untuk berbangga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri dengan besarnya jumlah pengikut. Ilmunya menjadi tumpuan untuk meraih sasaran duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus disisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.

    Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharapkan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya termasuk orang baik. Ia lalai dari firman Allah Swt. yang berbunyi, “Wahai orang orang yang beriman. Mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan?!” (Q.S. ash-Shaff: 2). Ia termasuk mereka yang disebutkan Rasul saw., “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal. ” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama su’ (buruk).” Sebab, Dajal memang bertujuan menyesatkan, sedangkan ulama ini, walaupun lidah dan ucapannya memalingkan manusia dari dunia, tapi amal perbuatan dan keadaannya mengajak manusia ke sana.

    Padahal, realita lebih berbekas dibandingkan ucapan. Tabiat manusia lebih terpengaruh oleh apa yang dilihat ketimbang mengikuti apa yang diucap. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya lebih banyak daripada perbaikan yang di sebabkan oleh ucapannya. Karena, biasanya orang bodoh mencintai dunia setelah melihat si alim cinta pada dunia. Ilmu pengetahuan yang dimilikinya, menjadi faktor yang menyebabkan para hamba Allah berani bermaksiat pada-Nya. Nafsunya yang bodoh tertipu, tapi masih memberi angan-angan dan harapan padanya. Bahkan, ia mengajaknya untuk mempersembahkan sesuatu untuk Allah dengan ilmunya. Nafsu tersebut membuatnya beranggapan bahwa ia lebih baik dibandingkan hamba Allah yang lain.

    Maka dari itu, jadilah engkau termasuk golongan yang pertama. Waspadalah agar tidak menjadi golongan kedua
    karena betapa banyak orang yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba sebelum bertaubat sehingga akhirnya rugi dan kecewa. Lebih dari itu, waspadalah! Jangan sampai engkau menjadi golongan ketiga karena engkau betul-betul akan binasa, tak mungkin selamat dan bahagia.

    Apabila engkau bertanya, “Apa permulaan dari hidayah tersebut sehingga aku bisa menguji diriku dengannya?” Maka ketahuilah bahwa hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan berakhir dengan ketakwaan batiniah. Tak ada balasan kecuali dengan takwa dan tak ada hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa. Takwa adalah ungkapan yang mengandung makna melaksanakan perintah Allah Swt. dan menghindarkan larangan-larangan-Nya. Masing-masing ada dua bagian. Di sini aku akan menunjukkan kepadamu secara ringkas aspek lahiriah dari takwa dalam dua bagian tersebut secara bersamaan. Aku masukkan bagian ketiga agar tulisan menjadi lengkap dan cukup. Allah tempat meminta pertolongan.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • CACING-PUN BERSHALAWAT 1000 KALI

    CACING-PUN BERSHALAWAT 1000 KALI

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com-  Dikisahkan,..

    Suatu ketika nabi Daud as sedang duduk di tempat ibadah beliau sambil membaca kitab Zabur. Tiba-tiba beliau melihat ada seekor cacing merah sedang berjalan di tanah.

    Hati kecil beliau pun berbisik,

    “Apa yang Alloh inginkan dari cacing ini? Untuk apa Alloh menciptakan cacing in?”

    Dengan izin Alloh, cacing itupun dapat berbicara. Iapun berkata,

    “Wahai Nabi Alloh, jika di siang hari, Alloh memerintahkanku untuk berzikir:

    سبحان الله والحمد لله و لا اله الا الله 1000x

    ‘Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh’ seribu kali,

    Sedangkan dimalam hari Alloh memerintahkanku untuk bersholawat

    اللهم صل على محمد النبي الامي و على اله و صحبه و سلم 1000x

    ‘Allohumma sholli ‘ala muhammad nabiyyil ummi wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam’ seribu kali setiap malam.

    Sedangkan engkau wahai Nabi Daud, apa yang engkau ucapkan, agar aku dapat mengambil manfaat darimu?”

    Nabi Daud pun menyesal telah meremehkan seekor cacing. Dan beliau pun kemudian bertaubat, memohon ampun kepada Alloh SWT.

    Ternyata,…

    Demikian indah hidup seekor cacing yang acapkali kita remehkan,…

    Ternyata, lisannya senantiasa basah dengan dzikir dan sholawat…

    Padahal, ia tak pernah bermaksiat,..

    Lantas,..

    Bagaimana dengan lisan kita???

    Seberapa sering lisan ini berdzikir??

    Seberapa banyak sholawat yang keluar dari lisan yang penuh maksiat ini???

    Akankah kita, yang diberi begitu banyak kelebihan oleh Alloh, kalah dengan seekor cacing dalam ketaatan kepada Alloh???

    Ya Robb berilah taufiqMu untuk kami…

    Jadikan kami termasuk golongan ahli dzikir, yang senantiasa membasahi lisan kami dengan dzikir dan sholawat,

    Jangan biarkan sedikitpun waktu kami berlalu kecuali bertambah amal kami untuk hari perjumpaan denganMu…

    اللهم اعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

    “Ya Alloh tolong kami untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuri nikmat-nikmatMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu”

    Sumber: Mukasyafatul Qulub – Imam Ghozali r.a

     

  • Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah Soal Membenahi Negara

    Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah Soal Membenahi Negara

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Diskusi siang ini sedikit membuat saya nervous, sebab ini pertama kali saya satu forum dengan para Doktor, Mahasiswa S3 dan praktisi Ekonomi Syari’ah.

    Di sambutan pembuka, Dr. Imron Mawardi selaku Ketua Masyarakat Ekonomi Syari’ah menyampaikan bahwa tujuan menghadirkan saya agar ada tambahan referensi ke sumber dalil dari ulama klasik. Dari sini saya mulai merubah posisi duduk saya (pegel linu kambuh).

    40 menit saya menyampaikan materi, mulai wabah penyakit di masa Nabi, bentuk harta yang dikeluarkan dalam Islam, tetap mengeluarkan infaq dalam keamanan lapang atau sempit, terlebih praktik jaminan sosial yang dilakukan oleh Nabi baik selaku otoritas pembawa wahyu maupun pemimpin umat Islam dan sebagainya.

    Dilanjutkan dengan dialog, tanya jawab yang lebih dalam soal materi, ada yang beranjak ke soal Qurban, hingga bicara soal sistem negara.

    Penanya paling akhir menyuarakan kenapa tidak memakai sistem khilafah? Bukankah khilafah adalah solusi bagi masalah jaminan sosial? Hajat hidup manusia akan ditanggung oleh negara secara gratis dan sebagainya.

    Karena pertanyaan di injury time maka hanya saya yang menjawab. Saya sampaikan dengan memori sebuah buku disertasi Al-Ghazali VS Ibnu Taimiyah soal membenahi negara. Di buku tersebut dijelaskan bahwa cara Ibnu Taimiyah adalah revolusi. Artinya jika ada negara yang tidak sejalan dengan tujuan maka langsung ganti sistem.

    Sementara Imam Ghazali memilih pendekatan akomodatif, membenahi apa yang belum baik untuk menjadi baik. Saya kira pemikiran inilah yang diwarisi oleh para kyai yang terlibat dalam perjuangan di negeri ini. Negara terus berjalan dan apa yang kurang, atau bahkan Maqashid Syari’ah yang belum tercapai, dibenahi bersama agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

    Sistem yang ada saat ini memang belum jadi yang terbaik, tetapi setidaknya sudah menjadi perekat keutuhan dalam menjalankan kehidupan beragama dan bernegara. Sementara sistem khilafah yang digadang-gadang jadi solusi, diterapkan di negara mana yang sudah berhasil saat ini? Jawabannya tidak ada satupun, bahkan ditolak banyak negara yang berpenghuni umat Islam.(post kh. Ma’ruf khozin)

  • Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU dan Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU dan Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Namanya adalah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo Jawa Timur, sosok ulama kharismatik yang menjadi saksi utama berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Kiai As’ad inilah yang diutus Syaikhona Kholil Bangkalan untuk menyampaikan isyarat kepada Hadratusysyaikh Kiai Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU. Isyarat itu berupa tasbih, tongkat dan ayat al-Quran.

    Karena kecintaannya sama NU, Kiai As’ad tak pernah surut sedikitpun dalam berjuang di NU. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo yang diasuhnya menjadi tonggak NU ketika merumuskan hubungan Islam dan Pancasila pada tahun 1983 dan 1984. Banyak sekali peristiwa penting yang terjadi di NU, Kiai As’ad selalu menjadi saksi hidup yang terus berjuang tanpa mengenal lelah sedikitpun.

    Kisah heroisme Kiai As’ad dalam perjuangannya di NU ditegaskan sangat gamblang dalam buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat” yang diterbitkan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Dalam buku itu, tepatnya di halaman 51, Kiai As’ad dikisahkan berikut ini:

    “Pada tahun 1971, Kiai As’ad menjadi juru kampanye partai NU di Alun-alun Situbondo. Beliau tak banyak bicara, hanya 15 menit.

    “Saya tak mungkin keluar dari NU dan akan tetap mencoblos NU. Mengapa? Karena saya pernah mimpi berjumpa Imam Syafi’i dan Imam Ghazali. Dalam mimpi tersebut, seolah-olah Imam Syafi’i menjadi syuriah NU, sedangkan tanfidziyah Imam Ghazali. Karena itu, kalau sampeyan mengikuti kedua imam tersebut, harus mencoblos NU!” kata Kiai As’ad berapi-api.

    Begitulah, mimpi Kiai As’ad tentang Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU, Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    Dalam buku itu, kisah lain tentang Kiai As’ad diceritakan Cholid Mawardi, salah satu mantan ketua umum GP Ansor. Cholid Mawardi pernah mendapatkan kisah langsung dari Kiai As’ad, bahwa kalau kampanye di Madura tidak perlu banyak bicara. Sambil menenteng pedang dan celurit, lalu berkata:

    “Kalau mau pilih NU berarti ikut saya. Yang tak ikut berarti menentang saya. Yang menentang saya, ayo berkelahi,” kata Kiai As’ad.

    Bagi Cholid Mawardi, apa yang disampaikan Kiai As’ad sekedar guyonan saja, karena sejatinya yang lebih penting adalah ketokohan dan kehebatan harus ditunjukkan ketika berhadapan dengan masyarakat, khususnya di Madura. Jangan hanya pandai bicara saja, karena masyarakat butuh bukti bukan janji. Pesan Kiai As’ad ini ditujukan kepada Ansor dan kaum muda NU agar mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk tampil sebagai pemimpin nasional dan mampu memimpin rakyat banyak.

    Dalam kisah lain lagi, Kiai Wahab Chasbullah pernah mengutus Kiai As’ad untuk sowan kepada Sunan Ampel, yakni menyampaikan surat Kiai Wahab kepada Sunan Ampel menjelang berdirinya NU. Surat itu diletakkan di atas makam Sunan Ampel. Tak lama kemudian, Kiai Wahab menegaskan bahwa Sunan Ampel telah merestui berdirinya jam’iyyah yang bernama NU.

    Dalam kisah lain juga, Kiai As’ad pernah bercerita bermimpi dengan Nabi Muhammad dan para Ulama besar.

    “Orang-orang yang hadir disuruh ikut Kiai Hasyim. Setelah itu, saya melihat Kiai Hasyim terbang memutari Ka’bah. Setelah mendapat 7 putaran, beliau turun duduk di atas maktab. Setelah itu, yang ada hanya saya dan Kiai Hasyim. Lalu beliau mengajak saya pergi, sampai di pintu Baitullah, mendadak pintu langit terbuka.”

    Begitulah sosok Kiai As’ad Syamsul Arifin. Semangatnya dalam berjuang di NU menjadi teladan bagi para kader NU saat ini untuk terus mengembangkan diri dan menguatkan perjuangan NU dalam rangka memberikan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

    *Saksikan juga video tentang NU dan KH Hasyim Asy’ari.

    (Abu Umar)

    Semoga kita smua istiqomah di NU Dan menghidupkan NU Aamiin

    Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad wa alaa aaliih wasohbihi wa sallim wabaarik Alaih….

    (red Abdul Hamid bin ichsan ilyas)

  • Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم  Kemudian, seorang mukalaf minimal harus meyakini tafsiran dari kata-kata “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jika ia membenarkan Rasul saw., maka ia juga harus membenarkan beliau dalam hal sifat-sifat Allah Swt.

    Dia Zat Yang Maha hidup, Berkuasa, Mengetahui, Berbicara, dan Berkehendak Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Namun, ia tak harus meneliti hakikat sifat-sifat Allah tersebut serta tak harus mengetahui apakah kalam dan ilmu Allah bersifat qadim atau baru. Bahkan, tak jadi masalah walaupun hal RI tak pernah terlintas dalam benaknya sampai ia matt dalam keadaan mukmin. Ia tak wajib mempelajari dalil dalil yang dikemukakan oleh para ahli kalam. Selama hatinya meyakini al-Haq, walaupun dengan iman yang tak disertai dahi dan argumen, ia sudah merupakan muk mi n. Rasulullah saw. tidak membebani lebih dari itu.

    Begitulah keyakinan global yang dimiliki oleh bangsa Arab dan masyarakat awam, kecuali mereka yan berada di negeri- negeri dimana masalah-masalah tentang qadim dan barunya kalam Allah, serta istiwa dan nuzul Allah, ramai diperdebatkan. Jika hatinya tak terlibat dengan hal itu dan hanya sibuk dengan ibadah dan amal salehnya, maka tak ada beban apa pun baginya. Namun, jika ia juga memikirkan hal itu, maka minimal ia harus mengakui keyakinan orang-orang salaf yang mengatakan bahwa Alquran itu qadim, bahwa Al- quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, bahwa istiwa Allah adalah benar, bahwa menanyakan tentangnya adalah bidah, dan bahwa bagaimana cara istiwa itu tidak diketahui.

    Ia cukup beriman dengan apa yang dikatakan syariat secara global tanpa mencari-cari hakikat dan caranya. Jika hal itu masih tidak berguna juga, dimana hatinya masih bimbang dan ragu, jika memungkinkan, hendaknya keraguan tersebut dihilangkan dengan penjelasan yang mudah dipahami walaupun tidak kuat dan tidak memuaskan bagi para ahli kalam. Itu sudah cukup dan tak perlu pembuktian dalil. Namun, lebih baik lagi kalau kerisauannya itu bisa dihilangkan dengan dalil yang sebenarnya. Sebab, dalil tidak sempurna kecuali dengan memahami pertanyaan dan jawabannya. Bila sesuatu yang samar itu disebutkan, hatinya akan ingkar dan pemahamannya tak mampu menangkap jawabannya. Sebab, sementara kesamaran tersebut tampak jelas, jawabannya pelik dan membingungkan sehingga sukar dipahami akal. Oleh karena itu, orang-orang salaf tak mau mengkaji dan membahas masalah ilmu kalam. Hal itu mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat awam yang lemah.

    Adapun orang-orang yang sibuk memahami berbagai hakikat, mereka memiliki telaga yang sangat membingungkan. Tidak membicarakan masalah ilmu kalam kepada orang awam adalah seperti melarang anak kecil mendekati pinggir sungai karena takut tenggelam. Sedangkan orang-orang tertentu diperbolehkan karena mereka mahir dalam berenang. Hanya saja, ini merupakan tempat yang bisa membuat orang lupa diri dan membuat kaki tergelincir, dimana, orang yang akalnya lemah merasa akalnya sempurna. Ia mengira dirinya bisa mengetahui segala sesuatu dan dirinya termasuk orang hebat. Bisa jadi, mereka berenang dan tenggelam dalam lautan tanpa ia sadari. Hanya segelintir orang saja dari mereka yang menempuh jalan para salaf dalam mengimani para rasul serta dalam membenarkan apa yang diturunkan Allah Swt. dan apa yang diberitakan Rasul-Nya dimana mereka tak mencari-cari dalil dan argumen. Melainkan, mereka sibuk dengan ketakwaan.

    Demikianlah, ketika Nabi saw. melihat para sahabatnya sibuk berdebat, beliau marah hingga memerah kedua pipi beliau dan berkata, “Apakah kalian diperintahkan untuk ini. Kalian mengumpamakan sebagian isi Kitabullah dengan yang lain. Perhatikan! apa yang Allah perintahkan pada kalian kerjakanlah, sedangkan yang dilarang kalian tinggalkan. ” Ini merupakan peringatan terhadap manhaj yang benar. Lengkapnya, hal itu kami jelaskan dalam kitab Qawa ’id al- Aqaa ’id.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • KETAMPANAN RASULULLAH SAW

    KETAMPANAN RASULULLAH SAW

     

    Infokom Banser NU-Disebutkan di dalam kitab al-Mahabbah karya Imam al-Ghazali bahwa Imam Muhammad bin Asy’ats berkata,
    “Pada masa Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, penduduk Mesir pernah hidup selama empat bulan tanpa adanya makanan. Bila mereka lapar, mereka cukup memandang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam saja sehingga ketampanannya menjadikan mereka melupakan rasa laparnya. Pada masa itu pula, pernah terjadi, di mana tanpa sadar sekumpulan perempuan mengiris-ngiris jemarinya, karena merasa takjub saat melihat ketampanan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.”
    Di lain keterangan, Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya, Muhammad Insanul Kamil, mengatakan bahwa prosentase ketampanan, keindahan dan keelokan yg Allah SWT turunkan ke alam ini dibagi menjadi beberapa bagian, dengan rinciannya yaitu :
    50% untuk Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, dan 25 % untuk Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, sedangkan sisanya 25% lagi dibagikan kepada seluruh alam semesta beserta isinya yg meliputi keindahan alam, keelokan hewan, ketampanan dan kecantikan manusia, dan lain sebagainya.
    Baik Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam maupun Nabi Yusuf ‘Alaihissalam sama-sama tampan dan mempesona. Siapapun yg memandag akan takjub dan kagum. Mereka juga sama-sama diberi 10 hijab dari cahaya guna menjaga penampilannya dari fitnah.
    Bedanya, semua hijab Nabi Yusuf ‘Alaihissalam telah dibuka semenjak di dunia, sedangkan hijab Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam hanya satu saja yg dibuka. Sisanya, akan dibuka dan ditampakan kelak di surga. Karena jika semua hijab beliau shallallahu alaihi wasallam dibuka semenjak di dunia, maka orang-orang akan tanpa sadar mengoyak-ngoyak jantungnya karena tak kuasa menahan takjub ketika melihat beliau.
    Referensi :
    Kitab al-Mahabbah karya Imam al-Ghazali.
    Kitab Muhammad Insanul Kamil karya Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani.
    اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد