Tag: ka’bah

  • Ini Alasan dan Fakta Kenapa Tahun 571 M Disebut Tahun Gajah

    Ini Alasan dan Fakta Kenapa Tahun 571 M Disebut Tahun Gajah

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Mengapa tahun 571 dinyatakan sebagai tahun gajah? Mungkin pertanyaan jarang diketahui generasi XYZ, dan saya tertarik untuk membahas ini karena ada pertanyaan dari quiz. Tidak bisa dipungkiri jika banyak orang yang tertarik dengan sejarah perjalanan agama, ilmu sejarah maupun kisah-kisah peradaban jaman kuno.

    Alasan mengapa tahun 571 Masehi disebut sebagai tahun gajah? karena dulunya tentara “Abraha al-Abyssinian” ingin menyerang Ka’bah pada tahun 571 Masehi, dimana seluruh pasukan Abraha al-Abyssinian semuanya menggunakan gajah sebagai armada perangnya.

    Meskipun memiliki banyak pasukan akan tetapi, segala upaya jahat yang dilakukan Abraha al-Abyssinian semuanya menjadi sia-sia karena ia tidak mampu menghancurkan Ka’bah dan menjajah suku Quraisy.

    Dalam beberapa catatan mengatakan, tujuan Abraha al-Abyssinian ingin menghancurkan Ka’bah adalah untuk menaklukkan orang-orang suku Quraisy dan Orang-orang Arab di Mekah, dan kemudian ingin menjajah mereka dan tunduk kepadanya.

    Abd al-Muttalib yang merupakan penguasa suku Quraisy (suku keturunan Ibrahim) saat itu dia memiliki beberapa unta dan kemudian Abraha al-Abyssinian ingin mengambilnya secara paksa. Kemudian Tuhan diceritakan, mengirimkan segerombolan burung Ababil yang membawa pecahan batu kecil dan menurut Surah Al-Fil batu Sijjil (kerikil neraka) dan menjatuhkannya ke arah pasukan Abraha al-Abyssinian dan kemudian mereka pun gagal menyerang dan merampas unta milik Abd al-Muttalib.

    Kemudian tahun 571 disebut sebagai tahun gajah, tahun gajah juga tertulis di ayat suci Al-Qur’an dalam Surah Al-Fil menceritakan tentang kisah penyerbuan dan kegagalan Abraha al-Abyssinian menyerang Ka’bah karena Allah SWT selalu melindungi Ka’bah dari orang-orang yang jahat. (abi sorban)

  • Gus Baha Jelaskan Kuatnya Ketauhidan Abdul Muthalib

    Gus Baha Jelaskan Kuatnya Ketauhidan Abdul Muthalib

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- “Saya cerita sedikit betapa Abdul Muthalib itu memiliki nalar katauhidan yang amat kuat,” katanya. Cerita ini, kata Gus Baha’, terjadi ketika Raja Abrahah hendak merobohkan Kakbah. Saat itu terjadi dialog antara keduanya dihadapan masing-masing pengikutnya. Seperti diketahui bahwa Abdul Muthaib adalah pembesar kaum Quraisy yang sangat berwibawa, maka Raja Abrahah pun menaruh segan kepadanya.
    “Saya datang ke sini (Kakbah-red) ingin merobohkan tempatmu, karena saya punya tempat ibadah kok kalian kencingi, kalian beraki,” kata Gus Baha menceritakan perkataan Abrahah. Sebelum itu, baik pasukan maupun harta kaum Quraisy telah ditawan oleh Abrahah. Dan ketika itu Abdul Muthalib menjawab dengan pernyataan yang membuat Abrahah kaget. Kakek Rasulullah itu tidak berusaha melawan Abrahah namun hanya meminta supaya hewan ternak dan apapun ditawan oleh Abrahah itu dikembalikan kepadanya.
    “Baik, saya tidak melarang kamu untuk merobohkan Kakbah, yang penting itu 100 onta milik saya kembalikan dulu,” ujar Gus Baha’ menirukan pernyataan Abdul Muthalib. Sontak, Abrahah pun mempertanyaan kewibawaan Abdul Muthalib yang terkenal sebagai pemimpin Quraisy. “Lo, kamu ini pemimpin bagaimana, ini Kakbah kan agamamu, mau tak robohkan kok tidak marah, malah meminta onta,” kata Abrahah seperti diceritakan Gus Baha’.
    “Saya jelas tahu kalau Kakbah ini ada yang punya (yaitu Allah-red), ya biar diurus sama yang punya. Kalau onta itu milik saya, ya harus jadi urusan saya, maka kembalikan ke saya,” jawab Abdul Muthalib. Akhirnya, keduanya pun setuju.
    Abrahah memenuhi permintaan Abdul Muthalib dan mendapatkan keinginannya untuk bisa merobohkan Kakbah.
    Pada saat itu lah, lanjut Gus Baha’, Abdul Muthalib bergumam tentang apa yang akan terjadi jika Baitullah itu akan dirobohkan. “Abdul Muthalib waktu itu hanya bilang, “Saya ingin lihat apa yang akan Engkau (Tuhan) lakukan jika Kakbahmu dirobohkan” lalu Abdul Muthalib mengajak para pengikutnya untuk naik ke gunung untuk menyaksikan balasan Tuhan kepada Abrahah,” jelas Gus Baha’.
    Setelah semuanya sepakat maka terjadilah peristiwa yang disebutkan dalam QS. Al-Fiil ayat 1 – 5 tersebut. Gus Baha’ lalu berpesan supaya jamaah yang hadir itu tidak usah sok-sokan memikirkan atau membela agama, sebab Islam sudah dijaga dengan sendirinya oleh Allah. “Kalau niatnya khidmah boleh, tapi jangan sampai sok memikirkan sendiri agama ini. Saya juga tidak rela kalau agama ini yang mikir sampeyan, ndak bakal terurus,” kelakar Gus Baha’ disambut gelak tawa jamaah.
    Gus Baha juga menyindir kelompok yang merasa sedang membela Islam kemudian bersikap ekstrim. Menurutnya, hal itu tidak tepat karena secara tidak langsung berarti tidak yakin dengan ketetapan Allah. Begitu pula dengan urusan hidayah, pahala dan dosa itu sudah merupakan hak prerogratif Allah untuk menentukan. “Itu sudah wilayah Allah.
    Apakah orang akan diampuni ataukah dilaknat, dan kita tidak bisa ikut campur. Makanya ini perlu saya utarakan, tidak usah sok memikirkan agama, apalagi sok membela. Yang penting perilakumu baik dan mengikuti akhlak Rasul saja itu sudah cukup,” . (JOKO GONDRONG)
  • JANGAN SOK-SOK AN MEMBELA AGAMA

    JANGAN SOK-SOK AN MEMBELA AGAMA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- “Saya cerita sedikit betapa Abdul Muthalib (kakek Nabi) itu memiliki nalar katauhidan yang amat kuat,” kata Gus Baha

    Cerita ini, kata Gus Baha’, terjadi ketika Raja Abrahah hendak merobohkan Ka’bah. Saat itu terjadi dialog antara Abrahah dan Abdul Muthalib di hadapan masing-masing pengikutnya

    “Saya datang ke sini (Ka’bah) ingin merobohkan tempatmu, karena saya punya tempat ibadah kok kalian kencingi, kalian beraki,” kata Gus Baha menceritakan perkataan Abrahah

    Kakek Rasulullah itu tak berusaha melawan Abrahah namun hanya meminta supaya hewan ternak yang ditawan oleh Abrahah dikembalikan

    “Baik, saya tidak melarang kamu untuk merobohkan Ka’bah, yang penting itu 100 onta milik saya kembalikan dulu,” ujar Gus Baha’ menirukan pernyataan Abdul Muthalib.

    Sontak, Abrahah pun mempertanyaan kewibawaan Abdul Muthalib

    “Lo, kamu ini pemimpin bagaimana, ini Ka’bah kan agamamu, mau tak robohkan kok tidak marah, malah meminta onta,” kata Abrahah

    “Saya jelas tahu kalau Ka’bah ini ada yang punya (yaitu Allah), ya biar diurus sama yang punya. Kalau onta itu milik saya, ya harus jadi urusan saya, maka kembalikan ke saya,” jawab Abdul Muthalib

    Akhirnya, keduanya pun setuju. Abdul Muthalib pun bergumam

    “Abdul Muthalib waktu itu hanya bilang, “Saya ingin lihat apa yang akan Engkau (Tuhan) lakukan jika Ka’bahmu dirobohkan” lalu Abdul Muthalib mengajak para pengikutnya untuk naik ke gunung untuk menyaksikan balasan Tuhan kepada Abrahah,” jelas Gus Baha’

    Maka terjadilah peristiwa yang disebutkan dalam QS. Al-Fiil ayat 1 – 5.

    Gus Baha’ lalu berpesan supaya jamaah yang hadir itu tidak usah sok-sokan memikirkan atau membela agama, sebab Islam sudah dijaga dgn sendirinya oleh Allah

    Begitu jg dengan hidayah, pahala & dosa itu sudah hak prerogratif Allah untuk menentukan

    “Itu sudah wilayah Allah. Apakah orang akan diampuni ataukah dilaknat, dan kita tidak bisa ikut campur. Makanya ini perlu saya utarakan, tidak usah sok memikirkan agama, apalagi sok membela. Yang penting perilakumu baik dan mengikuti akhlak Rasul saja itu sudah cukup,” kata Gus Baha (abi SORBAN)

    Sumber : @ulama.nusantara