Tag: jihad

  • TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Scudeto ke-19 akhirnya direngkuh oleh AC. Milan. Tim yang lahir pada 1899 M –sama dengan kelahiran pondok pesantren Tebuireng, Jombang– memastikan juara liga italia pada pekan terakhir Serie A (22 Mei 2022) dengan mengalahkan Sossuolo 3 – 0. Status Juara yang di dapat secara dramatis setelah 11 tahun Rossoneri puasa gelar. Terakhir, tim ini juara pada 2011 saat masih dilatih oleh Maximiliano Allegri, pelatih Juventus saat ini.

    Kesuksesan tim berjuluk il Diavolo Rosso ini tidaklah datang dengan tiba-tiba. Momentum kebangkitan justru  terjadi saat tim ini berada pada titik nadir dalam sejarah klub. Pada awal musim 2018-2019 Tim ini mengalami krisis Finansial  akut, Li Yonghong, investor Cina pemilik klub kala itu, tak bisa menebus cicilan pertamanya sebesar 32 juta euro kepada Elliot Management (EM).Total utangnya mencapai 303 juta euro untuk tambahan modal membeli klub dari tangan Silvio Berlusconi. Total duit yang dikeluarkan oleh Li untuk menebus AC Milan adalah 740 juta euro, termasuk buat menghapus utang sebesar 220 juta euro. Pada Juli 2018, AC. Milan berpindah tangan secara resmi dari Li Yonghong pada Elliot Management.

  • GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak menggelar Kelas Media dan Pelatihan Jurnalistik Dasar pada Rabu (26/1/2022) malam.
    Kegiatan yang digelar di lantai dua Gedung MWC NU Kecamatan Karangawen ini diikuti sejumlah 40 orang yang merupakan utusan dari tiap ranting atau kelurahan di kecamatan tersebut.
    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen, Fahri Lathif mengatakan, kelas ini bertujuan memperlebar sayap perjuangan sampai ke dunia maya.
    Kegiatan ini juga merupakan program kerja yang telah direncanakan oleh Bidang Informasi, Komunikasi dan Kajian Strategis dari PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen Demak.
    “Peserta kita bekali tentang pengetahuan jurnalistik dasar dan pengelolaan media sosial yang baik dan benar,” kata Fahri.
  • DOKTRIN EKSTRIMIS RADIKALIS TERORIS MENGHANCURKAN ORANG BODOH DAN MELUMPUHKAN ORANG JENIUS

    DOKTRIN EKSTRIMIS RADIKALIS TERORIS MENGHANCURKAN ORANG BODOH DAN MELUMPUHKAN ORANG JENIUS

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Untuk menjadi ekstrimis radikalis teroris tidak butuh orang orang pinter, hanya berbekal dengan semangat takbir dan semangat jihad serta mengepalkan tangan dengan emosi hujatan kebencian dengan membangun klimaks tempramental serta memusuhi orang Yang tidak sepandangan.serta semangat mengkafirkan semua orang.

    Ruang dan potensi para selebritis yang baru hijrah ditahbiskan menjadi ustadz ustadzah tanpa dasar dengan menugasi mengendorsmen produk produk di setigmakan islami dan syar,i dengan sejumlah iklan iklan uang menampakkan dengan balutan ayat dan hadist Nabi Yang dianggap penguat manfaat dan produk tersebut semisal madu kurma habbatussauda dan lain untuk masalah brand pakaian harus memakai katanya ala Nabi,semisal celana cingkrang gamis dll. Padahal tidak semua di Amini Nabi.
    Sedangkan orang orang bodoh yang tak tahu apa apa di manfaatkan sebagai aneksasi agen agen keras pengebombaman dan hujatan serta pembidahan danitu sangat efektif. Karna otaknnya sudah dicuci mereka yang belum paham Agama ditiupkan ditelinganya dengan tidak akan masuk surga tanpa perang melawan orang kafir dengan kebiadapan jargon. Hidup hanya sekali harus berjuang perang yakin melawan kedhaliman bahkan bila perlu syahid bunuh diri.
    Untuk orang orang pinter dilumpuhkan otaknya dengan cara meyakinkan dengan menjadikanya sebagai ketua dan pemimpin lasykar untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kejumudan. Kebodohan Yang di maksud adalah tali rantai nasionalisme negara dan bangsa menuju negara islam kaffah dan khilafah.
    Selain itu orang orang pinter baik dari Akademisi praktisi yang cerdas menjadi tumpul karena derasnya doktrinasi dengan iming-iming kenikmatan sek dan poligami yang dikemas Islami. Bukan hanya itu mereka diajak makar mengkritik dan menyerang pemerintah membabi buta dengan alasa kafir thaghut dan dzolim serta memunculkan distrust terhadap Pancasila lalu membuat provokasi dimana-mana terutama di dunia maya.
    Untuk anak kecil mulai paud TK akan di ajari mars dan nyayi dan semangat jihad dan mengibarkan bendera bendera dari negara timur tengah Yang digambarkan masih kemelut dan belum damai bunga benci pada negara dan bangsa sendiri.
    Fenomena fenomena diatas sepertinya tidak kentara dan terlihat jelas namun konsep pembalutan agama dan pengutamaan simbol dan lambang itu nantinya yang akan menjadikan Islam dhahiran sebagaimana Agama formalitas tanpa substansi yang jelas, yakni toleransi kasihnya sayang dan menghargai sesama akan hilang dan munculan intoleran lalu meletupkan gejala radikalitas.
    Yang paling mengerikan ketika hasil doktrinasi itu telah mengerak membuncah pada hati dan pikiran orang bodoh dan orang pinter serta anak anak kecil Yang polos tanpa siraman rohani dari guru dan masyayih. Maka mereka akan menjadi monster monster pembunuh mengatas-namakan jihad dan surga dan memusuhi orang tuanya yang tidak sama dengan pikirannya. (abdulloh faizin)
  • 5 Orang Menjadi Korban, Ledakan Bom Bunuh Diri Terjadi di 2021

    5 Orang Menjadi Korban, Ledakan Bom Bunuh Diri Terjadi di 2021

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Sebuah ledakan terjadi di depan Gereja Katedral Makassar. Ada korban akibat kejadian ini.

    Tampak kobaran api akibat ledakan masih menyala di sekitar lokasi. Selain itu, tampak potongan tubuh manusia di sekitar lokasi kejadian.

    Saat ledakan terjadi, sejumlah jemaat gereja tengah beribadah di lokasi. Selain potongan tubuh manusia, di lokasi kejadian saat ini tampak sejumlah korban luka dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit.

    Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menilai jelang pilpres 2024 eskalasi teror akan semakin tinggi.

    Menurut Ken, radikalis juga marah karena saat ini sumber dana mereka dibekukan oleh PPATK sehingga pergerakan mereka sedikit terbatasi.

    Tapi hal ini tidak menyurutkan langkah mereka untuk mencari dana, sekarang mereka aktif menyebarkan penggalangan bantuan lewat media sosial sepeeti whatsapp, facebook, instagram, twitter dll.

    Biasanya lewat group group mereka langsung chat pribadi dan menawarkan proposal dan profil organisasi mereka.

    Mereka juga berani pasang iklan jor joran di media sosial untuk penggalangan dana sosial untuk kepentingan kelompok mereka walaupun dengan dalih pembangunan dan sumbagan tempat ibadah di nasional dan negara di timur tengah, bahkan mereka siap jemput bola ke rempat para donatur.

    Ken berharap msyarakat lebih baik langsung menyerahkan bantuan kepada yang berhak dan membutuhkan agar dapat meminimalisir bantuan kepada kelompok radikal, jangan sampai kita malah ikut membantu jaringan radikal menjadi besar.

    Sumber

  • Soal Ekstremisme dan Salah Paham Memaknai Jihad

    Soal Ekstremisme dan Salah Paham Memaknai Jihad

    InfokomBanserNU-Bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara.Kejahatan bom bunuh diri yang terjadi di Markas Polres Kota Besar (Mapolrestabes) Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 13 November 2019 yang lalu sekitar pukul 08.45 WIB kembali menghentak pandangan mata bangsa Indonesia. Tragedi tersebut menambah daftar panjang kasus terorisme di Indonesia. Kriminal yang dilakukan oleh kelompok ekstremis ini tidak terlepas dari pola pemahaman keagamaan dan ideologi ekstrem dalam memandang nash (Al-Qur’an dan Hadits) secara tekstual sehingga mereka mau meledakkan dirinya sendiri dan melukai serta membunuh orang lain demi jaminan surga dan bidadari menurut doktrin yang berkembang di kalangan jihadis-ekstrem tersebut. Disebut jihadis-ekstrem karena dengan doktrin jihadnya yang keliru, mereka rela menjadi ‘pengantin’ bom bunuh secara ekstrem sehingga biasa disebut para ekstremis.

    Ideologi mereka hanya satu: kekerasan. Karena tidak ada agama di dalam kekerasan sehingga agama yang mereka pahami hanya dijadikan alat legitimasi guna mengembangkan dan menarik pengikut untuk melakukan kejahatan serupa dengan dalih ketidakadilan, dan lain-lain. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran (1996) menyatakan bahwa kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti letih/sukar. Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Namun demikian Quraish Shihab menegaskan bahwa jihad yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan tidak dibenarkan. Fitrah kemanusiaan di antaranya menjaga hak hidup seluruh manusia sehingga melakukan kekerasan, apalagi mengebom dirinya sendiri dengan melukai orang lain atas nama agama jelas jihad yang tidak bisa dibenarkan dalam ajaran agama mana pun.

    Kesalahpahaman tentang makna jihad itu diperparah juga melalui sekian banyak kitab, bahkan melalui terjemahan beberapa ayat Al-Qur’an. Misalnya kata qitâl tidak jarang mereka pahami dalam arti pembunuhan, padahal kata itu bermakna peperangan/kutukan, sikap tegas yang tidak selalu mengakibatkan pembunuhan. Kata anfusikum diartikan sebagai jiwa/nyawa, padahal ia berarti seluruh totalitas manusia dan kemanusiaan, yakni nyawa, atau fisik, ilmu, tenaga, pikiran, bahkan waktu karena semua hal itu tidak dapat dipisahkan dari totalitas manusia. Menurut Quraish Shihab dalam Pemaknaan Makna Jihad (2015) menjelaskan, para ekstremis dan radikalis memahami iman sebagai pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. disertai dengan pengamalannya sehingga menurut mereka seseorang tidaklah dinilai beriman apabila tidak melaksanakan ajaran Islam secara baik dan benar. Mereka menilai bahwa kemusyrikan bukan sekadar keyakinan tentang berbilangnya Tuhan, tetapi juga yang mengakui keesaan-Nya tanpa mengamalkan syariat adalah seorang yang boleh dibunuh. Mereka mengumandangkan bahwa La hukma illâ lillâh.

    Semua pemerintahan yang tidak menetapkan hukum berdasar ketentuan Allah adalah Thagût (melampaui batas ajaran Islam) dan dinilai kafir, lagi harus diperangi. Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Pemerintahannya pun mereka nilai Thagût/Tirani dan kafir. Mereka merujuk pada firman Allah: “Siapa yang tidak menetapkan sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” (QS. al-Mâ’idah [5]: 44). Kekeliruan mereka menurut para pakar di bidang Al-Qur’an dan Hadits adalah memahami kata kafir dalam arti sempit, padahal Al-Qur’an menggunakan kata itu untuk berbagai makna, seperti “tidak bersyukur” (QS. Ibrâhîm [14]: 7) atau “berpecah belah” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 106). Makna kekufuran memang beraneka ragam dan bertingkat-tingkat sehingga pada akhirnya kekufuran dapat disimpulkan dalam arti melakukan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan tujuan. Puncaknya adalah mengingkari wujud atau Keesaan Allah, dan inilah yang menjadikan seseorang dinilai keluar dari agama, itu pun tidak serta merta harus dibunuh.

    Melihat fenomena pemahaman makna jihad yang salah kaprah, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan perlunya memahami jihad secara kontekstual, bukan tekstual. Pada hakikatnya perintah untuk berperang sebagai salah satu makna jihad di dalam ayat Al-Qur’an, tidaklah dibutuhkan oleh Allah dan tidak juga oleh Rasul-Nya Muhammad. Karena Allah telah membela dan mendukung umat Islam ketika ia sendiri atau pun berdua. Namun, jika manusia mengetahui betapa banyak sisi kebajikan yang disiapkan oleh Allah bagi mereka yang berjihad dan taat kepada Allah, tentu umat Islam akan melaksanakan perintah tersebut. Hal ini jika ditinjau dari berbagai aspek duniawi dan ukhrawi sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah atau indefinitif kata khoir atau kebajikan. Makna sebenar-benarnya jihad (haqqa jihadih) pada penjelasan di atas adalah bukan sekadar jihad.

    Seperti halnya ia diperintahkan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqa tuqatih). Meski demikian, tidak berarti setiap Muslim wajib dengan pengertian fardhu‘ain untuk berperang setiap saat. Pengertian haqqa jihadih sangat luas, antara lain menurut pakar Tafsir Muqatil, beramal dan beribadah dengan sungguh-sungguh semata-mata karena Allah, dan menurut Abdullah Ibn al-Mubarak, berjihad melawan hawa nafsu. Jihad berarti sebuah upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seorang Muslim dalam melawan kejahatan dan kebatilan. Mulai dari yang terdapat dalam jiwa akibat bisikan dan godaan setan, sampai pada upaya memberantas kejahatan dan kemungkaran dalam masyarakat.

    Upaya tersebut dapat dilakukan, antara lain,

    pertama, melalui kerja hati berupa kebulatan tekad dan niat untuk berdakwah.

    Kedua, kerja lisan berupa argumentasi dan penjelasan tentang hakikat kebenaran ajaran Islam.

    Ketiga, kerja akal berupa perencanaan yang matang, dan kerja badan yang berupa perang atau lainnya.

    Arena jihad sendiri dalam Al-Qur’an amat luas. Pertama, bil maal dengan harta kekayaan yakni zakat, infak, sedekah, wakaf, maupun berbagai pengeluaran di jalan Allah. Jihad harta termasuk dengan memberikan nafkah bagi keluarga, menolong saat bencana, jihad menuntut ilmu, dan lain-lain. Kedua, bi anfasikum yakni dengan kekuatan pada diri seperti jihad lisan (memberikan nasihat atau petunjuk), mengajar, membuat tulisan bermanfaat, dan memberikan contoh yang baik. Paling sulit berjihad dengan memberikan contoh baik kepada lingkungan karena kebesaran Islam kerap ditutupi kaum Muslim sendiri. Ada perkataan terkenal dari Muhammad Abduh yang menyatakan, “al-Islaam mahjuubun bil muslimiin” (kebesaran Islam tertutup perilaku kaum Muslimin). Perilaku kaum Muslimin yang dimaksud di sini ialah tindakan kekerasan atau tindakan tak terpuji yang kerap memunculkan stigma negatif bagi agama Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bisshawab

  • PENYUSUP ASWAJA NU BERHARAP DULANG SIMPATI WARGA NU

    PENYUSUP ASWAJA NU BERHARAP DULANG SIMPATI WARGA NU

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Logika 6 orang disebut syuhada itu hanya bisa masuk kedalam pikiran orang yang selama 6 tahun (2014-2020) menganggap ada presiden keturunan PKI, dzalim, anti Islam, anti ulama, mengkriminalisasi ulama.

    Logika yang mereka bangun (sebenarnya tidak pakai nalar sih) melawan Firaunnya Indonesia (Jokowi) itu adalah jihad. Karena dalam benak mereka Jokowi lebih lalim dari Firaun (tulisan Felix kan begitu).

     

    Dan orang-orang yang wafat ini jadi modal sosial untuk meningkatkan soliditas kelompok mereka. Mereka berhasil mengumpulkan sumbangan miliaran rupiah untuk 6 keluarga yang wafat.

     

    Masjid-masjid basis mereka juga memasang baliho, dengan narasi 6 syuhada. Wahabi Jawa yang melakukan wahabisasi melalui budaya Jawa (seperti di masjid Jogja itu) dengan peristiwa tol km 50 itu tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya.

     

    Kalau masjid secara kolektif menyebut 6 orang yang membantu kabur dari panggilan polisi disebut jihad, maka secara jelas dan terang mereka radikal dan secara diam-diam mendukung bentuk terorisme ekstrim. Coba cek pengurus masjidnya pernah gak mengecam aksi terorisme di tanah air? Saya pastikan tidak pernah.

     

    Melalui kontestasi perebutan jamaah dengan cara wahabisasi ala budaya Jawa (wayang, Walisongo, sejarah Indonesia) dan dakwah Habib muda dikalangan warga NU lalu setelah masanya banyak berteriak lantang mendukung perjuangan HR, yang jadi korban warga NU.

     

    Kultur Nahdliyin secara halus dihabisi Wahabi baik Wahabi konvensional ataupun Wahabi Jawa dan dihabisi perlahan oleh Habib-Habib muda, yang terakhir ini karena kesamaan akidah, madzhab fikih lebih mudah diterima, dan tanpa sadar tiba-tiba warga NU ini jadi pendukung model Islam seperti HR; anti pemerintah dengan modal slogan ” NKRI Bersyariah”, padahal agenda sebenarnya penguasaan politik negara.

     

    Wahabisasi ala Jawa itu misalnya ngotot ada keterlibatan janisari Turki Usmani dalam perang Jawa yang dikobarkan Pangeran diPonegoro.

     

    Dari dulu saya lebih muak pada Wahabi seperti ini daripada Wahabi konvensional, sebab Wahabi seperti ini banyak mendulang simpati warga NU. Dan perlahan warga ini masuk kedalam kolam mereka tanpa mereka sadari.

    Mereka itu parasit-parasit yang memperuncing perseteruan FP* versus NU. Dengan ngompori, dan memainkan media sedemikian rupa. Dan mereka juga yang menganggap mati dalam pembangkangan terhadap negara adalah mati syahid. Kan bahaya. (ahmad sauri)

     

     

  • Tambah dan Ganti Bunyi Adzan Hayya Ala Al-Jihad?

    Tambah dan Ganti Bunyi Adzan Hayya Ala Al-Jihad?

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Kalimat Azan sudah pakem diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Kalau pun ada Sahabat Bilal menambah Azan saat Subuh itupun karena Nabi masih hidup dan menyetujui.
    ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻲ اﻷﺫاﻥ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺧﻴﺮ اﻟﻌﻤﻞ
    Makruh mengucapkan dalam azan “Mari menuju pada amal terbaik”
    ﻗﺎﻝ اﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻟﻢ ﺗﺜﺒﺖ ﻫﺬﻩ اﻟﻠﻔﻈﺔ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻨﺤﻦ ﻧﻜﺮﻩ اﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻓﻲ اﻻﺫاﻥ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
    Al-Baihaqi berkata: “Tidak ada riwayat Sahih redaksi ini dari Nabi shalallahu alaihi wasallam. Kami tidak suka dengan tambahan dalam azan” (Al-Majmu’ 3/98)

    Di zaman Nabi sudah ada jihad, apa Nabi pernah memasukkan kata Jihad dalam Azan? Kalau mau Jihad mbok ya dibekali dengan ilmu dulu… (abi sorban).
    sumber KH. Mafruf Khozin
  • JIHAD NU ONLINE

    JIHAD NU ONLINE

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kita berharap kader NU menguasai medsos dan ilmu terkaitnya, untuk meluruskan hoax dan menebar fakta.

    Saat ini kita masih sangat minim kader yang punya pengetahuan luas tentang itu. Kita masih kalah dengan mereka kelompok Wahabi, Salafi, HTI, IM dan sejenisnya di bidang penguasaan IT, medsos dan informatika.

    Karena itu PBNU telah mengeluarkan seruan JIHAD NU ONLINE tuk melawan radikalisme di medsos.

    Sebagai warga NU kita wajib berperan serta berjuang di medsos sebagai salahsatu cara kita berkhidmat di NU. Kalau kita di dunia nyata tidak mampu berkhidmat di NU, maka cara lain berkhidmat di NU adalah berjuang di medsos (dunia maya).

    Tegakkan Islam, Aswaja dan kebenaran. Tegakkan adab dan akhlaq yang paling baik. Berantas segala hoax dan ujaran kebencian, dan kuasai IT, segala situs dan link di medsos.

    Gus Dur pernah berkata, “Akan saatnya kelak anak-anak muda NU akan berhasil menguasai segala bentuk medsos, teknologi dan informatika” (Grup Nahdlatul Ulama)