Tag: jombang

  • Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Berita Video

    Oleh: Aros

    wp.sorbansantri.com – KH. Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, tumbuh dan berkembang di masa kecilnya dengan berpindah-pindah antara Jombang dan Jakarta. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng. Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, yang berarti “Sang Penakluk.” Nama ini kemudian diganti menjadi “Wahid,” dan dia lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.

    Gus Dur lahir pada tanggal 4 Sya’ban tahun 1359 Hijriyah atau bertepatan dengan 7 September 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Orang tuanya adalah KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai anak yang aktif, bahkan hiperaktif, tidak bisa diam, dan sering kali bandel. Baik di Denanyar maupun Tebuireng, Gus Dur sering berbuat ulah, jail, dan merepotkan orang sekitarnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada tahun 1944, keluarga Gus Dur pindah ke Jakarta karena sang ayah diminta menjadi ketua pertama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, keluarga mereka kembali ke Jombang. Namun, pada tahun 1949, mereka kembali ke Jakarta karena KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama RI.

    Laman: 1 2 3 4

  • Belajar Beladiri, Benarkah Hanya untuk Gaya-gayaan dan Cari Musuh?

    Belajar Beladiri, Benarkah Hanya untuk Gaya-gayaan dan Cari Musuh?

    wp.sorbansantri.com – Media sosial tengah dihebohkan dengan sebuah video yang menunjukkan sekelompok pemotor yang tergabung dalam konvoi yang diduga adalah sekelompok orang dari sebuah perguruan pencak silat yang terlibat keributan dengan seorang driver ojek online dan juru parkir.

    Dilansir dari akun Instagram @ndorobei.official dijelaskan bahwa diduga kejadian tersebut terjadi di daerah Jombang dan terjadi pada Minggu, 7 Agustus 2022.

    Adapun kronologis kejadian disebutkan oleh saksi yang juga merupakan terduga korban yang berprofesi sebagai juru parkir, bahwa semula dirinya melihat ada segerombolan pemuda konvoi menyerempet seorang driver ojek online. Namun, saat si juru parkir hendak menolong malah dirinya dikeroyok oleh beberapa orang yang diduga dari salah satu perguruan pencak silat.
    [su_youtube url=”https://youtu.be/Y0B7AFI-wF4″]
    Simpang siur pemberitaan sempat beredar di media sosial yang menyatakan kejadian tersebut terjadi di Yogyakarta, dan telah diklarifikasi oleh Kasubbag Humas Polresta Jogja, bahwa itu adalah berita hoax dan kejadian sebenarnya yaitu di Jombang, Jawa Timur.

    Menurut informasi yang beredar terhadap adanya kejadian tersebut para pelaku telah diamankan oleh pihak Polres Jombang, dan telah diproses sebagaimana hukum yang berlaku.

  • TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Scudeto ke-19 akhirnya direngkuh oleh AC. Milan. Tim yang lahir pada 1899 M –sama dengan kelahiran pondok pesantren Tebuireng, Jombang– memastikan juara liga italia pada pekan terakhir Serie A (22 Mei 2022) dengan mengalahkan Sossuolo 3 – 0. Status Juara yang di dapat secara dramatis setelah 11 tahun Rossoneri puasa gelar. Terakhir, tim ini juara pada 2011 saat masih dilatih oleh Maximiliano Allegri, pelatih Juventus saat ini.

    Kesuksesan tim berjuluk il Diavolo Rosso ini tidaklah datang dengan tiba-tiba. Momentum kebangkitan justru  terjadi saat tim ini berada pada titik nadir dalam sejarah klub. Pada awal musim 2018-2019 Tim ini mengalami krisis Finansial  akut, Li Yonghong, investor Cina pemilik klub kala itu, tak bisa menebus cicilan pertamanya sebesar 32 juta euro kepada Elliot Management (EM).Total utangnya mencapai 303 juta euro untuk tambahan modal membeli klub dari tangan Silvio Berlusconi. Total duit yang dikeluarkan oleh Li untuk menebus AC Milan adalah 740 juta euro, termasuk buat menghapus utang sebesar 220 juta euro. Pada Juli 2018, AC. Milan berpindah tangan secara resmi dari Li Yonghong pada Elliot Management.

  • Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam  para muassis

    Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam para muassis

     

     

    SATKORYON BANSER kecamatan ngoro Kabupaten mojokerto jawa timur melaksanakan wisata religi ke makam para aulia’ yang berada di jombang, Kediri dan tulungagung yang di laksanakan pada hari sabtu (29/01/2022) malam pemberangkatan dari gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro yang di ikuti oleh para anggota PAC GP ANSOR, BANSER , dan juga RIJALUL ANSOR.

     

    Kegiatan wisata religi ini adalah ziarah ke makam Mbah hasym (KH. HASYM ASYARI) pendiri Nahdlatul Ulama, makam Gus Dur (KH. ABDUL RAHMAN WAHID) Jombang, Gus Mik Kediri, dan mantan komandan SATKORNAS BANSER, H. Alfa Isnaini, Tujuan diadakannya kegiatan ini selain untuk menjalin silaturrahmi juga untuk mengenang dan menteladani jasa para ulama’ dan auliya’, yang telah menginspirasi juga memotifasi kepada para anggota banser kususnya, contohnya Gus Dur semasa hidupnya beliau yang telah memompa dan juga membangkitkan ghirroh semangat Banser untuk menjadi pasukan yang bertugas untuk menjaga para kyai dan ulama’.

     

    Menurut komandan  JAZIL selaku panglima atau kasatkoryon banser kecamatan ngoro mengatakan

    “mari kita niatkan ziaroh ini selain untuk ibadah juga mari kita meniru perjuangan para muassis ini dan menerapkan ke hati kita masing masing, baik dari segi semangatnya maupun pengorbanan beliau, jiwa loyalitas dan totalitas kita terapkan kepada masyarakat lebih lebih kepada jamiyyah nahdlatul ulama’

     

    Beliau juga menginformasikan bahwa harapan diadakannya kegiatan ini supaya tercipta rasa kekeluarggan, kekompakan, kerukunan dan juga rasa persaudaraan antar anggota yang akhirnya bisa melaksanakan tugas organisasi secara maksimal, mudah mudahan berkah dari para muassis semua bisa terkabul dan di ridhoi ALLOH swt. (hasan-ngoro)

  • Makam Kiai Asy’ari Keras Diwek Jombang

    Makam Kiai Asy’ari Keras Diwek Jombang

    SORBANSANTRI.COM

    Makam Ayahanda KH Hasyim Asy’ari di Keras di Diwek Jombang.

    Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, yang terletak di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng, ini dikenal pula sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang.
    Lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1830. Menurut informasi dari keluarga Pesantren Tebuireng, seperti ditulis KH. M. Ishom Hadziq, ayah beliau bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim.

    Abdul Wahid adalah salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang, sekitar dua kilometer dari pusat kota, dan berguru pada Kiai Usman. Pesantren Gedang didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau dikenal dengan nama Kiai Shihah. Kiai asal Lasem, Rembang, ini bersama istrinya, Muslimah, membuka hutan di Gedang untuk mendirikan permukiman dan pesantren pada tahun 1825. Di antara santri beliau adalah Kiai Usman. Sufi dan ahli tarekat ini dinikahkan dengan putri sulung guru beliau bernama Nyai Layyinah. Keduanya kemudian dikarunia seorang putri sulung bernama Halimah (lahir 1851, disapa Winih).

    Tidak lama setelah Kiai Usman wafat, sekitar tahun 1855 Halimah – ketika itu baru menginjak usia empat tahun – dinikahkan dengan Kiai Asy’ari, santri senior Kiai Usman, yang berusia 25 tahun. Alasan pernikahan ini adalah untuk menyelamatkan garis keturunan pendiri pesantren yang akan menjadi pelanjut kepengasuhan pesantren usai wafatnya sang guru. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai putra-putri: Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim (lahir 1871), Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Putra ketiga beliau ini yang kemudian terkenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama. Nyai Halimah dikenal suka melakoni tirakat dan praktik sufi lainnya – mengikuti jejak ayahnya.

    Beliau pernah berpuasa selama tiga tahun berturut-turut dengan niat tertentu. Puasa tahun pertama ditujukan untuk kebaikan keluarga, tahun kedua diniatkan untuk kebaikan santrinya. Dan puasa tahun ketiga dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Konon, saking khusyuknya dalam bertirakat, suatu hari saat mencuci beras, beras tersebut berubah menjadi butir-butir emas!
    Kiai Asy’ari kemudian pindah bersama keluarganya ke Desa Keras dan mendirikan pesantren di sana sekitar tahun 1876. Sementara Pesantren Gedang berkembang menjadi Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah kepengasuhan saudara misan Kiai Asy’ari yaitu Kiai Said, yang kemudian menurunkan Kiai Chasbullah, ayahahanda KH. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU.

    Waktu itu Kiai Hasyim masih kecil, dan baru diboyong dari tempat kelahirannya di Gedang. Di bawah asuhan Kiai Asy’ari Pesantren Keras mengandalkan ngaji kitab-kitab sorogan dan baru belakangan di abad 20 mulai dibuka madrasah. Kebanyakan yang mondok berasal dari Jawa Tengah, terutama dari Ambarawa dan Salatiga. Sementara yang berasal dari Jombang lebih banyak menjadi santri kalong. Untuk sampai di pesantren ini, dari Surabaya kita naik bis jurusan Kediri, lalu turun di Desa Kwaron. Setelah itu naik becak ke arah barat, sekitar satu kilometer, maka sampailah ke alamat yang dituju.

    Para santri tidak tinggal di pondok, tapi ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Ini dimaksudkan agar dakwah Islam bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Memang tidak terlihat pemondokan besar, di pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari digembleng pertama kali oleh ayahnya sebelum mengembara berguru menuntut ilmu di beberapa pesantren.

    Kiai Asy’ari wafat sekitar tahun 1890 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Keras. Ketika putra ketiga beliau, KH. Hasyim Asy’ari, menikah di tahun 1892 dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub bin Hamdani, pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Asy’ari sudah tiada. Pesantren Keras kemudian dikelola masing-masing oleh putra beliau, KH. Saleh, dan menantu beliau, KH. Alwi, yang dikenal ahli bela diri dan kanuragan.

    Di tahun 1930-an, pesantren kemudian diasuh oleh KH. Basuni, lalu KH. Salahuddin (di masa itu tidak ada lagi yang mondok di tahun 1970-an), kemudian KH. Ahmad Labib di tahun 1990-an. Meski tidak sebesar Pesantren Tebuireng, Pesantren Keras mulai membuka madrasah dan berganti nama menjadi Pesantren Al-Asy’ari keras

    Sumber : Khusnul Irfan Fauzi

  • MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    InfokomBanserNU- Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Sholahudin Wahid wafat, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Gus Sholah merupakan putra ketiga dari 6 bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Sholichah. Beliau merupakan adik kandung mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seperti abahnya (ayahnya), Gus Sholah semasa hidup merupakan ulama’, aktivis, politikus dan tokoh Hak Asasi Manusia.

    Dihimpun dari berbagai sumber, masa sekolah dasar Gus Sholah ditempuh di Sulawesi. Selanjutnya jenjang sekolah menengah pertama ditempuh di SMP I Cikini. Jenjang berikutnya ditempuh di SMA Budi Utomo. Selepas pendidikan tingkat atas, ia melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur.

    Gus Sholah semasa hidup juga dikenal sebagai pengusaha. Terutama terlibat bidang konstruksi sebagaimana jurusan semasa kuliah. Aktivitas itu mengantarnya aktif di berbagai asosiasi seputar dunia konstruksi.

    Beberapa jabatan pernah diembannya seperti Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dsb.

    Sebagai intelektual tulisan Gus Sholah banyak ditemui di berbagai media massa nasional. Tulisannya kerap menyorotasi berbagai persoalan umat dan bangsa.

    Adapun di Nahdlatul Ulama, Gus Sholah sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Perjalanan KH Sholahudin Wahid, sosok yang lahir Jum’at 11 September 1942 di Jombang, berakhir setelah berpulang ke Pencipta, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Kabar duka tersebut disampaikan puteranya yakni Ipang Wahid. Seperti yang dikutip dari akun twiternya. “Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…”

    (red.abi)

  • Satu pohon untuk air dan udara

    Satu pohon untuk air dan udara

    wp.sorbansantri.com- Kegiatan penanaman pohon bersama santri jogo kali (relawan pemantau sungai Jombang) bersama kelompok pelindung hutan dan mata air (KEPUH) dan mahasiswa universitas Muhammadiyah Malang dari jurisan sosiologi pada hari Minggu 10/01/2021. melakukan penanaman di kawasan hutan lindung di area sumber petung pecut dan sumber gintung yang berada di petak 14 wilayah KPH Jombang.

    Tujuan di laksanakannya kegiatan ini murni reboisasi, dengan mengusung konsep satu pohon untuk air dan udara yang berarti satu pohon bisan untuk menjaga keseimbangan air dan udara itu menurut pak fatkur selaku ketua dari relawan pemantau sungai Jombang (santri jogo kali).

    Pak fatkur berharap “perjuangan ini belum berakhir, apa yang ditanam hari ini tidak serta merta bisa dinikmati sekarang namun tanaman tersebut akan berkembang dikemudian hari entah 5-10 tahun ke depan sebagai penyangga bagi kehidupan yang akan datang”. Ia juga menambahkan pohon yang ditanam meliputi pohon kemiri sunan. (fio)

  • Peringatan Harlah PSNU Ranting Plososari Kab. Mojokerto

    Peringatan Harlah PSNU Ranting Plososari Kab. Mojokerto

    wp.sorbansantri.com- Peringatan ulang tahun PAGAR NUSA di dusun rejosari RT 03 RW 02 Ranting Plososari tgl 6 Januari 2021. Sudah mecapai usia satu tahun sejak dibukanya PSNU di dusun Rejosari Plososari pada awal Januari 2020 setahun yang lalu.

    Peringatan ini berlangsung mulai pukul 20.00 – 22.30.wib dengan rangkaian acara pembukaan, qiroatul Qur’an,sambutan, pembacaan manaqib, mauidhzoh Hasanah di akhiri dengan pembacaan doa.

    Acara yang diselenggarakan oleh PSNU Ranting Plososari dusun rejosari ini mendatangkan dewan pendekar dari Jombang dan Pacet diantaranya adalah Gus Anwar Gus Muhtar dan kang Dedi dan juga diikuti oleh utusan utusan santri PSNU dari sebagian ranting dekat Plososari.

    Acara peringatan HAUL ini bertujuan untuk mensosialisasikan peran Pagar Nusa dalam membangun SDM melalui seni pencak silat PSNU agar generasi bangsa di tingkat ranting tidak mudah terpengaruh dengan paham ekstrim kiri dan ekstrim kanan yang pada akhir akhir ini makin tumbuh bercokol di kalangan masyarakat pedesaan bahkan sampai kota, dan Untuk mengantisipasi masuknya ideologi Wahabi yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat yang kental dengan ajaran Aswaja An Nahdliyah dari buyut sampai saat ini.

    “Satu satunya banom NU yang bisa masuk dan mewarnai semua banom banom NU adalah Pagar Nusa, demikian juga pada acara ini pagar Nusa mendatangkan jama’ah thoriqoh mu’tabaroh Annahdhiyah untuk membacakan manaqib sayyidi syaikh Ahmad bin Muhammad attijani RA.

    hal ini sebagai bentuk ngalab barokah dari manaqib tersebut dan juga sebagai bentuk interaksi sosial antara santri Pagar Nusa dan warga sekitar yang mayoritas pengamal thoriqoh Attijaniah” Demikian tutur Gus Anwar dalam mauidhzohnya.

    di Akhir mauidhzohnya Gus Anwar mengimbau agar santri Pagar Nusa benar benar manjaga amanah yang di wariskan oleh wali songo, Hadrotussyaikh, dan KH Abdullah Maksum Jauhari agar benar benar di akui sebagai santrinya beliau beliau.

    PSNU RANTING PLOSOSARI#

    PAGAR NUSA#

    PAGAR NU DAN BANGSA#

    SANTRI PSNU PLOSOSARI#

     

  • Acara rutinan jamiyah sholawat Seribu Rebana

    Acara rutinan jamiyah sholawat Seribu Rebana

    NU Sentul- Acara rutinan jamiyah sholawat Seribu Rebana pada hari ini 14 Desember 2019 diselenggarakan Kabupaten Jombang Jawa Timur. Peserta dihadiri kira-kira 5000 jamaah dari berbagai daerah.

    Acara tersebut mengundang beberapa tamu khusus dari Camat kapolsek muspika tokoh agama tokoh masyarakat serta Jama’ah Sholawat dan selebihnya jamaah rutinan.

    GP ANSOR PAC TEMBELANG
    Banser Satkoryon Tembelang

    Tetep istiqomah berdzikir & bersholawat
    bersama rutinan Jam’iyah Sholawat
    SERIBU REBANA KAB.JOMBANG
    Di Balai Desa Pulogedang
    Tembelang Jombang

    Salah satu harapan dari NU Sentul dalam statusnya

    #SholualannabiMuhammad
    #SerbanJombang
    #SerbanTembelang
    #AnsorTembelang
    #BanserTembelang

  • MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    SORBANSANTRI.COM

    KH Miftachul Akhyar

    ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 )

    wp.sorbansantri.com- KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.  

    Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

      Di NU ia pernah menjabat sebagai :

    – Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005,

    – Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan

    – Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai

    – Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

    Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di :

    – Pondok Pesantren Tambak Beras,

    –  Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur),

    –   Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan

    – mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

    Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

    Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab? “Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

    Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

    “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi.

      Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar  merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

      Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. “Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

      KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi. (Abdullah Alawi)

    Biografi KH. Afifuddin Muhajir

    ( Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, Periode 2020 – 2025 )

    KELAHIRAN

    1. Afifuddin Muhajir lahir pada tanggal 20 Mei 1955, di Jerengoan Sampang Madura Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Muhajir dan Nyai Zuhriyah. Beliau dikenal juga sebagai keturunan Bani Ahmad, tokoh Jerengoan Sampang .

    PENDIDIKAN

    1. Afifuddin Muhajir memulai pendidikannya dengan belajar di Sukorejo, dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Strata I, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII), di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Menempuh magister di Universitas Islam Malang (Unisma).

    Selain itu, KH. Afifuddin Muhajir belajar ke beberapa kiai Jawa Timur. Guru-guru beliau diantaranya:

    1. R. As’ad Syamsul Arifin
    2. Ghazali Ahmadi
    3. Qasdussabil Syukur

    MENGASUH PESANTREN

    1. Afifuddin Muhajir adalah wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

    KIPRAH DI NU

    1. Afifuddin Muhajir sering diundang menjadi nasumber diskusi ilmiah berskala regional, nasional dan internasional. Dalam forum Bahtsul Masail tingkat PBNU beliau dikenal sebagai muṣhaḥiḥ. Selian itu beliau pernah menjabat sebagai :

    – Katib Syuriah PBNU 2010-2015, dan menjadi

    – Rais syuriyah PBNU antar waktu 2019 – 2020.

    TELADAN

    1. Afifuddin Muhajir adalah sosok kiai yang berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memperhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull.

    KARYA-KARYA

    – Fungsionalisasi Uṣūl Fiqh dalam Bahtsul Masail NU, Judul buku: Kritik Nalar Fikih NU, Penerbit: Lakpesdam.

    – Fikih Anti Korupsi, Judul Buku: Korupsi kaum Beragama, Penerbit: P3M.

    – Fikih Menggugat Pemilihan Langsung, Penerbit: Pena Salsabila.

    – Kitab Fatḥul Mujīb Al-Qarīb Syaraḥ at-Taqrīb li Abī Syuja’, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Al-Luqmah As-Sā’igah, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Metodologi Kajian Fikih, Penerbit: Ibrahimy Press.

    – Maslaḥah sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam, Penerbit: Ibrahimy Press.

    Sumber : laduni.id

    #HubbulWathonMinalIman