Tag: Kiai

  • KISAH PENUH HIKMAH, Kiai Kok Gak Meyakinkan!

    KISAH PENUH HIKMAH, Kiai Kok Gak Meyakinkan!

    Infokom Banser NU – Muktamar NU, di Yogyakarta, 1989. Almaghfurlah KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, dengan penampilannya yang (sangat) sederhana mau memasuki gedung acara. Beliau, seperti orang biasa, berpakaian seadanya, datang tepat waktu bahkan sebelum acara dimulai.

    Sebelumnya, Banser yang menjadi penjaga gedung telah diberi kabar bahwa Kiai Sahal bakal rawuh. Dalam bayangan Banser yang sama sekali belum pernah bertemu Maestro Fiqh Sosial itu, Kiai Sahal adalah sosok kiai yang gagah, dikawal para pendereknya, lengkap dengan asesoris Kiai dan memakai sorban melilit di kepala.

    Begitu Kiai Sahal rawuh dengan penampilannya yang bersahaja dan ingin masuk, Banser curiga dan mencegat Kiai Sahal. “Bapak siapa gih?” tanya Seorang Banser. “Saya Sahal..” Si Banser menatap lekat-lekat pria di depannya, dari ujung kaki hingga pucuk kepala. Kesimpulannya, Seseorang di depannya ini bukanlah Kiai Sahal Mahfudz. “Wong kiai kok penampilannya nggak meyakinkan begitu.!” batinnya. “Maaf, tapi Mungkin Bapak bisa menunggu di luar gedung dulu ya Pak…” si Banser ini bermaksud mengusir Kiai Sahal dengan halus.

    Di dalam gedung, panitia ketar-ketir menunggu Kiai Sahal yang tidak juga hadir. Salah seorang panitia akhirnya bertanya ke Banser, Kok Kiai Sahal belum rawuh? Apa tadi ndak ada seseorang bernama Kiai Sahal mau masuk. “Ya, Kang. Ada, tadi. Orangnya biasa saja. Kayaknya sih bukan Kiai. Lha wong penampilannya saja kaya gitu, juga ndak pakai sorban di kepalanya..” .
    “Aduh, mati aku.! ” sahut panitia yang langsung melesat pergi mencari Kiai Sahal di sekitar gedung dan menemukannya duduk santai bersama penjual dawet! “Lha wong tadi nggak boleh masuk sama Banser dan diminta nunggu di sekitar gedung, ya wis. Saya manut sama Banser.” jawab Kiai Sahal sambil tersenyum.
    Khususon ilaa Kiai Sahal Mahfudz, Lahu al-Faatihah

    #alanumedia #alanu #ala_nu

  • Tausiyah Habib Ali al-Jufri kepada Banser

    Tausiyah Habib Ali al-Jufri kepada Banser

    https://youtu.be/-e2_SEVPaz8
    Habib Ali al-Jufri

    Infokom Ansor Banser NU-Habib Ali al-Jufri kepada Banser “mata-mata yg tidak menangis di hari kiamat adalah mata mereka yg tidak tidur utk menjaga keamanan manusia” Lihat ekspresi pak Banser, saat mendengar tausiyah Habib Ali, tidak ada terdengar teriakan dan pekikan takbir, malah mewek sambil berdoa, kenapa?! Karena selama ini Banser menjaga keamanan, kemanusiaan, negara dan bangsa bukan untuk gagah-gagahan. Itu semua karena gerakan dr hati ruhani untuk melaksanakan perintah ulama-kiai.

  • Penghinaan pada kiai Terjadi lagi di sosial media facebook

    Penghinaan pada kiai Terjadi lagi di sosial media facebook

    Infokom Banser NU– Kembali lagi penyalahgunaan sosial terjadi. kali ini akun Facebook atas nama Suda Wirat (kilongso) https://www.facebook.com/masprabowo.mas telah melakukan penghinaan terhadap Gus Muwafiq ULAMA NU PAKAR SEJARAH “BIOGRAFI KYAI MUDA JAWA TENGAH” .

    Facebook atasnama Suda Wirat memposting gambar tentang Gus Muwafiq dengan kata-kata kotor, penuh dengan umpatan. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=743829212780287&set=a.100869350409613&type=3&theater

    Kali ini sahabat Infokom Banser NU Mojokerto akan segera mengambil tindakan sesuai proses Hukum yang berkaitan dengan Undang-undang ITE yaitu perbuatan yang dilarang dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ialah dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Infokom Ansor Banser Mr

  • ISYARAT SANG KYAI -bag 1-

    ISYARAT SANG KYAI -bag 1-

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Para kyai, yang ‘alim ‘allamah dan wira’i senantiasa di kuasakan oleh Allah untuk menjaga jam’iyah kita tercinta, Nahdlatul Ulama.

    Beliau-beliau yang seperti di sampaikan dalam Al-Qur’an, sudah mencapai tingkatan : la takhafuu lawmata laaim ; tidak takut akan cacian manusia.

    Salah satu dari sekian banyak ulama di NU, adalah : KH. Anwar Manshur, Rais Syuriyah PWNU JATIM saat ini, kyai -yang menurut kami- sangat alim, allamah dan sangat wira’i.

    Beliau ini dalam setiap event pilihan, baik pemilu legislatif atau pilihan jabatan politik -semenjak reformasi- istiqamah untuk memberikan isyarat pilihan kepada para santri, Muhibbin dan Nahdliyyin pada umumnya.

    Tentu ini berdampak banyak hal pada beliau ; pujian, sanjungan, dan bahkan cacian dan makian juga pernah beliau rasakan.

    Banyak juga alumni dari pesantren asuhan beliau, pernah mengeluh atau tepatnya ngeman terhadap sikap beliau dalam setiap event pemilihan politik, yang bisa jadi akan memberi efek negatif pada Sang Kyai.

    Beliau tetap keukeuh dengan prinsip beliau ini, dan di setiap event pilihan politik bisa di pastikan beliau akan selalu memberikan isyarat pilihan beliau pada masyarakat luas.

    Teringat dawuh Gus Dur ; “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran”. (abi SORBAN)

    #santri nderek kyai
    #nderek kyai sampai mati
    #nu jama’ah – NU jam’iyah

  • 1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dalam acara Haul H. Drail, HJ, Daiyah dan Gus H. Samiun, yang diadakan pada hari kamis, 1 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, banyak jama’ah dan sahabat ISHARI NU dari berbagai wilayah hadir dalam acara yang diadakan di Dsn Treceh Desa Sajen Kec. Pacet Mojokerto.

    Acara yang dimulai ba’da Sholat Magrib itu berakhir dinihari pukul 01.00 wib 2 Oktober 2020 yang dilanjut dengan khotmil Qur’an sampai Subuh. Mengingat padatnya acara dan banyaknya tamu yang hadir dari berbagai wilayah maka, Banser Satkoryon Pacet mengadakan koordinasi yang rapi dalam kegiatan tersebut.

    Mengingat tempat parkir yang berada di tengah perkampungan warga, banser satkoryon pacet sampai membagi 10 titik pos penjagaan dalam pengaturan lalu lintas, demi kelancaran kendaraan yang biasa keluar masuk pada daerah tersebut.

    Tampak hadir ulama’ dan kiai seperti Pengasuh Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet KH. Muslikh Abbas dan Mbah Khusain Ilyas yang dalam kesempatan tersebut sempat memberikan cerita dongeng oSholawat.

    Telah dikisahkan Oleh Kiai NAWAWI yang diceritakan ini adalah seseorang yang bernama KABUL. Dan Menurut cerita Mbah Khusain Ilyas, kiai NAWAWI kalau mati ingin seperti KABUL. Apa sih yang dilakukan KABUL itu?

    Bahwa kiai NAWAWI itu suka membaca sholawat, apalagi pas acara maulud nabi, dan KABUL itu pekerjaannya gembala kambing dan kambingnya itu tidak kurang dari 5000 ekor. Setiap malam jum’at ada kegiatan sholawat dan KABUL ini bilang ke kiai NAWAWI kalau ada kegiatan sholawat dipersilahkan ambil kambingnya untuk dijadikan makanan pada acara sholawat tersebut. Jadi setiap malam jum’at selalu ada pengambilan kambing buat hormat dalam kegiatan sholawat.

    Jaman dahulu musholla / langgar itu mangkring (ada diatas) dan dibawahnya itu kolong, Jadi KABUL itu suka sholawatan pas membaca Ashroqol Badru, pasti ada di bawah langgar atau musholla dan membaca paling keras sendiri diantara jama’ah karena sangat cintanya sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Cerita ini berjalan beberapa tahun, cuma KABUL ini menderita penyakit kulit (borok sekujur tubuhnya) semua badannya itu melepuh. Ketika akan ada lagi kegiatan sholawat itu, salah seorang utusan kiai NAWAWI itu berencana mengambil kambing buat acara sholawat, KABUL ini minta ijin gak bisa ikut kegiatan sholawat dikarenakan luka borok sekujur tubuhnya dan berbau tidak sedap serta gak bisa memakai pakaian jadi tidak bisa ikut kegiatan sholawat yang rutin diadakan oleh kiai NAWAWI.

    Ketika acara sholawat dimulai, pas membaca Ashroqol Badru, dan KABUL ini sangat sayangnya dengan Nabi Muhammad SAW maka bangunlah KABUL dari rumah menuju langgar/musholla itu dalam keadaan telanjang dan merangkak menuju bawah musholla, karena sangat sayangnya pada Nabi Muhammad SAW. Setelah srokalan selesai, seperti ada bulan jatuh yang cahayanya itu terang benderang dan berjalan kearah musholla. KABUL marah dan menggerutu, ada orang yang telanjang begini kok malah di dekati.

    Cahaya itu tambah dekat dan semakin dekat dengan KABUL dan KABUL semakin marah, kok tambah didekati dalam keadaan telanjang itu. Dan akhirnya pipi kanan KABUL itu di pegang oleh cahaya tadi dan bilang ” KABUUUL, aku Rusullulloh SAW ” dan apa yang terjadi… KABUL disayang dicium dengan Nabi Muhammad SAW kemudian KABUL meninggal dunia. Makanya kiai NAWAWI berkata kalau mati ingin didoakan seperti matinya KABUL.

    Setelah kematian KABUL dibawah langgar / musholla tadi, yang didatangi Nabi Muhammad SAW itu kiai NAWAWI, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh sekaligus memberitahukan kalau KABUL sekarang meninggal dan ada di bawah langgar / musholla, besok setelah selesai sholat subuh panggulen ( gendong ) dan harus kamu yang gendong, kalau sucikan harus kamu yang pangku, kalau dikubur harus kamu yang memasukkan keliang lahat (kuburan). Subhanalloh..

    Padahal TUBUH kabul banyak borok serta baunya gak sedap, setelah di cium dengan Nabi Muhammad SAW, Air yang jatuh menjadi harum. Mudah-mudahan kita semua akan di sayang oleh Nabi Muhammad SAW.( abi sorban)

  • SAMPEYAN PERCAYA NABI ATAU KYAI???

    SAMPEYAN PERCAYA NABI ATAU KYAI???

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : Shuniyya Ruhama

    cyberaswaja.online –Kalimat di atas kerap sekali terdengar, menghenyakkan kita semua. Mempertanyakan kapasitas muktabaroh Ulama, dan membandingkan dengan Kanjeng Nabi yang memang jelas tidak berbanding sama sekali. Jika tidak faham, maka akan jelas sekali seolah-olah banyak perkara yang dilakukan oleh Kyai bertentangan dengan Kanjeng Nabi.

    Kyai itu tidak berpendapat melalui hayalan beliau sendiri, melainkan berdasarkan ajaran dari Kyainya Kyai juga. Demikian seterusnya hingga sanad bersambung kepada Kanjeng Nabi. Jadi tidaklah benar bahwa Kyai itu menyelisihi Kanjeng Nabi.

    Ibaratnya, saat Kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk “ngliwet sego”. Maka yang dilakukan Kyai bukan ‘sego diliwet’, melainkan akan ‘mususi’ beras, ‘dikaru’. Setelah setengah matang, ‘beras karon’ ini ditanak dalam dandang. Inilah yang disebut ngliwet sego.

    Sementara, mereka yang tidak punya guru yang jelas sanadnya, begitu ada perintah Kanjeng Nabi untuk ‘ngliwet sego’, maka yang mereka lakukan adalah mencari nasi untuk diliwet. Karena dalam hayalannya yang namanya ‘ngilwet sego’ berarti harus ada ‘sego’ kemudian ‘diliwet’.

    Tidak sampai di situ, mereka memprovokasi, mencaci maki dan mentertawakan serta menganggap kita bodoh, salah, menyelisihi Quran Hadits karena diperintahkan ‘ngliwet sego’, tapi malah kita ‘mususi beras’ dst.

    Itulah gambaran bagi wong NU yang belajar dari Kyai dalam memahami Quran dan Hadits, jika dibandingkan dengan mereka yang over percaya diri “memurnikan” Quran Hadits dan langsung mengambil hukum dari sumbernya, tanpa menggunakan ilmu alat.

    Lalu, mereka akan mempertanyakan kepada kita, “Anda percaya dengan Nabi atau Kyai?”, seakan-akan Kyai kita itu salah dan tersesat dalam memahami nash suci. Bagi masyarakat awam, hal ini tentu akan bisa menjerumuskan mereka untuk tidak percaya lagi dengan para ulama muktabaroh an nahdliyyah.

    Maka kita saksikan akhirnya, mereka beribadah, berijtihad dan mengambil hukum tidak jelas jluntrungnya karena memang tidak pernah dilakukan oleh generasi-generasi Ulama terdahulu.(abi sorban)

     

     

  • KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz:

    Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?

    Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?

    Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama makhluk?

    Tidakkah hanya Allah saja yang layak disembah?

    Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik. Habib Umar hanya tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari seorang pemuda tersebut.

    Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya.

    Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

    Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya kebawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata: “Jangan menunduk!, tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

    “Tidak, aku hanya ingin mengambil pena ku di bawah.”

    Lantas Habib Umar berkata: “Aku ini ibaratkan pena, seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena, Begitu juga dengan murid-muridku mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku, Aku tidak pernah memaksa, aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda; Seorang thalabul ilim tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

    Inframe : Kiai Kafabihi Mahrus mencium tangan Kiai Dimyati Rois
    Credit : Ulama Nusantara

  • Tokoh Agama Dunia Bingung pada NU

    Tokoh Agama Dunia Bingung pada NU

    SORBANSANTRI.COM
    Syeikh al-Bouthiy dan NU

    SORBAN SANTRI- Ketika KH Aunullah A’la Habib (Gus Aun) ke Yerussalem, Israel saat pertemuan tokoh-tokoh agama di dunia, kemudian ada keheranan dari yang hadir pada pertemuan tersebut.

    Mereka heran kenapa ada organisasi masyarakat Islam modelnya seperti NU. Warganya 90 juta (sekarang 100 juta lebih), punya militer seperti Banser waktu itu 5 juta (sekarang lebih), punya kumpulan pendekar yaitu Pagar Nusa yang jumlahnya jutaan. Tapi tidak pernah mau menguasai atau mengambil alih kepemimpinan di Indonesia. Mereka pun terheran-heran. Mereka heran, apa karena memang NU tidak tahu caranya atau bagaimana.

    Kemudian Gus Aun pun menjelaskan, bahwa orang-orang NU itu adalah murid-murid para ulama yang punya sanad keilmuan yang nyambung kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Artinya, orang-orang NU belajar kepada ulama tidak pernah diajarkan untuk merebut kekuasaan, menguasai, bughot atau memberontak. Yang diajarkan oleh para kyai-kyai NU adalah bahwa orang-orang NU harus menjadi rahmat dan menebar kemanfaatan dan membantu Indonesia untuk lebih baik. Itu saja. Sekali lagi tidak ada dalam kamus NU untuk kudeta.

    Mereka pun masih belum paham dengan jawaban Gus Aun, dan mereka masih tetap bingung. Sebab, mau dijelaskan bagaimana pun, mereka tetap akan bingung dengan NU.

    Tapi itulah NU. Tidak ada di dunia ini ormas seperti NU yang tidak punya tujuan kudeta. Tidak ada.

    Begitulah NU. Maka bersyukur alhmadulillah karena NU telah dibimbing oleh ulama-ulama dan kiai-kiai yang senantiasa terus istiqamah, berkomitmen untuk NKRI.

    (KH Aunullah A’la Habib)

  • Hadis Harus Melewati Tahap Seleksi Ahli Fiqih

    Hadis Harus Melewati Tahap Seleksi Ahli Fiqih

    SORBANSANTRI.COM
    para ulama kita dahulu teramat sulit mengajarkan ilmu Islam dan mewariskan kepada kita yang sudah berjalan ribuan tahun akan ambyar dan hancur lebur dengan komentar seperti di atas ini

    SORBAN SANTRI- Orang-orang NU dan yang mengikuti sistem 4 madzhab tidak serta merta menerima hadis, kecuali hadis tersebut sudah diseleksi oleh ahli fikih dalam ijtihadnya. Mengapa?

    Dalil, baik ayat Al-Qur’an maupun hadis adakalanya memiliki redaksi umum dan khusus. Ada yang jangkauannya luas (mutlaq) dan terbatas (muqayyad). Ada yang hukumnya dihapus (mansukh) dan yang menghapus (nasikh). Siapa yang mengetahui dan menguasai ilmu ini? Ya ulama ahli fikih, khususnya 4 madzhab.

    Bedanya dengan ahli hadis? Ahli hadis itu menghafal redaksi atau teks hadis, mengetahui masing-masing nama perawi dan tingkatan jarh dan ta’dil (penilaian lemah atau terpercaya), menguasai kualitas hadis dari sahih, hasan, dhaif (ada 36 macam) hingga yang hadis palsu.

    Jadi ahli hadis itu ibaratnya adalah apoteker. Ahli fikih adalah dokternya. Understand? Kalau ada orang sakit parah apa ke dokter dulu atau langsung cari obat di apotik? Ya, ke dokter dulu. Demikian pula kalau ada permasalahan agama yang tahu dosis dalil untuk suatu permasalahan adalah ulama ahli fikih.

    Ahli Hadis Syekh Waki’ (129 H) bertanya kepada para muridnya: “Mana hadis yang lebih kalian senangi?

    1. Dari A’masy, dari Abu Wail dari Ibnu Mas’ud? (Jalur ahli hadis)

    2. Dari Sufyan, dari Mansur Ibrahim, dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud? (Jalur ahli fikih)”

    Murid-muridnya menjawab: “Kami lebih senang yang ke 1 (jalur ahli hadis)”

    Syekh Waki’ menjawab: “Jalur pertama adalah dari ahli hadis ke ahli hadis. Dan jalur kedua dari ahli fikih ke ahli fikih.” Beliau menyimpulkan:

    حَدِيثٌ يَتَدَاوَلُهُ الفُقَهَاءُ خَيْرٌ مِنْ حَدِيثٍ يَتَدَاوَلُهُ الشُّيُوخُ.

    “Hadis yang diriwayatkan dan dibahas oleh ahli fikih lebih baik dari pada hadis yang dikaji oleh ulama ahli hadis” (Al-Hafidz Ibnu Katsir, Al-Baits Al-Hatsits, 1/22)

    Ulama ahli hadis lainnya juga memperkuat:

    عَنْ عَلِيِّ بْنِ المَدِينِيِّ قَالَ: كَانَ حَدِيثُ الفُقَهَاءِ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ حَدِيثِ المَشْيَخَةِ

    Ali bin Al-Madini berkata: “Hadis yang dikaji ulama ahli fikih lebih mereka suka dari pada hadis para ahli hadis” (Ibnu Abi Hatim Al-Jarh wa Ta’dil 2/25). (KH.MA’RUF KHOZIN)

  • Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    SORBANSANTRI.COM
    (Sumber gambar: Tribunnews.com)

    PKI BURU SANTRI DAN KYAI (KEJADIAN TAHUN 1948/SEBELUM PEMILU 1955)
    Kabar mengenai tewasnya Kyai Hamid Dimyathi Pimpinan Ponpes Tremas ditangan PKI yang disampaikan Shoimun (Baca: Part 4) membuat gempar. Sholat ghaib dan tahlil pun dilakukan di mana-mana, sehingga hal itu menyatukan semangat umat Islam khususnya kaum santri untuk kembali membebaskan Madiun dan sekitarnya dari cengkeraman PKI.  Banyak kalangan terutama kalangan Pesantren di Jawa Timur dan kalangan Birokrat juga ikut terpukul kala itu. Kyai Dimyathi merupakan ketua DPC Partai Masyumi Pacitan saat itu dan merupakan Ulama cukup dikenal disana dan juga seorang Aktivis pergerakan Kemerdekaan yang juga menjadi anggota Parlemen dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Jasad Kyai Dimyathi ditemukan dalam sebuah sumur kuburan masal di daerah Tirtomoyo Wonogiri. Ditahun itu (sebelum Pemilu pertama 1955) NU belum membentuk Partai dan Partai Masyumi merupakan partai Islam yang didalamnya bergabung para cendekiawan Islam ditanah air termasuk dari NU dan Muhammadiyah.

    SORBANSANTRI.COM
    Biorama di museum lubang buaya, PKI yang menangkapi para kyai (merdeka.com)

    Masih tahun 1948, Para PKI terus memburu para Kiai ke daerah lain sampai ke Ngawi, Di Walikukun Ngawi terdapat seorang kiai sepuh yang biasa dipanggil Mbah Ngompak. Ketika Kiai sepuh ini sedang melakukan sholat tahajud di tengah malam di mesjid di Pesantren Tanjung Sari yang diasuhnya tiba-tiba ia disergap gerombolan PKI. Mbah Ngompak diseret keluar masjid dengan tangan terikat lalu diseret dengan kuda melalui jalanan sepanjang 10 KM tetapi ajaibnya Kiai sepuh itu masih bertahan hidup. Kemudian diseret lagi hingga sampai disebuah sungai yang curam, badan Mhah Ngompak yang sudah babak belur itu dilempar ke sungai hingga menemui ajalnya di sungai tersebut.
    Pembantaian lain dilakukan gerombolan PKI pada jemaah Kiai Zaenal Abidin, saat itu Kyai Zaenal Abidin yang tengah Riyadoh bersama 25 orang santrinya di masjid ditangkap oleh PKI yang datang bersenjata senapan, klewang, pedang hingga clurit. Sudah lama gerombolan PKI mengincar kiai beserta santrinya itu, tetapi ketika sudah lama ditunggi tidak mau keluar dari masjid, maka mereka diseret keluar secara paksa. Kemudian mereka disekap kedalam rumah penduduk yang sudah kosong lalu rumah itu dibakar, sehingga semuanya mati terbakar.
    BELANDA KEMBALI MASUK INDONESIA
    Tentu saja pemberontakan PKI ini sangat membahayakan terhadap keselematan Rupublik yang baru dibangun ini. Negeri hasil Proklamasi yang baru berusia 3 tahun kala itu harus menghadapi dua lawan sekaligus. Musuh dari dalam yaitu PKI dan dari luar Belanda beserta tentara Sekutu. Ternyata kedua kekuatan yang selama ini bermusuhan menyatu dalam menghadapi Republik Indonesia. PKI mendapat bantuan besar dari Belanda. Dalam penggerebekannya terhadap Markas PKI dan Pesindo, tentara Hizbullah menemukan berbagai amunisi dari Belanda dan ditemukan bendera Belanda di markas mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: republika.co.id

    Peberontakan PKI itu juga difasilitasi Belanda sebagai bentuk politik divide et impera(memecah belah) untuk melumpuhkan Indonesia dari dalam agar Belanda mudah untuk merebut kembali Republik Indonesia untuk dijajah. Pada hari Ahad 19/12/1948 ketika republik ini menghadapi pemberontakan PKI, situasi kacau ini dimanfaatkan Belanda untuk kembali melakukan Agresi Kedua menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menagkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Muhammad Hatta. Dengan didudukinya Yogyakarta, maka satu-persatu daerah stretegis di Jawa diduduki oleh Belanda. Tentara Indonesia di bawah Pimpinan Jenderal Sudirman dengan didukung pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin KH Masykur dan KH Zainul Arifin dari NU terus melakuakan perang. Sebaliknya PKI Pesindo yang juga berambisi mengambil alih kekuasaan dengan jalan pintas, tertarik dengan agenda Belanda itu, karena itu mereka melakukan pemberontakan pada saat bangsa ini sedang melakukan revolusi nasional.

    SORBANSANTRI.COM
    KH.Masjkur (Lahir di Malang – JATI), Pemimpin Laskar Sabilillah Saat itu (kompas.com)

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Zainul Arifin (Lahir di Tapanuli Tengah – SUMUT), Pemimpin Laskar Hisbullah saat itu (nu.or.id)

    PARA PIMPINAN PKI DIEKSEKUSI MATI, NAMUN AIDIT BERHASIL KABUR (KEJADIAN 1948)

    Setiap daerah yang dilalui oleh pasukan PKI di situ dilakukan pembantaian dan perampasan. Bila terjadi perlawanan maka terjadilah perang sasudara, yang memakan korban di kedua belah pihak, setelah itu PKI lari lagi mencari perlindungan di daerah tersembunyi menjauh dari kejaran Tentara. Walaupun keadaan sudah di kuasasi Tentara mulai dari pusatnya di Madiun sendiri maupun daerah sekitarnya yang menjadi benteng pertahanan PKI terjadi berbagai peristiwa bentrok antar PKI dan warga terus terjadi walaupun dalam skala kecil 
    Dengan kekuatan penuh Tentara dari Divisi Siliwangi dan ditopang oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah keadaaan bisa dipulihkan. Mengingat kekuatan PKI yang telah sedemikian kuat dan menyebar yang meliputi kawasan Jawa Timur dan Jawa tengah maka pasukan pemerintah harus bekerja keras dan cepat. Dengan kerja kerasnya itu maka, kesatuan Republik bisa dipertahankan persis pada 30 September 1948 Madiun dan semua daerah yangPemberontak menguasai keadaan sekitar 13 hari dengan memakan korban nyawa dan harta serta budaya yang tak terhidung jumlahnya. Para gembong PKI seperti Muso, Amir Syarifuddin, Maruto Darusman serta pimpinan lainnya diburu oleh tentara sebelum akhirnya ditembak mati diwaktu yang berbeda.
    Pada 19/12/1948 di tengah malam, atas perintah tentara para warga Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo menggali lubang besar untuk makam Amir Sjarifoedin dkk yang tertangkap, Proses Eksekusi dilakukan secara terburu-buru mengingat Belanda akan melakukan agresi militer Kedua di Indonesia beberapa jam kemudian.
    Sambil menunggu Eksekusi, Amir sempat bertanya kepada seorang Tentara berpangkat letnan: 
    “apa yang akan terjadi?” tanya Amir. Amir bersama 10 anggota PKI yang tertangkap didakwa melakukan makar terhadap pemerintah.
    “Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?”tanya Amir.
    Namun Perwira itu bergeming dan menjawab. “Tidak usah banyak bicara,” sambil menyodorkan surat perintah eksekusi mati.
    “Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih,” tanya Amir lagi.
    Tanpa tedeng aling-aling, pasukan regu tembak mulai mengisi bedilnya dengan amunisi, sebelum ditembak mati, Amir masih sempat menyanyikan lagu Mars Komunis.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI yang di tembak mati pada 1948 (merdeka.com)

    SORBANSANTRI.COM
    Ketika Amir Sjarifoedin Tertangkap dan Digiring oleh Tentara sebelum di tembak Mati pada 1948, Siapa Sangka Tokoh PKI Amir Syarifuddin pernah menempati posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. (sumber: historia.id)

    Pasukan FDR PKI makin terdesak terus dalam pengejaran Tentara dan Laskar Hisbullah & Sabilillah. Ketika dalam Pengejaran pasukan Siliwangi beberapa tokoh seperti DN Aidit dan gembong PKI lainnya seperti Alimin, Tan Ling Djie, Njoto termasuk Soemarsono, selamat karena masuk ke wilayah pendudukan Belanda. Dan atas jasa Belanda yang selama ini menjadi sekutu FDR PKI, maka mereka dilarikan ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, hingga pada 1965 selanjutnya merekalah yang melakukan pemberontakan PKI kembali. Bersambung,,

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 52-58). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]