Tag: imam syafi’i

  • Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    SORBANSANTRI.COM

    Berikut adalah hujjah ASWAJA dalil serta pendapat ulama’ salaf yang berkaitan dengan baca Al-Qur’an di kuburan.

    حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

    “Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

    Al-Hafidz al-Haitsami berkata:”Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya” (Majma’ al-Zawaid III/66

     

    Pendapat Ulama Salaf

    وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1  11)

    “Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa” (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

    وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْب عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَة وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْل بِهِ يلزم من ذلك أن يكون الشافعي قائلا بوصول ثواب القرآن لأن القرآن أشرف الذكر (الإمتاع للحافظ بن حجر العسقلاني 1 / 85)

     

    “Ini penjelasan yang asing dari al-Syafi’i. Al-Za’farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan. Dengan begitu asy-Syafii mengatakan sampainya pahala al-Quran, sebab Quran adalah dzikir yang paling mulia (yaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)” (al-Imta’, Ibnu Hajar, I/11).

    (Gus Khotib)

  • Abu Nawas Syahdan di Sholati Imam Syafi’i

    Abu Nawas Syahdan di Sholati Imam Syafi’i

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Abu Nawas Syahdan, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer hingga dia mendapat julukan Penyair Khamer. Abu Nawas pernah membuat syair “Biarkan masjid diramaikan oleh orang-orang yang rajin ibadah Kita di sini saja, bersama para peminum khamer, dan saling menuangkan Tuhanmu tidak pernah berkata, ‘Cilakalah para pemabuk.’ Tapi Dia pernah berkata, ‘Cilakalah orang-orang yang shalat.’”.

    Gara-gara syairnya ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid marah dan ingin memenggal leher Abu Nawas. Tapi, ada orang yang mengatakan kepada Ar-Rasyid: “Wahai Amirul Mukminin, para penyair mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Maafkanlah dia (Abu Nawas).”Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menshalati jenazahnya.

    Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini:“Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak Tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan?

    Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu Dan keindahan ampunan-Mu Dan aku pasrah setelah ini. Setelah membaca syair tersebut, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Dia langsung menshalati jenazah Abu Nawas bersama orang-orang yang hadir.

    Bukan hak-ku, bukan hak-mu, dan bukan hak siapapun menghukum orang lain sebagai pendosa…
    (abi sorban)

  • NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    wp.sorbansantri.com – Saya selalu teringat pesan para ulama besar dari mulai Sayidina Ali sampai Imam Syafi’i, yg selalu disitir Gus Baha, tentang kawan: “Janganlah kamu berteman dengan orang yang tidak siap melihatmu berbuat salah.”
    Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Dan lebih berbahaya lagi, karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong Di mata orang seperti itu, ini salah. Itu salah. Tidak terbuka peluang bagi orang untuk memperbaiki diri. Pernah, seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan. Kata Tuhan, “Lha kalau kamu tidak berbuat salah, lalu di mana letak kehebatan sifat pengampun-Ku?”
    Sementara Nabi sendiri mensifati umatnya, dan melukiskan kebesaran Tuhan, salah satunya dalam bentuk betapa dhaifnya manusia dan betapa besarnya pengampunan Tuhan. Anak-cucu Adam itu senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baiknya mereka adalah yg lekas meminta ampunan.
    Ini berbeda sama sekali dengan orang Khawarij. Kaum ini sering mencap orang yg berbuat salah dan maksiat telah keluar dari Islam. Sementara Tuhan menyeru, sebanyak apapun kesalahan dan dosa hambaNya, jangan pernah berputus asa dari ampunan Tuhan. Aneh sekali kaum Khawarij ini yg justru ‘mengusir’ orang yg sudah masuk Islam hanya karena berbuat salah, sementara Tuhan selalu mengulurkan tangan agar orang yg berbuat salah tak berputus asa.
    Ada kisah orang alim yg selalu dijadikan contoh oleh Gus Baha dalam konteks ini. Beliau adalah Mbah Nafi’. Waktu sudah dianggap alim, oleh sesepuh dan guru-gurunya, Mbah Nafi’ diminta mengajar mengaji. Tapi beliau menolak karena takut salah.
    Akhirnya beliau diundang oleh guru-gurunya dan diberitahu: “Kamu keliru kalau tidak mau mengajar karena takut salah. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang takut berbuat salah justru orang yang sombong. Kamu itu bukan nabi kok takut berbuat salah.” Semenjak itu Mbah Nafi’ mau mengajar. (abi sorban)
  • Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : Gus Nadirsyah Hosen
    wp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.
    Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.
    Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:
    ‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
    Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”
    Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.
    Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:
    Versi pertama;
    Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”
    Versi kedua:
    Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.
    Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”
    Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.
    Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.
    Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.
    Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.
    Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.
    Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.
    Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.
    Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.
    Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)
    Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 
  • Menghormati Guru Adalah Salah Satu Sarat Menuntut Ilmu

    Menghormati Guru Adalah Salah Satu Sarat Menuntut Ilmu

    SORBANSANTRI.COM
    Sorban Santri- Diantara syarat yang sering diabaikan oleh para penuntut ilmu sekarang adalah kurang bahkan tidak menghormati guru. Dalam kitab Taysirul Khallaq disebutkan seorang penunut ilmu haruslah meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan seperti orang tua, bahkan bisa lebih tinggi, karena orang tua memelihara jasadnya, tapi guru berusaha memelihara jiwanya. Orang tua memperhatikan urusan dunia kita, sementara guru memperhatikan urusan akhirat kita.
    Coba kita perhatikan. Kita mengenal Allah, para Nabi, bahkan kita bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam sehingga bisa menggali lebih dalam syariat islam namun terkadang kita lupa dari manakah kita mengenal semua itu? Tidaklah mungkin kita kenal semua itu tanpa bimbingan guru. Maka benarlah perkataan ulama :
    ﻟﻮﻻ ﺍﻟﻤﺮﺑﻲ، ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺭﺑﻲ
    Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku
    Betapa mulianya seorang guru hingga Sayyidina Ali yang digelari sebagai kotanya ilmu berkata:
    ﺃﻧﺎ ﻋﺒﺪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻨﻰ ﺣﺮﻓﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ، ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺑﺎﻉ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﺳﺘﺮﻕ
    Aku adalah hamba sahaya dari seseorang yang mengajariku satu huruf, jika ia mau maka ia boleh menjual dan jika ia mau maka ia boleh menjadikan aku sebagai budaknya.
    Imam Ahmad banyak mengambil ilmu dari Imam Syafi’i hingga ia berkata: Jika dalam suatu permasalahan tidak aku temui haditsnya maka aku memutuskan hukum dengan perkataan Imam Syafii.
    Maka sebagai balasannya Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
    ﺇِﻧِّﻲْ ﻷَﺩْﻋُﻮ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﻓِﻲْ ﺻَﻼَﺗِﻲْ ﻣُﻨْﺬُ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺳَﻨَﺔً، ﺃَﻗُﻮْﻝُ : ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲْ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﻟِﻤُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺇِﺩْﺭِﻳْﺲَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ
    ”Aku mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Aku berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.”
    [al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i] (arka)
  • Cara Imam Syafi’i Mencetak Golden Generation

    Cara Imam Syafi’i Mencetak Golden Generation

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Para Sahabat kita di Eropa sebenarnya sedang menempuh pendidikan S2 atau S3, bahkan menjadi Guru Besar. Namun mereka masih menyempatkan diri berkhidmat untuk organisasi NU. Saya melihat saat ini sedang dalam masa generasi keemasannya, khususnya yang saya tahu sendiri adalah PCI NU Jerman. Ada Prof
    Hendro Wicaksono, Dr Wahyu Wijaya Hadiwikarta, Dr Muhammad Rodlin Billah, Bu Rina Agustina, Dr Miftahussurur, Mas Arrayyan dll.
    Bagi saya ini masih embrio “Golden Generation”. Sebab mereka bertemu tanpa disengaja, memiliki kesepahaman, bercita-cita bareng dan merealisasikan programnya. Generasi emas sebenarnya adalah ketika orang-orang hebat tersebut berhasil mengkader generasi sesudahnya, setelah beliau semua pulang ke tanah airnya, di Jerman sana masih ada penerusnya.
    Sebagai contoh adalah keberhasilan Imam kita dalam mengkader penerusnya. Imam Syafi’i punya banyak murid. Diantara muridnya ada 2 orang yang bernama Rabi’. Yang pertama Rabi’ Al-Muradi dan yang kedua Rabi’ Al-Jaizi.
    Kejadian berikut dialami oleh Rabi’ Al-Muradi, siapa sangka di masa belajarnya ia adalah murid ‘telmi’. Berikut riwayatnya:
    ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻘﻔﺎﻝ ﻓﻰ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ ﻛﺎﻥ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻄﺊ اﻟﻔﻬﻢ ﻓﻜﺮﺭ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭاﺣﺪﺓ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻓﻠﻢ ﻳﻔﻬﻢ ﻭﻗﺎﻡ ﻣﻦ اﻟﻤﺠﻠﺲ ﺣﻴﺎء ﻓﺪﻋﺎﻩ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﺧﻠﻮﺓ ﻭﻛﺮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻓﻬﻢ
    Al-Qaffal mengatakan dalam Fatawinya bahwa “Rabi’ adalah orang yang tidak cerdas. Asy-Syafi’i mengajarnya dengan mengulang-ulang 1 masalah sampai 40 kali, Rabi’ belum paham juga. Rabi’ pun pergi dari tempat belajar karena malu. Asy-Syafi’i memanggilnya di tempat sepi dan mengulang-ulang pelajaran hingga ia paham” (As-Subki, Thabaqat Syafi’iyah, 2/134)
    Ternyata, Rabi’ Al-Muradi inilah yang di masa berikutnya menjadi sosok ulama yang menyebarkan ilmu-ilmu Imam Syafi’i. Sebab Rabi’ inilah yang meriwayatkan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, kitab induk Mazhab Syafi’i. Selain beliau masih banyak murid Asy-Syafi’i yang lain, seperti Al-Muzani, Al-Buwaithi, Harmalah dan sebagainya.
    Untuk semuanya saya haturkan jazakumullah Khoiron katsiron, semoga Allah memberi keberkahan dan perlindungan kepada panjenengan di PCI NU Jerman. (post kh. ma’ruf khozin)
  • SAAT ROSUL DAN IMAM SYAFI’I WAFAT, YANG PIMPIN TAHLIL SIAPA?

    SAAT ROSUL DAN IMAM SYAFI’I WAFAT, YANG PIMPIN TAHLIL SIAPA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-

    Jawaban Ini Menepis Keraguan Atas Pertanyaan Wahabi “Siapa Yang Menahlili Rasulullah”

    Oleh Jefri Nofendi

    Assalaamu ’alaikum

    Kemarin kemarin salafi wahabi banyak heboh mengupload gambar yang saya lampirkan , seolah olah mereka ada di jalan yang benar dan menganggap bagi yang tak mampu menjawabnya dianggap tidak memahami ISLAM menurut mereka,

    isi gambar itu adalah :

    Afwan … saya mau bertanya …

    1. siapakah yang memimpin tahlilan pada saat RASULULLAHU SAW wafat ?

    2. siapakah yang memimpin tahlilan pada saat imam syafi’i wafat ?

    nb : Demi Allahu , kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya maka saya akan belajar ISLAM kepada yang bisa menjawabnya.

    Baiklah saya Jefri Nofendi akan menjawabnya dan sesuai kesepakatan dalam catatan kecil (nb) maka bila pertanyaan itu mampu dijawab maka seluruh kaum salafiwahabi bersedia belajar ISLAM dengan saya.

    Jawaban soal 1 : tidak ada yang memimpin tahlilan saat NABI MUHAMMAD SAW wafat, alasannya karena NABI MUHAMMAD SAW adalah maksum dan beliau sudah dijamin dengan rahmat ALLAHU SWT masuk surga, 🙂 , kalau saat RASULLLAH SAW wafat diadakan tahlilan itu artinya menganggap dan menuduh NABI tidak maksum, 🙂 , tahlilan hanya berlaku bagi mereka yang tidak maksum dan tidak mendapat jaminan rahmat masuk SURGA, 🙂 , karena RASULULLAH SAW adalah maksum maka tidak ada tahlilan untuk beliau karena tidak ada tahlilan maka tidak ada seorangpun yang memimpin tahlilan.

    2. yang memimpin tahlilan ketika imam syafi’i wafat adalah seorang wali (penguasa) yang bernama
    Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam , muhammad bin as-suri bin al-hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh imam syafi’i, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh muhammad bin as-suri bin al hakam , dari memandikan, memimpin sholat jenazah, menguburkan, mendo’akan serta tahlilan bersama jama’ah yang lain yang hadir saat imam syafi’i wafat, … kisah detik detik wafatnya imam syafi’i dan wasiatnya tertulis dalam tarikh sejarah, dan bahkan wikipedia juga ada kok menuliskan ini berikut cuplikan kisah wafatnya imam syafi’i :
    **************************
    ——————————————————-
    Pada suatu hari, Imam Syafi’i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.
    Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, “Bagamana kondisi Anda wahai guru?” Imam Syafi’i menjawab, “Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?”.

    Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, “Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku,” lalu sepupunya berkata, “Kami akan turun sebentar untuk salat.” Imam menjawab, “Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku.” Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, “Apakah engkau sudah salat?” lalu mereka menjawab, “Sudah”, lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, “Biar kami campur dengan air hangat,” ia berkata, “Jangan, sebaiknya dengan air safarjal”. Setelah itu ia wafat. Imam Syafi’i wafat pada malam Jum’at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.

    Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka.

    Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

    Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, “Apakah Imam meninggalkan hutang?”, “Benar!” jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

    Jenazah Imam Syafi’i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, “Semoga Allah merahmati asy-Syafi’i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik.”

    Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi’i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi’i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.
    ————————————–
    nah saya sudah menjawabnya dengan penjelasan yang disertai bukti dan argumen, sesuai kesepakatan harap kaum salafiwahabi yang mengupload gambar tersebur segera belajar ISLAM dengan saya/Jefri Nofendi, dan bila kalian ingin belajar ISLAM dengan saya harap kalian di hadapan saya mengucap kembali 2 kalimah syahadat .

    tapi kalau kalian salafiwahabi enggan dan mengingkari kesepakatan , silakan jilat lagi ludah kalian kembali yang mengatasnamakan sumpah “Demi Allaah” ,

    “BERSUMPAH PALSU ADALAH DOSA BESAR YANG PELAKUNYA SUDAH PASTI DIGANJAR MASUK NERAKA KECUALI DIRINYA BERTOBAT !!! “

    Tertanda
    Jefri Nofendi
    ASWAJA Bidang IT

  • Zakat Fitrah Pakai Uang Ikut Madzhab Hanafi Tapi Ukuran Berasnya Ikut Madzhab Syafi’i. Apa Boleh?

    Zakat Fitrah Pakai Uang Ikut Madzhab Hanafi Tapi Ukuran Berasnya Ikut Madzhab Syafi’i. Apa Boleh?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN santri– Madzhab Fikih dalam Islam bagus semuanya. Tapi tidak boleh dicampur aduk. Sama seperti soto terasa nikmat, nasi goreng juga nyaman. Kalau dicampur? Ya ambyar. Demikian pula tata cara beragama kita memiliki aturan.

    Jika ikut pendapat madzhab Syafi’i kita berupaya konsisten mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok 2.7 kg. Tapi tidak boleh pakai uang.

    Yang membolehkan pakai uang adalah madzhab Hanafi. Tapi ukurannya adalah 3.8 kg dengan ketentuan menggunakan harga kurma, gandum atau anggur (karena Nabi shalallahu alaihi wasallam mengeluarkan zakat fitrah jenis ini). Silahkan lihat dan baca gambar di bawah. Memang agak mahal.

    Tapi namanya Ilmu Fikih tentu ada ruang khilafiyah. Silahkan lihat di FB Ustadz Nur Hasyim S Anam II yang membolehkan Talfiq menurut Madzhab Maliki, jika memang merasa berat dan sulit di masa penyebaran wabah ini. Misalnya sudah terlanjur transfer dll.(ustadz. Ma’ruf khozin)

  • Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU dan Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU dan Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Namanya adalah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo Jawa Timur, sosok ulama kharismatik yang menjadi saksi utama berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Kiai As’ad inilah yang diutus Syaikhona Kholil Bangkalan untuk menyampaikan isyarat kepada Hadratusysyaikh Kiai Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU. Isyarat itu berupa tasbih, tongkat dan ayat al-Quran.

    Karena kecintaannya sama NU, Kiai As’ad tak pernah surut sedikitpun dalam berjuang di NU. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo yang diasuhnya menjadi tonggak NU ketika merumuskan hubungan Islam dan Pancasila pada tahun 1983 dan 1984. Banyak sekali peristiwa penting yang terjadi di NU, Kiai As’ad selalu menjadi saksi hidup yang terus berjuang tanpa mengenal lelah sedikitpun.

    Kisah heroisme Kiai As’ad dalam perjuangannya di NU ditegaskan sangat gamblang dalam buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat” yang diterbitkan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Dalam buku itu, tepatnya di halaman 51, Kiai As’ad dikisahkan berikut ini:

    “Pada tahun 1971, Kiai As’ad menjadi juru kampanye partai NU di Alun-alun Situbondo. Beliau tak banyak bicara, hanya 15 menit.

    “Saya tak mungkin keluar dari NU dan akan tetap mencoblos NU. Mengapa? Karena saya pernah mimpi berjumpa Imam Syafi’i dan Imam Ghazali. Dalam mimpi tersebut, seolah-olah Imam Syafi’i menjadi syuriah NU, sedangkan tanfidziyah Imam Ghazali. Karena itu, kalau sampeyan mengikuti kedua imam tersebut, harus mencoblos NU!” kata Kiai As’ad berapi-api.

    Begitulah, mimpi Kiai As’ad tentang Imam Syafi’i Jadi Syuriah NU, Tanfidziyahnya Imam Ghazali

    Dalam buku itu, kisah lain tentang Kiai As’ad diceritakan Cholid Mawardi, salah satu mantan ketua umum GP Ansor. Cholid Mawardi pernah mendapatkan kisah langsung dari Kiai As’ad, bahwa kalau kampanye di Madura tidak perlu banyak bicara. Sambil menenteng pedang dan celurit, lalu berkata:

    “Kalau mau pilih NU berarti ikut saya. Yang tak ikut berarti menentang saya. Yang menentang saya, ayo berkelahi,” kata Kiai As’ad.

    Bagi Cholid Mawardi, apa yang disampaikan Kiai As’ad sekedar guyonan saja, karena sejatinya yang lebih penting adalah ketokohan dan kehebatan harus ditunjukkan ketika berhadapan dengan masyarakat, khususnya di Madura. Jangan hanya pandai bicara saja, karena masyarakat butuh bukti bukan janji. Pesan Kiai As’ad ini ditujukan kepada Ansor dan kaum muda NU agar mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk tampil sebagai pemimpin nasional dan mampu memimpin rakyat banyak.

    Dalam kisah lain lagi, Kiai Wahab Chasbullah pernah mengutus Kiai As’ad untuk sowan kepada Sunan Ampel, yakni menyampaikan surat Kiai Wahab kepada Sunan Ampel menjelang berdirinya NU. Surat itu diletakkan di atas makam Sunan Ampel. Tak lama kemudian, Kiai Wahab menegaskan bahwa Sunan Ampel telah merestui berdirinya jam’iyyah yang bernama NU.

    Dalam kisah lain juga, Kiai As’ad pernah bercerita bermimpi dengan Nabi Muhammad dan para Ulama besar.

    “Orang-orang yang hadir disuruh ikut Kiai Hasyim. Setelah itu, saya melihat Kiai Hasyim terbang memutari Ka’bah. Setelah mendapat 7 putaran, beliau turun duduk di atas maktab. Setelah itu, yang ada hanya saya dan Kiai Hasyim. Lalu beliau mengajak saya pergi, sampai di pintu Baitullah, mendadak pintu langit terbuka.”

    Begitulah sosok Kiai As’ad Syamsul Arifin. Semangatnya dalam berjuang di NU menjadi teladan bagi para kader NU saat ini untuk terus mengembangkan diri dan menguatkan perjuangan NU dalam rangka memberikan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

    *Saksikan juga video tentang NU dan KH Hasyim Asy’ari.

    (Abu Umar)

    Semoga kita smua istiqomah di NU Dan menghidupkan NU Aamiin

    Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad wa alaa aaliih wasohbihi wa sallim wabaarik Alaih….

    (red Abdul Hamid bin ichsan ilyas)