Tag: MUTHOLAAH

  • KIAI YANG LUMPUH PULUHAN TAHUN, TETAP ISTIQOMAH MENGAJAR

    KIAI YANG LUMPUH PULUHAN TAHUN, TETAP ISTIQOMAH MENGAJAR

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Muhammad Rohmat Amin Wonoroto (Mbah rohmat), Ulama’ pedalaman Magelang, Pengasuh Pesantren Daarul Muhtadiin Wonoroto, Magelang, didirikan pada 1966.

    Allah memberi cobaan sakit kepada beliau semenjak kecil, kedua kakinya lumpuh total sejak usia 25 tahun. Sehingga kegiatan belajar mengajar santri, beliau lakukan di pembaringan.

    Menurut kisah yang masyhur, Mbah Rohmat tidak pernah mengeluarkan hadats selama puluhan tahun hingga wafatnya, dan jarang tidur, saking seringnya riyadhoh dan mutholaah, wudhu beliau bahkan baru diperbaharui tiap 15 hari sekali. Tetap istiqomah mengajar, dan setiap 3 hari sekali mengkhatam al-Qur’an. Saking cintanya pada ilmu, sebelum Mbah Rohmat lumpuh, alat-alat pertanian untuk buruh tani beliau jual seluruhnya untuk membeli kitab.

    Kecintaannya itu sendiri, telah membuat Mbah Rohmat istiqomah dalam mengamalkan ilmu-ilmunya pada masyarakat. Hingga Allah SWT berkenan memanggil Mbah Rohmat dalam keadaan sedang menyimak para santrinya yang sedang mengaji sorogan di pesantrennya. Beliau wafat pada malam selasa ba’da maghrib 19 Februari 2004 bertepatan dengan 27 dzul qo’dah. (abi sorban)

    Semoga Allah senantiasa merahmati beliau sekeluarga. Aamiin. Lahu alFaatihah

    . *Sumber : Haji Purnoto, KH. Thoifur Mawardi Purworejo, KH Kholil Tembarak Temanggung, Mas Fahmi Ali.

    Walahualam…

    Alfatihah…

    #kyai
    #kyaiku
    #ulamanusantara
    #biografiulama

  • JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyiah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan, jangan pernah tinggal muthalaah (mengkaji). Selain itu, seorang santri meskipun telah menjadi ulama terkenal tetaplah bersikap sebagaimana santri di depan guru-gurunya.
    Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:
    1. Gemarlah Mengkaji Kitab (Muthalaah)
    “Ya, saya ingatkan agar kita jangan bosan muthalaah dan jangan bosan mengulang-ngulangnya walaupun kitabnya cuma sekali. Karena kalau rajin muthalaah dengan berkah mu’allif, insya Allah difutuh (dibuka) oleh Allah SWT,” tuturnya.
    “Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca shalawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syaikh Abi Zakariya al-Anshari tiap malam baca shalawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” tuturnya.
    2. Meraih Khidmah Ulama
    Yang ke-2, jangan tinggal khidmah untuk guru walaupun cuma sedikit, itu yang menjadikan karena terbukanya mafahim yang luar biasa.
    Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah fatihah untuk guru, saya paling tidak suka jikalau ada santri sampai melupakan gurunya, karena kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya.
    “Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.
    3. Santri di Depan Guru, Kirim Alfatihah
    “Selama di pondok, saya tidak pernah memosisikan diriku selaku seorang Sayyid (Habib). Saya senantiasa memosisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walau pun sesungguhnya guruku (Kiyi Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku.”
    “Pendiri Pondok Pesantren Bendakerep ialah Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu). Beliau shalat berjamaah subuh dengan wudhu shalat isya selaku makmum di belakang Habib Umar selama 25 tahun.
    “Jikalau mau mencari orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi jikalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau, jarang kita temui.” (NU Bali)
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.