Tag: live

  • Pria China 4.600 Ponsel, Bisnis Penonton Palsu Live Streaming, Dihukum Penjara

    Pria China 4.600 Ponsel, Bisnis Penonton Palsu Live Streaming, Dihukum Penjara

    wp.sorbansantri.com – Seorang pria di China telah menciptakan sensasi dalam dunia live streaming dengan tindakan yang sangat tidak masuk akal. Dengan mengoperasikan tidak kurang dari 4.600 ponsel, pria ini berhasil meningkatkan jumlah penonton dalam video live streaming secara drastis. Kehebohan ini tidak hanya mencuat karena angka yang fantastis dari jumlah ponsel yang digunakan, tetapi juga karena dampak ekonomi yang signifikan yang dihasilkannya.

    Pada Selasa, 7 Mei 2024, media detikFinance dari SCMP melaporkan bahwa pria tersebut berhasil menghasilkan uang sebesar US$ 415.000 atau sekitar Rp 6,6 miliar hanya dalam waktu kurang dari 4 bulan. Namun, bisnis yang dilakukannya ternyata tidak legal. Hasil investigasi mengungkap bahwa pria ini menggunakan ponsel-ponsel tersebut untuk menambah jumlah penonton secara tidak wajar, dengan mengirimkan sinyal palsu ke server live streaming yang membuatnya terlihat seolah-olah ada ribuan penonton yang aktif.

    Laman: 1 2

  • Perundungan Live: ‘Om Aing Jenderal’ Ungkap Pelaku.

    Perundungan Live: ‘Om Aing Jenderal’ Ungkap Pelaku.

    wp.sorbansantri.com – Masyarakat di Bandung dikejutkan dengan sebuah kejadian perundungan yang disiarkan secara langsung di media sosial. Insiden ini menjadi sorotan publik setelah dua video menunjukkan aksi perundungan terhadap seorang individu di bawah umur. Kapolsek Bojongloa Kidul, Ari Purwantono, membenarkan kejadian tersebut pada hari Minggu, 28 April 2024, sambil menegaskan bahwa korban masih dalam usia remaja dan proses penyelidikan terus berlangsung.

    Dalam video pertama yang tersebar, terlihat dua orang melakukan perundungan secara langsung terhadap korban. Sedangkan dalam video kedua, pelaku yang diduga menyatakan hubungan kekeluargaannya dengan seorang jenderal, mengungkapkan ketidakpedulian terhadap konsekuensi hukum atas perbuatannya.

    “Sok searching di Google (coba cari di Google), Mayjen Rifki Nawawi,” ujarnya bersama rekan-rekannya dalam video, menambahkan dimensi kekebalan yang ia anggap dimilikinya.

    Perundungan adalah tindakan kekerasan yang merugikan, tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental bagi korban. Penggunaan media sosial dalam kasus ini menyoroti potensi negatifnya sebagai alat untuk menyebarkan kekerasan.

    Dalam konteks ini, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak terlibat dalam tindakan perundungan atau menyebarkan konten yang berisi kekerasan. Pentingnya pengawasan dan pemantauan terhadap konten media sosial pun menjadi sorotan dalam upaya mencegah penyebaran aksi kekerasan.

    Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan. Dengan bersama-sama mengutuk tindakan kekerasan ini, mari kita berkomitmen untuk mendukung kesejahteraan dan keamanan di lingkungan sekolah dan masyarakat kita. (AI Sorban)

  • Duel Sengit di Piala Asia U-23: Indonesia vs Korea Selatan

    Duel Sengit di Piala Asia U-23: Indonesia vs Korea Selatan

    wp.sorbansantri.com- Pertandingan antara tim nasional Indonesia dan Korea Selatan di babak 8 besar Piala Asia U-23 2024 telah menarik perhatian pecinta sepakbola dari kedua negara. Sebagai dua kekuatan sepakbola Asia yang memiliki sejarah panjang dalam olahraga ini, pertemuan mereka di ajang ini tidak hanya berkaitan dengan prestise, tetapi juga dengan ambisi meraih kesuksesan di level internasional.

    Piala Asia U-23 adalah event penting bagi perkembangan sepakbola di kawasan Asia. Turnamen ini bukan sekadar panggung untuk bakat-bakat muda, melainkan juga kualifikasi menuju Olimpiade. Tim yang melangkah ke babak semifinal akan memastikan tiket Olimpiade, sebuah pencapaian diidamkan oleh semua negara peserta.

    Indonesia dan Korea Selatan maju ke babak 8 besar setelah menunjukkan performa solid di fase grup. Korea Selatan keluar sebagai juara Grup B dengan sembilan poin, sementara Indonesia menjadi runner-up Grup A dengan enam poin. Pertemuan di babak 8 besar bukan hanya menentukan siapa yang akan melangkah ke semifinal, tetapi juga siapa yang akan mendapatkan tiket Olimpiade.

    Pelatih Korea Selatan, Shin Tae-yong, memiliki tanggung jawab besar untuk membawa timnya meraih kesuksesan internasional. Pertandingan melawan Indonesia menjadi ujian berat bagi Shin Tae-yong, mengingat Indonesia adalah negara asalnya.

    Sebelum pastinya pertemuan dengan Indonesia, Shin Tae-yong sempat memberikan candaan tentang tekanan yang akan dirasakan oleh pelatih lawannya jika Korea Selatan harus bertemu Indonesia. Namun, setelah pasti terjadi pertandingan, Shin Tae-yong memilih untuk tidak memberikan komentar panjang. Sikap tersebut mencerminkan keseriusan dan fokusnya dalam mempersiapkan timnya menghadapi tantangan.

    Di sisi lain, Indonesia akan bermain dengan semangat tinggi untuk membuktikan kemampuannya di level internasional. Meskipun menghadapi lawan yang tangguh, Indonesia memiliki potensi memberikan perlawanan serius. Kunci kesuksesan bagi Indonesia adalah memanfaatkan kekuatan timnya dan menjaga fokus selama 90 menit penuh.

    Pertemuan ini bukan hanya pertarungan antara dua tim, melainkan juga antara dua filosofi sepakbola yang berbeda. Korea Selatan akan menampilkan gaya bermain lebih terstruktur dan teknis, sementara Indonesia mungkin akan mengandalkan kecepatan dan kreativitas dalam serangan.

    Pertandingan antara Indonesia dan Korea Selatan di babak 8 besar Piala Asia U-23 2024 menjanjikan duel seru dan penuh gengsi. Kedua tim memiliki motivasi besar untuk meraih kemenangan dan melangkah lebih jauh dalam turnamen ini. Bagi penggemar sepakbola, pertandingan ini akan menjadi ajang untuk melihat kekuatan dan potensi dari kedua tim, serta memperkuat posisi mereka di panggung sepakbola Asia. (AI Sorban)

  • MADRID SANG JUARA CHAMPIONS

    MADRID SANG JUARA CHAMPIONS

    SORBANSANTRI.COM
    ZAMRONI A. UMAR (Wk. Sekretaris PCNU Kab. Mojokerto)

    wp.sorbansantri.com – Di luar dugaan banyak orang, pada akhirnya Real Madrid membenamkan kedigdayaan Liverpol untuk merengkuh titel juara liga nya para jawara eropa pada minggu dini hari (29/5). Madrid yang berjuluk “los galacticos”, pada edisi tahun 2022 ini memang berbeda. Skuadnya beranggotakan pemain yang biasa-biasa saja. Modric, Kroos dan Benzema adalah nama-nama hebat dalam sepak bola pada masanya. Tetapi jika dibandingkan dengan Mo Salah, Thiago Alcantara dan Trent Arnold, mereka tidaklah sebanding saat ini. Begitu juga Pelatih Madrid, Carlo Anceloti. Di awal 2000-an mungkin dia adalah pelatih yang sangat menjanjikan, tapi saat ini banyak pengamat yang mengatakan bahwa Don Carlo adalah pelatih yang miskin ide. Sangat berbeda dengan pelatih The Reds, Jurgern Klop. Dengan filosofi taktik “gegen pressing” nya yang menjadi kiblat taktik sepakbola mutaakhir. (30 Mei 2022)

    Bukti Shahih tersaji dalam pertandingan final liga champion, Liverpol menguasai jalannya pertandingan sejak peluit kick off di bunyikan. Serangan bertubi-tubi yang di lancarkan Liverpol dari segala penjuru membuat Madrid tidak bisa mengembangkan permainan. Statistik menunjukkan total 24 kali usaha tendangan ke arah gawang di lakukan oleh Liverpol berbanding 4 kali dari pemain Madrid. Penampilan hebat  kiper Cortuis-lah yang menghindarkan Madrid dari kebobolan. Tetapi Fakta pertandingan tidaklah berbanding lurus dengan apa yang terlihat, pertandingan berakhir dengan kemenangan Madrid dengan gol yang di lesakkan oleh Vinicius Junior pada menit ke-59. Yup, Ternyata Taktik terbaik dalam sebuah game plan adalah taktik yang efektif, itu adalah clue yang bisa didapat dari pertandingan final ini.

    —000—

    Di teras sebuah langgar, Kang Brodin njagong bersama para sahabatnya. Kang Brodin berbicara tentang kebesaran Jamiyah Nahdlatul Ulama sebagai sebuah perkumpulan hebat yang dikawal oleh para ulama. Disaat sedang khusyuk-khusyuknya memberikan penjelasan, tiba-tiba Pak Tarno menyela : “Ngapunten Kang … Dengan peran yang besar dalam percaturan Nasional, Lalu kita yang di bawah ini mendapat manfaat apa dari NU ?”. Sambil menghisap rokok lintingannya –identitas khas Nahdliyin kampung- Pak Tarno dengan gaya bak pengamat hebat yang biasa di lihat di telivisi-  sejurus kemudian menambahkan : “Wong prasa (perasaan) ku lho kang, NU kuwi yo Lailatul Ijtima’. Shalat-Shalat Sunnah, Dzikiran lan selawatan. Aku ra tau ngerti NU ngekei utang-utangan nang aku, hareeee”.  Semua tertawa mendengar ini, karena semua tahu bahwa Pak Tarno adalah seorang yang punya hobi gali lobang tutup lobang, sebagaimana semua yang hadir di teras langgar tersebut. Selaan Pak Tarno itu membuat Kang Brodin bingung sejenak, lalu dengan sekenanya kang Brodin menjawab : “Yo Kuwi manfaate NU, Coba kalau tidak dibarengi sambil berdoa gitu apa berkah hidup nya wong-wong kuwi. Ya… itu manfaat real-nya ber-NU, Barokah tur Mbarokahi”.

    —ooo—

    Sebagai sebuah perkumpulan yang sudah berdiri hampir satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) adalah perkumpulan hebat yang mempunyai banyak jasa pada NKRI ini. Tinta sejarah mencatat bahwa perkumpulan ini secara konsisten hadir sebagai garda terdepan dalam perjalanan historis bangsa ini. Tetapi pada masa yang akan datang –masa menyongsong abad ke duanya- Jamiyah ini menemukan tantangan sesungguhnya. Sebagaimana amanat para muassis (Pendiri Perkumpulan) bahwa perjuangan NU tidak hanya dalam bidang agama saja tapi dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam sekup nasional ataupun internasional, NU hendaknya hadir disana.

    Arah pembangunan Negara saat ini adalah menempatkan desa tidak lagi sebagai Obyek Pembangunan bangsa tapi juga memberikan peran sebagai Subyek. UU No. 6 Tahun 2014 menempatkan desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Total desa di Indonesia yaitu 73.670 desa. Tak heran jika Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyatakan jika desa merupakan pembentuk Indonesia. Mengutip dari laman kementrian terkait bahwa  desa memiliki permasalahan yang lebih besar. Mulai dari kemiskinan yang lebih tinggi, kesehatan yang rendah, konsumsi masyarakat rendah, SDM rendah, sarana dan prasarana yang lebih sulit dibandingkan kota, dan tingkat pendidikan rendah.

    Sebagai sebuah perkumpulan yang hampir menyamai struktur sebuah Negara (Shadow off The State), NU mempunyai kemampuan untuk ikut serta –bersama negara- melakukan penyelesaian problematika sosial tersebut. Untuk mengambil peran ini, tentu NU –sebagai jamiyah- harus berbenah diri. Bagaimana menjadikan perkumpulan ini sebagaimana yang dinyatakan al-Qur’an  “Ashluha fil Ardli wa Far’uha Fi al-samaa’ “ (Pondasinya kuat tertanam di bumi dan Cabangnya tersebar di langit). Maka problem internal NU sesungguhnya secara organisasi adalah melakukan penguatan pada ranting-rantingnya di masa yang akan datang. Siapakah yang harus berinisiatif secara aktif mengambil peran ini??? Adalah Pengurus Cabang di semua Kabupaten/Kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

    Penguatan Struktur menjadi agenda utama dalam tahap ini. Hirarki Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Pengurus Ranting dan Pengurus Anak Ranting hendaknya tertata dengan sungguh-sungguh. Para pengurus benar-benar harus memahami penting nya berjamiyah dalam satu kesatuan yang utuh. Kesatuan Amaliyah, Fikrah dan Harakah adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan. Hubungan yang terjalin antar hirarki tidak hanya sebatas formalitas belaka, tapi hubungan yang terjalin layaknya Nabi dengan Sahabatnya, Imam Syafii dan para Ashhab nya dan Wali songo dengan para muridnya. Kuat layaknya Tali Dadung yang melingkari bumi dalam lambang perkumpulan ini. KH. Wahab Hasbullah –Rais Am pertama- memberikan tuntunan dan uswah nya, beliau menyatakan : ”Watazaawuru ba’dlihim ba’dlan”, yakni saling mengunjungi dan bersilaturahim adalah kunci penguatan structural ini. Tentu tidak dalam suasana formil saja ini dilakukan, karena ini akan terasa hambar. Sebagaimana yang di teladankan KH. Achyat Chalimi (Mbah Yat) yaitu melakukan kunjungan langsung ke rumah para pengurus terutama para kyai yang ada di desa-desa, ini akan memberikan sentuhan berbeda pada para tokoh grass root perkumpulan.

    Sebagai jamiyah besar dengan pekerjaan rumah yang banyak dan pendanaan yang terbatas, maka efektivitas adalah kunci kesuksesan (al-Futuh). Seperti Real Madrid -yang Inferior dibandingkan Liverpol- menjadi juara liganya para jawara eropa dengan taktik yang efektif, Begitupun Nahdlatul Ulama dengan kebesaran jamiyah dan segala inferioritasnya, dapat menggapai kesuksesan dengan kesederhanaan dan efektifitas programnya. (Langgar Ledok)