Tag: MENGKAJI

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

  • JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyiah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan, jangan pernah tinggal muthalaah (mengkaji). Selain itu, seorang santri meskipun telah menjadi ulama terkenal tetaplah bersikap sebagaimana santri di depan guru-gurunya.
    Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:
    1. Gemarlah Mengkaji Kitab (Muthalaah)
    “Ya, saya ingatkan agar kita jangan bosan muthalaah dan jangan bosan mengulang-ngulangnya walaupun kitabnya cuma sekali. Karena kalau rajin muthalaah dengan berkah mu’allif, insya Allah difutuh (dibuka) oleh Allah SWT,” tuturnya.
    “Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca shalawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syaikh Abi Zakariya al-Anshari tiap malam baca shalawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” tuturnya.
    2. Meraih Khidmah Ulama
    Yang ke-2, jangan tinggal khidmah untuk guru walaupun cuma sedikit, itu yang menjadikan karena terbukanya mafahim yang luar biasa.
    Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah fatihah untuk guru, saya paling tidak suka jikalau ada santri sampai melupakan gurunya, karena kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya.
    “Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.
    3. Santri di Depan Guru, Kirim Alfatihah
    “Selama di pondok, saya tidak pernah memosisikan diriku selaku seorang Sayyid (Habib). Saya senantiasa memosisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walau pun sesungguhnya guruku (Kiyi Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku.”
    “Pendiri Pondok Pesantren Bendakerep ialah Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu). Beliau shalat berjamaah subuh dengan wudhu shalat isya selaku makmum di belakang Habib Umar selama 25 tahun.
    “Jikalau mau mencari orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi jikalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau, jarang kita temui.” (NU Bali)
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.