Tag: LIRBOYO

  • KUATKAN KAJIAN KEILMUAN , IAIN SURAKARTA KAJI KITAB ULAMA NUSANTARA

    KUATKAN KAJIAN KEILMUAN , IAIN SURAKARTA KAJI KITAB ULAMA NUSANTARA

    SORBANSANTRI.COM

    Surakarta, wp.sorbansantri.com – Shamad bin Abdurahman al-Falimbani ini mendapatkan gelar yang berderet-deret di Masjidil Haram yaitu Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A’yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci).

    Kajian yang ditujukan untuk mahasiswa IAIN Surakarta dan masyarakat umum ini diampu oleh beliau Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam ( PUSKOHIS ) IAIN Surakarta, Bapak KH. R. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, S.H.,M.H. Al-Hafidz yang akrab dipanggil Gus Mustain. Selain sebagai Direktur PUSKOHIS IAIN Surakarta beliau juga merupakan Ketua Lembaga Bahsul Masail PCNU Kota Surakarta dan Pengasuh Majelis Raudlatul Muhibbin Solo.

    Sebelumnya Gus Mustain sendiri mengkaji Kitab ini ketika nyantri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta dibawah bimbingan KH. Muhammad Umar Fauzi Al-Hafidz, tidak berhenti sampai situ beliau juga mengkaji Kitab ini di Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri di bawah Bimbingan KH. Abdul Hannan Maksum dan Ustadznya, tidak puas mempelajari kitab ini, Gus Mustain kemudian belajar Kitab yang sama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang saat itu Pengajian Kitab Tafsir Munir diampu oleh Al Mukarrom KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

    Ketika Gus Mustain belajar di Fakultas Syariah, Universitas Imam Syafii, Hadramaut, Yaman beliau juga mengkaji keilmuan beberapa Tafsir dibawah bimbingan Al-Allamah Dr. Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Sa’id bin Abdullah Ba’athiyah Ad-Dau’ani Al Hadrami.

    Ust. Roihan Kepala Divisi Tafsir UKM JQH IAIN Surakarta mengatakan bahwa dengan diadakannya Kajian Kitab ini diharapkan Warga IAIN Surakarta dan Masyarakat Indonesia akan semakin mengenal kehebatan ulamanya, Bahwa Bangsa Indonesia memiliki Ulama yang berkaliber Internasional yang kitabnya dipakai rujukan didunia. Sehingga kecintaan Masyarakat kepad Negara dan Ulama nya semakin terpupuk dengan baik.

    Dimasa pandemi ini, dalam rangka menjaga jarak dan mematuhi Protokol Kesehatan, untuk sementara Semaan Al-Qur’an dan Pengajian Kitab Tafsir ini diadakan secara online. Mahasiswa atau Masyarakat bisa hadir melalui Zoom atau Channel Youtube UKM JQH Al-Wustha IAIN Surakarta. Informasi lebih lanjut bisa disampaikan kepada Ust Raihan : 081339249031.

    Semoga Ikhtiar baik dari IAIN Surakarta ini diridhoi Allah dan pengajian ini bisa istiqomah. Amin
    Oleh : Roihan ( Kepala Divisi Tafsir UKM JQH IAIN Surakarta )

  • Salah Satu Karomah KH. Maksum Jauhari

    Salah Satu Karomah KH. Maksum Jauhari

    SORBANSANTRI.COM

     

    Almaghfurlah KH. Maksum Jauhari merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Dahulu, Sebelum mendirikan persatuan pendekar muda pencak silat pagar nusa dibawah naungan Nahdlatul Ulama beliau terkenal sebagai sosok yang banyak karomah, ahli tirakat (puasa) dan ahli dzikir, ilmu kebatinan atau karomah-nya sangat diluar nalar manusia biasa, salah satunya yaitu hampir semua hewan buas di hutan belantara hanya sekali panggil datang menghampirinya dan langsung takluk atau patuh pada beliau. Hampir semua hewan buas seperti harimau, ular besar hingga serigala langsung menundukkan kepalanya jika KH. Maksum Jauhari melewati hutan.


    Peristiwa tersebut sudah banyak dan biasa disaksikan sahabat-sahabat KH. Maksum Jauhari. Konon karomah seperti itu diapat dari para Sunan atau Wali Allah untuk menjaga diri dalam mendakwahkan Islam di tanah Nusantara dahulu. Meskipun karomahnya sangat disegani, beliau tetap ramah mudah bersahabat dengan semua orang, juga sangat sederhana dikesehariannya dalam mendakwahkan Islam pada santri-santrinya juga masyarakat. (Red. M.Ha)

  • HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
    Maimun Najib, Pasuruan.
    _______________________
    Admin– Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.
    Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:
    مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
    “Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]
    Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]
    Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha.
    Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.
    Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:
    (مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ
    “Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah).
    Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]
    Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.
    Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab.
    Refrensi:
    [1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.
    [2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.
    [3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

  • NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    RIJALUL ASWAJA NU-Entah atas usul dan restu siapa NUGL didirkan, apakah hanya sebatas inisiatif segelintir tokoh pendiri dan pengurusnya yang tak lebih dari 10 orang itu? Bukankah mereka pernah mengenyam pendidikan pesantren? Bukankah Kyainya di Pesantren adalah Tokoh yang terhormat di NU?

    Maka tak berlebihan jika mereka disebut sekawanan propagandis tak beradab, dengan berani merongrong NU yang didirikan oleh Tokoh yang dikenal kewaliannya. Dan tentu sanad ilmu para pendiri NUGL tersebut adalah ke Kyai yang memiliki darah keNUan yang kental. Secara tak langsung mereka telah mencoreng nama baik kiyai dan pesantrennya. Istilah ‘Garis Lurus’ cermin kesombongan yang seolah olah mereka adalah yang paling benar. Namun faktanya idiom garis lurus ternyata sebanding dengan perilaku dan tindak tanduk mereka selama ini yang menabrak norma-norma yang dijunjung tinggi di dunia pesantren, dunianya kaum Nahdliyin. Semua yang dianggapnya bengkong dihantam tanpa kromo alias tanpa adab, Baru-baru ini Pesantren yang disegani seperti Lirboyo tak luput dari hantaman ‘kawanan garis lurus’.

    Sekalipun sudah minta maaf melalui akun yang sama, tetap saja residu negatifnya tak begitu saja lenyap, karena apa yang sedang mereka perankan adalah cermin kebencian membuncah para tokohnya, entah karena sakit hati atau kah iri tapi realitasnya mereka adalah sengkuni tak terbantahkan. Jika tokoh-tokoh NUGL tersebut menjunjung tinggi adab dan keilmuan, maka sudah tentu mereka berani diajak duduk bersama, bukan malah koar-koar ke sana kemari bagai anak kecil yang bodoh. Akhirnya jadilah komplotan liar bagai anak jalanan yang menyebarkan provokasi dan propaganda kurang ajar sebagai penghujat tanpa adab. Bukan kelompok pendebat dialogis yang mampu mengisi ruang ilmiyah yang menjadi warna pesantren sebagai adat maupun istiadat. NUGL terus menggiring kata di dunia maya mengubahnya seakan sepertinya fakta.

    Menggunakan karya mbah Hasyim Asyari sebagai amunisinya. Dan yang paling miris merubah dari informasi bias menjadi justifikasi tanpa konfirmasi kepada pihak yang dihakimi. Korbannya banyak dari para santri yang tak terlalu cerdas dengan keadaan dan rute perpolitikan kemaslahatan dan ghirah perjuangan NU. Setelah jadi korban mereka beramai rami ngeshare dan fitnahan tanpa pertimbangan dan perhitungan. Lihatlah bahaya setelah kreatifitas nakalnya pemotongan video itu apa yang dilakukan? tak ada tabyin dan klarifikasi.

    #HWMI #INFOKOMBANSERNU

  • PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Aziz Manshur (Alm) adalah pengasuh pondok pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Pacul Gowang Diwek, Jombang, yang juga masih keturunan Lirboyo.

    wp.sorbansantri.com- Pada saat tiga atau empat hari sebelum wafat, KH. Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.

    Sambil menangis beliau mengeluarkan kata-kata.

    “Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil.” (Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil).

    Permintaan doa ini sangat mengherankan. Biasanya permintaan seseorang sebelum meninggal adalah minta didoakan agar husnul khotimah, diampuni dosanya atau masuk surga. Tapi ini tidak. Kiai Abdul Karim justru meminta didoakan supaya diakui sebagai santri dari guru beliau, Kiai Kholil Bangkalan. Itupun disampaikan sambil menangis. Bukti bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak main-main dan sangat penting untuk diungkapkan. Apa sebenarnya maksud dari permintaan doa itu? Jawabanya adalah dawuh beliau setelahnya.

    “Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo.” (Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).

    Ini adalah sikap tawadlu yang luar biasa. Kiai Abdul Karim tidak merasa dirinya mempunyai amal yang bisa mengantarkan beliau masuk syurga. Beliau tidak percaya diri dengan amal ibadah yang dilakukan semasa hidup. Harapan masuk surga hanya dengan mendapatkan pengakuan santri dari gurunya yang masyhur sebagai wali Allah. Sehingga diharapkan Kiai Kholil memberikan syafaat kepada beliau agar bisa masuk surga.()

    *Disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharul Maknun tahun 2014. (abi sorban)

    #LIRBOYO

  • ACARA HAUL KE- VIII KH. ACHMAD NUR ALI PENDIRI PONDOK PESANTREN SABILUL MUTTAQIN PACET MOJOKERTO

    ACARA HAUL KE- VIII KH. ACHMAD NUR ALI PENDIRI PONDOK PESANTREN SABILUL MUTTAQIN PACET MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Senin 31 Agustus 2020. SATKORYON BANSER KEC. PACET melaksanakan tugas dalam mengawal, Melayani dan mengamankan kegiatan haul ke VIII KH. Achmad Nur Ali pendiri Pondok Pesantren Sabilil Muttaqin Kec. Pacet Kab. Mojokerto. Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren pertama yang ada di kawasan Pacet Mojokerto, tepatnya di Dusun Pringwulung Desa Bendungan Jati Kec. Pacet Kab. Mojokerto.

    Acara yang dimulai malam hari itu, dihadiri KH. Agus Sabuth Panoto Projo (Gus Sabuth) putra almarhum Gus Miek Lirboyo Ploso Kediri beserta Tokoh-tokoh Kiai, masyarakat dan tamu undangan. Banyaknya Tamu Undangan serta lokasi yang terletak di Jalan kampung maka, sangat dibutuhkan pengamanan, kesigapan dan pelayanan SATKORYON BANSER KEC. PACET pada acara tersebut misal; pengawalan kiai serta menyiapkan tempat parkir motor dan mobil.

    Kegiatan Haul tersebut diawali dengan Alunan Sholawat Nabi, Pembacaan Yasiin dan Tahlil, Sambutan, Mauidhoh khasanah dan ditutup dengan Do’a. Banyak sekali Taushiyah dari Gus Sabuth yang menekankan tentang moral, saling menghormati sesama makhluk “Memberi minum kepada anjing yang kehausan, maka disitulah Alloh SWT menurunkan ridlo-NYA” salah satu yang kami kutib dalam ceramah beliau.

    Mudah-mudahan Para kiai dan Ulama’ kita, diberikan panjang umur sehingga Masyarakat pada umumnya bisa memperoleh siraman qolbu sehingga bisa membimmbing kita dengan harapan memperoleh Ridlho Ilahi.. Aamiin Ya Robba’alamiin. (abi sorban)

  • Batalyon Gelatik Embrio Kodam Brawijaya

    Batalyon Gelatik Embrio Kodam Brawijaya

    SORBANSANTRI.COM

    Foto langka, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Romo KH. Mahrus Aly, Presiden Soekarno, Rais Aam PBNU KH. Achmad Shiddiq, dst.

    Cak Bram setelah sowan Mbah Yai Dimyathi Kaliwungu kemarin, dikisahkan sebuah momen saat Mbah Yai Mahrus Aly menghadiri undangan Presiden Soekarno ke Djakarta. Begitu Pak Presiden mengetahui kedatangan mobil yang membawa Mbah Mahrus Aly tiba, sang Presiden bergegas berlari untuk membukakan pintu mobil sang kiai.

    Hal ini dikarenakan sang Presiden mengetahui betul jasa Mbah Mahrus dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan terutama di perang 10 November di Soerabaya. Dimana Mbah Mahrus memimpin batalyon Gelatik yang menjadi embrio dari Kodam Brawijaya.

    Jadi, NKRI ini adalah ijtihad dan jihad para kiai pendahulu kita.

    Hubbul Wathan Minal Iman

  • Para Masyayikh Lirboyo memakai ‘Face Shield’ dalam ngaji tatap muka dengan santri

    Para Masyayikh Lirboyo memakai ‘Face Shield’ dalam ngaji tatap muka dengan santri

    Screenshot_219

    cyberaswaja.online- Keputusan berani dari Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo. Di saat Jawa Timur menjadi terdepan dalam penambahan kasus positif Covid-19 tetapi beliau-beliau memilih untuk membuka kembali Pembelajaran Pesantren dengan Teknis sesuai Protokol Kesehatan.

    Terlalu lama santri di rumah dan hampir tidak mungkin terus-terusan Ngaji Online tanpa Tatap Muka Langsung kepada Para Guru dan Masyayikh justru membuat mereka kian lama kian gersang bahkan bisa saja terjerumus dalam jurang “kebodohan” apalagi banyaknya sampah informasi sosial media yang bertebaran dimana-mana.

    Standar Protokol Kesehatan yang akan dijalankan akan lebih ketat mengingat ribuan santri Lirboyo berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

    Terkait Covid-19 sendiri ada orang tua yang khawatir, ada orang tua yang cuek, ada orang tua yang santai tapi tetep waspada.

    Para orang tua santri HARUS PERCAYA kepada Para Masyayikh yang sudah mengeluarkan maklumat ini dengan berbagai Kajian Tirakat beliau-beliau dan juga harus waspada dengan mengikuti aturan dari isi Maklumat itu demi kebaikan dan kesehatan bersama.

    Tindakan waspada ini telah dicontohkan sendiri oleh 2 Guru Besar Masyayikh Lirboyo beliau Almukarram KH. Anwar Mansur dan Almukarram KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dengan memakai ‘Face Shield’ saat mengumumkan Maklumat itu Jum’at siang. (abi sorban).

  • MA’RIFATNYA MBAH MARZUKI DAHLAN (LIRBOYO)

    MA’RIFATNYA MBAH MARZUKI DAHLAN (LIRBOYO)

    SORBANSANTRI.COM
    KH. MARZUQI DAHLAN (LIRBOYO)

    SORBAN SANTRI- Ada satu pengalaman menakjubkan saat Gus Mus masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau.
    Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ‘ngambil’ tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu, bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi. Kebetulan, lokasi kamar Mars yg saya tempati itu dekat dengan ndalemnya Mbah Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh Mbah Marzuqi.
    “Gus, Gus, mriki.” kata beliau yg dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yg masih anak kecil. Saya pada waktu itu baru saja masih lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya.
    “Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus)
    Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab berbarengan sekali dengan kegiatan saya yg akan ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini.
    “Gus, sampean doyan tebu?”
    Kontan saja, saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu.
    Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu.”Nanyanya kok pas sekali.” gumam saya dalam hati.
    Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu.
    Beliau bilang, “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini, untuk anda saya pilihkan yg bagus-bagus Gus)
    Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau berkata, “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yg lain ya?)
    Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu.
    Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yg telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.
    Wallahu a’lam bish shawab. (abi sorban)