Tag: ngomong

  • Kiai Enggak Dijaga, Gereja yang Dijaga

    Kiai Enggak Dijaga, Gereja yang Dijaga

    SORBANSANTRI.COM
    Kiai tampar anggota Banser (Foto: tangkapan layar Youtube NU Garis Lurus)

    JAKARTA, wp.sorbansantri.com– Video kiai kelahiran Madura, KH Syukron Ma’mun yang tampak menampar salah satu Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) viral di media sosial (medsos).

    Dalam video itu, tampak tamparan kiai tersebut hanya untuk mengingatkan agar anggota Banser kembali kepada tugas utamanya untuk menjaga keamanan ulama atau kiai.

    Dalam video berdurasi 29 detik itu, tampak Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman ini menyindir salah satu Banser yang diduga melakukan penjagaan di sebuah gereja. Kiai yang menggunakan baju serba putih ini meminta agar oknum anggota Banser itu kembali menjaga keamanan ulama.

    “Menjaga kiai mestinya kamu di rumah saya Banser ini. Tapi akhirnya Banser, kiainya enggak dijaga gereja yang dijaga,” kata Syukron dikutip dalam video berjudul ‘KH. Syukron Makmun Tampar Seorang Banser Agar Jangan Jaga Gereja,’ yang diunggah akun YouTube NU Garis Lurus, Sabtu (23/04/2022).

    Setelah itu, Kiai Syukron Makmun juga terlihat menampar seorang pemuda dan mengingatkan hal yang sama.

    “Akhirnya kiainya enggak dijaga gereja dijaga. Bagaimana benar kan saya ngomong? Lah iya suruh jaga kiai,” ujarnya.

    Video viral kiai menampar anggota Banser ini mengundang beragam reaksi warganet di medsos.

    “Kembalilah kejalan yang benar wahai saudara ku,jangan mau diperalat oleh pemimpin mu yang haus kekuasaan itu,”kata akun @Win**

    “Semoga dengan tamparan mbah kyai, Banser NU bisa kembali ke fungsinya semula menjaga para Ulama, menjaga agama Islam,”tulis akun @Sibawa***

    (sumber)

  • THARIQAH

    THARIQAH

    SORBANSANTRI.COM
    Keterangan foto: KH. Sholeh Bahruddin Ngalah Pasuruan, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, dan KH. Sholeh Qasim Sidoarjo).

    wp.sorbansantri.com- “Tiyang lek sampun thariqah, teng pundi-pundi panggonan, bah teng masjid, teng tegal, pasar, dalan, sekolah lan teng pundi mawon kedah dzikir. Ngelampai pendamelan nopo kemawon nggeh kedah dzikir (mlaku, ngadek, lungguh, meneng, ngomong, kedah dibarengi dzikir teng manah). Niku asmane Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, mboten leren-leren, terus-menerus teng njero ati.”

    (Orang kalau sudah berthariqah, di mana saja ia berada, entah di masjid, kebun, pasar, sekolah dan dimanapun harus dzikir. Melakukan kegiatan apa saja juga harus dzikir (berjalan, berdiri, duduk, diam, berbicara, harus dibarengi dzikir di hati). Itu disebut dengan Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, tiada henti, terus-menerus di dalam hati.

    “Lek sampun saget ngoten, lha niku lho jenenge wes iso topo (bertapa) dek njero pasar. Lha nek enggal saget dzikir ne’ wancine sepi-sepi tok, tapi nek kondisi rame ical dzikire, niku jenengan namung saget topo teng alas thok, tapi mboten saget topo teng tengah pasar. Nggeh topo wonten tengah pasar niki sing paling abbbooodt.”

    (Kalau sudah demikian, itulah yang dimaksud orang yang mampu bertapa di dalam pasar. Jika hanya bisa berdzikir di dalam kesunyian saja, sedangkan jika dalam kondisi ramai dzikirnya hilang, itu disebut hanya bisa bertapa di dalam hutan. Nah bertapa di tengah-tengah pasar inilah yang sangat berat).

    “Dene menawi wonten tiyang ingkang sampun tumut thariqah lan sampun gadah maqom, tapi klakuane awon. Niku mpun disalahaken thariqahe, balek sing salah tiyange.”

    (Adapun jika ada orang yang sudah berthariqah dan sudah memiliki maqam (derajat tertentu) tapi perilakunya buruk, yang disalahkan jangan thariqahnya melainkan orangnya).

    “Sami kados agama Islam, nggeh ngoten. Menawi wonten tiyang Islam kok ngelampai maksiat utawi keawonan, empun Islame sing disalahaken, kranten Islam ngoten sampun sae, balek umate sing salah.”

    (Sama halnya dengan Islam. Jika ada orang Islam namun suka berbuat maksiat dan keburukan, jangan salahkan Islamnya. Karena Islam itu sudah baik, hanya saja terkadang umat/penganutnya yang masih salah).

    Dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin saat pengajian Selosoan, sekitar 2006 silam. Dialihbahasakan Jawa ke Indonesia dari Fp: Ngalah Community. (red)