Tag: Netralitas

  • KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    KONFLIK PBNU-PKB SUDAH DIPREDIKSI OLEH GUS DUR

    BERITA VIDEO

    Sorbansantri.com – Konflik yang terjadi antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru-baru ini menjadi perhatian publik, namun sebenarnya, ketegangan ini sudah pernah diprediksi oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tokoh besar NU yang juga pendiri PKB. Gus Dur pernah mengingatkan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan harus menjaga jarak dari politik praktis. Menurutnya, “NU tidak melibatkan diri dalam urusan politik praktis. Biarlah soal politik menjadi milik dan tugas kelompok lain.” Pernyataan ini sejalan dengan khittah NU, yang menekankan bahwa NU berfokus pada pemberdayaan umat melalui jalur sosial-keagamaan, bukan pada kepentingan politik sehari-hari.

    Lebih lanjut, Gus Dur juga menegaskan agar NU tidak memanfaatkan kekuatan organisasi untuk masuk ke dalam permainan politik dan kekuasaan negara. Dia pernah mengatakan, “NU tidak usah mencari peluang bermain di dalam ruang-ruang politik dan kekuasaan negara. Kalau Anda mau memperdayakan masyarakat tetapi Anda menghamba pada status quo, lalu bagaimana caranya?” Dalam hal ini, Gus Dur mengkhawatirkan bahwa jika NU terlibat terlalu dalam dengan kekuasaan, ia akan kehilangan netralitas dan sulit untuk menjadi penggerak perubahan bagi masyarakat. Pandangan ini kini dirasa semakin relevan, terutama ketika terjadi konflik atau perbedaan pandangan terkait kepentingan politik antara PBNU dan PKB.

    Di beberapa daerah, fenomena ini juga terlihat dalam bentuk penggunaan jabatan untuk mendukung pasangan calon, seperti dalam Pilkada Mojokerto. Di Mojokerto, misalnya, ada indikasi pihak tertentu yang menggunakan akses dan jabatan mereka untuk menggalang dukungan terhadap salah satu calon, sehingga memunculkan pertanyaan tentang independensi NU dalam politik lokal. Situasi ini menjadi refleksi bagaimana pesan Gus Dur tentang menjaga jarak NU dari politik praktis tetap perlu diperhatikan. Membiarkan NU berfokus pada perannya sebagai organisasi keagamaan yang netral adalah langkah penting agar NU dapat terus berfungsi sebagai penjaga nilai dan pemberdaya masyarakat tanpa terpengaruh dinamika politik kekuasaan.(AI Sorban)

    @beritasorban Ketegangan antara PBNU dan PKB semakin terasa, tapi tahukah Anda? Tokoh besar NU, Gus Dur, sudah pernah memprediksi hal ini. Gus Dur dengan tegas mengingatkan, bahwa NU seharusnya tidak terlibat dalam politik praktis. 'Biarlah soal politik menjadi tugas kelompok lain,' katanya. #GusDur #PBNU #PKB #KhittahNU #PilkadaMojokerto #NetralitasNU #SorbanSantri #fyp #fypシ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Ironi Penolakan BANSER oleh Raja-Raja Bali saat Apel Kesetiaan di Tengah Muktamar PKB

    Ironi Penolakan BANSER oleh Raja-Raja Bali saat Apel Kesetiaan di Tengah Muktamar PKB

    Berita Video

    Sorbansantri.com – Pada hari-hari terakhir ini, muncul kejadian yang cukup mengundang perhatian publik, terutama dalam lingkup keagamaan dan politik. BANSER, yang dikenal sebagai sayap paramiliter Nahdlatul Ulama (NU) dengan semangat perjuangan kemanusiaan tanpa mengenal golongan, ras, atau afiliasi politik, justru mengalami penolakan dari raja-raja Bali saat menggelar Apel Kesetiaan beberapa hari yang lalu.

    Kegiatan yang seharusnya menjadi wujud komitmen BANSER terhadap NKRI ini malah menjadi kontroversi. Ironisnya, Apel Kesetiaan ini diadakan bertepatan dengan pelaksanaan Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Bali, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat Apel Kesetiaan tersebut berlangsung. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa kurangnya koordinasi dan komunikasi yang baik menjadi penyebab utama gesekan antara BANSER dan pihak-pihak setempat.

    Seharusnya, sebagai organisasi yang sudah dilatih dengan kedisiplinan tinggi dan kepekaan terhadap situasi di lapangan, BANSER mampu mengantisipasi dampak atau efek dari kegiatan yang mereka lakukan, terutama jika berpotensi menimbulkan konflik dengan pihak lain. Namun, kenyataannya, instruksi untuk menggelar Apel Kesetiaan ini seolah dilakukan secara tiba-tiba, tanpa perencanaan yang matang. Hal ini terbukti dari perintah mendadak untuk memulangkan BANSER yang baru saja tiba di Bali.

    Kejadian ini menjadi sorotan, terutama di tengah memanasnya hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan PKB, dua entitas yang memiliki ikatan historis dan emosional yang kuat. Penolakan ini, selain menyiratkan adanya ketidakharmonisan antara kedua belah pihak, juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana BANSER, sebagai bagian dari NU, dapat mempertahankan netralitasnya di tengah situasi politik yang semakin kompleks.

    Publik kini menanti langkah selanjutnya dari BANSER dan NU dalam menyikapi situasi ini, serta bagaimana mereka akan menjaga komitmen terhadap prinsip-prinsip perjuangan yang selama ini mereka junjung tinggi. (AI Sorban)

    @beritasorban BANSER yang dikenal dengan semangat perjuangan kemanusiaan tanpa memandang ras atau politik, mengalami penolakan dari raja-raja Bali saat menggelar Apel Kesetiaan. Ironisnya, acara ini bertepatan dengan Muktamar PKB yang hanya berjarak tidak terlalu jauh. Tanpa koordinasi yang baik, kegiatan BANSER ini justru menimbulkan gesekan, bahkan perintah untuk memulangkan pasukan BANSER dilakukan secara tiba-tiba. Di tengah memanasnya hubungan PBNU dan PKB, kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang netralitas dan komitmen BANSER. Bagaimana tanggapan mereka? #BANSER #ApelKesetiaan #RajaBali #MuktamarPKB #fyppppppppppppppppppppppp ♬ suara asli – Sorban Santri