Tag: Mbah Hasyim

  • Pancasila Selaras dengan Syari’at

    Pancasila Selaras dengan Syari’at

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.

    Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.

    Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.

  • Gus Anwar:  Mbah Hasyim perintis tradisi keilmuan pesantren di Jombang

    Gus Anwar:  Mbah Hasyim perintis tradisi keilmuan pesantren di Jombang

    wp.sorbansantri.com- Tepatnya pada tgl 3 Januari 2021 sebagian santri PSNU ranting Dusun Rejosari RT 03 RW 02 Ranting Plososari Puri Mojokerto mengadakan silaturahmi ke ndalem sesepuh dewan pendekar Pagar Nusa di Mojokerto dan Jombang. Rombongan ini diikuti sekitar 12 santri berangkat sekitar pukul 19.00. diantaranya ke ndalem Mbah Min gading mojokerto ke ndalem Gus Anwar diwek Jombang sekitar pukul 20.45.

    Setelah kami ngobrol sebentar di di ndalem Gus Anwar kami serombongan memohon agar Gus Anwar Sudi memimpin ziarah ke makam Mbah Asy’ari . Acara ini berlangsung cukup khidmat dan penuh penghayatan karena sebelumnya Gus Anwar terlebih dahulu menceritakan sekelumit sejarah biografi Mbah Asy’ari.

     

    “Mbah Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, yang terletak di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng, ini dikenal pula sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang.

     

    Mbah Asy’ari Lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1830. ayah beliau bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim. Abdul Wahid adalah salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang”. Demikian tutur Gus Anwar

    Dalam perjalanan kemakam Mbah Asy’ari yang tidak jauh dari tempat tinggal Gus Anwar hanya sekitar 3 km itu. 

     

    Tidak terasa kami sudah masuk di desa Keras tempat pesarehan Mbah Asy’ari, santri semua mengikuti Gus Anwar kemakam untuk tawasul dan kepada semua Auliya ditanah jawa,wali songo,pendiri NU dan Mbah Asy’ari sekaligus membaca tahlil. 

     

    Dalam perjalanan pulang Gus Anwar berpesan agar kita selalu menjaga keikhlasan dalam mengamalkan ilmu Pagar Nusa. Rombongan kembali ke  ndalem Gus Anwar pukul 10. 30 rupanya sang isteri Gus Anwar sudah menyiapkan jamuan makan untuk  rombongan santri PSNU Plososari ini. Alhamdulillah setelah selesai makan bersama ala santri (purakan) sebagain masih melanjutkan perbincangan seputar pagar nusa, sedangkan yang lain istrihat di gubuk belakang rumah beliau. 

     

    Setelah kami rasa cukup larut malam sekitar pukul 00.00 kami mohon diri berpamitan untuk pulang melanjutkan perjalanan ke Plososari Mojokerto sekitar pukul 01.30 rombongan kami tiba di Plososari. (rosyid sorban)

     

    #Santri PSNU Plososari

    #Pagar Nusa pagar Nu dan bangsa

    #Santri nderek Kyai

    #Nderek Kyai Sampai mati

     

  • Banser yg Bertemu KH. Hasyim Asy’ari

    Banser yg Bertemu KH. Hasyim Asy’ari

    SORBANSANTRI.COM
    Sumber : Muhammad aun
    Dirosatul Ula di Sulang – Rembang
    Sabtu, 16/02/2019
    wp.sorbansantri.com- Pada suatu ketika diadakannya Diklatsar Banser di suatu daerah luar Jawa
    Ada ratusan yg mengikuti kegiatan Diklatsar yg di laksanakan oleh GP Ansor yg selalu di awali di hari Jumat setelah sholat Jumatan sampai pembaiatan di Ahad malam.
    Namun yg menarik disini adalah ada salah satu calon peserta Diklatsar tsb yg datangnya telat yaitu pada sabtu paginya dia naik sepedah motor butut miliknya, dia berangkat dari rumah pada hari Jumat setelah jumatan karena jarak dari rumah kelokasi Diklatsar sangat jauh harus melintasi hutan belantara yg luas dan perjalanan yg panjang
    Waktu sudah sore setelah melaksanakan sholat ashar sebelum perjalanan memasuki hutan. Diapun melanjutkan perjalanannya dgn sepedah motor bututnya, Ditengah2 hutan belantara sepedah motornya masuk tergelincir di selokan pinggir jalan.
    Dia seorang diri tidak bisa mengangkat sepedah motornya yg masuk selokan tadi. Akhirnya diapun menunggu pengguna jalan yg lewat. Sampai fajar tiba dia menunggu orang yg lewat melintasi jalanan tersebut untuk dimintai tolong membantu mengangkat sepedah motornya.
    Namun yg aneh tiba2 ada seorang laki2 sepuh berjalan kaki dgn tongkat ditangannya datang menghampirinya
    Laki2 sepuh tadi bertanya :
    Kakek : Kamu mau pergi kemana Nak?
    Pemuda : Saya mau pergi mengikuti kegiatan Diklatsar Kek…
    Kakek : Diklatsar itu apa?
    Pemuda : Diklatsar itu pelatihan prajurit NU kek…
    Kakek : Sepedah kamu kenapa?
    Pemuda : Terperosok ke selokan kek…
    Kakek : Baik saya bantu
    Tiba2 kakek tersebut membantu mengangkat dan menarik sepedah motor pemuda itu dan akhirnya sepedah motornya sudah berada dijalanan. Lalu Kakek itu berpesan :
    Kakek : Nak, silahkan lanjutkan perjalananmu menjadi Banser NU. Dengan begitu kamu akan menjadi Santri para Ulama’ pendiri NU. Jadilah Santri yg patuh dan taat pada kyai2mu
    Pemuda : Insyallah Kek, Terima kasih sudah dibantu
    Setelah kejadian fajar itu, sampailah pemuda itu ditempat Diklatsar Banser. Dia mengikuti disetiap semua Materi yg di berikan oleh para Instruktur dan Senior2nya
    Tibalah materi Rihlah (Silaturrohmi ke rumah Kyai daerah tsb), Pemuda itu dan ratusan peserta lainnya masuk ke dalam Rumah sang kyai
    Pemuda itu melihat Photo berukuran besar di dinding ruang tamu sang kyai itu. Dia bertanya kepada salah satu Instruktur.
    Pemuda : Wajah laki2 sepuh di photo itu siapa?
    Instruktur : Dia adalah KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’ (NU)
    Pemuda : Masyallah…!!!
    Seketika pemuda itu bercucuran meneteskan air mata karena Haru, Bangga dan Heran
    Pemuda : Masyallah, Laki2 sepuh itulah yg menolong saya ketika Sepedah motor saya tergelincir di selokan jalanan tengah hutan belantara saat perjalanan saya mengikuti Diklatsar ini
    Instruktur : Masyallah, benarkah
    Pemuda : Benar, ternyata beliau adalah Mbah Hasyim yg menolong saya Masyaallah
    Instruktur : Alhamdulillah, kamu ternyata salah satu dari kami yg mendapatkan Karomah Beliau
    Akhirnya pemuda tersebut semakin mantab dalam mengikuti Diklatsar dan menjadi Banser yg tangguh militansinya
    Semoga kita semua tetap tangguh untuk menjadi Santri NU dan kian MANTAB menjadi BANSER .
    Kepada Beliau para Pendiri dan Ulama’ NU Alfatihah … Aamiin
  • PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Cerita berawal dari profesi saya sebagai penjual ayam, yang alhamdulillah lumayan sukses. Banyak masyarakat Papua, baik pendatang maupun asli sana yang jadi pelanggan ayam saya. Namun, dalam menyembelih ayam-ayam itu, mereka masih belum dikatakan sempurna secara syar’i.
    Dari situlah awal saya memberikan sedikit demi sedikit arahan soal menyembelih hewan. Alhamdulillah banyak yang meniru. Di Papua sini komunitas muslim sangat minoritas. Sebetulnya banyak kelompok Islam baru yang bermunculan, namun berhaluan keras. Sehingga masyarakat asli merasa terusik dan tentu tidak begitu tertarik atas kehadiran mereka.
    Karena itulah ketika kami membangun Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (PPMQ) di Papua Barat, mereka mengira bahwa kami sama dengan komunitas muslim garis keras yang tidak simpatik kepada orang Papua dan juga adat Papua. Berkat pertolongan Allah, alhamdulillah lama-kelamaan mereka mengetahui siapa kami dan bahkan mau belajar Al-Quran kepada kami, yang hanya penjual ayam ini.
    Saya tidak punya ilmu Al-Quran sebaik dan sepandai sahabat-sahabat santri lain. Saya hanya bisa alif ba’, ta’. Namun semua aktivitas mengajar Qur’an kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasihat Romo Kiai Yusuf Masyhar.
    Awal berdiri, semua menolak kehadiran PPMQ Al-Qalam. Bahkan dari pihak lintas gereja pun menolak keras (maaf, saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu). Majelis Rakyat Papua juga menolak.
    Kami dikepung. Tempat kami dikelilingi berbagai macam sajam, tombak, panah, parang dan lainnya, hendak mengusir kami dari bumi Papua. Mereka pun merangsek masuk ke dalam pondok, ke ruang utama. Di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, serta foto Mbah Hasyim dan lainnya.
    Melihat semua itu, kepala suku besar berteriak ke orang-orang sudah siap dengan senjatanya di luar pondok, “Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?”. Saya hanya diam tidak menjawab. Kondisi saat itu benar-benar mencekam.
    Setelah itu, mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak, “Gus Dur… Gus Dur,.. kita punya orang tua… NU kita punya saudara…”. Ya Allah ya Rabb.
    Lalu mereka berkata langsung ke saya, “Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga”. Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.
    Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri, dengan dukungan mereka, sahabat kami semua, yang mengakui dan tunduk menghormati Gus Dur sebagai orang tua. Masyaallah. Terimakasih kepada kepala suku, Gus Dur dan NU.
    Sahabatku semua, ini kisah nyata yang kami alami di Papua Barat. Banyak yang belum saya ceritakan. Insyaallah lain waktu saja. Doa, berkah, serta ridho guru-guru kita di pondok pesantren sangatlah penting. Sekali lagi, berpeganglah pada Al-Quran dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk. Semua akan membantu.
    Darto Syaifuddin, pengasuh PP Tahfidz Madrasatul Qur’an Al-Qolam, Papua Barat, alumni Madrasatul Qur’an Tebuireng tahun 2000. (PRANOTO)
  • KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sosok Kyai memang menjadi panutan bagi jama’ah dan para santrinya. Karena beliau2lah pewaris para nabi. Salah ulama dan pejuang di Kota Mojokerto. KH. Muhaimin juga patut untuk dicontoh. Seorang ulama yg lahir di dusun kedung Kopek desa Surodinawan Kota Mojokerto, 13 April 1913 dari pasangan KH. Moh. Noer dan Hj. Shoimah. Di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya, KH usman, beliau dibesarkan di lingkungan yg agamis di desa Surodinawan Kota Mojokerto. Mulai dari sini, beliau mendapatkan pendidikan agama yg sangat kental di tengah2 zaman penjajahan. KH. Muhaimin adalah salah satu sosok ulama dan pejuang kemerdekaan yg konsen dalam bidang sosial dan pendidikan, khususnya pendidikan agama.

    Pendidikannya dimulai tahun 1919 sampai 1925, beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Assholikhiyyah Kranggan Mojokerto yg diasuh oleh KH. Ilyas. Tahun 1925, beliau menuntut ilmu kembali di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah bimbingan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Baidlowi dan Kyai Mahfudz. Bersama kawannya, KH. Achyat Chalimi, KH. Yahdi Matlab dan KH Shodiq mengaji dan sekolah di Jombang Jawa Timur.

    Atas izin Allah SWT, beliau bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 1933. Sperti yg kita ketahui, perjalnan haji tidak semudah sekarang ini. Dahulu, perjalanan haji dapat memakan waktu yg cukup lama sehingga memerlukan periapan yg banyak. Dalam perjalanan panjang nya, beliau mengisinya dengan mendalami ilmu2 agama di atas kapal bersama kawan2nya. Sepulang dari tanah suci pada tahun 1939, beliau dinikahkan dgn putri Kyai Romli Trowulan Mojokerto. Namun karena belum siap untuk dijadikan mantu oleh kyai, KH. Muhaimin melarikan diri ke untuk mondok lagi di mojosari Nganjuk. Atas nasihat dari KH. Zainuddin, akhirnya beliau memutuskan untuk menikah dgn putri kyai. tiga tahun setelah menikah, beliau masih mondok di Nganjuk. Tahun 1936, beliau kembali ke Trowulan Mojokerto membantu di Pondok Pesantren bersama kakak iparnya, KH. Dimyati Romli, KH. Anwar Panji Buduran Sidoarjo, dan KH. Munasir.

    Tahun 1939, beliau pindah ke kedung mulang Kota Mojokerto dgn harapan bisa mengamalkan ilmu yg telah diperoleh kepada masyarakat sekitar. Selain rumah, beliau juga mendirikan surau (Sekarang menjadi komplek pendidikan Islam). Tahun berikutnya, dibantu oleh sang istri, beliau mengajarkan ilmu2 agama, baca tulis, bahasa Arab, dan keterampilan menyulam kerudung. Karena kegigihannya dalam pendidikan Islam, para penjajah Jepang sempat mengawasi secara ketat seluruh kegiatan keagamaannya. Untuk menyiasatinya, kegiatan keagamaan tetap berjalan di siang hari dan menjadi markaz komando untuk memba1has rencana strategi melawan penjajahan.

    Ketika gejolak G30S PKI tahun 1965, kegiatan pesantren pun terganggu. Banyak santri yang diganggu oleh orang2 PKI. Namun, ketika kondisi berubah ketika PKI dibubarkan oleh pemerintah pusat, kegiatan para santri lancar dan kondusif. Tahun 1986, yayasan sosial dan pendidikan yg didirikan berhasil mendapatkan pengakuan hukum dari negara melalui notaris., di antaranya adalah TK/MI, MTsN dan Pondok Pesantren Nurul Huda.

    Dibantu oleh ketujuh anaknya, yayasan ini berkembang pesat dalam bidang pendidikan dan sosial. Namun, pada hari Jum’at, 7 Juli 2000, beliau tertimpa musibah kebakaran hebat meluluhlantakkan bangunan rumah dan pesantren putri. Musibah ini tidak hanya menghanguskan bangunan saja, akan tepapi menghilangkan saksi sejara perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana rumah tsb menyimpan berbagai peninggalan seperti seragam hisbullah, senjata2 rampasan tak terkecuali yg lebih menyedihkan adalah seluruh kitab2 beliau juga hangus dilalap si jago merah. Kejadian ini cukup mengagetkan, pasalnya seluruh keluarga beserta para santri sedang bersiarah ke walisongo dan menyisakan seorang anggota keluarga di rumah tsb dan beruntung beliau selamat. Namun, beliau tetap sabar dan tabah atas musibah ini.

    Di tahun itu pula, beliau pulang ke rahmatullah bertepatan pada hari senin, 7 agustus 2000 pukul 11.30 dalam usia 87 tahun dalam kecelakaan lalu lintas. Kemudian, beliau dimakamkan di makam Islam berdekatan dgn kakeknya KH. Usman surodinawan Kota Mojokerto. Tak berselang beberapa bulan, Ibu Nyai Hj. Siti Rohmah menyusul pulang ke pangkuan Ilahi pada Kamis, 1 Maret 2001 di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto karena sakit. Dan beliau dimakamkan di Makam Islam Surodinawan Kota Mojokerto berdekatan dgn suaminya, KH. Muhaimin. Untuk mengenang jasa2 beliau, setiap kamis sore, salah satu keluarga ndalem mengajak seluruh santri untuk berziarah ke makam. Harapannya, perjuangannya dapat senantiasa diteruskan oleh seluruh santri dimanapun nantinya.

    Segala apa yg diperjuangkan oleh KH. Muhaimin dan keluarga, sekarang sudah membuahkan hasil yg baik. Di antaranya adalah Yayasan sosial dan pendidikan yg semakin membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, baik itu dari Pondok Pesantren Al-Qur’ans Nurul Huda maupun sekolah-sekolah Islamnya. Salah satu putranya yakni KH. Faqih Usman, Lc memiliki peranan sangat penting dalam memajukan warisan perjuangannya.

    Semoga perjuangannya dalam Islam dan Republik Indonesia dinilai Allah SWT sebagai amal baik dan bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. (Abi SORBAN)

    Disarikan dari file keluarga ndalem.
    http://nasrullohmaliki.blogspot.com
    Reshared by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

    أطال الله بقاءهم في صحة وعافية وسلامة وأعاد علينا من بركاتهم وأسرارهم وعلومهم في الدارين آمين يا رب العالمين بجاه سيد المرسلين محمد صلى الله عليه وآله وسلم
    Lahumul faatihah..

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. أمين

  • KH. MASHUDI SAKSI HIDUP RESOLUSI JIHAD MBAH HASYIM AS’ARY

    KH. MASHUDI SAKSI HIDUP RESOLUSI JIHAD MBAH HASYIM AS’ARY

    SORBANSANTRI.COM
    KH. MASHUDI

    KNU-Angkatan 3 Militan NU- Kh Mayor Mashudi beliau adalah seorang ulama sekaligus pejuang dan prasasti hidup dan saksi perjuangan bangsa Indonesia dari penjajah. bersama sahabatnya Sutomo ( bung Tomo ) dan Hadrotussyaikh KH Hasyim Ashari yg tidak lain guru beliau saat di jombang beliau bersama2 berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan turut dalam gerakan 10 November di Surabaya yang merupakan tindak lanjut dari RESOLUSI JIHAD yang di keluarkan Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari .

    Beliau adalah tentara Hizbulloh dan juga termasuk Anggota Tentara Divisi Kujang pada waktu itu . Beliau menuturkan kisah yang barangkali belum pernah tercatat di buku buku sejarah betapa dahsyatnya perjuangan para Kyai NU dalam memerdekakan Indonesia , beliau menuturkan “lek awan Kulo ten Suroboyo nyamar dadi tukang motong rambute tiyang , engken lek Dalu tukang motong gulune tiyang.

    Bahkan menurut beliau Hadrotussyaikh sebagai seorang Kyai tidak hanya duduk mengaji di Pondok saja tapi turut serta berjuang ke Surabaya bersama para Kyai yang lain, beliau romo KH Mashudi turut bersama Mbah Hasyim dan para kyai memerangi belanda, dalam suatu kesempatan beliau Hadrotussyaikh bertanya ‘ iki opo o le sikilku kok gatel ( kenapa kakiku kok gatal ) ternyata mortir baru saja meledak di kaki mbah Hasyim , seandainya sekarang mengenai orang zaman ini pasti hancur lebur, beliau juga mendampingi mbah Hasyim waktu jihad ke Surabaya pada waktu itu , Mbah Hasyim bersama para kyai semuanya memakai baju putih bersih sedang para tentara dan para pejuang untuk keamanan semua tiarap dan tentu saja bajunya lusuh dan kotor , kyai Hasyim berkata pada para kyai yg hadir pada peperangan tersebut , kita tidak usah tiarap karena baju kita putih nanti bisa kotor dan betul saja dg mudah Tentara menembak bahkan mengebom ke arah Mbah Hasyim..tapi begitu Bom akan mengenai beliau jarak satu jari beliau berkata ” Tabbat ” dg ajaib bom dan bedil runtuh semua.
    Itulah karomah Kyai NU , dan yg lebih ajaib lagi Hadrotussyaikh punya senjata ajaib yg barangkali bisa masuk 8 dari keajaiban dunia, di mana beliau menghancurkan kapal tentara sekutu dengan hanya memakai ketapel , kapal itu di ketapel oleh beliau jatuh hancur lebur semua seakan ketapel tersebut berubah jadi Bom yang sangat dahsyat , itulah kejadian sejarah yang pernah di saksikan oleh beliau di samping banyak lagi yang tidak sempat beliau ceritakan .

    Beliau Mbah Kyai Mashudi di samping santri Hadrotussyaikh yang kinasih karena bertugas memotong kuku beliau dan ikut kemana Mbah Hasyim pergi juga senantiasa di ajak tiap kali Hadrotussyaikh melakukan Bahtsul Masa’il sampai keluar negeri , Mbah Yai Mashudi juga termasuk santri dari Mbah Dimyati Termas juga santri Pahlawan Asli Malang Kyai Tamin yang sekarang jadi nama jalan di Kota Malang adalah salah satu Guru beliau .

    Pada suatu waktu beliau bercerita bahwa beliau mencari makam auliya di sepanjang wilayah Jateng sampai ke Jatim, beliau dalam keseharian senantiasa berpuasa tidak pernah putus dan beliau mempunyai do’a doa yg sangat mustajab yang banyak sekali dari kalangan saudara2 penulis yg telah membuktikan .

    “banyak sejarah yang beliau simpan dalam hati dan pikirannya bagai mana perjuangan kyai Tamin yg juga salah satu guru beliau ngaji di Malang kata beliau cuma kyai Tamin yang menolak dhohir dan batin ketetapan Jepang untuk menundukkan kepala menghadap ke arah kota Tokyo Jepang disaat matahari terbit karena bagi kyai Tamin itu sirik wal murtad karena mempertahankan aqidah Kyai Tamin harus disiksa dan dan terakhir di tembak sampai beliau gugur, di mana pada waktu wafatnya Kyai Tamin di kuburkan , awan selalu menaungi jenazah pada waktu di kuburkan , beliau cerita bagai mana gigihnya sahabat beliau mayor Hamid Rusdi dalam merebut wilayah Malang Sampai beliau harus gugur dgn sembilan tembakan di dadanya Krn saat tertangkap mayor Hamid Rusdi tetep bungkam saat di tanya Belanda di mana saja tempat persembunyian anggotanya .

    Yang menarik menurut beliau Mayor Hamid Rusdi adalah asli Bantur salah satu Desa di wilayah Malang selatan , beliau berkata “enggeh Sampek koyok ngoten pejuang rumien mboten korban Doyo kale tenogo mawon tapi nyowo nggeh di parengaken” Tutur beliau.

    Masih banyak cerita perjuangan perjuangan lain yang masih beliau rekam dgn baik di dalam pikiran beliau sampai Sampai saat ini.inilah pahlawan yg harus kita doakan dan kita hormati.satu lagi nasehat beliau saat saya sowan beliau ‘ ulamak biyen perang duduk krono kepingin Ndang turu enak nyambut gawe gawe mangan enak tapi seng Utomo supoyo anak putu turun Kabeh iso ibadah nyembah gusti Allah karo tenang”.dan sekarang di usianya yang menginjak 119 th beliau masih tetap aktif berjuang dalam berdakwah menyiarkan agama Islam meski waktu alfaqir sowan ke beliau(2 bulan yang lalu, pas 100 hari Istri tercinta beliau di panggil menghadap keharibaaNYA.
    Beliau dengan ikhlas dan tulus tetap melaksanakan dakwah Islam kemana mana dan yang salut lagi dari keikhlasan beliau uang pensiun dan perumahan Dinas yang harusnya jadi hak beliau dengan pangkat mayor TNI AD gak pernah beliau ambil.inilah bentuk ketulusan dan keikhlasanya kepada bangsa dan negara ini.Saya bertanya pada beliau..nopo o kok mboten di pundut yai yotro pensiune? Beliau menjawab “beyen jamankulo tasek dines kulo nate soan ten yai Hamid Pasuruan beliau dawuh ten Kulo..yai Mashudi benjeng lek pun pensiun nyotro Negoro pun di Pendet geh niku duwek negoro..dugi mriku Kulo Wedi kwalat lek mendet pensiunan…beliau hidup sederhana(Zuhud)di daerah plosok perbatasan Turen dan Wajak Kab Malang .

    Semoga Allah memberi kesehatan dan umur yang barokah. karna pada orang2 seperti merekalah kita bisa dapat pitutur tentang agama dan sejarah bangsa dan sudah Langka ulamak alim sekelas beliau di dunia ini. Mugi tetep sehat panjang umur yai.. Amin yaa robbal alamin. (red. Abdul Hamid bin ichsan ilyas)

  • Akhirnya ditemukan Sanad Syair Li khomsatun

    Akhirnya ditemukan Sanad Syair Li khomsatun

    SORBAN Infokom – Setelah pandemi Covid-19, banyak sahabat FB, terutama dari kalangan santri NU, yang menuliskan semacam doa berbentuk syair yang dilantunkan berulang-ulang. Konon syair singkat di bawah ini adalah ijazah dari Hadlratus-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.

    لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة
    المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

    Saat saya membacanya berulangkali, hati saya terus menerus bertanya, dari manakah asal usul doa itu?

    Alhamdulillah, saat saya menelaah sebuah kitab setebal 440 halaman berjudul الملاحق في فقه دعوة النور, karya al-Syaikh Sa’id al-Nursi, secara tak sengaja saya mendapatkan jawabannya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada halaman 81 dalam kitab tersebut antara lain tertulis kalimat sebagai berikut:

    وقد قال أحد الفاضلين للإستشفاء والإستشفاع:

    لي خمسة أطفي بها نار الوباء الحاطمة
    المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

    Selanjutnya setelah kalimat di atas di bawah footnote tertulis kalimat yang menunjukkan referensi syair di atas, yaitu sebagai berikut:

    ورد في مجموعة الأحزاب للكمشخانوي جزء ٢ ص ٥٠٥ في دعاء دفع الطاعون. وفيه : لي خمسة أطفي بها حر الوباء ٠٠٠. الخ.

    Kitab di atas lengkapnya berjudul مجموعة الأحزاب الشاذلية adalah sekumpulan hizb yang disusun oleh al-Quthb Abi al-Hasan al-Syadzili yang dikumpulkan oleh al-Syaikh Dliya’ al-Din Ahmad bin Musthafa bin Abdurrahman al-Kamsyakhanawi al-Naqsabandi al-Mujaddidi al-Khalidi (wafat: 1311 H.)

    Oleh: KH. Ishomuddin