Tag: nahdlotul ulama’

  • Sejarah JATMAN, Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah

    Sejarah JATMAN, Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran at-thoriqoh al-mu’tabaroh, yang merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala Ahlussunah wal Jama’ah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafus shalihin, yang bersumber dari Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam, Malaikat Jibril Alaihi Salam atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanad yang muttasil.

    Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah merupakan suatu sarana bagi para mursyidin/khalifah, untuk lebih mengefektifkan pembinaan terhadap para murid yang telah berbai’at sekaligus sebagai forum untuk menjalin ukhuwah antar sesama penganut ajaran thoriqoh dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan dan keihlasan di dalam amaliyah ubudiyyah serta meningkatkan rabithah terhadap guru mursyid/khalifah.

    Thoriqoh ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah SWT melalui tahapan-tahapan/maqamat.

    Dengan demikian thoriqoh memiliki dua pengertian. Pertama, ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan.

    Kedua, thoriqoh sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath atau pondok pesantren, perguruan, atau khalaqah.

    Dinamakan thoriqoh maksudnya menjalankan agama Islam dengan lebih hati-hati dan teliti sebagaimana menjauhi perkara yang masih syubhat dan melaksanakan keutamaan-keutamaan sesudah kewajiban-kewajiban pokok, seperti mengerjakan sholat tahajjud dan sholat sunnat rowatib dan lain sebagainya. Disertai dengan kesungguhan dalam mengerjakan ibadah dan riyadloh, misalnya berpuasa pada hari Senin dan hari Kamis, rajin membaca al-Qur’an, membaca sholawat Nabi, dzikir, tasbih, istighfar dan lain sebagainya.

    Dinamakan al-Mu’tabaroh itu karena semua amalannya (thoriqohnya) bersambung (muttasil) sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW. yang mana beliau menerima dari Malaikat Jibril AS. dan Malaikat Jibril dari Allah SWT.

    Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah didirikan di Tegalrejo Magelang 20 Rojab 1377 / 10 Oktober 1957.

     

    TOKOH PENDIRI

    Tokoh pendiri Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdiyyah ini ada dua tahap. Pada mulanya Jam’iyyah ini bernama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh (tanpa an-Nahdliyyah), nama ini dipakai mulai Muktamar I yang diadakan di Tegalrejo, Magelang.

    Pemrakarsa muktamar pertama itu adalah:

    1. KH Muslih Abdurrohman, Mranggen Demak Jawa Tengah
    2. KH Nawawi, Berjan Purworejo Jawa Tengah
    3. KH Masruhan, Mranggen Demak Jawa Tengah
    4. KH Khudlori, Tegalrejo Magelang Jawa Tengah
    5. Andi Potopoi, Bupati Grobogan Jawa Tengah

     

    Nama itu digunakan mulai:

    • Muktamar I TEGALREJO MAGELANG JAWA TENGAH (12 OKT 1957 M / 18 R AWAL 1377 H)
    • Muktamar II PEKALONGAN JAWA TENGAH (9 Nopember 1959 M / 8 Jumadil Ula 1379 H)
    • Muktamar III TULUNG AGUNG JAWA TIMUR (28-30 Juli 1963 M / 26-28 Shafar 1383 H)
    • Muktamar IV SEMARANG JAWA TENGAH (28-30 Oktober 1968 M / 4-7 Sya’ban 1388 H)
    • Muktamar V MADIUN JAWA TIMUR / dengan istilah konggres V (24-27 Rajab 1395 H / 2-5 Agustus 1975 M)

    Kedua, sedang mulai Kongres VI di Kraksaan, Probolinggo sudah menggunakan nama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah. Nama inilah yang digunakan sampai sekarang, menjelang Muktamar XI.

    Adapun dasar perubahan nama itu adalah Keputusan Muktamar NU ke-26 di Semarang. Keputusan NU itu dibuat berdasarkan usulan sebagian besar tokoh ulama thoriqoh sendiri dengan alasan agar jam’iyyah ini tidak dibawa-bawa ke kancah politik praktis.

    Hasil keputusan itu berupa penetapan bahwa NU mempunyai Badan Otonom yang namanya; Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah.

    Berdasarkan keterangan ini maka disepakati bahwa Tokoh pendiri Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah adalah:

    1. KH. Abdul Wahab Hasbullah, Ro’is ‘Am PBNU
    2. KH. Bisri Syamsuri, Katib ‘Am PBNU
    3. KH. Dr. Idham Cholid, Ketua Umum PBNU
    4. KH. Masykur, Sekjen PBNU
    5. KH. Muslih Abdurrohman, Ro’is ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh.

    Selanjutnya nama itulah yang digunakan dalam muktamar-muktamar berikutnya.

    • Muktamar VI DI KRAKSAAN PROBOLINGGO JAWA TIMUR, (KONGGRES VI) 12-14 Rabiul Awal 1405 H / 5-7 Desember 1984 M
    • Muktamar VII DI MRANGGEN DEMAK JAWA TENGAH (16 J ULA 1410 H / 15 DES 1989 M)
    • Muktamar VIII DI CABEAN PASURUHAN JAWA TIMUR (1-5 R TSANI 1416 H / 27-31 AGUSTUS 1995 M)
    • Muktamar IX DI PEKALONGAN JAWA TENGAH (26-28 pebruari 2000 M / 21-23 Dzulqo’dah 1421 H)
    • Muktamar X DI PEKALONGAN JAWA TENGAH (25-30 maret 2005 / 14-17 Shafar 1426 H)

     

    SIFAT DAN TUJUAN

    Sifat ajaran at-thoriqah al-mu’tabaroh adalah:

    1. Universal artinya: thoriqoh memiliki sifat yang mendunia melampui batas-batas wilayah dan negara karena tiap-tiap aliran thoriqoh walaupun diamalkan oleh tiap-tiap warga negara tetapi secara sanad masing-masing masih berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
    2. Sifat menyeluruh artinya pelaksanaan ajaran thoriqoh sekaligus meliputi pelaksanaan al-aqidah, asy-syariah, al-muamalah dan al-akhlaq yang bertujuan untuk wushul ila Allah.
    3. Tertib dan terbimbing, setiap pengamal thoriqoh harus didasarkan kepada kitab-kitab yang mu’tabar dengan bimbingan para mursyid.
    4. Al-Wushul ila Allah, thoriqoh adalah tidak semata-mata bentuk amalan bacaan atau dzikir untuk mencari pahala tetapi thoriqoh bertujuan membentuk manusia seutuhnya, lahiriyah bathiniyah, yang bisa mengembangkan dan merasa didengar dan dilihat oleh Allah, atas dirinya sehingga dapat memiliki beberapa sifat al-khauf, ar-roja’, ash-shidiq, al-mahabbah, al-wara’, az-zuhud, asy-syukur, ash-shabar, al-khaya’ dan al-khusyu’. Semuanya itu merupakan bagian dari syarat dalam mencapai mardhotillah.
    5. Amanah; fathonah; shidiq dan tabligh, sebagai cahaya pancaran dari Baginda Nabi yang seharusnya mewarnai setiap anggota thoriqoh, sehingga dari sifat-sifat tersebut dapat melahirkan sifat handarbeni dan menghargai segala pemberian hak individu dari lingkup yang kecil sampai yang besar baik yang diberikan oleh Allah SWT maupun pemberian oleh sebab manusia.

    Tujuan Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah adalah:

    1. Mengupayakan berlakunya syari’at Islam ala Ahlussunah wal Jama’ah secara konsisten dalam bidang syari’at, thoriqoh, hakikat dan ma’rifat di tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    2. Menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran ath-Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah melalui kegiatan-kegiatan khususiyyah thoriqiyyah/tawajjuhan.
    3. Mengembangkan, mempercepat, mempergiat dan memelihara ukhuwah thoriqiyyah an-Nahdliyyah sesama pengamal thoriqoh, meningkatkan tasamuh antar aliran–aliran thoriqoh dan meningkatkan ilmu nafi’ dan amal shalih dlohir dan bathin menurut ulama shalihin dengan bai’at yang shoheh.

     

    STRUKTUR ORGANISASI

    1. Di tingkat pusat dinamakan IDAROH ALIYYAH JAM’IYYAH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    2. Di tingkat Propinsi dinamakan IDAROH WUSTHO JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    3. Di tingkat Kabupaten/kodya dinamakan IDAROH SYU’BIYYAH JAM’IYYAH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    4. Di tingkat Kecamatan dinamakan IDAROH GHUSNIYYAH JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    5. Di tingkat Desa dinamakan IDAROH SA’AFIYYAH JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH

    Idaroh/kepengurusan Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah mulai dari Idaroh Aliyyah, Idaroh Wustho, Idaroh Syu’biyah, Idaroh Ghusniyyah dan Idaroh Sa’afiyah masing-masing terdiri dari Majlis Ifta’, Ifadliyyah, Imdla’iyyah dan Imdadiyyah.

  • Pelantikan pengurus MWCNU JETIS MOJOKERTO massa khidmat 2021 – 2026

    Pelantikan pengurus MWCNU JETIS MOJOKERTO massa khidmat 2021 – 2026

    Sorbansantri.com –prosesi pelantikan pengurus MWCNU jetis periode 2021-2026 di aula kantor kebanggaan warga jetis yang berlantai dua itu di laksanakan dua hari, hari pertama jum’at (05/03/2021) di isi Khotmil Qur’an dan doa bersama, puncak acara hari sabtu (06/03/2021) di mulai jam 09:20wib.

    Sebelum pembaitan peserta dan undangan bersama sama menyayikan lagu indonesia raya dan subanul waton.

    Proses baiat di pimpin langsung oleh ketua tanfidziyah PCNU KAB MOJOKERTO KH ABDUL ADZIM ALWI yang di dampingi oleh beberapa pengurus PCNU, nampak juga hadir pak camat jetis, kapolsek jetis, dhanramil jetis, anggota DPRD dari fraksi PKB, ketua ranting NU sekecamatan jetis, dan ketua banom serta lembaga seMWCNU jetis, nampak juga sekitar 15 personil BANSER yang ikut mengamankan jalannya acara.

    SORBANSANTRI.COM
    KH. ABDUL ADZIM ALWI bersama pengurus PCNU Kab Mojokerto

    Dalam sambutannya KH ABDUL ADZIM ALWI menghimbau kepada warga NU jetis terutama pengurus baik di jajaran MWCNU maupun ranting untuk menjaga kekompakan dan kerukunan dalam menjalankan organisasi.

    beliau juga menharapkan kepada semua pengurus untuk selalu bersemangat mengerakan organisasi dan jangan sampai kendor serta mengharapkan mengefaluasi progam progam dengan mengadakan musker minim 3 kali dalam satu periode.

    H. USAIL S.Pd.I selaku ketua terpilih mengharap dukungan dan doanya dari pengurus dan warga NU supaya bisa menjalankan amanah yang beliau emban, mudah mudahan bisa menjalankan organisasi kedepan lebih baik. (Dikin sorban)

  • NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    InfokomBanserNU-

    1. Ketuhanan yang maha esa
    katakanlah : Dialah Allah yang maha Esa. (QS. Al-Ikhlas, [112] : 1)

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil.
    (QS. An-Nisa’, [4] :135)

    3. Persatuan Indonesia.
    dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa” dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.
    (QS. Al-Hujarat, [49] :13)

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebaijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
    Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dg musyawarah diantara mereka.
    (QS. As-Syuro, [42] : 38)

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
    (QS. An-Nahl, [16] : 90)

    (red.abi)

  • JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    Infokom Banser NU – 

    KH. Hasyim Asyari Tidak Pernah Melawan Negara atas Nama Agama
    .
    “Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari membela Negara dengan menggunakan Agama, tapi tidak melawan Negara dengan menggunakan Agama.”
    .
    Berbeda dengan kondisi saat ini, agama dijadikan alat untuk menyerang dan membusukkan pemerintah yang sah. Golangan tersebut menggunakan simbol-simbol Islami untuk membikin gaduh negeri.
    .
    Mereka kencang sekali meneriakkan takbir, memakai bendera tauhid, mengatasnamakan agama dan Tuhan untuk melampiaskan nafsunya, rakus dengan kekuasaan.
    .
    Seharusnya, agama menjadi penguat negara bukan agama sebagai penghancur negara. Kalau agama hanya bertugas mempentungi negara, maka jangan salahkan pula jika negara menggebug para penganut agama itu.
    .
    Dari sini terlihat jelas bahwa sekarang ini banyak penganut agama yang gagal paham, tak mampu memahami agama dengan baik dan benar. Bukan salah agamanya, akan tetapi salah manusianya yang memaknai agama dengan nafsu dan semaunya sendiri.
    .
    Bahkan Pendapat dan Pedoman Beliau sangat Terkenal dengan Ucapan beliau.”HUBBUL-WATHON MINAL-IIMAAN”,mencintai tanah air sebagian dari iman.

  • Lazisnu MWCNU Bangsal mojokerto dan Himmatun Ayat Menyantuni 74 Yatim/Dhuafa’

    Lazisnu MWCNU Bangsal mojokerto dan Himmatun Ayat Menyantuni 74 Yatim/Dhuafa’

    SORBAN SANTRI ~Setelah satu minggu yang lalu LAZISNU MWC Kecamatan Bangsal & PC LAZISNU Kabupaten Mojokerto ‘berkoalisi” dalam menyantuni 105 orang terdampak covid 19, hari Kamis kemarin tanggal 29 oktober 2020 atau tanggal 12 Rabiul awal 1442 H bertepatan dengan momen Maulid Nabi Muhammad Saw, LAZISNU MWC kecamatan Bangsal kembali “berkoalisi” dengan HIMMATUN AYAT (Himpunan Muslim Penyantun Anak Yatim) cabang Kabupaten Mojokerto dalam memberikan santunan kepada 74 anak yatim dan dhuafa.

    SORBANSANTRI.COM

    Acara Santunan 74 Yatim & Dhuafa’dalam rangka Hari Santi 2020& Maulid Nabi

    Kali ini acara santunan tersebut dikemas dalam acara memperingati hari santri 2020 sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini selain dihadiri 74 anak yatim dan dhuafa juga dihadiri oleh jajaran MUSPIKA Kecamatan Bangsal antara lain Bapak Sugeng Nuryadi, SIP. MM, selaku camat Bangsal, Bapak Kapten Infantri Mujiono selaku Danramil Bangsal yang diwakili oleh bapak Siswanto, bapak karsono selaku kepala Desa sidomulyo, Bapak H Anton selaku kepala Desa Bangsal, Bapak H Lukman Hakim MSI selaku ketua Tanfidziyah dan jajaran pengurus harian MWC NU Kecamatan Bangsal.

    SORBANSANTRI.COM

    Nampak Camat Bangsal, Danramil, Kepala Desa dan Pengurus MWC Bangsal hadir dalam acara

    Selain dihadiri oleh jajaran muspika Kecamatan Bangsal acara santunan 74 anak yatim dan dhuafa ini juga dihadiri oleh jajaran pengurus Yayasan pondok pesantren Al hasyimi selaku tuan rumah, Pengurus Himmatun Ayat Kabupaten Mojokerto, pengurus PC Lazisnu Kabupaten Mojokerto dan juga tokoh-tokoh masyarakat aghniya’ yang sudah memberikan sodaqohnya untuk acara santunan 74 anak yatim dan dhuafa’ ini.

    SORBANSANTRI.COM

    Nampak Camat Bangsal didampingi Danramil memberikan santunan secara simbolis

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak ketinggalan Pengurus Lazisnu MWC Kec. Bangsal membagikan sembako

    SORBANSANTRI.COM

    Pengurus Himmatun Ayat & Ketua Lazisnu MWC Kec. Bangsal membagikan uang santunan

    Koalisi bersama PC LAZISNU MWC Kec. Bangsal dan HIMMATUN AYAT ini bertujuan untuk lebih memberikan bobot santunan kepada anak yatim dan dhuafa, selain uang juga dibagikan sembako berkat kerjasama kedua organisasi yang sama2 bergerak dalam Santunan Yatim & Dhuafa’ ini. PC LAZISNU MWC Kecamatan Bangsal menggerakkan mesin organisasinya untuk sambang ke para aghniya’ dalam rangka menjemput shodaqoh mereka dan alhamdulillah sambutan para aghniya’ yang sangat antusias itu akhirnya bisa terkumpul shodaqoh lebih dari Rp 5.000.000 untuk diwujudkan beras 3 kg, minyak 1 liter dan gula 1 kg dan santunan berupa uang yang sejumlah Rp60.000 per masing-masing anak dari Yaysan HIMMATUN AYAT (Himpunan Muslim Penyantunan Anak Yatim). Tidak ketinggalan juga sumbangan dari PC LAZISNU Kabupaten Mojokerto, selain mem back up acara santunan, para pengurus PC LAZISNU Kabupaten Mojokerto yang turut hadir secara full team juga membagikan sandal untuk anak yatim dan dhuafa sebagai pelengkap dari santunan tersebut.

    SORBANSANTRI.COM

    Pengurus PC Lazisnu Kab. Mojokerto membagikan Santunan

    SORBANSANTRI.COM

    Kegembiraan Anak-anak berfoto bersama setelah acara

    SORBANSANTRI.COM

    Kegembiraan Anak-anak Yatim & Dhuafa’Himmatun Ayat saat acara

    Akhirnya dengan penuh keceriaan 74 buat anak yatim dan dhuafa pulang dengan membawa santunan yang diberikan. Semua kegembiraan mereka ini semoga dibalaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’Ala kepada para aghniya’ semuanya sehingga rezeki para aghniya’ semakin banyak dan barokah, Amin ya robbal alamin. Barokalloh…

    By: H. Subhan / sodikin sorban

  • SANTUNAN DAN SOSIALISASI KARTANU (KARTU TANDA ANGGOTA NAHDLOTUL ULAMA) DI MOJOKERTO

    SANTUNAN DAN SOSIALISASI KARTANU (KARTU TANDA ANGGOTA NAHDLOTUL ULAMA) DI MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pacet menggelar Sosialisasi Pengadaan Ulang Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) yang sudah dijadwalkan oleh PCNU Kab. Mojokerto bertempat di Kantor MWCNU Pacet (GRAHA NU) dan dihadiri oleh Tim Sosialisi dari PCNU, Jajaran MWCNU Pacet, Pengurus Ranting NU juga Pimpinan Banom – Banom NU. Jum’at (28/08/2020).

    Pengadaan Ulang Kartanu adalah salah satu program PCNU Kab. Mojokerto yang harus segera direalisasikan, karena Kartanu yang sudah dipegang Warga NU se Kabupaten Mojokerto sudah habis masa berlakunya. Kartanu yang baru ini masa berlakunya beda dengan yang dulu hanya 5 tahun, untuk yang sekarang berlakunya seumur hidup.

    Sebagaimana tujuan awal, Kartanu menjadi basis database warga NU, juga merupakan kartu identitas yang dimiliki oleh setiap anggota NU, yang terus dikembangkan dalam rangka memudahkan warga NU dan juga sekaligus sebagai sebuah bentuk khidmat dan pelayanan keummatan.

    Kegiatan tersebut tidak hanya sebatas sosialisasi saja, tapi juga disertai santunan anak yatim yang dihandle oleh NU Care – Lazisnu Pacet sebagai bentuk kepedulian NU yang diwakili oleh KH. Iskandar Munir (Rais Syuriyah MWCNU) untuk memberikan santunan tersebut. (gipho SORBAN)

  • Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    SORBANSANTRI.COM
    (Sumber gambar: Tribunnews.com)

    PKI BURU SANTRI DAN KYAI (KEJADIAN TAHUN 1948/SEBELUM PEMILU 1955)
    Kabar mengenai tewasnya Kyai Hamid Dimyathi Pimpinan Ponpes Tremas ditangan PKI yang disampaikan Shoimun (Baca: Part 4) membuat gempar. Sholat ghaib dan tahlil pun dilakukan di mana-mana, sehingga hal itu menyatukan semangat umat Islam khususnya kaum santri untuk kembali membebaskan Madiun dan sekitarnya dari cengkeraman PKI.  Banyak kalangan terutama kalangan Pesantren di Jawa Timur dan kalangan Birokrat juga ikut terpukul kala itu. Kyai Dimyathi merupakan ketua DPC Partai Masyumi Pacitan saat itu dan merupakan Ulama cukup dikenal disana dan juga seorang Aktivis pergerakan Kemerdekaan yang juga menjadi anggota Parlemen dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Jasad Kyai Dimyathi ditemukan dalam sebuah sumur kuburan masal di daerah Tirtomoyo Wonogiri. Ditahun itu (sebelum Pemilu pertama 1955) NU belum membentuk Partai dan Partai Masyumi merupakan partai Islam yang didalamnya bergabung para cendekiawan Islam ditanah air termasuk dari NU dan Muhammadiyah.

    SORBANSANTRI.COM
    Biorama di museum lubang buaya, PKI yang menangkapi para kyai (merdeka.com)

    Masih tahun 1948, Para PKI terus memburu para Kiai ke daerah lain sampai ke Ngawi, Di Walikukun Ngawi terdapat seorang kiai sepuh yang biasa dipanggil Mbah Ngompak. Ketika Kiai sepuh ini sedang melakukan sholat tahajud di tengah malam di mesjid di Pesantren Tanjung Sari yang diasuhnya tiba-tiba ia disergap gerombolan PKI. Mbah Ngompak diseret keluar masjid dengan tangan terikat lalu diseret dengan kuda melalui jalanan sepanjang 10 KM tetapi ajaibnya Kiai sepuh itu masih bertahan hidup. Kemudian diseret lagi hingga sampai disebuah sungai yang curam, badan Mhah Ngompak yang sudah babak belur itu dilempar ke sungai hingga menemui ajalnya di sungai tersebut.
    Pembantaian lain dilakukan gerombolan PKI pada jemaah Kiai Zaenal Abidin, saat itu Kyai Zaenal Abidin yang tengah Riyadoh bersama 25 orang santrinya di masjid ditangkap oleh PKI yang datang bersenjata senapan, klewang, pedang hingga clurit. Sudah lama gerombolan PKI mengincar kiai beserta santrinya itu, tetapi ketika sudah lama ditunggi tidak mau keluar dari masjid, maka mereka diseret keluar secara paksa. Kemudian mereka disekap kedalam rumah penduduk yang sudah kosong lalu rumah itu dibakar, sehingga semuanya mati terbakar.
    BELANDA KEMBALI MASUK INDONESIA
    Tentu saja pemberontakan PKI ini sangat membahayakan terhadap keselematan Rupublik yang baru dibangun ini. Negeri hasil Proklamasi yang baru berusia 3 tahun kala itu harus menghadapi dua lawan sekaligus. Musuh dari dalam yaitu PKI dan dari luar Belanda beserta tentara Sekutu. Ternyata kedua kekuatan yang selama ini bermusuhan menyatu dalam menghadapi Republik Indonesia. PKI mendapat bantuan besar dari Belanda. Dalam penggerebekannya terhadap Markas PKI dan Pesindo, tentara Hizbullah menemukan berbagai amunisi dari Belanda dan ditemukan bendera Belanda di markas mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: republika.co.id

    Peberontakan PKI itu juga difasilitasi Belanda sebagai bentuk politik divide et impera(memecah belah) untuk melumpuhkan Indonesia dari dalam agar Belanda mudah untuk merebut kembali Republik Indonesia untuk dijajah. Pada hari Ahad 19/12/1948 ketika republik ini menghadapi pemberontakan PKI, situasi kacau ini dimanfaatkan Belanda untuk kembali melakukan Agresi Kedua menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menagkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Muhammad Hatta. Dengan didudukinya Yogyakarta, maka satu-persatu daerah stretegis di Jawa diduduki oleh Belanda. Tentara Indonesia di bawah Pimpinan Jenderal Sudirman dengan didukung pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin KH Masykur dan KH Zainul Arifin dari NU terus melakuakan perang. Sebaliknya PKI Pesindo yang juga berambisi mengambil alih kekuasaan dengan jalan pintas, tertarik dengan agenda Belanda itu, karena itu mereka melakukan pemberontakan pada saat bangsa ini sedang melakukan revolusi nasional.

    SORBANSANTRI.COM
    KH.Masjkur (Lahir di Malang – JATI), Pemimpin Laskar Sabilillah Saat itu (kompas.com)

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Zainul Arifin (Lahir di Tapanuli Tengah – SUMUT), Pemimpin Laskar Hisbullah saat itu (nu.or.id)

    PARA PIMPINAN PKI DIEKSEKUSI MATI, NAMUN AIDIT BERHASIL KABUR (KEJADIAN 1948)

    Setiap daerah yang dilalui oleh pasukan PKI di situ dilakukan pembantaian dan perampasan. Bila terjadi perlawanan maka terjadilah perang sasudara, yang memakan korban di kedua belah pihak, setelah itu PKI lari lagi mencari perlindungan di daerah tersembunyi menjauh dari kejaran Tentara. Walaupun keadaan sudah di kuasasi Tentara mulai dari pusatnya di Madiun sendiri maupun daerah sekitarnya yang menjadi benteng pertahanan PKI terjadi berbagai peristiwa bentrok antar PKI dan warga terus terjadi walaupun dalam skala kecil 
    Dengan kekuatan penuh Tentara dari Divisi Siliwangi dan ditopang oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah keadaaan bisa dipulihkan. Mengingat kekuatan PKI yang telah sedemikian kuat dan menyebar yang meliputi kawasan Jawa Timur dan Jawa tengah maka pasukan pemerintah harus bekerja keras dan cepat. Dengan kerja kerasnya itu maka, kesatuan Republik bisa dipertahankan persis pada 30 September 1948 Madiun dan semua daerah yangPemberontak menguasai keadaan sekitar 13 hari dengan memakan korban nyawa dan harta serta budaya yang tak terhidung jumlahnya. Para gembong PKI seperti Muso, Amir Syarifuddin, Maruto Darusman serta pimpinan lainnya diburu oleh tentara sebelum akhirnya ditembak mati diwaktu yang berbeda.
    Pada 19/12/1948 di tengah malam, atas perintah tentara para warga Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo menggali lubang besar untuk makam Amir Sjarifoedin dkk yang tertangkap, Proses Eksekusi dilakukan secara terburu-buru mengingat Belanda akan melakukan agresi militer Kedua di Indonesia beberapa jam kemudian.
    Sambil menunggu Eksekusi, Amir sempat bertanya kepada seorang Tentara berpangkat letnan: 
    “apa yang akan terjadi?” tanya Amir. Amir bersama 10 anggota PKI yang tertangkap didakwa melakukan makar terhadap pemerintah.
    “Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?”tanya Amir.
    Namun Perwira itu bergeming dan menjawab. “Tidak usah banyak bicara,” sambil menyodorkan surat perintah eksekusi mati.
    “Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih,” tanya Amir lagi.
    Tanpa tedeng aling-aling, pasukan regu tembak mulai mengisi bedilnya dengan amunisi, sebelum ditembak mati, Amir masih sempat menyanyikan lagu Mars Komunis.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI yang di tembak mati pada 1948 (merdeka.com)

    SORBANSANTRI.COM
    Ketika Amir Sjarifoedin Tertangkap dan Digiring oleh Tentara sebelum di tembak Mati pada 1948, Siapa Sangka Tokoh PKI Amir Syarifuddin pernah menempati posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. (sumber: historia.id)

    Pasukan FDR PKI makin terdesak terus dalam pengejaran Tentara dan Laskar Hisbullah & Sabilillah. Ketika dalam Pengejaran pasukan Siliwangi beberapa tokoh seperti DN Aidit dan gembong PKI lainnya seperti Alimin, Tan Ling Djie, Njoto termasuk Soemarsono, selamat karena masuk ke wilayah pendudukan Belanda. Dan atas jasa Belanda yang selama ini menjadi sekutu FDR PKI, maka mereka dilarikan ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, hingga pada 1965 selanjutnya merekalah yang melakukan pemberontakan PKI kembali. Bersambung,,

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 52-58). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

     

  • KENAPA HABIB LUTHFI BIN YAHYA FANATIK KEPADA NU? INI JAWABANNYA

    KENAPA HABIB LUTHFI BIN YAHYA FANATIK KEPADA NU? INI JAWABANNYA

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya

    SORBAN SANTRI – Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.

    Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”

    “Siapa Kyai?” jawabku.

    “Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.

    Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”

    Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”

    “Cerita apa Kyai?” jawabku.

    “Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

    Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”

    Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

    Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.

    Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

    Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

    Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

    Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

    Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.

    (Dokumentasi ceramah Habib Luthfi Bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan)

    (Dialih bahasakan oleh Syaroni As-Samfuriy).