Tag: infokom banser

  • INFOKOM BANSER CERDAS DI IMAN CERDAS DI LAPANGAN TEGAP DI BARISAN TEGAP DI PERJUANGAN, PERSONIL INFOKOM BANSER HARUS BERKARAKTER l

    INFOKOM BANSER CERDAS DI IMAN CERDAS DI LAPANGAN TEGAP DI BARISAN TEGAP DI PERJUANGAN, PERSONIL INFOKOM BANSER HARUS BERKARAKTER l

    SORBANSANTRI.COMJatim, wp.sorbansantri.com – INFOKOM sebagai Alat struktural SATUAN BANSER mulai dari Jajaran SATKORNAS hingga SATKORCAB.

    Dalam juklaknya Infokom menugaskan Personilnya untuk Mampu mempunyai Kualifikasi yang kuat untuk menjalankan tugas pada Internal Satuan maupun TUGAS Internal Jamiyah NU- Banom.

    Yang mana sebagai Personil Infokom harus mempunyai SIKAP Aktif  Kreatif dan Responsif. begitu Vitalnya sebuah Informasi sebagai bahan Komunikasi, untuk memberi dan menunjang dari apa-apa yang sifatnya Pergerakan, Kemajuan dan Kendala. Untuk selanjutnya akan menjadi bahan yang harus disampaikan pada Arah dan Tujuannya.

    Sebagai Personil INFOKOM BANSER agar memenuhi KUALIFIKASI DISIPLIN dan DEDIKASI dalam Tugas dan Fungsi alat DAYA JUANG SATUAN maka, INFOKOM BANSER mengajarkan beberapa Point KARAKTER: 1. KARAKTER MENTAL 2 KARAKTER DEDIKASI 3 KARAKTER SIKAP.

    Untuk kedepannya berharap agar  Jajaran Infokom Banser mampu memberikan sumbangsihnya pada Satuan BANSER dan Jamiyah NU dengan mampu mengikuti perkembangan Peradaban yang terus Berubah dan Maju. (Infokom Jatim)

  • PENGURUS PC GP ANSOR KAB. MOJOKERTO BAHAS PROGRAM TAHUN 2020 DI GRAHA MWC. NU PACET

    PENGURUS PC GP ANSOR KAB. MOJOKERTO BAHAS PROGRAM TAHUN 2020 DI GRAHA MWC. NU PACET

    Acara yang dilaksanakan Ahad, 19 Januari 2020 di Graha MWC. NU Pacet Kab. Mojokerto, Pengurus PC GP Ansor Mojokerto mengadakan Pertemuan dengan jajaran pengurus PH dan Lembaga PC GP ANSOR, Kasatakorcab, Ketua dan Sekretaris PAC GP ANSOR, Ketua RA PAC,Kasatkoryon dan Setma Banser Se-Kab. Mojokerto.

    Acara yang dimulai pukul 17:00 WIB dan berakhir 01.00 WIB, membahas beberapa poin penting yang menentukan program dan langkah kedepan organisasi antara lain :

    1. Persiapan akhir dirosah kader ula
    2. Menyatukan komunikasi sesuai hasil pertemuan Infokom Banser
    3. Hasil PPK
    4. Persiapan Diklatsus
    5. Info pertemuan dengan PCNU
  • Pembukaan rutinan senin wage DZIKRUL GHOFILIN “mengingat disaat lupa” Wilayah Mojokerto

    Pembukaan rutinan senin wage DZIKRUL GHOFILIN “mengingat disaat lupa” Wilayah Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM
    Dari kiri Gus Feri, Gus Sabuth dan KH. Mubayyin syafi’i

    wp.sorbansantri.com – Senin 14 Desember 2020. Didalam melaksanakan amaliyah apalagi yang sudah menjadi rutinitas bagi jamaah warga Nahdliyin, merupakan tantangan tersendiri bagi Ansor Banser disaat masa pandemi covid-19 ini. Mulai dari penjagaan pengamanan dan mengatur jalannya acara harus disertai dengan protokol kesehatan mulai dari memakai masker dan jaga jarak.

    SORBANSANTRI.COM
    Satkoryon Banser Pacet dalam Pengawalan DZIKRUL GHOFILIN

    Pembukaan yang diadakan di PP Al Falah Pacet Mojokerto ini sekaligus pemantapan koordinator  kegiatan DZIKRUL GHOFILIN untuk wilayah Mojokerto. Pada giat kali ini undangan hanya dibatasi 100 orang dikarenakan wabah corona belum berakhir.(14/12).

    Gus Sabuth hadir pada pukul 19.00 Wib dengan Pengawalan banser satkoryon Pacet yang dalam giat pembukaan serta rutinan DZIKRUL GHOFILIN ini mengerahkan 20 personel banser dalam mengawal kegiatan tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Ketua PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO sahabat Mujiburrohman

    Ada tiga orang Kyai yang ikut merumuskan atau meramu bacaan dalam Dzikrul Ghafilin, yaitu KH. Abdul Hamid bin Abdullah (Pasuruan), KH. Achmad Siddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Miek, Kediri). Malah menurut Gus Miek ada tiga lagi tokoh yang memiliki andil dalam wirid Dizkrul Ghafilin yaitu Mbah Kiai Dalhar (Gunung Priung Muntilan magelang), Mbah Kiai Mundzir (Banjar Kidul Kediri) dan Mbah Kiai Hamid (Banjar Agung, Magelang).

    Harapan dan tujuan akan Diadakannya koordinator DZIKRUL GHOFILIN di Mojokerto adalah menjadi stimulun untuk selalu ingat dan dekat dengan Allah SWT, Yang Maha Kuasa. (abi SORBAN)

  • Akhir Cerita Si Imam Besar FPI

    Akhir Cerita Si Imam Besar FPI

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : Edi. P. Butarbutar

    wp.sorbansantri.com – Ternyata tiba juga saatnya Muhammad Rizieq Shihab (MRS) untuk bertekuk lutut, setelah selama ini dia dengan gagah nya mencaci maki Presiden, TNI, POLRI, ulama NU dan siapa saja tanpa ada rasa takut nya, seakan akan negara ini milik dia.

    Tapi apa sebenarnya yg membuat MRS merasa percaya diri….???.

    Sebenarnya MRS ini hanyalah sebuah wayang, ada dalang di belakang layar yg memainkan nya, dia merasa para dalang ini bisa mem backup nya, itu dibuktikan nya ketika dia kabur ke Arab Saudi, pada saat itu MRS status nya sudah tersangka, namun pihak kepolisian tidak mampu mengembalikan nya ke Indonesia.

    Para dalang inilah yg membiayai hidup MRS 3,5 tahun di Arab Saudi. Apa penting nya MRS ini bagi para dalang itu..???

    Hal ini sebenarnya erat kaitannya dengan pilpres 2024.

    Pada pilpres yang akan datang sudah pasti akan ada suksesi kepemimpinan, karena Jokowi tidak bisa maju lagi.

    Para dalang ini sedang mempersiapkan Anies maju sebagai capres dan Gatot Nurmantyo sebagai cawapres.

    Untuk mewujudkan itu mereka akan memainkan politik identitas, politisasi agama, disinilah peran MRS sangat dibutuhkan.

    Seperti kita ketahui peran MRS sangat dominan ketika memenangkan Anis jadi gubernur DKI jakarta.

    Siapa dalang di belakang layar itu….??? (imam turmudi)

     

  • BANSER TANAM POHON

    BANSER TANAM POHON

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, Cyber Aswaja.online Gerakan Pemuda Ansor Pimpinan Anak Cabang Gondang Mengikuti Agenda menanam sebanyak 200 pohon jenis beringin, Pinus dan Akasiya. Bersama Pemerintahan dan Karangtaruna Desa Ngembat, beserta Para Relawan Pecinta Alam. Mereka menempatkan pohon yang dibawah oleh Pemerintahan Desa Ngembat itu di Sepanjang Lereng Gunung Buthok Dusun Blentreng Desa Ngembat Kecamatan Gondang, Mojokerto, Ahad (8/12).

    SORBANSANTRI.COMPenanaman pohon dilakukan guna Menghijaukan kembali lahan kritis dan lahan bekas kebakaran hutan. Meminalisir terjadinya Longsor serta melakukan upaya aset Masyarakat untuk Generasi Penerus.
    Pengurus GP Ansor Kecamatan Gondang, Menugaskan Satuan Kordinasi Rayon Banser nya untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Bibit pohon yang dberikan Perangkat Desa dan Karangtaruna tersebut sebanyak 400 pohon, yang akan ditanam. “Diberikan 400 pohon bibit, namun yang ditanam 200 pohon, sisanya nanti setelah musim hujan 200 pohon tersebut akan kembali ditanam,” kata Satkorkel Banser sahabat Sanusi.

    Dipilihnya kegiatan tersebut, merupakan bentuk Salah satu Kecintaan Banser Terhadap alam semesta ini, kegiatan yang di mulai pukul 07:00-11:00 WIB, mendapatkan respon yang positif dan Harapan masyarakat semoga generasi Penerus bisa memelihara dan selalu menjaganya.

    (WakGenk/Infokom)

  • 7  Ucapan Sayyidina Ali Yang Sudah Terjadi  Sekarang

    7 Ucapan Sayyidina Ali Yang Sudah Terjadi Sekarang

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Sudah pernah dengar nama Ali Bin Abi Thalib? Beliau adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang sangat cerdas dan bahkan digelari babul ilmi (pintunya ilmu) oleh Nabi Muhammad. Oleh karena itulah setiap ucapan Ali bin Abi Thalib sellau menjadi bahan renungan bagi kita sekalian.
    Berikut ini beberapa prediksi yang pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya sudah menjadi kenyataan saat ini. Beliau pernah berucap, “Akan datang suatu zaman dimana aku sangat khawatir dizaman itu, yakni”
    1. Banyak orang baik tapi tak berakal
    2. Banyak orang fasih berbicara tapi perbuatannya lalai.
    3. Ada pelacur menjadi publik figur
    4. Ada ulama tapi tak memberikan tauladan yang baik.
    5. Banyak orang bodoh malah tidak tau diri
    6. Ada orang tertawa tapi hatinya berkarat.
    7. Dan keimanan nya hanya ada dalam pikiran, bukan dalam sanubari.
    Sumber: Prof. Ali Muhammad, Biografi Ali bin Abi Thalib,Pustaka Al-Kautsat, 2011.
  • KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    Mojokerto.Cyberaswaja.online – Pertarungan pilihan Bupati dan wakil bupati serentak di Indonesia sebentar lagi berlangsung. Memasuki Memasuki tahun politik 2020, memberikan sikap dan arahan tegas Ketua Ansor Cabang kepada Kadernya yang tersebar di wilayah kabupaten Mojokerto. Bertepatan pelaksanaan DTD (Diklat Terpadu Dasar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dihadiri Tokoh Undangan, KH. Adzim Alwy (Ketua PC NU Kab.Mojokerto), KH.Manshur (Ketua MWC NU Jatirejo), Muspika Jatirejo, Bapak Kepala Desa Sumberagung, serta Banom NU Se Kec.Jatirejo. Dengan seksama mengikuti Pembukaan Acara terebut. 20/12/19.
    SORBANSANTRI.COM
    Doc.Ketua PC GP Ansor Pimpin Apel
    Pada sambutan sekaligus Pembukaan DTD Banser Di Kecamatan Jatirejo, Panglima Tertinggi Banser Kab.Mojokerto tersebut, menyampaikan dihadapan Puluhan Kader Kader Militan GP Ansor, BANSER, Tamu Undangan VIP serta tokoh tokoh NU, Toko Masyatakat beserta Banom Banom NU yang respon dengan tepuk tangan begitu meriah. “Salam Satu Komando Sahabatku, Pengkaderan di Ansor Banser terus menerus dilakukan, Hal ini adalah salah satunya membentengi NKRI, khususnya berkaitan menjelang tahun Politik 2020, Kader Ansor Jangan Pilih Pasangan Yang di Usung dari Partai PKS. Mereka secara ideologi berbeda dan berlawanan dengan Kita Ansor dan Nahdlatul Ulama (NU), oleh karena itu sikap harus tegas, membentengi NKRI dan NU, manut Kyai ne NU, bila perlu tahun politik 2020 kita Tengelamkan PKS. Apakah Sahabat2 siap…!! (Siap!!!/jawab PesertaApel) Salam Satu Komando”. Tegas Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto, Gus Moh. Ali Nasikh.
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: tiga dari kiri jas hijau ketua PC NU
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. Tamu Undangan VIP
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. DTD Banser Kec.Jatirejo
    SORBANSANTRI.COM
  • Cucu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani bangga jadi banser

    Cucu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani bangga jadi banser

    Infokom Ansor Banser NU- Maulana Syekh Sayyid Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani – ( Cucu ke-25 Shulthonul ‘Auliya Syaikh Abdul Qodir Al Jailani)

    “Saya sangat bangga memakai Baju ini, Semoga Baju ini Menjadi Baju Ahli Surga”_

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=xRJpYONQvOw[/embedyt]

    Detik2 KH Achmad Chalwani Pengasuh Pondok Pensantren An Nawawi Berjan Purworejo Jawa Tengah memakaikan jaket Banser kepada Maulana Syekh Sayyid Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al -Jailani.

    #GMNU_CyberTeam
    #Banser_NUsantara

  • PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    Pertempuran Pacet Pebruari 1949 Sedahsyat pertempuran Surabaya

    Ketika berburu buku di Kios buku Velodrom Malang, sebuah sebuah buku yang lama aku cari. SAM KARYA BHIRAWA ANORAGA, buku yang menceritakan tentang perjuangan tentara dari Kodam Brawijaya. Terdapat satu paragraf menarik dalam buku tersebut, yaitu paragraf yang membenarkan keyakinanku tentang perang di Mojokerto. Keyakinan itu yang dulu mendorong lahirnya buku GARIS DEPAN PERTEMPURAN

    Memang hanya satu paragraf tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai dasar pengakuan bahwa Mojokerto benar-benar sebuah garis depan perjuangan kemerdekaan. Sebuah peristiwa besar yang tidak banyak ditulis dalam sejarah kita. Bagaimana mungkin, peristiwa yang menelan korban lebih kurang 1000 orang prajurit luput dari catatan ?

    Pertempuran Pacet yang berlangsung dari Januari hingga pebruari 1949 telah memusnahkan 1/3 dari kekuatan pasukan Komando Hayam Wuruk. Sebuah pasukan komando yang dibentuk dari gabungan batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto. Pasukan gabungan itu dikenal dengan nama pasukan MBT, sesuai dengan singkatan nama para komandan batalyonnya. Perintah buat pasukan komando itu adalah menyerang Surabaya dari arah selatan atau dari sidoarjo.

    Pada awal pertempuran, mereka berhasil menguasai daerah Pacet, Mojosari, Ngoro dan Trawas. Dari sana mereka menjadikannya sebagai basis teretorial untuk masuk ke Surabaya. Upaya masuk lewat jembatan Ngoro, Tanjangrono dan Porong tidak berhasil karena dijaga ketat oleh musuh. Sementara. Menyeberang langsung lewat sungai porong nyaris tidak mungkin karena airnya sedang besar besarnya di musim hujan kala itu.

    Kekuatan pasukan MBT kian bertambah ketika ada beberapa kesatuan pejuang masuk ke wilayah Mojosari selatan. Mayor Moenasir datang dengan separuh anggota batalyonnya setelah gagal merebut Brangkal. Sebagian anggota batalyon Moenasir yang dikenal dengan sebutan Batalyon Tjondromowo itu masuk ke utara sungai membantu Mayor Djarot yang berusaha masuk ke Surabaya juga. Ikut bergabung juga Kapten Soemadi dengan anggota kompinya yang dinamakan kompi Macan Putih. Kompi tempur atau Stot-trop iki masuk ke Pacet usai meloloskan diri dari kepungan musuh di Mendalan Kediri.

    Pada pertengahan bulan pebruari, konsolidasi musuh sudah selesai. Kekuatan pasukan belanda disiapkan secara matang berikut senjata beratnya. Pertempuran besar kembali terjadi di Dlanggu dan para pejuang terjepit. Belanda juga membuat siasat perisai hidup dengan menggiring penduduk di depan pasukannya. Dari belakang muntahan peluru dari tank dan meriam terarah pada posisi tentara republik.

    Pertarungan berlangsung sengit mulai pagi hingga malam. Dan kegelapan malam yang menyelamatkan pasukan komando hayam wuruk itu. Mereka mampu lolos dari kepungan, namun sebagian anggotanya tidak bisa kembali ke induk pasukannya, entah meninggal atau hilang. Sebagian dari yang meninggal adalah prajurit yang pernah dilatih dalam kamp pelatihan Hizbullah di Cibarusa. Kapten Mat Yatim, komandan kompi batalyon Mansyur Solikhi dan Madjid Asmara, kepala staf batalyon gugur pada pertempuran di Ngembeh Dlanggu. Batalyon Mansyur yang terkenal keberaniannya dalam pertempuran kehilangan hampir separuh anggotanya. Kesatuan yang merupakan peleburan dari resimen Hizbullah karesidenan Surabaya itu tetap berdiri hingga penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949.

    Sebagian pejuang berhasil lolos dari pertempuran itu namun jauh lebih banyak lagi yang gugur atau hilang tak kembali ke induk pasukannya. Kyai Achyat Chalimy menyebut besarnya korban di Batalyon Moenasir dengan julukan “Batalyon Ilang”, batalyon yang musnah. Ya, dalam konsolidasi di Cukir Jombang, Moenasir menghitung anggota pasukannya hanya sebagian kecil yang bisa dikumpulkan kembali, sebagian lainnya tidak hadir di tempat yang disepakati sebagai titik kumpul. Karena kehilangan anggota itulah Abah Yat menyebutnya Batalyon Ilang. Maka untuk mencukupi jumlah personil satu batalyon, Mayor Moenasir merekrut anggota baru dari pesantren di sekitar Cukir. Dengan memobilisasi santri itulah Batalyon Moenasir selamat dari likwidasi atau pembubaran. Batalyon ini baru membubarkan diri setelah kemerdekaan berhasil dicapai.

    Bagaimana dengan korban dari pihak lawan?. Menurut penuturan Pak Yazid Qohar (alm) yang menerima cerita dari Abah Yat, pada hari selesainya pertempuran besar itu truk-truk Belanda datang mengevakuasi korban baik yang meninggal maupun terluka. Korban itu kemudian dibawa ke Surabaya. Tidak diketahui berapa jumlah korban tersebut. Sedangkan korban dari rakyat dan pejuang dibiarkan bergeletakan di tempat.

    Sayangnya, pertempuran besar itu tidak ditandai dengan monumen yang layak. Monumen yang patut dijadikan pengingat bahwa ribuan nyawa telah melayang di sana demi mempertahankan kata KEMERDEKAAN.

    Sudowangun, 24 Nopember 2014

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 2)

    Baca bagian ke-1

    H. Qodri, memanggil kedua keponakannya – Aslan dan adiknya, bernama Ahyat yang mulai menginjak masa remaja. Ia bercerita kepada kedua keponakannya, ; “ Ayahmu adalah keturunan dari Mbah Rofi’i yang berasal dari Giri, Gresik, sedang Ibumu adalah keturunan dari Mbah Rowiyo, yang berasal dari Ampel, Surabaya.”1) Katanya, memulai paparan ceritanya. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo adalah Pahlawan Islam, karena beliau itu adalah anggota pasukan Tumenggung Kertosono, yang merupakan salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro, dari Mataram, Jawa Tengah. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo dibawah pimpinan Tumenggung Kertosono, berangkat ke Jawa Tengah, berperang melawan Kompeni Belanda, bersama Pangeran Diponegoro.

    Karena kelicikan dan tipu muslihat Kompeni Belanda, P. Diponegoro akhirnya ditangkap kompeni Belanda. Pasukan Diponegoro kocar-kacir. Mbah Rowiyo dan Mbah Rofi’i berniat kembali pulang ke Giri dan Ampel. Karena sulitnya menempuh perjalanan pulang, keduanya nekad mengikuti aliran sungai Brantas. Mulai dari Kertosono, kedua beliau terapung-apung beberapa hari, keduanya akhirnya bertekad, dimanapun keduanya terdampar, maka disitulah mereka akan bertempat tinggal. Berkat pertolongan Alloh SWT. Keduanya terdampar di Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Akhirnya kedua beliau menetap di Gedeg, tepatnya di desa Gedek. Sekarang, selain makam Mbah Rowiyo, beberapa keturunannya masih bertempat tinggal di Desa Gedeg.

    K.H. Ahyat Halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd. Halim dari Gedeg. Ayahanda K.H. Ahyat Halimy, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak-kandungnya, K.H. Aslan, lahir pada tahun 1914. Kedua anak yatim ini kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakde-nya yang bernama H. Thohir. Ibunda K.H. Ahyat Halimy akhirnya wafat pada tahun 1938, ketika K.H. Ahyat memasuki usia 17 tahun. Pakde H. Thohir ini pula yang membawa dua Yatim bersama Ibunya, untuk bertempat tinggal di Desa Miji (Sekarang lokasi makam Alm. K.H. Ahyat Halimy).

    Masa kecil K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandung-nya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melan-jutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyaih K.H. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau K.H. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, K.H. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

    Selama belajar di Tebuireng, K.H. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela. K.H. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman seka-mar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “ Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat.”

    Pengakuan dan kesaksian serupa, juga diberikan oleh teman-teman satu angkatan, antara lain ; K.H. Abdullah Siddiq, dari Jember. K.H. Mansur Burhan dari Surabaya, dan K.H. Zainuri dari Qudus.

    Tahun 1938, K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandungnya, K.H. Aslan, kembali ke Mojokerto dan melakukan berbagai aktifitas. Sebagai pemuda, bersama dengan beberapa temannya, antara lain Sdr. M. Thoyib, M. Thohir, Sholeh Rus-man, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama K.H. Ahyat Halimy, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

    Seluruh aktivitas itu dikerjakan dengan tanpa meninggalkan aktivitas “ta’lim”, atau belajar, baik ke Tebuireng mau-pun ke K.H. Romly di Rejoso, Peterongan, Jombang. Akhirnya pada tahun 1940, K.H. Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri dari K.H. Moh Hisyam yang juga memangku Pondok Pesantren. Suami pertama Nyai Badriyah bernama Fauzan, beliau adalah kakak kelas K.H. Ahyat Halimy, waktu belajar di Tebuireng. Perceraian antara Nyai Badriyah dengan P. Fauzan ini berlangsung baik-baik, semata-mata karena sudah bukan jodohnya lagi. Buktinya, ketika Nyai Badriyah ini dipersunting oleh K.H. Ahyat Halimy, P. Fauzan sempat menitipkan Nyai Badriyah kepada K.H. Ahyat Halimy secara langsung. P. Fauzan berpesan agar Nyai Badriyah dijaga dengan baik.

    Aktivitas K.H. Ahyat yang luar biasa banyak ini, tentu saja mengurangi waktu untuk urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangganya dari segi finansial sangat buruk. Untung istrinya masih sangat setia menemani. “ Setelah pulang dari pengungsian pada Tahun 1946 – 1949, yaitu mulai permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya” tulis K.H. Ahyat Halimy, dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya sudah lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap, karena angin dingin menerobos celah-celah dinding yang sudah lapuk”.

    Pada masa sulit ini, K.H. Ahyat Halimy sempat terpilih menjadi anggota Konstituante (Semacam MPR) di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. K.H. Ahyat Halimy mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan makom atau bidang keahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kehidupan rumah tangganya, K.H. Ahyat Halimy memilih mengundurkan diri dari anggota Konstituante hanya karena merasa bukan bidang keahliannya, pada hal menjadi anggota Konstituante (MPR) berarti “pekerjaan” yang lumayan juga ?.

    Keadaan sulit ini, mengingatkan K.H. Ahyat Halimy pada “dawuh” K.H. Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur ;” Sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, Insya Alloh oleh barokahe Walisongo” (Barang siapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, Insya Alloh akan men-dapat barokah dari Walisongo). K.H. Ahyat Halimy pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang milik istrinya. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.

    Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), K.H. Ahyat Halimy mendapat isyarah, bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab (tempat Imam Sholat). Isyarah yang sama juga di dapat oleh K.H. Ahyat Halimy, ketika berholwat di makam Batuampar, Madura. K.H. Ahyat Halimy bermimpi ketemu Rosulloh SAW, yang juga menyatakan bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab. Isarah-isarah itu kemudian digabungkan oleh beliau, dengan berpedoman pada perilaku Hadratus syaih K.H. Hasyim Asy’ari, yang pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani, oleh Hadrotussyaih bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya Hadrotus syaih berkata “ Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh”. ( Bersama saya, mengabdi kepada Ilmu, maka apapun akan terpenuhi ).

    Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, maka sejak tanggal 25 Januari 1956, K.H. Ahyat Halimy mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang dengan mengatakan “ Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi !”. Sejak itu sampai dengan sekarang, kuliah subuh itu terus diselenggarakan secara istiqomah, kecuali hari raya Idul Fitri, di tempat yang sama, yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi Masjid dan Komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.


    1). Beberapa Ulama sepuh, terutama ulama dari Pasuruan dan Jember, mengatakan bahwa Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo, bukan saja dari Ampel dan Giri, tetapi kedua beliau adalah juga kerabat dari Sunan Giri dan Sunan Ampel. Namun K.H. Ahyat Halimy, setiap kali bercerita hanya mengatakan Mbah Rowiyo dari Giri, dan Mbah Rofi’i dari Ampel.

    SORBANSANTRI.COM