
Tag: Khalifah Utsman
-

MAKANAN YANG DIBERKAHI
SORBAN SANTRI- Dalam peristiwa Khandaq, atau Perang Aḥzab, Rasulullah Saw. dan semua kaum Muslim bekerja keras menggali parit di sekeliling Madinah. Mereka dibagi kedalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas sepuluh orang. Setiap kelompok ditugasi menggali parit sepanjang 40 hasta. Mereka semua berkerja keras tanpa kenal lelah karena pasukan musyrik Quraisy dan sekutu mereka telah bersiap-siap menyerang Madinah. Rasulullah juga berkerja keras memimpin kaum Muslim hingga lupa makan. Sudah tiga hari beliau tidak mendapatkan makanan yang laik. Jābir ibn ‘Abdullah mengetahui keadaan beliau dan merasa iba melihat kondisinya yang tampak lelah dan lapar.Jabir berhasrat besar untuk menjamu Rasulullah sehingga ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku mohon izin untuk pulang sebentar ke rumah.” Beliau memberinya izin. Saat tiba di rumah, Jabir berkata kepada istrinya: “Aku melihat Rasūlullāh sangat lemah dan lapar. Namun beliau tetap bersabar. Apakah kita punya sesuatu untuk dimasak?”Istri Jabir menjawab: “Kita punya secangkir gandum dan anak kambing yang kurus.”Jabir segera menyembelih kambing itu, lalu istrinya memasaknya, kemudian membuat beberapa potong roti gandum. Setelah makanan siap disajikan, Jabir bergegas pergi menemui Rasulullah Saw.“Wahai Rasulullah, aku punya sedikit makanan di rumah. Sudilah kiranya Tuan datang ke rumahku bersama dua atau tiga orang untuk menyantapnya,” ujar Jabir.“Apa yang telah kausiapkan?” tanya Rasulullah Saw.Jabir menuturkan apa adanya. Lalu, Rasulullah Saw. berkata: “Makanan yang banyak dan baik. Tolong katakan kepada istrimu agar jangan dulu membuka tutup panci dan menghidangkan rotinya hingga aku datang.” Maka, Jabir bergegas pulang ke rumahnya mendahului Rasulullah.Sementara itu, Rasulullah Saw. berseru kepada para sahabat: “Berhentilah kalian semua. Mari kita pergi ke rumah Jabir.” Jabir tiba di rumahnya dan meceritakan obrolannya dengan Rasulullah Saw. termasuk pesan beliau. Namun, beberapa saat kemudian Jabir terhenyak kaget dan panik melihat di depan rumahnya, Rasulullah datang bersama semua sahabat Anshar dan Muhajirin. Ia berpaling kepada istrinya dan berkata gugup: “Celaka, beliau datang bersama semua sahabat.”“Apakah beliau telah bertanya sebelumnya kepadamu?” tanya istrinya.“Ya, sudah.” Jawab Jabir.“Maka, kau tidak perlu kaget,” jawab istrinya.Jabir menyilahkan Rasulullah dan para sahabat di rumahnya. Kemudian Rasulullah Saw. membuka tutup panci dan mengambil sesendok masakan daging kambing itu dan mengambil sepotong roti. Lalu, para sahabat mengikutinya hingga semua orang yang datang ke rumah Jabir bisa makan dengan kenyang. Setelah semua orang makan, Rasulullāh Saw. menyuruh istri Jabir untuk makan. Ternyata, di panci itu masih tersisa masakan untuk Jabir dan istrinya, begitu pula rotinya. MasyaAllah..Dalam kesempatan yang berbeda, Jabir mengunjungi rumah ibunya, dan ternyata ibunya telah membuatkan makanan. Ia berkata: “Hai Jabir, pergilah kepada Rasulullah dan undang beliau makan.”Maka, Jabir bergegas pergi menemui Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah membuatkan makanan, dan beliau mengundang Tuan untuk menyantapnya bersama kami.”Rasulullah Saw. berpaling kepada para sahabat dan berkata: “Mari kita pergi ke sana.” Rasulullah Saw. datang diiringi 50 orang sahabat. Jabir sendiri terkejut dan bergegas pergi ke rumah ibunya untuk menyampaikan kabar kedatangan Rasulullah bersama puluhan sahabatnya.Tiba di tutujan, Rasulullah dan para sahabat duduk di depan pintu. Kemudian beliau berkata: “Masuklah kalian sepuluh orang-sepuluh orang!” Kemudian, mereka semua makan sampai kenyang. Ternyata, hidangan yang hanya sedikit itu masih tersisa meski semua orang telah makan. MasyaAllah…Suatu hari dalam sebuah ekspedisi bersama pasukan Muslim, Rasulullah Saw. dan kaum Muslim merasa lapar, sedangkan perbekalan sudah sangat menipis. Maka, beliau bertanya kepada Abu Hurairah: “Apakah kita masih punya sesuatu untuk dimakan?”“Ya, kita masih punya kurma di kantong perbekalan,” jawab Abu Hurairah.Kemudian Rasulullah Saw. mengambil kurma, menggenggamnya, dan berdoa agar diberkahi Allah. Setelah itu, beliau menyuruh semua pasukan makan dari wadah perbekalan itu hingga mereka semua merasa kenyang. Setelah mereka semua makan, Rasulullah Saw. berkata: “Ambillah kurma yang kupegang tadi!”Abu Hurairah lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong, dan ia menemukan di dalamnya kurma yang sangat banyak.Abu Hurairah ra. menuturkan: “Aku masih bisa makan kurma dari kantong itu sampai masa Khalifah ‘Utsman ra. Ketika Khalifah ‘Utsmān terbunuh, kurma itu habis.” MasyaAllah…Itulah diantara banyaknya kisah mukjizat kekasih hati Rasulullah Saw, makanan yang diberkahi.Mudah mudahan berkat membaca cerita ini. Allah ta’ala menambahkan rasa cinta kita kepada kekasihnya Sayyidina Muhammad Saw, sehingga kita dikumpulkan kelak bersama beliau dan bertemu Allah ta’ala dengan keadaan Allah Ridho kepada kita semua. (abi sorban)آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ -

TRAGEDI UTSMAN: DARI HOAKS KE PEOPLE POWER

LD PWNU Jawa Barat – Ide anti pemerintah, anti otoritas yang sah dan anti konstitusi, ide kuno yang dalam sejarah Islam pertama kali muncul ketika Dzul Khuwaisirah ketika protes atas pembagian harta emas yang dikirim Ali bin Abi Thalib dari Yaman yang dilakukan Rasulullah Saw. Protes Dzul Khuwaishirah menyinggung perasaan Nabi Saw. Secara tidak langsung dia menuduh Nabi Saw berbuat dzalim.
Saking tidak beradabnya dia menyuruh Rasulullah Muhammad Saw bertaqwa kepada Allah, “Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah.” Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]). Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]).
Sebagai sebuah gerakan politik, Abdullah bin Saba’ orang pertama yang mengorgansir gerakan anti pemerintah dan inkonstitusional. Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Berlagak bak ulama dia menyebar isu, opini negatif, tuduhan miring dan hoaks di tengah-tengah masyarakat muslim yang baru tumbuh di daerah-daerah pinggiran pusat Islam saat itu, Bashrah, Kufah dan Mesir.
Masyarakat muslim yang baru menerima Islam. Keimanan mereka masih labil. Ilmu pengetahuan mereka belum kokoh. Tapi semangat keberagamaan mereka menggebu-gebu. Pengikut Abdullah bin Saba’ kebanyakan orang-orang Badui Arab yang baru hijrah dari kehidupan jahiliyah.
DR. Utsman bin Muhammad al-Khamis dalam Hiqbah Minat Tarikh yang terbit 2007 di Kairo mencatat 13 tuduhan ditujukan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya kepada Khalifah Utsman. Edisi Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’i cetakan kelima 2016 dengan judul “Inilah Faktanya”.
Tuduhan-tuduhan yang mendeskriditkan Khalifah Utsman. Sebagian tuduhan sudah dibantah Khalifah Utsman sewaktu rumahnya dikepung massa aksi people power yang datang dari tiga kota Muslim di luar Jazirah Arab. Sebagian lagi dibantah para sahabat kepada utusan massa people power ketika mereka berdialog.
Enam tuduhan yang bukanlah kesalahan dan pelanggaran terhadap syariah melainkan ijtihad syar’i sebagai Khalifah. Sebagai Khalifah, Utsman berhak dan berkewajiban melakukan ijtihad politik dalam rangka menyempurnakan tugasnya mengatur urusan umat.
Ijtihad politik Khalifah Utsman yang dibully tersebut adalah: Mengangkat keluarga menjadi pejabat, membakar mushaf-mushaf dan memerintahkan kaum muslimin untuk menrujuk kepada satu mushaf saja, memperluas lahan konversi hewan ternak dan kuda, tidak mengqashar shalat dalam perjalanan, tidak mengqishash ‘Ubaidullah bin Umar padahal dia membunuh Hurmuzan dan menambah adzan kedua dalam shalat Jum’at.
Dua tuduhan miring tetapi justru itu kebaikan Khalifah Utsman yaitu Utsman tidak ikut perang Badar dan tidak hadir pada Bai’atur Ridlwan dan menge Perihal Utsman absen saat perang Badar karena saat itu ia sedang menjaga istrinya yang juga putri Rasulullah saw yang sedang jatuh sakit.
Tentang ini Nabi saw bersabda: inna laka ajra rajulin mimman syahida badran wa sahmahu ‘Sungguh, engkau mendapatkan pahala seperti pahala seorang yang ikut perang Badar. Engkau juga berhak mendapat ghanimahnya.’ Sementara ketidakhadirannya dalam Bai’atur Ridwan karena Utsman diutus Nabi saw ke Mekkah untuk melakukukan negosiasi dengan kaum Quraisy. Sudah barang tentu justru karena kemuliaan Utsman di mata Nabi saw dan di mata kaum Quraisy, dia diutus ke Mekkah.
Saat Utsman bernegosiasi, prosesi Bai’atur Ridlwan dilakukan. Sambil mengulurkan Rasulullah saw kemudian bersabda: “Tangan ini mewakili Utsman.” (Shahihul Bukhari, Kitab Fadhail Shahabah, Bab Manaqib Utsman no. 3699).
Hanya satu tuduhan yang memang kesalahan Utsman. Itupun kesalahan kecil yang sangat manusiawi. Kesalahan itu sudah dimaafkan dan diampuni yakni lari ketika pasukan kaum muslimin diserang balik waktu perang Uhud sebagaimana firman Allah swt
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Ali Imran; 155).
Kendati demikian, Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang menjadi peletak dasar gerakan Khawarij terus menyudutkan Khalifah Utsman dengan isu-isu hoaks. Khalifah Utsman difitnah telah mengasingkan Abu Dzar al-Ghifari ke Rabadzah.
Abu Dzar sahabat Nabi saw dikenal jujur, zuhud dan wara’. Di Syam dia debat dengan Muawiyah yang saat itu menjadi Gubernur. Mereka berdua ikhtilaf soal tafsir ayat ke-34 surat at-Taubah tentang larangan menimbun emas dan perak. Muawiyah berpendapat ayat itu ditujukan kepada ahlu kitab, adapun Abu Dzar mengatakan ayat itu untuk umat Islam dan ahlu kitab.
Perdebatan ini buntu tidak ketemu jalan penyelesaiannya. Lalu Muawiyah menulis surat ke Khalifah Utsman. Dia mengadu kelakuan Abu Dzar. Lalu Khalifah Utsman meminta Abu Dzar menemuinya di Madinah. Abu Dzar mengisahkankan ceritanya kepada Khalifah Utsman.
Setelah itu Khalifah Utsman berkata: “Kalau engkau mau pergi engkau boleh melakukannya, tapi ke tempat yang tidak jauh (dari Madinah).” Itulah yang membuat Abu Dzar pergi ke Rabadzah. Sebagai warga negara yang baik, Abu Dzar tunduk, patuh dan taat kepada Khalifah. Dia berujar: “Seandainya yang menjadi pemimpinku berasal dari orang Habasyah, aku tetap akan mendengar dan tunduk kepadanya.” (Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab “Ma Uddiya Zakatahu bi Kanzin no. 1406).
Jadi sebenarnya Abu Dzar mengasingkan diri ke Rabadzah karena keinginannya sendiri. Khalifah Utsman tidak pernah mengusirnya dari Madinah. Abu Dzar sendiri pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: idza balagha al-bina’u sal’an fakhruj minha ‘Jika kamu menyaksikan bangunan di Madinah sudah setinggi Gunung Sala’, maka keluarlah dari Madinah’ (Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad, IV:226). Artinya Nabi saw sendiri yang memerintahkan Abu Dzar untuk meninggalkan Madinah.
Kaum Khawarij juga menyebarkan hoaks bahwa Khalifah Utsman mengembalikan Marwan bin al-Hakam ke Madinah yang telah diasingkan oleh Nabi saw. Padahal faktanya Marwan bin al-Hakam masuk Islam waktu fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah). Ia termasuk orang-orang yang disebut Nabi sebagai orang-orang yang yang bebas dari segala tuntutan hukum atas perbuatannya di masa lalu.
Marwan bin al-Hakam tinggal di Mekkah, lalu bagaimana mungkin dia diusir Nabi dari Madinah?!. korupsi memberi Marwan bin Hakam 1/5 harta ghanimah. Padahal 1/5 harta ghanimah yang diberikan Khalifah Utsman diambil dari bagian Imam/Khalifah yang pembagiannya diserahkan kepada ijtihad Khalifah.
Hoaks yang menggelikan, Khalifah Utsman dituding kaum Khawarij telah memukul Ibnu Mas’ud hingga ususnya robek dan memukul ‘Ammar hingga tulang rusuknya patah. Ini jelas kebohongan. Tidak mungkin orang selemput Utsman bertindak kasar apalagi kepada sahabat Nabi saw. Andaikata usus Ibnu Mas’ud robek, tentu dia sudah mati dan bagaimana mungkin Ammar bisa ikut perang Shiffin bersama Khalifah Ali dengan rusuk yang patah.?!
Massa people power yang sudah kemakan hoaks tidak menyadari kalau ada invisible hand yang bekerja di balik kencangnya tuntutan kepada Khalifah Utsman untuk meletakkan jubah kepemimpinannya. Massa yang terbakar emosinya makin kalap. Mereka merangsek masuk ke dalam rumah Khalifah Utsman. Dan akhirnya Khalifah Utsman syahid saat membaca al-Qur’an di tangan kaum Khawarij. Gerakan makar kaum Khawarij menjadi nota hitam sejarah umat Islam yang tak bisa dihapus sampai hari kiamat.
Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap i’tidal, sikap yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw di tengah ketegangan dan konflik politik. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8).
Semoga hal ini tidak terjadi di negara kita. Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman kita ambil hikmahnya, bahwa gerakan makar berawal dari isu-isu hoaks menjadi people power. Direvisi di Tangerang, 16 Juni 2020 ( Ayik Heriansyah )