Tag: Pabrik Gula Gorang-Gareng

  • Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]

    Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]

    SORBANSANTRI.COM

    Cerita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.
    PKI BURU KYAI DAN SANTRI (KEJADIAN TAHUN 1948)
    Kekejaman PKI sebelum Pemilu pertama 1955 terjadi begitu masif dibanyak tempat. Selain untuk menyikat para lawan yang dianggap batu sandungan, hal ini juga dilakukan PKI untuk membuat masyarakat Non PKI segan terhadap mereka. Aksi Perampokan, Penculikan, Pengerusakan hingga Pembunuhan begitu masif dilakukan PKI dibeberapa daerah yang menjadi basis mereka. PKI tidak suka dengan kalangan Pesantren kala itu, bagi mereka kalangan Pesantren dianggap bisa menjadi alat perlawanan untuk PKI, makanya Pesantren harus dibabat untuk mengurangi kekuatan mereka. Perburuan terhadap para ulama pimpinan pesantren terus dilakukan, seorang kiai yang pesantrennya berada jauh di luar Magetan juga menjadi sasaran. Magetan merupakan Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Madiun Pusat Kegiatan PKI saat itu. PKI menyiapkan sumur-sumur dengan kedalaman 10-20 meter sebagai tempat kuburan massal tawanan mereka.
    KH Imam Shafwan Pemimpin Pesantren Kebonsari Magetan bersama kedua orang anaknya yaitu K Zubair dan K. Abu Bawani yang sedang memimpin pengajian juga dibantai oleh FDR-PKI. Pada umumnya para kiai telah mempersiapkan diri dengan ilmu kanuragan untuk membentengi diri dari serangan penjahat terutama gerombolan PKI, hal itu dialami oleh Kiai Imam Shofwan, saat dianiaya PKI, walaupun kedua anaknya telah tewas, tetapi sang kiai masih bertahan walaupun menghadapi berbagai siksaan. Karena PKI sudah jengkel dan tidak sabar lagi kemudian dimasukkan hidup-hidup dalam sumur, didalam sumur KH Imam Shofwan masih sempat mengumandangkan adzan yang disaksikan oleh beberapa santtrinya, tetapi kemudian dikubur dalam keadaan masih hidup oleh pasukan Pesindo-PKI. PKI melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan beragam cara, mulai dari menyembelih, Menembak, mencincang (Mutilasi), membakar hidup-hidup, hingga mengubur hidup-hidup para tawanan mereka.
    SORBANSANTRI.COM
    Dengan ancaman Senapan, PKI membawa para Santri ke tempat tahanan. (republika.co.id)

    Peristiwa serupa dialami oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi ketika sedang i’tikaf di masjid ditangkap oleh gerombolan PKI, setelah diseret keluar dari masjid lalu dimasukkan tahanan di Pabrik Gula Gorang-Gareng. Setelah itu dipindahkan ke tempat tahanan lain di Magetan dengan dinaikkan kereta api berjejal dengan tahanan lain. Setibanya di Desa Soco, para tahanan termasuk K Soilaeman disiksa. Karena Kiai ini juga seorang yang digdaya, maka tidak mudah dibunuh. Karena kejenghkelannya lalu pleh PKI dimasukkan ke dalam sumur tua dalam keadaan hidup-hidup. Lain lagi dengan cerita yang dialami KH Hamzah, saat mendengar pemberontakan PKI di Madiun Kiai ini hendak pergi ke Magetan. Tetapi ketika baru sampai di Desa Bathokan telah disergap PKI, kemudian di tahan beberapa hari tanpa diberi makan baru setelah itu dikubur hidup-hidup. Para tawanan yang mati akan dimasukan kedalam sumur, tak jarang tawanan yang masih hidup juga dimasukan kedalam sumur bercampur dengan mayat-mayat tawan yang telah mati, Para tawanan hidup ini tak jarang dilempari batu dari atas sumur sebelum akhirnya ditimbun hidup-hidup. Dalam sumur-sumur pembantaian PKI yang tersebar dibeberapa titik di Magetan dan Madiun ditemukan mayat-mayat Kyai, Santri, Polisi, Lurah, hingga Camat, ada yang ditembak hingga disembelih oleh PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Seorang Korban PKI digantung dan siksa di depan umum. (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM Monumen di Desa Kresek, Kec. Wungu – Madiun, Patung Musso Yang Sedang Memegang Pedang yang Hendak Memenggal Kyai Husen, Seorang Pimpinan Pesantren yang Juga Anggota DPRD Madiun pada 1948. (sumber: detik.com)

    Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh para Prajurit Pangeran Diponegoro di Magetan yang dipimpin oleh Kiai Imam Mulyo itu tidak lepas dari serbuan PKI. Pada 18 September Pesantren ini dikepung oleh ratusan orang PKI, tetapi Kiai Imam Mulyo terus bertahan dengan para santrinya. Kepada para santri Kiai Imam Mulyo menasehati agar tidak menyakiti PKI, Padahal saat itu PKI sudah mulai melempar dan menembaki pesantren. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki kyai Imam Mulyo  para santri dilarang keluar dari pagar pesantren, disertai pekikan Allahu Akbar para Santri melakukan perlawanan dari dalam Pondok sehingga PKI pun gagal menghancurkan pesantren. Pada hari berikutnya PKI melakukan serangan lagi bahkan dengan senjata lebih lengkap. Pesantren ditembaki bahkan dilempari puluhan granat, anehnya tidak ada tembakan yang mengena sasaran, bahkan tidak satupun granat yang sudah dilepas picunya bisa meletus. Hanya saja ada seorang santri yang melangggar aturan Kiai Imam yakni ia keluar pagar menyerang PKI. Ketika melakukan serangan itulah santri Tegalrejo bisa ditembak hingga mati. Gagalnya serangan itu PKI membuat taktik lain, yaitu mengajak berunding, di dalam perundingan itu mereka ditangkap dan dibunuh.

    SORBANSANTRI.COM
    PKI melakukan Pembakaran Kampung, Masjid dan Pesantren di Madiun pada 1948. (republika.co.id)
    Kisah lainnya pada Senin 20/9/1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisi orang-orang PKI baik laki-laki maupun perempuan mendatangi kampung Kauman – Madiun. Seorang perempuan PKI tiba-tiba berteriak kepada seluruh penduduk Kauman. Dia mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman dan mereka akan membalas dendam, Padahal warga Kauman tidak merasa telah membunuh seseorang di kampungnya. Dan benar saja ancaman PKI itu benar-benar dilakukan, 4 hari berselang yakni pada jumat 24/9/2020 orang-orang PKI seperti kumpulan tawon yang tiba-tiba menyerbu Kampung Kauman bersenjata klewang, senapan, clurit, dll. Rumah-rumah dibakar sehingga seluruh penghuni keluar dari persembunyiannya. Dalam aksi pembumihangusan Kampung Kauman itu, tak kurang dari 72 rumah terbakar, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok untuk disembelih. Namun pembantaian terhadap warga Kauman ini gagal karena Pasukan PKI Pro Pemerintah menyelamatkan mereka. 
    Saat pemberontakan PKI di sekitar Madiun saat itu keadaan begitu mencekam, orang-orang PKI memutuskan saluran telepon, mereka juga gencar melakukan sweping bersekala besar untuk melakukan penculikan, Jalan-jalan juga penuh dengan orang-orang PKI yang melakukan pencegatan terhadap kendaraan yang lewat dengan target para Pejabat dan tokoh Agama. Banyak Pejabat dan tokoh Agama menjadi korban keganasan PKI karena tidak sempat menyelamatkan diri, PKI melakukan pemburuan di banyak tempat dan pembantaian dilakukan secara serentak di kota-kota sekitar Madiun, mulai dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Ngawi dan Tulungagung. Terutama daearah-daerah yang selama ini menjadi basis PKI.
    SORBANSANTRI.COM
    Peta Jawa timur (kompas.com)

    PKI juga terus memburu para kiai pimpinan pesantren hingga jauh di luar Madiun. Di Pacitan salah satunya, disana terdapat pesantren kuno yang sangat terkenal yang biasa dikenal dengan Pesantren Tremas. Dari sana lahir ulama besar yang berkaliber internasional yang sangat disegani yaitu Kiai Mahfudz Attarmasi yang kemudian menjadi syeikh di tanah suci.Pada tahun 1948 pesantren ini dipimpin oleh KH Hamid Dimyati, selain seorang pengajar dia ini juga aktivis pergerakan yang menjadi anggota Parlemen di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika terjadi pemberontakan Madiun situasi menjadi kacau, karena saluran komunikasi terputus maka KH Hamid Dimyati berinisiatif melakukan komunikasi langsung dengan bertemu para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta.

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Hamid Dimyathi. (pondoktremas.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Rute Pacitan-Yogyajarta yang harus melewati Wonogiri. (sumber peta: kompas.com)

    Sambil melakukan penyamaran dan perjalan secara sembunyi-sembunyi KH. Hamid Dimyati akhirnya menuju Yogyakarta, Tetap ketika rombongan KH. Dimyati masuk Kabupaten Wonogiri PKI ternyata telah membuat penjagaan dijalan-jalan yang sangatlah ketat mengingat Wonogiri merupakan daerah perbatasan memasuki Yogyakarta Ibukota Negara saat itu, akhirnya penyamaran Kiai Dimyathi terbongkar oleh PKI, rombongannya pun yang berjumlah 15 orang ditangkap gerombolan PKI. Mereka dimasukkan ke dalam tahanan Baturetno dalam tahanan itu disiksa dengan kejam. Ketika tahanan itu penuh rombongan Kyai Dimyathi itu dipindah ke rumah tahanan Tirtomoyo. Di dalam tahanan itu siksaan terus dilakukan, kemudian akhirnya semuanya dibunuh oleh PKI dan dimasukkan kedalam sumur sebagai kuburan massal.

    Hanya satu orang yang dibiarkan hidup yaitu Shoimun, yang sengaja dilepas oleh PKI sebagai teror dan peringatan agar terbunuhnya Kiai besar dan anggota KNIP itu diketahui oleh masyarakat luas dan didengar oleh pemerintah. Shoimun itu pulalah yang menunjukkan tempat pembantaian, dan setelah sumur pembantaian tersebut diketahui kemudian hari lalu digali, jenazah Kiai beserta para aktivis pergerakan serta para santrinya yang tinggal tulang berserakan itu kemudian dipindahkan ke taman Makam Pahlawan sebagai tanda jasa bagi para pahlawan pembela Kemerdekaan Indonesia yang dibantai oleh PKI-Pesindo yang anti agama. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 56-62). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
  • Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    SORBANSANTRI.COM
    Sumber Gambar: tempo.co

    JUMLAH KORBAN KONFLIK PKI

    Aksi pemberontakan dan kekerasan yang dilakukan PKI menimbulkan konflik Horizontal kala itu, PKI yang melakukan pembantaian dan membuat onar dibanyak tempat pun akhirnya mendapatkan Perlawanan dari Masyarakat yang Non PKI. Banyak orang-orang PKI pun diburu oleh masyarakat yang sudah jenggah dengan kekejaman yang mereka lakukan. Dalam konflik PKI dan Masyarakat ini pun cukup banyak menelan korban jiwa, namun perkiraan jumlah korban jiwa yang muncul pun ternyata ada perbedaan antara pandangan pihak dalam negeri dengan pandangan pihak-pihak diluar negeri. Perhatikan tabel berikut ini:

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Jumlah korban yang diperkirakan oleh Tim Pencari Fakta sendiri tidaklah terlalau dramatis, begitu juga pengakuan kalangan PKI sendiri yang menjadi korban. Sudisman dari PKI memperkirakan korban sebanyak 150.000. bahkan ia memperkirakan tidak lebih dari 50.000. Begitu juga jumlah yang dipercaya Bung Karno yang memperkirakan jumlah korban sekitar 60.000. Perkiraan ini berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada Desember 1965. Ketika diadakan penyelidikan lanjutan ditemukan korban 87.000. Bahkan setelah dilakukan penyelidikan dengan cermat menemukan jumlah korban di daerah yang paling gawat yaitu Jombang dan Kediri berkisar antara 11.256 sampai 17.260 orang korban. Diperkirakan jumlah korban di daerah lain lebih  kecil dari jumlah itu.
    Hal ini berbeda dengan data yang disajikan oleh pihak Asing yang angkanya sangat fantastis. Jumlah korban PKI yang diperkirakan oleh pihak pengamat dan politisi dan media Asing (Barat) sedemikian besar. Tak urung besarnya jumlah yang mereka lansir itu membuat heboh masyarakat Barat dan masyarakat Indonesia sendiri. Berbeda dengan jumlah yang diperkirakan bangsa Indonesia baik para pelaku maupun korban yang pada umunya lebih proporsional. Sebaliknya kalangan Barat menyuguhkan perkiraan yang sangat spektakuler. 
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Bayangkan orang yang selama ini terlanjur dipercaya pendapatnya seperti Ben Anderson memperkirakan jumlah korban PKI antar 500.000 hingga 1.000.000 orang. Sebuah perkiraan yang angat mustahil dan dinilai sangat fiktif. Tetapi karena reputasi akademiknya selama ini maka data fiktif tersebut cenderung dipercaya, bahkan menjadi rujukan para peneliti sesudahnya. Hal itu mempengaruhi opini publik baik kalangan cendekiawan maupun jurnalis.
    Penggelembungan jumlah korban PKI yang dilakukan para penulis Barat itu ketika dicek ke lapangan oleh Hermawan Sulistyo terdapat banyak kejanggalan ketika dikonfrontasi dengan data demografis di lapangan. Menurutnya korban yang berkaitan dengan karyawan Pabrik Gula di beberapa tempat di Jawa Timur itu terdata dengan rapi, dan itu jumlahnya hanya belasan hingga puluhan orang saja. Begitu pula daerah yang mayoritas penduduknya PKI penduduknya tidak berkurang secara signifikan. Tetapi dramatsasi jumlah korban PKI itu telah dipercayai banyak orang dan menimbulkan rasa simpati pada PKI, kemudian menyalahkan pelaku baik NU maupun TNI, tanpa mau peduli terhadap kesalahan dan kekejaman PKI selama ini.
    Dramatisiasi jumlah korban dari PKI ini menjadi komoditas politik yang sedang dijajakan di pasar opini internasional. Selain itu para politisi asing dan peneliti asing tidak pernah mengungkap jumlah korban para ulama dan rakyat yang dibantai oleh PKI baik selama peristiwa Madiun 1948 apalagi peristiwa sepanjang tahun 1950 hingga tahun 1968 yang dilakukan PKI terhadap rakyat Indoneisa baik terhadap NU maupun kelompok lainnya termasuk terhadap tentara ini juga tidak pernah diungkap.
    KETIKA PESANTREN JADI TARGET PKI

    PKI Tak segan melibas siapa saja yang mereka anggap sebagai batu sandungan gerakan mereka, tak cuma menyerang aparat seperti kantor Polisi, kantor tentara, dan kantor pemerintahan, PKI juga membidik Pesantren sebagai target. Hal ini bukan tanpa alasan, karena saat era penjajahan Pesantren memang sebagai basis gerakan Islam untuk melawan Penjajah, Pesantren yang mengajarkan cinta kepada tanah air juga dianggap sebagai duri yang bisa menghalangi gerakan mereka, belum lagi banyak tokoh agama yang saat itu begitu Vokal melakukan penolakan terhadap PKI juga menjadi dasar penargetan Pesantren selain Aparat Keamanan dan Birokrat.
    SORBANSANTRI.COM
    Gerbang Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran – Magetan. (sumber gambar: skycrapecity.com)

    Untuk menghadapi kekuatan pesantern itu PKI memiliki slogan tersediri yaitu “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati !” (Pesantren Reot, Musholla Bubar, Santri Mati), Ternyata slogan itu bukan sekadar gertakan, tetapi benar-benar dilaksanakan. Sementara strateginya adalah teror, tangkap dan bantai. Penculikan terhadap para pimpinan pesantren yang selama ini aktif dalam perjuangan Kemerdekaan telah dimulai. Para kiai yang mengajarkan agama dan cinta tanah air itu dianggap menghambat agenda PKI karena itu harus disingkirkan.Ponpes Sabilil Muttaqien salah satu Pesantren Unggulan yang berada di Takeran – Magetan Jatim pada 17/9/1948 digeruduk oleh segerombolan PKI yang telah mengepung pesantren dengan baju serba hitam dan ikat kepala merah yang dipimpin Suhud seorang camat PKI. Mereka mencari Pengasuh Pesantren yakni KH. Imam Mursyid yang juga pemimpin Tarekat Syatariyah untuk diajak berunding, namun sayang itu cuma siasat PKI yang ingin menculik sang Kyai. Seusai Sholat Jum’at sang kyai pun dibawa PKI ke Gorang-Gareng, Mulanya KH, Imam Mursyid tidak mau ikut, tapi akhirnya sang kyai menyerah dan ikut dengan PKI, sebab jika melawan diancam pesantrennya akan dibakaar, santri dan keluarganya dihabisi. Kiai Musyid turut berjasa membantu KH. Wahid Hasyim angota BPUPKI merumuskan konsep Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Mukadimah UUD 1945. Karena itu Mukadimah UUD 1945 itu sangat bernuansa religius suatu hal yang tidak disukai PKI.

    Salah satu yang ikut menjemput KH. Imam Mussyid adalah Ilyas/alias sipit yang ternyata pernah jadi santri KH. Imam Musyid, jauh-jauh hari KH. Imam Mursyid sempat berujar jika dirinya tak lagi percaya dengan Sipit karena sudah tak pernah sholat lagi. Ketika dibawa PKI seorang santri mengajukan diri untuk ikut menemani sang kyai, namun sayang Semenjak itu KH. Imam Mursyid tak pernah kembali ke Pondok.

    SORBANSANTRI.COM
    kampanye PKI kala itu (pinterest.com)

    Dua hari berselang yakni pada minggu 19/9/1948 seorang kurir PKI datang ke Pesantren dengan membawa pesan KH. Imam Mursyid masih belum bisa pulang dan perundingan itu memerlukan kehadiran KH. Muhammad Noer (sepupu KH. Imam Mursyid). Tak cukup sampai disitu, kurir PKI kembali datang membawa pesan jika KH. Imam Mursyid dan KH. Muhammad Noer baru bisa pulang jika dijemput Ustad Turmudji (adik KH. Imam Mursyid). Mendengar kabar jika dirinya dicarai PKI Ustad Turmudji pun memilih menyelamatkan diri, meski tak menemukan Ustad Turmudji PKI justru melakukan penangkapan terhadap ustad-ustad di Pondok Sabilil Muttaqien termasuk menangkap ustad Pondok yang berasal dari Mesir. Keseluruhan kyai dan Ustad yang dibawa PKI dari Pesantren Sabilil Muttaqien ada 14 orang. Selepas itu mereka semua tidak pernah kembali ke Pondok dan malah ditemukaan menjadi mayat di sumur-sumur Pembantaian milik PKI yang ada di wilayah Magetan termasuk sumur maut di Pabrik Gula Gorang-Gareng Magetan.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Monumen yang dulunya menjadi sumur maut tempat pembantaian oleh PKI di Magetan. (idealoka.com)

    Pesantren lain seperti Pesantren Burikan Magetan juga tak luput dari serbuan PKI. Pada Sabtu 18/9/1948 Pesantren Buikan dibakar oleh FDRPKI sementara kiainya ditangkap seperti Kyai Keang, Kyai Malik dan Mulyono semuanya dibantai dan dimasukkan lubang pembantaian yang sudah mereka siapkan di daerah Batokan. Harta benda mereka di rampas, berbagai kitab dibakar, sehingga santri bubar, menyelematkan diri kembali ke kampung halaman masing-masing, atau mengungsi ke daerah lain. Hal itu membuat pesantren semakin sepi dan keluarga pesantren tidak mendapat penjagaan yang ketat dari para santri. Penjagaan hanya dilakukan oleh keluarga kiai dan tetangga terdekat, sehingga posisi para kiai sangat terancam.

    Lain lagi dengan cerita KH Sulaiman Zada karena santrinya sudah lama mengungsi, maka dengan mudah ditangkap gerombolan PKI, karena tidak melakukaan perlawanan maka Pesantren dibiarkan berdiri, walaupun santrinya sudah lama meliburkan diri sejak Madiun dilanda pemberontakan. Namun demikian nasib sang Kia dengan keluarganya tidak bisa terselamatkan di bawah pembantaian kelompok komunis yang sengaja ingin membumihanguskan pesantren sebagai basis gerakan Islam yang menghalangi ekspansi PKI. Baru beberapa tahun kemudian jenazahnya ditemukan. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 17-19, 48-51). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.