Tag: kebangsaan

  • Membongkar Kontroversi: Tantangan dan Polemik dalam Kiprah Politik Nahdlatul Ulama

    Membongkar Kontroversi: Tantangan dan Polemik dalam Kiprah Politik Nahdlatul Ulama

    wp.sorbansantri.com – Dalam sejarahnya, NU punya andil besar dalam berpolitik.

    Berikut akan dipaparkan beberapa moment sejarah yang bersingungan dengan  yang dilakukan oleh NU dalam perkembangan sejarahnya. Bukti sejarah ini tentunya merupakan interpretasi penulis yang dikaitkan dengan politik kebangsaan organisasi Islam terbesar di Indonesia

    A. Penetapan Dar al-Islam

    Dalam muktamar XI tahun 1938 di Banjarmasin, NU memutuskan bahwa negara dan tanah air wajib dijaga menurut fiqih.5 Hal ini berdasar pada persoalan status negara Indonesia dalam perspektif syariah. Berpedoman pada kitab Bughyah al-Murtasyidin, Muktamar kemudian memutuskan bahwa sesungguhnya negara Indonesia merupakan negara Islam, dar al-Islam. Dalam tradisi fiqih politik, dikenal tiga jenis negara, yakni: dar al-Islam (negara Islam), dar al-sulh (negara damai) dan dar al-harb (negara perang). Konsepsi bentuk negara Islam menuntut untuk dipertahankannya negara dari serangan luar, karena merupakan perwujudan normatif dan fungsional dari cita-cita negara.

    Dampak dari penetapan negara Islam ini adalah memberikan legitimasi bagi para orang-orang NU untuk berjuang secara aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Cita-cita mewujudkan kemerdekaan secara tersirat dan pasti terkandung dalam konsepsi ini. Sehingga, perjuangan kemerdekaan menjadi keniscayaan, dan merupakan manifestasi dari ajaran agama.

  • Tujuan Pendirian NU

    Tujuan Pendirian NU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Ormas ini didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926. Pembentukan NU tak bisa lepas dari peran sejumlah ulama yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
    Pendirian organisasi ini bermula dari dibentuknya kelompok-kelompok diskusi oleh sejumlah ulama. Pada tahun 1914 KH Wahab Chasbullah mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran. Ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran.
    Organisasi yang bertujuan memberikan pendidikan sosial-politik kaum santri itu lantas berkembang ke sejumlah kota di Indonesia. Dua tahun setelahnya atau pada 1916, para kiai pesantren mendirikan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air. Ini merupakan organisasi pergerakan untuk melawan penjajahan Belanda.
    Kemudian, pada tahun 1918 didirikan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar, organisasi untuk pedagang di era kolonial. Setelah muncul beberapa organisasi ini, muncul insiatif untuk menggabungkannya. Tujuannya supaya organisasi lebih kuat dan cakupannya lebih luas.
    Penggabungan ini juga merespons banyaknya masalah agama, mazhab, sosial, dan kebangsaan yang berkembang di masyarakat. Akhirnya, disepakati berdirinya “Nahdlatul Ulama” atau “Kebangkitan Ulama”. Kala itu KH Hasyim Asy’ari dipercaya sebagai Rais Akbar.
    Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.(SorBan Wanasari)
    Waallahu Alam.
  • Pancasila Selaras dengan Syari’at

    Pancasila Selaras dengan Syari’at

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.

    Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.

    Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.

  • Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

    Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

    SORBANSANTRI.COM
    Tiga-Pendiri-Nahdlatul-Ulama


    cyberaswaja.online –
    Film berdurasi 54 menit 45 detik ini merupakan Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan. Film ini mengungkap sejarah-sejarah yang terhapus dan perjalanan Nahdlatul Ulama sejak sebelum berdirinya hingga masa kini.

    Narasumber dalam film dokumenter yang dipersembahkan oleh Yayasan Ircos Jakarta dan Yayasan 135 ini, antara lain :
    1. KH. A. Musthofa Bisri
    2. Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
    3. KH. Muchitz Muzadi
    4. Yenni Wahid, MA
    5. KH. Hasyim Muzadi
    6. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU
    7. Ir. KH. Salahuddin Wahid
    8. Dr. Andree Feillard

    [su_youtube url=”https://youtu.be/bOgkegxuUcM”]

    Film dokumenter ini sangat penting untuk ditonton oleh seluruh warga NU khususnya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebab pentingnya sejarah Indonesia sertai kaitannya dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul Ulama.

    Sayangnya, dalam video itu keliru mencantumkan logo NU. Didalam video ini terdapat logo “NU Salah” pada menit ke 02:12 yang memang banyak beredar di internet, bahkan tak jarang digunakan oleh sebagian warga NU yang kurang teliti menggunakan logo NU. (abi-sorban)