Tag: jawa barat

  • Putri Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Lepas Hijab: Kontroversi dan Pesan Kemanusiaan dari Buku “Sapiens”

    Putri Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Lepas Hijab: Kontroversi dan Pesan Kemanusiaan dari Buku “Sapiens”

    wp.sorbansantri.com- Kabar mengenai putri dari mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang memutuskan untuk melepas hijabnya telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Keputusan ini memicu beragam reaksi dan perdebatan terkait dengan isu agama, identitas, serta kebebasan berpakaian. Namun, di balik kontroversi ini, ada pesan kemanusiaan yang muncul dari sebuah buku yang disebut-sebut memengaruhi keputusan tersebut, yaitu “Sapiens” karya penulis asal Israel, Yuval Noah Harari.

    Keputusan tersebut diumumkan oleh Zara melalui pesan panjang di akun Instagram pribadinya pada tanggal 5 April 20241. Dalam pesannya, Zara menyebut bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan yang mendalam1.
    Setelah pengumuman tersebut, netizen mulai menyoroti buku bacaan Zara. Salah satu buku yang menjadi sorotan adalah “Sapiens and Homo Deus” karya Yuval Noah Harari1. Harari, penulis buku tersebut, dikenal sebagai pendukung zionis1.

  • JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    InfokomBanserNU- Dibanding dengan jaringan ulama dan pesantren Jawa, pengetahuan kita mengenai jaringan ulama dan pesantren Sunda amat sangat sedikit. Hanya para peneliti tertentu saja yang mengetahuinya. Masyarakat umum, apalagi di luar Sunda, hampir tidak mengenalnya secara baik dan benar.

    Beberapa hari kemarin saya dan sejumlah dosen UNUSIA Jakarta berkesempatan mengunjungi makam para ulama Sunda dan pesantrennya. Kami memulai perjalanan dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, dan berakhir di Ciamis. Banyak hal yang kami dapatkan, bahkan sebagiannya terdengar mengejutkan.

    Misalnya soal peranan KH Abdullah bin Nuh yang seringkali diklaim oleh HTI sebagai ulama yang mendukung khilafah. Setelah membaca tulisan beliau sendiri yang kami dapatkan di pesantren Al-Ghozali, Bogor, klaim tersebut ternyata menipu. Secara jelas dan tegas beliau menyatakan Pancasila adalah “jalan tengah” bagi Indonesia.

    Sementar itu, di Cianjur kami menziarahi makam KH Ahmad Syathibi yang lebih dikenal sebagai Mama Gentur. Meskipun setiap haulnya diziarahi ribuan orang, banyak orang, apalagi generasi milenial, tidak lagi mengenalnya. Padalah beliau adalah salah satu simpul utama ulama Sunda pada awal abad ke-20. Pandangan keagamaannya yang khas masih tercermin dalam aturan di sekitar pemakamannya hingga sekarang. Para peziarah tidak boleh membawa hape melewati gerbang yang gambarnya bisa dilihat di bawah.

    Memahami konstelasi keagamaan di Jawa Barat, khususnya Priangan, hari ini tidak bisa dilakukan tanpa memahami jaringan ulama dan pesantrennya. Sayang banyak hal belum tergali. Keberadaan pesantren Fauzan di Garut, misalnya, jarang diekspos oleh media. Kajian-kajian akademis juga melupakannya. Padahal kita tidak akan mengerti mengapa terjadi ketegangan di Garut ketika terjadi pembakaran bendera HTI dua tahun lalu jika tidak tahu bagaimana peranan penting pesantren Fauzan di sana. Dalam amatan saya, tidak ada pesantren yang lebih gagah berani membela NU di Priangan melebihi pesantren Fauzan.

    Masih banyak hal lain yang sesungguhnya ingin saya ceritakan. Di Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, kami juga mendengarkan informasi menarik. Dalam pengakuan pengasuhnya, karena dulu almarhum KH Choer Affandi sebagai pendiri pernah bergabung dengan DI (Darul Islam), maka sekarang terdapat stigma terhadap mereka. Seolah-olah Miftahul Huda anti-NU, padahal, menurut KH Abdul Aziz Affandi, pengasuhnya sekarang, “kami ini Nahdliyyin!”

    Insya Allah saya dan teman-teman UNUSIA akan menuliskan cerita perjalanan yang sebenarnya terlalu singkat itu. Termasuk dalam hal ini temuan-temuan mengenai kesalahpahaman terhadap “Islam Nusantara” di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Semoga ini bisa menambah pengetahuan, meski sedikit, tentang jaringan ulama dan pesantren Sunda yang terlupakan.

    Amin Mudzakkir

    (Ansor Kebunjeruk)