wp.sorbansantri.com Jerusalem, 22 Mei 2024 – Kementerian Luar Negeri Israel memerintahkan penarikan segera duta besarnya dari Irlandia dan Norwegia. Keputusan ini diambil menyusul pengumuman pengakuan kemerdekaan Palestina oleh kedua negara tersebut pada hari Rabu (22/5). Langkah ini menandai peningkatan ketegangan diplomatik antara Israel dan negara-negara Eropa tersebut.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa keputusan Irlandia dan Norwegia untuk mendukung kemerdekaan Palestina dapat melemahkan hak Israel untuk membela diri. Katz juga menyebut bahwa pengakuan ini berpotensi mengganggu upaya Israel dalam mengembalikan 128 sandera yang saat ini ditahan oleh Hamas di Gaza.
“Israel tidak akan diam. Kami bertekad untuk mencapai tujuan kami: memulihkan keamanan warga kami dan menyingkirkan Hamas, serta mengembalikan para sandera,” tegas Katz dalam pernyataan resminya. “Tidak ada tujuan yang lebih baik dari ini,” tambahnya.
Selain Irlandia dan Norwegia, Spanyol juga telah mengumumkan rencananya untuk mengakui kemerdekaan Palestina. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, sebenarnya berencana untuk segera mengumumkan pengakuan tersebut hari ini. Namun, dewan menteri Spanyol sepakat untuk memberikan pernyataan resmi pada Selasa (28/5) nanti.
Merespon perkembangan ini, Israel telah memanggil duta besarnya di Madrid untuk ‘konsultasi’. Selain itu, Israel juga menegur duta besar Spanyol, Irlandia, dan Norwegia terkait keputusan negara mereka untuk mengakui Negara Palestina.
Langkah pengakuan kemerdekaan Palestina oleh Irlandia, Norwegia, dan Spanyol ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya untuk mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina. Namun, bagi Israel, hal ini merupakan tantangan besar terhadap kebijakan dan keamanan nasional mereka. Keputusan untuk menarik duta besar ini menunjukkan ketegangan yang terus meningkat dan kompleksitas diplomatik yang dihadapi dalam mencapai perdamaian di Timur Tengah. (AI Sorban)
wp.sorbansantri.com – Perang gerilya merupakan salah satu strategi penting yang digunakan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Strategi ini terbukti efektif dalam menguras kekuatan Belanda dan pada akhirnya membawa Indonesia menuju kemerdekaan penuh. Berikut adalah beberapa ciri-ciri perang gerilya bangsa Indonesia:
Dilakukan Secara Sembunyi-sembunyi dan Berpindah-pindah Tempat Pasukan gerilya tidak memiliki basis permanen dan selalu berpindah-pindah tempat untuk menghindari pengejaran Belanda. Mereka biasanya bersembunyi di daerah pedesaan, hutan, dan pegunungan.
Melibatkan Rakyat Sipil Rakyat sipil memainkan peran penting dalam mendukung perang gerilya. Mereka menyediakan makanan, tempat persembunyian, dan informasi kepada pasukan gerilya. Dukungan rakyat sipil ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan perang gerilya.
Menggunakan Serangan Kilat dan Sabotase Pasukan gerilya biasanya melakukan serangan kilat terhadap pasukan Belanda dan kemudian segera menghilang. Mereka juga melakukan sabotase terhadap infrastruktur dan logistik Belanda. Serangan-serangan ini membuat Belanda selalu waspada dan ketakutan.
Dipimpin oleh Komandan yang Berpengalaman Perang gerilya membutuhkan komandan yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik tentang medan perang. Para komandan ini harus mampu menyusun strategi dan taktik yang tepat untuk mengalahkan pasukan Belanda.
Memiliki Semangat Juang yang Tinggi Para pejuang gerilya memiliki semangat juang yang tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air mereka. Semangat juang ini yang membuat mereka pantang menyerah dan terus berjuang meskipun dengan persenjataan yang seadanya.
Contoh Penerapan Ciri-Ciri Perang Gerilya:
Pasukan Gerilya Teuku Cik Di Tiro di Aceh Pasukan ini menggunakan taktik gerilya dengan bersembunyi di pegunungan dan hutan untuk menyerang pasukan Belanda secara tiba-tiba.
Pasukan Gerilya Jenderal Sudirman di Jawa Mereka menggunakan taktik gerilya dengan melakukan long march sejauh 2.000 kilometer untuk menghindari pengejaran Belanda.
Pasukan Gerilya Rakyat Istimewa Yogyakarta (RIS) Pasukan ini melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda di Yogyakarta dan sekitarnya menggunakan taktik gerilya.
Perang gerilya bangsa Indonesia merupakan contoh perjuangan yang heroik dan patut dicontoh. Dengan strategi yang tepat dan semangat juang yang tinggi, bangsa Indonesia berhasil mengalahkan penjajah Belanda dan mencapai kemerdekaan.
Demikian beberapa ciri-ciri perang gerilya bangsa Indonesia.
sorbansantricom – Moh. Habib Asyhad memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan buruknya perekonomian Indonesia pada masa kemerdekaan, masa demokrasi parlementer, dan masa demokrasi terpimpin.
Pembangunan Proyek Politis: Salah satu penyebab buruknya ekonomi adalah penggunaan dana APBN untuk proyek-proyek mercusuar yang lebih bersifat politis, mengabaikan pembangunan ekonomi yang substansial.
Intervensi Asing: Selain itu, intervensi ekonomi dari pihak asing juga berkontribusi terhadap kemerosotan ekonomi Indonesia.
Kondisi Ekonomi di Masa Demokrasi Terpimpin: Pada masa ini, kondisi ekonomi Indonesia mencapai titik terendah. Ekspor dan investasi merosot, cadangan devisa menipis, dan inflasi melonjak.
Ekonomi Terpimpin: Sistem ekonomi terpimpin yang dianut pada masa itu juga menjadi kendala. Dalam sistem ini, semua aktivitas ekonomi dipusatkan di pemerintah pusat, menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Pengeluaran Tidak Produktif: Pengeluaran pemerintah yang tidak produktif untuk proyek politik mercusuar seperti Ganefo dan Conefo juga memperburuk keadaan ekonomi.
Defisit Anggaran dan Inflasi: Defisit anggaran yang meningkat drastis dan tingginya tingkat inflasi semakin memperparah kondisi ekonomi.
Pengeluaran Tak Terkendali: Soekarno mengalokasikan dana yang besar untuk menunjukkan kehebatan Indonesia, namun pengeluaran tersebut tidak diarahkan pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Penolakan Bantuan Asing: Penolakan bantuan asing, seperti yang dilakukan Soekarno terhadap bantuan dari IMF, juga menghambat upaya pemulihan ekonomi.
Krisis Moneter: Situasi moneter yang memburuk ditandai dengan tingginya tingkat inflasi dan penurunan pendapatan per kapita.
Dengan mengungkap faktor-faktor ini, Moh. Habib Asyhad memberikan wawasan mendalam tentang kompleksitas dan tantangan yang dihadapi dalam upaya membangun ekonomi Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan. (AI Sorban)
wp.sorbansantri.com – Amerika Serikat (AS) telah menetapkan syarat yang tegas bagi Arab Saudi dalam upaya untuk mendapatkan perjanjian pertahanan dengan AS. Instruksi ini datang dari Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, yang menegaskan bahwa Arab Saudi harus melakukan normalisasi hubungan dengan Israel sebagai syarat wajib.
Sullivan menegaskan bahwa AS tidak akan menandatangani perjanjian pertahanan apapun dengan Arab Saudi jika normalisasi hubungan dengan Israel tidak terjadi. Langkah ini ditegaskan sebagai bagian dari visi terpadu AS untuk menciptakan kawasan yang lebih aman dan damai.
Dalam pernyataannya, Sullivan menekankan bahwa normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel serta kemerdekaan Palestina merupakan prasyarat utama untuk mencapai perjanjian pertahanan antara Arab Saudi dan AS.
Keputusan ini merupakan hasil dari berbulan-bulan upaya diplomasi AS dalam mendorong dialog antara Arab Saudi dan Israel. Namun, dalam konteks yang sama, konflik di Jalur Gaza terus berlanjut, menimbulkan korban jiwa yang terus bertambah di kedua belah pihak.
Upaya normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel menjadi fokus perhatian internasional, sementara korban konflik di wilayah tersebut terus meningkat, menciptakan tekanan tambahan bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan. (AI Sorban)
wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.
Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.
Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.
Pernah satu tanya terlintas dalam pikiran ketika menerima informasi jika Jendral AH. Nasution dulu sering ke Mojokerto. Untuk keperluan apa dia datang ke Mojokerto ?. Dan kata tanya itu terjawab saat ditemukan benang merahnya dengan seorang tokoh asal Mojokerto bernama Raden Panji Soenarjo Gondokoesoemo.
Soenarjo Gondokoesoemo lahir di Mojokerto pada 2 Nopemer 1892. Ayahnya bernama R.P. Djayusman Gondokoesoemo yang berkedudukan sebagai Patih Kabupaten Mojokerto. Sedangkan ibunya bernama R. Ajoe Ngalipah yang masih memiki hubungan darah dengan para penguasa Surabaya. Soenarjo memiliki beberapa saudara yang salah satunya bernama R.A. Soekarsinah yang kemudian dinikah oleh R.P. Soeroso.
Dengan status sebagai keturunan priyayi maka Soenarjo memiliki hak untuk sekolah sampai tingkat lanjutan. Menurut Suhario Padmodiwiryo atau yang dikenal dengan julukan Hario Ketjik, Soenarjo bukan hanya menuntut ilmu di Indonesia, dia juga sempat sekolah ilmu akuntansi di Negeri Belanda. Dan setelah kembali ke Indonesia, Soenarjo bekerja pada perusahaan asuransi “Blom Van Der A” di Surabaya. Data diri Soenarjo yang terdapat pada buku Orang Jang Terkemoeka di Jawa menyebutkan dia pernah menjadi pegawai dinas pengairan di Probolinggo sebelum pindah ke perusahaan kereta api SCS, SDS dan juga OJS.
Selain itu Soenarjo juga sempat berkarir di Asuransi Boemi Poetra di Surabaya hingga kemudian dipindah ke Bandung. Selama di Surabaya dia pernah menjadi direktur Harian Soeara Oemoem yang dimiliki oleh Parindra. Serta mengurus Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Bubutan Surabaya.
Tahun 1924 Soenarjo menikah dengan seorang perempuan Belanda bernama Hendrika Maria Rademeker, anak seorang insinyur yang pernah berdinas di Mojokerto. Pasangan itu kemudia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan seorang perempuan bernama Soenarti Gondokoesoemo.
Rupanya hubungan sebagai saudara ipar dengan R.P. Soeroso, ketua Sarekat Islam Mojokerto, ikut mempengaruhi pemikiran politik Soenarjo. Saat R.P. Soeroso keluar dari SI dan mendekat pada PBI yang didirikan oleh dr. Soetomo, maka langkah tersebut diikuti pula oleh Soenarjo. Bahkan Soenarjo kemudian dikenal sebagai orang dekat dari pendiri organisasi Budi Utomo tersebut. Kedekatan itu dapat dibuktikan dengan ditunjuknya Soenarjo sebagai ketua Studie Club’ yang dibentuk Soetomo pada bulan Juli 1928 di Surabaya.
Pada bulan Desember 1935, Soetomo mengadakan pertemuan untuk menyatukan partai tengah, yaitu PBI dan Budi Utomo yang dipimpin oleh R. Wuryoningrat. Pada pertemuan di Solo itu disepakati peleburan keduanya dengan membentuk partai baru yang diberi Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra. Soetomo dipilih sebagai ketua dan Wuryoningrat sebagai wakilnya. Ternyata Parindra mendapatkan dukukngan dengan masuknya beberapa organisasi seperti, M.H. Thamrin dengan Perkumpulan Kaum Betawi, Ratulangi (Serikat Minahasa/Celebes), Latuharhary (serikat Ambon), Dahlan Abdullah (Serikat Sumatra), dan Roeslan Wongsokusumo (Serikat Madura).
Ideologi politik Soetomo yang ada pada garis kanan tengah sangat mewarnai diri Soenarjo. Dia tidak canggung untuk bekerja sama dengan Belanda demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu gerakan ala Soetomo itu dapat diterima oleh pemerintah kolonial dan sekaligus memperoleh dukungan dari rakyat, terutama di Jawa Timur. Parindra kemudian mendirikan Rukun Tani, Rukun Nelayan, serta membentuk lumbung tani. Untuk memberikan pinjaman pada anggotanya yang terus berkembang juga didirikan Bank Nasional Indonesia denga menunjuk Soenarjo sebagai direkturnya.
Dan yang paling dikenal adalah organisasi pemuda yang diberi nama Surya Wirawan. Organisasi yang beratribut seperti tentara itu dilatih disiplin. Mereka bukan hanya sebagai pandu namun juga bersikap semi militer. Sebuah foto tentang sikap militeristik terlihat saat mereka memberi penghormatan ala Nazi saat pemakaman M.H. Thamrin, Januari 1941.
Soenarjo Gondokoesoemo kemudian pindah ke Bandung untuk memimpin Asuransi Boemi Poetra disana pada tahun 1937. Kepindahannya juga dimaksudkan guna memperkuat kepengurusan Parindra di Jawa Barat. Dia bekerja sama dengan R. Otto Iskandar Dinata yang memutuskan bergabung dengan Parindra. Duet keduanya membuat Parindra bisa berkembang di tanah Pasundan.
Saat tentara Jepang datang, Soenarjo memiliki relasi yang cukup baik dengan penguasa yang menyebut dirinya sebagai saudara tua. Hubungan baik itu dikarenakan Soenarjo sempat menyelamatkan seorang penerbang Jepang yang pesawatnya tertembak jatuh. Penerbang yang di daerah perkebunan tersebut disembunyikan Soenarjo dari penangkapan serdadu Belanda.
Nama Soenarjo Gondokoesoemo tidak begitu terdengar pada jaman revolusi kemerdekaan. Aktifitas politiknya mengapung kembali pada tahun 1954 dia diangkat menjadi anggota DPR Sementara (DPRS) oleh Presiden Soekarno dari Fraksi Parindra yang memiliki 7 kursi parlemen. Kedudukan itu didapat dari pergantian antar waktu (PAW) karena RP. Soeroso, ketua umum Parindra, ditunjuk sebagai menteri sosial dalam kabinet Ali Sastroamidjojo. Dalam kepengurusan Partai Parindra Soenarjo Gondokoesoemo tercatat sebagai pimpinan pusat partai pada bagian sosial dan ekonomi.
Karir politik Soenarjo Gondokoesoemo berakhir karena perolehan suara Parindra jatuh dalam pemilu 1955. Partai dengan lambang dua tangan memegang tangkai padi dan pena itu hanya mendapatkan 2 kursi di parlemen yang salah satunya diduduki oleh R.P. Soeroso. Perjalanan panjang Soenarjo sebagai tokoh pergerakan selesai karena dia meninggal pada tahun 1963.
Lalu apa hubungannya dengan A.H. Nasution dan Mojokerto ?. A.H. Nasution yang merupakan alumni akademi militer Belanda di Bandung dengan pangkat letnan muda pernah ditampung oleh keluarga Soenarjo. Nasution yang saat itu disersi dari kesatuannya menjadi buronan baik oleh Belanda maupun Jepang. Setelah menempuh perjalanan dari Jember hingga Bandung dan sempat mampir ke rumah RP. Soeroso di Mojokerto, kemudian bersembunyi di rumah Soenarjo. Karena hubungan baik Soenarjo dengan pihak Jepang maka Nasution tidak ditangkap.
Nasution tinggal bersama keluarga tersebut sekitar 3 bulan. Dari sana kemudian tumbuh benih asmaranya pada Soenarti yang memang cantik jelita. Perjumpaan keduanya berlanjut ketika Soenarti melanjutkan sekolah di Jogjakarta ikut di rumah pamannya, R.P. Soeroso. Keduanya kemudian menikah pada tahun 1947.
Kaitannya dengan Mojokerto adalah karena salah satu putra Soenarjo yang ikut kakekkya menikah dengan anak bungsu Kyai Rofi’i Pekuncen. Oleh menantu Kyai Rofi’i, yaitu Kyai Sholeh Penarip, pernikahan itu diberi syarat terlebih dahulu. Syaratnya pengantin pria harus belajar ngaji terlebih dahulu. Setelah dianggap memenuhi syarat keduanya diberi tanggung jawab mengajar ngaji di langgar Sinoman, langgar yang didirikan Kyai Sholeh. Kisah pernikahan mereka tertulis dalam buku Kyai Sholeh Pesantren Penarip karya H.A. Yazid Qohar.
Karena ada tali persaudaraan itulah kemungkinan A.H. Nasution sempat beberapa kali datang ke Mojokerto untuk mengunjungi kakak iparnya.
Mojokerto, CyberAswaja.online – Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Jatirejo Kab.Mojokerto Punya Gawe berupa DTD (Diklat Terpadu Dasar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna), kader muda dan baru yang masuk menjadi BANSER sebagai Garda Terdepan Menjaga NKRI. 21/12/19
Foto:tengah Ketua LMDSA RA Gus Lutfi bersama Pengurus
Ciri khas Jas Warna Putih selaku Wakil ke-2 (dua) dari GP Ansor, bernama LMDSA (Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat) RIJALUL Ansor cabang ini melakukan Gemblengan kepada Peserta DTD Banser yang akan melaksanakan Caraka Malam, salah satu tahapan pelaksanaan DTD BANSER.
“Penulisan Raja ini fungsi salah satu agar BANSER kebal secara Kanuragan, peka Kondisi dan Siap sewaktu-waktu” ujar ketua LMDSA RA, Gus Lutfi Hakim.
Berserta jajaran pengurus RIJALUL ANSOR mereka pun dibagi tugas pelaksanaan yang kemudian peserta melaksanakan Caraka Malam sampai pagi. (WakGenk/Infokom)
SorbanSantri – Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun. Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya -. Pada 21-22 Oktober, NU mengumpulkan semua kiai dan konsul NU se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap warga nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Tak terkecuali di Banyuwangi. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hisbullah, Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya.
Di Banyuwangi Kota muncul beberapa nama Kiai yang terlibat dalam mengorganisir massa untuk menghadapi gempuran NICA, baik di pertempuran 10 November di Surabaya maupun pertempuran-pertempuran lain di Banyuwangi. Nama Kiai Saleh Lateng terdengar nyaring dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Selain melakukan tirakat (riyadlah) demi mewujudkan kemerdekaan bangsa, Kiai Saleh menjadi tempat jujukan para santri dan pejuang lainnya untuk meminta nasehat dan doa. Kiai Saleh juga mengirimkan para santrinya untuk ikut perang di Surabaya. Bahkan, pada peperangan yang kelak dikenal sebagai hari pahlawan tersebut, beliau tampak ikut bertempur di medan laga.
Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban juga merupakan punggawa pasukan Sabilillah Banyuwangi. Kedua orang tersebut merupakan sahabat karib dan seperjuangan Kiai Saleh. Masjid Riyadus Sholihin Singonegaran yang didirikan oleh Kiai Syamsuri kerap menjadi jujukan para laskar Hisbullah. Konon, ada beberapa anggota laskar yang terluka dan dibawa kesana, lalu akhirnya meninggal dan dimakamkan tak jauh dari sana.
Sedangkan Kiai Wahab sendiri memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda, tak satu pun yang meledak. Mungkin hal ini terdengar mustahil, namun hal ini nyata adanya. Surat kabar “Kedaulatan Rakjat” tertanggal 26-11-1945, mengkonfirmasi hal tersebut. “Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja lagi.” Selain nama-nama di atas, juga muncul seorang kiai muda asal Tukangkayu, Kiai Harun. Pendiri PP Darunnajah yang juga menjadi ketua cabang NU Banyuwangi ini menjadi semacam kordinator penggerak santri dan laskar ke medan tempur. Pesantrennya yang tak jauh dari stasiun Banyuwangi Lama (Pasar Karangrejo) menjadi meeting point sebelum berangkat ke Surabaya. Konon, ada dua rombongan dari Banyuwangi, ada yang turun di stasiun Gedangan, Surabaya lalu langsung terlibat pertempuran. Ada pula yang menuju ke Parakan terlebih dahulu untuk memohon barakah bambu runcing ke Kiai Subkhi. Geser ke Selatan, ada nama Kiai Abdullah Faqih di Cemoro, Songgon. Sebagai salah satu kiai sepuh, Kiai Faqih juga menjadi bagian dari pasukan Sabilillah yang bagian mendoakan dan berperang dengan mendayagunakan kekuatan spritualnya. Kisah yang beredar turun temurun, Kiai Faqih memimpin beberapa peperangan di Banyuwangi, baik perang Bedewang maupub perang Laban hanya dengan memendam dirinya disebuah bukit di desa Parangharjo, Songgon.
Tak hanya Kiai Faqih, putra-putra dan para santrinya pun ikut serta dalam pertempuran. Dengan nama Laskar Santri Cemoro dibawah pimpinan Gus Sholeh dan Gus Idris, segenap jiwa raga mereka persembahkan untuk ibu pertiwi Indonesia. Bahkan, Gus Idris syahid di tengah medan tempur. Di Srono adapula kiai kharismatik yang menggerakkan masyarakat dan santrinya untuk berjuang. Kiai Dimyati Syafi’i namanya. Rois Syuriah NU Blambangan ini tanpa ragu memfatwakan warga nahdliyin untuk ikut berjihad sebagaimana instruksi dari PBNU kala itu. Tak ayal, ketika perjuangan beliau terendus Belanda, seketika langsung dibumi hanguskan pesantrennya, PP. Nahdlatut Thullab, Kepundungan, Srono.
Tak jauh dari Srono, di Muncar muncul dua kiai pejuang asal satu desa yang sama, Sumberberas. Yaitu duet Kiai Askandar (Mambaul Ulum) dan Kiai Abdul Manan (Minhajut Thullab). Waktu pengepungan Belanda ke pesantren, Kiai Abdul Manan berhasil lolos dengan bersembunyi di rumah salah satu warga. Beranjak ke daerah Pesanggaran juga muncul nama Kiai Muhammad dan Kiai Musaddad yang memimpin Front Kayangan Alaspurwo dan Sukomade. Di pasukan yang senantiasa bergerilya inilah, Kiai Mukhtar Syafaat (PP. Darussalam, Blokagung) muda ikut bergabung. Di sisi barat Banyuwangi, muncul nama Kiai Junaidi Genteng. Pengasuh PP. Bustanul Makmur ini kerap kali mengajak para santrinya untuk bergerilya. Atas perjuangannya inilah, kerap pula pasukan Belanda melakukan razia.
Tak jauh dari situ, ada pula kiai sepuh yang juga menjadi jujukan para santri dan pejuang untuk memohon doa dan karomah. Kiai Abbas Hasan, Sempu namanya. Mortir-mortir Belanda yang dijatuhkan di pesantrennya – PP. Al-Azhar – tak ada yang meledak. Meleset dan melempem semua. Di Kalibaru, juga muncul kiai muda yang tergabung dalam laskar Hisbullah, Kiai Abdul Latif Syuja. Tak hanya didaerah Banyuwangi, Kiai Abdul Latif bergerak pula hingga ke wilayah Keresidenan Basuki lainnya. Saat itu, dibawah komando KHR. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo.
Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa. Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Indonesia Merdeka” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Sebagai generasi penerus, hanya doa dan segenap usaha mengisi kemerdekaan ini yang bisa kami persembahkan untuk para pejuang. Teruntuk semua pejuang, Alfatihah….!!!
Keterangan foto:
Mbah KHR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN SITUBONDO saat perang kemerdekaan
SORBAN SANTRI – Alhamdulillah Rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor PR Gerakan Pemuda Ansor Desa Tamansari – Karanglewas yang diadakan setiap malam selasa wage (Senin,10/08/2020) tadi malam sangat sangat Meriah.
Momen rutinan di bulan Agustus kali ini mengangkat tema “MENYAMBUT HARI KEMERDEKAAN DENGAN BERDZIKIR DAN SHOLAWAT”.
Cuaca malam yang sangat cerah membuat kita memilih untuk mengadakan acara di luar ruangan atau tepatnya di halaman TPQ Al Falah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker.
Dihadiri kurang lebih 200 jama’ah yang terdiri dari keluarga besar Ansor Banser, Rekan IPNU – IPPNU, santri TPQ, dan komunitas Pecinta sholawat seperti Mafia Sholawat yang ada di desa Tamansari dan sekitarnya yang sudah rindu akan acara sholawatan.
Dengan khusyu para jama’ah mengikuti Dzikir Rothibul Hadad dan begitu semangat saat pembacaan Maulid simthuduror dan sholawat. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan tertib sampai akhir acara.
Semoga mendapatkan Barokah untuk para jama’ah yang hadir dan bisa mberkaih khususnya Desa Tamansari dan untuk negara Tercinta Indonesia..Amiin Ya Robbal ‘aamiin. (SORBAN TAMANSARI)
“SELAMAT HUT RI Ke-75”
Sekali Merdeka Tetap Merdeka…
NKRI Harga Mati…
SORBAN SANTRI-Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama dan setiap agama tentu mengajarkan agar sesama manusia saling menjalin kasih sayang karena manusia sejatinya adalah mahluk sosial.
Begitupun dalam Islam Rosulullah SAW bersabda “Tidak akan sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Seseorang tidak akan mungkin mau dirinya susah, menderita, menanggung kerugian, dan apalagi celaka, begitu pula, sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama, semestinya orang lain pun tidak boleh menanggung perasaan yang ia sendiri membencinya.
Agama sebagai ajaran yang mulia, ternyata belum selalu ditangkap oleh umatnya dengan baik, seseorang yang telah mengaku sebagai seorang beriman kepada yang diyakini, tentu akan memiliki perilaku yang baik dalam keseharianya, ketika bergaul begitupun saat dia berkomunikasi dengan orang lain.
Tema besar yang diusung pada HUT RI Ke 75 ini adalah menciptakan Indonesia Maju, yang merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Logo HUT RI ke-75 terinspirasi dari simbol perisai di dalam lambang Garuda Indonesia. Logo ini juga menggambangkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
Dan sebagai simbol arti dari kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi untuk rakyat Indonesia dan progres nyata dalam bekerja untuk mempersembahkan hasil yang terbaik bagi semua rakyat Indonesia.