Tag: monumen

  • MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    SORBANSANTRI.COM

    Patung pejuang kemerdekaan berdiri di sekitar pertigaan Ngoro Indutrial Park (NIP). Penanda peristiwa masa revolusi itu merupakan salah satu monumen terbaik di Kabupaten Mojokerto karena bentuknya berbeda dengan bentuk monumen yang sering kita lihat hanya berupa tugu berbentuk peluru. Namun sayang tidak banyak yang tahu mengapa monumen itu didirikan disana ?

    Ketika belanda melakukan gerakan militer pada bulan september 1948, para pejuang republik terpaksa mengalami perubahan posisi. Serdadu Belanda menyerang hampir semua kedudukan militer RI, bahkan ibukota Jogjakarta jatuh dan para petinggi pemerintahan ditawan. Belanda mengambil momentum saat kedudukan militer Indonesia kacau akibat peristiwa Musi di Madiun yang dikenal sebagai Madiun Affair. Dalam analisa militer Belanda, pada saat itu kekuatan militer Indonesia lemah akibat pertikaian internal republik. Namun perkiraan itu meleset sebab para pejuang menolak menyerah dan menyerang balik menggunakan taktik gerilya. Maka berkobarlah perang Kemerdekaan jilid 2.

    Suatu hari di bulan Pebruari 1949, satu kompi pasukan dibawah pimpinan Kapten Budiman Sumantri membuat barikade. Kompi Budiman merupakan bagian dari kesatuan tempur Batalyon Bambang Yuwono (BY) yang saat itu ditempatkan di wilayah Ngoro-Mojosari. Kompi itu menggunakan bekas bangunan Pabrik Gula Sedati sebagai markasnya. Misi sebenarnya dari batlayon BY adalah masuk ke wilayah Sidoarjo dengan sasaran akhir bersama kesatuan perjuangan lainnya merebut Surabaya. Namun misi itu terhalang oleh kuatnya penjagaan lawan di jembatan Ngerame, Tanjangrono maupun jembatan porong. Sedangkan masuk ke Sidoarjo dengan cara menyeberangi Kali Porong juga riskan karena airnya besar pada saat musim hujan saat itu.

    Kompi Budiman membuat barikade di jalan raya yang menghubungkan Sedati dengan Japanan yang saat itu dikuasai musuh. Barikade itu dibuat dengan cara menebang pohon-pohon dan meletakkannya melintang di jalanan, bebatuan atau benda apa saja yang dapat menghambat pergerakan lawan. Barikade harus dibuat sebab beberapa hari sebelumnya terjadi pertempuran sporadis di desa Jedong. Setelah kejadian itu kemungkinan serdadu Belanda akan melakukan pembersihan dan berusaha menguasai Sedari.

    Tidak lama setelah barikade terpasang, sekira pukul 10.00 mulai terlihat gerakan pasukan musuh. Sebuah brencarrier berjalan pelan disertai formasi pasukan agak jauh dibelakangnya. Kendaraan tempur itu merupakan pembuka jalan untuk serangan lebih besar. Barikade yang dipasang para pejuang cukup efektif menghambat laju lawan. Kedatangan panser ringan itu segera disambut dengan tembakan pejuang. Sebuah upaya yang kurang efektif sebab jarak kendaraan itu masih diluar jarak tembak efektif. Namun hujan peluru itu cukup mengagetkan lawan. Terjadi kontak senjata sekitar setengah jam.

    Rupanya serdadu Belanda tidak tahan tekanan hujan peluru dari para pejuang. Walaupun brencarrier sanggup menahan peluru, tetapi mereka memilih lari meninggalkan kendaraannya untuk bergabung dengan induk pasukannya. Rupanya sebelum lari, serdadu itu sudah merusak mesin peralatan tempur tersebut. Saat didekati oleh para pejuang kondisi kendaraan itu mesinnya mati. Dari pertempuran singkat itu berhasil disita sebuah radio komunikasi (LCR), sepucuk pistol suar/isyarat dan tentu kendaraan itu sendiri. Namun karena mesin mati kendaraan itu ditinggal setelah dirusak. Mutralieur yang terpasang juga tidak bisa dibawa sebab sulit melepasnya.

    Beberapa hari berselang sejak peristiwa itu, tepatnya tanggal 11 Pebruari, gerakan pasukan lawan kembali terlihat. Sebelum masuk ke wilayah Sedati, mereka sudah melepaskan tembakan meriam terlebih dahulu. Kedudukan pejuang menjadi porak poranda karena masing masing berusaha menyelamatkan diri tanpa menghiraukan formasi pasukannya. Setelah peluru meriam dan mortier berhenti, tank.dan panser bergerak masuk ke Sedati. Perlawanan sporadis dilakukan menyambut datangnya lawan. Namun perlawanan itu tak banyak berarti karena formasi pejuang sudah porak poranda. Pada hari itu Sedati jatuh ke tangan Belanda. Tidak lama kemudian Mojosari juga berhasil dikuasai tentara belanda.

    Rupanya Sedati dan Mojosari memang menjadi target serangan lawan. Dari kedua daerah itu kemudian dilakukan serangan besar-besaran terhadap kedudukan pejuang di daerah Kutorejo. Pasukan Belanda menyerang dari berbagai arah. Kedudukan pasukan republik yang tergabung dalam Pasukan Komando Hayam Wuruk terjepit. Pertempuran terjadi sejak pagi hingga malam pada tanggal 12 Pebruari 1949.

    Jika saja waktu itu Sedati bisa dipertahankan tentu para pejuang masih punya jalan untuk lolos dari kepungan. Pertempuran besar itu merupakan pertempuran terbuka, kedua kekuatan berhadapan mengadu senjata dan keberanian, mirip dengan pertempuran nopember 1945 di Surabaya. Tidak tercatat pasti berapa jumlah korban, namun setidaknya lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Monumen Sedati dibangun untuk mengenang perjuangan pasukan pejuang dari kesatuan Batalyon Bambang Yuwono. Selain di Sedati, sebuah tugu peluru di Gumeng Gondang juga didirikan  sebagai penanda bagi Batalyon tersebut. Sayangnya monumen sebagai penanda perjuangan masa revolusi kemerdekaan itu keberadaannya tidak banyak diketahui. Patung pejuang tersebut terhalang pandang oleh bangunan yang tumbuh disekitarnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    Mengenang Pahlawan

    Namanya Kamil yang aku panggil Mbah Kamil karena usianya memang sudah sepuh. Dulu kerjanya bertani seperti profesi penduduk desa lainnya. Dan hanya dia yang tersisa dari peristiwa 68 tahun silam. Peristiwa gugurnya para pejuang kemerdekaan di desa tengah hutan

    Siang itu, 29 Desember 1949. Penduduk desa yang sedang bekerja di ladangnya terkejut oleh kedatangan ratusan orang. Rombongan yang sebagian besar membawa senjata api itu muncul dari hutan yang mengelilingi desa. Pakaian yang dikenakan terlihat lusuh seperti berhari-hari belum dicuci. Wajah mereka tampak lelah dengan peluh bercampur sisa air hujan yang membasahi tubuhnya. Kemunculan yang tidak diduga oleh warga desa Gumeng.

    Gumeng adalah desa di tengah hutan selatan Pohjejer Kec. Gondang Mojokerto. Ada sebuah sungai dengan air jernih membelah desa kecil itu. Jalan yang menghubungkan dengan dunia luar adalah jalan setapak yang susah dilewati pada musim penghujan. Kala itu penduduknya hanya puluhan orang saja. Rumah pun masih jarang.

    Pak Kamil mendengar bila pimpinan rombongan pejuang republik itu bernama Pak Pamoe. Para pejuang itu berangkat dari Wonosalam di daerah Jombang sekitar 4 hari sebelumnya. Perjalanan melelahkan karena harus menembus lebatnya pepohonan dan tanah licin saat diguyur hujan bulan Desember. Orang bilang Desember itu gede-gedene sumber, besar-besarnya curah hujan.

    Lurah Gumeng sempat bilang bila warganya tidak akan bisa memberi makan ratusan, mungkin jumlahnya seribuan orang pejuang. Ternak dan simpanan bahan makanan milik warga mungkin hanya cukup dikonsumsi 2-3 hari saja. Kekhawatiran Lurah yang dijawab pak Pamoe dengan kalimat tidak usah repot kami hanya singgah melepas lelah, ada bahan makanan kami bawa sendiri.

    Ada beras yang membebani kuda-kuda para pejuang itu. Bahan makanan yang bisa menghidupi lebih dari seminggu. Mereka juga masih bisa mengambil makan dari buah atau umbi-umbian di hutan. Makan memang bukan persoalan, namun sebagai tuan rumah Pak Lurah jelas tidak enak kalau tidak menyambut tamunya secara layak.

    Sore itu suasana desa menjadi berbeda. Desa kecil menjadi penuh sesak oleh senda gurau manusia. Malamnya, pendopo rumah pak lurah tidak bisa menampung orang yang numpang tidur. Begitupun rumah warga sudah penuh hingga sebagian tidur di luar rumah. Pagi esoknya sebagian besar berpencar pergi meninggalkan desa Gumeng. Pak Kamil tidak tahu kemana dua rombongan pejuang itu menuju. Di desa yang tersisa jumlahnya mungkin tiga ratusan orang. Pak Pamoe juga masih ada di Gumeng.

    Siangnya, Pak Pamoe memimpin pejuang berbaris di halaman rumah pak Lurah. Dia memerintahkan pasukan yang masih ada untuk segera berkemas. Pak Kamil mendengar bila mereka akan menuju desa Pugeran yang letaknya di utara desa Gumeng. Sebelum barisan dibubarkan, di udara terlihat pesawat terbang Belanda melintas dari arah utara.

    Pesawat itu kemudian berbelok dan dari arah timur terbang rendah. Pak Pamoe berteriak memerintahkan pasukannya bubar dan mencari perlindungan. Komandan itu tahu kalau pesawat itu akan menyerang barisan pejuang. Benar saja, seperti hujan peluru berhamburan dari senapan mesin di sayap dan badan pesawat tersebut. Serangan itu diakhiri oleh lemparan bom dari pesawat yang selanjutnya menghilang ke barat.

    “Bom meledak dengan suara keras memekakkan telinga. Suasana menjadi gelap oleh asap dan debu tanah yang berhamburan. Ada juga serpihan kain yang terkoyak berhamburan” kata Pak Kamil mengenang peristiwa yang disaksikannya.

    Serangan pesawat itu ternyata menewaskan puluhan orang pejuang. Pak Pamoe selamat karena berlindung di balik batu besar yang menahan terjangan peluru mitralyur dan guncangan ledakan bom. Mereka yang tidak sempat mencari perlindungan banyak menjadi korban. Para korban kemudian segera dimakamkan dan para pejuang bergegas meninggalkan desa. Tidak lama kemudian datang pasukan Belanda masuk Gumeng merazia mencari para pejuang yang sudah pergi masuk hutan.

    Itulah sedikit kisah dari Pak Kamil yang rumahnya ada di dekat Tugu Peringatan Pertempuran Gumeng. Cerita yang keluar dari orang tua yang matanya sudah tidak bisa dipakai melihat dan pendengarannya yang berkurang. Lima tahun yang silam aku temui di rumahnya. Apakah saat ini Pak Kamil masih sehat? entahlah…..

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    batalyon-hizbullah-berhasil-merebut-pacet-dari-belanda_m_37814

    cyberaswaja.online- Serangan Gerilya di Malam Pergantian Tahun bagi orang Eropa, perayaan pergantian tahun adalah satu rangkian dengan perayaan Natal. Mereka melakukan persiapan dan rencana kegiatan yang disusun jauh hari sebelumnya.

    Demikian pula dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Belanda di Mojokerto. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Pacet. Hawa dingin yang berhembus di kawasan lereng Gunung Welirang itu dianggap sebagai tempat yang cocok untuk menggelar pesta akhir tahun dengan acara dansa lengkap bersama minuman kerasnya.

    Sejarawan Mojokerto, Ayu hanafiq menceritakan, pada akhir tahun 1948, orang Belanda di Mojokerto bersuka cita. Suasana tenang yang jauh dari aroma mesiu sudah dirasakan sejak pertengahan tahun 1947. Atau setelah perjanjian Renville ditetapkan.

    Garis demarkasi seperti permintaan Van Mook disetujui oleh Perdana Menteri Amir Syarifudin dari Partai Sosialis. ”Dengan perjanjian itu, maka tentara republik dipaksa keluar dari Mojokerto,” jelasnya.

    Menurutnya, saat itu, orang-orang Belanda semakin yakin akan terjaminnya keamanan daerahnya setelah kaum republik bertikai sendiri. Sebagaimana diketahui, kekuatan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifudin dan Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso bergabung melakukan makar di Madiun.

    Tidak lama kemudian, Belanda bergerak menyerbu Jogjakarta pada akhir September 1948. ”Maka, pantas kiranya bila tahun itu dirayakan sebagai tahun kemenangan,” ungkap pria yang akrab disapa Yuhan ini.

    Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini mengatakan, pada saat itu, tentu Belanda tidak menyadari bila serangan ke ibu kota republik adalah awal dari perang gerilya.

    Para pejuang tidak lagi terikat dengan wilayah kekuasaan karena boleh bergerak ke daerah manapun yang diinginkan. ”Tapi, banyak pejuang yang memilih kembali ke daerah asalnya,” ujarnya.

    Seperti yang dilakukan oleh Batalyon Mansyur Sholikhi yang berasal dari Mojokerto dan memilih kembali ke Mojokerto. Bersama pasukan gabungan yang dinamakan Pasukan Hayam Wuruk, Batalyon Mansyur bergerak dari Wonosalam, Jombang menerobos hutan hingga ke Gondang, Mojokerto.

    Mansyur meneruskan perjalanan ke Sajen, Pacet pada 30 Desember tahun tersebut. ”Rupanya para pejuang diam-diam telah mempersiapkan kejutan di akhir tahun,” urainya.

    Jumat malam, ketika kalender menunjukkan tepat 31 Desember 1948, pasukan Mansyur segera berpencar. Mereka menunggu pada tempat yang sudah dituju, yaitu vila yang masih memancarkan cahaya ketika hari menjelang berganti.

    Penerangan itu seolah memberikan sinyal bahwa tempat tersebut terdapat orang-orang Belanda sedang bersuka ria.

    Namun, kemeriahan pesta di Pacet ternyata tidak berlangsung lama. Tepat setelah terompet dan lonceng dibunyikan sebagai tanda pergantian tahun, tiba-tiba disusul oleh suara tembakan.

    Yuhan menyebutkan, peluru datang dari kegelapan malam menerobos ruang pesta. ”Vila tempat mereka berdansa jadi porak poranda oleh orang-orang yang ketakutan,” tuturnya.

    Orang sipil sibuk menyelamatkan diri dari peluru dan para serdadu mencari senjata masing-masing. Perlawanan mereka dilakukan secara membabi-buta dengan menghamburkan peluru pada gelap malam tanpa membidik sasaran.

    Pada malam itu, Batalyon Hizbullah yang dipimpin oleh Mayor Mansyur Solikhi mengepung wilayah Pacet. Sejak sore, pasukan berani mati itu telah mengintai dengan berpangkalan di Desa Kemiri.

    ”Titik serangan ditetapkan tersebar pada vila dan gedung tempat pesta orang-orang Belanda,” ujar Yuhan. Hujan peluru pun segera membubarkan kemeriahan pesta. Kegembiraan berdansa kemudian berubah jadi ketakutan.

    ”Malam itu seakan menjadi mimpi buruk bagi Belanda,” imbuhnya. Orang Belanda terkepung dalam bangunan kokoh dengan tembok tebal yang mereka dirikan. Bangunan itu seolah benteng pertahanan yang sulit ditembus peluru.

    Tembakan balasan mereka berikan tertuju pada kegelapan di luar. Dia mengungkapkan, pasukan Hizbullah bagaikan hantu yang sulit diketahui tempat sembunyinya.

    Sayangnya, Laskar Hizbullah tidak memiliki senajata berat sejenis meriam atau granat yang bisa membongkar tembok persembunyian musuh. Senjata peledak yang dimiliki hanya pelontar mortir buatan Mrican Kediri.

    Pelontar mortir itu pun akurasi tembakannya rendah. Semalam pengepungan dilakukan dan menjelang pagi orang belanda sudah putus asa. Korban berjatuhan akibat tembakan yang tidak mereka ketahui dari mana datangnya.

    Bantuan penyelamat dari Mojokerto pun tak kunjung datang. Maka tumpaslah mereka di malam pergantian tahun itu. ”Saat fajar menjelang, kota peristirahatan Pacet sudah dikuasai oleh Republik,” pungkas Yuhan.

    (mj/ram/ris/JPR)