Tag: lebaran

  • Pendeta tenar, Gilbert Lumoindong, bikin gaduh saat libur lebaran ini.

    Pendeta tenar, Gilbert Lumoindong, bikin gaduh saat libur lebaran ini.

    wp.sorbansantri.com – Tokoh agama protestan yang memiliki banyak pengikut ini memang kerap berulah lewat pernyataannya. Gilber Lumoindong merasa diri paling benar dan semua salah, pandangan ini yang selalu dipegangnya.

    “Sebelum sembahyang (salat) Islam diwajibkan cuci semuanya, saya bilang lu itu dua setengah. Gua 10 persen, bukan berarti gua jorok, tapi sudah disucikan oleh darah Yesus,” katanya disambut tawa jemaat Protestan. Tak hanya itu, Gilbert Lumoindong juga menyindir salat yang dianggap lebih sulit dibanding ibadah dalam agamanya.

    Menurut Gilbert, jika saat hendak beribadah umat agamanya hanya sepekan sekali membersihkan diri, tidak seperti agama Islam yang setiap beribadah selalu membersihkan diri. Gerakan ibadah dalam agamanya juga tidak membuat capek karena hanya berdiri, bernyanyi, dan bertepuk tangan. “Lah kita kan bayar 10 persen, makanya kebaktian kita hanya berdiri, tepuk tangan ya santai, tidak seperti,” ujarnya.
    Sementara dalam Islam disebut ibadahnya setengah mati.

  • Lebaran 2024: Beragam Kegiatan Menarik untuk Memeriahkan Liburan Idul Fitri

    Lebaran 2024: Beragam Kegiatan Menarik untuk Memeriahkan Liburan Idul Fitri

    wp.sorbansantri.com – Dengan datangnya bulan suci Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia bersiap-siap menyambut hari raya Idul Fitri. Selain momen keagamaan yang penuh makna, Liburan Musim Lebaran juga menjadi waktu yang ditunggu-tunggu untuk bersantai dan menikmati momen bersama keluarga serta teman-teman. Untuk memeriahkan liburan tersebut, berbagai kegiatan menarik bisa menjadi pilihan untuk dinikmati bersama.

    Di berbagai belahan dunia, mulai dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa, tradisi-tradisi yang khas turut menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Berikut beberapa kegiatan yang banyak diminati untuk merayakan liburan Idul Fitri:

    1. Pulang Kampung dan Mudik: Ribuan orang di Indonesia dan negara-negara dengan mayoritas Muslim lainnya bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang kampung atau mudik. Ini adalah momen langka di mana keluarga-keluarga berkumpul dari berbagai belahan kota dan negara untuk merayakan bersama.
    2. Shalat Idul Fitri: Shalat Idul Fitri di pagi hari menjadi pusat perhatian umat Islam. Masjid dan lapangan-lapangan di seluruh dunia dipenuhi oleh jamaah yang berkumpul untuk melaksanakan shalat bersama.
    3. Berkumpul dan Bersilaturahmi: Liburan Lebaran adalah momen untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Momen ini sering kali diisi dengan acara saling bermaaf-maafan, bercerita, dan bertukar cerita.
    4. Makanan Khas Lebaran: Tak lengkap rasanya liburan Idul Fitri tanpa hidangan khas Lebaran. Mulai dari ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering menjadi sajian utama yang dinikmati bersama keluarga.
    5. Rekreasi dan Aktivitas Luar Ruangan: Banyak yang memanfaatkan liburan ini untuk berlibur atau melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga. Mulai dari piknik di taman, berkemah, hingga menikmati keindahan alam di pantai atau pegunungan.
    6. Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan: Ada juga yang memanfaatkan momen liburan Lebaran untuk melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti memberikan sedekah kepada yang membutuhkan atau berpartisipasi dalam program-program amal.

    Dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa dipilih, Liburan Musim Lebaran menjadi waktu yang berharga untuk merayakan kebersamaan dan memperkuat hubungan antar sesama. Semoga liburan Idul Fitri tahun ini memberikan kebahagiaan dan kedamaian bagi semua umat Muslim di seluruh dunia.(abiSorban)

  • ASAL USUL HALAL BIHALAL

    ASAL USUL HALAL BIHALAL

    HALAL BI HALAL

    cyberaswaja.online- Penggagas istilah “Halal bi Halal” ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

    Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

    Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.

    “Itu gampang”, kata Kiai Wahab.

    “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’, jelas Kiai Wahab.

    Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

    Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

    Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

    Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

    Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

    Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq
    KH Masdar Farid Mas’udi
    Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Sumber : MWC NU Wedarijaksa [dari NU Online]

  • PENGAMANAN MALAM TAKBIRAN MUSIM PANDEMI COVID-19 OLEH ANSOR BANSER  PACET

    PENGAMANAN MALAM TAKBIRAN MUSIM PANDEMI COVID-19 OLEH ANSOR BANSER  PACET

    SORBAN SANTRI- Seluruh Satuan Koordinasi Banser Pacet bersama GP Ansor PAC Pacet Mojokerto bekerjasama dan bersinergi dengan Pramuka,Tahura, Welirang comunity. saat ini ( Sabtu, 23 Mei 2020 ) melakukan pemeriksaan tanda pengenal ( KTP ) pada pengguna jalan, yang dikhawatirkan adanya pelanggaran PSBB yang berasal dari daerah luar Pacet Mojokerto.

    Saat ini ada 4 titik lokasi yang diadakan kegiatan pemeriksaan tersebut. Kegiatan ini dimulai sejak ba’da magrib sekitar pukul 18.00 sampai sekarang (berita ini ditayangkan). ke -2 (dua) titik tersebut adalah di Jalan Raya Desa Karangan, Pandan yang dimungkinkan asal jalur masuk kawasan wisata pacet mojokerto.

    Apalagi sekarang waktunya malam minggu yang bersamaan dengan malam takbir lebaran. dikhawatirkan adanya pemudik, pulang kampung, atau arak-arakan takbiran memakai mobil atau sejenisnya.
    Pembagian titik lokasi sudah diantisipasi Ansor Banser Kec. Pacet Mojokerto sejak minggu akhir Bulan Romadhon. Semangat Ansor Banser dalam menjaga NKRI dan Menghalau lebih meluasnya penyebaran corona ini patut diacungi jempol dan diharapkan semua warga untuk memperhatikan protokoler aturan perihal covid-19. (abi SorBan)

  • HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    SORBANSANTRI.COMcyberaswaja.online – Sebagaimana ibadah lainnya, Allah SWT memberikan dispensasi puasa Ramadhan terhadap beberapa orang tertentu, salah satunya ialah orang yang berada dalam perjalanan (musafir). Untuk itu, seorang musafir boleh tidak berpuasa dan menggantinya (qadha) di lain waktu dengan beberapa syarat.Pertama, perjalanan yang ditempuh mencapai jarak minimal diperbolehkan meringkas (qashar) salat, yakni minimal 81 KM. Kedua, ia sudah keluar batas daerah tempat tinggalnya minimal sebelum subuh menurut pendapat yang kuat. Namun menurut Imam al-Muzani, ia diperbolehkan tidak puasa meskipun perjalanan baru dilakukan di siang hari. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi:وَمَنْ أَصْبَحَ فِي الْحَضَرِ صَائِمًا ثُمَّ سَافَرَ لَمْ يَجُزْ لَهُ اَنْ يَفْطَرَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَقَالَ الْمُزَنِّي لَهُ أَنْ يَفْطَرَ كَمَا لَوْ أَصْبَحَ الصَّحِيْحُ صَائِمًا ثُمَّ مَرَضَ فَلَهُ أَنْ يَفْطَرَ .“Barang siapa yang memasuki waktu subuh masih di rumah dalam keadaan puasa, kemudian pergi, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya pada hari itu. Imam al-Muzani berpendapat, bagi orang yang pergi setelah subuh boleh membatalkan puasa sebagaimana orang yang masuk pada waktu subuh dalam keadaan sehat, kemudian mendadak sakit, boleh membatalkan puasa.” (Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab, VI/260)Apabila telah memenuhi persyaratan tersebut, seseorang boleh tidak berpuasa. Namun yang lebih baik ialah melihat kondisi dirinya ketika berpuasa. Sebagaimana penjelasan Imam Jalaluddin Al-Mahalli:وَيُبَاحُ تَرْكُهُ لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيلًا مُبَاحًا فَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ وَإِلَّا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ“Dan diperbolehkan bagi musafir untuk meninggalkan puasa dalam perjalanan jauh yang dilegalkan. Apabila ia merasa kepayahan akibat puasa, maka meninggalkan puasa lebih baik. Apabila tidak kepayahan, maka tetap puasa justru lebih baik.” (Al-Mahalli Syarh al-Minhaj, II/82)
    []waAllahu a’lam (abi SORBAN)