Tag: peci

  • Gibran Rakabuming Raka Disambut Meriah di Acara Halalbihalal PBNU!

    Gibran Rakabuming Raka Disambut Meriah di Acara Halalbihalal PBNU!


    wp.sorbansantri.com
    – Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, tiba dengan penuh kehormatan di acara halalbihalal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kantor PBNU, Jakarta. Kedatangannya disambut oleh Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dengan penghormatan khusus menggunakan karpet merah.

    Gibran, yang mengenakan kemeja krem dan peci hitam, tiba sekitar pukul 13.00 WIB. Suasana di lokasi terlihat meriah dengan tenda ornamen berwarna putih hijau di pintu masuk dan panggung tertutup di halaman depan Kantor PBNU.

    Tidak hanya disambut oleh Yahya Cholil Staquf, Gibran juga bertemu dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Kehadiran Gibran juga diantisipasi oleh Prabowo Subianto, beberapa menteri kabinet Indonesia maju, dan duta besar negara sahabat.

    Laman: 1 2

  • Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Uzbekistan di Semifinal Piala Asia U-23

    Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Uzbekistan di Semifinal Piala Asia U-23

    wp.sorbansantri.com – Timnas Indonesia U-23 akan menghadapi tantangan besar saat bertemu dengan Uzbekistan di babak semifinal Piala Asia U-23. Pertandingan ini akan menjadi ujian berat bagi kedua tim untuk memperebutkan tempat di final turnamen bergengsi ini.

    Uzbekistan mencapai babak semifinal setelah mengalahkan Arab Saudi dengan skor 2-0 di Stadion Internasional Khalifa, Doha, pada Jumat (26/4) malam WIB. Mereka menunjukkan dominasi yang impresif selama turnamen ini dengan mencatatkan rekor tanpa kebobolan dan menjadi tim paling produktif dengan 12 gol.

    Sementara itu, Timnas Indonesia U-23 berhasil memastikan tempat di babak semifinal setelah melalui pertarungan dramatis melawan Korea Selatan dalam adu penalti dengan skor akhir 11-10. Mereka finis sebagai runner-up Grup A setelah mengalahkan Australia 1-0 dan Yordania 4-1, menunjukkan performa yang menjanjikan di turnamen ini.

    Timnas Indonesia U-23, yang debut di Piala Asia U-23, berhasil menonjol berkat bimbingan Shin Tae-yong. Mereka akan menjadi satu-satunya wakil ASEAN setelah Vietnam kalah dari Irak di perempat final.

    Pemain Indonesia seperti Rizky Ridho, Justin Hubner, Komang Teguh, Jeam Kelly Sroyer, dan Ivar Jenner telah mendapatkan pemutihan kartu kuning sehingga dapat tampil tanpa hukuman kartu di semifinal ini.

    Prediksi dari Hard Gumay mengenai pertandingan ini memberikan optimisme bagi Timnas Indonesia, dengan harapan bahwa mereka akan melaju ke final Piala Asia U-23 2024. Antusiasme dan dukungan dari masyarakat Indonesia juga menjadi faktor penting dalam menginspirasi para pemain untuk meraih kemenangan di lapangan.

    Pertandingan antara Timnas Indonesia U-23 dan Uzbekistan U-23 di babak semifinal akan menjadi sorotan utama bagi pecinta sepak bola Indonesia. Semoga Timnas Indonesia dapat memberikan performa terbaik dan meraih hasil positif untuk mencapai final yang membanggakan. (AI Sorban)

  • PCINU Jepang, Kenalkan Islam Melalui Puisi dan Seni Musik Hadrah Berbahasa Jepang, pada Festival Seni Internasional di Tokyo

    PCINU Jepang, Kenalkan Islam Melalui Puisi dan Seni Musik Hadrah Berbahasa Jepang, pada Festival Seni Internasional di Tokyo

    Sorbansantri.com – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang bekerjasama dengan tim Hadrah Nusantara menampilkan Seni Musik Hadrah dan Puisi berbahasa Jepang, dalam acara Festival Seni Internasional, Design Festa Volume 55, di Tokyo Big Sight, Minggu (22/5).

    Design Festa, merupakan salah satu festival seni internasional terbesar di Asia, yang mengumpulkan ribuan seniman yang tertarik dengan kreativitas dan ekspresi artistik dari seluruh Jepang dan berbagai negara lainnya.

    Wakil Ketua I Tanfidziyah PCINU Jepang, K.A Arianto, mengatakan bahwa keikutsertaan Lesbumi PCINU Jepang di festival tersebut, merupakan suatu keistimewaan, karena mengenalkan seni Indonesia sekaligus berdakwah dengan Bahasa Jepang melalui puisi dan hadrah. “ Suatu kebanggaan Diaspora Nahdliyyin dapat tampil di depan ribuan pengunjung, yang mayoritas merupakan kaum muda mudi pecinta seni di Jepang“, kata Arianto yang hadir mendampingi tim Hadrah.

    Ketua Lesbumi PCINU Jepang, Yuliana Nur Arifin memaparkan bahwa festival seni tersebut memfasilitasi misi Lesbumi PCINU Jepang yang ingin mengenalkan dan mensyiarkan Islam dengan indah melalui seni seperti Walisongo. “Harapannya, warga Jepang ataupun pengunjung lainnya yang masih awam tentang Islam dapat mengenal Islam melalui hadrah, selain itu sebagai bukti bahwa hadrah juga siap bersaing dalam permusikan internasional“, sahut Yuliana Nur Arifin yang juga merupakan salah satu vokalis tim Hadrah.

    Pada festival tersebut, tim hadrah menampilkan shalawat dan puisi berbahasa Jepang berjudul “Anata ni Aitai “, yang berkisah tentang Nabi Muhammad SAW, lirik lagu dan puisi diterjemahkan langsung oleh Masae San, anggota PCINU Jepang yang merupakan warga asli Jepang. Menurut Ketua tim Hadrah Nusantara, Irwan Setiawan, melalui puisi dan shalawat tersebut, tim hadrah berharap dapat mengenalkan islam dan mengenalkan betapa spesialnya Nabi Muhammad SAW.Sejumlah pengunjung dari berbagai negara seperti Jepang, Italia, Brazil, Malaysia, termasuk warga Indonesia yang berdomisili di Jepang merasa terkesan, menikmati pertunjukan tim hadrah nusantara, bahkan meminta foto bersama dengan tim hadrah Nusantara. Ako San, yang merupakan warga asli Jepang mengatakan bahwa ia sangat terkesan dengan penampilan tim hadrah nusantara. “Saya suka Indonesia, sayang sekali selama pandemi ini tidak bisa wisata ke lndonesia, setelah mendengar Hadroh, saya terhibur sekali seperti wisata ke indonesia secara virtual“, kata Ako San.

    Kontributor lapangan : Masae San dan Avin , Dokumentasi PCINU Jepang

    #Anwar Sorban

  • Fenomena Kopiah Hitam dan Putih

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Di Pondok Pesantren Mbah Maimun, santri dilarang memakai peci putih. Alasannya, karena orang pergi haji di desa-desa adalah dengan menjual tanah, sawah, tegal atau menabung belasan tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Sementara simbul yang mereka pakai setelah pulang dari haji adalah peci putih.
    “Kalau kamu memakai peci putih seharga 5.000 rupiah, apakah tidak menyakiti hati mereka?” ujar Mbah Maimun sebagaimana diceritakan oleh Gus Baha’.
    Bukan haram dalam kategori fiqh, tapi haram dalam kategori akhlaq. Begini, kata Mbah Moen, ini menurut Gus Baha ya, bahwa orang-orang yang berangkat haji itu butuh perjuangan yang hebat, bahkan dibela-belanin jual sawah segala.
    Nah, Mbah Moen tidak ingin melukai perasaan orang-orang yang telah berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat tersebut dengan prilaku santri yang melecehkan dengan cara memakai kopiah haji yang harganya cuma 5000 an itu. Jangan sampai, prilaku santri di pondok Mbah Moen itu mendowngrade makna haji.
    ( Fatwa itu hanya untuk Sarang, bukan santri yang lain, apalagi berlaku general ke ummat Islam seluruhnya, fatwa ini bertujuan menjaga akhlaq santri-santri Sarang saja)
    Sementara itu, di pesantren Gus Baha’ sendiri, ya kadang ada santri yang memakai peci putih. “Saya tidak melarang mereka. Cuma kadang saya panggil, saya kasih tahu:
    Cung, nek iso aja nganggo kethu putih wong kowe durung kaji…” kata Gus Baha’ sambil tertawa ngakak.
    Gus Baha’ kemudian melanjutkan bahwa menjadi orang alim itu memang repot. Bisa serba salah.
    Di Jawa Timur, asal orang sudah berhaji biasa memakai jubah dan bersorban. Tapi rata-rata di Jawa Tengah Pantura, orang berjubah itu dianggap sudah bisa dan ahli membaca kitab. Kalau sampai berani berjubah tapi tidak bisa membaca kitab dianggap aneh.
    Menurut Gus Baha’, secara hukum memang benar di Jawa Timur, karena memakai jubah dan bersorban itu sunah. Tapi dari sisi kurasi orang alim, tepat di daerah pantura Jawa Tengah. Sebab nanti tidak ada bedanya antara orang yang alim dan orang awam. Antara orang yang menguasai berbagai kitab dengan orang yang baru belajar membaca kitab.
    “Itulah sebabnya, baju saya putih tapi kopiah saya hitam. Saya memakai baju putih sebagai pengingat bahwa bagaimanapun saya sudah melakukan sunah. Sementara saya memakai kopiah hitam sebagai bagian dari menghormati guru sekaligus sudah terbiasa karena lama menjadi santri”. (abi sorban)