Tag: pejuang

  • Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    wp.sorbansantri.com – Game Mobile Legend sering membuat karakter game mereka dengan inspirasi tokoh pahlawan atau pun mitos suatu daerah. Salah satunya Khaleed. Menurut cerita fiktif yang disematkan, Khaleed adalah pangeran dari Artha Clan, yang mencintai petualangan. Dia sangat menginginkan keagungan dari budaya Emerald Road, bermimpi bahwa suatu hari dia dapat mengunjungi Agelta Drylands yang luas dan menyaksikan kemakmurannya.

    Terlepas dari cerita fiktif yang ada, visualisasi tokoh Khaleed dalam game tersebut sangat menunjukkan representasi dari salah satu pejuang Muslim sekaligus sahabat Rasulullah SAW yang harus umat Muslim muliakan, yaitu Khalid Ibn Walid.

    Rasulullah SAW bersabda;

    اَللهُ اَللهُ فِيْ أَصْحَابِيْ لَا تَتَّخِذُوْهُمْ غَرْضًا بَعْدِيْ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّيْ أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِيْ أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آَذَاهُمْ فَقَدْ آَذَانِيْ وَمَنْ آَذَانِيْ فَقَدْ آَذَى اللهَ وَمَنْ آذَى اللهَ يُوْشِكُ أَنْ يُأخَذَ

    “Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya.“

    Dalam Takmilah al-Majmu’ disebutkan, salah satu bentuk penghinaan terhadap objek tertentu adalah menjadikannya mainan. Berikut keterangannya;

    وَاِذَا كَانَ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ التَّمَاثِيْلِ لَا يَظْهَرُ فِيْهِ قَصْدُ التَّعْظِيْمِ وَلَا التَّرَفِ وَلَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَحْظُوْرَاتِ السَّابِقَةِ فَالْاِسْلَامُ لَا يُضَيِّقُ بِهِ صَدْرًا وَلَا يَرَى بِهِ بَأْسًا . وَذَلِكَ كَلَعْبِ الْأَوْلَادِ الصِّغَارِ الَّتِيْ تُصْنَعُ عَلَى شَكْلِ عَرَائِسِ أَوْ قَطَّطٍ. أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ السِّبَاعِ وَالْحَيَوَانَاتِ لِأَنَّ هَذِهِ الصُّوَرَ تُمْتَهَنُ بَاللَّعْبِ وَعَبْثِ الْأَوْلَادِ بِهَا

    Jika ada jenis patung di mana maksud pemuliaan atau kemewahan tidak tampak, dan tidak ada larangan-larangan yang telah disebutkan sebelumnya, maka Islam tidak menyempitkan dadanya, dan Islam tidak melihat ada yang salah dengan itu. Demikian seperti mainan anak laki-laki yang dibuat dalam bentuk boneka atau kucing, atau binatang buas dan hewan lainnya, karena gambar-gambar ini dipermalukan dengan dijadikan objek bermain anak-anak.”

  • KH. Muhammad Suhud; Kyai Militer Yang Terlupakan

    KH. Muhammad Suhud; Kyai Militer Yang Terlupakan

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak banyak penulis sejarah peran santri dalam perang kemerdekaan yang mengulas panjang lebar tentang kiprah KH. Muhammad Suhud. Padahal begitu besar jasanya dalam membentuk dan melatih para santri sehingga siap berperang baik dalam Laskar Hizbullah maupun Sabilillah.

    KH. Muhammad Suhud lahir di Pare Kediri pada tanggal 1 Nopember 1926. Tanggal lahir ini, menurut Gus Yakub, putranya, tanggal lahirnya tidak sesuai, sebab karena urusan dengan pencalonannya menjadi anggota DPR, maka umurnya di-muda-kan. Kemungkinan juga, seperti orang dulu pada umumnya, tidak perduli dengan angka kelahiran. Sehingga ketika diera modern ditanya tentang angka kelahiran, maka akan dikira-kirakan. Apabila mengacu keterangan dari Gus Yakub, kalau umurnya KH. Muhammad Suhud itu “unda undi” dengan KH. Wahid Hasyim, berarti kelahirannya antara tahun 1915-1920. Ini setara pula dengan angka kelahiran dari sahabat sahabt Ansornya di Mojokerto seperti KH. Ahyat Chalimi, KH. Munasir Ali dan Mansur Solikhi yang lahir antara tahun 1915-1920.

    KH. Muhammad Suhud memiliki nasab yang bersambung ke jalur Mataram. Hal ini bisa dilacak disilsilah yang ditulis dalam buku Taman Solaya yang sekarang dikomandani oleh KH. Habib Mastur. Ayah dari KH. Muhammad Suhud adalah KH. Hasan Besari bin KH. Raden Khabib bin KH. Raden Muhammad bin Pangeran Hadi Ningrat Kerto Noto Agomo jejuluk KH. Raden Nur Qoyidi bin Sunan Kuning bin Sunan Mas bin Adipati Anom bin Aryo Prabu Adi bin Mas Rangsang bin Mas Jolang bin Sutowijoyo bin Ki Gede Pemanahan.

    KH. Muhammad Suhud kecil tinggal di Pare. Setelah tumbuh remaja, ia dibawa oleh orang tuanya tinggal di Sumobito. Di Sumobito ini, KH. Muhammad Suhud remaja belajar mengaji di Masjid Sumobito. Kemudian pada tahun 1930 ia melanjutkan nyantri di PP. Tebuireng. Di PP. Tebuireng ini, ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia selain dididik langsung oleh Hadratus Syeikh Hasim Asyari juga menjadi teman diskusi KH. Wahid Hasyim. Dari KH. Wahid Hasyim inilah KH. Muhammad Syuhud memperoleh ilmu organisasi dan ilmu sosial politik, yang kelak menjadi bekalnya dalam berpolitik pasca kemerdekaan.

    Ilmu organisasi dan ilmu sosial politik ini, diperoleh oleh KH. Muhammad Suhud dari KH. Wahid Hasyim, karena pada saat itu, tatkala KH. Wahid Hasyim pulang dari Mekkah, ia mengusulkan reformasi pada sistem pembelajaran yang ada di PP. Tebuireng. Dari bandongan ke sistem diskusi atau musyawarah. Bahkan dalam ilmu terapan, KH. Wahid Hasyim mengusulkan untuk membuat kursus-kursus yang sistematis dan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dibuat. KH. Wahid Hasyim juga mengusulkan agar perpustakaan di PP. Tebuireng, tidak hanya sekadar mengoleksi kitab kitab kuning, tetapi juga buku buku berbahasa Inggris, Belanda, melayu dan bahasa bahasa pengetahuan lainnya. Dan KH. Muhammad Suhud memperoleh keberkahan dengan kemajuan yang dialami oleh PP. Tebuireng pada masa itu.

    Selain di PP. Tebuireng, KH. Muhammad Suhud juga menimba ilmu diberbagai pesantren, seperti PP. Mojosari Nganjuk, PP. Siwalan-Sidoarjo, dan lain lain. Bahkan menurut Gus Yakub, KH. Muhammad Suhud juga pernah berguru kepada KH. Halim Majalengka. Di Majalengka inilah ia satu perguruan dengan Kyai Yazid, ahli bahasa dari Pare, yang kelak melahirkan seorang murid penggagas Kampung Inggris, Mr. Kalend.

    Karir KH. Muhammad Suhud dimulai di MI al Muhsinun Kauman. Ia menjadi Kepala Sekolah di Madrasah milik Nahdlatul Ulama bentukan KH. Zaenal Alim ini. Ia juga dipercaya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari untuk mendirikan dan membina MI dibeberapa daerah. Biasanya Hadratus Syekh Hasyim Asyari setelah pranata disiapkan, akan mengirim santri untuk tinggal ditempat tersebut dan kemudian dijodohkan dengan gadis daerah tersebut. Sehingga kemudian ia mampu mengembangkan dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.

    Kemampuan dalam dunia pendidikan semakin terasah, ketika pada tahun 1943, KH. Muhammad Suhud memperoleh kursus pelatihan Guru Agama di Jakarta selama tiga bulan. Dan pada tahun yang sama, KH. Muhammad Suhud juga mewakili Mojokerto ikut kursus pelatihan Kyai di Jakarta selama tiga bulan juga.

    Selain menjadi pengajar di MI al Mushinun, KH. Muhammad Suhud juga bergabung menjadi anggota Ansor Mojokerto pimpinan KH. Ahyat Chalimi. Di Ansor, ia berinteraksi secara intens dengan anggota Ansor seperti KH. Munasir Ali, Mansur Solikhi, Mulyadi, Ahmad Yatim dan lain sebagainya. Pada saat Masyumi menyetujui untuk mengirim santri santri bergabung dengan PETA, KH. Muhammad Suhud ikut bergabung. Ia dikirim untuk berlatih militer di Jatinegara dan Jakarta. Dan kemudian mengantarkannya memperoleh kedudukan sebagai Shodancho.

    Perlu diketahui, Struktur PETA terdiri atas 65 Daidan (batalyon) yang ada di Jawa dan 3 Daidan di Bali. Tiap Daidan beranggotakan 535 personil dipimpin Daidancho (komandan batalyon) pangkat setingkat mayor dibantu kepala staf berpangkat Chudancho. Setiap Daidan terdiri dari 4 Chudan yang dipimpin seorang Chudancho (komandan kompi) pangkat setingkat kapten. Tiap Chudan terdiri dari 3 shodan yang dipimpin seorang shodancho (komandan peleton) pangkat setingkat letnan. Tiap shodan terdiri dari 4 bundan yang dipimpin seorang bundancho (komandan regu) pangkat setingkat sersan.

    Pada saat yang sama, KH. Muhammad Suhud juga ikut tergabung dalam latihan militer di Cibarosa yang diperuntukkan untuk pembentukan Laskar Hizbullah. KH. Muhammad Suhud mewakili Mojokerto bersama dengan Mulyadi dan Ahmad Yatim.
    Ada cerita menarik saat ia dilatih tentara Jepang. Pemuda-pemuda yang dilatih tentara Jepang itu, pada suatu kali diadu dengan Sumo. Siapa yang kalah, dijamin meninggal dunia. Banyak para pemuda yang mengalami retak tubuhnya. Pada gilirannya, KH. Muhammad Suhud dihadapkan dengan Sumo. KH. Muhammad Suhud merapal Hizib Nawawi dan binasalah sumo itu. Tetapi tentara Jepang, segera mengirim Sumo lagi untuk bergulat dengannya. Sampai lima Sumo terpental. Dan sebelum tenaganya sendiri kehabisan, akhirnya KH. Muhammad Suhud membuat strategi, hanya bertahan hingga waktu lama.

    Selesai latihan di Cibarosa, KH. Muhammad Suhud mendapat mandat untuk melatih santri santri memiliki dasar-dasar berperang. Latihannya, kalau di Mojokerto di daerah Prajurit Kulon. Sedang kalau di Jombang, ditempatkan di Mojoagung.
    Dari alumni-alumni pelatihannya itulah, kemudian KH. Muhammad Suhud bersama pemimpin lainnya membentuk dan memperkuat pasukannya dalam beberapa kelompok. Yang masih muda dimasukkan ke dalam Laskar Hizbullah sedangkan yang sudah berumur dimasukkan ke dalam Sabilillah. Ada juga Laskar yang dibentuk oleh KH. Muhammad Suhud, yakni Laskar M. Laskar M ini terdiri dari para pencuri, perampok dan bandit. Mereka juga dilatih untuk melakukan aksi aksi mengacaukan. Bahkan mereka adalah spionase spionase handal yang kelak dipergunakan oleh tentara republic Indonesia untuk mendapatkan informasi selama perang revolusi.

    Ketika Laskar Hizbullah masuk ke dalam TKR, KH. Muhammad Suhud juga ikut bergabung. Dan karir kemiliterannya berakhir saat Indonesia telah merdeka secara bulat pada tahun 1950. Ia mengundurkan diri. Sepertinya alasannya seperti pada umumnya para santri, resolusi jihad hanya mengamanatkan untuk mengusir penjajah. Kala penjajah sudah tidak ada maka mengangkat senjata sudah tidak diperlukan lagi.

    Namun demikian, kata Gus Yakub, meskipun KH. Muhammad Suhud mulai fokus ke pesantrennya, Roudlotul Muttaqin Ngares, beliau masih tetap terus diintai oleh para militer, bahkan hendak dikaitkan dengan pemberontakan DI/TII. Dan pada akhirnya, KH. Muhammad Suhud memilih jalur politik untuk melawan berbagai upaya pelemahannya. Pada tahun 1955, ia menjadi DPRD dari jalur Partai NU. Dan kemudian saat orde baru, yang menuntut fusi partai Islam bergabung ke PPP, ia pun bergabung dengan partai yang menaungi umat Islam itu. Tetapi menjelang tahun 1980-an, berbagai intimidasi intimidasi kepada Kyai kerap dilakukan oleh pihak militer. Dan dengan ijtihad politiknya, KH. Muhammad Suhud bergabung dengan Golkar. Keputusan ini pernah mengantarkannya disidang oleh para Kyai. Tetapi dengan argumentasi strategi politiknya, maka para Kyai memahami keputusannya.

    Bahkan salah satu idenya, agar kiai NU bisa ada dimana mana, terwujud pasca NU melakukan gerakan khitoh. Wallahualam.

    Isno Woeng Sayun
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

     

  • MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    SORBANSANTRI.COM

    Kaitan Masjid Brangkal dan Pondok Ndresmo

    Daya linuweh yang dimiliki seseorang bukanlah sebuah hal yang aneh. Kelebihan itu didapatkan dari proses lelaku dan kedekatan pada Sang Pencipta. Kejadian yang tidak mungkin bagi mereka dapat dilakukan. Mbah Mansyur salah seorang yang memiliki daya linuweh tersebut.

    Mbah Mansyur adalah seorang dai yang berasal dari Sidoresmo Surabaya. Dia menetap dan mendirikan sebuah masjid di dekat Kali Brangkal. Lokasi masjid itu langsung berhadapan dengan pabrik gula Brangkal milik Eachauzier. Pendirian. Pabrik itu merupakan pabrik gula terbesar yang ada di Mojokerto. Oleh masyarakat sekitar Mbah Mansyur dikenal sebagai orang sakti.

    Ketika membangun masjid Brangkal, ada sebuah peristiwa aneh yang dilakukan oleh Mbah Mansyur. Pada saat menaikkan kap bangunan ternyata diketahui bahwa ada blandar yang kurang panjang. Kayu yang tersedia sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan menyambungnya. Menebang kayu lainnya juga tidak mungkin karena butuh waktu untuk mengeringkan kayu tersebut. Mendapatkan laporan dari para tukang, Mbah Mansyur segera turun ke lapangan. Kayu jati yang kurang panjang beliau pegang dan ditariknya. Seperti karet saja, kayu jati itu molor mengikuti tarikan Mbah Mansyur. Setelah itu kayu dipasang dan bangunan dapat diselesaikan tanpa tertunda lagi.

    Salah satu keanehan Mbah Masyur adalah kekuatannya saat menarik gerbong kereta. Diceritakan bahwa pada suatu hari gerbong kereta terjebur ke kali Brangkal. Gerbong kereta barang tersebut milik perusahaan kereta api Oost Java Stoomtram (OJS). Seperti biasanya jika ada kecelakaan semacam itu, maka didatangkalah kereta derek dari stasiun besar Mojokerto.

    Seharian penuh upaya evakuasi dilakukan dengan alat mekanis. Untuk kebutuhan itu maka jalur transportasi kereta dari arah Mojoagung harus dihentikan. Sayangnya gerbong tidak bisa ditarik dari dalam kali. Derek seolah tidak mampu mengangkat berat gerbong kosong tersebut. Para pekerja sudah kehabisan akal mengatasi hal itu.

    Pada saat itulah ada seorang warga yang menyarankan agar minta tolong pada Mbah Mansyur. Saran itu dilakukan dengan mendatangi beliau dan kesediaanpun dudapatkan. Untuk mengangkat gerbong dari dalam kali, Mbah Mansyur tidak butuh alat bantu apapun kecuali seutas benang. Dengan daya linuwehnya, gerbong berhasil ditarik sendiri oleh Mbah Mansyur. Ditarik sendiri dengan seutas benang.

    Peristiwa anjloknya gerbong kereta api OJS di Brangkal itu sendiri terjadi pada bulan Maret 1926. Berita kecelakaan tersebut sempat dimuat dalam koran Sumatra Post tanggal 15 Maret.

    Masyarakat memang tidak heran dengan kesaktiannya. Beliau berasal dari keluarga pesantren Ndresmo yang kondang dengan ilmu kanuragan. Sejak muda terbiasa dengan lelalu dan tirakat untuk menempa dirinya.

    Tokoh sakti itu hidup pada tahun 1930-an. Seperti tokoh yang memiliki kelebihan atau kasekten, maka Mbah Mansyur juga berusaha untuk menjauhkan diri dari keramaian dunia. Sebuah pondok beliau dirikan di Brangkal. Pesantren itu memang tidak sebegitu besar pada waktu diasuh oleh Mbah Mansyur dan mengalami kemajuan pesat saat dipegang oleh KH Khusen Ihsan. Karena itu pesantren tersebut dinamakan Al Ikhsan. Mbah Mansyur kembali ke Sidoresmo pada kisaran tahun 1940-an. Masjid dan pesantren diteruskan oleh Kyai Ihsan dan nantinya dilanjutkan oleh putranya, KH Khusen Ihsan.

    Pada mimbar khutbah di Masjid Brangkal tertulis bila masjid itu didirikan pada bulan Oktober 1938. Pendiriannya tepat pada bulan Ramadhan 1357 Hijriyah. Berdasarkan catatan tahun itu maka dapat dipastikan bahwa Mbah Mansyur tinggal di Brangkal pada kisaran tahun tersebut.

    Saat tinggal di Mojokerto Mbah Mansyur sering mengunjungi makam ulama di sekitar Mojokerto. Salah satu makam yang kerap dikinjungi adalah Makam Mbah Sinari Manting. Oleh karena itu makam mbah Manting hingga saat ini dihormati oleh keluarga Sidosermo.

    Ketetkaitan Mbah Mansyur dengan Pesantren Brangkal terjadi lagi tahun 1946. Keluarga Mbah Mansyur yaitu Kyai Mas Muhajir Masyur mengungsi ke Brangkal. Selain mengungsi beliau juga ikut mengajar disana. Aktifitas yang berhenti saat serdadu Belanda menyerang Brangkal dan menjadikan masjid Brangkal menjadi pos tentara Belanda.

    *photo dari www.Ndresmo.blogspot.

    Sumber : Catatan Serpihan Ayuhanafiq

  • SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    Perlawanan Budaya dan Ideologi para Kyai

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.

    Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.

    Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.

    Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.

    Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.

    Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.

    Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.

    Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.

    Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.

    Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.

    Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.

    Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.

    Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.

    Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Kiai Abbas Singa Jawa Barat

    Kiai Abbas Singa Jawa Barat

    SORBANSANTRI.COM

    Perang 10 November Melawan Belanda di Surabaya, Kiai Abbas Buntet Meledakkan Butiran Tasbih dan Menghancurkan Pesawat dengan Hempasan Selendang (Kiai-kiai sakti di tanah jawa)

    Inilah yang membuat para penjajah lari terbirit birit karna melihat sendiri karomah para wali di tanah jawa. Kala itu, 10 November di Surabaya Kiai Abbas ditunjuk menjadi komandan perang oleh Hadrotussyaikh. Hasyim Asyari. Bersama Kiai lainnya, dengan gagah Kiai Abbas membantai pasukan Belanda.

    Dahulu kaum santri lekat dengan sarung dan bakiak. Paket itu tak hanya untuk aktivitas sehari-hari para santri. Pada jaman penjajahan Belanda, bakiak juga dipakai santri untuk berperang.

    Hal ini dilakukan oleh komandan perang 10 November 1945 Kiai Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon. Dalam pertempuran Surabaya yang tanggalnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, Kiai Abbas menggunakan bakiak menghadang hujan peluru Belanda.

    “Bakiak tersebut yang digunakan oleh Kiai Abbas untuk memimpin peperangan 10 November,” ujar penulis buku Kisah-kisah dari Buntet Pesantren, Munib Rowandi, Kamis (10/11/2016).

    Selain menggunakan bakiak, lanjutnya, ternyata Kiai Abbas juga menggunakan alu ( alat penumbuk padi ) dan tasbih untuk melawan para penjajah dalam peristiwa besar tersebut.

    Munib mendapatkan data peristiwa 10 November tersebut dari penuturan pengawal Kiai Abbas yang bernama Abdul Wahid. Seperti yang dituliskan oleh Abdul Wahid, Kiai Abbas memimpin perang 10 November dengan menggunakan bakiak yang dipegangnya sejak dari Cirebon.

    Dalam kisah yang didapatkan dari Abdul Wachid, diketahui Kiai Abbas berangkat dari Cirebon beserta kiai dan santri dengan menggunakan kereta api. Mereka singgah terlebih dahulu di kediaman Kiai Bisri di Rembang Jawa Tengah.

    Di tempat itulah, para kiai dari berbagai daerah yang berjumlah sekitar 15 orang melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan mobil.

    Meski semangat arek-arek Suroboyo untuk menyerang tentara sekutu saat itu sudah kuat, namun mereka ditahan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim meminta masyarakat untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon.

    Kiai Cholil Bisri pernah bercerita, bahwa Kiai Abbas mengibaskan sorbannya dan mengakibatkan pesawat terbang milik musuh hancur,” kata Munib.

    Kiai Abbas juga dibantu oleh beberapa Kiai lainnya yang juga memiliki karomah luar biasa, membuat penjajah lari ketakutan.

  • SANTRI HARUS TAHU SEJARAH PARA PEJUANG

    SANTRI HARUS TAHU SEJARAH PARA PEJUANG

    Infokom Banser NU – Fakta sejarah yg di kaburkan pemerintah (Nukilan patriotik) Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah). Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. (KH Hasan Besari adalh peletak dasar pendirian Pesantren Gontor).

    Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.
    AbdulHamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M.
    Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.

    Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.
    Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.
    Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.

    Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
    Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).

    Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah.
    Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi’i. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan).
    Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka 3 tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.

    Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi.
    Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita.
    Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita.

    Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.
    Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya:“Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren.
    Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar:

    “Hanya biar pondok pesantren laku.”Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.
    Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri.

    Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.

    Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.
    Punyasantri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.
    Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
    Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.

    Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Maka nantinguya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.
    Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis.

    Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.
    Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.

    Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:

    Dari yakinku teguh
    Hati ikhlasku penuh
    Akan karuniaMu
    Tanah air pusaka Indonesia merdeka Syukur aku sembahkan
    Ke hadiratMu Tuhan.

    Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

    Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.
    Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid hebat.

    Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua. Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.
    Sampai pada kalimat hayya ‘alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
    Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

    17 Agustus tahun 45
    Itulah hari kemerdekaan kita
    Hari merdeka Nusa dan Bangsa Hari lahirnya Bangsa Indonesia Merdeka
    Sekali merdeka tertap merdeka
    Selama hayat masih dikandung badan
    Kita tetap setia,
    tetap setia
    Mempertahankan Indonesia
    Kita tetap setia,
    tetap setia
    Membela Negara kita.

    Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.
    Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren.
    Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai.
    Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?
    H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

    Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.
    Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.
    Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh Allah Swt.
    Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.
    Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly. Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren.

    Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini:“Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah. “Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa,yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah.
    Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan.

    Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah.Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip.Perlu putra-putri Anda dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orangtua.KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh:“Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.”(Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).
    Maka masukkanlah ke pesantren.

    Semoga bermanfaat 😊