Tag: ngaji

  • Salah Satu Karomah Maulana Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari

    Salah Satu Karomah Maulana Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari

    wp.sorbansantri.com – Maulana Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, atau Taj al-Din Abu’l Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Karim ibn Atha’illah al-Iskandari al-Syadzili, lahir di Iskandariah, Mesir, pada tahun 648 H/1250 M dan wafat di Kairo pada 1309 M. Beliau adalah tokoh utama Tarekat Syadziliyah, yang dikenal luas di dunia dan Indonesia. Syekh Ibnu Atha’illah adalah murid dari Abu al-Abbas al-Mursi, penerus dari Abu al-Hasan al-Syadzili, pendiri tarekat tersebut.

    Syekh Ibnu Atha’illah dikenal sebagai ulama produktif dengan lebih dari 20 karya, termasuk kitab tasawuf terkenal, al-Hikam. Kisah menarik tentang karomah beliau terjadi saat salah satu muridnya pergi haji. Sang murid melihat Syekh Ibnu Atha’illah di berbagai tempat ibadah haji, meski beliau diketahui tidak meninggalkan Mesir.

    Saat sang murid kembali dan bertanya kepada masyarakat, semua mengatakan bahwa Syekh Ibnu Atha’illah tetap berada di Mesir selama musim haji. Ketika murid tersebut akhirnya bertemu dengan Syekh Ibnu Atha’illah, beliau bertanya, “Siapa yang kamu lihat saat menunaikan ibadah haji?” Murid itu menjawab dengan kaget, “Saya melihat Anda di setiap tempat ibadah haji.”

    Syekh Ibnu Atha’illah tersenyum, dan muridnya menyadari bahwa gurunya adalah wali dengan derajat ‘arwahul kummal’, yang ruhnya dapat berada di berbagai tempat. Wallahu a’lam.

    Sumber:
    Ngaji Kitab al-Hikam bersama KH. Jamaluddin Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Tambak Beras, Jombang.


  • Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Gerakan Pemuda ansor (GP Ansor) Kota Mojokerto menggelar kegiatan ngaji filsafat pada tanggal 6 Mei 2002 Kabupaten Mojokerto Yang menghadirkan Pemateri Dr. Fahrudin Faiz M.Ag, yang merupakan Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta Menjadi Motivator di Sosial Media.

    Dalam kegiatan ini melibatkan kurang lebih 200 partisipan yang terdiri dari organisasi Gerakan Pemuda ansor pengurus cabang Kota Mojokerto, pelajar se-kabupaten Mojokerto, kaum muslimin di Kabupaten Mojokerto, dan para penggemar Ustadz Fachrudin di sosial media, Selain itu kegiatan ngaji filsafat ini juga mendapatkan pengawalan khusus dari barisan serbaguna Banser dari Kota Mojokerto yang mengamankan jalannya kegiatan ini.

    Kegiatan digelar di PENDOPO KALAM AKSARA LAMPAHAN (depan GOR Dinas Pendidikan , Kecamatan Sooko , Kabupaten Mojokerto) , Rangkaian kegiatan ini dimulai dari pukul 7 malam sampai pukul 21 malam kegiatan pun dipimpin pembukaan oleh moderator,kemudian di lanjut dengan sambutan-sambutan , disusul dengan puncak acara inti yakni Pengisian materi oleh Dr. Fahrudin Faiz, dan trakhir ditutup dengan dialog tanya jawab dengan penonton setempat.

    Dalam penyampaian materi nya pada waktu dialog dengan penananya, Dr. Fahrudin Faiz memberi pernyataan bahwa “Orang Jawa Itu nenek moyang kita maka dari itu jangan sampai jadi orang Jawa yang hilang Jawa nya” , pernyataan dilontarkan ke jamaah yang mendengarkan karena ketika di zaman ini banyak orang Jawa yang yang hilang akan asal-usul nya sebagai orang Jawa.

    Dr Fahrudin Faiz menceritakan panjang yang mengandung hikmah yang mengenai orang Jawa , juga mengupas problematika sehari-hari di zaman yang saait ini sedang marak banyaknya Orang Jawa yang kehilangan asal-usulnya sebagai orang Jawa. Hal ini diutarakan dokter Fahrudin untuk menyadarkan Para Jamaah yang ikut serta mengaji filsafat, mengingat karena forum dialog ini lebih menekankan saling belajar dan sharing satu sama lain.

    Selain bercerita Hikma , Dr. Fahrudin juga memberi motivasi – motivasi kepada jamaah yang turut hadir dalam kegiatan ngaji filsafat kali ini, dan di penghujung acara moderator menyampaikan kesimpulan dari Pemateri kemudian acara selesai berjalan dangen lancar. (Feri D.S)

  • Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    SORBANSANTRI.COM

    FASYA-Sabtu, 16/04/2022. Di pertengahan bulan Ramadhan 1443 H ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan acara Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun yang mengangkat tema “Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian Kitab Qurrotul ‘Uyun”. Acara ini merupakan kegiatan kesekian kalinya yang termasuk salah satu program kerja keilmuan dari kepengurusan HMPS HKI tahun 2022 ini. Acara Ngaji Kitab ini bisa dikatakan perdana, dikarenakan dari tahun-tahun sebelumnya memang belum pernah mengadakan kegiatan Ngaji Kitab seperti ini. Maka dari itu, antusias dari jamaah yaitu yang terdiri dari para mahasiswa HKI ini sangat luar biasa, dalam mengikuti Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini.

    Sebenarnya, kitab Qurrotul ‘Uyun ini biasanya sering di konsumsi oleh kalangan pondok pesantren, yang mana pembahasannya mengenai ruang lingkup keluarga yang sesuai tuntunan agama Islam, mulai dari rukun dan syarat nikah sampai dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi didalam hubungan pernikahan. Hal ini tentu menjadi penting sekali untuk dikuasai oleh para mahasiswa fakultas Syariah terutama mahasiswa Hukum Keluarga Islam yang notabene nya menggeluti dibidang Hukum Keluarga. Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini diisi oleh Direktur Pusat Konstitusi & Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta yaitu Gus A.M. Mustain Nasoha S.H., M.H. 

    Acara diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Studi HKI dan ketua umum HMPS HKI 2022 yang di wakili oleh ketua panitia pelaksana yaitu Dilva Nahida. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat oleh tim hadroh Jamuna Al Mubarok dari Fakultas Syariah. Selanjutnya pembacaan tahlil yang dipimpin oleh saudara Ahmad Makruf. Tepat pada pukul 09.00 WIB, penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun oleh Gus A.M. Mustain Nasoha mulai berlangsung.

    SORBANSANTRI.COM

    Di dalam Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.: “Barang siapa mempunyai istri dua dan dia berlaku tidak adil di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan pecah tubuhnya dan jatuh. Riwayat lain mengatakan: pecah dan bungkuk/miring tubuhnya”. Ujar Gus A.M. Mustain Nasoha dalam penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun. Kemudian ketika ada pertanyaan, “Lebih penting ibadah atau nikah terlebih dahulu? Nah, di dalam kitab Qurrotul ‘Uyun ini dijelaskan bahwasanya keduanya harus seimbang, tetap melaksanakan ibadah dan juga melaksanakan pernikahan”. Gus A.M Mustain Nasoha juga menyampaikan kiat-kiat dalam menjalin hubungan suami istri, mulai dari status hukumnya sampai dengan tata cara melaksanakannya. Semuanya di kupas tuntas oleh beliau.

    Di pengujung acara, Gus A.M Mustain Nasoha menyampaikan kepada seluruh jamaah yang hadir, agar selalu menundukan pandangan terhadap lawan jenis dan selalu berusaha untuk senantiasa menutup aurat. Kemudian, acara diakhiri dengan pembacaan do’a oleh saudara Ahmad Makruf. Harapan dari panitia kepada acara ini adalah semoga dengan dilaksanakannya Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini dapat membawakan ilmu yang bermanfaat dan barokah bagi seluruh jamaah maupun panitia, untuk menjadi bekal dalam menjalani kehidupan berkeluarga kelak.

    (Ahmad Makruf/Divisi Keilmuan/Ed:afz)

  • Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Seseorang yang dianggab berjasa atau orang yang di pandang sebagai sesepuh di suatu daerah pastinya jasanya akan selalu di kenang oleh masyarakat bahkan mendapatkan tempat yang mulia walau beliau sudah wafat.

    Pada hari selasa (22-03-22) malam warga kesemen mengadakan haul mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ke XVII yang bertempat area pesarean di dusun Kesemen desa Kesemen kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto.
    Peringatan haul ini diadakan warga rutin setiap setahun sekali yang di pelopori oleh KH.Ahmadun Bashori selaku tokoh agama di desa tersebut beserta tokoh pemuda Solehuddin dan juga dari pihak pemerintahan desa kususnya Anton Kurniawan selaku kepala desa setempat dan di dukung oleh tokoh agama yang lainnya.

    Tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya para tokoh agama, pejabat pemerintahan dan perangkat desa Kesemen, pengurus ranting dan anak ranting NU desa Kesemen, beserta banom banom nya dan elemen masyarakat sekitar.

    Menurut ustad Khoiron selaku ketua panitia mengatakan “acara ini bertujuan untuk kirim doa kepada leluhur dan pelaksanaanya pun selalu di bulan ruwah atau bulan sya’ban tanggal 20 kalender jawa, atau di 10 hari sebelum datangnya bulan suci romadhon tiba”,sebelum pra acara pengajian umum dari panitia melaksanakan kegiatan pembacaan khotmil qur’an semalam suntuk di mulai ba’da sholat isya’ sampai setelah subuh dan hingga hatam, di teruskan malam ini acara puncaknya yakni peringatan pengajian umum yang menghadirkan muballigh dari Mojokerto kyai Mohammad Assa’dullah, yang sebelumnya di awali dengan pembacaan istighosah yang dimpin oleh KH.Ahmadun Bashori, tuturnya

    Menurut pak Wagi dan pak Wiyanto selaku juru kunci pesarean mengatakan bahwasanya pesarean mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ini sangat keramat sekali dan tak ayal banyak peziarah yang datang baik warga lokal maupun warga yang dari luar daerah dengan tujuan ngalab barokahnya dengan mengirimkan doa doa ada juga yang sembari membaca al qur’an ketika berada di dalam area pesarean tersebut.

    Di sekitaran pesarean ada bangunan musholla yang selalu istiqomah di buat sholad berjama’ah yang di pandegani oleh abah Sholeh Muhammad beserta kawula muda di desa kesemen.

    Harapannya semoga dengan acara haul mbah Junggo masyarakat desa kesemen dan sekitarnya semakin guyub, rukun dan mudah mudahan selalu di beri kesehatan, umur panjang serta keberkahan rizki untuk bekal hidup sehari harinya.

    (Hasan-Ngoro)

  • Pancasila Selaras dengan Syari’at

    Pancasila Selaras dengan Syari’at

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Jika ada yang membenturkan Pancasila dengan Islam maka jelas ia tidak paham Pancasila dan Islam. Jika ada yang mempermasalahkan agama dan nasionalisme bahkan menganggap nasionalisme tidak ada dalilnya maka jelas ia tidak memahami inti sari ajaran agamanya walau berkedok ahli agama. Yang teriak NKRI kafir, thaghut, mengatakan Pancasila simbol berhala maka perlu ngaji lagi.

    Pancasila itu sangat selaras dengan syari’at bahkan Pancasila itu perwujudan dari syari’at. Pancasila itu ajaran langit yang sudah membumi. Perwujudan dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ‘ala Nusantara. Dengan Pancasila, syari’at Islam bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tak sebatas hanya pesan yang menggantung dilangit.

    Coba, mana butirnya yang bertentangan dengan Islam? Sila keberapa yang bermasalah dan menabrak syari’at Islam? Dari sisi mananya sehingga mengatakan Pancasila itu simbol kekufuran? Pancasila itu bukan agama tapi menyatukan antar pemeluk agama. Jika setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukan berarti menandingi ajaran agama. Tidak tepat jika membandingkan norma Pancasila dengan norma agama. Tidak tepat jika memberikan pilihan untuk memilih Pancasila ataukah Islam. Ini pilihan yang jungkir balik sebab Pancasila itu berisi poin-poin ajaran Islam.

  • Nasihat Ketua MUI ke Ustaz Yahya Waloni: Mualaf Belajar Dulu

    Nasihat Ketua MUI ke Ustaz Yahya Waloni: Mualaf Belajar Dulu

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com -Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menanggapi soal pernyataan Ustaz Yahya Waloni yang mengaku menabrak seekor anjing.

    Cholil memberikan sebuah nasihat yang menyinggung tentang seorang mualaf. Perlu diketahui, bahwa Ustaz Yahya Waloni merupakan seorang mualaf.

    Melalui akun Twitter @cholilnafis, dirinya menanggapi perbuatan Ustaz Yahya Waloni.

    Menurut Cholil, seorang mualaf harus belajar terlebih dahulu untuk menjadi ustaz sehingga tidak perlu terburu-buru.

    “Mualaf harusnya belajar dulu jangan buru-buru jadi ustaz. Masyarakat pun hendaknya cari penceramah yang bisa ngaji dan berilmu. Ini perlu dibina dibimbing, kecuali kalau tak mau ya,” cuitnya, dikutip Suara.com.

    Lebih lanjut, Cholil mengatakan mualaf sebaiknya tidak menjelekkan agama sebelumnya. Selain itu, mualaf juga tidak boleh membenci makhluk hidup termasuk anjing.

    “Mualaf itu tak boleh menjelekan agama sebelumnya, tak boleh membenci mahkluk Allah meskipun anjing,” lanjutnya.

    Sebelumnya, Cholil Nafis juga pernah mengomentari soal mualaf. Menurutnya, orang mualaf belum memiliki banyak ilmu soal agama Islam.

    Cholil mengatakan seorang mualaf sebaiknya tidak menyampaikan sesuatu yang tidak ia ketahui kepastiannya.

    “Saya pernah komentar tentang mualaf, bahwa ia orang yang baru masuk Islam sehingga tak banyak tahu tentang Islam. Sampaikan soal mengapa ia memilih Islam tapi jangan ceramah ajaran Islam yang tak dia ketahui,” ujar Cholil.

    Ustaz Yahya Waloni sempat mengaku pernah sengaja menabrak seekora anjing hingga kakinya pincang.

    “Ku tabrak juga satu ekor anjing, ga tau siapa yang punya itu, lari pincang kakinya. Kalau kambing saya masih rem, ku lihat anjing najis, ku tembak satu kali di depan-depan,” katanya.

    (sumber suara.com)

  • Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Cyberaswaja.online | Sooko. Halaman parkir penuh dan Aula PCNU Kab Mojokerto ramai, dilangsungkan Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gusdur dengan tema “KEBUDAYAAN MELESTARIKAN KEMANUSIAAN”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 wib tersebut, dihadiri Tokoh lintas Agama, diantaranya Walikota Mojokerto, BUPATI Mojokerto, KAPOLRES Kabupaten Mojokerto, DANDIM dan Seluruh ORMAS serta Lintas Komunitas. 25/01/2020.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade oleh Ning Alisa Wahid

    Acara tersebut sangat penting bagi bangsa dan negara mengingat dari pribadi GUS Dur yang selalu dirindukan dan menjadi marwah NU sebagai satu-satunya ormas yang sudah tidak diragukan lagi dengan Politik Kebangsaannya, sebagai pemersatu bangsa yang berbeda-beda dan merupakan elemen penting dalam berdirinya suatu bangsa.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Pengurus PC NU bersama jajaran Forkopimda Mojokerto pada Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Peserta Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    Dengan pemateri semua tokoh lintas agama se Kabupaten Mojokerto, keistimewaan acara ini turut juga dihadiri Neng Alisa Wahid, beliau menyampaikan pesan dan kesan, serta bercerita tentang kisah kehidupan almarhum Gus Dur perihal Kebangsaan dan Bernegara. (red-fio)

  • MEMAKAN BUAH / BIJI PALA HUKUMNYA BOLEH APA TIDAK?

    MEMAKAN BUAH / BIJI PALA HUKUMNYA BOLEH APA TIDAK?

    HUKUM BUAH / BIJI PALA

    Pertanyaan :
    Gus, beberapa waktu yang lalu kami dikagetkan dengan keterangan beberapa ustadz yang mengatakan haramnya mengonsumsi buah dan biji Pala yang umumnya dijadikan bumbu dalam masakan sop, gulai, dan lain sebagainya. Katanya, keduanya memabukkan. Benarkah PALA itu HARAM?
    [bunda² majelis youtube]

    Jawaban :

    Kebanyakan ahli fikih seperti Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu al-‘Imad, Ibnu Daqiq al-‘Id, dan para ahli fikih yang lain dari kalangan madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa hukum mengonsumsi biji pala adalah haram. Sebab, ia berefek narkotik seperti opium dan bahan-bahan lain sejenis. Zat yang ditengarai membawa efek narkotik adalah myristicin. Menurut penelitian, jika seseorang diberi myristicin sebanyak 400 mg atau setara dengan 1,5 biji pala, ia akan mulai berhalusinasi dan merasakan efek narkotik. Jika sudah berefek demikian, tidak ada yang meragukan keharamannya.

    Adapun jika biji pala digunakan sebagai bumbu penyedap bukan dikonsumsi langsung, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili berkata, “Tidak terlarang menggunakan sedikit pala sebagai bumbu penyedap baik pada makanan, kue, dan sejenisnya. Namun, menjadi terlarang (haram) bila banyak jumlahnya.”

    Untuk daging buah pala yang umumnya dibuat manisan, kandungan myristicin-nya lebih sedikit lagi. Untuk mendapatkan 400 mg myristicin seseorang harus mengonsumsi 2 hingga 6 kg manisan buah pala. Kiranya, tidak ada yang sanggup memakannya dalam satu waktu. Sebelum terkena efek narkotik, seseorang akan kekenyangan terlebih dahulu.

    Perlu dicatat bahwa myristicin juga ditemukan pada sayur-sayuran dan bumbu dapur seperti wortel, seledri, adas, dan ketumbar. Namun, karena kadarnya yang sedikit, tidak ada ulama yang mengharamkannya. Bisa dimengerti kan para bundaku..😊

    Untuk lebih gamblangnya begini bunda:
    Para ulama merumuskan Kaidah Fiqhiyyah yang menyebutkan:

    الأصل في الأشياء الاباحة الا ما دلّ الدليل على تحريمه

    “Al-ashlu fi al-asy-ya’i al-ibaahah, illaa maa dalla daliilu ‘alaa tahriimihi” (Segala sesuatu pada dasarnya adalah mubah atau boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya).

    Kalau ada dalil nash yang shahih (valid) dan sharih (tegas) dari Allah sebagai Asy-Syari’ (yang berwenang membuat hukum itu sendiri), juga adanya penjelasan dari Rasulullah Saw. dalam haditsnya, barulah hukumnya bisa berubah menjadi terlarang, makruh, atau bahkan haram.

    Dari sini, maka dapat dipahami, makanan yang haram itu hanya sedikit, sebagaimana yang disebutkan secara spesifik di Al-Quran dan Al-Hadits. Sedangkan selebihnya, yang halal itu sangat banyak, termasuk buah pala. Selanjutnya, secara nash syariah, hukum tentang larangan memakan buah pala ini tidak ada di dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

    Lebih lanjut lagi, semua makanan dan minuman yang halal apabila dikonsumsi secara berlebihan lalu bisa memabukkan, atau dengan menyalah-gunakannya lalu menimbulkan bahaya, maka tindakan berlebihan atau penyalahgunaan itulah yang membuatnya menjadi haram.

    Begitu juga dalam hal buah pala. Apabila seseorang mengonsumsinya secara berlebihan, sehingga menimbulkan bahaya seperti menjadi mabuk, maka keharamannya itu berlaku karena tindakan berlebihan sehingga menyebabkan mabuk itu saja. Atau kalau ada yang menyalahgunakan penggunaannya, maka tindakan penyalahgunaan buah pala itu yang terlarang.

    Tapi selama ini, agaknya saya belum pernah mendengar orang di Indonesia yang mengonsumsi buah pala atau manisan pala secara wajar, lalu menjadi mabuk. Jadi, sejatinya buah pala secara umum tidak memabukkan, dan dengan demikian tidak haram.

    Kalaupun ada yang mengonsumsinya lalu menjadi mabuk, maka itu bersifat kasuistik, secara individual mungkin karena alergi atau sebab yang lainnya. Dalam hal ini, ada Kaidah Fiqhiyyah yang menyebutkan :

    الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

    “Al-Hukmu yaduuru ma’a ‘illatihi wujuudan wa ‘adaman”. Artinya, “Hukum itu berkisar pada ‘illatnya, ada atau tiadanya”.

    Artinya, apabila ‘illat-nya memabukkan atau membahayakan diri seseorang yang mengonsumsinya, hal itu menjadi haram bagi dirinya. Sebaliknya, kalau tidak memabukkan atau tidak membahayakan bagi orang lain, hal itu menjadi tidak haram atau diperbolehkan bagi dirinya.

    Sebagai contoh perbandingan atau analogi lagi, buah durian itu sejatinya halal. Kami belum mendapat info yang shahih bahwa ada ulama yang mengharamkan durian karena bisa membuat orang menjadi mabuk.

    Kalaupun ada yang mengonsumsinya lalu mabuk, maka itu bersifat kasuistis, mungkin karena alergi, mengidap penyakit yang membuatnya pantang mengonsumsi durian, atau sebab yang lainnya. Maka terlarangnya mengonsumsi durian itu hanya berlaku khusus bagi orang tersebut, dan tidak berlaku secara umum. Jelas kan?

    Terakhir, agar lebih mantab lagi :
    Sebagian Madzhab Hanafi dan Syafi’i ada yang mengatakan boleh asalkan sedikit. Pala dalam campuran bumbu tergolong sedikit dan tidak sampai memabukkan atau membahayakan. Berikut pendapat para ulama:

    ﻭﻧﻘﻞ ﺃﻥ ﺟﻮﺯﺓ اﻟﻄﻴﺐ ﺗﺤﺮﻡ ﻟﻜﻦ ﺩﻭﻥ ﺣﺮﻣﺔ اﻟﺤﺸﻴﺸﺔ … ﺃﻣﺎ اﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﻣﺎ ﻋﺪا اﻟﺨﻤﺮ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﺘﻌﺎﻃﻴﻪ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻨﺪ اﻹﻣﺎﻡ

    “Disebutkan bahwa pala hukumnya haram. Namun keharamannya dibawah keharaman ganja. Mengambil sedikit dari pala dan hal yang memabukkan, selain khamr (minuman keras) dan lainnya, maka menggunakannya tidak haram menurut Imam (Hanafi)” (Hasy Thahthawi 1/665)

    Dari madzhab Syafi’i ada seorang Imam yang diberi julukan Syafi’i Shaghir (Syafi’i Junior) dan beliau menjawab dengan fatwanya:

    (ﺳﺌﻞ) ﻋﻦ ﺃﻛﻞ ﺟﻮﺯ اﻟﻄﻴﺐ ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻭ ﻻ؟ (ﻓﺄﺟﺎﺏ) ﻧﻌﻢ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﻠﻴﻼ، ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮا.

    Ar-Ramli ditanya tentang memakan pala boleh atau tidak? Beliau menjawab: “Ya, boleh bila sedikit. Dan haram jika sampai banyak” (Fatawa Ar-Ramli 4/71)

    Kesimpulan, halal atau haramnya buah / biji pala itu dikembalikan kepada diri masing² pengguna / konsumen. Jika mengkonsumsi / penggunaanya tidak berbahaya ya monggo saja.. Tapi jika terjadi bahaya ya jangan dong..

    Sama halnya dengan poligami, kalau maslahat ya silahkan, tapi jika tambah runyam ya jangan. Hallaahhh… Hihii..

    Sudah ya bund, semoga bisa difahami & bermanfaat. Wallohu a’lam.

    (Bagus Muhammad Miftahul Mujib)

  • Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, Infokom Banser NU – بسم الله الرحمن الرحيم  Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam atas makhluk-Nya termulia, Muhammad, Rasul dan hamba-Nya, serta atas keluarga dan sahabat beliau.

    Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya, bahwa jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia. Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan, perdaganganmu merugi, dan gurumu telah membantumu dalam berbuat maksiat serta menjadi sekutumu dalam kerugian tersebut. Gurumu itu seperti orang yang menjual pedang bagi perompak jalanan, sebagaimana Rasul saw. bersabda, “Siapa yang membantu terwujudnya perbuatan maksiat walaupun hanya dengan sepenggal kata, ia sudah menjadi sekutu baginya dalam perbuatan tersebut. ”

    Jika niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu untuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwayat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau berjalan dan ikan-ikan paus di laut memintakan ampunan bagimu manakala engkau berusaha. Tapi, engkau harus tahu sebelumnya bahwa hidayah merupakan buah dari ilmu engetahuan. Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Begitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus diketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.

    Oleh karena itu, di sini akan aku tunjukkan padamu permulaan dari sebuah hidayah agar engkau bisa mencoba dirimu dan menguji hatimu. Apabila engkau mendapati hatimu condong pada hidayah tersebut lalu dirimu berusaha untuk menggapainya, maka setelah itu engkau bisa melihat perjalanan akhir darinya yang melaju dalam lautan ilmu. Sebaliknya, jika engkau mendapati hatimu berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya, ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongmu untuk menuntut ilmu tersebut adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’ (yang memerintahkan pada keburukan). Jiwa tersebut bangkit karena taat kepada setan terkutuk untuk dijerat dengan tali tipuannya. Ia terus memberikan tipudayanya kepadamu sampai engkau betul-betul binasa. Ia ingin agar engkau memperbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa memasukkanmu dalam kelompok orang yang merugi dalam amalnya. Yaitu, mereka yang sesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik.

    Saat itu setan menceritakan padamu tentang keutamaan ilmu, derajat para ulama, serta berbagai riwayat di seputarnya. Namun, setan tersebut membuatmu lalai dari sabda Nabi saw., “Siapa yang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, ia hanya bertambah jauh dari Allah. ” Juga dari sabda Nabi saw. yang berbunyi, “Orang yang paling keras siksanya dihari kiamat, adalah orang alim yang ilmunya tak Allah berikan manfaat padanya. ”

    Nabi saw. berdoa:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
    Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmi laa yanfa’u wa qalbin laa yakhsya’ wa ‘ amalin laa y urf a’ u w a du’ain laa yusma’u

    “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari doa yang tak didengar. ”

    Sabda Nabi saw., “Di malam aku melakukan Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting api neraka. Lalu aku bertanya, ‘Siapa kalian? ’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri mengerjakannya! ”

    Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu untuk – diperdaya oleh jerat tipuannya. Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya!

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    wp.sorbansantri.com – Abah Guru Sekumpul masih muda bersama Guru Semman Mulia Sedikit mengambil berkah kisah Abah Guru Waktu Abah Guru sekolah di Darussalam kelas satu tsanawiyah, beliau termasuk murid yang jenius, bukan pandai lagi, kalau ulangan selalu dapat nilai “jayyid jiddan” artinya nilai tertinggi. Namun paman beliau Guru Semman Mulia, ingin keponakannya benar-benar ‘alim.

    Dan dikelas beliau mengajar itu ada pengajarnya yang ahli ilmu. Guru Semman meminta wali kelasnya supaya keponakannya jangan dinaikkan kelas supaya bisa belajar setahun lagi dengan pengajarnya yang ‘alim itu.

    Lalu Abah Guru dipanggil oleh Guru Seman selaku guru senior, dan menanyakan kepada Abah Guru dengan berbagai pertanyaan agama, dan Abah Guru bisa menjawabnya.

    Setelah Semua pertanyaan itu habis ditanyakan, akhirnya guru seman bertanya ” Zaini, berapa jumlah bulu ketiak ikam???” (Wahai Zaini, berapakah jumlah bulu ketiakmu?), maka Abah Guru pun tidak dapat menjawabnya.. Kemudian kata Guru Semman, “han kada ‘alim ikam kada bisa menjawab, mun kada naik kelas jangan salahkan aku lah” (kalau tidak bisa menjawab berarti kamu belum ‘alim, jangan salahkan saya kalau kamu tidak naik kelas).

    Akhirnya memang Abah Guru tidak naik kelas atas permintaan pamannya sendiri dengan tujuan yang mulia.. Dan Guru Semman sendiri sudah tau bahwa Abah Guru nanti akan menjadi orang besar, maka beliau di tarbiyah supaya jangan diri merasa ‘alim, padahal nilai-nilai Abah Guru selalu yang tertinggi.

    (KALAM PARA ULAMA’)