Tag: kristen

  • Pancasila Selaras dengan Syari’at

    Pancasila Selaras dengan Syari’at

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.

    Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.

    Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.

  • Mari Jaga ukhuwah islamiah dan Ukhuwah Wathoniyah di bumi Indonesia

    Mari Jaga ukhuwah islamiah dan Ukhuwah Wathoniyah di bumi Indonesia

    InfokomBanserNU- Orang Islam zaman dulu itu santai. Mereka gampang berbaur dengan budaya lokal. Tegasnya, mereka membaurkan diri. Mereka tidak khawatir soal akidah yang bakal tercemar.

    Lebaran kita makan ketupat. Sebelum Islam datang ketupat itu sudah ada di tanah Jawa. Ketupat disajikan dalam hidangan sehari-hari, juga dipakai untuk sesajen, persembahan kepada Tuhan yang diyakini pada masa itu. Islam diajarkan, tanpa kebencian pada simbol-simbol lama. Ketupat yang merupakan bagian dari ritual agama lama, menjadi bagian kemeriahan perayaan Idul Fitri.

    Ada banyak lagi pembauran-pembauran yang dibuat, yang memberi karakter kepada Islam, menjadi ciri khas yang memberikan tampilan berbeda antara Islam Nusantara, dengan Islam di bagian bumi yang lain. Berbeda, tapi tidak kehilangan substansi ajaran Islam.

    Islam yang demikianlah yang sudah membangun Nusantara selama berabad-abad. Islam yang membangun, memberi warna, memperkaya. Bukan Islam yang mencari-cari konflik dengan lingkungan tempat dia hidup.

    Mari Jaga ukhuwah islamiah dan Ukhuwah Wathoniyah di bumi Indonesia.

    #MembangunPeradaban
    #Islam

    (Baban Subandi )

  • Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Lagi-lagi terjadi di Indonesia. Hak beribadah dijadikan musyawarah. Musyawarahnya pun musyawarah tanpa peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sama sekali tidak ada perwakilan dari gereja, lembaga Kristen, Bimas Kristen atau setidaknya dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Lalu setelah itu pihak desa sok bijak meminta Sumarmi memenuhi persyaratan SKB dua menteri sebelum melakukan pembangunan rumah ibadah. Sementara sebelumnya, renovasi rumah Sumarmi tiba-tiba jadi polemik setelah berhembus kabar bahwa kediaman Sumarmi akan dijadikan gereja gara-gara bentuk renovasi rumahnya menyerupai gereja lengkap dengan glassblock salib di eksterior depan bagian atas. Sumarmipun sudah mengalah menghilangkan glassblock itu sehingga tidak ada salib.

    Melihat kelakuan mereka yang seperti ini, mungkinkah ijin mendirikan gereja di rumah Sumarmi didapatkan? Sementara melihat salib doang berupa glassblock, mereka sudah ketakutan kejang-kejang begitu. Trus gaya-gaya mau mengijinkan sebuah gereja berdiri di sana? Ngga mungkin banget khan.
    Yang menyakitkan adalah saat kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen dianggap sebagai kegiatan yang meresahkan warga. Sekarang mari kita bayangkan jika ada warga minoritas mengatakan ibadah dan doa bersama umat mayoritas adalah kegiatan yang meresahkan warga. Pasal penistaan pasti langsung bicara. Dari kasus inilah saya menumpahkan semua isi hati saya dalam artikel ini. Sejahat itukah kalian memperlakukan orang lain, sementara diri kalian sendiri tak suka diperlakukan seperti itu? Lalu kepada siapakah kami warga minoritas bisa mengadu tentang ketidakadilan seperti ini selain kepada Tuhan?
    Mengadu pada Presiden Jokowi sudah sering kami lakukan lewat banyak tulisan. Tapi tampaknya Jokowi terlalu sibuk dengan pembangunan berderet-deret infrastruktur yang ada. Mengadu pada Menteri Agama “Islam” RI juga sama saja. Inilah yang dinamakan salah mengadu.
    Dari sinilah saya langsung teringat pada teman-teman NU dan Banser yang selama ini sangat baik pada kami umat minoritas. Saya terkenang pada Banser Riyanto dari Mojokerto. Atas dasar inilah saya memberanikan diri minta tolong “lagi” pada teman-teman NU dan Banser Mojokerto untuk membantu menyelesaikan masalah intoleransi di sana. Semoga kali ini saya tidak salah mengadu. Amin. Terpujilah Tuhan.
    (Berikut adalah berita yang redaksi peroleh dari Group FB yang bersumber dari seword)
    (ABI SORBAN)
  • AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Hal yg bukan masalah, jadi dipermasalahkan. Sesuatu yg sederhana dibikin rumit luar biasa. Materi universal seperti bahasa, hendak dikuasai oleh kalangan tertentu saja.

    Jika paham tentang Indonesia, pastinya tahu bahwa sebelum Islam datang ke Nusantara, masyarakat memeluk agama yg lainnya. Ada Hindu, Budha, Kepercayaan nenek moyang, dan sebagainya. Bahasanya pun tetap sama sejak dahulu sampai sekarang, sejak sebelum Islam datang hingga ada yg menjadi mayoritas di berbagai daerah. Ada minang, melayu, jawa, sunda, bugis, makassar, batak dan sebagainya.

    Tahukah kita jika masyarakat Islam Indonesia sejak dulu terbiasa menggunakan istilah sembahyang dibandingkan sholat? Sembahyang bukan berasal dari Bahasa Arab seperti sholat. Sembahyang adalah Sembah Sang Hyang. Agama apapun bisa menggunakannya, dan kebetulan mayoritas Islam yg terbiasa menggunakannya.🙂

    Tidak ada agama yg punya hak eksklusif terhadap suatu bahasa. Bahasa arab yg digunakan dalam kitab agama Islam pun digunakan oleh berbagai agama lainnya seperti Kristen, Katolik, Koptik, Yahudi, dan sebagainya.

    Ah, betapa indah teladan toleransi yg ditunjukkan 2 ULAMA BESAR Indonesia asal Sumatra Barat yaitu KH. BUYA HAMKA dan KH. AGUS SALIM. Saudara sedarah pun bebas beda agama, karena hal itu bergantung pada diri masing2, dan tentunya sudah takdir dari Allah SWT.

    ALLAH SWT menciptakan semua bahasa untuk Alam Semesta. Siapa Anda yg begitu congkak dan takabur sehingga melarang yg berbeda menggunakannya? (katakita)